Anda di halaman 1dari 9

Terapi Cairan Preoperatif

Pemeliharaan

cairan

harus

dilakukan

pada

individu yang sehat sebelum operasi.


Rumus untuk menghitung cairan :
0-10 kg I

= 100 ml/kgbb/hari

10-20 kg II

= 50 ml/kgbb/hari

>20 kg III

= 20 ml/kgbb/hari

Evaluasi preoperatif status volume pasien dan


elektrolit abnormal yang ada merupakan bagian yang
penting pada penilaian dan perawatan preoperatif.
Jika telah terdiagnosa defisit volume harus
dilakukan penggantian cairan secara cepat, biasanya
digunakan kristaloid isotonik. Pasien yang mengalami
defisit volume dengan gejala kardiovaskular harus
diberikan 1-2L cairan isotonik infus. Monitoring yang
ketat selama periode ini sangat penting. Pasien yang gagal
teratasi defisit volumenya biasanya fungsi ginjalnya rusak,
dan pada orang tua harus dibawah monitoring yang ketat
di ICU, untuk mengontrol tekanan vena sentral atau
kardiak output.

Terapi Cairan Intraoperatif


Pada induksi anestesi mekanisme kompensasi akan
hilang dan hipotensi akan terjadi jika defisit volume tidak
diatasi secara cepat sebelum operasi. Ketidakstabilan
hemodinamik dapat dihindari dengan mengkoreksi cairan

yang sudah hilang, menggantikan cairan yang sedang


hilang dan menyediakan terapi cairan yang adekuat
sewaktu preoperatif.

Terapi Cairan Postoperatif


Setiap defisit selama preoperatif atau intraoperatif
harus dikoreksi. Resusitasi yang adekuat ditunjukkan
dengan adanya perbaikan tanda vital dan urine output,
dengan koreksi defisit basa atau laktat.

Cairan pra bedah


Status cairan harus dinilai dan dikoreksi sebelum
dilakukannya

induksi

anestesi

untuk

mengurangi

perubahan kardiovaskuler dekompensasi akut. Penilaian


status cairan ini didapat dari :
1) Anamnesa: Apakah ada perdarahan, muntah, diare,
rasa haus. Kencing terakhir, jumlah dan warnya.
2) Pemeriksaan fisik. Dari pemeriksaan fisik ini didapat
tanda-tanda obyektif dari status cairan, seperti tekanan
darah, nadi, berat badan, kulit, abdomen, mata dan
mukosa.
3) Laboratorium meliputi pemeriksaan elektrolit, BUN,
hematokrit, hemoglobin dan protein.
Defisit cairan dapat diperkirakan dari beratringannya dehidrasi yang terjadi.

1) Pada fase awal pasien yang sadar akan mengeluh haus,


nadi biasanya meningkat sedikit, belum ada gangguan
cairan dan komposisinya secara serius. Dehidrasi pada
fase ini terjadi jika kehilangan kira-kira 2% BB (1500
ml air).
2) Fase moderat, ditandai rasa haus. Mukosa kering otot
lemah, nadi cepat dan lemah. Terjadi pada kehilangan
cairan 6% BB.
3) Fase lanjut/dehidrasi berat, ditandai adanya tanda
shock cardiosirkulasi, terjadi pada kehilangan cairan 715 % BB. Kegagalan penggantian cairan dan elektrolit
biasanya menyebabkan kematian jika kehilangan
cairan 15 % BB atau lebih.
Cairan preoperatif diberikan dalam bentuk cairan
pemeliharaan, ada dewasa 2 ml/kgBB/jam. Atau 60 ml
ditambah 1 ml/kgBB untuk berat badan lebih dari 20 kg.10
Pada anak-anak 4 ml/kg pada 10 kg BB I, ditambah 2
ml/kg untuk 10 kgBB II, dan ditambah 1 ml/kg untuk berat
badan sisanya.
Kecuali penilaian terhadap keadaan umum dan
kardiovaskuler, tanda rehidrasi tercapai ialah dengan
adanya produksi urine 0,5-1 ml/kgBB.
Rehidrasi:
Cepat: 20 cc/kg bb/15-30 menit
Lambat: 1/2 dalam 8 jam pertama, 1/2 dalam 16 jam
berikutnya
Bila dehidrasi ringan-sedang maka pakai rehidrasi lambat

