Anda di halaman 1dari 27

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Polio tidak hanya melanda negara-negara maju saja, tetapi juga melanda negaranegara berkembang, polio sebenarnya dapat di berantas dengan menghambat
penyebarannya melalui peningkatan imunisasi rutin kepada anak-anak, masalah polio
ini mendapat perhatian yang serius dari organisasi-organisasi yang ada di PBB ,salah
satu organisasi PBB yang memberi perhatian yang besar pada masalah-masalah
kesehatan adalah World Health Organization (WHO), WHO yang merupakan badan
kesehatan Internasional ini sangat memperhatikan kondisi kesehatan masyarakat di
berbagai negara, khususnya negara-negara berkembang mengingat bagaimana
rentannya negara-negara terhadap penyakit terutama karena terbatasnya pelayanan
kesehatan. Hal ini terlihat pada tahun 1988 polio muncul di lebih 125 Negara yang
berada di lima benua dan lebih dari 350.000 anak menderita kelumpuhan setiap
tahunnya. (WHO:Departement of vaccines Biological, Geneva hal4,1988).
Pada tahun 1999 di adakan pertemuan kesehatan Dunia ke-52 dalam pertemuan
tersebut negara anggota untuk melakukan suatu inisiatif dalam percepatan
pemberantasan polio. negara-negara anggota yang endemik terhadap polio dengan
penuh inisiatif melakukan aktivitas percepatan pemberantasan polio pada tahun 2000
dengan meningkatkan putaran Hari Imunisasi Internasional (National Immunization
Days (NIDs)).

Penyebaran di Indonesia sudah membuktikan di Banten dan di Sukabumi,


penyebaran virus polio makin menurun saat anak-anak di sana menerima vaksin polio
ketiga pada bulan Agusus yang lalu. Daerah ini menjadi target dua putaran pecan
imunisasi nasional (PIN) sebelumnya. PIN putaran ketiga pada akhir Nopember
berhasil mencakup lebih dari 97% anak balita.(http://www.WHO. Org /Indonesia /id/
health nutrion 3175 html)
Saat ini, sekitar 18 anak berusia di bawah tujuh tahun menderita kelumpuhan dan
seorang di antaranya positif terkena virus polio di Kampung Cidadap, Desa Girijaya,
Kecamatan Cidahu, Sukabumi. Fikri Ramdani, 19 bulan, menderita kelumpuhan
setelah mengalami panas tinggi disertai demam. Patut di maklumi, karena penyakit
polio ini apabila sudah terlanjur mengenai seorang anak, maka anak tersebut akan
mengalami kelumpuhan seumur hidupnya yang tentunya akan memupuskan harapan
orang tua akan masa depan anaknya, namun tidak semua anak yang terinfeksi oleh
virus polio pasti akan mengalami kelumpuhan, karena kelumpuhan terjadi apabila
virus polio ini sempat berkembang biak dan merusak sel-sel saraf motorik. Apabila
virus ini tidak sampai di sel motorik (karena daya tahan tubuh mampu mengatasi),
maka hanya akan timbul gejala penyakit yang sifatnya ringan seperti disebut
sebelumnya dan sangat mungkin tidak disadari bahwa yang menyebabkan gejala di
atas adalah virus polio.
Hal inilah yang menyebabkan penulis mengadakan penelitian tentang faktorfaktor yang berhubungan dengan tingginya kejadian penyakit polio di Sukabumi,
Jawa Barat tahun 2006.
2

BAB II
Identifikasi Masalah

2.1 Masalah-masalah
Dalam Bab ini akan diangkat permasalahan yang terjadi di Sukabumi, Jawa Barat
tentang faktor-faktor yang berhubungan dengan tingginya kejadian penyakit polio.
Berdasarkan distribusi
a) Kelompok umur di bawah 5 tahun paling rentan terinveksi virus
polio karena daya tahan tubuh yang masih rendah.
b) Daerah-daerah yang rentan terhadap penyebaran virus polio adalah
daerah dengan jumlah penduduk yang padat seperti Jawa dan
Sumatera, serta pada daerah kumuh yang sanitasi lingkungannya
buruk.
c) Di Negara bermusim dingin, sering terjadi epidemic di bulan MeiOktober,

tetapi

kasus

sporadic

tetap

terjadi

setiap

saat.

