Anda di halaman 1dari 22

Jalur Pendakian Linggarjati

Untuk menuju puncak Ciremei terdapat 3 jalur yang dapat ditempuh yakni
jalur Majalengka, jalur Palutungan dan,jalur Linggarjati. Jalur Linggarjati
( 650 mdpl) merupakan yang paling terjal dan terberat, namun jalur ini
merupakan favorit dilalui pendaki. Jalur ini memang dikenal lebih
menantang buat para pendaki
Desa Linggarjati terletak 14 km dari kota Kuningan. Dari pertigaan
Linggarjati berjalan kaki menuju Museum Naskah Linggarjati tempat
bersejarah dimana Bung Karno pernah menandatangani perjanjian
Linggarjati dengan Belanda. Sementara pos perijinan pendakian terletak
tidak terlalu jauh dari museum.

Mendaki Gunung Ciremai

Sebelum memulai pendakian ada baiknya pendaki menyiapkan bekal


terutama air, karena susah sekali memperoleh air selama di perjalanan.
Jalur menuju puncak sangat jelas dan banyak tanda-tanda penunjuk jalan,
sehingga pendaki pemulapun akan mudah .
Dari pos pendakian, perjalanan akan melintasi jalanan beraspal memasuki
kawasan hutan Pinus dan persawahan hingga Pos Mata Air Cibeunar (750
mdpl). Cibeunar merupakan area camp yang cukup aman buat bermalam,
karena terdapat sumber air yang cukup melimpah, yang tidak akan ditemui
lagi sepanjang perjalanan sampai di puncak. Selepas Cibeunar perjalanan
akan melewati perkebunan penduduk hingga memasuki Leuweng Datar
(1.200 mdpl).
Dari Leuweng Datar pendaki akan melewati pos sebagai tempat istirahat
yakni Sigedang dan Pos Kondang Amis . 2 jam berikutnya pendaki akan
sampai di Pos Kuburan Kuda (1.380 mdpl). Kuburan Kuda merupakan
tanah datar yang cukup luas dan cukup teduh sebagai tempat perkemahan.
Daerah ini dianggap keramat bagi masyarakat setempat. Setelah Kuburan
Kuda, pendaki akan melewati beberapa tempat keramat lagi seperti
Ceblokan, Pengalas.
Jalanan akan membesar ketika melewati Tanjakan Bin-Bin dan semakin
menanjak lagi ketika melewati Tanjakan Seruni (1.750 mdpl). Jalur ini
adalah yang terberat dan melelahkan dibanding yang lainnya. Bahkan
pendaki akan menemui jalan setapak yang terputus dan setengah

memanjat, dan memaksanya berpegangan akar pepohonan untuk


mencapai pos selanjutnya.
Kemudian akan sampai di Tanjakan Bapatere (1.950 mdpl) dengan jalur
tetap menanjak nyaris tanpa bonus sampai di Batu Lingga (2.250 mdpl).
Waktu yang diperlukan adalah sekitar 1 jam lebih. Konon, batu ini pernah
dijadikan tempat berkotbah wali songo kepada para pengikutnya . Di dekat
batu lingga terdapat sebuah in memoriam pendaki. Menurut kisah pendaki
itu tewas karena sesuatu kejadian yang aneh di batulingga. Tepatnya, pada
tahun 1999 dan dari ketiga pendaki, hanya seorang yang selamat.
Sedangkan dua lainnya tewas dengan mengeluarkan lendir dari mulutnya.
Menurut kepercayaan, blok batu lingga ini di jaga oleh dua makluk halus
bernama aki dan nini serentet buntet.
Batu Lingga merupakan pos peristirahatan yang berupa tanah datar dan
terdapat sebuah batu berukuran besar. Di tengah perjalanan pendaki akan
menemui dua pos peristirahatan lagi yakni Kiara Baton dan Sangga Buana.
Kemuidian pendaki baru akan memasuki batas vegetasi. Perjalanan
berlanjut 2 jam berikutnya sampai di Pos Pangasinan (2.750 mdpl).
Pangasinan merupakan pos terakhir. Menurut sejarah, pada masa
pendudukan Jepang, pengasinan merupakan tempat pembuangan
tawanan perang. Mungkin karena itu pada malam malam tertentu, sering
terdengar suara jeritan atau derap langkah kaki para serdadu jepang. Dari
daerah yang cukup terbuka ini, pendaki dapat menyaksikan bibir kawah
yang cukup menakjubkan. Diperlukan waktu satu jam dengan melewati
bebatuan cadas dan medan yang tetap menanjak, bahkan harus setengah
merayap, untuk sampai di puncak.

