Anda di halaman 1dari 11

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA
A; Malaria
1. Pengertian
Malaria adalah penyakit yang disebabkan oleh parasit malaria
(Plasmodium), bentuk aseksual yang masuk dalam tubuh manusia yakni dalam
sel darah merah atau sel hati yang ditularkan oleh nyamuk malaria
(Anopheles)betina (WHO 1981)
2. Agent (parasit/Plasmodium)
Agent penyebab malaria adalah dari genus Plasmodium, Famillia
Plasmodiidae, dari ordo Coccidiidae. Penyebab malaria pada manusia terdiri atas
empat spesies Plasmodium yaitu Plasmodium falciparum sebagai penyebab
malaria tropika, Plasmodium vivax sebagai penyebab malaria tertiana,
Plasmodium malaria sebagai penyebab malaria quartana dan Plasmodium ovale
yang jarang ditemui di Indonesia, umumnya dijumpai di Afrika dan Pasifik Barat
(Departemen Kesehatan RI, 1999, hal.6)
Parasit malaria yang banyak ditemukan di Indonesia adalah Plasmodium
falciparum dan Plasmodium vivax ataupun campuran dari keduanya, sedangkan
Plasmodium malaria dan Plasmodium ovale ditemukan di Sulawesi, Irian Jaya
dan Timor-Timur (Departemen Kesehatan RI, 1999, hal.24).

3. Cara penularan penyakit malaria


a; Penularan secara alamiah (Natural Infection)
Natural Infection oleh nyamuk Anopheles ke tubuh manusia
dapat dilihat pada gambar 1 berikut (Depkes RI, 1999, hal.29)

Orang sakit malaria

Digigit
Nyamuk

malaria

m
e
n
j
a
d
i

(belum terinfeksi Parasit)

m
e
n
j
a
d
i
Menggigit

Orang sehat

Nyamuk malaria terinfeksi


(mengandung Sporozoit)

(sumber: Depkes RI,1999,hal.29)


Gambar.1
Penularan alamiah nyamuk Anopheles

Penjelasan penularan secara alamiah adalah sebagai berikut:


1; Orang sakit malaria digigit nyamuk (vektor) penyebab penyakit
malaria. Saat nyamuk menghisap darah orang sakit itu maka akan
terbawa parasit malaria yang ada dalam darah.
2; Nyamuk (Vektor) penyebab penyakit yang telah menghisap darah
orang sakit akan terinfeksi oleh parasit malaria. Dalam tubuh nyamuk
terjadi siklus hidup parasit malaria (seksual)
3; Orang sehat digigit nyamuk malaria yang telah terinfeksi
plasmodium. Pada saat menggigit, maka parasit yang ada dalam
tubuh nyamuk masuk dalam darah manusia. Kemudian manusia
sehat menjadi sakit. Dalam tubuh manusia terjadi siklus hidup
parasit malaria.
4; Nyamuk sebagai vektor penyakit yang terinfeksi parasit malaria
(sporosoit) menggigit orang sehat.
b; Penularan yang tidak alamiah
Menurur DEPKES RI (1999, hal.30 ) penularan yang tidak alamiah
terdiri atas tiga macam yaitu:
1) Malaria bawaan (congenital)
Terjadi pada bayi yang baru dilahirkan karena ibunya menderita
malaria. Penularannya melalui tali pusat atau placenta.
2) Secara mekanik
Penularan yang dapat terjadi melalui transfusi darah atau melalui
jarum suntik. Penularan melalui jarum suntik banyak terjadi pada para
morfinis yang menggunakan jarum suntik yang tidak steril lagi. Cara
penularan seperti ini pernah dilaporkan terjadi disalah satu rumah sakit di
Bandung pada tahun 1981, pada penderita yang dirawat dan mendapatkan
suntikan intravena dengan mengguankan alat suntik yang digunakan untuk
menyuntik beberapa pasien, dimana alat suntik itu seharusnya dibuang sekali
pakai (disposable).
3) Secara oral (melalui mulut)
Cara penularan ini pernah dibuktikan pada burung, ayam, burung dara
dan monyet
4. Penegakan diagnosa
Diagnosa malaria didasarkan atas manifestasi klinis (termasuk
Anamnesis), uji imunoserologis dan menemukan parasit (Plasmodium) malaria
dalam darah penderita. Penegakan diagnosa melalui pemeriksaan laboratorium
memerlukan persyaratan tertentu agar mempunyai nilai diagnostik yang tinggi
yaitu: waktu pengambilan sampel harus tepat yaitu pada akhir periode demam
memasuki periode berkeringat, karena pada periode ini jumlah tropozoit dalam
sirkulasi mencapai maksimal dan cukup matur sehingga memudahkan identifikasi
spesies parasit. Volume darah yang diambil sebagai sampel cukup, yaitu darah
kapiler. Kualitas preparat harus baik untuk menjamin identifikasi spesies
Plasmodium yang tepat. Menurut DEPKES RI (1999,hal.20) diagnosa malaria
dibagi atas dua yaitu:
a. Secara klinis (tanpa pemeriksaan laboratorium)

