Anda di halaman 1dari 25

USULAN PROGRAM KREATIVITAS MAHASISWA

PEMBUATAN SODIUM CARBOXYMETHYLCELLULOSE (Na-CMC)


DARI LIMBAH PELEPAH BATANG PISANG KEPOK (Musa paradiciasa)

BIDANG KEGIATAN :
PKM GT

Diusulkan oleh :
Yusuf Marifat Fajar Azis

D500130103/2013

Adinda Annisa Khurin

D500134002/2013

Tryas Munarsyah

D500112006 /2011

Bagas W.P

D500130132/2013

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA


SURAKARTA
2014

ii

DAFTAR ISI

Halaman Judul ...........................................................................................................

Lembar Pengesahan ...................................................................................................

ii

Daftar Isi ...................................................................................................................

iii

Ringkasan...................................................................................................................

iv

1. BAB I PENDAHULUAN ...............................................................................

1.1. Latar belakang ..........................................................................................

1.2. Tujuan........................................................................................................

1.3. Manfaat......................................................................................................

2. BAB II GAGASAN.........................................................................................

2.1. Kondisi Kekinian Pencetus Gagasan.........................................................

2.2. Solusi yang Pernah Dilakukan .................................................................

2.3. Kondisi Kekinian yang Dapat Diperbaiki Melalui Gagasan Baru ............

2.4. Pihak-Pihak yang Dapat Membantu Mengimpletasikan Gagasan ...........

2.5. Langkah-Langkah Strategis yang Dilakukan ............................................

3. BAB III
KESIMPULAN ..............................................................................................

3.1. Inti Gagasan...............................................................................................

3.2. Teknik Implementasi Gagasan ..................................................................

DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN

iii

RINGKASAN
Salah satu masalah yang di alami oleh bangsa Indonesia saat ini adalah
masalah limbah terutama limbah pelepah pisang. Di Indonesia sendiri, penanaman
pisang terutama Pisang Kepok (Musa paradiciasa) banyak di temukan di
Kalimantan.

Produksi pisang di Provinsi Kalimantan Selatan pada tahun 2012

adalah sebesar 87.362 ton dari luas panen 1.877 Ha. Hal ini mengakibatkan
banyaknya limbah pelepah pisang yang semakin menumpuk.
Langkah yang dapat dilakukan untuk mengatasi masalah tersebut salah
satunya ialah dengan memproduksi sodium carboxymethylcellulose (Na-CMC) yang
lebih menguntungkan, baik dari sisi ekonomi maupun aplikasinya dalam bidang
pangan dan industri. Tujuananya adalah untuk mengurangi limbah pelepah batang
Pisang Kepok (Musa paradiciasa yang belum begitu maksimal serta meningkatkan
nilain ekonomisnya.
Pelepah batang Pisang Kepok (Musa paradiciasa) digunakan dalam
pembuatan sodium carboxymethylcellulose ini sebab limbahnya yang melimpah dan
mudah untuk diperoleh serta kandungannya yang terdiri atas kurang lebih 64%
selulosa, 5% lignin dan sisanya hemiselulosa.
Pembuatan sodium carboxymethylcellulose, dilakukan dengan proses
konversi selulosa menjadi sodium karboksimetil selulosa (Na-CMC) melalui proses
alkalisasi dan eterifikasi. Limbah

pelepah batang Pisang Kepok yang memiliki

kandungan selulosa dipotong-potong terlebih dahulu, kemudian dibuat menjadi serbuk


dan dilakukan proses delignifikasi. Selanjutnya dialkilasi dengan alkohol dan
kemudian dilakukan proses eterifikasi

Dalam proses pembuatannya, diperlukan

bantuan dari beberpa pihak seperti pihak pekebun, pihak laboratorium, pemerintah
dan masyarakat setempat. Sehingga hal ini perlu kajian dan penelitian lebih lanjut
untuk pembuatan sodium carboxymethylcellulose dari pelepah batang Pisang Kepok
ini.