Summit Attack Ciremai


Untuk menggapai puncak tertinggi Gunung Ciremai (3.078 mdpl), pendaki
lebih dahulu melewati puncak tertinggi kedua Sunan Mataram (3.058
mdpl) ditandai batu trianggulasi. Dari Tranggulasi Sunan Mataram, untuk
mencapai puncak tertinggi Ciremai, pendaki harus mengelilingi kawah
hingga bertemu dengan Trianggulasi lagi yang sudah roboh yang biasa
dinamai Sunan Cirebon, itulah puncak tertinggi Gunung Ciremai.

Akomodasi dan Perijinan


Seluruh aktifitas pendakian Taman Nasional Gunung Ciremai wajib
mengurus Surat Ijin Masuk Lokasi (SIMAKSI) di Kantor Balai Taman

Nasional Gunung Ciremai Kuningan. Para pendaki wajib juga menyiapkan


fotocopi identitas diri (KTP), mengisi formulir pendakian, membayar tiket
masuk lokasi dan asuransi pada masing-masing pintu masuk jalur
pendakian. Selain itu pendaki wajib mengerti manejemen pendakian agar
pendakian berjalan sesuai rencana.

GN. CIREMAI (3.078 MDPL) : MENDAKI


ATAP TERTINGGI JAWA BARAT
August 29, 2014 by rifanfauzan

in

Indonesia, Mountaineering - Hiking.

1 Vote

An*ing lah, urang kaya gapunya kehidupan gini, tiap hari ke kampus lah. Kudu caw pisan lah naik
gunung, udah fana pisan!!!

Seketika aku dan beberapa orang pun merencanakan untuk naik gunung demi melepas penat yang
sudah berkepanjangan karena suatu kegiatan kaderisasi di kampus kami. Tercetuslah gunung
ciremai sebagai pelampiasan penat kami. Get a life lah bro!

Setelah beberapa hari mengumpulkan pasukan, akhirnya terkumpulah 2 cowo dan 4 cewe yang
siap naik Ciremai melalui jalur Apuy.

Catatan Perjalanan Gn. Ciremai via Jalur Apuy


Sabtu, 2 Agustus 2014
[Bandung Pos 1 Bumi Perkemahan Berod]
Pagi itu kami berangkat dari Terminal Leuwi Panjang menuju Terminal Maja di Kab. Majalengka
dengan elf Bandung Cikijing, namun keberangkatan kami sempat terhambat sedikit karena satu
dan lain hal yang membuat si supir elf muter muter demi nungguin 1 orang -_-. Karena masih
suasana lebaran, harga elf jadi mahal, kita dirogoh Rp 50.000,00 untuk naik elf Bandung Cikijing.

Setelah melewati jalanan yang harusnya padat oleh kendaraan karena arus balik tapi ternyata
kosong sampe elf bisa ngebut, akhirnya kami sampai di terminal Maja, sebuah kecamatan di

Kabupaten Majalengka. Disana kita langsung ditawari pick up dengan harga Rp 100.000,00 sampe
Desa Apuy dan Rp 200.000,00 sampe Pos 1. Akhirnya kita setuju untuk naik pick up itu, tapi kita
solat dan beli cemil cemil di alfamart dulu, tadinya sih mau makan siang tapi semua pedagang
makanan disana gaada yang jual nasi, semuanya jual bakso -__-. Dengan perut sedikit
keroncongan akhirnya kita menuju pos 1.

Sore menyambut kedatangan kami di bumi perkemahan Berod, kami langsung mencari space yang
agak luas untuk membuat tenda. Setelah itu kami mengurusi perizinan untuk retribusi dan asuransi
sebesar Rp 11.000,00 tidak ada sesuatu yang perlu disiapkan lebih dulu, kita tinggal mengisi
simaksi dan buku tamu yang sudah disediakan disana dan simaksinya tidak boleh hilang untuk
laporan kalau sudah turun nanti.

