Anda di halaman 1dari 21

1

KARTU IDENTITAS KONTAMINAN/POLUTAN


Nama Kontaminan/Polutan

: Plumbum (Pb) / Timbal

Alamat

: Periode 6
Golongan IV A / Golongan 14

1.

Karakter (Sifat-Sifat Fisik)


Timbal (Pb)

Timbal termasuk unsur golongan 14 yang lebih bersifat logam daripada tiga
anggota pertama karbon, silikon, dan germanium. Mempunyai nomor atom 82 dan
berat atom sebesar 207,2. Karakteristik logam timbal dapat dilihat pada tabel 1 di
bawah ini:
Tabel 1 Krakteristik Fisik Timbal
Karakteristik Fisik
Konfigurasi elektron

82Pb

[54Xe] 4f14 5d10 6s2 6p3

Titik leleh / C

327

Titik didih / C

1620

Densitas / g cm-3

11,29

Jari-jari atom / pm

175

Jari-jari ion / pm

120

Energy ionisasi / kj mol-1 :

Elektronegativitas
Tingkat oksidasi

0,7155

II

1,4504

III

4,083
1,6
(+2) lebih stabil, +4

Timbal sebagai logam berat yang terbanyak di dunia, bersifat lunak dengan titik

2
leleh 327C, Nampak mengkilat atau berkilau ketika baru dipotong, tetapi segera
menjadi buram ketika terjadi kontak dengan udara terbuka. Pb menguap dan
membentuk oksigen dalam udara membentuk timbal oksida, ada tiga jenis oksida
timbal yaitu PbO-kuning, PbO2-coklat, dan Pb3O4-merah
Daftar Pustaka

Anonim.

2011.

Seputar

Timbal.

(online).

(http://alchemistterrible.blogspot.com/2011/11/vbehaviorurldefaultvmlo.html, Diakses pada 15 November


2014 )
Sugiyarto, Kristian H. 2001. Common Textbook Kimia
Anorganik II Dasar-Dasar Kimia Anorganik Logam.
Yogyakarta: Jurusan Kimia FMIPA Universitas Negeri
Yogyakarta

2.

Sumber (Asal Kontaminan/Polutan)


Menurut Palar (2008), Timbal (Pb) dapat berada dalam perairan dengan dua

cara, yaitu:
1) Secara alamiah
Melalui pengkristalan Pb di udara dengan bantuan air hujan dan proses
korosifikasi batuan mineral akibat hempasan gelombang dan hempasan angin.
Ada pula kandungan Pb di dalam tanah, menurut Fardiaz (1992) kandungan
timbal di dalam tanah rata-rata adalah 16 ppm.
2) Sebagai dampak dari aktivitas manusia.
Menurut Fardiaz (1992) Sumber atau asal polutan timbal sebagai dampak
aktivitas manusia antara lain:
a. Pembakaran bahan aditif bensin dari kendaraan bermotor
Komponen-komponen Pb yang mengandung halogen terbentuk selama
pembakaran bensin karena bensin sering ditambahkan cairan antiletupan
yang mengandung scavenger kimia. Bahan antiletupan yang aktif terdiri
dari tetraetil Pb atau Pb(C2H5)4, tetrametil Pb atau Pb(CH3)4, atau
kombinasi keduanya. Dua macam scavenger yang sering digunakan adalah
etilen dibromide (C2H4Br2) dan etilen diklorida (C2H4Cl2). Bahan aditif
yang ditambahkan ke dalam bensin terdiri dari 62% tetraetil Pb, 18% etilen
dibromida, 18% etilen diklorida, dan 2% bahan-bahan lainnya.

3
b. Industri alkil Pb dan Pb-okside
c. Pipa air yang dibuat dari Pb
Sebenarnya penggunaan pipa-pipa Pb tidak berbahaya untuk mengalirkan
air murni atau alami tetapi berbahaya untuk air sadah. Air sadah
mengandung ion-ion karbonat (CO32-) dan sulfat (SO42-) yang bereaksi
dengan Pb membentuk lapisan pelindung yang tidak larut dalam air yaitu
PbCO3 dan PbSO4.
d. Industri keramik
Timbal juga digunakan sebagai campuran dalam pembuatan pelapis
keramik yang disebut glaze. Komponen utama dari glaze keramik adalah
silika yang bergabung dengan oksida lainnya yang membentuk silikat
kompleks. Komponen timbal yaitu PbO ditambahkan ke dalam glaze untuk
membentuk sifat mengkilap yang tidak dapat dibentuk oleh oksida lainnya.
Glaze keramik yang mengandung pb merupakan sumber keracunan Pb yang
berbahaya jika digunakan untuk melapisi wadah-wadah makanan atau
minuman yang terbuat dari keramik. Minuman berasam tinggi seperti sari
buah apel dan jeruk dapat melarutakan glaze dan membebaskan Pb ke
dalam minuman jika formulasi glaze yang digunakan tidak tepat.
e. Industri produksi baterai
Elektrode dari beberapa baterai mengandung struktur inaktif yang disebut
grid yang dibuat dari alloy timbal yang mengandung 93% timbal dan 7%
antimony. Bagian yang aktif dari baterai terdiri dari timbal oksida (PbO2)
dan logam timbal yang terikat pada grid.
f. Industri Cat
Komponen timbal juga digunakan sebagai pewarna cat karena kelarutannya
di dalam air yang rendah, dapat berfungsi sebagai pelindung, dan terdapat
dalam berbagai warna. Yang paling banyak digunakan adalah timbal putih
Pb(OH)2.2PbCO3, timbal merah Pb3O4 berupa serbuk berwarna merah cerah
yang digunakan sebagai cat yang tahan karat. Cat berwarna kuning dapat
dibuat dengan menambahkan kuning krom PbCrO4.
g. Industri Kabel.
Industri kabel memerlukan timbal (Pb) untuk melapisi kabel. Saat ini
pemakaian timbal (Pb) di industri kabel mulai berkurang, walaupun masih

4
digunakan campuran logam Cd, Fe, Cr, Au dan arsenik yang juga
membahayakan untuk kehidupan makluk hidup.
h. Industri Pengecoran maupun Pemurnian.
Industri

ini

menghasilkan

timbal

konsentrat

(primary

lead),

maupun secondary lead yang berasal dari potongan logam (scrap).