Apabila ehidrasi berat maka pakai rehidrasi cepat


Untuk rumatan dipakai kebutuhan cairan 50cc/kgbb/hari.
Contoh kasus:
1) Lelaki 60 th BB 50 kg diagnosa hernia inkarserata 6
hari (T: 100/60, N: 80, urin: -, kesad: apatis, turgor: ,
perfusi pucat, RR: 24)
Dx: Dehidrasi berat berarti defisit cairan > 10%
atau 5L= 5000cc
Tx: rehidrasi cepat 20 cc/kgBB/30 menit =
1000cc/30 menit
T: 100/70, N: 80, urin: Diulangi lagi 1000 cc/ 30 menit
T: 110/70, N: 78, urin: Diulangi lagi 1000 cc/ 30 menit
T: 130/80, N: 78, urin: 40 cc (optimal)
Cairan yang sudah masuk = 3000 cc dalam 1
jam, kemudian dilanjutkan rehidrasi lambat
Cairan yang kurang adalah 5000 3000 =
2000cc diberikan 1000cc dalam 6,5 jam = 170 cc/jam
+ rumatan (100 cc/jam) = 270 cc/jam selama 6,5 jam
1000cc dalam 16 jam = 85 cc/jam + rumatan (100
cc/jam) = 185 cc/jam selama 16 jam.
2) Lelaki 25 th BB 50 kg diagnosa obstruksi ileus (T:
70/50, N: 120, urin: kesad: apatis, turgor: )

Dx: Dehidrasi sedang berarti defisit cairan 6% atau


3L= 3000cc
Tx: rehidrasi lambat 1500cc dalam 8 jam = 175 cc/jam
+ rumatan (100 cc/jam) = 275 cc/jam selama 8 jam
1500cc dalam 16 jam = 80 cc/jam + rumatan (100
cc/jam) = 180 cc/jam selama 16jam

Cairan selama pembedahan


Diusahakan pada saat pasien masuk ke ruang
operasi pasien dalam keadaan mendekati normovolemik
dan sudah tidak mempunyai hutang cairan dari tata
laksana pre operasi dengan kata lain program untuk terapi
cairan pra bedah sudah selesai. Terapi cairan selama
operasi meliputi kebutuhan dasar cairan (maintenance)
yaitu untuk operasi laparotomi dibutuhkan cairan 10
cc/kgbb/jam operasi dan untuk non laparotomi dibutuhkan
cairan 5 cc/kgbb/jam operasi dengan menggunakan cairan
kristaloid,

ditambah

cairan

yang

hilang

selama

operasi/perdarahan. Untuk mengganti perdarahan selama


operasi kita hitung jumlah perdarahan yang keluar melalui
darah yang keluar melalui suction, kasa yang terpakai dan
juga kain duk yang digunakan. Untuk satu kain kasa yang
digunakan menghisap, jika darahnya tidak netes maka
dihitung 5 cc darah tapi jika netes maka dihitung 7 cc, jika
kain yang digunakan maka ditung 200 cc jika tidak netes
dan jika netes dihung 300 cc.
Jumlah dan jenis cairan yang dipakai untuk
mengganti perdarahan selama operasi disesuaikan dengan
volume

darah

yang

hilang.

Yaitu

diklasifikasikan

perdarahan ringan, sedang, dan berat. Jika ringan yaitu

10% dari EBV maka cukup diganti dengan kristaloid.


Sedangkan sedang yaitu kehilangan darah 15% dari EBV
maka diganti dengan expander. Apabila erdarahan berat
yaitu 20% EBV maka diganti dengan darah. Perbandingan
volume pengganti kehilangan darah dengan jenis cairan=
darah: expander: kristaloid = 1:1:3.
Pada operasi laparotomi dengan kiste misalkan,
tentunya akan ada banyak kehilangan cairan dan bisa
sampai 12 liter.
Berdasar berat-ringannya perdarahan
a.

Perdarahan ringan, perdarahan sampai 10% EBV, 10


15%, cukup diganti dengan cairan elektrolit.

b.

Perdarahan sedang, perdarahan 10 20% EBV, 15


30%, dapat diganti dengan cairan kristaloid dan koloid.

c.

Perdarahan berat, perdarahan 20 50% EBV, > 30%,


harus diganti dengan transfusi darah.

Cairan paska bedah


Terapi cairan post operasi diberikan sampai dan
disesuaikan dengan intake pasien. Pada H1 dan H2 post
operasi kita cukup memenuhi kebutuhan cairan pasien
saja yaitu 50 cc/kgbb/ hari. tidak perlu menghitung
kebutuhan kalori pasien, karena pada H1 dan H2 post
operasi, terdapat pemecahan glikogen besar-besaran dari
hepar. Nah, baru H3 kita perlu menghitung jumlah
kebutuhan kalori, yaitu ekita 25-30 kkal/kg bb/hr.
Terapi cairan paska bedah ditujukan untuk :

a. Memenuhi kebutuhan air, elektrolit dan nutrisi.