Di buper berod fasilitasnya udah cukup lengkap, ada mushola, toilet, sekitar 4 5 warung yang
menjual mulai nasi ayam, indomie, kopi, minuman minuman dan segala kebutuhan perut.

Sore hari kami


menghabiskan waktu sambil ngopi dan makan indomie di warung yang harganya masih normal
padahal jarak ke desa jauh banget. Banyak juga pendaki pendaki lain yang lagi istirahat atau
bahkan ada keluarga yang sedang kemping kemping ceria disini.
Begitu malam tiba, ga perlu khawatir gelap, disini udah ada listrik bro haha cuma emang kadang
mati tiba tiba. Sambil menunggu kantuk tiba, kami menghangatkan diri di sekitar api unggun
yang dibuatkan oleh salah satu penjaga ciremai sampai akhirnya kami merasa kita masih perlu
beristirahat untuk recharge energi buat besok pagi.

Minggu, 3 Agustus 2014


[Buper Berod Blok Arban Tegal Wasawa Tegal Jamuju Sanghyang Rangkah]

Rintikan air yang


membasahi tenda kami, suara tiupan angin yang menembus pepohonan, hitam malam berubah

menjadi biru tanda fajar sudah tiba. Kami semua terbangun dari mimpi dan bergegas menuju
mushola untuk subuh. Dinginnya air membuat nyawa kami kembali seutuhnya dari alam mimpi.
Dan kami siap menjalani pendakian hari ini.
Pendakian dimulai sekitar jam 08.15 menuju pos pos berikutnya. Target kita hari ini adalah camp
di pos 5, karena pos 6 terlalu jauh untuk dijangkau dalam 1 hari. Dari Pos 1Berod menuju Pos 2
Arban jalanan masih tergolong datar, kita hanya jalan sekitar 45 menit untuk sampai pos 2.

Setelah pos 2, kita akan mulai memasuki hutan tropis selayaknya gunung gunung di pulau jawa.
Dari pos 2 ke pos 3 ini yang paling jauuh dan jalanan mulai menanjak. Diantara pos 2 dan 3 juga
terdapat pos bayangan, mungkin karena jaraknya terlalu jauhh. Dari pos 3 sudah mulai turun
kabut, dan saat kami sampai pos 4 hujan turun dengan deras.

Diantara pos 4 dan pos 5 kita seringkli kesusahan karena ada jalur yang jadi perosotan dan kita
susah banget buat naiknya -__-. Jalur jadi semacam selokan miring yang super licin dan kita harus
merangkak kaya laba laba gitu biar bisa selamat walaupun dikit dikit maju kita bakalan mundur
beberapa langkah -___-. Dan akhirnya kita sampai pos 5 dengan keadaan lusuh penuh lumpur
caludih basah dan kedinginan. Dengan badan sedikit bergetar karena kedinginan saya dan teman
teman membuat tenda. Sampai pada akhirnya hujan berhenti dan matahari muncul sedikit
menghangatkan badan kami.

tersangka jalur perosotan

Sore hari kami habiskan waktu untuk makan lalu membereskan barang barang dalam tenda agar
posisi tidur kami nyaman dan enak buat istirahat karena kita akan berangkat besok jam 3 pagi
untuk summit attack!

Senin, 5 Agustus 2014


[Sanghyang Rangkah Goa Walet Puncak Ciremai! Pulang]

Udara dingin diluar membuat kami mager untuk keluar tenda. Kami menyeduh air panas dan
membuat mie rebus untuk sedikit tambahan energi di pagi hari. Kita berangkat dari pos 5 jam
04.00 dan memulai pendakian super menanjaak menuju goa walet dan puncak. Summit attack ini
kami jalani dengan santai karena banyak dari kami yang mulai kelelahan. Trek dari pos 5 sampe
puncak sudah bukan hutan lagi, melainkan hanya semak belukar saja dan di sepanjang perjalanan
pasti akan tercium bau belerang. Sayangnya, sunrise tidak kami dapatkan waktu di puncak, cahaya
oranye terlihat di timur saat kami sudah berada di dekat persimpangan apuy-palutungan. Jalanan
berbatu mendominasi jalur dari goa walet sampai ke puncak.