Daftar Pustaka

Anonim.

2011.

Chapter

II

Tinjauan

Pustaka.

(online).

(http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/32730/4/Cha
pter%20II.pdf, Sabtu 15 November 2014)
Fardiaz, Srikandi. 1992. Polusi Air dan Udara. Yogyakarta:
Penerbit Kanisius (Anggota IKAPI)
Kemas. 2013. Kadar, Gejala, Dampak Pencemaran Timbal
terhadap

Kesehatan

Masyarakat.

(online).

(http://www.indonesian-publichealth.com/2013/11/dampakpencemaran-timbal-terhadap-kesehatan.html

diakses

Minggu 16 November 2014)

3.

Reaksi-reaksi yang Relevan (Karakter Kimia)

1. Timbal (II) Klorida


Timbal (II) Klorida, PbCl2 berupa padatan putih yang sukar laruta di dalam air
biasa namun larut dalam air panas. Garam ini diperoleh dari reaksi antara
timbal (II) oksida dengan asam klorida atau dibuat dari beberapa metode yaitu
dengan proses pengendapan senyawa Pb2+ dengan garam klorida
PbO2 (s) + 4 HCl PbCl2 (s) + Cl2 (g) + 2 H2O (l)
Atau dibuat dari logam Pb yang direaksikan dengan gas Cl 2
Pb2+ + 2Cl- PbCl2
2. Pb3O4
Pb3O4 diperoleh dari oksidasi PbO dalam udara terbuka dengan pemanasan
pada temperature sekitar 400-500C, menurut persamaan reaksi:
6PbO (s) + O2 (g) 2 Pb3O4 (s)
kuning

merah

3. Tetraethyllead (TEL)
Tetra etil lead disingkat sebagai TEL adalah senyawa organometalik yang
memiliki rumus (CH3CH2)4Pb. Senyawa ini disintesis dengan meeraksikan

5
antara alloy NaPb dengan etil klorida dengan reaksi sebagai berikut :
4 NaPb + 4 CH3CH2Cl (CH3CH2)4Pb + 4 NaCl + 3 Pb
TEL yang dihasilkan berupa cairan kental tidak berwarna, tidak larut dalam air
akan tetapi larut dalam benzena, petroleum eter, toluena, dan gasoline. TEL
dipakai sebagai zat antiknocking pada bahan bakar. TEL jika terbakar tidak
hanya menghasilkan CO2 akan tetapi juga Pb.
(CH3CH2)4Pb + 13 O2 8 CO2 + 10 H2O + Pb
Pb akan terakumulasi dalam mesin sehingga dapat merusak mesin. Oleh sebab
itu ditambahkan 1,2-dibromoetana dan 1,2-dikloroetana bersamaan dengan
TEL sehingga akan dapat dihasilkan PbBr2 dan PbCl2 yang dapat dibuang dari
mesin.
4. Timbal (II) Nitrat
Memiliki rumus kimia Pb(NO3)2. Timbal(II) nitrat umumnya merupakan
kristal yang tidak berwarna atau berbentuk bubuk putih, dibandingkan dengan
garam timbal yang lain maka garam timbal ini sangat mudah larut dalam air.
Timbal(II) nitrat sangat bersifat racun terhadap manusia dan merupakan
oksidator. Cara membuat timbal nitrat adalah dengan melarutkan logam Pb
pada larutan asam nitrat atau dengan melarutkan PbO dalam asam nitrat.
3 Pb (s) + 8 H+ (aq) + 2 NO3 (aq) 3 Pb2+ (aq) + 2 NO (g) + 4 H2O (l)
Atau
3Pb + 8HNO3 (pekat) 3Pb(NO3)2(aq) + 2NO(g) + 4H2O(l)
PbO (s) + 2 H+ (aq) Pb2+ (aq) + H2O (l)
Daftar Pustaka

Anonim.

2012.

Unsur

Timbal.

(online).

(http://artikelkimia.com/unsur-timbal-pb.html diakses pada 15


November 2014)
Sugiyarto, Kristian H. 2001. Common Textbook Kimia Anorganik
II Dasar-Dasar Kimia Anorganik Logam. Yogyakarta:
Jurusan Kimia FMIPA Universitas Negeri Yogyakarta
Svehla, G. 1990. Buku Teks Analisis Anorganik Kualitatif Makro
dan Semimikro. Edisi Kelima. Terjemahan L. Setiono dkk.
Textbook of Macro and Semimicro Qualitative Inorganic
Analysis. Fifth Edition. Jakarta : PT. Kalman Media Pusaka.

4.
a.

Perubahan-Perubahan Spesies (Karakter Kimia)


Pb Pb
4+

2+

Yaitu dari tetra ethyl lead yang ditambahkan pada bahan bakar yaitu bensin,
lalu dilepaskan diudara dalam bentuk PbO, yang dihirup oleh manusia atau
dapat juga mengendap dalam air.
b. PbO2 + OH- Pb(OH)62-.
PbO2 ada di alam ditemukan sebagai mineral plattnerite. Penggunaan
PbO2 yang utama adalah sebagai katoda dalam accu.
PbO2 bersifat amfoter dimana dapat larut dalam asam maupun basa. Jika
dilarutkan dalam basa kuat akan terbentuk ion plumbat dengan rumus
Pb(OH)62-. Dan jika dilarutkan dalam kondisi asam maka biasanya tereduksi
menjadi ion Pb2+.
Daftar Pustaka

Purnomo, Tarzan dan Muchyiddin. 2007. Jurnal Analisis


Kandungan Timbal (Pb) pada Ikan Bandeng (Chanos chanos
Forsk.)

di

Tambak

Kecamatan

Gresik.

