Anda di halaman 1dari 14

ASUHAN KEBIDANAN PADA BALITA DENGAN

MARASMUS
MAKALAH
Untuk Memenuhi Tugas Matakuliah
Asuhan Neonatus, Bayi, Balita, dan Anak Pra Sekolah
Yang dibina oleh Ibu Naimah, S.KM., M.Kes.

Oleh
Kelompok 5 Kelas IIA :
Nuzula Irfa N.

(1302100022)

Briana Elvira A.(1302100023)


Silvia Putri S. D.

(1302100024)

Siti Mutoharoh

(1302100025)

Friska Danastri I.

(1302100026)

Ulul Izzati

(1302100027)

Allif Eka Fatmasari

(1302100028)

POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES MALANG


JURUSAN KEBIDANAN
PRODI D III KEBIDANAN MALANG
April 2014
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena dengan
rahmat dan petunjuk-Nya kami dapat menyelesaikan makalah ini yaitu Asuhan
Kebidanan pada Balita dengan Marasmus.
Makalah ini disusun berdasarkan tugas yang diberikan oleh Dosen Asuhan
Neonatus, Bayi, Balita, dan Anak Pra Sekolah ini disusun dengan harapan dapat
bermanfaat bagi semua kalangan dan terutama bagi penulis itu sendiri.
Ucapan terima kasih juga tak lupa kami haturkan kepada semua pihak yang telah
terlibat dalam penyusunan makalah ini, antara lain :
1. Tuhan Yang Maha Esa, karena dengan rahmat-Nya sehingga dapat menyelesaikan
makalah ini dengan lancar dan tanpa gangguan.
2. Dosen matakuliah Asuhan Neonatus, Bayi, Balita, dan Anak Pra Sekolah, yang
telah membimbing penulis dalam menyusun makalah ini.
3. Teman-teman yang telah membantu dalam menyelesaikan makalah.
Penulis menyadari makalah ini masih banyak memiliki kekurangan.Untuk itu,
penulis mengaharapkan kritik dan saran yang membangun dari semua pihak agar
kedepannya lebih baik lagi dalam menyusun sebuah makalah.

Malang, 31 Oktober 2014

Penulis

DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR...........................................................................................................
i
DAFTAR ISI.........................................................................................................................
ii
BAB I PENDAHULUAN.....................................................................................................
1
1.1 Latar Belakang.................................................................................................................
1
1.2 Rumusan Masalah............................................................................................................
1
1.3 Tujuan Penulisan..............................................................................................................
1
BAB II TEORI.....................................................................................................................
3
2.1 Pengertian Gizi Buruk......................................................................................................
3
2.2 Pengertian Marasmus.......................................................................................................
4
2.3 Etiologi Marasmus...........................................................................................................
4
2.4 Patofisiologi Marasmus...................................................................................................
5
2.5 Manifestasi Klinik Marasmus..........................................................................................
6
2.6 Komplikasi Marasmus.....................................................................................................
6
2.7 Pencegahan Marasmus.....................................................................................................
7
3

2.8 Penatalaksanaan Marasmus.............................................................................................


7
BAB III ASUHAN KEBIDANAN PADA BALITA...........................................................
8
3.1 Pengkajian........................................................................................................................
8
3.2 Perumusan Diagnosa dan Masalah .................................................................................
3.3 Perencanaan.....................................................................................................................
3.4 Pelaksanaan......................................................................................................................
3.5 Evaluasi............................................................................................................................
BAB IV PENUTUP..............................................................................................................
4.1 Simpulan..........................................................................................................................
4.2 Saran................................................................................................................................
DAFTAR PUSTAKA...........................................................................................................
LAMPIRAN
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Marasmus masih merupakan masalah di Indonesia, walaupun Pemerintah
Indonesia telah berupaya untuk menanggulanginya. Ditahun 90-an penduduk
Indonesia dikabarkan telah banyak menderita penyakit marasmus. Hal ini dapat
dipahami karena marasmus sering berhubungan dengan keadaan kepadatan
penduduk dan kebersihan yang kurang di daerah perkotaan yang sedang
membangun dan serta terjadinya krisis ekonomi di lndonesia.
Marasmus dapat terjadi pada segala umur, akan tetapi yang sering dijumpai
pada bayi yang tidak mendapat cukup ASI dan tidak diberi makanan penggantinya
atau sering diserang diare. Marasmus juga dapat terjadi akibat berbagai penyakit
lain seperti infeksi, kelainan bawaan saluran pencernaan atau jantung,
malabsorpsi, gangguan metabolik, penyakit ginjal menahun dan juga gangguan
pada saraf pusat. (Dr. Solihin, 1990:116).