Kejadiannyapun sulit diprediksi, terbukti Indonesia kasus terakhir


terjadi setelah 10 tahun lamanya setelah kasus pertama.
1. Berdasarkan frekuensi
a) Sampai tahun 2006 telah tercatat lebih dari 300 kasus di Indonesia.
b) Insiden polio berkisar 4-8/100.000 penduduk.
c) Merupakan angka yang sangat kecil namun dapat menular dengan
cepat jika tidak segera dilakukan imunisasi.
d) Paralytic rate pada golongan 0-14 tahun : 2-3/1.000 penduduk.
Anak di bawah umur sangat rentan karena imunitas tubuh yang rendah
atau belum diimunisasi polio.
2. Berdasarkan determinan
a) Host (pejamu)
3

Jenis kelamin, dimana laki-laki leebih rentan daripada wanita


Penderita yang tidak mempunyai mimunitas tubuh
Stress akibat kelelahan
Penderita dengan riwayat penyakit seperti pertusis, campak dan enteritis.
b) Agent (penyebab)
Disebabkan oleh virus polio(RNA) dengan serotype I (Brunhilde), II
(Lansing), III (Leon).
c) Environment
(1) Sanitasi yang buruk karena virus polio menyebar dari tinja orang
yang terinveksi
(2) Padatnya jumlah penduduk menyebabkan penyebaran/penularan
virus polio semakin cepat.
(3) Tingginya pencemaran lingkungan oleh tinjaPengadaan air bersih
yang kurang karena dapat disinyalir bahwa air telah terkontaminasi

oleh tinja penderita.


3. Penularan virus polio terjadi melalui saluran pernafasan (inhalasi),
makanan/minuman yang terkontaminasi dan serangga (lipas, lalat, dsb).
4. Cara penularan yakni masuk ke dalam mulut penderita yang nantinya
dikeluarkan bersama tinja.
5. Kader Posyandu dan pelaksana imunisasi belum terlatih, karena petugas dan
kader malas atau belum sempat mengikuti pelatihan.
6. Pelaksanaan imunisasi terkadang tidak sesuai dengan jadwal yang telah
ditetapkan karena sarana dan prasarana kurang memadai.
7. Kurangnya kesadaran masyaraakat untuk mengimunisasikan anaknya, karena
kurangnya pengetahuan dan pemahaman akan ppentingnya imunisasi polio

What
Kelompok

Where
Sukabumi,

When
Saat peneliti

Who
Kelompok

Why
Daya tahan

umur dibawah

Provinsi Jawa

melakukan

umur dibawah

tubuh yang

5 tahun paling

Barat

penelitian

5 tahun

masih rendah

rentan

menggunakan

terinfeksi virus

data sekunder

polio
How
kelompok umur di bawah 5 tahun sangat rentan terinveksi virus polio atau anak
tersebut belum diimunisasi polio, sehingga menyebabkan anak balita menjadi rentan
terkena penyakit, terutama polio.
Tabel 2.1
Identifikasi Masalah 5W + 1H

What
Terbatasnya

Where
Sukabumi,

When
Saat peneliti

Sanitasi

Provinsi Jawa

melakukan

jamban warga

Lingkungan Yang

Barat

penelitian

dan air bersih

Baik

Who
Warga

Why
Penggunaan

menggunakan

yang tidak

data sekunder

memenuhi
standar,dan tidak
memelihara
kesehatan
makanan

How
Padatnya penduduk dan buruknya sanitasi yang tidak memenuhi standar kesehatan, sehingga
tibulnya rasa acuh menjaga lingkungan dalam diri warga

What
Keterlambatan

Where
Sukabumi,

When
Saat peneliti

Who
Anak dibawah

Why
Kurangnya

Imunisasi Polio

Provinsi Jawa

melakukan

5 tahun

pengarahan dan

Barat

penelitian

pemahaman

menggunakan

masyarakat

data sekunder

akan
pentingnya
imunisasi polio

How
Pemahaman yang kurang akan menimbulkan ketidak pedulian terhadap dampak
penyakit polio.

What
Sarana dan

Where
Sukabumi,

When
Saat peneliti

Who
Tenaga

Why
Terpencilnya

Prasarana

Provinsi Jawa

melakukan

kesehatan dan

tempat dan

Pelayanan

Barat

penelitian

kader-kader

buruk nya

Kesehatan

menggunakan

akses jalanan

yang Kurang

data sekunder

untuk menuju

Memadai

ke lokasi

masyarakat
How
Dana/subsidi yang kurang merata dari pemerintah untuk daerah terpencil sehingga
meyebabkan kurangnya fasilitas yang menudukung terjadinya pelayanan kesehatan
yang baik.

