Anda di halaman 1dari 8

MEKANIKA FLUIDA

Mekanika fluida adalah subdisiplin dari mekanika kontinum yang mempelajari


fluida (yang dapat berupa cairan dan gas). Mekanika fluida dapat dibagi menjadi
fluida statik dan fluida dinamik. Fluida statis mempelajari fluida pada keadaan
diam sementara fluida dinamis mempelajari fluida yang bergerak.

Hubungan dengan mekanika kontinum


Mekanika fluida biasanya dianggap subdisiplin dari mekanika kontinum, seperti
yang diilustrasikan pada tabel berikut.

Mekanika
kontinum:
studi
fisika
dari
material kontinu

Mekanika solid: studi


fisika dari material
kontinu dengan
bentuk tertentu.

Elastisitas: menjelaskan material


yang kembali ke bentuk awal
setelah diberi tegangan.

Mekanika fluida:
studi fisika dari
material kontinu
yang bentuknya
mengikuti bentuk
wadahnya.

Fluida nonNewtonian

Plastisitas:
menjelaskan
material yang
secara permanen
terdeformasi setelah
diberi tegangan
dengan besar
tertentu

Reologi: studi
material
yang
memiliki
karakteristik
solid dan
fluida.

Fluida Newtonian

Dalam pandangan secara mekanis, sebuah fluida adalah suatu substansi yang
tidak mampu menahan tekanan tangensial. Hal ini menyebabkan fluida pada
keadaan diamnya berbentuk mengikuti bentuk wadahnya.

Asumsi Dasar
Seperti halnya model matematika pada umumnya, mekanika fluida membuat beberapa
asumsi dasar berkaitan dengan studi yang dilakukan. Asumsi-asumsi ini kemudian

diterjemahkan ke dalam persamaan-persamaan matematis yang harus dipenuhi bila asumsiasumsi yang telah dibuat berlaku.

Mekanika fluida mengasumsikan bahwa semua fluida mengikuti:

Hukum kekekalan massa

Hukum kekekalan momentum

Hipotesis kontinum, yang dijelaskan di bagian selanjutnya.

Kadang, akan lebih bermanfaat (dan realistis) bila diasumsikan suatu fluida bersifat
inkompresibel. Maksudnya adalah densitas dari fluida tidak berubah ketika diberi tekanan.
Cairan kadang-kadang dapat dimodelkan sebagai fluida inkompresibel sementara semua gas
tidak bisa.
Selain itu, kadang-kadang viskositas dari suatu fluida dapat diasumsikan bernilai nol (fluida
tidak viskos). Terkadang gas juga dapat diasumsikan bersifat tidak viskos. Jika suatu fluida
bersifat viskos dan alirannya ditampung dalam suatu cara (seperti dalam pipa), maka aliran
pada batas sistemnya mempunyai kecepatan nol. Untuk fluida yang viskos, jika batas
sistemnya tidak berpori, maka gaya geser antara fluida dengan batas sistem akan memberikan
resultan kecepatan nol pada batas fluida.

Hipotesis kontinum
Fluida disusun oleh molekul-molekul yang bertabrakan satu sama lain. Namun demikian,
asumsi kontinum menganggap fluida bersifat kontinu. Dengan kata lain, properti seperti
densitas, tekanan, temperatur, dan kecepatan dianggap terdefinisi pada titik-titik yang sangat
kecil yang mendefinisikan REV (Reference Element of Volume) pada orde geometris jarak
antara molekul-molekul yang berlawanan di fluida. Properti tiap titik diasumsikan berbeda
dan dirata-ratakan dalam REV. Dengan cara ini, kenyataan bahwa fluida terdiri dari molekul
diskrit diabaikan.
Hipotesis kontinum pada dasarnya hanyalah pendekatan. Sebagai akibatnya, asumsi hipotesis
kontinum dapat memberikan hasil dengan tingkat akurasi yang tidak diinginkan. Namun
demikian, bila kondisi benar, hipotesis kontinum menghasilkan hasil yang sangat akurat.
Masalah akurasi ini biasa dipecahkan menggunakan mekanika statistik. Untuk menentukan
perlu menggunakan dinamika fluida konvensial atau mekanika statistik, angka Knudsen
permasalahan harus dievaluasi. Angka Knudsen didefinisikan sebagai rasio dari rata-rata
panjang jalur bebas molekular terhadap suatu skala panjang fisik representatif tertentu. Skala
panjang ini dapat berupa radius suatu benda dalam suatu fluida. Secara sederhana, angka
Knudsen adalah berapa kali panjang diameter suatu partikel akan bergerak sebelum menabrak
partikel lain.

