Anda di halaman 1dari 7

METODE PERANCANGAN II

RUMAH TINGGAL BERONGGA


Disusun Sebagai Tugas Mata Kuliah
METODE PERANCANGAN II
Dosen Pembimbing :L.H.Parulian Siregar,S.T.,M.T
Alamat Email : parulian70@yahoo.com

DISUSUN OLEH:
Nama

: Delsy Oktarina (1311025)

Jurusan

: Teknik Arsitektur

SEKOLAH TINGGI TEKNIK MUSI PALEMBANG


JURUSAN TEKNIK ARSITEKTUR
Alamat: Jln. Bangau no. 60 Palembang
Tahun Ajaran 2013/2014

PENDAHULUAN
Rumah adalah sebuah tempat yang sangat penting bagi manusia untuk di huni maupun
ditempati. Untuk itu sebuah rumah harus memiliki kenyamanan bagi penghuni yang tinggal.
Dalam membangun serta merancang rumah, terkadang membutuhkan waktu yang cukup
lama. Tetapi hal tersebut sebanding dengan hasil yang akan kita nikmati seumur hidup. Untuk
membangun rumah, maka diperlukan jasa arsitek untuk mewujudkan rumah idaman keluarga
yang menjadi prioritas utama. Seorang arsitek harus mendengarkan dengan saksama setiap
detail permasalahan dan kebutuhan masing-masing keluarga/ penghuni rumah tersebut. Tiap
penghuni tentunya mempunyai kebutuhan ruang yang berbeda-beda. Dari sini para arsitek
akan berusaha mencari solusi agar hunian dapat mewadahi kebutuhan setiap anggota
keluarga.
Salah satu arsitek dari sekian banyak arsitek yang ada di Indonesia adalah Andy
Rahman .A, ST. IAI. Andy adalah lulusan arsitektur ITS (Institut Teknologi Sepuluh
Nopember) Surabaya tahun 2004 dan 2005. Andy Rahman sendiri adalah lulusan peraih
predikat Tugas Akhir Terbaik Jurusan Arsitektur Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS)
Surabaya tahun 2004, serta salah satu penggiat komunitas deMAYA (Desainer Muda
Surabaya). Kesamaan visi dan misi lah yang membuat Andy Rahman mampu menelurkan
karya karya yang pogresif, up to date namun tetap kontekstual. Lebih dari 100 desainnya
tersebar di seluruh Indonesia. Andy Rahman memiliki karakter khusus dalam desain yaitu
inovatif, segar dan konsep desainnya mencerminkan konsep modern kontemporer yang kuat.
Dalam rancangan rumah tinggalnya didesain dengan bentuk yang simpel, tampilan fasade
yang segar, dan juga modern. bentuk modern dapat dilihat dari bentuk garis geometri yang
kuat pada fasad serta penataan ruang yang efisien. Ditambah dengan konsistensi rancangan
yang selaras dengan alam membuat rancangannya terkesan nyaman dan asri. Rumah tinggal
hasil karya Andy Rahman sangat menarik. Dia banyak melakukan eksperimen terutama pada
bagian fasade serta penggunaan atap pelana dan datar yang simpel. Beberapa rumah bahkan
didesain box yang lekat dengana gaya modern. Permainan bentuk maju mundur, penggunaan
warna warna yang cerah sebagai aksen membuat rumah tinggal itu lebih muda, ceria dan
atraktif. Untuk merancang sebuah rumah, Andy Rahman lebih mengutamakan kebutuhan dan
permintaan klien. Salah satu hasil rancangannya adalah Rumah tinggal berongga.

