Anda di halaman 1dari 33

PENDAHULUAN

Tuberkulosis paru adalah suatu penyakit infeksi yang sudah sangat lama
dikenal manusia. Hipokrates telah memperkenalkan terminologi pthisis yang diangkat
dari bahasa Yunani yang menggambarkan tampilan TB paru ini. Tuberkulosis adalah
penyakit menular langsung yang disebabkan oleh kuman TB (Mycobacterium
Tuberculosis). Sebagian besar kuman TB menyerang paru, tetapi dapat juga mengenai
organ tubuh lainnya. Sumber penularan adalah pasien TB BTA positif. Pada waktu
batuk atau bersin, pasien menyebarkan kuman ke udara dalam bentuk percikan dahak
(droplet nuclei).1
Diperkirakan sekitar sepertiga penduduk dunia telah terinfeksi oleh
Mycobacterium tuberkulosis. Pada tahun 1995, diperkirakan ada 9 juta pasien TB
baru dan 3 juta kematian akibat TB diseluruh dunia. Diperkirakan 95% kasus TB dan
98% kematian akibat TB didunia, terjadi pada negara-negara berkembang. 2 Sekitar
75% pasien TB adalah kelompok usia yang paling produktif secara ekonomis (15-50
tahun). Diperkirakan seorang pasien TB dewasa, akan kehilangan rata-rata waktu
kerjanya 3 sampai 4 bulan. Diperkirakan jumlah pasien TB di Indonesia sekitar 5,8%
dari total jumlah pasien TB didunia. Diperkirakan, setiap tahun ada 429.730 kasus
baru dan kematian 62.246 orang. Insidensi kasus TB BTA positif sekitar 102 per
100.000 penduduk. Pada tahun 2009, prevalensi HIV pada kelompok TB di Indonesia
sekitar 2.8% . Kekebalan ganda kuman TB terhadap obat anti TB (multidrug
resistance = MDR) diantara kasus TB baru sebesar 2%, sementara MDR diantara
kasus penobatan ulang sebesar 20%. (WHO, 2009)2

DAFTAR ISI
1

PENDAHULUAN.............................................................................................................
1
DAFTAR ISI.....................................................................................................................
2
BAB I LAPORAN KASUS..............................................................................................
3
1.1 IDENTITAS
.............................................................................................................................
3
1.2 ANAMNESIS
.............................................................................................................................
3
1.3 PEMERIKSAAN FISIK
.............................................................................................................................
5
1.4 PEMERIKSAAN PENUNJANG
.............................................................................................................................
7
1.5 DIAGNOSIS KERJA
.............................................................................................................................
9
1.6 PEMERIKSAAN TAMBAHAN
.............................................................................................................................
9
1.7 PENATALAKSANAAN
.............................................................................................................................
9
1.8 FOLLOW UP
.............................................................................................................................
9
1.9 PROGNOSIS
.............................................................................................................................
16

BAB II PEMBAHASAN...................................................................................................
17
2.1. ANALISIS KASUS
.............................................................................................................................
17
BAB III TINJAUAN PUSTAKA......................................................................................
18
BAB IV KESIMPULAN...................................................................................................
31
DAFTAR PUSTAKA........................................................................................................
32

BAB I
LAPORAN KASUS

1.1 IDENTITAS
Nama

: Tn. U

Usia

: 70 tahun

Jenis Kelamin

: Laki-laki

Pendidikan Terakhir

:-

Pekerjaan

:-

Status

: Menikah

Alamat

: Jarong Wetan, Cilamaya, Karawang

Suku Bangsa / Agama

: Sunda / Islam

No. Rekam Medis

: 00574447

Tanggal Masuk

: 31 Januari 2015

1.2 ANAMNESIS
Anamnesis dilakukan di bangsal Cikampek pada tanggal 1 Februari 2015
secara alloanamnesis.
Keluhan Utama
Sesak napas sejak 1 minggu SMRS.
Keluhan Tambahan
Mual, nyeri ulu hati, BAB hitam kemerahan 2x, demam dan batuk berdahak
warna putih.

Riwayat Penyakit Sekarang


OS datang ke IGD RSUD Karawang dengan keluhan sesak napas sejak 1 minggu
yang lalu. Sesak napas dirasakan terus menerus dan semakin memberat, sesak tidak
menghilang saat istirahat. Pasien tidur menggunakan 1 bantal. Os juga mengeluh batuk
berdahak warna putih kehijauan disertai demam sejak 3 minggu SMRS. Riwayat batuk
darah disangkal. Nyeri dada sebelah kanan, tidak menjalar, hilang timbul, seperti
tertusuk. Demam tidak tinggi dan dirasa naik turun. Os juga mengeluh sejak 1 minggu
SMRS merasa mual dan nyeri pada ulu hati, namun tidak disertai muntah. Os mengalami
penurunan nafsu makan dan semakin hari semakin merasa tubuhnya lemas. 2 hari SMRS
os mengaku mengalami BAB berwarna hitam kemerahan sebanyak 2x, konsistensi
lembek. Tidak ada gangguan dalam BAK, warna kencing kuning, tidak keruh, tidak
berbau dan tidak sakit maupun anyang-anyangan. Os sudah berobat ke puskesmas dan
diberi obat untuk lambung dan batuk, namun keluhan tidak berkurang.
Riwayat Penyakit Dahulu
OS mempunyai riwayat darah tinggi dan 6 tahun yang lalu Os mendapatkan
pengobatan TB Paru tuntas selama 6 bulan. Riwayat kencing manis dan asma disangkal.
Riwayat Penyakit Keluarga
Anak bungsu pasien sedang dalam pengobatan TB sejak 2 bulan yang lalu.
Riwayat Kebiasaan
OS mengaku dulu mempunyai kebiasaan merokok sejak usia muda. Dulu
merokok 1-2 bungkus per hari, namun berhenti 6 tahun yang lalu setelah didiagnosis TB
paru oleh dokter. Os akhir-akhir ini sering minum jamu untuk pegal-pegal karena merasa
tidak enak badan.
Riwayat Sosial Ekonomi
Os dulu merupakan seorang petani, namun karena sudah tidak mampu untuk
bekerja, os tinggal bersama anak bungsunya, karena istrinya sudah meninggal. Biaya
hidup ditanggung oleh anak-anaknya dan biaya RS ditanggung asuransi BPJS PBI.
5

