Anda di halaman 1dari 4

Thompson, Triangular Weir

Thompson, Triangular Weir, V-notch, Takik-V

Thompson adalah nama yang terkenal di PDAM, khususnya di kalangan


operator yang bertanggung jawab atas kelancaran pasokan air,
mulai dari sumber air baku (intake, broncaptering), transmisi (unit bak
pelepas tekanan, BPT), dan instalasi pengolahan air (sedimentasi,
kanal). Sebagai alat ukur, ia luas digunakan di PDAM untuk mengetahui
perkiraan debit air yang akan dan sudah diolahnya, terutama kurang dari
200 l/d. SelainThompson, ada juga Cipoletti dan Romyn (untuk debit
antara 200 dan 2.000 l/d), dan untuk debit di atas 2.000 l/d digunakan
Bendulan/Crump de Gruyter. Dua alat yang disebut terakhir biasanya
dikenal dengan nama pintu ukur karena selain untuk mengukur debit juga
untuk membuka-tutup aliran.
Alat ukur debit air pada saluran terbuka tersebut memiliki konsep yang
sederhana, yaitu hubungan antara kedalaman air dan lajunya dipengaruhi
oleh bentuk dan dimensi alatnya. Perhitungan debitnya menggunakan
persamaan yang menggunakan tinggi air atau head. Adapun
pertimbangan yang biasa digunakan dalam pemilihan alat ukur tersebut
antara lain biaya pembuatan dan pemasangannya, biaya perawatan,
dimensi kanal, debit, dan karakteristik airnya (kejernihan, berlumpur,
sampah). Biasanya pemilihan alat ukur ini didasarkan pada besar-kecilnya
debit air yang akan diukur.
Weir Segitiga
Terjemahan yang biasa digunakan untuk weir ialah ambang, yaitu sekat
penghalang yang dikalibrasi, dibuat melintang (tegak lurus arah aliran) di
saluran (kanal). Alat ukur primer ini sederhana, murah dan dapat dibuat
dari beragam bahan, seperti aluminum, fiberglass, pelat logam, plastik,
kayu. Jenis ambang atau sekat ini dapat diklasifikasikan berdasarkan
bentuk takiknya (notch), yaitu segiempat panjang, tapezium (Cipoletti),
dan segitiga (misalnya Thompson). Dapat juga dibedakan atas bentuk
puncaknya, yaitu ambang tajam (sharp crested weir), ambang bulat
(ogee weir), ambang lebar (broad crested weir), dan ambang sempit
(narrow crested weir). Selain itu, ambang bisa juga dibagi menjadi dua:
ambang kontraksi (contracted weir) dan ambang tanpa kontraksi
(suppressed weir).
Bagaimana dengan alat ukur yang disebut V-notch? Alat ini terdiri atas
takik segitiga yang dipotong di dalam kanal, puncaknya terletak di bagian
dasar. Sudut V-notch yang umum dipakai ialah 900, 600 dan 450. Dalam
pemakaian khusus sudutnya ada juga yang 1200, 300, dan 22 0.
Persamaan umum untuk menghitung debitnya adalah:
Q = K H(pangkat 2,5)
Q : Debit
H : Head di atas weir

K : Konstanta atau koefisien, fungsi terhadap sudut weir dan unit


pengukuran. Nilai K ini berkisar antara 0,570 dan 0,611, bergantung pada
H dan Q.
Selain formula dasar di atas, ada bentuk lainnya, yaitu:
Q = 1,39 H(pangkat 2,5).tg (theta/2), Q dalam m3/d. theta adalah sudut
takik.
H = tinggi air di ambang, diukur di hulu, (2 3)H (m).
Formula lainnya, setelah melalui perhitungan integral, dan untuk takik
siku-siku serta koefisien debitnya 0,6 maka dapat ditulis sbb:
Q = 1,418 H(pangkat 2,5)
Bagaimana dengan akurasinya? Agar akurasi pengukurannya terjamin,
ada beberapa syarat yang harus dipatuhi: (1) weir harus halus dan tegak
lurus terhadap sumbu kanal, (2) panjang weir atau sudut notch
ditentukan dengan akurat, (3) Upayakan tinggi kanal dari dasar dua kali
dari maksimum head air di atas dasar takik, (4) bahannya dari lempeng
tipis 3-5 mm, (5) alat ukur dipasang pada jarak minimal tiga kali head
maksimumnya.
Berkaitan dengan akurasinya, formula alat ukur tersebut relatif kurang
akurat apabila dibandingkan dengan formula V-notch yang dibuat
oleh Kindsvater- Shen. Rumus atau persamaan weir V-notch yang
dibuat oleh Kindsvater- Shen diberikan di bawah ini.

Pada Tabel 1 diberikan perkiraan debit yang melewati weir segitiga yang
dihubungkan dengan ketinggian airnya (head). Tinggi air dalam
centimeter dan debitnya dalam liter per detik, mulai dari sekitar 10 l/d
sampai dengan 200 l/d. Perlu ditambahkan bahwa alat ukur ini yang
dipasang di unit BPT di jalur pipa transmisi air baku PDAM sering kurang
optimal fungsinya karena gejolak alirannya terlampau besar (sangat
turbulen) dan jarak dari ambang ke saluran di hulunya tidak memenuhi
syarat.
Oleh sebab itu, pengukuran tinggi head-nya menjadi kurang teliti
sehingga dugaan debit pun menjadi kurang tepat. Agar mendekati debit
riilnya, alat ukur sebaiknya dipasang di bagian hilir broncaptering dan
memenuhi syarat-syarat seperti ditulis di atas, kemudian dibuat di BPT
terakhir sebelum masuk ke reservoir distribusi. Juga dapat dipasang
sebelum unit prasedimentasi kalau airnya dari sungai. Hanya saja, perlu
didahului oleh bar screen dan fine screen di unit intake-nya agar takiknya
tidak tertutupi oleh serpihan sampah. *

Sumber: Gede H. Cahyana, Majalah Air Minum, Desember 2008.