b. Mengganti kehilangan cairan pada masa paska bedah
(cairan lambung, febris).
c. Melanjutkan penggantian defisit prabedah dan selama
pembedahan.
d. Koreksi gangguan keseimbangan karena terapi cairan.
Nutrisi parenteral bertujuan menyediakan nutrisi
lengkap, yaitu kalori, protein dan lemak termasuk unsur
penunjang nutrisi elektrolit, vitamin dan trace element.
Pemberian kalori sampai 40 50 Kcal/kg dengan protein
0,2 0,24 N/kg. Nutrisi parenteral ini penting, karena
pada penderita paska bedah yang tidak mendapat nutrisi
sama sekali akan kehilangan protein 75 125 gr/hari.
Hipoalbuminemia menyebabkan edema jaringan, infeksi
dan dehisensi luka operasi, terjadi penurunan enzym
pencernaan yang menyulitkan proses realimentasi.
I. Pengganti defisit Pra bedah2,13,14
Defisit cairan karena persiapan pembedahan dan anestesi (puasa, lavement) harus
diperhitungkan dan sedapat mungkin segera diganti pada masa pra-bedah sebelum
induksi. Setelah dari sisa defisit yang masih ada diberikan pada jam pertama
pembedahan, sedangkan sisanya diberikan pada jam kedua berikutnya.
Kehilangan cairan di ruang ECF ini cukup diganti dengan ciran hipotonis seperti garam
fisiologis, Ringer Laktat dan Dextrose. Pada penderita yang karena penyakitnya tidak
mendapat nutrisi yang cukup maka sebaiknya diberikan nutrisi enteral atau parenteral
lebih dini lagi. Penderita dewasa yang dipuasakan karena akan mengalami pembedahan
(elektif) harus mendapatkan penggantian cairan sebanyak 2 ml/kgBB/jam lama puasa.
Defisit karena perdarahan atau kehilangan cairan (hipovolemik, dehidrasi) yang
seringkali menyertai penyulit bedahnya harus segera diganti dengan melakukan resusitasi
cairan atau rehidrasi sebelum induksi anestesi.

3. Kehilangan cairan saat pembedahan


a. perdarahan
Secara teoritis perdarahan dapat diukur dari :
botol penampung darah yang disambung dengan pipa penghisap darah (suction pump)
dengan cara menimbang kasa yang digunakan sebelum dan setelah pembedahan. Kasa
yang penuh darah (ukuran 4x4 cm) mengandung 10 ml darah, sedangkan tampon besar
(laparatomy pads) dapat menyerap darah 100-10 ml.
Dalam prakteknya jumlah perdarahan selama pembedahan hanya bisa ditentukan berdasarkan
kepada taksiran (perlu pengalaman banyak) dan keadaan klinis penderita yang kadangkadang dibantu dengan pemeriksaan kadar hemoglobin dan hematokrit berulang-ulang
(serial). Pemeriksaan kadar hemoglobin dan hematokrit lebih menunjukkan rasio plasma
terhadap eritrosit daripada jumlah perdarahan. Kesulitan penaksiran akan bertambah bila
pada luka operasi digunakan cairan pembilas (irigasi) dan banyaknya darah yang mengenai
kain penutup, meja operasi dan lantai kamar bedah.
b. Kehilangan cairan lainnya
Pada setiap pembedahan selalu terjadi kehilangan cairan yang lebih menonjol dibandingkan
perdarahan sebagai akibat adanya evaporasi dan translokasi cairan internal. Kehilangan
cairan akibat penguapan (evaporasi) akan lebih banyak pada pembedahan dengan luka
pembedahan yang luas dan lama. Sedangkan perpindahan cairan atau lebih dikenal istilah
perpindahan ke ruang ketiga atau sequestrasi secara masif dapat berakibat terjadi defisit
cairan intravaskuler.
Jaringan yang mengalami trauma, inflamasi atau infeksi dapat mengakibatkan sequestrasi
sejumlah cairan interstitial dan perpindahan cairan ke ruangan serosa (ascites) atau ke lumen
usus. Akibatnya jumlah cairan ion fungsional dalam ruang ekstraseluler meningkat.
Pergeseran cairan yang terjadi tidak dapat dicegah dengan cara membatasi cairan dan
dapat merugikan secara fungsional cairan dalam kompartemen
ekstraseluler dan juga dapat merugikan fungsional cairan dalam ruang
ekstraseluler.
4. Gangguan fungsi ginjal
Trauma, pembedahan dan anestesia dapat mengakibatkan:
o Laju Filtrasi Glomerular (GFR = Glomerular Filtration Rate) menurun.
o Reabsorbsi Na+ di tubulus meningkat yang sebagian disebabkan oleh
meningkatnya kadar aldosteron.
o Meningkatnya kadar hormon anti diuretik (ADH) menyebabkan terjadinya

retensi air dan reabsorpsi Na+ di duktus koligentes (collecting tubules)


meningkat.
- Ginjal tidak mampu mengekskresikan free water atau untuk menghasilkan urin
hipotonis.