What
Kurangnya

Where
Sukabumi,

When
Saat peneliti

Who
Masyarakat

Why
Kurangnya

Kesadaran

Provinsi

melakukan

berpenghasilan

pengetahuan

Masyarakat

Jawa Barat

penelitian

rendah

masyarakat

menggunakan

terhadap

data sekunder

pentingnya
imunisasi
polio, dan
phbs akan
berpengaruh
terhadap pola
hidup

How
Wawasan yang didasari faktor pendidikan yang rendah dan kurang aktifnya warga
dalam organisasi masyarakat dapat menyebabkan rasa tidak peduli tentang dampak
dari penyakit polio.
2.1 Dampak Masalah
Masalah yang telah disebutkan Diatas, secara langsung maupun tidak, dapat
mempengaruhi penyebaran virus polio di Indonesia.
Dampak dari masalah-masalah yang telah disebutkan di atas antara lain:

1. Daya tahan tubuh yang masih rendah maka kelompok umur di bawah 5 tahun
sangat rentan terinveksi virus polio atau anak tersebut belum diimunisasi
polio.
2. Sanitasi yang buruk karena virus polio menyebar dari tinja orang yang
terinveksi
3. Pelaksanaan imunisasi terkadang tidak sesuai dengan jadwal yang telah
ditetapkan karena sarana dan prasarana kurang memadai sehingga
mempengaruhi pemahaman masyarakat akan pentingnya imunisasi polio.
4. Kurangnya kesadaran masyarakat akan pentingnya PHBS (Kedisiplinan
imunisasi, sanitasi diri dan sanitasi lingkungan) dan Pendidikan masyarakat
yang rendah mempengaruhi terhadap tingkat pengetahuan dan pemahaman
akan pentingnya imunisasi. Sehingga anak-anak yang terinveksi disinyalir
akibat ketidakpahaman orang tua akan pentingnya imunisasi.
5. Kader Posyandu dan pelaksana imunisasi belum terlatih, karena petugas dan
kader malas atau belum sempat mengikuti pelatihan dan dana/subsidi yang
kurang merata hingga daerah terpencil.
c.

Prioritas Masalah
Sehubungan dengan identifikasi masalah di atas, maka yang menjadi prioritas
masalah adalah:
1. Kerentanan kelompok umur di bawah 5 tahun karena daya tahan tubuh yang
2.
3.
4.
5.

sangat rendah.
Kerentanan daerah-daerah yang padat penduduknya dan bersanitasi buruk.
Kader Posyandu dan pelaksana imunisasi yang belum terlatih.
Pelaksanaan imunisasi terkadang tidak sesuai dengan jadwal.
Kurangnya kesadaran masyarakat akan pentingnya PHBS (Kedisiplinan
imunisasi, sanitasi diri dan sanitasi lingkungan).
10

Dalam penetapan prioritas masalah, metode yang sering digunakan di bidang


kesehatan ada metode Bryant yang mempergunakan indicator-indikator berikut :
1. Community Cncern Public concern ( C )
Yaitu besarnya keprhatinan masyarakat akan masalah yang dihadapi. Masalah dengan
keprihatinan masyarakat yang besar untuk mengatasinya mendapat perioritas
tertinggi.
SKOR :

= tidak mendapat perhatian masyarakat

= kurang mendapat perhatian masyarakat

= cukup mendapat perhatian masyarakat

= sangat mendapat perhatian masyarakat


2. Prevalence ( P )
Yaitu jumlah individu yang terkena dalam unit organisasi atau Rumah Sakit atau
dapat juga diartikan jumlah individu yang terkena didlam masyrakat. Prioritas yang
tertinggi diberikan kepada suatu masalah yang menyebar luas dalam masyarakat.
SKOR :

1
2
3
4

= Jumlah individu / masyarakat yang terkena sangat sedikit


= Jumlah individu / masyarakat yang terkena sedikit
= Jumlah individu / masyarakat yang terkena cukup besar
= Jumlah individu / masyarakat yang terkena sangat besar
3. Serious atau Severity ( S )
Yaitu berat ringannya masalah yang ditimbulkan oleh masalah tersebut terhadap

masyarakat.
SKOR :
= Masalah yang ditimbulakan tidak berat
11

2
3
4

= Masalah yang ditimbulkan cukup berat


= Masalah yang dirimbulkan berat
= Masalah yang ditimbulkan sangat berat
4. Manageability ( M )
Yaitu tersedianya mutu dengan pembiayaan, kemungkinan penghambantan
pelaksanaan,, keadaan ekonomi masyarakat, dan keikutsertaan masyarakat.
SKOR :
= Tidak dapat dikelola
= Cukup dikelola dan diatasi
= Dapat kelola dan diatasi
= Sangat dapat dikelola dan diatasi