1.3 PEMERIKSAAN FISIK


Pemeriksaan fisik dilakukan di bangsal Cikampek pada tanggal 1 Februari 2015.
KU

: Tampak sakit sedang disertai sesak nafas

Kesadaran

: Compos mentis, GCS E4 M6 V5

Status Gizi

: Gizi kurang

Tanda Vital
- Nadi

: 124 x/menit ireguler, isi dan tegangan cukup dan kuat

- Pernapasan

: 30 x/menit, irama teratur

- Suhu

: 37,9o C

- TD

: 140/80 mmHg

Kepala : normosefali, rambut berwarna hitam, distribusi merata, tidak kering dan tidak
mudah dicabut
Mata : Konjungtiva anemis (-)/(-), sklera ikterik (-)/(-), sekret (-)/(-), pupil isokor dengan
diameter 3 mm/3 mm, RCL (+)/(+), RCTL (+)/(+), ptosis (-)/(-), nistagmus (-)/(-),
lagoftalmus (-)/(-)
Telinga, Hidung,Tenggorokan
Telinga :
- Inspeksi :
Preaurikuler : hiperemis (-)/(-)
Postaurikuler : hiperemis (-)/(-), abses (-)/(-), massa (-)/(-)
Liang telinga : lapang, serumen (+)/(+), otorhea (-)/(-)
Hidung :
- Inspeksi : deformitas (-), kavum nasi lapang, sekret (-)/(-), deviasi septum (-)/(-), edema
(-)/(-)
- Palpasi : nyeri tekan pada sinus maksilaris (-)/(-), etmoidalis(-)/(-), frontalis(-)/(-)
Tenggorokan dan rongga mulut :
- Inspeksi :
Lidah : pergerakan simetris, plak (-)
Palatum mole dan uvula simetris pada keadaan diam dan bergerak,
arkus faring simetris, penonjolan (-)
Tonsil : T1/T1, kripta (-)/(-), detritus(-)/(-), hiperemis (-)
Dinding anterior faring licin, hiperemis (-)
6

Pursed lips breathing (-), karies gigi (+), kandidisasis oral (-)
Leher
- Inspeksi : bentuk simetris, warna normal, penonjolan vena jugularis (-), tumor (-), retraksi
suprasternal (-), tidak tampak perbesaran KGB
Palpasi : pulsasi arteri carotis normal, perbesaran thyroid (-), posisi trakea di tengah, KGB

tidak teraba membesar


- Auskultasi : bruit (-)
Thoraks
-

Paru

Inspeksi : penggunaan otot bantuan nafas (+)/(+), retraksi sela iga (+/+),
bentuk dada normal, pergerakan kedua paru simetris statis dan dinamis, pola pernapasan
cepat
Palpasi : ekspansi dada simetris, vocal fremitus melemah pada lapang paru kanan,
pelebaran sela iga (+)/(+)
Perkusi :
Redup di lapang paru kanan, sonor pada lapang paru kiri
Batas paru hati : pada garis midklavikula kanan sela iga 5,
Batas paru lambung : pada garis aksilaris anterior kiri sela iga 8
Auskultasi : suara nafas vesikuler (+/+), wheezing (+/-), ronki (+/-)
-

Jantung

Inspeksi : pulsasi ictus cordis tidak terihat


Palpasi : pulsasi ictus cordis teraba pada linea midklavikula sinistra ICS
V, thrill (-)
Perkusi : batas jantung kanan pada ICS IV linea sternalis dekstra, batas jantung kiri pada
ICS V, linea midklavikula sinistra.
Auskultasi : BJ I-II irreguler, murmur (-), gallop (-)
Abdomen
Inspeksi : massa (-)
Auskultasi : BU (+) normal
Palpasi : supel, datar, nyeri tekan epigastrium (+), massa (-)
Hepar dan lien tidak teraba
Ginjal : ballotemen (-)/(-)
Perkusi : timpani, shifting dullnes (-), undulasi (-), nyeri ketok CVA (-)/(-)

Ekstremitas
Atas
Bawah

: Akral teraba hangat, sianosis (-), CRT < 2 detik, edema (-)/(-), deformitas (-).
: Akral teraba hangat, sianosis (-), CRT < 2 detik, edema (-)/(-), deformitas (-).

1.4 PEMERIKSAAN PENUNJANG


1. Pemeriksaan hematologi di IGD
Tabel 1.1. Hasil Pemeriksaan Hematologi Tn. U (70 tahun), tanggal 31 Januari 2015
Parameter
Hemoglobin
Leukosit

Hasil
12,7 g/dl
3
13,61 x 10 /L

Trombosit
Hematokrit
Ureum
Creatinin
Glukosa darah sewaktu

380 x 10 /L
38,3 %
46 mg/dl
0,92 mg/dl
105 mg/dl

Nilai Rujukan
13,0-18,0 g/dl
3
3,80-10,60 x10 /L
3

150-440 x10 /L
40,0-52,0 %
15,0-50,0 mg/dl
0,60-1,10 mg/dl
<140 mg/dl

2. Pemeriksaan EKG tanggal 31 Januari 2015 di UGD

DESKRIPSI:
Irama
Rate
Aksis
Gelombang P
Interval PR

:Irreguler
:125 kali/menit
:normal
:normal
:normal
8

Durasi QRS
Morfologi QRS
ST-T segment
Kesan

:0,04 detik
:R>S di V5, V6, dan Lead I. (normal)
:normal
:Aritmia sinus takikardia

3. Pemeriksaan Rontgen thorax, tanggal 31 Januari 2015 di UGD

Foto

: Thorax PA

Deskripsi

: CTR 60% dengan pinggang jantung membesar, tampak


bercak kesuraman pada kedua apex paru dengan sela iga
melebar, sudut costofrenicus menumpul.