Merupakan diagnosa berdasarkan gejala-gejala klinis malaria, yang


gejala umumnya ditandai dengan Trias malaria, yaitu demam menggigil
dan sakit kepala.
b. Secara laboratorium (dengan pemeriksaan sediaan darah)
Selain berdasarkan gejala klinis, juga dilakukan konfirmasi dengan
pemeriksaan dengan pemeriksaan sediaan darah tebal selama tiga kali beturutturut negatif, diagnosa dapat disingkirkan. Bila parasit dihitung >5% atau
5000 parasit/200 leukosit, maka diagnosa sebagai malaria berat. Di daerah
yang tidak ada sarana laboratorium dan sarana mikroskop, diagnosa malaria
ditegakan dengan pemeriksaan klinis tanpa pemeriksaan laboratorium
(anamnesis dan pemeriksaan fisik saja).
5. Gejala klinis
Gejala dari penyakit malaria terdiri atas beberapa serangan demam dengan
intefal tertentu (Parokisme), diselingi oleh satu periode (periode laten) dimana
penderita bebas sama sekali dari demam. Jadi gejala klinis utama dari penyakit
malaria adalah demam, menggigil secara berkala dan sakit kepala yang disebut
dengan Trias malaria. Secara berurutan kadang menimbulkan gejala seperti
:badan terasa lemas dan pucat karena kekurangan sel darah merah dan
berkeringan, napsu makan menurun, mual-mual, kadang-kadang diikuti muntah,
sakit kepala dengan rasa berat yang terus menerus, khususnya infeksi dengan
falciparum. Dalam keadaan menahun (kronis) gejala tersebut diatas disertai
dengan pembesaran limpa. Pada malaria berat gejala tersebut diatas disertai
kejang-kejang dan penurunan kesadaran sampai koma. Pada anak makin mudah
umurnya makin tidak jelas gejala klinisnya, tetapi yang menonjol adalah diare
dan anemia serta adanya riwayat kunjungan atau berasal dari daerah malaria.
a; Stadium mengigil
Dimulai dengan menggigil dan perasaan sangat dingin, nadi cepat lemah,
bibir dan jari pucat/kebiruan. Penderita mungkin muntah dan pada anak sering
tejadi kejang. Stadium ini berlangsung 15 menit sampai 1 jam.
b;
Stadium demam
Setelah merasa kedinginan penderita merasa kepanasan, muka merah ,
kulit kering, dan terasa sangat panas seperti terbakar, sakit kepala,nadi lebih
kuat. Penderita merasa sangat haus dan suhu tubuh bisa mencapai 41 oc. Stadium
ini berlangsung antara 2-4 jam.
c; Stadium berkeringat
Stadium ini timbul setelah demam akibat gangguan metabolisme tubuh
sehingga produksi keringat bertambah bahkan dalam keadaan berat keringat
dapat seperti mandi. Penderita berkeringat banyak, suhu badan menurun cepat,
kadang-kadang sampai dibawah suhu normal, dapat tidur lelap dan setelah
bangun badan terasa lelah tapi tidak ada gejala lain. Stadium ini berlangsung
antara 2-4 jam. Menurut DEPKES RI (1999, hal.25) beberapa keadaan klinik
dalam perjalanan infeksi malaria adalah:
1) Serangan primer
Serangan primer adalah keadaan mulai dari akhir masa inkubasi dan
mulai terjadi serangan proksisimal yang terdiri dari dingin/menggigil,panas dan
berkeringat. Serangan proksisimal dapat pendek atau panjang tergantung dari
perbanyakan parasit dan keadaan imunitas penderita.
2 ) Periode laten

