Anda di halaman 1dari 2

Analisis Partai Politik : Partai Golkar dan Kontestasi Berimbang

Oleh: Toto Sugiarto


Di muat di Suara Pembaruan, 11 Maret 2009
Politik berjalan tidak linier. Kemungkinan SBY-JK akan kembali berpasangan pada Pilpres 2009,
kecil. Konstelasi politik pun berubah secara signifikan. Kesiapan Wapres Jusuf Kalla menjadi
calon presiden dapat dibaca lebih luas, yaitu Partai Golkar mengusung capres sendiri. Siapa
capres yang akan diusung, masih terbuka. Hasil akhirnya bergantung pada sebaik apa dinamika
demokrasi berlangsung di tubuh partai pemenang Pemilu 2004 tersebut.
Dengan adanya capres dari Partai Golkar, Pilpres menjadi lebih memberikan harapan, apalagi
jika calon dari Partai Golkar merupakan wajah baru di panggung politik nasional. Perkembangan
ini amat baik bagi terciptanya konsolidasi demokrasi. Pertarungan akan menjadi lebih seimbang.
Dengan perubahan konstelasi tersebut, iklim politik mulai memanas.
Sebelumnya, iklim politik di negara ini sudah menghangat. Ada beberapa peristiwa yang bisa
dipakai sebagai indikatornya. Pertama, iklan politik yang semakin lugas dan saling serang seperti
iklan PDI-P dan iklan Partai Demokrat yang mengusung tema iklan sembako murah di satu sisi
dan dijawab dengan kata-kata mana mungkin di sisi lain, serta iklan PKS yang dipandang
merugikan partai lain. Kedua, pernyataan elite partai yang memun-culkan ketersinggungan pihak
lawan seperti pernyataan Megawati versus SBY (yoyo-gasing) dan terakhir pernyataan Wakil
Ketua Partai Demokrat Achmad Mubarok yang menjadi pemicu pencalonan Jusuf Kalla sebagai
capres.
Namun, kita patut bersenang hati bahwa menghangatnya suhu politik tidak sampai memanaskan
suhu di masyarakat. Suhu yang panas hanya di tingkat elite. Sedangkan, masyarakat dapat secara
dewasa menjadi pemerhati pertarungan politik tersebut. Dari titik ini, kita dapat berharap
masyarakat akan mampu memilih dengan tepat.
Saling serang menjelang pemilu dan pilpres merupakan perkembangan yang wajar. Setiap calon
ingin mencitrakan dirinya lebih baik dibanding pesaingnya. Semakin tinggi tensi saling serang
berarti semakin tinggi kompetisi. Semakin tinggi kompetisi berdampak semakin baik untuk
kemajuan bangsa. Hanya bangsa yang di dalamnya terdapat kompetisi yang akan mengalami
kemajuan.
Jadi, saling serang ini sejauh dilakukan secara beradab, yaitu pada tataran verbal dan di atas
meja, akan memberikan manfaat bagi rakyat. Kondisi itu dapat diibaratkan seperti kucing yang
dikeluarkan dari karungnya. Rakyat semakin mengetahui calon-calon yang akan mereka pilih.
Pilpres di Amerika merupakan contoh yang baik. Hillary yang dikalahkan Obama dapat
menerima kekalahannya dan tidak mutung. Dan ketika Obama membutuhkannya sebagai
menteri luar negeri, Hillary menerimanya. Popularitas Elite
Capres yang lebih berpeluang adalah yang memiliki elektabilitas tinggi. Kemenangan calon lebih
ditentukan oleh popularitas dan simpati publik dibanding dukungan mesin politik. Beberapa hasil
survei memperlihatkan bahwa popularitas Presiden SBY masih yang tertinggi, dan Megawati di
tempat kedua. Setidaknya terdapat empat lembaga survei yang hasil penelitiannya menempatkan
SBY di tempat teratas, antara lain, Indo Barometer (31,3 persen), Reform Institute (42,18

persen), Puskaptis (37,57 persen), dan Lembaga Survei Indonesia (43 persen).
Popularitas SBY semakin tak tertandingi setidaknya setelah tiga hal. Pertama, gencar melakukan
iklan. Kedua, adanya pemberitaan yang menguntungkan seperti penghormatan SBY terhadap
supremasi hukum dalam kasus Aulia Pohan. Ketiga, membuat kebijakan-kebijakan populer.
Satu kenyataan yang sulit dibantah adalah bahwa popularitas SBY yang tinggi tersebut dicapai
dalam pemerintahan yang di dalamnya terdapat Jusuf Kalla. Namun demikian, seperti disebutkan
di atas, dalam berbagai survei yang dilakukan November 2008-Januari 2009 terlihat bahwa
popularitas Jusuf Kalla masih kalah dibanding SBY dan Megawati. Pada hampir semua survei,
Jusuf Kalla tidak ada di lima besar, kecuali pada survei Puskaptis. Dengan angka 3,76 persen,
Jusuf Kalla berada di peringkat kelima pada survei Puskaptis tersebut. Selain itu, beberapa
petinggi Partai Golkar lainnya, seperti: Ketua DPR Agung Laksono dan Ketua Dewan Penasihat
Partai Golkar Surya Paloh, juga lemah dalam hal popularitas baik di eksternal maupun internal
partai.
Oleh karena itu, Partai Golkar perlu benar-benar selektif dalam memilih capres yang akan
diusungnya. Survei sebagai metode awal yang akan dipakai Golkar untuk menjaring capres perlu
dipastikan berlangsung secara objektif dan dengan cakupan responden seluruh lapisan
masyarakat secara proporsional. Dengan demikian, yang terpilih dalam survei tersebut adalah
tokoh-tokoh yang benar-benar populer di masyarakat. Benturan kepentingan tentu terjadi di
dalam partai ataupun di luar partai berlambang pohon beringin tersebut. Oleh karena itu,
pengelolaan konflik kepentingan amat diperlukan, sehingga unintended consequence-nya adalah
tetap diusungnya capres sendiri.
Dengan demikian, Partai Golkar dapat masuk ke arena Pilpres 2009 dengan kepala tegap.
Sementara itu, publik dapat menyaksikan kontestasi yang berimbang dan memiliki alternatif
yang cukup.
Penulis adalah Direktur Eksekutif Soegeng Sarjadi Syndicate
Diposkan 4th August 2010 oleh BELAJAR POLITIK-HUKUM