Kesan

: - TB Paru aktif duplex dengan efusi pleura minimal


- Cardiomegali

1.5 DIAGNOSIS KERJA

TB Paru relaps

Melena ec gastritis

1.6 PEMERIKSAAN TAMBAHAN

Pemeriksaan sputum S-P-S

1.7 PENATALAKSANAAN
-

O2 4L/menit

Kaen 3B / 24 jam

Ceftriaxone 2 x 1 gr

Metilprednisolon 3 x 125mg IV

Ranitidin 2 x 1 amp

ATP dankos 2 x1

Captopril 3 x 12,5mg

Nebulizer : Ventolin
Pulmicort per 8 jam

1.8 FOLLOW UP
Hari Ke-I (Senin 2 Februari 2015)
Subyektif

Os masih mengeluh sesak belum berkurang. Nyeri ulu hati


dan nyeri dada sebelah kanan. Batuk berdahak warna putih
kehijauan. BAB hitam (-)

Objektif

Keadaan Umum :
Compos mentis, tampak sakit sedang, gizi kurang
Tanda Vital :
o

BP 110/70mmHg; HR 90 x/m; RR 28x/m; T 37,2 C


Kepala :
Normocephali, KA -/-, SI -/ Tenggorok:
T1/T1, faring hiperemis (-)
Leher :

10

Distensi vena -, KGB TTM


Thorax :
Pulmo simetris saat statis dan dinamis, Redup di lapang
paru kanan, sonor pada lapang paru kiri, suara dasar
vesikular +/+, Rhonchi +/-, Wheezing -/-.
Cor BJI BJII regular, Murmur -, Gallop
Abdomen :
Supel, BU +, NT epigastrium (+)
Extermitas :
Hangat ++/++, Pitting oedema --/--

Analisa
Planning

TB Paru relaps
-

O2 4L/menit

Kaen 3B / 24 jam

Ceftriaxone 2 x 1 gr

Metilprednisolon 3 x 125mg IV

Ranitidin 2 x 1 amp

ATP dankos 2 x1

OAT

Hari Ke-II (Selasa 3 Februari 2015)


Subyektif

Sesak sudah berkurang. Os masih mengeluh nyeri ulu hati.


Batuk berdahak warna putih kehijauan.

Objektif

Keadaan Umum :
Compos mentis, tampak sakit sedang, gizi kurang
Tanda Vital :
o

BP 130/90mmHg; HR 96 x/m; RR 28x/m; T 36,8 C

11

Kepala :
Normocephali, KA -/-, SI -/ Tenggorok:
T1/T1, faring hiperemis (-)
Leher :
Distensi vena -, KGB TTM
Thorax :
Pulmo simetris saat statis dan dinamis, Redup di lapang
paru kanan, sonor pada lapang paru kiri, suara dasar
vesikular +/+, Rhonchi +/-, Wheezing -/-.
Cor BJI BJII regular, Murmur -, Gallop
Abdomen :
Supel, BU +, NT epigastrium (+)
Extermitas :
Hangat ++/++, Pitting oedema --/--

Analisa
Planning

TB Paru relaps
-

O2 4L/menit

Kaen 3B / 24 jam

Ceftriaxone 2 x 1 gr

Metilprednisolon 3 x 125mg IV

Ranitidin 2 x 1 amp

ATP dankos 2 x1

OAT

Dilakukan pemeriksaan laboratorium ulang tanggal 3 Februari 2015 dengan hasil:

12

Parameter
Hemoglobin
Leukosit

Hasil
11,9 g/dl
3
11,4 x 10 /L

Trombosit
Hematokrit
Ureum
Creatinin
Glukosa darah sewaktu

303 x 10 /L
36,1 %
81,2 mg/dl
1,21 mg/dl
143 mg/dl

Nilai Rujukan
13,0-18,0 g/dl
3
3,80-10,60 x10 /L
3

150-440 x10 /L
40,0-52,0 %
15,0-50,0 mg/dl
0,60-1,10 mg/dl
<140 mg/dl

Hari Ke-III (Rabu 4 Februari 2015)


Subyektif

Os mengeluh nyeri ulu hati dan batuk berdahak warna putih.

Objektif

Keadaan Umum :
Compos mentis, tampak sakit sedang, gizi kurang
Tanda Vital :
o

BP 120/90mmHg; HR 90 x/m; RR 24x/m; T 37 C


Kepala :
Normocephali, KA -/-, SI -/ Tenggorok:
T1/T1, faring hiperemis (-)
Leher :
Distensi vena -, KGB TTM
Thorax :
Pulmo simetris saat statis dan dinamis, Redup di lapang
paru kanan, sonor pada lapang paru kiri, suara dasar
vesikular +/+, Rhonchi +/-, Wheezing -/-.
Cor BJI BJII regular, Murmur -, Gallop
Abdomen :
Supel, BU +, NT epigastrium (+)
13

Extermitas :
Hangat ++/++, Pitting oedema --/--

Analisa
Planning

TB Paru relaps
-

Kaen 3B / 24 jam

Ceftriaxone 2 x 1 gr

Metilprednisolon 3 x 125mg IV

Ranitidin 2 x 1 amp

ATP dankos 2 x1

Curcuma 2x1

OAT

Hasil pemeriksaan BTA : +

Hari Ke-IV (Kamis 5 Februari 2015)