(online).

(http://puslit2.petra.ac.id/ejournal/index.php/nep/article/viewF
ile/16838/16814, diakses 14 November 2014)
Svehla, G. 1990. Buku Teks Analisis Anorganik Kualitatif Makro
dan Semimikro. Edisi Kelima. Terjemahan L. Setiono dkk.
Textbook of Macro and Semimicro Qualitative Inorganic
Analysis. Fifth Edition. Jakarta : PT. Kalman Media Pusaka.

5.

Perpindahan (Jejak di Sistem & Lingkungan air, udara, atau


tanah)

Logam berat yang masuk ke sistem perairan, baik di sungai maupun lautan
akan dipindahkan dari badan airnya melalui tiga proses yaitu pengendapan,
adsorbsi, dan absorbsi oleh organisme-organisme perairan. Pada saat buangan
limbah industri masuk ke dalam suatu perairan maka akan terjadi proses
pengendapan dalam sedimen. Hal ini menyebabkan konsentrasi bahan pencemar
dalam sedimen meningkat. Logam berat yang masuk ke dalam lingkungan perairan
akan mengalami pengendapan, pengenceran dan dispersi, kemudian diserap oleh
organisme yang hidup di perairan tersebut.
Timbal (Pb) merupakan logam yang sangat populer dan banyak dikenal oleh
masyarakat awam. Hal ini disebabkan oleh banyaknya Pb yang digunakan di
industri nonpangan dan paling banyak menimbulkan keracunan pada makhluk
hidup. Dalam pertambangan, logam ini berbentuk sulfida logam (PbS), yang sering
disebut galena. Senyawa ini banyak ditemukan dalam pertambangan di seluruh
dunia. pelepasan Pb ke atmosfir meningkat tajam akibat pembakaran minyak dan
gas bumi yang turut menyumbang pembuangan Pb ke atmosfir. Selanjutnya Pb
tersebut jatuh ke laut mengikuti air hujan. Dengan kejadian tersebut maka banyak
negara di dunia mengurangi tetraeil Pb pada minyak bumi dan gas alam untuk
mengurangi pencemaran Pb di atmosfir.
Sumber utama kontaminan logam berat sesungguhnya berasal dari udara dan
air yang mencemari tanah. Selanjutnya semua tanaman yang tumbuh di atas tanah
yang telah tercemar akan mengakumulasikan logam-logam tersebut pada semua
bagian (akar, batang, daun, buah). Hewan ternak akan memakan logam-logam
berat yang ada pada tanaman dan tertimbun pada dagingnya. Lalu manusia yang
termasuk kelompok omnivora, akan tercemar logam tersebut dari empat unsur
utama, yaitu udara yang di hirup saat bernafas, air minum, tanaman (sayuran dan
buah-buahan), serta ternak (berupa daging, telur, dan susu).
Kontaminasi timbal yang berasal dari limbah industri dimulai dari limbah
yang tidak dikelola dengan baik maka masih mengandung Pb,kemudian limbah
yang masih mengandung Pb tersebut dibuang di sungai sungai yang terdapat
disekitar perumahan penduduk, Meskipun kadar logam dalam aliran sungai itu
relatif kecil akan tetapi sangat mudah diserap dan terakumulasi secara biologis oleh
tanaman atau hewan air dan akan terlibat dalam sistem jaring makanan. Hal
tersebut menyebabkan terjadinya proses bioakumulasi, yaitu logam berat akan

8
terkumpul dan meningkat kadarnya dalam tubuh organisme air yang hidup,
kemudian melalui biotransformasi akan terjadi pemindahan dan peningkatan kadar
logam berat tersebut secara tidak langsung melalui rantai makanan. Proses rantai
makanan ini akan sampai pada jaringan tubuh manusia sebagai satu komponen
dalam sistem rantai makanan.
Kontaminan yang berasal dari bahan bakar kendaraan bermotor, kendaraan
bermotor di indonesia umumnya menggunakan bensin premium ditambahkan
timah hitam yang dikenal pula sebagai timbal phlumbum (Pb) dalam bentuk
timbal tetraetil. Penambahan timbal ini meningkatkan bilangan oktan agar titik
bakarnya menurun sehingga bensin lebih mudah terbakar. Namun dalam proses
pembakaran 985 timbal yang terkandung didalamnya akan dilepas dan
menimbulkan pencemaran udara dalam bentuk senyawa BrCl 2PbO, timbal yang
ada diudara ini kemudian akan mencemari air dalam minuman ataupun dalam
kamar mandi yang dekat dengan kawasan yang lalulintasnya ramai, air yang sudah
terkontaminasi tersebut selanjutnya akan dikonsumsi oleh manusia. Pb yang ada
diudara ini juga bisa langsung mengenai manusia saat bernafas.

Daftar Pustaka

Agustin, Titin. 2010. Kontaminasi logam berat pada makanan

9
dan dampaknya pada kesehatan. (online). (http://journal.
unnes.ac.id/nju/index.php/teknobuga/article/viewFile/1180/11
18), diakses 14 November 2014)
Kurniawan, Wahyu. 2008. Thesis, Hubungan Kadar Pb Dalam
Darah Dengan Profil Darah Pada Mekanik Kendaraan
Bermotor

di

Kota

Pontianak.

(online).