Bentuk umum persamaan

Bentuk umum persamaan Navier-Stokes untuk kekekalan momentum adalah :

di mana :

adalah densitas fluida,

adalah derivatif substantif (dikenal juga dengan istilah derivatif dari


material)
adalah vektor kecepatan,

f adalah vektor gaya benda, dan

adalah tensor yang menyatakan gaya-gaya permukaan yang bekerja


pada partikel fluida.

adalah tensor yang simetris kecuali bila fluida tersusun dari derajat kebebasan yang
berputar seperti vorteks. Secara umum, (dalam tiga dimensi) memiliki bentuk persamaan:

di mana :

adalah tegangan normal, dan

adalah tegangan tangensial (tegangan geser).

Persamaan di atas sebenarnya merupakan sekumpulan tiga persamaan, satu persamaan untuk
tiap dimensi. Dengan persamaan ini saja, masih belum memadai untuk menghasilkan hasil
penyelesaian masalah. Persamaan yang dapat diselesaikan diperoleh dengan menambahkan
persamaan kekekalan massa dan batas-batas kondisi ke dalam persamaan di atas.
Fluida Newtonian vs. non-Newtonian

Sebuah Fluida Newtonian (dinamakan dari Isaac Newton) didefinisikan sebagai fluida yang
tegangan gesernya berbanding lurus secara linier dengan gradien kecepatan pada arah tegak
lurus dengan bidang geser. Definisi ini memiliki arti bahwa fluida newtonian akan mengalir

terus tanpa dipengaruhi gaya-gaya yang bekerja pada fluida. Sebagai contoh, air adalah fluida
Newtonian karena air memiliki properti fluida sekalipun pada keadaan diaduk.
Sebaliknya, bila fluida non-Newtonian diaduk, akan tersisa suatu "lubang". Lubang ini akan
terisi seiring dengan berjalannya waktu. Sifat seperti ini dapat teramati pada material-material
seperti puding. Peristiwa lain yang terjadi saat fluida non-Newtonian diaduk adalah
penurunan viskositas yang menyebabkan fluida tampak "lebih tipis" (dapat dilihat pada cat).
Ada banyak tipe fluida non-Newtonian yang kesemuanya memiliki properti tertentu yang
berubah pada keadaan tertentu.

Persamaan pada fluida Newtonian

Konstanta yang menghubungkan tegangan geser dan gradien kecepatan secara linier dikenal
dengan istilah viskositas. Persamaan yang menggambarkan perlakuan fluida Newtonian
adalah:

di mana :
adalah tegangan geser yang dihasilkan oleh fluida
adalah viskositas fluida-sebuah konstanta proporsionalitas

adalah gradien kecepatan yang tegak lurus dengan arah geseran

Viskositas pada fluida Newtonian secara definisi hanya bergantung pada temperatur dan
tekanan dan tidak bergantung pada gaya-gaya yang bekerja pada fluida. Jika fluida bersifat
inkompresibel dan viskositas bernilai tetap di seluruh bagian fluida, persamaan yang
menggambarkan tegangan geser (dalam koordinat kartesian) adalah

di mana :
ij adalah tegangan geser pada bidang ith dengan arah jth
vi adalah kecepatan pada arah ith
jth xj adalah koordinat berarah

Jika suatu fluida tidak memenuhi hubungan ini, fluida ini disebut fluida non-Newtonian.

FLUIDA DINAMIS
Sifat Fluida Ideal:
-

tidak dapat ditekan (volume tetap karena tekanan)


dapat berpindah tanpa mengalami gesekan
mempunyai aliran stasioner (garis alirnya tetap bagi setiap partikel)
kecepatan partikel-partikelnya sama pada penampang yang sama

HUKUM BERNOULLI
Hukum ini diterapkan pada zat cair yang mengalir dengan kecepatan berbeda dalam
suatu pipa.

P + g Y + 1/2 v2 = c
P = tekanan
1/2 v2 = Energi kinetik
g y = Energi potensial

tiap satuan
waktu

CEPAT ALIRAN (DEBIT AIR)


Cepat aliran (Q) adalah volume fluida yang dipindahkan tiap satuan waktu.
Q=A.v
A1 . v1 = A2 . v2
v = kecepatan fluida (m/det)
A = luas penampang yang dilalui fluida
Untuk zat cair yang mengalir melalui sebuah lubang pada tangki, maka besar
kecepatannya selalu dapat diturunkan dari Hukum Bernoulli, yaitu:

v = 2gh)

h = kedalaman lubang dari permukaan zat cair

FLUIDA STATIS
Fluida ( zat alir ) adalah zat yang dapat mengalir, misalnya zat cair dan gas. Fluida
dapat digolongkan dalam dua macam, yaitu fluida statis dan dinamis.