Subyektif

Batuk berdahak putih kehijauan

Objektif

Keadaan Umum :
Compos mentis, tampak sakit ringan, gizi kurang
Tanda Vital :
o

BP 120/80mmHg; HR 96 x/m; RR 24x/m; T 36,8 C


Kepala :
Normocephali, KA -/-, SI -/ Tenggorok:
T1/T1, faring hiperemis (-)
Leher :
Distensi vena -, KGB TTM

14

Thorax :
Pulmo simetris saat statis dan dinamis, Redup di lapang
paru kanan, sonor pada lapang paru kiri, suara dasar
vesikular +/+, Rhonchi +/-, Wheezing -/-.
Cor BJI BJII regular, Murmur -, Gallop
Abdomen :
Supel, BU +, NT epigastrium (+)
Extermitas :
Hangat ++/++, Pitting oedema --/--

Analisa

TB Paru relaps
AKI

Planning

Kaen 3B / 24 jam

Ceftriaxone 2 x 1 gr

Metilprednisolon 3 x 125mg IV

Ranitidin 2 x 1 amp

ATP dankos 2 x1

Curcuma 2x1

OAT

Hari Ke-V (Jumat 6 Februari 2015)


Subyektif

Pasien diperbolehkan pulang

Objektif

Keadaan Umum :
Compos mentis, tampak sakit ringan, gizi kurang
Tanda Vital :
o

BP 120/70mmHg; HR 90 x/m; RR 24x/m; T 37 C


Kepala :
15

Normocephali, KA -/-, SI -/ Tenggorok:


T1/T1, faring hiperemis (-)
Leher :
Distensi vena -, KGB TTM
Thorax :
Pulmo simetris saat statis dan dinamis, Redup di lapang
paru kanan, sonor pada lapang paru kiri, suara dasar
vesikular +/+, Rhonchi +/-, Wheezing -/-.
Cor BJI BJII regular, Murmur -, Gallop
Abdomen :
Supel, BU +, NT epigastrium (+)
Extermitas :
Hangat ++/++, Pitting oedema --/--

Analisa

TB Paru relaps
AKI

Planning

Ranitidin 2 x 1 amp

ATP dankos 2 x1

Curcuma 2 x 1

OAT

1.9 PROGNOSIS
Ad Vitam

: ad bonam

Ad Functionam

: dubia ad malam

Ad Sanationam

: dubia ad malam

16

BAB II
PEMBAHASAN
2.1. ANALISIS KASUS
Keluhan utama pasien adalah sesak napas sejak 1 minggu sebelum masuk rumah
sakit. Disertai dengan keluhan tambahan berupa batuk berdahak warna putih kehijauan,
demam naik turun, nyeri dada sebelah kanan dan nyeri ulu hati, serta adanya riwayat BAB
17

hitam kemerahan. Keluhan sesak napas dapat disebabkan adanya infiltrat pada paru-paru
pasien. Batuk pada pasien terjadi karena adanya iritasi pada bronkus, batuk diperlukan
untuk membuang produk-produk radang keluar. Keluhan nyeri dada pada pasien dapat
disebabkan oleh infiltrasi radang yang sudah sampai ke pleura. Keadaan pasien yang sering
demam naik turun ini sangat dipengaruhi oleh daya tahuan tubuh pasien terhadap proses
infeksi yang ditimbulkan oleh M. tuberculosis. Nyeri ulu hati dan adanya riwayat BAB
hitam kemerahan ini dapat disebabkan oleh perdarahan saluran cerna bagian atas,
kemungkinan besar pasien mengalami gastritis erosive yang disebabkan oleh konsumsi
jamu untuk pegal-pegal yang sering dikonsumsi oleh pasien.
Diagnosis kerja TB Paru ditegakkan berdasarkan hasil hasil anamnesis, pemeriksaan
fisik, dan pemeriksaan penunjang. Dari hasil anamesis didapatkan pasien mengeluhkan
sesak napas sejak 1 minggu yang lalu, batuk berdahak berwarna hijau, demam ringan yang
naik turun dan nyeri dada. Enam tahun lalu pasien mempunyai riwayat pengobatan TB 6
bulan tuntas, dan anak pasien sedang dalam pengobatan TB. Dari hasil pemeriksaan fisik
didapatkan adanya perkusi yang redup di lapang paru kanan, sonor pada lapang paru kiri
serta adanya rhonci basah pada thorax bagian kanan. Pada pemeriksaan penunjang
didapatkan hasil pemeriksaan darah leukositosis, hasil pemeriksaan EKG adalah aritmia
sinus takikardi yang disebabkan karena pasien mengalami sesak, pada foto thorax
didapatkan kesan TB paru aktif dengan efusi pleura minimal dan cardiomegali. Hasil BTA
pasien adalah positif seingga mendukung diagnosis adanya suatu TB relaps.

BAB III
TINJAUAN PUSTAKA

2.1

Definisi

18

Penyakit Tuberculosis merupakan penyakit infeksi bakteri yang menular dan disebabkan
oleh Mycobakterium tuberculosis yang ditandai dengan pembentukan granuloma pada jaringan
yang terinfeksi. Penyakit tuberculosis ini biasanya menyerang paru tetapi dapat menyebar ke
hampir seluruh bagian tubuh termasuk meninges, ginjal, tulang, nodus limfe. Infeksi awal
biasanya terjadi 2-10 minggu setelah pemajanan. Individu kemudian dapat mengalami penyakit
aktif karena gangguan atau ketidakefektifan respon imun. Dalam jaringan tubuh kuman ini dapat
Dormant, tertidur lama selama beberapa tahun.1,2
Mycobacterium tuberculosis merupakan kuman aerob yang dapat hidup terutama di
paru/berbagai organ tubuh lainnya yang bertekanan parsial tinggi. Kuman Tuberkulosis
berbentuk batang, mempunyai sifat khusus yaitu tahan terhadap asam pada pewarnaan. Oleh
karena itu disebut pula sebagai Basil Tahan Asam (BTA), kuman TB cepat mati dengan sinar
matahari langsung, tetapi dapat bertahan hidup beberapa jam ditempat yang gelap dan lembab.3