1
2
3
4

Untuk menghitung nilai total digunakan Rumus


Prioritas Masalah Polio Di Masyarakat
( Metode Bryant )
No

Masalah

CxPxSxM

Total

Skala
Prioritas
IV

Kelompok umur dibawah 5 tahun

(CxPxSxM)
36

paling rentan terinfeksi virus


Terbatasnya Sanitasi Lingkungan

36

III

3
4
5

Yang Baik di Indonesia


Keterlambatan Imunisasi Polio
Kurangnya Kesadaran Masyarakat
Sarana dan Prasarana Pelayanan

3
2
2

3
3
3

2
2
3

4
2
3

74
24
54

I
V
II

Kesehatan yang Kurang Memadai


Penjelasan skor mengenai masalah Kelompok umur dibawah 5 tahun paling
rentan terinfeksi virus yaitu untuk indicator community Concern (C) skor 2 artinya
kurang mendapat perhatian masyarakat. Untuk indikator Prevalence (P) skor 3
artinya individu yang terkena cukup besar, karena pada usia 5 tahun kondisi imun

12

tubuh belum stabil dan mudah menurun sehinnga sangat mudah terinveksi virus polio
ketika daya tahan menurun. Untuk indicator Seriousness/severity (S) skor 3 artinya
masalah yang ditimbulkan berat karena apabila semua anak usia 5 tahun mempunyai
imun tubuh yang kurang baik bukan tidak mungkin akan terserang virus polio. Untuk
indicator Manageability (M) skor 2 artinya cukup dikelola dan di atasi, kelompok
umur di bawah 5 tahun kerentanannya dapat diatasi dengan pemberian makanan
bergizi kepada anak, dan mengajarkan pola phbs agar anak mengerti.
Penjelasan skor mengenai Terbatasnya Sanitasi Lingkungan Yang Baik di
Indonesia yaitu untuk indicator community Concern (C) ) skor 2 artinya kurang
mendapat perhatian masyarakat. Untuk indikator Prevalence (P) skor 3 artinya
individu yang terkena cukup besar, karena dari terbatasnya sanitasi yang baik maka
masyarakat juga sangat susang untuk mendapatkan sanitasi yang sehat. Untuk
indicator Seriousness/severity (S) skor 3 artinya masalah yang ditimbulkan berat,
karena sanitasi yang baik dapat menunjang kehidupan yang baik dan sehat untuk
warga. Untuk indicator Manageability (M) skor 2 artinya cukup dikelola dan di atasi,
melalui sumur buatan untuk para warga ataupun air PAM.
Penjelasan skor mengenai Keterlambatan Imunisasi Polio yaitu untuk indicator
community Concern (C) ) skor 3 artinya cukup mendapat perhatian masyarakat.
Untuk indikator Prevalence (P) skor 3 artinya individu yang terkena cukup besar,
karena kurang pedulinya orang tua tentang imunisasi polio. Untuk indicator
Seriousness/severity (S) skor 2 artinya masalah yang ditimbulkan cukup berat, karena
keterlambatan imunisasi polio dapat berakibat fatal kepada anak. Untuk indicator
Manageability (M) skor 4 artinya sangat dapat dikelola dan di atasi, apabila adanya
13

keperdulian terhadap kesehatan anak yang tinggi ditunjang dengan pemahaman orang
tua yang baik.
Penjelasan skor mengenai masalah Kurangnya Kesadaran Masyarakat yaitu untuk
indicator community Concern (C) skor 2 artinya kurang mendapat perhatian
masyarakat. Untuk indikator Prevalence (P) skor 3 artinya individu yang terkena
cukup besar, karena kurangnya keperdulian masyarakat terhadap imunisasi polio
dapat berakibat buruk untuk anak-anaknya dan tetangganya. . Untuk indicator
Seriousness/severity (S) skor 2 artinya masalah yang ditimbulkan cukup berat karena
kurang pedulinya masyarakat akan menimbulkan sikap antipasti kepada petugas
ataupun program kesehatan diwilayahnya. Untuk indicator Manageability (M) skor 2
artinya cukup dikelola dan di atasi, melalui pelayanan kesehatan yang baik,
penyuluhan melalui kader-kader setempat.
Penjelasan skor mengenai Sarana dan Prasarana Pelayanan Kesehatan yang
Kurang Memadai yaitu untuk indicator community Concern (C) ) skor 2 artinya
kurang mendapat perhatian masyarakat. Untuk indikator Prevalence (P) skor 3
artinya individu yang terkena cukup besar, karena dari terbatasnya sarana dan
prasarana masyarakat maupun tenaga kesehatan sangat sulit dalam menangani
berbagai keluhan masyarakat. Untuk indicator Seriousness/severity (S) skor 3 artinya
masalah yang ditimbulkan berat, karena kurangnya tenaga ahli yang berpengalaman
dan kurangnya tenaga kesehatan yang mengikuti pelatihan sehinnga interaksi atau
hubungan dengan masyarakat menjadi tidak kondusif. Untuk indicator Manageability
(M) skor 3 dapat dikelola dan diatasi, apabila semua petugas kesehatan
berpengalaman, mengikuti pelatihan dan tidak bermalas-malasan dalam melayani
14