TEKANAN HIDROSTATIS
Tekanan hidrostatis ( Ph) adalah tekanan yang dilakukan zat cair pada bidang dasar
tempatnya.

PARADOKS HIDROSTATIS
Gaya yang bekerja pada dasar sebuah bejana tidak tergantung pada bentuk bejana dan
jumlah zat cair dalam bejana, tetapi tergantung pada luas dasar bejana ( A ),
tinggi
( h ) dan massa jenis zat cair ( )
dalam bejana.
Ph = g h
Pt = Po + Ph
F = P h A = G v
= massa jenis zat cair
h = tinggi zat cairdari permukaan
g = percepatan gravitasi
Pt = tekanan total
Po = tekanan udara luar
HUKUM PASCAL
Tekanan yang dilakukan pada zat cair akan diteruskan ke semua arah sama.
P1 = P2 F1/A1 = F2/A2
HUKUM ARCHIMEDES
Benda di dalam zat cair akan mengalami pengurangan berat sebesar berat zat cair yang
dipindahkan.
Tiga keadaan benda di dalam zat cair:
a. tenggelam: W>F b > z
b. melayang: W = F b = z
c. terapung: W=F b.V=z.V' ;b<z
W = berat benda
F = gaya ke atas = z . V' . g
b = massa jenis benda
z = massa jenis fluida
V = volume benda
V' = volume benda yang berada dalam fluida

#Akibat adanya gaya ke atas ( F ), berat benda di dalam zat cair (Wz) akan
berkurang menjadi:
Wz = W - F
Wz = berat benda di dalam zat cair
TEGANGAN PERMUKAAN
Tegangan permukaan ( ) adalah besar gaya ( F ) yang dialami pada permukaan
zat cair persatuan panjang(l)

= F / 2l

KAPILARITAS
Kapilaritas ialah gejala naik atau turunnya zat cair ( y ) dalam tabung kapiler
yang dimasukkan sebagian ke dalam zat cair karena pengarah adhesi dan
kohesi.
y = 2 cos / g r
y = kenaikan/penurunan zat cair pada pipa (m)
= tegangan permukaan (N/m)
= sudut kontak (derajat)
p = massa jenis zat cair (kg / m3)
g = percepatan gravitas (m / det2)
r = jari-jari tabung kapiler (m)

Fluida superkritikal
Fluida superkritikal adalah zat yang berada pada suhu dan tekanan di atas
titik kritikal termodinamika. Zat ini memiliki kemampuan unik untuk berdifusi
melalui benda padat seperti gas, dan melarutkan benda seperti cairan. Dan dia
juga dapat mengubah kepadatannya bila mengubah sedikit suhu dan
tekanannya. Sifat seperti ini membuatnya cocok sebagai pengganti pelarut
organik dalam proses yang disebut Ekstraksi fluid superkritikal. Karbon dioksida
dan air adalah fluida yang paling umum digunakan.

Secara umumnya, fluida superkritikal mempunyai properti antara gas dan uap. Tabel 1
mencantumkan sifat-sifat utama dari beberapa komponen, yang umumnya dipakai sebagai
fluida kritikal.
Table 1. Properti dari berbagai solven fluida kritikal (Reid et al, 1987)

solvens

Berat
Molekul
g/mol
44.01

Suhu Kritis
K

Tekanan Kritis
MPa (atm)
7.38 (72.8)

kepadatan
Kritis
g/cm3
0.469

Karbon dioksida
304.1
(CO2)
Air (H2O)
18.02
647.3
22.12 (218.3)
0.348
Metana (CH4)
16.04
190.4
4.60 (45.4)
0.162
Etana (C2H6)
30.07
305.3
4.87 (48.1)
0.203
Propana (C3H8) 44.09
369.8
4.25 (41.9)
0.217
Etilena (C2H4)
28.05
282.8
5.04 (49.7)
0.215
Propilena (C3H6) 42.08
364.9
4.60 (45.4)
0.232
Methanol
32.04
512.6
8.09 (79.8)
0.272
(CH3OH)
Ethanol(C2H5OH) 46.07
513.9
6.14 (60.6)
0.276
Aseton (C3H6O) 58.08
507.1
4.70 (46.4)
0.278
Table 2 shows density, diffusivity and viscosity for typical liquids,
gasses and supercritical fluids
Gases
Supercritical
Fluids
Liquids

Density (kg/m3)
1
100-1000

Viscosity (Pas)
10
50-100

Diffusivity (mm/s)
1-10
0.01-0.1

1000

500-1000

0.001