2.2

Cara Penularan
Sumber penularan adalah penderita TB BTA positif. Pada waktu batuk atau bersin,

penderita menyebarkan kuman ke udara dalam bentuk Droplet (percikan Dahak). Droplet yang
mengandung kuman dapat bertahan diudara pada suhu kamar selama beberapa jam. Orang dapat
terinfeksi kalau droplet tersebut terhirup kedalam saluran pernapasan. Selama kuman TB masuk
kedalam tubuh manusia melalui pernapasan, kuman TB tersebut dapat menyebar dari paru
kebagian tubuh lainnya, melalui sistem peredaran darah, sistem saluran linfe, saluran napas, atau
penyebaran langsung kebagian-bagian tubuh lainnya.
Daya penularan dari seorang penderita ditentukan oleh banyaknya kuman yang
dikeluarkan dari parunya. Makin tinggi derajat positif hasil pemeriksaan dahak, makin menular
penderita tersebut. Bila hasil pemeriksaan dahak negatif (tidak terlihat kuman), maka penderita
tersebut dianggap tidak menular.

19

Kemungkinan seseorang terinfeksi TB ditentukan oleh konsentrasi droplet dalam udara


dan lamanya menghirup udara tersebut.4

2.3

Epidemiologi
Organisasi kesehatan dunia memperkirakan bahwa sepertiga populasi dunia terinfeksi

dengan Mycobakterium tuberculosis. Angka infeksi tertinggi di Asia Tenggara, Cina, India,
Afrika, dan Amerika Latin. Tuberculosis terutama menonjol di populasi yang mengalami stress,
nutrisi jelek, penuh sesak, perawatan kesehatan yang kurang dan perpindahan penduduk.
Diperkirakan 95% kasus TB dan 98% kematian akibat TB didunia, terjadi pada negara-negara
berkembang. Demikian juga, kematian wanita akibat TB lebih banyak dari pada kematian
karena kehamilan, persalinan dan nifas.
Gambar 1

Insidens TB didunia

(WHO, 2009)

Sekitar 75% pasien TB adalah kelompok usia yang paling produktif secara ekonomis
(15-50

tahun). Diperkirakan seorang pasien TB dewasa, akan kehilangan rata-rata waktu

kerjanya 3 sampai 4 bulan. Hal tersebut berakibat pada kehilangan pendapatan tahunan rumah
tangganya sekitar 20-30%. Jika ia meninggal akibat TB, maka akan kehilangan pendapatannya

20

sekitar

15 tahun. Selain merugikan secara ekonomis, TB juga memberikan dampak buruk

lainnya secara sosial stigma bahkan dikucilkan oleh masyarakat.2,3


Penyebab utama meningkatnya beban masalah TB antara lain adalah:

Kemiskinan pada berbagai kelompok masyarakat, seperti pada negara sedang berkembang.

Kegagalan program TB selama ini

Perubahan demografik karena meningkatnya penduduk dunia dan perubahan struktur umur
kependudukan

Dampak pandemi HIV

Munculnya pandemi HIV/AIDS di dunia menambah permasalahan TB. Koinfeksi


dengan HIV akan meningkatkan risiko kejadian TB secara signifikan. Pada saat yang sama,
kekebalan ganda kuman TB terhadap obat anti TB (multidrug resistance = MDR) semakin
menjadi masalah akibat kasus yang tidak berhasil disembuhkan. Keadaan tersebut pada
akhirnya akan menyebabkan terjadinya epidemi TB yang sulit ditangani.5

2.4

Faktor Risiko

Hanya sekitar 10% yang terinfeksi TB akan menjadi sakit TB.

Dengan ARTI 1%, diperkirakan diantara 100.000 penduduk rata-rata terjadi 1000 terinfeksi
TB dan 10% diantaranya (100 orang) akan menjadi sakit TB setiap tahun. Sekitar 50
diantaranya adalah pasien TB BTA (+).

Faktor yang mempengaruhi kemungkinan seseorang menjadi pasien TB adalah daya tahan
tubuh yang rendah, diantaranya infeksi HIV/AIDS dan malnutrisi (gizi buruk).

HIV merupakan faktor risiko yang paling kuat bagi yang terinfeksi TB menjadi sakit TB.
Infeksi HIV mengakibatkan kerusakan luas sistem daya tahan tubuh seluler (cellular
immunity), sehingga jika terjadi infeksi penyerta (oportunistic), seperti tuberkulosis, maka
yang bersangkutan akan menjadi sakit parah bahkan bisa mengakibatkan kematian. Bila

21

jumlah orang terinfeksi HIV meningkat, maka jumlah pasien TB akan meningkat, dengan
demikian penularan TB di masyarakat akan meningkat pula.