iv

1. BAB I PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Pisang merupakan buah yang banyak tumbuh di daerah-daerah
di Indonesia. Produksi pisang di Indonesia mencapai 5 juta ton pada
tahun 2008 (Apriliani, 2013). Sedangkan pada tahun 2011 di Propinsi
Jawa Timur, produksinya mencapai 1.188.724 ton dan produksi Pisang
Kepok (Musa paradiciasa) adalah yang paling tinggi yaitu sejumlah 40%
dari total produksi (BPS, 2012).
Di Indonesia sendiri, penanaman pisang ini banyak di temukan di
Kalimantan. Produksi pisang ini, di Provinsi Kalimantan Selatan pada
tahun 2012 adalah sebesar 87.362 ton dari luas panen 1.877 Ha (Ditjen
Hortikultura, 2013).
Pisang-pisang ini sebagian besar dikonsumsi oleh dalam negeri.
Besarnya konsumsi ini menandakan tingginya kebutuhan masyarakat
Indonesia akan buah dan serat. Di sisi lain, hal ini menimbulkan dampak
baru, yaitu banyaknya limbah pelepah batang pisang ini (Apriliani, 2013).
Pelepah pisang ini oleh

sebagian besar masyarakat belum

dimanfaatkan dengan baik, sehingga mereka tidak segan-segan


untuk membuangnya atau membiarkan begitu saja. Padahal
limbah pelepah pisang tersebut mempunyai kandungan selulosa
yang tinggi hingga 64%(Lokantara, 2012).
Untuk menghasilkan turunan selulosa dengan sifat yang lebih
menguntungkan, baik dari sisi ekonomi maupun aplikasinya dalam
bidang pangan, perlu dilakukan konversi selulosa misalnya menjadi
sodium

karboksimetil

selulosa

(Na-CMC).

Na-CMC

mampu

meningkatkan kualitas produk pangan karena sifatnya sebagai pengikat,


penstabil, penahan air, serta pengental (Biswal dan Singh, 2004;
Ferdiansah, 2010).
Kondisi kebutuhan akan sodium karboksimetil selulosa yang
semakin meningkat, kandungan selulosa dan berlimpahnya limbah
pelepah batang Pisang Kepok (Musa paradiciasa), maka ini akan mejadi

alternatif yang dapat dimanfaatakan sebagai salah satu bahan baku


pembuatan sodium karboksimetil selulosa (Na-CMC).

1.2. Tujuan
1. Pemanfaatan limbah pelepah batang Pisang Kepok(Musa
paradiciasa) menjadi salah satu sumber dalam pembuatan sodium
karboksimetil selulosa (Na-CMC).
2. Menjadi alternatif pengolahan limbah pelepah batang Pisang
Kepok selain digunakan sebagai pupuk, pembuatan kertas, pakan
ternak dan kerajinan tangan.
3. Meningkatkan nilai ekonomis dari pelepah Pisang Kepok untuk
memenuhi kebutuhan akan sodium karboksimetil selulosa (NaCMC).

1.3. Manfaat
1. Bagi Mahasiswa
a. Dapat menjadi bahan motivasi dan referensi untuk ide-ide
selanjutnya.
b. Memperluas pengetahuan dan pembelajaran tentang pengolahan
limbah pelepah batang Pisang Kepok bagi pekebun.
c. Memperoleh pendapatan dengan penjualan limbah pelepah
batang Pisang Kepok sebagai bahan baku pembuatan sodium
karboksimetil selulosa (Na-CMC).
d. Menjadi inovasi dalam pengolahan limbah pelepah batang
Pisang Kepok (Musa paradiciasa).
2. Bagi masyarakat dan lingkungan
Mengurangai limbah pelepah Pisang Kepok untuk pemanfaatan
menjadi sodium karboksimetil selulosa (Na-CMC).
3. Bagi pemerintah
Membantu pemerintah dalam mencari alternatif baru dalam
pembuatan sodium karboksimetil selulosa (Na-CMC) yang banyak
dan berlimpah