Saat ini malnutrisi masih melatar belakangi penyakit dan kematian anak,
meskipun sering luput dari perhatian. Upaya Pemerintah dalam mengatasi
masalah ini antara lain melalui pemberian makanan tambahan dalam jaringan
pengaman sosial (JPS) dan peningkatan pelayanan gizi melalui pelatihanpelatihan tatalaksana gizi buruk kepada tenaga kesehatan untuk disebarluaskan
kepada masyarakat di seluruh Indonesia.
1.2 Rumusan Masalah
1.2.1 Apakah penertian gizi buruk?
1.2.2 Apakah pengertian marasmus?
1.2.3 Apa saja etiologi marasus?
1.2.4 Bagaimana patofisiologi marasmus?
1.2.5 Bagaimana manifestasi klinik dari marasmus?
1.2.6 Apa saja komplikasi yang diakibatkan oleh marasmus?
1.2.7 Bagaimana pencegahan marasmus?
1.2.8 Bagaimana penatalaksanaan dari marasmus?
1.3 Tujuan Penulisan
1.3.1 Mengetahui pengertian gizi buruk
1.3.2 Mengetahui pengertian marasmus
1.3.3 Mengetahui etiologi dari marasmus
1.3.4 Mengetahui patofisiologi marasmus
1.3.5 Mengetahui manifestasi klinik marasmus
1.3.6 Mengetahui komplikasi dari marasmus
1.3.7 Mengetahui cara pencegahan marasmus
1.3.8 Mengetahui penatalaksanaan marasmus

BAB II
TEORI
2.1 Pengertian Gizi Buruk
Gizi buruk merupakan status kondisi seseorang yang kekurangan nutrisi,
atau nutrisinya di bawah standar rata-rata. Gizi buruk adalah suatu kondisi di
mana seseorang dinyatakan kekurangan zat gizi, atau dengan ungkapan lain status
gizinya berada di bawah standar rata-rata. Zat gizi yang dimaksud bisa berupa
protein, karbohidrat dan kalori. Gizi buruk (severe malnutrition) adalah suatu
istilah teknis yang umumnya dipakai oleh kalangan gizi, kesehatan dan
kedokteran. Gizi buruk adalah bentuk terparah dari proses terjadinya kekurangan
gizi menahun (Nency, 2005).
Status gizi buruk dibagi menjadi tiga bagian, yakni gizi buruk karena
kekurangan protein (disebut kwashiorkor), karena kekurangan karbohidrat atau

kalori protein (disebut marasmus), dan kekurangan kedua-duanya. Gizi buruk ini
biasanya terjadi pada anak balita (bawah lima tahun).
Anak balita (bawah lima tahun) sehat atau kurang gizi dapat diketahui dari
pertambahan berat badannya tiap bulan sampai usia minimal 2 tahun (baduta).
Apabila pertambahan berat badan sesuai dengan pertambahan umur menurut suatu
standar organisasi kesehatan dunia, dia bergizi baik. Kalau sedikit dibawah
standar disebut bergizi kurang yang bersifat kronis. Apabila jauh dibawah standar
dikatakan bergizi buruk. Jadi istilah gizi buruk adalah salah satu bentuk
kekurangan gizi tingkat berat atau akut (Pardede, J, 2006).
Klasifikasi kurang gizi bervariasi. Di klinik dipakai istilah malnutrisi energy
protein (MEP), sebgai istilah umum kurang gizi. Penentuan MEP yang tepat dapat
dilakukan dengan pengukuran antropometri yang lengkap (seperti mengukur
tinggi dan berat badan, lingkar lengan atas, tebal lipatan kulit) dan dibantu dengan
pemeriksaan laboraturium. Klasifikasi MEP dengan patokan membandingkan
berat badan terhadap umur yang serinng digunakan, adalah:
a. Berat badan > 120 % baku, diklasifikasikan gizi lebih.
b. Berat badan 80-120% baku, diklasifikasikan gizi cukup/baik.
c. Berat badan 60-80% baku, tanpa edema, diklasifikasikan gizi kurang
(MEP ringan)
d. Berat badan 60-80% baku, dengan edema, diklasifikasikan kwashiorkor
(MEP berat)
e. Berat badan <60% baku, dengan edema, diklasifikasikan maramikkwasiorkor (MEP berat)
f. Berat badan <60% baku, tanpa edema, diklasifikasikan marasmus (MEP
berat).
Klasifikasi lainnya, adalah kurang gizi pada anak dibagi menjadi tiga, yaitu:
a. Kurang Energi Protein Ringan: pada tahap ini, belum ada tanda-tanda
khusus yang dapat dilihat dengan jelas, tetapi berat badan anak hanya
mencapai 80% dari berat badan normal.
b. Kurang Energi Protein Sedang: pada tahap ini, berat badan anak hanya
mencapai 70% dari berat badan normal, disertai tanda lain yang jelas
antara lain adalah wajah menjadi pucat, dan warna rambut berubah agak
kemerahan.

