Anda di halaman 1dari 16

LAPORAN PRAKTIKUM

ZOOLOGI VERTEBRATA
KELAS OSTEICHTYES
Dosen Pembimbing:
Awalul Fatiqin, M.Si
Oleh:
Leny Aprianita
NIM:
12222057

PRODI PENDIDIKAN BIOLOGI


FAKULTAS TARBIYAH
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI RADEN FATAH
PALEMBANG 2014

BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Hewan-hewan yang memiliki penyangga tubuh bagian belakang (dorsal) dalam
bentuk sederhana ataupun dalam wujud tulang belakang dimasukkan dalam filum
chordata. Kata chordata berasal dari chorda dorsalis atau penyangga. Filum chordata
masih

terbagi

dalam

empat

sub

filum,

yakni

hemichordata,

urochordata,

cephalochordata, dan vertebrata. Sub filum vertebrata beranggotakan hewan-hewan


yang memilki tulang belakang (vertebrae) di bagian badan belakang (dorsal) (Affandi,
2002).
Ikan adalah hewan bertulang belakang (vertebrata) yang hidup diair. Suhu
tubuhnya berubah-ubah tergantung dengan suhu lingkungannya (poikiloterm).
Bergerak dan mempertahankan keseimbangan tubuhnya dengan menggunakan sirip
dan bernafas dengan insang, namun selain menggunakan insang ada juga ikan yang
memiliki alat pernafasan tambahan yang fungsinya sama dengan paru-paru. Ikan
apabila ditinjau dari morfologinya dapat dibagi menjadi tujuh bagian yaitu bentuk
tubuh, bentuk mulut, linnea lateralis, sirip, sungut, sisik, dan ciri-ciri lainnya.
Sedangkan bagian tubuh lainnya, ikan dapat dibagi tiga bagian yaitu kepala (caput),
badan (truncus), dan ekor (caudal) (Radiopoetro, 1996).
Pisces atau ikan adalah anggota vertebrata poikilotermik (berdarah dingin) yang
hidup di air dan bernapas dengan insang. Ikan merupakan kelompok vertebrata yang
paling beraneka ragam dengan jumlah spesies lebih dari 27,000 di seluruh dunia
.Pisces adalah sebutan umum yang dipakai untuk ikan atau sebagai nama super kelas,
dan nama ini diambil dari bahasa latin. Ichtyes juga berarti ikan berasal dari bahasa
Yunani dan ini dipakai dalam Ichtyoplogy yang berarti ilmu yang mempelajari tentang
ikan. Ikan merupakan hewan yang tubuhnya ditutupi oleh sisik-sisik yang tersusun dari
zat kapur. Permukaan sisik berlendir untuk memudahkan gerakan ikan di dalam air.
Ikan bergerak menggunakan sirip. Di sisi kanan dan kiri tubuhnya terdapat gurat sisi
yang berfungsi sebagai alat keseimbangan. Gurat sisi juga berfungsi untuk mengetahui
arah arus air dan kedalaman air tempat ikan berenang.
Kelas Pisces merupakan hewan berdarah dingin, bernafas dengan insang, tubuh
ditutupi oleh sisik dan bergerak menggunakan sirip. Hidup di air tawar dan air asin
(laut). Berdasarkan tulang penyusun, kelas ini dibedakan atas ikan bertulang sejati
(Osteichtyes) dan ikan yang bertulang rawan (Chondrichetyes). Kalau dilihat dari

jumlah spesiesnya yang dikatakan terbanyak dari vertebrata. Penyebaran ikan boleh
dikatakan hamper diseluruh permukaan bumi ditemukan di air tawar maupun air asin
(Radiopoetro, 1996).
Pada sistematika atau taksonomi ada 3 pekerjaan yang biasa dilakukan, yaitu
identifikasi, klasifikasi, dan pengamatan evolusi. Identifikasi merupakan pengenalan
dan deskripsi yang teliti dan tepat terhadap suatu jenis/spesies yang selanjutnya diberi
nama ilmiahnya sehingga diakui oleh para ahli diseluruh dunia. Klasifikasi adalah
suatu kegiatan pembentukan kelompok-kelompok makhluk hidup dengan cara
memberi keseragaman ciri/sifat di dalam keanekaragaman ciri yang ada pada makhluk
hidup tersebut (Jasin, 1984).
Diantara semua kelas verterata, ikan bertulan keras (Kelas Osteichthyes) adalah
yang paling banyak jumlahnya, baik dalam hal jumlah ndividu maupun dalam jumlah
spesies (sekitar 30.000). berukuran antara 1 cm dan lebih dari 6 cm, ikan bertulang
keras sangat melimpah di laut dan di hampir setiap habitat air tawar (Campbell, 2003).
Untuk mendukung pengetahuan tentang klasifikasi dan taksonomi diperlukan
adanya identifikasi dari berbagai parameter morfologi dari bentuk tubuh ikan. Dengan
melihat morfologi ikan kita dapat mengelompokkan ikan/hewan air. Sistem atau cara
pengelompokan ini dikenal dengan istilah sistematika atau taksonomi (Jasin, 1984).
1.2. Tujuan
Melalui pengamatan struktur tubuh bagian luar dan dalam, mahasiswa diharapkan
mampu untuk:
1.
2.
3.
4.
5.
6.