2.5

Etiologi
Etiologi penyakit tuberculosis yaitu oleh kuman Mycobacterium tuberculosis. Kuman

berbentuk batang yang sebagian besar dinding kuman terdiri dari lipid. Lipid inilah yang
membuat kuman lebih tahan terhadap asam sehingga disebut bakteri tahan asam (BTA).5

2.6

Patogenesis
Kuman dibatukkan atau dibersinkan keluar menjadi droplet nuclei dalam udara sekitar

kita. Partikel infeksi ini dapat menetap dalam udara bebas 1 2 jam, tergantung pada ada
tidaknya sinar ultaviolet, ventilasi yang buruk dan kelembaban. Dalam suasana lembab dan
gelap, kuman apat tahan berhari hari sampai berbulan bulan. Bila partikel infeksi ini terisap
oleh orang sehat, ia akan menempel pada saluran napas atau jaringan paru. Partikel dapat masuk
ke alveolar bila ukuran partikel < 5 mikrometer. Kuman akan dihadapi pertama kali oleh
neutrofil, kemudian baru oleh makrofag. Kebanyakkan partikel ini akan mati atau dibersihkan
oleh makrofag keluar dari percabangan trankeobronkial bersama gerakan silia dengan sekretnya.
Bila kuman menetap di jaringan paru, berkembang biak dalam sitoplasma makrofag.
Disini dapat terbawa masuk ke organ tubuh lainnya. Kuman yang bersarang di jaringan paru
akan berbentuk sarang atau afek primer atau sarang (fokus) Ghon. Sarang primer ini dapat terjadi
di setiap bagian jaringan paru. Bila menjalar sampai ke pleura, maka terjadilah efusi pleura.
Kuman dapat masuk melalui saluran gastrointestinal, jaringan limfe, orofaring, dan kulit, terjadi
limfadenopati regional kemudian bakteri masuk ke dalam vena dan menjalar ke seluruh organ
seperti paru, otak, ginjal, tulang. Bila masuk ke arteri pulmonalis maka terjadi penjalaran ke
seluruh bagian paru menjadi TB milier.
Tuberkulosis.Primer
Infeksi primer terjadi saat seseorang terpapar pertama kali dengan kuman TB. Droplet yang
terhirup sangat kecil ukurannya, sehingga dapat melewati sistem pertahanan mukosillier bronkus,
22

dan terus berjalan sehinga sampai di alveolus dan menetap disana. Kuman akan menghadapi
pertama kali oleh neutrofil, kemudian baru makrofag. Kebanyakan partikel ini akan mati atau di
bersihkan oleh makrofag keluar dari percabangan trakeobronkial bersama gerakan silia dengan
sekretnya.
Bila kuman menetap di jaringan paru, berkembang biak dalam sitoplasma makrofag. Di
sini ia akan terbawa masuk ke organ tubuh lainnya. Kuman yang bersarang di jaringan paru
berbentuk sarang tuberkulosa pneumonia kecil dan di sebut sarang prime atau afek prime atau
sarang (fokus) Ghon.
Dari sarang primer akan timbul peradangan saluran getah bening menuju hilus
(limfangitis lokal) dan juga diikuti pembesaran kelenjar getah bening hilus (limfadenitis
regional). Semua proses ini memakan waktu 3-8 minggu. Kompleks primer ini selanjutnya dapat
menjadi:

Sembuh sama sekali tanpa meninggalkan cacat, ini banyak terjadi

Sembuh dengan sedikit meninggalkan bekas berpa garis-garis fibrosis, kalsifikasi di hilus

Berkomplikasi dan menyebar secara : a). Per kontinuitatum, yakni menyebar ke skitarnya,
b). Secara bronkogen pada paru yang bersangkutan maupun sebelahnya, c). Secara limfogen,
d). Secara hematogen5,6

Tuberkulosis Pasca Primer (Tuberkulosis Sekunder) :


Tuberkulosis pasca primer biasanya terjadi setelah beberapa bulan atau tahun sesudah
infeksi primer, misalnya karena daya tahan tubuh menurun akibat terinfeksi HIV atau status gizi
yang buruk. Tuberkulosis pasca primer ini dimulai dengan sarang dini yang berlokasi di regio
atas paru (apikal-posterior lobus superior atau inferior). Invasinya ke daerah parenkhim dan tidak
ke nodus hiler paru.
Sarang dini ini mula-mula juga berbentuk sarang pneumonia kecil. Dalam 3-10 minggu
sarang ini menjadi tuberkel yakni suatu granuloma yang terdiri dari sel-sel histiosit dan sel DatiaLanghans (sel besar dengan banyak inti) yang dikelilingi oleh sel-sel limfosit dan berbagai
jaringan ikat.5
23

2.7

Diagnosis

Gejala Klinik

Demam: biasanya subfebril menyerupai demam influenza, tetapi kadang-kadang panas


badan dapat mencapai 40-410C, demam hilang timbul

Batuk, sifat batuk dimulai dari batuk kering (non-produktif) kemudian setelah timbul
peradangan menjadi produktif (sputum). Keadaan lanjut dapat terjadi batuk darah

Sesak napas, sesak nafas akan ditemukan pada penyakit yang sudah lanjut, yang infiltratnya
sudah meliputi setengah bagian paru-paru

Nyeri dada. Nyeri dada timbul bila infiltrate radang sudah sampai ke pleura sehingga
menimbulkan pleuritis

Badan lemah, nafsu makan menurun, berat badan turun, rasa kurang enak badan (malaise),
berkeringat malam walaupun tanpa kegiatan4,5

Pemeriksaan Fisik
Dapat ditemukan konjungtiva anemis, demam, badan kurus, berat badan menurun.
Tempat kelainan lesi TB paru yang paling dicurigai adalah bagian apex paru, bila dicurga adanya
infiltrate yang luas, maka pada perkusi akan didapatkan suara redup, auskultasi bronchial dan
suara tambahan ronki basah, kasar, dan nyaring. Tetapi bila infiltrate diliputi penebalan pleura
maka suara nafas akan menjadi vesicular melemah. Bila terdapat kavitas yang luas akan
ditemukan perkusi hipersonor atau tympani.7
Pemeriksaan Radiologis
Pada awal penyakit saat lesi masih merupakan sarang-sarang pneumonia, gambaran
radiologis berupa bercak-bercak seperti awan dan dengan batas-batas tidak tegas. Bila lesi sudah
24

diliputi jaringan ikat maka banyangn terlihat berupa bulatan dengan batas tegas, lesi dikenal
sebagai tuberkuloma
Pada kavitas bayangannya berupa cincin yang mula-mula berdiniding tipis. Lama-lama
dinding jadi sklerotik dan terlihat menebal. Bila terjadi fibrosis terlihat bayangan bergaris-garis.
Pada kalsifikasi bayangannya terlihat sebagai bercak-bercak pada dengan densitas tinggi.
Gambaran radiologis lain yang sering menyertai TB paru adalah penebalan pleura, efusi
pleura, empiema.8

Diagnosis Tuberkulosis (TB)


WHO tahun 1991 memberikan criteria :
1) Tuberkulosis paru BTA positif.