Dan akhirnya kaki ini menapakkan dirinya di tanah tertinggi jawa barat sekitar jam 06.00! Tiupan
angin dengan bau belerangnya menyambar mukaku, pandanganku langsung mengarah ke
matahari yang baru saja bersinar pagi ini. Kawah yang masih diselimuti kabut terlihat bak sebuah
mangkuk raksasa berisi asap. Gumpalan awan berlarian mengejar cahaya matahari dan di
belakangku, tanah jawa barat terbentang luas. Aku melihat kembali samudera awan di sebelah
kananku, dan di bibir kawah ini aku ingin berdiam diri sejenak hanya untuk menikmati rasa dari
tanah tertinggi jawa barat ini, 3078 meter diatas permukaan laut.

Setelah cukup lama kita foto foto sambil menikmati keindahan puncak, akhirnya kami turun
kembali menuju pos 5 untuk sarapan dan siap siap pulang. Sepanjang perjalanan sampai pos 5
ternyata banyak sekali edelweiss yang mengiringi kami, dilatari oleh hamparan lautan awan yang
sangat indah.

Perjalanan turun sampai pos 3 masih biasa saja karena turun jadi lumayan cepat. Tapi setelah pos
3, semuanya berubah ketika hujan datang. semua jalur kembali menjadi licin dan kebanyakan
dari kami terpaksa harus menyerodotkan badannya setiap menemukan turunan terjal dan hampir
semua turunan disini terjal.. AKhirnya kami sampai di buper berod dengan keadaan kembali lusuh
penuh lumpur dan tidak keren.

Dari buper berod kita menunggu pick up yang akan membawa kita menuju terminal maja, tapi
karena satu dan lain hal, kita harus menunggu rombongan belakang agar turunnya bersama
sama. Namun rombongan belakang ternyata tertimpa sedikit musibah yang membuat kami harus
menunggu hingga sekitar jam 8 malam. Setelah itu barulah kami turun dan pulang ke Bandung.

Beberapa Informasi Penting Pendakian Ciremai via Apuy


Gunung Ciremai terletak di tiga kabupaten di Jawa Barat, yaitu Kab. Cirebon, Kab. Majalengka, dan
Kab. Kuningan. Memiliki ketinggian 3.078 mdpl merupakan gunung tertinggi di Provinsi Jawa Barat.
Ciremai memiliki 3 jalur resmi yaitu Jalur Apuy yang terletak di Majalengka, Jalur Palutungan, dan
Jalur Linggarjati yang terletak di Kuningan. Kini Gunung Ciremai dikelola oleh Taman Nasional
Gunung Ciremai.

A. Transportasi dari Bandung


Keberangkatan
Term. Leuwi Panjang
Bandung Term. Maja

Elf Bandung Cikijing

Rp 50.000,00/orang

Term. Maja Pos 1


Buper Berod

Pick Up

Rp 200.000,00/pick up

Pos 1 Buper Berod


Term. Maja

Pick Up

Rp 200.000,00/pick up

Term. Maja Term.


Leuwi Panjang

Elf Cikijing Bandung

Rp 50.000,00/orang

Kepulangan

B. Perizinan
Perizinan bisa dilakukan di Desa Apuy atau di Pos 1 Berod, biaya perizinan Rp 11.000,00 sudah
termasuk retribusi dan asuransi Rp 1.000,00. Tidak perlu membawa persyaratan apapun, tinggal
mengisi buku tamu dan simaksi yang sudah disediakan.