warga setempat, dengan mengadakan penyuluhan bersama ibu-ibu kader dan tokohtokoh masyarakat.
2.3 Analisis Penyebab Masalah Utama
Berdasarakan prioritas masalah di atas, Penulis mencoba menganalisa faktorfaktor penyebab dari masalah utama tersebut yaitu
Dengan menngunakan metode 6 M : Man (SumberDaya Manusia), Money (Anggaran
Dana), Method (Metode / Cara), Material (Sarana), Machine (Prasarana), dan Market
(Sasaran).
Penulis memahami bahwa setiap institusi dan masyarakat memiliki keterbatasan
dalam hal dana/keuangan, seperti pusat-pusat pelayanan desa. Oleh karena itu Penulis
mencoba menganalisis penyebab masalah utama dari aspek 6M.

Analisis Penyebab Masalah Utama Ichikawa (Tulang Ikan)


Keterlambatan Imunisasi Polio

15

Penetapan Penyebab Masalah


Berdasarkan pengamatan Penulis berkesimpulan bahwa penyebab dari masalah
Keterlambatan Imunisasi Polio adalah :
1. Padatnya kegiatan ibu

16

Kegiatan ibu yang padat membuat ibu menjadi sibuk dan membuat ibu
menjadi tidak perhatian terhadap kesehatan keluarga terutama anak. Padat nya
kegiatan membuat timbulnya rasa malas pada ibu.
2. Petugas dan kader posyandu kurang terlatih
Kader Posyandu dan pelaksana imunisasi yang

belum terlatih, membuat

timbulnya rasa malas pada petugas dan kader-kadrer dalam melakukan


kgiatan kesehatan.
3. Pendapatan yang masih rendah
Pendapatan yang masih rendah sangat berpengaruh terhadap pola fikir warga
yang terlalu sibuk bekerja tanpa memikirkan kesehtan anak maupun kelurga
itu sendiri.
4. Dana subsidi kesehatan dari pemeintah yang tidak merata
Tidak meratanya dana subsidi kesehatan dari pemerintah ke daerah-daerah
terpencil membuat kegiatan kesehatan menjadi terhambat.
5. Jadwal imunisasi yang sering berubah
Ketidak pastian jadwal imunisasi membuaat masyarakat menjadi malas dalam
melakukan kegiatan imunisasi, dan membuat timbulnya rasa antipati ibu
kepada petugas kesehatan.
6. Tidak adanya tempat untuk pelaksanaan imunisasi
Pelaksanaa imunisasi terhambat karena tidak tersedianya tempat pelaksaan
imunisasi, seperti tidak adanya ruangan kosong yang layak digunakan,
ataupun lapangan.
7. Alat-alat kesehatan kurang memadai
Kurang memadainya alat-alat kesehatan menjadi salah satu penyebab
keterlambatan imunisasi polio, seperti kurangnya atau habisnya vaksin polio.
8. Lokasi yang kurang terjangkau
Lokasi yang kurang terjangkau menjadi salah satu masalah petugas kesehatan
ataupun warga untuk saling berinteraksi.
9. Minimnya sarana transportasi

17

Wilayah yang terpencil dengan jalan yang sulit dilalui menjadi salah satu
penyebab keterlambatan imunisasi karena minimnya sarana transportasi
menuju tempat pelaksanna imunisasi.

BAB III
ALTERNATIF PENEYELESAIAN MASALAH

Pemecahan masalah (problem solving) merupakan suatu upaya untuk mengatasi


penyebab dari terjadinya masalah sehingga masalah yang dihadapi dapat diatasi dan
mutu pelayanan dapat lebih ditingkatkan. Dalam pemecahan masalah ini campur
tangan dari manajemen puncak sangat dibutuhkan karena pihak manajemen yang
menetapkan berbagai kebijakan dalam mengatur kegiatan dalam suatu organisasi
instansi terkait. Tujuan dari pemecahan masalah adalah sebagai pedoman dalam
menyusun alternative pemecahan. Dapat diumpamakan kita tidak dapat memilih jalan
yang terkait untuk menuju suatu tempat kecuali kita telah menentukan kemana kita
18