Sekurang-kurangnya 2 dari 3 spesimen dahak SPS hasilnya BTA positif.

1 spesimen dahak SPS hasilnya BTA positif dan foto toraks dada menunjukkan
gambaran tuberkulosis.

1 spesimen dahak SPS hasilnya BTA positif dan biakan kuman TB positif.

2) Tuberkulosis paru BTA negatif

Pasien yang pada pemeriksaan sputum tidak ditemukan BTA sedikitnya pada 2 x
pemeriksaan tetapi gambaran radiologis sesuai TB aktif

Pasien yang pada pemeriksaan sputum tidak ditemukan BTA tetapi pada biakannya
positif

25

ALUR
2.8

DIAGNOSIS

TUBERKULOSIS

PARU

PADA

ORANG

DEWASA 6

Klasifikasi

Klasifikasi berdasarkan organ tubuh yang terkena:


1. Tuberkulosis Paru
Tuberkulosis paru adalah tuberkulosis yang menyerang jaringan (parenkim) paru, tidak
termasuk pleura (selaput paru) dan kelenjar pada hilus.
2. Tuberkulosis Ekstraparu
Tuberkulosis yang menyerang organ tubuh lain selain paru, misalnya pleura, selaput otak,
selaput jantung (pericardium), kelenjar lymfe, tulang, persendian, kulit, usus, ginjal, saluran
kencing, alat kelamin, dan lain-lain.

Klasifikasi berdasarkan hasil pemeriksaan dahak mikroskopis, yaitu pada TB Paru:


1. Tuberkulosis paru BTA positif.
26

a. Sekurang-kurangnya 2 dari 3 spesimen dahak SPS hasilnya BTA positif.


b. 1 spesimen dahak SPS hasilnya BTA positif dan foto toraks dada menunjukkan gambaran
tuberkulosis.
c. 1 spesimen dahak SPS hasilnya BTA positif dan biakan kuman TB positif.
d. 1 atau lebih spesimen dahak hasilnya positif setelah 3 spesimen dahak SPS pada
pemeriksaan sebelumnya hasilnya BTA negatif dan tidak ada perbaikan setelah pemberian
antibiotika non OAT.

2. Tuberkulosis paru BTA negatif


Kasus yang tidak memenuhi definisi pada TB paru BTA positif. Kriteria diagnostik TB paru
BTA negatif harus meliputi:
o Paling tidak 3 spesimen dahak SPS hasilnya BTA negative
o Foto toraks abnormal menunjukkan gambaran tuberkulosis.
o Tidak ada perbaikan setelah pemberian antibiotika non OAT.
o Ditentukan (dipertimbangkan) oleh dokter untuk diberi pengobatan.

Klasifikasi berdasar tipe pasien :


a. Kasus Baru Pasien yang belum pernah mendapatkan pengobatan dengan OAT atau sudah
pernah menelan OAT < 1 bulan.
b. Kasus Kambuh (relaps) Pasien yang pernah mendapat pengobatan Tuberkulosis dan telah
dinyatakan sembuh atau pengobatan lengkap.
c. Kasus Drop Out Pasien yang telah menjalani pengobatan >1 bulan dan tidak meneruskan
pengobatan sampai selesai.
d. Kasus Gagal Therapi Pasien dengan BTA (+) yang masih tetap (+) atau kembali (+) pada
akhir bulan ke V atau akhir pengobatan.
e. Kasus Kronik Pasien dengan hasil pemeriksaan BTA masih (+) setelah selesai pengobatan
ulang dengan pengobatan kategori 2 dengan pengawasan yang baik.
f. Kasus Bekas TB Pasien riwayat OAT (+) dan saat ini dinyatakan sudah sembuh.6,8

27

2.9

Pengobatan 5,6,9

28

29

PENGOBATAN TB PADA KEADAAN KHUSUS


a. Kehamilan
Pada prinsipnya pengobatan TB pada kehamilan tidak berbeda dengan pengobatan
TB pada umumnya. Menurut WHO, hampir semua OAT aman untuk kehamilan, kecuali
streptomisin. Streptomisin tidak dapat dipakai pada kehamilan karena bersifat permanent
ototoxic dan dapat menembus barier placenta. Keadaan ini dapat mengakibatkan terjadinya
gangguan pendengaran dan keseimbangan yang menetap pada bayi yang akan dilahirkan.
Perlu dijelaskan kepada ibu hamil bahwa keberhasilan pengobatannya sangat penting artinya
supaya proses kelahiran dapat berjalan lancar dan bayi yang akan dilahirkan terhindar dari
kemungkinan tertular TB.

b. Ibu menyusui dan bayinya


Pada prinsipnya pengobatan TB pada ibu

menyusui tidak berbeda dengan

pengobatan pada umumnya. Semua jenis OAT aman untuk ibu menyusui. Seorang ibu
menyusui yang menderita TB harus mendapat paduan OAT secara adekuat. Pemberian OAT
yang tepat merupakan cara terbaik untuk mencegah penularan kuman TB kepada bayinya.
Ibu dan bayi tidak perlu dipisahkan dan bayi tersebut dapat terus disusui. Pengobatan
pencegahan dengan INH diberikan kepada bayi tersebut sesuai dengan berat badannya.