(http://eprints.undip.ac.id/17625/1/Wahyu_Kurniawan.pdf,
diakses 14 November 2014)

6.

Efek Toksikologi

1. Dampak bagi Manusia


Keracunan yang ditimbulkan oleh persenyawaan logam Pb dapat terjadi
karena masuknya persenyawaan logam tersebut ke dalam tubuh. Proses masuknya
logam tersebut ke dalam tubuh dapat melalui beberapa jalur, yaitu melalui
makanan dan minuman, udara dan perembesan atau penetrasi pada selaput atau
lapisan kulit. Namun hal itu bukan berarti semua senyawa Pb dapat diserap oleh
tubuh, melainkan hanya sekitar 5 10% dari jumlah Pb yang masuk melalui
makanan dan atau sebesar 30% dari jumlah Pb yang terhirup yang akan diserap
oleh tubuh. Dari jumlah yang terserap itu, hanya 15% yang akan mengendap pada
jaringan tubuh, dan sisanya akan turut terbuang bersama bahan sisa metabolisme
seperti urin dan feces.
Meskipun jumlah Pb yang diserap oleh tubuh hanya sedikit, logam ini
ternyata menjadi sangt berbahaya. Hal itu disebabkan senyawa senyawa Pb
dapat memberikan efek racun terhadap banyak fungsi organ yang terdapat
didalam tubuh. Timbal bersifat kumulatif. Dengan waktu paruh timbal dalam sel
darah merah adalah 35 hari, dalam jaringan ginjal dan hati selama 40 hari,
sedangkan dalam tulang selama 30 hari. Paparan bahan tercemar timbal (Pb) dapat
menyebabkan gangguan sebagai berikut
a. Gangguan terhadap Sistem Hemopoitik.
Keracunan timbal (Pb) dapat dapat menyebabkan terjadinya anemia akibat
penurunan sintesis globin walaupun tak tampak adanya penurunan kadar zat
besi dalam serum. Anemia ringan yang terjadi disertai dengan sedikit
peningkatan kadar ALA (Amino Levulinic Acid) urine. Pada anakanak juga

10
terjadi peningkatan ALA dalam darah. Efek dominan dari keracunan timbal (Pb)
pada sistem hemopoitik adalah peningkatan ekskresi ALA dan CP
(Coproporphyrine). Dapat dikatakan bahwa gejala anemia merupakan gejala
dini dari keracunan timbal (Pb) pada manusia. Dibandingkan dengan orang
dewasa, anak -anak lebih sensitif terhadap terjadinya anemia akibat paparan
timbal (Pb). Terdapat korelasi negatif yang signifikan antara Hb dan kadar
timbal (Pb) di dalam darah.
b. Risiko Keracunan Timbal (Pb) Pada Sistem Syaraf
Sistem syaraf merupakan sistem yang paling sensitif terhadap daya racun.
Risiko dari keracunan timbal dapat menimbulkan kerusakan pada otak. Penyakit
- penyakit yang berhubungan dengan otak sebagai akibat dari keracunan timbale
adalah epilepsi, halusinasi, kerusakan pada otak besar dan delirium yaitu sejenis
penyakit gula.
Sistem syaraf yang kena pengaruh timbal dengan konsentrasi timbal dalam
darah di atas 80 g/100 ml, dapat terjadi enselopati. Hal ini dapat dilihat melalui
gejala seperti gangguan mental yang parah, kebutaan dan epilepsi dengan atrofi
kortikal atau dapat secara tidak langsung berkurangnya persepsi sensorik
sehingga menyebabkan kurangnya kemampuan belajar, penurunan intelegensia
(IQ), atau mengalami gangguan perilaku seperti sifat agresif, destruktit, serta
ketidakstabilan emosi dan iritabilitas yang sangat tinggi.
Kerusakan syaraf motorik menyebabkan kelumpuhan syaraf lanjutan
dikenal dengan lead palsy. Keracunan kandungan timbal dapat merusak syaraf
mata pada anak - anak dan berakhir pada kebutaan. Centers for Disease Controll
(CDC) menyatakan bahwa kandungan timbal dalam darah 70 g/100 ml
merupakan batas darurat medis akut pada pasien anak.
c.

Risiko Keracunan Timbal (Pb) Pada Sistem Ginjal


Senyawa timbal yang terlarut dalam darah dibawa ke seluruh sistem tubuh.

Sirkulasi darah masuk ke glomerolus merupakan bagian dari ginjal. Glomerolus


merupakan tempat proses pemisahan akhir dari semua bahan yang dibawa
darah. Timbal yang terlarut dalam darah akan berpindah ke sistem urinaria
(ginjal) sehingga dapat mengakibatkan terjadinya kerusakan pada ginjal.
Kerusakan terjadi karena terbentuknya intranuclear inclusion bodies disertai
dengan gejala aminociduria, yaitu terjadinya kelebihan asam amino dalam urine.

11
Nephropathy

(kerusakan

nefron

pada

ginjal)

dapat

dideteksi

dari

ketidakseimbangnya fungsi renal dan sering diikuti hipertensi.


d. Risiko Keracunan Timbal (Pb) Pada Sistem Gastrointestinal
Gejala awal muncul pada konsentrasi timbal dalam darah sekitar 80 g/100
ml, gejala - gejala tersebut meliputi kurangnya nafsu makan, gangguan
pencernaan, gangguan epigastrik setelah makan, sembelit dan diare. Jika kadar
timbal dalam darah melebihi 100 g/100 ml, maka kecenderungan untuk
munculnya gejala lebih parah lagi yaitu bagian perut kolik terus menerus dan
sembelit yang lebih parah. Jika gejala ini tidak segera ditangani, maka akan
muncul kolik yang lebih specifik. Konsentrasi timbal dalam darah di atas 150
g/100 ml penderita menderita nyeri dan melakukan reaksi kaki ditarik - tarik
ke arah perut secara terus menerus dan menggeretakkan gigi, diikuti keluarnya
keringat pada kening. Jika tidak dilakukan penanganan lebih lanjut maka kolik
dapat terjadi selama beberapa hari, bahkan hingga satu minggu.
e.