C. Lama Pendakian
Durasi

Lokasi

45 menit

Pos 1 Buper Berod Pos 2 Blok Arban

2,5 jam

Pos 2 Blok Arban Pos 3 Tegal Wasawa

2 Jam

Pos 3 Tegal Wasawa Pos 4 Tegal Jamuju

1,5 jam

Pos 4 Tegal Jamuju Pos 5 Sanghyang Rangkah

1,5 jam

Pos 5 Sanghyang Rangkah Pos 6 Goa Walet

45 menit

Pos 6 Goa Walet Puncak Ciremai

Gunung Ciremei adalah gunung tertinggi di Jawa Barat ( 3.078 Mdpl ), dapat
terlihat dengan jelas oleh para penumpang kereta api atau kendaraan umum
lainnya sepanjang jalur pantura sekitar Cirebon. Untuk menuju puncak Ciremei
terdapat tiga jalur yang dapat ditempuh yakni jalur Majalengka, jalur Palutungan
dan, jalur Linggarjati. Jalur Linggarjati merupakan yang paling terjal dan terberat,
namun jalur ini merupakan yang paling sering dilalui pendaki.
1. Jalur Apuy
Transportasi Jalur Apuy Dari pintu tol Palimanan, naik colt kecil sampe
perempatan Palimanan . Selanjutnya naik angkot ke Terminal Kadipaten,
dilanjutkan lagi ke perempatan Pasar lanjut lagi menuju terminal Maja Terminal
Maja cukup ramai karena menyatu dengan pasar kecil. Pickup sayur ke Apuy
udah ada sejak pk.05.00 pagi, Meninggalkan Maja dengan pickup melewati
bentangan lahan pertanian berkabut diselingi perkampungan kecil nan
menawan. Di penghujung perjalanan, pickup melewati lorong perkampungan
yang padat dan menanjak. Pick up sampai di depan papan petunjuk ke Curug
Muara Raya + 600 m di sini terdapat sebuah mesjid. Mesjid berseberangan
dengan Balai Desa, di antaranya terdapat pohon besar ditempeli papan penunjuk
ke puncak Ciremai dan ke Curug. Di belakang mesjid terdapat MCK, masuk dari
sisi kanan masjid. Sejajar sebelum balai desa terdapat warung makanan &
minuman. Perjalanan menuju Pos 1 melewati perkampungan dan lading-ladang
sayuran. Jalan menuju Pos 1 beraspal dan bias dilewati mobil bak. Untuk
menghemat tenaga bias mencarter mobil pickup hingga ke Pos 1 Blok Arban.
Kalo pagi sebelum pk 07.00, pendaki bisa carter 4x4 Rp.50.000-70.000, tapi kalo
di atas pk 07.00 tinggal pickup yang biaya carternya Rp.100.000.
2. Jalur Palutungan
Jalur Palutungan tidak seterjal jalur linggajati, namun waktu tempuh yang
diperlukan menjadi lebih panjang. Palutungan merupakan sebuah kampung
terakhir yang berada di lereng selatan gunung Ciremei dan berada pada
ketinggian 1100 mdpl.Palutungan tepatnya berada di wilayah Desa Cisantana,

Kec. Cigugur, Kab. Kuningan. Dari terminal bus kota Kuningan naik angkutan
pedesaan langsung ke jurusan Desa Palutungan. Dari Cirebon pendaki dapat
menggunakan angkutan umum jurusan Cikijing dan turun di pertigaan Cigugur.
Dari pertigaan Cigugur, perjalanan dilanjutkan menuju Cisantana melalui jalanan
yang menanjak dan berbatu ditempuh selitar 1 jam, dengan melewati
perkebunan penduduk. Dari Cisantana, perjalanan dilanjutkan kembali dengan
naik angkutan sayur menuju Palutungan yang memakan waktu 20 menit. Setelah
mengurus perizinan untuk mendaki, perjalanan dapat dimulai melalui kebun
penduduk, lalu belok ke kanan memasuki hutan tropis dengan jalur agak landai.
Kadangkala harus melalui semak-semak tinggi. Untuk sampai di Cigowong
membutuhkan waktu sekitar 3 jam perjalanan.
3. Jalur Linggajati
Desa Linggajati 14 km dari kota Kuningan atau 24 km dari kota Cirebon. Dari
Jakarta dapat ditempuh menggunakan bus jurusan Kuningan atau kereta api
jurusan Cirebon yang disambung dengan bus atau kendaraan umum jurusan
Cirebon - Kuningan. Dari pertigaan Linggajati berjalan kaki sekitar 2,5 km menuju
Musium Linggajati yang dulunya adalah sebuah hotel bersejarah yang menjadi
saksi bisu tempat Bung Karno dengan pemerintah kolonial Belanda melakukan
penandatanganan Perjanjian Ling garjati. Terdapat pula Taman Linggajati Indah,
Taman seluas 11 hektar ini dilengkapi berbagai sarana rekreasi, antara lain
kolam renang dan sumber mata air Cibulakan, Silinggonom, Balong Renteng,
Rekreasi air dan kolam pancing, Tempat istirahat, Cottage, Villa, Hutan wisata,
Bumi perkemahan dll. Pos penjagaan berjarak lebih kurang 500 m dari Musium
Linggajati, kita perlu mendaftarkan diri serta membayar asuransi per orang
Rp.5.000,- . Siapkan bekal Anda terutama air karena susah sekali memperoleh
air selama di perjalanan. Para pendaki dapat menggunakan jasa penduduk atau
petugas penjaga pos untuk membimbing perjalanan mereka ke puncak. Jalur
menuju puncak sangat jelas dan banyak tanda-tanda penunjuk jalan, sehingga
pendaki yang baru pertama kalipun tidak akan tersesat. Peta tiga jalur pendakian
gunung ciremai via Apuy. Palutungan, dan Linggajati.