c. Pasien TB dengan infeksi HIV/AIDS


Tatalaksanan pengobatan TB pada pasien dengan infeksi HIV/AIDS adalah sama
seperti pasien TB lainnya. Obat TB pada pasien HIV/AIDS sama efektifnya dengan pasien
TB yang tidak disertai HIV/AIDS. Prinsip pengobatan pasien TB-HIV adalah

dengan

mendahulukan pengobatan TB. Pengobatan ARV (antiretroviral) dimulai berdasarkan


stadium klinis HIV sesuai dengan standar WHO. Penggunaan suntikan Streptomisin harus
memperhatikan Prinsip-prinsip Universal Precaution (Kewaspadaan Keamanan Universal)
Pengobatan pasien TB-HIV sebaiknya diberikan secara terintegrasi dalam satu UPK untuk
menjaga kepatuhan pengobatan secara teratur. Pasien

TB yang berisiko tinggi terhadap

30

infeksi HIV perlu dirujuk ke pelayanan VCT (Voluntary Counceling and Testing = Konsul
sukarela dengan test HIV).

d. Pleuritis Tuberkulosa
Permulaan penyakit ini terlihat sebagai efusi yang sero-santokrom dan bersifat
eksudat. Penyakit ini kebanyakan terjadi sebagai komplikasi tuberkulosa paru melalui focus
subpleura yang robek atau melalui aliran getah bening. Sebab lain dapat juga dari robeknya
perkijuan ke aras saluran getah bening yang menuju saluran pleura.
Pengobatan dengan obat-obat anti tuberkulosa (rimfampisin, INH, pirazinamid,
etambutol, streptomisin) memakan waktu 6 12 bulan. Dan cara pemberian obat obat sama
seperti pengobatan tuberkulosa paru,pengobatan ini menyebabkan cairan efusi dapat diserab
kembali, tapi untuk menghilangkannya eksudat ini dengan cepat dapat dilakukan
torakosentesis. Umumnya cairan diresolusi sempurna, tapi kadan-kadang dapat di berikan
kortikosteroid secara sistemik. (prednisone 1 mg/kg bb selama 2 minggu kemudian dosis di
turunkan secara perlahan)1,2

2.10 Komplikasi
Penyakit tuberkulosis paru bila tidak ditangani dengan benar akan menimbulkan
komplikasi. Komplikasi dibagi atas komplikasi dini dan komplikasi lanjut.

Komplikasi dini pleuritis, efusi pleura, empiema, laringitis

Komplikasi lanjut Obstruksi jalan napas SOFT (Sindrom Obstruksi Pasca Tuberkulosis),
kerusakan parenkim berat SOPT/fibrosis paru, kor pulmonal, amiloidosis, karsinoma paru,
sindrom gagal napas dewasa (ARDS), sering terjadi pada TB milier dan kavitas TB.

2.11 Prognosis
Dubia ad bonam

31

BAB IV
KESIMPULAN
Penyakit Tuberculosis merupakan penyakit infeksi bakteri yang menular dan
disebabkan oleh Mycobakterium tuberculosis yang ditandai dengan pembentukan granuloma
pada jaringan yang terinfeksi. Penyakit tuberculosis ini biasanya menyerang paru tetapi dapat
menyebar ke hampir seluruh bagian tubuh termasuk meningen, ginjal, tulang, nodus limfe.
Infeksi awal biasanya terjadi 2-10 minggu setelah pemajanan. Individu kemudian dapat
mengalami penyakit aktif karena gangguan atau ketidakefektifan respon imun. Dalam jaringan
tubuh kuman ini dapat Dormant, tertidur lama selama beberapa tahun.
Laporan TB dunia oleh WHO yang terbaru (2006), masih menempatkan Indonesia
sebagai penyumbang TB terbesar nomor 3 di dunia setelah India dan Cina dengan jumlah kasus
baru sekitar 539.000 dan jumlah kematian sekitar 101.000 pertahun. Survei Kesehatan Rumah
Tangga (SKRT) tahun 1995, menempatkan TB sebagai penyebab kematian ketiga terbesar
setelah penyakit kardiovaskuler dan penyakit saluran pernafasan, dan merupakan nomor satu
terbesar dalam kelompok penyakit infeksi.

32

DAFTAR PUSTAKA

1. Aditama TY, et al. Tuberkulosis. Pedoman Diagnosis dan Penatalaksanaan di


Indonesia. Jakarta: Perhimpunan Dokter Paru Indonesia; 2006.
2. Surya A, Basri C, Kamso S. Dalam: Pedoman Nasional Penanggulangan Tuberkulosis.
Jakarta : Departemen Kesehatan Republik Indonesia. 2011.
3. Mubin, Halim. Buku Panduan Praktis : Ilmu Penyakit Dalam Diagnosis dan Terapi
Edisi 2. Jakarta : Penerbit Buku Kedokteran EGC. 2007.
4. Price, Sylvia A. Patofisiologi : Konsep Klinis Proses-Pross Penyakit, Edisi 4. Jakarta :
Penerbit Buku Kedokteran EGC. 1995.
5. Sudoyo AW, et al. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Jilid II Edisi IV. Jakarta : Pusat
Penerbitan Ilmu Penyakit Dalam FKUI. 2007.
6. Wardhani DP, Uyainah A. Tuberculosis. In: Tanto C, Liwang F, Hanifati S, Pradipta
EA, editors. Kapita Selekta Kedokteran Jilid II. Edisi IV. Jakarta: Media
Aesculapius;2014.p.829-32.
7. Intiantoro HY. Tuberculostatik. Dalam: Farmakologi dan terapi. Edisi ke-5. Jakarta:
Badan Penerbit FKUI;2008.
8. TB CARE I. International standards for tuberculosis care. Edisi ke-3. TB CARE I. The
Hague; 2014.
9. Alsagaff, Hood dan Abdul Mukty. Dasar-dasar Ilmu Penyakit Paru. Surabaya :
Airlangga University Press. 2006.

33