RUMAH TINGGAL BERONGGA

Gambar 1. Detail roster pada fasade

Rumah ini bertempat di Gubeng Kertajaya , Surabaya disebuah jalan kampung yang
kecil dan cukup ramai. Rumah ini juga memiliki luas tanah 175/140m atau menempati lahan
seluas 7 x 25m. Pemilik rumah ini (klient) merupakan warga negara inggris yang memiliki
selera yang sangat unik untuk membangun rumah tinggalnya. Di karenakan selera yang unik
dari klient, klient tidak menginginkan rumah yang hanya sekedar mengikuti trend atau rumah
yang sedang populer saat ini seperti kebanyakan rumah yang hanya mengikuti trend ato
model lainnya. Namun klient memiliki gambaran sendiri bagaimana nanti rumah yang dia
inginkan. Klient menginginkan arsitek Andy Rahman bahwa rumah tinggal yang akan dia
tempati harus dibuat personal sesuai dengan kebiasaan dan jiwa dari pemiliknya (klient).
Dikarenakan klient tinggal untuk jangka waktu yang lama di kampung Indonesia, klient juga
mengamati dan memperhatikan rumah rumah kampung yang sederhana tetapi tetap guna,
cantik alami, akrab dan tidak dibuat-buat. Yang menurutnya sangat menarik untuk dijadikan
sumber ide ke dalam desain rumah tinggalnya. Visi klien yang demikian kuat menjadi
tantangan tersendiri dalam proses desain untuk rumah tinggal ini, bahkan memerlukan waktu
hingga 4 bulan. Sekilas,pada perkampungan itu suasana sama seperti pedesaan dimana pada
perkampungan terdapat bambu, serta rumah yang terbuat dari anyaman, sehingga arsitek
menanggapi bentuk fasad yang mencolok dari tampilan rumah yaitu dengan adanya ronggarongga yang terbentuk dari krawangan (roster) dengan lubang-lubang acak yang memenuhi
bidang depan. Rongga-rongga tersebut sebagai perwujudan baru dari gedheg (dinding dari
anyaman bambu) yang banyak dipakai di kampung-kampung, rongga yang masih memberi
ruang bagi udara agar bisa mengalir bebas keluar-masuk rumah.

Gambar 2. exterior view 1

Gambar 3. exterior view 2

Krawangan (roster) yang mendominasi bukaan dinding-dinding di keempat sisi rumah


ini. Dalam satu lingkungan kampung, setiap rumah di buat ada jarak pada sisi kiri dan
kanannya untuk orang lewat. Sehingga Hal rumah ini tidak di buat berimpit dengan rumah
disisi kiri dan kanannya tetapi diberi jarak 80 cm sebagai lorong yang dapat digunakan
sebagai sirkulasi orang. Dengan bentuk rumah yang tipis atau slim, maka hal ini dapat

menimbulkan cross ventilation (penghawaan silang) dapat berlangsung dengan baik untuk
ruang dalam walau pintu dan jendela sedang tertutup. Roster ini juga bisa berfungsi sebagai
pencahayaan alami yang masuk ke seluruh ruangan dengan leluasa. Selain itu klien
mengiginkan agar rumah tinggal itu hanya dibuat 40 persen dari luas lahan, sehingga masih
menyisakan halaman belakang sepanjang 10 meter, cukup luas untuk dijadikan taman terbuka
hijau. Padahal harga per meter tanah di daerah tersebut sangat tinggi. Hal itu tentunya
semakin mengoptimalkan cross ventilation yang ada, sehingga udara dalam rumah menjadi
tidak panas, sejuk meskipun tanpa menggunakan AC. Karena tanaman dan pepohonan
tersebut mampu menurunkan suhu disekitar rumah. Di sisi lain, dalam penggunaan roster
tentu ada resiko masuknya nyamuk ke dalam rumah, tetapi klien sudah mengantisipasi
dengan rencana menanam banyak bunga lavender sebagai penghalau nyamuk secara alami
serta menambah kawat nyamuk pada setiap lobang. Untuk memperkuat kesan berongga,
maka pagar depan rumah dibuat dari bahan metal perforated yang secara visual tidak
menghalangi pandangan dan udara juga masih bisa keluar-masuk melewatinya meskipun
pagar itu dalam keadaan tertutup.