Pendakian Jalur Apuy

Selepas ladang udara menjadi sejuk karena vegetasi cukup tinggi menanungi
jalur. Humus daun-daun kering basah berwarna kecoklatan bergerisik di
sepanjang jalur setapak. Bau tanah basah, daun-daun segar dan kehangatan
cercah matahari mengintip dari balik pucuk-pucuk pohon, ditingkah desah nafas
kami mengatur langkah. Satu dua kali terdapat percabangan pencari kayu, tetapi
jalur utama tampak jelas. Orientasi kiri dan tentu saja tetap di punggungan.
Perjalanan relatif santai dengan medan tidak terlalu terjal dan sesekali memberi
sedikit bonus (agak datar). Kicauan burung yang menyejukkan hati mengiringi
sepanjang langkah kami. Pos Simpang Lima (1908 mdpl) berupa dataran cukup
untuk 2-3 tenda kapasitas 4 orang. Dari Pos 2 (Simpang Lima) menuju Pos 3
(Tegal Wasawa) memerlukan waktu tempuh sekitar 1 jam. Jalur semakin terjal,
hutan makin tertutup dan bonus menjadi langka. Cercah mentari perlahan
meredup dan udara menjadi semakin sejuk. Sekitar 100 m menjelang pos III,

terdapat simpang tiga yang cukup jelas, pertemuan jalur baru dan jalur lama.
Jalur di sisi kanan merupakan jalur lama dari pos I yang melewati situ (danau)
dan kuburan dengan track agak melambung. Kami mengambil jalur kiri menuju
ke pos III. Pos III (Tegal Wasawa) 2.400 mdpl) berupa dataran cukup untuk 1
tenda kapasitas 4. Dari Pos 3 Tegal Wasawa menuju Pos 4 Tegal Jamuju (2.600
mdpl) waktu yang ditempuh relatip cukup pendek sekitar 35 menit. Medan
berupa tanah yang cukup padat melintasi hutan yang cukup lebat dan rindang.
Sesekali kita melintasi akar-akar pohon. Dari Pos 4 (Tegal Jamuju) menuju Pos 5
Sanghiang Rangkah (2.800 mdpl) waktu tempuh sekitar 1 jam 20 menit.
Perjalanan menuju Pos 5 cukup panjang dan terjal. Pos V merupakan pertemuan
jalur Apuy dan Palutungan, di sebelah kanan terdapat papan penunjuk jalur.
Palutungan menuju Sanghiang Ropoh, Pos VII jalur Palutungan. Di sisi jalur
menurun ke bawah, terdapat sungai kering. Beberapa bagian jalur sungai tsb.
terdapat ceruk dengan genangan air. Pos 5 Sanghiang Rangkah menuju Pos 6
Goa Walet yang berada diketinggian 2.950 m dpl perlu waktu tempuh sekitar 2
jam. Jalur berbatu menganak sungai membuat perjalanan melambat. Di tengah
jalur batu, terdapat sebatang pohon yang ditempel papan penunjuk ke puncak
dan turun ke arah Palutungan. Pos 6 Goa Walet menuju Puncak Ciremei sudah
dekat hanya perlu waktu 35 menit. Puncak Ciremei dari sisi Selatan terdapat
tugu penanda puncak tertinggi gunung Ciremei.