c. Kurang Energi Protein Berat, yang dibagi 2, yaitu:


1. Marasmus. Tanda pada marasmus ini adalah berat badan anak hanya
mencapai 60% atau kurang dari berat badan normal
2. Kwashiorkor. Selain berat badan, ada beberapa tanda lainnya yang
bisa secara langsung terlihat, antara lain adalah kaki mengalami
pembengkakan, rambut berwarna merah dan mudah dicabut, mata
menjadi rabun dll.
2.2 Pengertian Marasmus
Marasmus adalah suatu penyakit yang disebabkan oleh kekurangan kalori
protein. Selain itu, marasmus adalah malnutrisi berat pada bayi sering ada di
daerah dengan makanan tidak cukup atau higiene kurang. Sinonim marasmus
diterapkan pada pola penyakit klinis yang menekankan satu ayau lebih tanda
defisiensi protein dan kalori.
Zat gizi adalah zat yang diperoleh dari makanan dan digunakan oleh tubuh
untuk pertumbuhan, pertahanan dan atau perbaikan. Zat gizi dikelompokkan
menjadi karbohidrat, lemak, protein, vitamin, mineral dan air.
Dapat di simpulkan bahwa marasmus adalah bentuk malnutrisi kalori protein
yang terutama akibat kekurangan kalori yang berat dan kronis serta mengurusnya
lemak bawah kulit dan otot.
2.3 Etiologi Marasmus
Marasmus ialah suatu bentuk kurang kalori-protein yang berat. Keadaan ini
merupakan hasil akhir dari interaksi antara kekurangan makanan dan penyakit
infeksi. Selain faktor ling-kungan, ada beberapa faktor lain pada diri anak sendiri
yang dibawa sejak lahir, diduga berpengaruh terhadap terjadinya marasmust
Secara garis besar sebab-sebab marasmus ialah sebagai berikut:

Masukan makanan yang kurang.


Marasmus terjadi akibat masukan kalori yang sedikit,pemberian
makanan yang tidak sesuai dengan yang dianjurkan akibat dari
ketidaktahuan orang tua si anak; misalnya pemakaian secara luas susu

kaleng yang terlalu encer.


Infeksi

Infeksi yang berat dan lama menyebabkan marasmus,terutama infeksi


enteral

misalnya

infantil

gastroenteritis,

bronkhopneumonia,

pielonephritis dan sifilis kongenital.


Kelainan struktur bawaan
Misalnya: penyakit jantung bawaan, penyakit Hirschprung,deformitas
palatum, palatoschizis, micrognathia, stenosispilorus, hiatus hernia,

hidrosefalus, cystic fibrosis pancreas.


Prematuritas dan penyakit pada masa neonates
Pada keadaan-keadaan tersebut pemberian ASI yang kurang.
Pemberian ASI
Pemberian ASI yang terlalu lama tanpa pemberian makanan tambahan

yang cukup.
Gangguan metabolic
Misalnya: renal asidosis, idiopathic hypercalcemia, galactosemia, lactose

intolerance.
Tumor hypothalamus
Jarang dijumpai dan baru ditegakkan bila penyebab marasmus yang lain

telah disingkirkan.
Penyapihan
Penyapihan yang terlalu dini disertai dengan pemberian makanan yang

kurang akan menimbulkan marasmus.


Urbanisasi
Urbanisasi mempengaruhi dan merupakan predisposisi untuk timbulnya
marasmus; meningkatnya arus urbanisasi diikuti pula perubahan
kebiasaan penyapihan dini dan kemudi-an diikuti dengan pemberian
susu manis dan susu yang terlaluencer akibat dari tidak mampu membeli
susu; dan bila disertaidengan infeksi berulang, terutama gastro enteritis
akan menyebabkan anak jatuh dalam marasmus.