Risiko Keracunan Timbal (Pb) Pada Sistem Kardiovascular


Tahap akut keracunan timbal khususnya pada pasien yang menderita kolik,

tekanan darah akan naik. Jika terjadi hal demikian, maka pasien tersebut akan
mengalami hipotonia. Kemungkinan kerusakan miokardial harus diperhatikan.
Suatu

penelitian

menyebutkan

bahwa

jenis

kelainan

perubahan

elektrokardiografis pada 70% dari total pasien yang ditangani. Temuan utama
dari penelitian adalah takhikardia, atrial disritmia, gelombang T dan atau sudut
QRS - T yang melebar secara tidak normal.
f.

Risiko Keracunan Timbal (Pb) Pada Sistem Reproduksi Dan Endokrin


Efek reproduktif meliputi berkurangnya tingkat kesuburan bagi wanita

maupun pria yang terkontaminasi timbal, logam tersebut juga dapat melewati
placenta sehingga dapat menyebabkan kelainan pada janin berupa cacat pada
bayi dan menimbulkan berat badan lahir rendah serta prematur. Timbal juga
dapat menyebabkan kelainan pada fungsi tiroid dengan mencegah masuknya
iodine.
g. Risiko Karsinogenik
International Agency for Reseach on Center (IARC) menyatakan bahwa
timbal anorganik dan senyawanya termasuk dalam grup 2B, kemungkinan
menyebabkan kanker pada manusia. Tahap awal proses terjadinya kanker

12
adanya kerusakan DNA yang menyebabkan peningkatan lesi genetik herediter
yang menetap atau disebut mutasi. Timbal diperkirakan mempunyai sifat toksik
pada gen sehingga dapat mempengaruhi terjadinya kerusakan DNA/mutasi gen
dalam kultur sel mamalia. Patogenesis kanker otak akibat terpapar timbal adalah
sebagai berikut: timbal masuk ke dalam darah melalui makanan dan akan
tersimpan dalam organ tubuh yang mengakibatkan gangguan sintesis DNA,
proliferensi sel yang membentuk nodul selanjutnya berkembang menjadi tumor
ganas.
h. Diagnosis Keracunan Timbal (Pb)
Pemeriksaan laboratorium untuk menentukan diagnosis pasti dari toksisitas
timbal: tes darah terhadap kadar timbal dan protoporfirin serta tes urin terhadap
kadar timbal dan koproporfirin dapat menunjukkan indikasi adanya keracunan.
Bukti lain yang banyak dikenal dari kontaminasi timbal adalah garis - garis
berwarna kebiruan pada bagian pangkal gigi. Garis - garis tersebut dikenal
dengan nama garis Burtoni, garis tersebut tersusun dari sulfida timbal. Sejumlah
eksperimen pada hewan menunjukkan pengaruh karsinogenik

2.

Dampak bagi Hewan


Penelitian keracunan logam Pb pada hewan telah dilakukan pada hewan

ternak yaitu sapi. Umumnya keracunan pada anak sapi memperlihatkan gejala:
dungu, tidak nafsu makan, dyspnoe, kolik dan diare yang kadang-kadang diikuti
konstipasi. Menurut Christian dan Tryphonas (1971) gejala klinis yang muncul
pada anak sapi yang keracunan Pb adalah depresi susunan syaraf pusat, kebutaan,
menguak dan berlari seperti bingung, menekankan kepala dan anorexia.
Gejala klinis keracunan Pb pada sapi dewasa antara lain akibat gangguan
pada syaraf: dungu, buta, jalan berputar, terdapat gerakan kepala dan leher yang
terus menerus, gerakan telinga dan pengejapan katup mata. Gejala yang timbul
akibat gangguan pada gastrointestinal adalah: statis rumen dan anorexia.

3.

Dampak bagi Tumbuhan


Menurut Fardiaz (1992) kandungan timbal di dalam tanah rata-rata adalah 16

ppm. Timbal (Pb) sebagian besar diakumulasi oleh organ tanaman yaitu daun,
batang, akar dan akar umbi-umbian (bawang merah). Perpindahan timbal dari

13
tanah ke tanaman tergantung komposisi dan pH tanah. Konsentrasi timbal yang
tinggi (100-1000 mg/kg) akan mengakibatkan pengaruh toksik pada proses
fotosintesis dan pertumbuhan. Timbal hanya mempengaruhi tanaman bila
konsentrasinya tinggi (Anonymous, 1998 dalam Charlene, 2004). Smith (1981)
juga menerangkan gejala akibat pencemaran logam berat adalah: klorosis, nekrosis,
pada ujung dan sisi daun serta busuk daun yang lebih awal.
Daftar Pustaka

Anonim.

2011.

Chapter

II

Tinjauan

Pustaka.

(online).

(http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/32730/4/Cha
pter%20II.pdf, Sabtu 15 November 2014)
Agustin, Titin. 2010. Kontaminasi logam berat pada makanan
dan

dampaknya

pada

kesehatan.

(online).

(http://journal.unnes.ac.id/nju/index.php/teknobuga/article/vie
wFile/1180/1118), diakses Jumat 14 November 2014)
Darmono.

2001.