Pendakian Jalur Palutugan

Pos I Cigowong terletak di ketinggian 1450 mdpl. Di sini terdapat sungai kecil
sehingga pendaki dapat menyiapkan persediaan air sebanyak mungkin karena
tidak akan ditemui lagi sumber air hingga puncak. Selepas Cigowong lintasan
masih landai memasuki hutan dan melewati Blok Kta yang berada di ketinggian
1.690 mdpl, dan akan sampai di Blok Pangguyangan Badak. Paguyangan Badak
merupakan area yang berada di ketinggian 1.790mdpl. Daerah ini terdapat
puing-puing bangunan tua. Untuk sampai di Blok Arban perlu waktu sekitar 30
menit dengan lintasan yang mulai menanjak. Blok Arban diketinggian (2.030
mdpl) merupakan pos III dengan area yang cukup datar dan teduh. Lintasan
mulai menanjak dan sekitar 2,5 jam akan sampai di Tanjakan Asoy (2.108mdpl)
yang merupakan pos IV. Tempat ini berupa tanah datar berukuran yg cukup luas.
Selepas dari sini lintasan semakin menanjak dalam waktu 1 jam akan sampai di
Blok Pesanggrahan (2.450mdpl) . Selepas dari pos V (pasangrahan) pendaki
mulai memasuki kawasan vegetasi yang ditumbuhi cantigi dan edelweiss sampai
di Bolk SangHyang Ropoh (2.590 mdpl). Lintasan ini sangat licin jika hujan turun.
SangHyang Ropoh (Pos VI) terletak di daerah yang datar dan terbuka. Selepas
pos VI lintasan masih curam dan licin, dengan tanah berwama kuning
mengandung belerang. Selanjutnya kita akan sampai di pertigaan yang menuju
ke jalur Apuy dan ke Kawah Gua Walet. Pada sisi kanan lintasan terdapat Kawah
Gua Walet (2.925 mdpl) yang sering digunakan untuk bermalam dan berlindung
dari cuaca buruk. Di sebelah kiri, lintasan akan menyatu dengan jalur Apuy
(Majalengka). Untuk sampai di puncak Ciremai (Puncak Sunan Cirebon)
diperlukan waktu sekitar 1,5 jam. Sesampainya di puncak pendaki dapat
menikmati indahnya pemandangan dua kawah kembar yang berdampingan.
Untuk mengitari kawah ini diperlukan waktu kira-kira 3 jam. Selain itu, pendaki

juga dapat menyaksikan ke arah barat indahnya kota Majalengka, ke arah utara
panorama kota Cirebon dan Laut Jawa, serta dari kejauhan ke arah timur tampak
Gunung Slamet yang tertutup awan. Di pagi hari pada bulan-bulan tertentu
sunrise akan muncul tepat dari puncak gunung Slamet.