2.4 Patofisiologi Marasmus


Kurang kalori protein akan terjadi manakala kebutuhan tubuh akan kalori,
protein, atau keduanya tidak tercukupi oleh diet. Dalam keadaan kekurangan
makanan, tubuh selalu berusaha untuk mempertahankan hidup dengan memenuhi
kebutuhan pokok atau energi. Kemampuan tubuh untuk mempergunakan
karbohidrat, protein dan lemak merupakan hal yang sangat penting untuk
mempertahankan kehidupan, karbohidrat (glukosa) dapat dipakai oleh seluruh

jaringan tubuh sebagai bahan bakar, sayangnya kemampuan tubuh untuk


menyimpan karbohidrat sangat sedikit, sehingga setelah 25 jam sudah dapat
terjadi kekurangan. Akibatnya katabolisme protein terjadi setelah beberapa jam
dengan menghasilkan asam amino yang segera diubah jadi karbohidrat di hepar
dan ginjal. Selam puasa jaringan lemak dipecah menjadi asam lemak, gliserol dan
keton bodies. Otot dapat mempergunakan asam lemak dan keton bodies sebagai
sumber energi kalau kekurangan makanan ini berjalan menahun. Tubuh akan
mempertahankan diri jangan sampai memecah protein
2.5 Manifestasi Klinik Marasmus
Pada mulanya ada kegagalan menaikkan berat badan, disertai dengan
kehilangan berat badan sampai berakibat kurus,dengan kehilangan turgor pada
kulit sehingga menjadi berkerut dan longgar karena lemak subkutan hilang dari
bantalan pipi, muka bayi dapat tetap tampak relatif normal selama beberaba waktu
sebelum menjadi menyusut dan berkeriput. Abdomen dapat kembung dan datar.
Terjadi atropi otot dengan akibat hipotoni. Suhu biasanya normal, nadi mungkin
melambat, mula-mula bayi mungkin rewe, tetapi kemudian lesu dan nafsu makan
hilang. Bayi biasanya konstipasi, tetapi dapat muncul apa yang disebut diare tipe
kelaparan, dengan buang air besar sering, tinja berisi mukus dan sedikit.
(Nelson,1999).
Selain itu manifestasi marasmus adalah sebagai berikut :
- Badan kurus kering tampak seperti orangtua
- Lethargi
- Irritable
- Kulit keriput (turgor kulit jelek)
- Ubun-ubun cekung pada bayi
- Jaingan subkutan hilang
- Malaise
- Kelaparan
- Apatis
2.6 Komplikasi Marasmus

10

Komplikasi pada penderita marasmus antara lain infeksi, tuberculosis,


parasitosis, disentri, malnutrisi kronik, gangguan tumbuh kembang.
2.7 Pencegahan Marasmus
Tindakan pencegahan terhadap marasmus dapat dilaksanakan dengan baik
bila penyebab diketahui.Usaha-usaha tersebut memerlukan sarana dan prasarana
kesehatan yang baik untuk pelayanan kesehatan dan penyuluhan gizi.
a. Pemberian air susu ibu (ASI) sampai umur 2 tahun merupakan sumber
energi yang paling baik untuk bayi.
b. Ditambah dengan pemberian makanan tambahan yang bergizi pada umur 6
tahun ke atas.
c. Pencegahan penyakit infeksi, dengan meningkatkan kebersihan lingkungan
dan kebersihan perorangan.
d. Pemberian imunisasi.
e. Mengikuti program keluarga berencana untuk mencegah kehamilan terlalu
kerap.
f. Penyuluhan/pendidikan gizi tentang pemberian makanan yang adekuat
merupakan usaha pencegahan jangka panjang.
g. Pemantauan (surveillance) yang teratur pada anak balita di daerah yang
endemis kurang gizi, dengan cara penimbangan berat badan tiap bulan.
2.8 Penatalaksanaan Marasmus
Tujuan pengobatan pada penderita marasmus adalah pemberian diet tinggi
kalori dan tinggi protein serta mencegah kekambuhan. Pada balita dengan
marasmus perlu dilakukan pengkajian tentasng status sosial ekonomi, riwayat pola
makan, antropometri, manifestasi klinis,ntimbang berat badan dan kaji tandatanda vital. Selan itu diperlukan dietyang berisi cukup protein dengan kulaitas
yang baik, tinggi kalori, mineral, dan vitamin.
Berikut ini merupakan penatalaksanaaan pada balita yang mengalami
marasmus, antara lain adalah:
a. Meningkatkan pengetahuan orag tua mengenai gizi
b. Melakukan pengobatan kepada di anak dengan meberikan makanan yang
dapat menjadikan status gizi anak menjadi lebih baik
c. Dilakukan pemilihan makanan yang baik untuk balita. Makanan yang baik
adalah makanan yang kuantitas dan kualitasnya baik. Makanan yang
11

kuantitasnya baik adalah makanan yang diberika sesuai dengan kebutuhan


anak, sedangkan makanan yang kualitasnya baik adalah makanan yang
mengandung semua zat gizi, antara lain protein, karbohidrat, zat besi, dan
mineral.
.