2. BAB II GAGASAN

2.1. Kondisi Kekinian Pencetus Gagasan


Sodium carboxymethylcellulose merupakan senyawa turunan dari
selulosa yang mempunyai peranan penting pada berbagai industri. NaCMC bersifat biodegradable, tidak berwarna, tidak berbau, tidak beracun,
butiran atau bubuk yang larut dalam air namun tidak larut dalam larutan
organik, memiliki rentang pH sebesar 6.5 sampai 8.0, stabil pada rentang
pH 2 10, bereaksi dengan garam logam berat membentuk film yang tidak
larut dalam air, transparan, serta tidak bereaksi dengan senyawa organik.
Karboksimetil selulosa juga merupakan senyawa serbaguna yang memiliki
sifat penting seperti kelarutan, reologi, dan adsorpsi di permukaan. Selain
sifat-sifat itu, viskositas dan derajat substitusi merupakan dua faktor
terpenting dari karboksimetil selulosa. Na-CMC memiliki berbagai
viskositas antara 10 hingga lebih dari 50000 m Pa S untuk larutan
2%.(Priatma, 2012)
Pada industri makanan, Na-CMC digunakan sebagai stabilizer,
thickener, adhesive, dan emulsifier. Di industri deterjen, Na-CMC
berfungsi sebagai antiredeposisi kotoran pada kain saat pencucian. Selain
pada industri makanan, Na-CMC juga dibutuhkan pada industri farmasi,
kosmetik, kertas, perekat, keramik, deterjen, tekstil, dan oil refinery. Pada
industri tekstil Na-CMC digunakan sebagai pengental tinta bahan celupan.
Produk Na-CMC yang lebih murni digunakan pada industri makanan dan
farmasi dimana diperlukan pengentalan, rheology control, penstabil
emulsi, dan pengontrolan kandungan air (Priatma, 2012)
Secara global, konsumsi Na-CMC paling tinggi pada industri
deterjen. Selama ini Na-CMC diimpor dari luar negeri. Kebutuhan NaCMC di Indonesia sementara hanya dipenuhi oleh 2 pabrik dengan
kapasitas 6.000 ton per tahun dan 500 ton per tahun (BPS, 2003). Dari data
ekspor impor yang disediakan oleh BPS, Indonesia masih mengimpor
lebih banyak Na-CMC daripada mengekspor Na-CMC(Priatma, 2012).

2.2. Solusi yang Pernah Dilakukan


Natrium carboxymethyl cellulose merupakan eter polimer
selulosa yang bersifat anion. Natrium carboxymethyl cellulose (NaCMC)

biasa

disebut cellulose

gum. Na-CMC dapat dibuat dengan

cara mereaksikan asam monokhlorosasetat, dapat berupa asam maupun


garam natriumnya, dengan selulosa alkali (Priatma, 2012).
Na-CMC pertama diproduksi di Jerman pada tahun 1918 dan
memperoleh paten pada tahun 1921. Produksi secara komersial di
Amerika Serikat dimulai pada tahun 1943. Karena semakin tinggi
permintaan Na-CMC, kapasitas produksi pada tahun 1943 sebesar 900
ton/tahun dapat dikembangkan menjadi 48000 ton/tahun pada tahun 1977
(Priatma, 2012).
Pembuatan Na-CMC sudah dilkukan penelitiannya oleh Yasar
(2007) dan Adinugraha (2005) dengan memanfaatkan limbah kulit jeruk
dan kulit pisang dengan hasil terbaik kemurnian Na- CMC

sebesar

98,63% dan DS 0,75 pada kondisi operasi menggunakan 15% NaOH,


pelarut isopropil alkohol, dan suhu eterifikasi 55C untuk kulit pisang.
Dilihat dari bahan baku pembuatan Na-CMC tersebut,
sebenarnya masih kurang efektif karena sumber bahan bakunya yang
masih kurang melimpah dibandingkan dengan pelepah batang Pisang
Kepok ini. Selain itu, dilihat dari segi ekonomi bahan baku ini harus
mengeluarkan

biaya

yang

tidak

sedikit.

Sementara

dilihat

dari

kandungannya, kulit pisang terdiri dari 17,36 %, Lignin dan 20,90 %,


selulosa (Kiantoro, 2011). Kandungan selulosa tersebut masih lebih rendah
jika dibandingkan dengan kandungan selulosa yang ada pada pelepah
batang Pisang Kepok ini, yakni hingga 64%(Lokantara, 2012).
Sedangkan untuk kandungan ligninnya masih terlalu besar jika
dibandingkan dengan pelepah batang Pisang Kepok ini yang hanya
memiliki 5% kadar lignin (Lokantara, 2012). Sehingga dengan
kondisi yang demikian, membutuhkan treatment yang cukup sulit
untuk memperoleh kadar selulosa yang maksimal.