Pendakian Jalur Linggajati

Selepas dari Pos Pendaftaran dengan melintasi jalanan beraspal pendaki


memasuki kawasan hutan Pinus dan persawahan hingga Cibeunar yang berada
di ketinggian 750 mdpl. Tempat ini sangat ramai dengan para pendaki yang ingin
mengadakan pendakian maupun renaja yang sekedar camping. juga terdapat
sumber air yang cukup melimpah, yang tidak akan ditemui lagi sepanjang
perjalanan sampai di puncak. Selepas Cibeunar lintasan akan melewati ladang
penduduk dan kawasan hutan pinus hingga memasuki Leuweng Datar di
ketinggian 1.285 mdpl. Leuweng Datar terletak di tengah-tengah hutan tropis.
Selepas daerah ini lintasan mulai menanjak dan melewati area yang cukup datar
sebagai camp yakni Sigedang dan Kondang Amis (1.350mdpl). Untuk sampai di
Kuburan Kuda diperlukan waktu sekitar 2 jam perjalanan. Blok Kuburan Kuda
berada pada ketinggian 1.580 mdpl, merupakan lapangan datar yang cukup luas
dan cukup teduh sebagai tempat perkemahan. Daerah ini dianggap keramat bagi
masyarakat setempat. Di dekat jalur terdapt kuburan kuda. Selepas Kuburan
Kuda, jalur semakin curam dan kita akan sampai di Pengalap (1.790
mdpl).Dengan sudut lintasan yang mulai membesar kita akan melewati Tanjakan
Bin-Bin (1.920 mdpl) dan semakin menanjak lagi ketika melewati Tanjakan
Seruni. Tanjakan Seruni (2.080 mdpl) adalah lintasan yang terberat dan
melelahkan dibanding yang lainnya. Bahkan pendaki akan menemui jalan
setapak yang terputus dan setengah memanjat, dan memaksanya berpegangan
akar pepohonan untuk mencapai pos selanjutnya. Belum lagi bila hujan turun,
jalur ini akan menjadi lintasan aliran air hujan seperti air terjun. Begitu juga
dengan jalur berikutnya hingga sampai di Tanjakan Bapak Tere (2.200 mdpl)
Selepas Tanjakan Bapatere lintasan tetap menanjak hingga sampai di Batu
Lingga dengan waktu tempu sekitar 2,5 jam. Batu Lingga (2.400 mdpl)
merupakan pos peristirahatan yang berupa tanah datar dan terdapat sebuah
batu berukuran besar dahulunya tempat Wali songo bersolat dan berkotbah. Pos
ini adalah tempat yang keramat, konon pawa Wali sering mengadakan
pertemuan di tempat ini menurut kesaksian para pendaki kehadiran para wali ini
ditandai dengan gumpalan cahaya yang terbang di tempat ini. Di tempat ini
terdapat dua buah batu nisan. Meninggalkan kawasan Batu Lingga lintasan tetap
menanjak. Di tengah perjalanan pendaki akan menemui dua pos peristirahatan
berupa tanah datar yakni Sangga Buana Bawah (2.545 mdpl) dan Sangga Buana
Atas (2.665 mdpl). Selepas itu pendaki akan memasuki batas vegetasi antara
hutan dengan daerah terbuka. Untuk sampai di Pangasinan. Pangasinan berada
pada ketinggian (2.860 mdpl) merupakan pos terakhir. tempatnya lebar sehingga
cukup untuk membuka belasan tenda, meskipun lokasinya agak berbukit-bukit.
Kabut dan hujan yang sering muncul dipuncak meskipun di musim kemarau
menyisakan genangan air di celah-celah bebatuan sehingga bisa dimanfaatkan
untuk minum dan memasak. Diperlukan waktu sekitar 1 jam untuk merangkak
melewati bebatuan cadas untuk sampai di puncak. Hujan deras sering muncul di

puncak sehingga aliran air terkucur dari atas membasahi para pendaki. Di
puncak pendaki bisa memandang melihat kota Cirebon dan laut Jawa, kapalkapal besar nampak dikejauhan. Kearah Timur tampak gunung Slamet dengan
puncaknya yang tertutup awan. Puncak gunung Ciremei memiliki kawah yang
sangat curam dan sangat indah, pendaki yang nekad sering turun ke kawah
untuk membuat tulisan di atas lumpur kawah. Pejiarah sering datang untuk
berdoa dipuncak ini. Mereka mendaki dengan berpuasa dan makan bekal nasi
bungkus setelah tiba di puncak. Bandingkan pejiarah dengan para pendaki
gunung yang setiap saat makan dan minum saja kadang masih juga tidak
sampai puncak. Banyak sekali pendaki yang hanya berkemah di pertengahan
pos dan tidak sanggup meneruskan perjalanan ke puncak, karena medan yang
berat dan susahnya air, dan kembali turun, untuk itu persiapkan bekal yang
berlebih dan bawalah tenda. Karena kemungkinan besar perjalanan akan
tertunda, sehingga harus bermalam. Pesan Disini saya tidak meberikan estimasi
biaya perjalanan karena estimasi biaya setiap waktu bisa berubah dan saya
menganjurkan untuk tanya langsung ke petugas langsung dengan cara
menghubungi petugas lewat postingan CP petugas silahkan klik di sini untuk
mengetahui
nomer
telfon
petugas
gunung
See
more
at:
http://chk2489.blogspot.com/2013/03/jalur-pendakian-gunungciremei.html#sthash.TyF5uryo.dpuf
Sumber: http://chk2489.blogspot.com/2013/03/jalur-pendakian-gunungciremei.html
Muhammad Chamdun