Lingkungan

Hidup

dan

Pencemaran:

Hubungannya dengan Toksikologi Senyawa Logam. Jakarta:


Penerbit Universitas Indonesia
Fardiaz, Srikandi. 1992. Polusi Air dan Udara. Yogyakarta:
Penerbit Kanisius (Anggota IKAPI)
Zein, Halimatus S, dkk. 2013. Makalah Toksikologi Klinik
Keracunan

Logam

Timbal(Pb)

Dan

Penanganannya.

Semarang : Fakultas Farmasi Universitas Wahid Hasyim

7.
1.

Identifikasi (Kualitatif)
Ke dalam tabung reaksi dimasukkan 5 ml sampel, ditambahkan 1ml Na2S 10%
b/v, dikocok dan diamati. Bila terjadi kekeruhan larutan ini mengandung
logam.
Pb2+ + Na2S PbS(s) + Na+

2.

Ke dalam tabung reaksi dimasukkan 5 ml sampel, atur pH = 8,5 dengan


penambahan ammonium hidroksida 1N, dimasukkan kristal kalium sianida,
ditambahkan 5 ml larutan ditizon 0,005% b/v, dikocok kuat, dibiarkan kedua
lapisan yang terbentuk memisah, bila lapisan ditizon berwarna merah tua
berarti sampel mengandung timbal.

3.

Apabila senyawa Pb2+ direaksikan dengan HCl encer, maka akan timbul

14
endapan putih yang larut bila dipanaskan endapan tersebut tidak bereaksi
dengan NH3
Pb2+ + HCl

PbCl2(s) + H2

PbCl2(s) + NH3 tidak bereaksi


Daftar Pustaka

Lubis, Hayati, dan Aman, Chalikuddin. 2008. Pemeriksaan


Kandungan Logam Merkuri, Timbal, dan Kadmium dalam
Daging Rajungan Segar yang Berasal dari TPI Gabion
Belawan Secara Spektrofotometri Serapan Atom. Majalah
Kedokteran

Nusantara

Volume

41,

No

1.

(Online).

(http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/18518/1/mkn
-mar2008-41%20%2810%29.PDF, diakses 15 November 2014)

8.
1.

Identifikasi (Kuantitatif, termasuk prinsip dasar reaksi dan kerja


instrumen/alat)
Identifikasi
Identifikasi menentukan kadar dari Pb menggunakan instrumen AAS. Untuk
logam timbal kepekaan alat minimal 0,010 mcg/mL

2.

Prinsip dan Cara Kerja AAS


Metode AAS berprinsip pada adsorbsi cahaya oleh atom. Atom a tom
menyerap cahaya tersebut pada panjang gelombang tertentu, tergantung sifat
usurnya. Cara kerjanya berdasarkan penguapan larutan sampel, kemudian
logam yang terkandung di dalamnya diubah menjadi atom bebas. Atom
tersebut mengadsorbsi radias dari sumber cahaya yang dipancakan dari lampu
katoda yang mengandung unsur yang akan ditentukan. Banyaknya penyerapan
radiasi kemudian diukur pada panjang gelombang tertentu menurut jenis
logamnya.

3.

Analisis logam timbal

4.

Untuk analisis secara kuantitatif, 5 seri konsentrasi standar yang telah


dibuat diaspirasikan pada alat AAS sehingga diperoleh persamaan kurva baku
yaitu y = bx + a. Setelah itu cuplikan sebanyak 10 mL diaspirasikan ke dalam
alat AAS dan diukur absorbansinya pada panjang gelombang 283,3 nm.
Konsentrasi timbal dalam sampel ditentukan berdasarkan persamaan garis
regresi linier dari kurva kalibrasi

15
Daftar Pustaka

Rahayu, Wiranti Sri dan Utami, Pri Iswati . 2010. Dentifikasi


Cemaran Logam Timbal Dalam Air Minum Isi Ulang Yang
Beredar di Purwokerto Dengan Metode Spektrofotometri
Serapan

Atom.

(online).

(http://digilib.ump.ac.id/files/disk1/12/jhptump-a-wirantisri597-1-8.ident-m.pdf diakses Sabtu 15 November 2014)

9.

Perundang-undangan yang Terkait dan Tuntutan yang


diberlakukan

1. PP RI No. 82/2001 menetapkan ambang batas baku mutu kadar Pb yaitu 0,03
ppm.
2. Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor 202 Tahun 2004 (kadar
maksimum 1,0 ppm Pb), tetapi masih dapat dianggap kategori air bersih
(maksimum 0,03 dan 1,0 ppm Pb; PP Republik Indonesia Nomor 82 Tahun
2001)
3. Dalam Surat Keputusan Ditjend POM No.03725/B/SK/VII/1989 disebutkan
bahwa batas maksimum cemaran logam timbal yang masih diperbolehkan
dalam makanan hasil laut logam sebesar 2,0 mg/kg.
4. SK dirjen POM 1989, kadar maksimum Pb dalam ikan dan olahannya sebesar 2
mg/kg
5. Badan Standardisasi Nasional, SNI 01-3553-2006 mengenai Air minum dalam
Kemasan

16

6. Peraturan

Menteri

Kesehatan

Republik

Indonesia

No

492/MENKES/PER/IV/2010 tentang Persyaratan Kualitas Air Minum

7. Peraturan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor 03 Tahun 2010 tentang


Baku Mutu Air Limbah Bagi Kawasan Industri

Daftar Pustaka

Anonim. 2013. Kandungan Unsur-Unsur Polutan Merkuri (Hg),


Timbal (Pb) Dan Kadmium (Cd) Pada Seimen Dan Air Sngai
Ciberang, Kabupaten Lebak, Provinsi Banten Sebagai
Dampak

Kegiatan

Penambangan

Emas.

(online).

(http://pag.bgl.esdm.go.id/?q=content/kandungan-unsurunsur-polutan-merkuri-11g-timbal-pb-dan-kadmium-cd-padaseimen-dan-air-sngai), diakses 15 November 2014


Badan standarisasi nasional. 2009. Batas maksimum cemaran
logam

berat

dalam

pangan

(ICS67.220.22)

(online).