Periode ini ditandai dengan tanpa gejala parasitemia selama terjadi


infeksi malaria. Biasanya terjadi diantara dua keadaan proksisimal. Periode laten
dapat terjadi setelah serangan primer atau sesudah serangan primer dimana
parasit sudah tidak ada diperedaran darah tepi tapi infeksi masih berlangsung.
3) Rekrudensi (Recrudescense)
Berulangnya gejala klinis dan parsitemia dalam masa 8 minggu sesudah
berakhir serangan primer. Rekrudensi dapat terjadi sesudah periode laten dari
serangan primer.

4) Rekurensi (Recurrence)
Adalah berlangsungnya gejala klinik atau parasitemia sesudah 24 minggu
berakhirnya serangan primer. Keadaan ini juga menerangkan apakah gejala
klinik disebabkan oleh kehidupan parasit berasal dari bentuk di luar eritrosit
(hipnosoit) atau parasit dari bentuk eritrosit.
5) Kambuh (Relaps atauRechute)
Adalah berulangnya gejala klinik atau parasitemia yang lebih lama dari
waktu antara serangan pendek dari infeksi primer. Istilah relaps dipakai untuk
menyatakan berulangnya gejala klinik setelah periode yang lama dari masa
laten, sampai 5 tahun, biasanya terjadi karena infeksi tidak sembuh atau oleh
bentuk diluar eritrosit (hati). Kekambuhan relaps malaria dapat digolongkan
pada kekambuhan klinis atau parasit. Kekambuhan klinis adalah adanya
serangan klinis terjadi tanpa disertai adanya reinfeksi. Sedangkan kekambuhan
parasit adalah timbul kembali atau terjadinya peningkatan jumlah parasit, yang
terjadi sesudah periode sub-patensi atau parasitemia
6. Masa inkubasi
Masa inkubasi penyakit malaria dibedakan atas masa inkubasi
ekstrinsik (stadium sporogani) dan masa inkubasi intrinsik. Masa inkubasii
ekstrinsik adalah mulai saat masuknya gametosit kedalam tubuh nyamuk sampai
terjadinya stadium sporogini dalam tubuh nyamuk yaitu terbentuknya sporozoit
yang kemudian masuk dalam kelenjar air liur nyamuk. Masa inkubasi ekstrinsik
dipengaruhi oleh suhu udara. Pada suhu 26oc, untuk setiap untuk setiap spesies
adalah sebagai berikut: P. falciparum 10-12 hari, P. vivax 8-11 hari, P. ovale 15
hari (Departemen Kesehatan RI, 1999,hal.29)
Masa inkubasi intrinsik adalah waktu mulai saat masuknya sporozoit
kedalam darah sampai timbulnya gejalah klinis/demam atau sampai pecahnya
sizon darah. Masa inkubasi intrinsik berbeda tiap spesies :
P.faciparum
9-14 hari, P. vivax12-17 hari, P. ovale 16-18 hari (Departemen Kesehatan
RI,1999,hal.28).
Masa inkubasi intrinsik berbeda dengan masa prepaten yang
menggambarkan jarak waktu antara masuknya sporozoit dan pemunculan parasit
saat pertama kali ada di darah tepi. Masa sub paten merupakan masa dimana
jumlah parasit yang ada pada darah tepi sangat sedikit sehingga belum bisa
ditemukan pada pemeriksaan mikroskopik, masa ini biasanya disebut masa
subpaten parasitemia. Selanjutnya diikuti oleh adanya gejala klinis yang
biasanya disertai oleh paten parasitemia (adanya parasit di darah tepi yang dapat
ditemukan saat pemeriksaan mikroskopik). Serangan pertama terdiri dari
beberapa parokisme (serangan demam dengan interval waktu tertentu,
tergantung pada lamanya waktu sisogoni dari setiap spesies). Bila serangan