akan pergi. Dengan tujuan sebagai pedoman tersebut maka kita dapat menyusun
beberapa alternative pemecahan (Meiliana, 2002).
Banyak model proses pemecahan masalah yang dikemukakan oleh para ahli dan
pada umumnya mencangkup 8 (delapan) langkah : identifikasi masalah, penentuan
prioritas masalah, analisis penyebab masalah, penentuan penyebab utama dari prioritas
masalah, penentuan solusi potensial sebagai alternatif solusi, dan evaluasi hasil
pelaksanaan solusi merupakan hal yang bersifat teknis dan memerlukan perencanaan
matang yang disusun oleh pihak manajemen puncak, lalu didelegasikan kepada seluruh
petugas kepada seluruh petugas atau perekam medis secara bertahap dalam jangka
waktu yang telah ditetapkan (Meiliana, 2002).
Dalam Bab III ini Penulis akan mencoba mengidentifikasi alternative pemecahan
dari masalah yang dikemukakan pada Bab II yaitu : Keterlambatan Imunisasi Polio
Pada Balita. Masalah ini menggambarkan keadaan yang betolak belakang terhadap
sistem kesehatan yang seharusnya berjalan dengan baik dan medapat dukungan penuh
dari masyarakat agar tidak terjadinya keterlambatan imunisasi polio pada balita.
3.1 Alternatif Solusi Pemecahan Masalah
Penulis mencoba menawarkan alternatif solusi yang bisa dilaksanakan pihak
puskesmas dan kader-kader desa. Solusi ini diperoleh melalui observasi lapangan
dengan mendalam analisis situasi yang telah dilakukan. Adapun usulan-usulan
tersebut adalah :
1. Mengadakan pelatihan kader posyandu dan pelaksana imunisasi.

19

2. Meningkatan

produktifitas

sumber

dana

masyarakat

melalui

pengorganisasian dan pemberdayaan masyarakat dengan memberi cara


berwira usaha.
3. Menyepakati jadwal pelaksanaan imunisasi di posyandu bersama
masyarakat.
4. Pengadaan tempat pelayanan kesehatan yang memadai.
5. Meningkatkan daya tahan tubuh anak balita (di bawah 5 tahun) dengan
pemberian imunisasi.
6. Pembangunan jalan melalui swadaya dan gotong royong warga bersama
pihak-pihak kesehatan ataupun pemerintah dalam pembenahan lokasi yang
lebih baik agar dapat terjangkau.
3.2 Prioritas Alternatif Pemecahan Masalah
Berdasarkan 5 (lima) solusi yang ditawarkan Penulis, akan diambil satu sebagai
prioritasnya dengan menggunakan metode perbandingan efektifitas dan efisiensi.
1. Efektifitas, terdiri dari :
a. Magnitude (M), menyatakan besarnya masalah yang dapat diselesaikan
oleh alternatif selusi yang ditawarkan. Solusi yang memecahkan masalah
tersebut adalah yang layak diprioritaskan.
b. Importance (I), menyatakan tingkat urgensi solusi yang ditawarkan. Solusi
yang dapat memecahkan masalah terpenting adalah yang layak di
prioritaskan.
c. Sensitivity /

vulnerability

(V),

menyatakan

sensitifitas

alternatif

pemecahan dalam mempengaruhi masalah (salah satunya adalah kesiapan


teknologi).
Altrnatif pemecahan yang paling mempengaruhi pemecahan masalah adalah
yang layak di prioritaskan.
Penilaian :

20

a. Nilai 1, tidak penting untuk diprioritaskan.


b. Nilai 2, kurang penting untuk diprioritaskan.
c. Nilai 3, cukup penting untuk diprioritaskan.
d. Nilai 4, penting untuk diprioritaskan.
e. Nilai 5, sangat penting untuk diprioritaskan.
2. Efficiency (E), menyatakan hubungan alternatif solusi dengan besarnya biaya
yang ditimbulkan. Solusi dengan biaya terkecil adaah layak diprioritaskan.
Penilaian :
a. Nilai 1, sangat penting, biaya sangat kecil.
b. Nilai 2, penting, biaya kecil.
c. Nilai 3, cukup penting, biaya cukup kecil.
d. Nilai 4, kurang penting, biaya besar.
e. Nilai 5, tidak penting, biaya sangat besar.
Untuk menghitung nilai total digunakan rumus

=(MxIxV)
E

Tabel 3.2
Alternatif Pemecahan Masalah dengan Metode Perbandingan
Efektifitas dan Efisiensi
No
1.