2.3. Kondisi Kekinian yang Dapat Diperbaiki Melalui Gagasan Baru


Kondisi yang demikian, membuat kami memiliki gagasan atau
ide dalam mengatasi pembuatan natrium carboxymethyl cellulose yang
lebih banyak dan berlimpah bahan bakunya, serta kandungannya yang
lebih baik jika dibandingkan bahan sebelumnya.
Sumber pembuatan natrium carboxymethyl cellulose ini berasal
dari bahan baku pelepah batang Pisang Kepok (Musa paradiciasa).
Pelepah batang pisang ini sangat berpotensi dalam pembuatan Na-CMC,
karena kapasitasnya banyak dan berlimpah serta mudah untuk ditemukan.
Keunggulan lain dari penggunaan pelepah batang Pisang Kepok ini adalah
bahannya yang mudah untuk didapat, ramah lingkungan, memiliki potensi
hasil panen yang tinggi, fleksibel dalam usaha tani, dan rotasi umur
panen yang pendek serta memiliki kadar lignin sedikit yakni sekitar 5%,
sehingga pada prsosesnya kedepan akan lebih mudah.
Proses pembuatan natrium carboxymethyl cellulose dengan
pelepah batang Pisang Kepok ini, sama sebelumnya. Di mana dilakukan
proses konversi selulosa menjadi sodium karboksimetil selulosa (NaCMC) melalui proses alkalisasi dan eterifikasi (Santoso, dkk., 2012).
Untuk limbah pelepah batang Pisang Kepok sendiri, pelepahnya dipotongpotong terlebih dahulu, kemudian dicuci untuk menghilangkan z a t
pengotor. Selanjutnya dijemur di bawah

sinar

matahari

dan

dikeringkan dalam oven bersuhu 50 C selama 2 jam. Pelepah pisang yang


sudah kering kemudian dihaluskan dan diayak hingga diperoleh dalam
bentuk serbuk berukuran 75 mesh. Serbuk ini ditimbang secara analitis,
kemudian

ditambahkan

NaOH

10%

mol sebanyak 100 ml untuk

menghilangkan kandungan ligninnya atau delignifikasi (Togrul and


Arslan, 2004; Adinugraha dkk., 2005; Yasar dkk., 2007).
Padatan selulosa dan hemiselulosa dipisahkan dari larutan
lignin (black liquor) dengan filtrasi menggunakan kertas Whatmann
110 mm. Padatan bebas lignin

kemudian

dicuci

dengan

akuades

sebanyak dua kali. Padatan bebas lignin ditimbang sebanyak 25

g,

kemudian ditambahkan 100 mL akuades, 5 mL asam asetat (10% v/v),

dan 2 g natrium klorida di dalam gelas piala.


Campuran kemudian dipanaskan dengan suhu 75 C selama 1
jam sambil diaduk dengan kecepatan 500 rpm, kemudian disaring untuk
memisahkan padatan selulosa dari hemiselulosa. Selanjutnya dibilas
dengan m akuades dan etanol masing-masing sebanyak 50 mL, lalu
disaring kembali. Pulp selulosa kemudian dikeringkan pada suhu 50 C
selama 16 jam (Togrul and Arslan, 2004; Adinugraha dkk., 2005; , Yasar
dkk., 2007).
Selanjutnya selulosa

sebanyak 2

dialkalisasi

dengan

menambahkan 100 mL isopropil alkohol dan 20 mL NaOH (10%, 20%,


30%, 40% mol) ke dalam labu leher tiga sambil diaduk selama 90
menit dengan kecepatan 500 rpm pada suhu 30 C. SCA (1, 2, 3, 4, dan 5
g) ditambahkan ke dalam campuran sehingga terjadi eterifikasi, kemudian
diaduk dengan kecepatan 500 rpm selama 6 jam sambil dilakukan
pemanasan pada 50, 60, 70, dan 80C. Na-CMC kasar disaring dengan
menggunakan corong buchner dan dibilas menggunakan asam asetat
90% (v/v) sebanyak 50 mL untuk menetralkan kelebihan NaOH,
dilanjutkan pembilasan dengan metanol 70%

(v/v), kemudian disaring.

Padatan Na-CMC kemudian dikeringkan pada suhu 50 C sampai


didapatkan massa yang konstan (Togrul and Arslan, 2004; Adinugraha
dkk., 2005; Yasar dkk., 2007). Reaksi

yang

terjadi

adalah sebagai

berikut:
RselulosaOH+NaOH+ClCH2COONa RselulosaOCH2COONa
+ NaCl+H2O
Semua sampel

Na-CMC

dianalisis perolehan, kemurnian,

dan derajat substitusinya. Na-CMC dengan kemurnian dan perolehan


terbesar dianalisis gugus fungsinya dengan menggunakan FTIR.