pertama tidak diobati dengan sempurna mungkin timbul rekurensi atau


rekrudensi. Serangan klinis selanjutnya dapat dipengaruhi oleh imunitas
penderita yang kemudian timbul. Kekambuhan atau relaps yang tanpa disertai
gejala klinis relaps parasit. Interval antara waktu dua relaps disebut
masa/periode laten.
B. Faktor host yang mempengaruhi kejadian malaria
Menurut Departemen Kesehatan RI ( 1999,hal.20) ada beberapa faktor
intrinsik yang dapat mempengaruhi kerentanan penjamu terhadap agent yaitu
1; Umur
Anak-anak lebih rentan terhadap infeksi parasit malaria.
Infeksi dapat dengan mudah terjadi pada usia muda karena belum matangnya
system imun, sedangkan pada usia tua dapat terjadi karena penurunan daya
tahan tubuh.
Infeksi malaria tidak membedakan jenis kelamin, namun perbedaan
angka kesakitan antara laki-laki dan perempuan disebabkan oleh faktor
pekerjaan, migrasi penduduk dan lain-lain.
2; Ras
Beberapa ras manusia atau kelompok penduduk mempunyai
kekebalan alamiah terhadap malaria , misalnya pada penderita sickle cell
anemia dan ovalositosis.
3; Riwayat malaria sebelumnya
Orang yang pernah terinfeksi malaria sebelumnya biasanya akan
terbentuk imunitas sehingga akan tahan terhadap infeksi malaria. Contohnya
penduduk asli daerah endemik akan lebih tahan dengan penduduk pendatang
dari daerah non endemis.
4; Cara hidup / kebiasaan
Cara hidup sangat berpengaruh terhadap penularan malaria. Misalnya
tidur tidak memakai kelambu atau senang berada diluar rumah dimalam hari.
5; Sosial Ekonomi
Keadaan sosial ekonomi masyarakat erat hubungannya dengan infeksi
malaria. Semakin tinggi sosial ekonomi seseorang, semakin mudah pula
seseorang memenuhi kebutuhan hidupnya termasuk kebutuhan akan
pelayanan kesehatan, makanan yang bergizi serta tempat tinggal yang layak
dan lain-lain. Semakin tinggi status ekonomi seseorang maka pengeluaran
cenderung bergeser dari bahan makanan ke bahan non makanan.
6; Status gizi
Status gizi memiliki kaitan secara langsung dengan daya tahan tubuh.
Makin baik status gizi seseorang, makin tidak mudah orang tersebut terkena
penyakit. Dan sebaliknya makin rendah status gizi seseorang makin mudah
orang tersebut terserang penyakit.
Indeks Massa Tubuh atau yang lasim dikenal dengan Body
Mass Index merupakan salah satu cara untuk memantau keadaan gizi bagi
orang dewasa. Dengan IMT akan diketahui apakah seseorang tersebut
termasuk kurus, normal ataupun gemuk. (Departemen Kesehatan
RI,1995,hal.18).
Nilai BMI dihitung dengan menggunakan rumus :
Berat badan dalam Kg

BMI =
( Tinggi badan dalam m )2
Menurut DEPKES RI (1995) klasifikasi status gizi berdasarkan nilai BMI
Yakni :
1. Kategori kurus !7 18.5 Kg/m2
2. Kategori normal 18,5 25 Kg/m2
3. Kategori gemuk 25 27 Kg/m2
Pada banyak penyakit menular terutama yang dibarengi dengan demam,
terjadi banyak kehilangan nitrogen tubuh dari perombakan protein tubuh.
Penting diperhatikan bahwa fungsi dari semua pertahanan tubuh membutuhkan
kapasitas sel tubuh untuk membentuk protein baru.
Untuk golongan balita status gizi dengan melihat KMS
7; Imunitas
Imunitas merupakan suatu pertahanan tubuh. Masyarakat yang tinggal
didaerah endemis malaria biasanya mempunyai imunitas yang alami sehingga
mempunyai pertahanan alami terhadap infeksi malaria.
C. Kerangka Konsep
Penelitian ini untuk mengetahui hubungan antara faktor resiko host
dengan kejadian malaria, maka dari landasan teori dapat dilakukan kerangka
konsep sebagai berikut:

Faktor host :
Umur
Jenis kelamin
Riwayat malaria
sebelumnya
Kebiasaan
Tingkat ekonomi
Satus gizi

Keterangan:

Kejadian malaria

Faktor lingkungan dan


agent
: yang diteliti
: yang tidak diteliti

BAB I
PENDAHULUAN
A; Latar belakang
Negara Indonesia dalam pembangunannya memiliki tujuan membangun
masyarakat Indonesia seluruhnya dan manusia Indonesia seutuhnya.
Pembangunan pada sektor kesehatan merupakan bagian integral dari
pembangunan nasional yang termasuk didalamnya adalah program
pemberantasan penyakit menular .
Salah satu program pemberantasan penyakit menular adalah
pemberantasan terhadap penyakit menular malaria, yang merupakan penyakit
yang cenderung meningkat jumlah kasusnya dan dapat menyebabkan KLB dan
bahkan kematian. Penyakit malaria sampai saat ini masih merupakan masalah
kesehatan di Indonesia, khususnya dibagian Indonesia timur. Angka mortalitas
akibat penyakit ini di beberapa daerah di Indonesia sampai saat ini cukup tinggi
yaitu sebesar 20,9% - 50%. Seperti pada Propinsi Nusa Tenggara Timur yang
merupakan salah satu daerah endemis malaria dan penyakit ini menduduki
rangking kedua dari sepuluh (10) besar penyakit utama di puskesmas. Propinsi
NTT tahun 1996 memiliki angka Parasit Rate sebesar 4,41%, sedangkan
Annual Malaria Insidance (AMI) pada tahun 1997 sebesar 197,5 .
Sedangkan tahun 2001 AMI di NTT mengalami penurunan mencapai 114 .
Kabupaten Flores Timur merupakan kabupaten dengan AMI 162,29
ditahun 2002. Kecamatan Larantuka merupakan kecamatan dengan angka kasus
malaria tertinggi ketiga di Kabupaten Flores Timur. AMI pada Kecamatan
Larantuka mencapai 101,8 di tahun 2002. Angka ini termasuk dalam
kategori sedang jika diklasifikasikan menurut klasifikasi yang sering digunakan
di kabupaten Flores Timur yakni berada diantara 50 - 200 . Pada Kecamatan
Larantuka tercatat memiliki beberapa Desa dengan kasus malaria meningkat
tiap tahunnya. Angka kesakitan malaria 52 % adalah laki-laki ditahun 2002,
dengan jumlah penderita tergolong dalam kategori anak adalah 57 %. Dari
jumlah penduduk keseluruhan diketahui sekitar 64 % penduduk memiliki mata
pengaharian yang tidak tetap. Dari masalah yang terurai diatas penulis merasa
tertarik untuk melakukan penelitian tentang
Studi hubungan faktor-faktor resiko host dengan kejadian malaria di
Puskesmas Oka Kecamatan Larantuka Kabupaten Flores Timur , Tahun
2003.
B; Rumusan masalah
Apakah ada hubungan antara faktor-faktor resiko host dengan kejadian
malaria yang terjadi pada wilayah Puskesmas Oka, Kecamatan Larantuka,
Kabupaten Flores Timur.
C. Hipotesa
Ada hubungan antara faktor resiko host dengan kejadian malaria yang terjadi di
kecamatan Larantuka, Kabupaten Flores Timur.