Alternatif
Solusi
Pelatihan kader posyandu dan 4

Efektifitas
M

pelaksana imunisasi.
21

E
2

=(MxIxV)
E
24

Priori
tas
II

2.

Meningkatan
produktifitas sumber dana
masyarakat

melalui

pengorganisasian

VI

18

25

20

III

12

IV

dan

pemberdayaan
masyarakat
memberi

dengan
cara

berwira

usaha.
3.

Menyepakati

jadwal

pelaksanaan imunisasi di
posyandu
4.

bersama

masyarakat.
Pengadaan

tempat

pelayanan kesehatan yang


5.

memadai.
Meningkatkan daya tahan
tubuh anak balita dengan
pemberian imunisasi.

Pembangunan jalan melaui


swadaya dan gotong royong
warga bersama pihak-pihak
kesehatan ataupun pemerintah
dalam

pembenahan

lokasi

yang lebih baik agar dapat


terjangkau.

22

Nilai/Skor pada table diatas diperoleh melalui brainstorming dengan pihak-pihak


instansi terkait, kader-kader dan tokoh masyarakat.
Penjelasan skor untuk alternatif pemecahan masalah dengan melakukan Pelatihan
kader posyandu dan pelaksana imunisasi yaitu untuk indikator Magnitude (M)
skor 4, artinya penting untuk diprioritaskan, karena jika tidak adanya pelatihan maka
pelaksanaan imunisasi tidak akan berjalan sehinnga menyebabkan terhambatnya
kegiatan imunisasi. Untuk indikator Importance (I) skor 3, artinya cukup penting
untuk diprioritaskan, karena dengan dilakukan pelatihan pada kader posyandu dan
pelaksana imunisasi maka petugas akan memiliki kemampuan dalam menangani
imunisasi pada balita. Untuk indikator Sensitivity/vulnerability (V) skor 4, artinya
penting untuk diprioritaskan karena dengan alternatif solusi tersebut maka diharapkan
keterlambatan imunisasi polio pada balita tidak akan terjadi. Untuk indikator
efficiency (E) skor 2, artinya penting, biaya kecil, karena memalui pelatihan kader
dan petugas kesehatan tidak memerlukan biaya yang besar.
Penjelasan skor untuk alternatif pemecahan masalah
produktifitas

sumber

dana

masyarakat

melalui

Meningkatan

pengorganisasian

dan

pemberdayaan masyarakat dengan memberi cara berwira usaha yaitu untuk


indikator Magnitude (M) skor 4, artinya penting untuk diprioritaskan, karena jika
tidak

adanya

peningkatan

produktifitas

sumber

dana

masyarakat

melalui

pengorganisasian dan pemberdayaan masyarakat dengan memberi cara berwira usaha


warga tidak bisa mengalami peningkatan mutu hidup ataupun pola fikir tentang
23

peningkatan kualitas hidup. Untuk indikator Importance (I) skor 3, artinya cukup
penting untuk diprioritaskan, karena dengan dilakukan peningkatan produktifitas
sumber dana masyarakat melalui pengorganisasian dan pemberdayaan masyarakat
dengan memberi cara berwira usaha masyarakat dapat mengelola keuntungan sendiri
tanpa

harus

terlalu

sibuk

bekerja

di

orang

lain.

Untuk

indikator

Sensitivity/vulnerability (V) skor 3, artinya cukup penting untuk diprioritaskan karena


dengan alternatif solusi tersebut maka diharapkan ekonomi warga akan meningkat.
Untuk indikator efficiency (E) skor 4, artinya kurang penting, biaya besar, berwira
usaha memerlukan biaya yang besar untuk menjadi modal awal.
.Penjelasan skor untuk alternatif pemecahan masalah Menyepakati jadwal
pelaksanaan imunisasi di posyandu bersama masyarakat yaitu untuk indikator
Magnitude (M) skor 3, artinya cukup penting untuk diprioritaskan, karena jika tidak
adanya kesepakatan jadwal imunisasi di posyandu dengan masyarakat maka
pelaksanaan imunisasi tidak akan berjalan dengan baik. Untuk indikator Importance
(I) skor 4, artinya penting untuk diprioritaskan, karena dengan dilakukan kesepakatan
jadwal maka pelaksanaan imunisasi akan lebih jelas waktu pelaksaannya. Untuk
indikator Sensitivity/vulnerability (V) skor 3, artinya cukup penting untuk
diprioritaskan karena dengan alternatif solusi tersebut maka diharapkan kegiatan
imunisasi akan berjalan dengan semestinya dan mendapat perhatian dari masyarakat.
Untuk indikator efficiency (E) skor 2, artinya penting, biaya kecil, kesepakan jadwal
imunisasi cukup dilakukan dengan rembuk desa ataupun pertemuan antar kader atau