2.4. Pihak-Pihak yang Dapat Membantu dalam Mengimplementasikan Gagasan


Untuk

merealisasikan

pembuatan

natrium

carboxymethyl

cellulose dengan pemanfaatan limbah pelepah batang Pisang Kepok


diperlukan partisipasi dari bebagai pihak seperti di bawah ini :

1. Pekebun sebagai pihak yang menyalurkan dan memfasilitasi


sumber limbah pelepah batang pisang ini yang merupakan bahan
baku dalam pembuatan natrium carboxymethyl cellulose.
2. Pihak laboratorium kimia Univeritas Muhammadiyah Surakarta,
sebagai pihak yang memfasilitasi penelitan atau eksperimen terkait
pembuatan

natrium

carboxymethyl

cellulose

ini

sebelum

dikembangkan dalam kapasitas besar.


3. Pengusaha pabrik natrium carboxymethyl cellulose sebagai pihak
yang

dapat

diajak

kerjasama

untuk

pembuatan

dan

pengembangannya dalam kapasitas yang besar.


4. Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) sebagai pihak yang
memberikan bantuan dan support serta hak paten terkait pembuatan
natrium carboxymethyl cellulose dari limbah batang pelepah Pisang
Kepok ini.
5. Seluruh warga masyarakat dan industri sebagai pelaku atau
konsumen yang menikmati penggunaan dari produk ini.

2.5. Langkah-Langkah Strategis yang Dilakukan


Langkah-langkah

strategis

yang

akan

dilakukan

untuk

merealisasikan pembuatan natrium carboxymethyl cellulose dengan


pemanfaatan limbah pelepah batang pisang yaitu :
1. Mengajak kerjasama para pekebun untuk memasok limbah pelepah
batang pisang dalam rangka pembuatan natrium carboxymethyl
cellulose ini.
2. Melakukan eksperimen atau penelitian dalam skala lab terkait
pembuatannya.
3. Mensosialisasikan kepada pengusaha pabrik bahwa limbah pelepah
batang Pisang Kepok dapat dimanfaatkan sebagai salah satu bahan
baku pembuatan natrium carboxymethyl cellulose yang murah dan
berlimpah.

4. Memberikan

sosialisasi

kepada

pekebun

bahwa

terdapat

pemanfaatan limbah pelepah batang Pisang Kepok yang lebih


ekonomis dan efisien.

3. BAB III KESIMPULAN

3.1. Inti Gagasan


Sodium carboxymethylcellulose merupakan senyawa turunan
dari selulosa yang mempunyai peranan penting pada berbagai industri.
Pembuatan Sodium carboxymethylcellulose

dilakukan dengan proses

konversi selulosa menjadi sodium karboksimetil selulosa (Na-CMC)


melalui proses alkalisasi dan eterifikasi.
Pembuatan

Sodium

carboxymethylcellulose

memanfaatkan

limbah pelepah batang Pisang Kepok (Musa paradiciasa) karena


sumbernya yang sangat berlimpah, mengandung kadar selulosa yang tinggi
yakni sekitar kurang lebih 64% dan kadar ligninnya yang lebih sedikit
yakni sekitar 5%. Dalam proses pembuatannya, dibutuhkan berbagi pihak
diantaranya pekebun, pihak laboratorium, pengusaha pabrik Sodium
carboxymethylcellulose dan masyarakat sekitar. Sehingga diharapakan
dapat

membantu

merealisasikan

pembuatan

Sodium

pembuatan

Sodium

carboxymethylcellulose ini.

3.2. Teknik Implementasi Gagasan


1. Mengidentifikasi

tata

cara

carboxymethylcellulose yang lebih efisien dan ekonomis.


2. Melakukan penelitian atau eksperimen lebih lanjut terkait pembuatan
Sodium carboxymethylcellulose dari limbah pelepah batang pisang
ini.
3. Melakukan pendekatan dan sosialisasi kepada pengusaha pabrik
Sodium carboxymethylcellulose, pekebun, pemerintah, dan seluruh
warga masyarakat terkait pembuatan Sodium carboxymethylcellulose
dari limbah pelepah batang pisang ini.