D. Tujuan Penelitian
1. Umum
Untuk mengetahui hubungan antara faktor-faktor resiko host dengan
kejadian malaria yang terjadi.
2. Khusus
a; Untuk mengetahui hubungan antara faktor umur dengan kejadian malaria.
b; Untuk mengetahui hubungan antara faktor jenis kelamin dengan kejadian
malaria.
c; Untuk mengetahui hubungan antara faktor riwayat malaria sebelumnya
dengan kejadian malaria.
d; Untuk mengetahui hubungan antara faktor kebiasaan dengan kejadian
malaria.
e; Untuk mengetahui hubungan antara faktor status gizi dengan kejadian
malaria.
f; Untuk mengetahui hubungan antara faktor tingkat ekonomi dengan
kejadian malaria
E. Manfaat penelitian
1; Bagi instansi (puskesmas)
Membantu memberikan solusi dalam pelaksanaan program pemberantasan
penyakit menular terutama penyakit menular malaria.
2; Bagi masyarakat
Menambah pengetahuan pembaca tentang penyakit malaria dan faktor-faktor
host yang mempengaruhi kejadian malaria.
3; Bagi almamater
Sebagai tambahan pustaka bagi almamater tentang penyakit menular
malaria.
F.Ruang lingkup
1; Lingkup materi
Masalah yang akan dibahas tentang hubungan beberapa faktor resiko
host yang nenepengaruhi kejadian malaria dengan kasus malaria yang terjadi.
2; Lingkup tempat
Penelitian ini dilakukan di Puskesmas Oka, Kecamatan Larantuka<
Kabupaten Flores Timur.
3; Lingkup sasaran
Sasaran dari penelitian ini adalah penderita nalaria yang datang berobat
ke Puskesmas Oka saat dilakukan penelitian.
4; Lingkup Waktu
Penelitian ini dilakukan dari tanggal 1 Juli - 15 Juil 2003.

BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
A; Jenis penelitian
Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah jenis penelitian
analitik observasional dengan menggunakan rancangan kasus kontrol studi (case
conrol study).
B; Desain penelitian
Desain kasus kontrol yang digunakan dapat dilihat pada gambar 2 :
Faktor resiko host +
( kel. terpapar)

Penderita malaria
(SD +)

Faktor resiko host


( Kel. tidak terpapar)
Faktor resiko host +
(kel. terpapar)
Faktor resiko host _
(kel. tidak terpapar)

Bukan penderita malaria


(SD -)
Gambar 2.
Desain penelitian Kasus Konrol
( Sumber : Sukidjo,1993, hal.145)

C; Waktu dan tempat penelitian


Penelitian dilakukan di Kecamatan Larantuka, Kabupaten Flores Timur,
dengan waktu penelitian pada tanggal 1 Juli sampai 15 Juli 2003.
D; Langkah kegiatan
1. Penyusunan proposal penelitian
2. Penyusunan instrument
3. Persiapan lapangan
4. Pelaksanaan penelitian
5. Penyusunan laporan
6. Seminar hasil laporan
7. Perbaikan hasil laporan
E; Populasi dan sampel
1; Populasi
Populasi dari penelitian ini adalah seluruh penderita malaria di
Kecamatan Larantuka, Kabupaten Flores Timur, yang berobat di puskesmas
dari tanggal 1Juli - 15 Juli.
2; Sampel
Sampel dalam penelitian ini adalah keseluruhan dari kasus yang akan
ditemukan selama penelitian, dalam hal ini pasien yang datang dan
memeriksakan diri di puskesmas dan kemudian dilanjutkan dengan