Gambar 4. Ruang keluarga


keinginan klien yang lain yaitu, orang yang memasuki rumah ini harus bersiap-siap
dengan sebuah kejutan/foyer sehingga arsitek menanggapi dengan dibuat sempit pada bagian
depan, hanya ada plesteran yang ditinggikan (badhugan) sebagai tempat duduk yang bagian
bawahnya digunakan untuk rak sepatu, lalu dihadapkan pada sebuah lorong kecil menuju
ruang keluarga dimana ruang keluarga mempunyai luas yang lebih besar sehingga orang akan
merasakan kelegaan dan keluasan ruang yang lepas hingga ke bagian belakang. Di dalam
rumah, kesan unfinished akan semakin terlihat dan terasa. Ide unfinished ini juga mengambil
dari rumah kampung yang memang sering dibuat unfinished, yang justru menjadi kekuatan
karakternya. Antara lain terlihat pada lantai yang dibuat dari plesteran biasa, tidak memakai
keramik atau penutup lantai yang mahal. Juga dinding yang hanya dari plesteran dan acian
tanpa dicat, bahkan beberapa bagian dinding dalam rumah dan juga dinding pembatas
dibiarkan berupa bata ekspos, yang justru menjadi view yang menarik dari dalam rumah.
Dengan penyelesain yang unfinished seperti ini, maka rumah ini menjadi berkesan lebih
terbuka, informal, santai dan familiar (tidak kaku).

Gambar 5. Ruang Yoga

Gambar 6. Tangga

Rumah ini dirancang berdasarkan aktifitas dan kebiasaan dari klient, bahkan sampai
elemen kecilnya. Sehingga rumah ini menunjukan sisi personal maupun personalized dari
pelaku. Di samping ruang keluarga, terdapat area yoga yang merupakan kegiatan sehari-hari
pemilik rumah. Sebuah tangga menghubungkan area bawah dengan area privat yang berada
di lantai atas, di mana terdapat kamar pribadi si pemilik rumah. Kamar tidur di lantai atas ini
seakan bersuasana resort dengan view berupa pemandangan hijau yang terbentang di halaman
belakang rumah. Toilet pribadi dibuat personal dengan konsultasi desain yang mendetail,
Sedangkan kamar di bagian depan diberi penghalang berupa krawangan (roster) sebagai
secondary skin, sekaligus sebagai filter visual dari tetangga depan rumah. Rumah ini juga
dibuat dengan eksperimen struktur, yaitu berupa dek lantai dengan pembesian khusus
sehingga tidak memerlukan balok, maka tampilan plafon/langit-langit pun menjadi lebih
bersih dan simple. Konsekuensinya, pipa-pipa untuk jaringan listrik, air dan lain-lain harus
dibuat terekspos luar, menempel di dinding atau plafon, sekaligus menjadi elemen estetis
yang rancak di dalam ruang.

Salah satu kebiasaan klien sesuai di negri asalnya yaitu sering mengundang temanteman agar datang ke rumahnya, untuk sekedar ngobrol atau minum-minum. Di sinilah klien
akan banyak menghabiskan waktunya. Untuk mengakomodasi kebiasaan tersebut, maka
kegiatan utama ini difokuskan di area belakang rumah yang bisa dicapai lewat lorong
samping tanpa masuk ke dalam rumah. Area belakang ini terdiri dari dapur, pantry dan teras
santai. Di sini tidak terdapat ruang makan karena pemilik terbiasa makan di pantry, yang
diberi dua tempat duduk berjejer. Di area belakang ini juga terdapat minibar yang dibuat
bersuasana seperti sebuah warung, di mana pemilik bisa melayani dan membuatkan minuman
untuk para tamunya. Tempat duduknya pun didesain ala kampung, berupa badhugan (lantai
Gambar 7. Ruang Santai

Gambar 8. Dapur dan

Belakang

Pantry

Gambar 9. Minibar

plesteran yang ditinggikan) yang dibuat melingkar sehingga lebih nyaman untuk bersantai. Di
sebelah pintu kaca terdapat dinding dari krepyak kayu untuk keluar-masuknya udara dalam
rumah, sekaligus memperkuat konsep perforated pada rumah ini. Sedangkan pintu koboi
setinggi badhugan berfungsi sebagai penghalang hewan peliharan pemilik (anjing) supaya
tidak keluar masuk ke taman belakang, yang akan menyebakan ruang di dalam rumah kotor
ketika hujan.

Gambar 10. Denah Lantai I

Gambar 10. Denah Lantai II

Nama Proyek: Rumah Berongga


Lokasi Proyek: Gubeng Kertajaya, Surabaya
Luas Tanah/Bangunan: 175/140 m2

Tahun: 2014
Arsitek Prinsipal: Andy Rahman .A, ST. IAI
Arsitek: Abdi Manaf. R, ST
Desainer Interior: Anindita Caesarayi Putri, ST