DAFTAR PUSTAKA
Apriliani S., Asteria dan Franky Agustinus, 2013. Pembuatan Etanol dari Kulit Pisang Secara
Fermentasi. Jurusan Teknik Kimia, Fakultas Teknik :Universitas Diponegoro.
Jurnal Teknologi Kimia dan Industri : Vol. 2, No. 2.

Adinugraha, M. P.; Marseno, D. W.; Haryadi., Synthesis

and

Characterization

of

Sodium Carboxymethylcellulose from Cavendish Banana Pseudo Stem (Musa


cavendishii LAMBERT), Journal of Carbohydrate Polymers, 2005, 62(2), 164169.

Biswal, D. R.; Singh, R. P., Characterisation of Carboxymethyl Cellulose


Polyacrylamide Graft

Copolymer,

Journal of Carbohidrate

and

Polymers, 2004,

57(4), 379-387.

Direktorat Jenderal Hortikultura,. 2013. Angka Tetap Komoditas Hortikultura Tahun 2012.
Direktorat Jenderal Hortikultura: Jakarta.

Ferdiansah, M. K., Pengelolaan Limbah Buangan Kulit Singkong sebagai Upaya Mendukung
Produksi CMC Ramah Lingkungan, 2010, http://www.mediaindonesia.com
/webtorial/klh/?ar_id=NzQ2MQ== (akses Mei 2011).

Kiantoro, Adi. 2011. Pembuatan Asam Oksalat dari Limbah Kulit Pisang dengan Pengaruh
Waktu dan Konsentrasi Asam Nitrat (HNO3). Jurusan Teknik Kimia Politeknik
Negeri Sriwijaya : Palembang.

Lokantara, P., 2012. Analisis Kekuatan Impact Komposit Polyester-Serat Tapis Kelapa
dengan Variasi Panjang dan Fraksi Volume Serat yang Diberi Perlakuan NaOH.
Fakultas Teknik Universitas Udayana : Kampus Bukit Jimbaran, Bali, Indonesia.

Priatma, Risqi Putri Nur dan Aitia Mulyawati Widiyannita, 2012. Tugas PPK Prarancangan
Pabrik Sodium Karboksimetil Selulosa Kapasitas 8.000 ton/tahun. Universitas
Gajah Mada : Yogyakarta.

Santoso, Shella Permatasari, dkk., 2012. Pemanfaatan Kulit Singkong Sebagai Bahan Baku
Pembuatan Natrium Karboksimetil Selulosa. Jurusan Teknik Kimia, Fakultas
Teknik Universitas Katolik Widya Mandala : Surabaya. Jurnal Teknik Kimia
Indonesia : Vol. 11, No. 3.

Torul, H.; Arslan, N., Carboxymethyl Cellulose From Sugar Beet Pulp Cellulose as a
Hydrophilic Polymer in Coating of Mandarin, Journal of Food Engineering, 2004:
62(3), 271- 279.
Yasar, F.; Torul, H.; Arslan, N., Flow Properties Of Cellulose and Carboxymethyl
Cellulose From Orange Peel, Journal of Food Engineering, 2007: 81(1), 187-199.

Anggota 2
a. Data Diri
1
Nama Lengkap

Tryas Munarsyah

Fakultas/Jurusan/Universitas

Teknik/Teknik Kimia

Tempat tanggal lahir

Raha, 23 November 1991

Contact Person

085647597378

Alamat Email

tryas_sangpemimpi@rocketmail.com

Pengalaman Organisasi

BEM FT UMS 2012 dan 2013


KMTK UMS 2012 dan 2013
Pengurus

dan

Pengelola

UKM

Penelitian Teknik UKMI-PIT 2013


DPM FT UMS 2014

b. Riwayat Pendidikan
No

Asal Sekolah

Angkatan

1.

SD Negeri 15 Katobu

2004

2.

SMP Negeri 2 Raha

2007

3.

SMA negeri 2 Raha

2010

4.

Universitas Muhammadiyah Surakarta

2011

Semua data yang saya isikan dan tercantum dalam biodata ini adalah
benar dan dapat dipertanggungjawabkan secara hukum. Apabila dikemudian hari
ternyata dijumpai ketidaksesuaian dengan kenyataan, saya sanggup menerima
sanksi.
Demikian biodata ini saya buat dengan sebenarnya untuk memenuhi
salah satu persyaratan dalam pengajuan hibah PKM-GT
Anggota 1

Tryas Munarsyah