24

petugas kesehatan dengan masyarakat alternatif solusi ini membutuhkan biaya


relative kecil dibandingkan alternative pemecahan masalah lainnya.
Penjelasan skor untuk alternatif pemecahan masalah Pengadaan tempat
pelayanan kesehatan yang memadai yaitu untuk indikator Magnitude (M) skor 5,
artinya sangat penting untuk diprioritaskan, karena jika tidak adanya pengadaan
tempat pelayanan kesehatan yang memadai maka petugas kesehatan tidak dapat
membantu masyarakat dengan maksimal. Untuk indikator Importance (I) skor 5,
artinya sangat penting untuk diprioritaskan, karena dengan dilakukan pengadaan
tempat pelayanan kesehatan yang memadai maka pelayanan kesehatan akan jauh
lebih maksimal. Untuk indikator Sensitivity/vulnerability (V) skor 4, artinya penting
untuk diprioritaskan karena dengan alternatif solusi tersebut maka diharapkan
kegiatan pelayanan kesehatan akan berjalan dengan baik dan masyarakatpun akan
lebih berperan aktif dalam kegiatan pelayanan kesehatan. Untuk indikator efficiency
(E) skor 4, artinya kurang penting, biaya besar, pengadaan tempat pelayanan
kesehatan yang memadai dilihat kurang penting oleh petugas ataupun warga karena
biaya yang dibutuhkan besar.
Penjelasan skor untuk alternatif pemecahan masalah Meningkatkan daya tahan
tubuh anak balita dengan pemberian imunisasi yaitu untuk indikator Magnitude
(M) skor 5, artinya sangat penting untuk diprioritaskan, karena jika tidak adanya
peningkatan daya tahan tubuh anak balita dengan pemberian imunisasi maka balita
akan sangat rentan terinfeksi virus polio dan berbagai penyakit lainnya. Untuk
indikator Importance (I) skor 4, artinya penting untuk diprioritaskan, karena dengan
dilakukan pemberian imunisasi untuk meningkatkan daya tahan tubuh anak balita
25

maka balita tersebut memiliki imunitas yang lebih baik dibandingkan anak balita
yang tidak diberi imunisasi. Untuk indikator Sensitivity/vulnerability (V) skor 4,
artinya penting untuk diprioritaskan karena dengan alternatif solusi tersebut maka
diharapkan angka kejadian penyakit polio pada balita dapat menurun. Untuk indikator
efficiency (E) skor 4, artinya kurang penting, biaya besar, pemberian imunisasi
menjadi terhambat disebabkan kurangnya vaksin di daerah terpencil dan memerlukan
biaya yang besar.
Penjelasan skor untuk alternatif pemecahan masalah Pembangunan jalan
melaui swadaya dan gotong royong warga bersama pihak-pihak kesehatan
ataupun pemerintah dalam pembenahan lokasi yang lebih baik agar dapat
terjangkau yaitu untuk indikator Magnitude (M) skor 4, artinya penting untuk
diprioritaskan, karena jika tidak adanya perbaikan jalan melalui swadaya dan bantuan
pemerintah yang dilakukan secara bergotong royong maka warga akan terbebani
dengan wilayah dan kondisi wiliyah yang kurang baik yang menyebabkan
terhambatnya aktifitas pelayanan kesehatan. Untuk indikator Importance (I) skor 3,
artinya cukup penting untuk diprioritaskan, karena dengan dilakukan perbaikan jalan
melalui swadaya dan bantuan pemerintah yang dilakukan secara bergotong royong
warga tidak akan merasa terbebani dan hubungan antara petugas kesehatan dan warga
akan

terbina

dengan

baik

melalui

gotong

royong.

Untuk

indikator

Sensitivity/vulnerability (V) skor 3, artinya cukup penting untuk diprioritaskan karena


dengan alternatif solusi tersebut maka diharapkan warga akan lebih mudah
menempuh perjalanan menuju tempat pelayanan kesehatan dan hubungan antar
26

petugas juga warga dapat terbina dengan baik. Untuk indikator efficiency (E) skor 4,
artinya kurang penting, biaya besar, pembangunan jalan memerlukan biaya yang
besar untuk berjalannya pembangunan yang baik dan lancar.
3.3 Analisis Prioritas Alternatif Pemecahan Masalah

DAFTAR PUSTAKA
Geneva: Department of vaccines and Biologicals, 2001, hal,61
http://www.WHO. Org /Indonesia /id/ health nutrion 3175 html

27