pemeriksaan mikroskopis. Pemeriksaan dengan hasil positif yang digunakan


sebagai kasus.
F; Kelompok kontrol
Kelompok kontrol dalam penelitian ini adalah penderita klinis yang
dinyatakan negatif dengan pemeriksaan mikroskopis.
G; Variabel penelitian
1; Variabel terikat yaitu kasus kejadian malaria.
2; Variabel bebas beberapa faktor resiko dari host yang mempengaruhi kejadian
malaria, diantaranya
a; Faktor umur
b; Faktor jenis kelamin
c; Faktor riwayat malaria sebelumnya
d; Faktor kebiasaan
e; Faktor status gizi
f; Faktor tingkat ekonomi
3; Variabel pengganggu diantaranya:
a;
Lingkungan (Enviroment)
b;
Agent ( bibit penyskit)
H; Defenisi operasional
1; Kejadian malaria adalah kesakitan penduduk atau seseorang dengan
diagnosa klinis dan diagnosa labolatorium.
2; Faktor resiko adalah faktor yang memberi pengaruh terhadap kejadian
malaria
3; Umur adalah kriteria penderita sesuai waktu kalender. Dengan cara
kriteria anak antara umur 0 10 tahun dan dewasa antara umur 11 tahun
keatas. Skala data adalah skala nominal.
4; Jenis kelamin adalah penggolongan penderita berdasarkan jenis kelamin.
Cara kriteria laki-laki dan perempuan. Skala data adalah nominal.
5; Riwayat malaria sebelumnya adalah terjadinya gejala atau sakit yang
sama sebelumnya. Cara kriteria pernah dan tidak pernah dengan skala
data nominal.
6; Kebiasaan adalah kebiasaan tidak memakai kelambu saat tidur dan suka
berada di luar rumah pada waktu malam hari. Cara kriteria adalah untuk
kebiasaan memakai kelambu ya dan tidak. Demikian juga dengan
kebiasaan berada diluar rumah malam hari yakni ya dan tidak. Skala
pengukuran Nominal.
7; Status gizi adalah keadaan gizi berdasarkan indeks massa tubuh dengan
cara kriteria kurus (IMT <18,5), normal (IMT 18,5 25), gemuk (IMT
>25), dengan gara pengukuran dengan mengetahui IMB seseorang. Skala
data adalah ordinal.
8; Tingkat ekonomi adalah keadan ekonomi berdasarkan pendapatan
perbulan. Cara kriteria tinggi (>350 000) dan rendah <350 000) dengan
skala data adalah nominal (
I; Metode pengumpulan dan pengolahan data
1; Pengumpulan data

a; Data primer ialah data hasil wawancara langsung dengan daftar


pertanyaan dan pengukuran langsung selama penelitian.
b; Data sekunder ialah data yang diperoleh dari puskesmas dan juga dari
pencatatan dan pelaporan dari tiap tingkatan instansi pemerintahan.
2; Pengolahan data
Data yang diperoleh kemudian akan disajikan dengan tabel distribusi
frekwensi
J; Analisa data
Metode analisis yang digunakan dalam mengolah data adalah dengan
analisis secara statistik dengan uji Chi Quadrat.
Rumus Chi Quadrat adalah :
Untuk tabel 2x2 = X2 = N (ad bc )
(a+b)(c+d)(b+d)
Untuk tabel dengan banyak sel :
X2 = (fo-fh)2
fh
Dengan menggunakan taraf signifikan 5 % , jika X2 hitung lebih besar dari X2
tabel berabrti hasil mendukung hipotesa (hi). Demikian sebaliknya jika X2
hitung lebih kecil berarti hipotesa (hi ) ditolak.
OR dicari untuk menentukan besar kemungkinan terjadinya infeksi antara
kelompok terpapar dengan kelompok yang tidak terpapar.

DAFTAR PUSTAKA
RI DEPKES, 1999 A,Modul 1Epidemiologi Malaria. DEPKES RI, Jakarta
__________, 1999 B,Modul 2 Parasitologi Malaria.DEPKES RI, Jakarta
__________, 1999 C,Modul 3 Ento,ologi Malaria. DEPKES RI, Jakarta
__________, 1999 D,Modul 6 Manajemen Pemberantasan Penyakit Malaria.DEPKES
RI,Jakarta
Proyek P2M Propinsi NTT, 19996,Pedoman Kegiatan Kader. Proyek P2M Propinsi
NTT, Kupang
Effendi, Acep dan Saniambara ,Nyoman,2002, Menganal Fektor Malaria dan Filariasis
di NTT, Buletin Epidemiologi, Edisi Oktober-Desember 2002.
Pello,Franc A., 2000.Situasi Malaria ,Buletin Epidemiologi, Edisi April-Juni 2000
Notoadmodjo, Sukidjo,1993,Metode penelitian kesehatan,Rineka Cipta. Jakarta
Sidney, Segle,19954, Statistik Non Parametik untuk Ilmi-Ilmu Sosial, Garmedia.Jakarta