Penderita marasmus tanpa komplikasi dapat berobat jalan asal diberi

penyuluhan mengenai pemberian makanan yang baik; sedangkan penderita yang


mengalami komplikasi serta dehidrasi, syok, asidosis dan lain-lain perlu mendapat
perawatan di rumah sakit. Penatalaksanaan penderita yang dirawat di RS dibagi
dalam beberapa tahap:
1. Tahap awal yaitu 24-48 jam pertama merupakan masa kritis, yaitu
tindakan untuk menyelamatkan jiwa, antara lain mengkoreksi keadaan
dehidrasi atau asidosis dengan pemberian cairan intravena. Cairan yang
diberikan ialah larutan Darrow-Glucosa atau Ringer Lactat Dextrose 5%.
Cairan diberikan sebanyak 200 ml/kg BB/hari. Mula-mula diberikan 60
ml/kg BB pada 4-8 jam pertama. Kemudian 140 ml sisanya diberikan
dalam 16-20 jam berikutnya.
2. Tahap kedua yaitu penyesuaian. Sebagian besar penderita tidak
memerlukan koreksi cairan dan elektrolit, sehingga dapat langsung dengan
penyesuaian terhadap pemberian makanan.Pada hari-hari pertama jumlah
kalori yang diberikan sebanyak 30-60 kalori/kg BB/hari atau rata-rata 50
kalori/kg BB/hari, dengan protein 1-1,5 g/kg BB/hari. Jumlah ini
dinaikkan secara berangsur-angsur tiap 1-2 hari sehingga mencapai 150175 kalori/kg BB/hari dengan protein 3-5 g/kgBB/hari. Waktu yang
diperlukan untuk mencapai diet tinggi.

12

BAB IV
PENUTUP
4.1 Simpulan
Marasmus adalah salah satu bentuk gizi buruk yang paling sering ditemui
pada balita terutama di daerah perkotaan. Penyebabnya merupakan multifaktorial
antara lain masukan makanan yang kurang, faktor penyakit dan faktor lingkungan.
Diagnosis ditegakkan berdasarkan gambaran klinis dan untuk menentukan
penyebab perlu anamnesis makanan dan penyakit yang lalu.
Pencegahan terhadap marasmus ditujukan pada penyebab dan memerlukan
pelayanan kesehatan dan penyuluhan yang baik. Pengobatan marasmus ialah
pemberian diet, tinggi kalori dan tinggi protein, dan penatalaksanaan di rumah
sakit dibagi atas tahap awal, tahap penyesuaian, dan rehabilitasi.
4.2 Saran-saran
Kepada petugas kesehatan terutama bidan diharapkan melakukan upaya
pencegahan marasmus dengan memberikan penyuluhan dan edukasi pada
masyarakat agar memperhatikan asupan gizi balita sehingga kejadian marasmus
bisa diminimalisir. Sedangkan asuhan kebidanan pada balita dengan marasmus,
bidan diharapkan memberikan informasi dan edukasi mengenai gizi seimbang

13

untuk tumbuh kembang anak dengan tujuan mengembalikan anak ke kondisi


normal bila perlu dilakukan kolaborasi ataupun rujukan dengan dokter.
Dalam upaya meningkatkan kesehatan masyarakat, terutama agar terhindar
dari penyakit marasmus diharapkan kepada setiap individu untuk mengetahui dan
menyadari pentingnya pemenuhan gizi seimbang pada balita.

DAFTAR PUSTAKA
Maryunani, Anik. 2010. Ilmu Kesehatan Anak Dalam Kebidanan. Jakarta: TIM.
Rukiyah, Ai Yeyeh. 2012. Asuhan Neonatus Bayi dan Balita. Jakarta: TIM.
Jannah, Nurul. 2011. Konsep Dokumentasi Kebidanan. Jogyakarta: Ar-Ruzz
Media.

14