17
(http/batas_maksimum_cemaran_logam_berat_dalam_
pangan__sni_7387-2009.pdf, diakses 15 November 2014)

10.

Ide-Ide Penanganan (preventif dan kuratif)

Ide Penanganan Preventif


Pendekatan-pendekatan yang dilakukan untuk upaya pencegahan pencemaran
Pb, diantaranya:
1. PendekatanTeknis
Untuk menghilangkan polutan Pb dapat dilakukan secara teknik, yaitu
dengan mengendalikan bahan bakar yang akan digunakan oleh kendaraan
bermotor. Hal ini dapat dilakukan dengan menggantikan TEL dengan anti
knocking yang lain yang tidak mengandung Pb. Mencari bahan alternatif juga
merupakan solusi yang banyak ditawarkan. Bahan bakar tersebut dapat berupa
bahan bakar gas (BBG) atau biogas.
2. Pendekatan Planatologi, Administrasi Dan Hukum
Pemerintah mempunyai posisi yang paling srategis dalam upaya
pengendalian pencemaran Pb ini. Pemerintah dapat menyusun tata kota dan
rambu lalu lintas yang memungkinkan kendaraan dapat berjalan lancar, dapat
mengontrol kadar Pb dan mengenakan sanksi atas pengendara yang
melanggar. Hukum sebagai salah satu sarana dalam upaya untuk mencegah
dan menanggulangi akibat dari emisi gas kendaraan bermotor karena di
undang-undang telah disebutkan syarat syarat kendaraan bermotor. Dengan
kata lain seluruh masyarakat Indonesia harus mematuhi keputusan atau
peraturan menteri, undang-undang, baku mutu dan sebagainya mengenai hal
yang berhubungan dengan kadar timbal dalam air.
3. Pendekatan Edukasi
Upaya mengurangi Pb bukan hanya tugas pemerintah saja, melainkan
tanggung jawab seluruh rakyat, untuk itu dapat dilakukan dngan cara :
a) Memberikan informasi secara intensif kepada masyarakat tentang dampak
Pb pada kesehatan dan lingkungan, serta bagaimana cara mengatasinya.
Dengan mengetahui dampak

tersebut diharapkan timbul kesadaran

masyarakat untuk melakukan upaya mengatasinya.


b) Melakukan pendidikan pelatihan pada orang-orang yang potensial menjadi

18
penyebab meningkatnya pencemaran Pb, seperti pengemudi kendaraan
bermotor, pemilik kendaraan bermotor, mekanik/teknisi yang melakukan
perawatan kendaraan.

Ide Penanganan Kuratif


Cara atau metode yang dilakukan untuk upaya penanggulangan dan
perbaikan akibat pencemaran Pb, diantaranya:
1. Fitoremediasi
Salah satu teknik dalam memperbaiki kualitas lingkungan yang tercemar
adalah dengan teknik fitor emediasi. Fitoremidiasi adalah suatu konsep yang
memanfaatkan potensi yang dimiliki oleh tumbuhan untuk menghilangkan polutan
dari tanah atau perairan yang telah terkontaminasi (Handayanto, 2007). Teknik
fitoremediasi ( phytoremediation) yang merupakan suatu sistem dimana tanaman
tertentu, secara sendiri atau bekerjasama dengan mikroorganisme dalam media
(tanah, koral dan air) yang dapat mengubah zat kontaminan (pencemar/polutan)
menjadi kurang atau tidak berbahaya bahkan menjadi bahan yang berguna secara
ekonomi.
Ada

beberapa

kriteria

agar

tanaman

dapat

disebut

sebagai

hiperakumulator, misalnya tanaman harus mampu mentranslokasikan unsur-unsur


pencemar seperti timbal dengan konsentrasi sangat tinggi ke pucuk dan tanpa
membuat tanaman tumbuh dengan tidak normal dalam arti kata tidak kerdil dan
tidak mengalami fitotoksisitas (Aiyen , 2005). Beberapa jenis tumbuhan mampu
bekerja sebagai agen fitoremediasi, seperti azolla, kiambang ( Salvinia molesta),
eceng gondok ( Eichhornia crassipes), kangkung air ( Ipomea aquatic) serta
beberapa jenis tumbuhan mangrove. Jenis-jenis ini merupakan tumbuhan air yang
banyak dijumpai di sungai, pantai, rawa atau danau.
a) Tanaman Eceng Gondok
Akarnya merupakan akar serabut yang bercabang-cabang halus, permukaan
akarnya digunakan oleh mikroorganisme sebagai tempat pertumbuhan dan
eceng gondok dapat digunakan untuk menghilangkan polutan karena fungsinya
sebagai sistem filtrasi biologis, menghilangkan nutrien mineral, untuk
menghilangkan logam berat seperti timbal, cuprum, aurum, cobalt, strontium,
merkuri, timah, kadmium, dan nikel (Hidayati, 2004).

19
Mekanisme yang mungkin terjadi ketika tanaman eceng gondok
mengakumulasikan Pb ke dalam jaringannya adalah mekanisme rizofiltrasi dan
fitoekstraksi. Mekanisme ini terjadi ketika akar tumbuhan mengabsorpsi larutan
polutan sekitar akar ke dalam akar, yang selanjutnya ditranslokasi ke dalam
organ tumbuhan melalui pembuluh xylem. Penurunan kadar logam Pb secara
signifikan pada hari ke- 7. Kadar logam Pb menurun 5,167 ppm (96,4 persen)
pada perlakuan satu rumpun eceng gondok, menurun 5,204 ppm (98,7 persen)
pada perlakuan tiga rumpun, dan menurun 6,019 ppm (99,7 persen) pada
perlakuan lima rumpun dari konsentrasi hari ke-0. Sedangkan yang dilaporkan
oleh Liao & Chang (2004), bahwa eceng gondok ( Eichhornia crassipes)
memiliki kemampuan dalam menyerap Pb.
b) Tanaman Azolla (Azollaceae)
Merupakan tanaman paku air. Azolla menunjukkan kapasitas untuk
menghilangkan kotoran seperti logam berat, anorganik nutrisi, bahan peledak
dari air limbah. Sifat pertumbuhan yang cepat, kapasitas penyerapan yang tinggi
pada logam berat menjadikan azolla berpotensi besar untuk digunakan dalam
teknologi fitoremediasi (Dhir, 2009). Pamanfaatan Azolla selain sebagai sumber
pupuk juga di kembangkan sebagi agen fitoremediasi yang teleh dikembang di
berbagai negara, azolla mampu menyerap dan menstabilkan unsur-unsur timbal
(Pb). Azolla memilki adaptasi yang tinggi pada konsentrasi Pb, yang cukup
tinggi. Hal ini di laporkan oleh Juhaeti dan Sayrif, 2003, bahwa pertumbuhan
azolla pada kosentrasi Pb 50 ppm lebih baik Universitas Sumatera Utara
dibandingkan pada Pb 0 ppm, dimana azolla menyerap Pb pada Daun 5.5 ppm
dan pada akar 18.2 ppm. Azolla yang di biakan pada air tailing justru mampu
menyerap Pb pada daun hingga 94 ppm (Juhaeti dian Syarif, 2003) dan pada air
PAM hanya 22 ppm.
c) Tanaman Semanggi Air
Tumbuhan ini berpotensi sebagai tumbuhan bioremediasi, karena mampu
menyerap logam berat Cd dan Pb. Kemampuan ini perlu diwaspadai dalam
penggunaan daun semanggi sebagai bahan makanan, terutama bila daunnya
diambil dari lahan tercemar logam berat.
2.

Proses Elektrokoagulasi
Proses elektrokoagulasi merupakan gabungan dari proses elektrokimia

20
dan proses flokulasi-koagulasi. Proses ini dapat menjadi pilihan metode
pengolahan limbah radioaktif dan limbah B3 cair fase air. Kelebihan proses
elektrokoagulasi untuk mengolah limbah cair adalah pada proses ini tidak ada
penambahan kimia. Proses elektrokoagulasi meliputi beberapa tahap yaitu proses
equalisasi, proses elektrokimia (flokulasi-koagulasi) dan proses sedimentasi.
Proses equalisasi dimaksudkan untuk menyeragamkan limbah cair yang akan
diolah terutama kondisi pH, pada tahap ini tidak terjadi reaksi kimia. Pada proses
elektrokimia akan terjadi pelepasan Al 3+ dari plat elektrode (anoda) sehingga
membentuk fluke Al(OH)3 yang mampu mengikat kontaminan dan partikelpartikel dalam limbah.
Apabila dalam suatu elektrolit ditempatkan dua elektroda dan dialiri arus
listrik searah, maka akan terjadi peristiwa elektrokimia yaitu gejala dekomposisi
elektrolit, dimana ion positif (kation) bergerak ke katoda dan menerima elektron
yang direduksi dan ion negatif (anion) bergerak ke anoda dan menyerahkan
elektron yang dioksidasi. Jika larutan mengandung ion-ion logam lain maka ionion logam akan direduksi menjadi logamnya dan terdapat pada batang
Katoda : L+ + e Lo
Contoh : Pb2+ + 2e Pbo
Dari reaksi tersebut, pada anoda akan dihasilkan gas, buih dan fluke Al(OH)3.
Selanjutnya fluke yang terbentuk akan mengikat logam Pb yang ada di dalam
limbah, sehingga fluke akan memiliki kecenderungan mengendap. Selanjutnya
fluke yang telah mengikat kontaminan Pb tersebut diendapkan pada bak
sedimentasi (proses sedimentasi) dan sisa buih akan terpisahkan pada unit filtrasi.
3.

Adsorbsi Menggunakan Zeolit Dan Silika


Seperti halnya lempung, zeolit secara ekonomis dapat digunakan sebagai

bahan adsorpsi logam berbahaya dalam limbah B3 dan senyawa B3. Kemampuan
zeolit sebagai sorben karena di dalam zeolit juga mengandung senyawa alumunium
silikat yang memiliki struktur kerangka tiga dimensi yang terbentuk oleh
tetrahedral AlO45- dan SiO44- dengan rongga di dalamnya yang terisi ion-ion logam
dan biasanya adalah logam alkali tanah (Na, K, Mg, Ca dan Fe) dan molekul air
yang dapat bergerak bebas.
Zeolit secara umum mengandung senyawa silikat cukup besar, sehingga
diperkirakan dapat digunakan sebagai sorben yang efisien, baik secara alamiah

21
maupun

setelah

dilakukan

pengaktifan. Pada

pengaktifan

secara

kimia

menggunakan larutan garam NH4+ untuk memperoleh (zeolit NH4+) sebagai


penukar kation. Kation Pb2+ yang ada dalam limbah akan terserap oleh pori
permukaan zeolit dan bersubtitusi dengan kation NH4+ yang ada pada permukaan
sorben zeolit
Daftar Pustaka

Anonim.

2011.

Chapter

II

Tinjauan

Pustaka.

(online).

(http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/32730/4/Cha
pter%20II.pdf, Sabtu 15 November 2014)
Usman,

Indriyanti.

2013.

(http://indryqhy.blogspot.com/2013/02/
pb.html), diakses 15 November 2014)

Makalah

Pb,

makalah-timbal-