Menggambarkan dan menentukan bagian-bagian tubuh ikan.


Menentukan organ-organ daerah kepala.
Menunjukkan organ-organ bagian dalam.
Menunjukkan organ penyusun bagian ekor.
Menjelaskan topografi (letak organ satu dengan organ yang lain).
Dapat melakukan identifikasi berdasarkan ciri-ciri morfologi.

BAB II

KAJIAN PUSTAKA
Secara umum, pengelompokan hewan vertebrata terbagi menjadi 5 kelas yaitu:
kelas pisces, amphibi, aves, reptilia, dan mammalia yang ke semuanya merupakan
hewan bertulang belakang. Masing-masing dari kelas hewan tersebut memiliki habitus
yang berbeda (Affandi, 2002).
Ikan (pisces) merupakan vertebrata akuatis dan bernapas dengan insang
(beberapa jenis ikan bernapas melalui alat tambahan berupa modifikasi gelembung
renang/gelembung udara). Mempunyai otak yang terbagi menjadi regio-regio. Otak itu
dibungkus dalam kranium (tulang kepala) yang berupa kartilago (tulang rawan) atau
tulang-menulang. Ada sepasang mata. Kecuali ikan-ikan siklostomata, mulut itu
disokong oleh rahang (aggnatha artinya ikan tak berahang). Telinga hanya terdiri dari
telinga dalam, berupa saluran-saluran semisirkular, sebagai organ keseimbangan
(equilibrium). Jantung berkembang baik. Sirkulasi menyangkut aliran seluruh darah
dari jantung melalui insang lalu ke seluruh bagian tubuh lain (Radiopoetro, 1996).
2.1. Pengertian Kelas Osteichtyes
Pada umumnya yang dimaksud ikan adalah ikan-ikan yang masuk kelas
Osctheichthys. Tubuhnya berskeleton tulang keras, terbungkus olrh kulit yang bersisik,
berbentuk seperti torpedo, berenang dengan sirip, bernapas dengan insang. Bermacammacam spesies hidup didalam air tawar atau bergaram (air Laut) (Jasin, 1984).
Osteichthyes atau ikan bertulang sejati, terdiri atas kurang lebih 25000 spesies
danmerupakan vertebrata yang paling sukses, dan yang berkembang menjadi
vertebrata darat atautetrapoda. Mereka muncul pada periode Silur, diduga sebagai ikan
air tawar dan ikan laut (Campbell, 2003)
Ikan bertulang sejati berbeda dengan ikan bertulang rawan dalam berbagai hal.
Salah satuperbedaannya ialah pada perkembangan paru-paru dan gelembung renang
sebagai suatu divertikulum dari usus bagian depan. Gelembung renang merupakan alat
hidrostatik, sedangkanparu-paru merupakan ciri khas dari tiga subclass ikan bertulang
sejati yaitu Crossoptreygii dan Brachyopterygii. Crossoptreygii di dalamnya termasuk
Rhipidistia yang sekarang telah musnahyang diduga merupakan leluhur dari tetrapoda,
dan ikan paru-paru sekarang. Pada subkelas ketiga yaitu Actinopterygii divertikulum
dari usus depan berkembang menjadi gelembung renangyang mempunyai fungsi
sebagai alat hidrostik (Djarubito, 1989 ).
2.2. Karakteristik Kelas Osteichtyes

Menurut Jasin (1984), Kelas Osteichthyes (Ikan Bertulang Sejati) memiliki ciriciri yaitu sebagai berikut:
1. Kulit banyak mengandung kelenjar mucosa, biasanya diliputi oleh sisik dan
beberapaspesies tidak bersisik, bersirip pada media baik dorsal maupun ventral
dan pada sebelahmenyebelah tubuh itu dengan beberapa perkecualian. Sirip
biasanya disokong oleh jariduri tulang rawan atau keras, tidak berkaki.
2. Mulut terletak diujung dan bergigi rahang tumbuh dengan baik dan bersendi
padatulang tempurung kepala, mempunyai dua sacci olfactorious yang
umumnyaberhubungan dengan rongga mulut, bermata besar, tidak berkelopak
mata.
3. Skeleton terutama berupa tulang keras, kecuali beberapa jenis yang sebagian
bertulangrawan, bentu vertebrata, bernotocord masing-masing tampak.
4. Cor terdiri dari atas dua ruangan (auriculum dan ventriculum) dengan sinus
venosusdan conus arteriosus yang berisi darah vena terdapat empat pasang
archus aorticus, seldarah merah berbentuk oval dan berinti.
5. Pernafasan dilakukan dengan beberapa pasang insang yang terletak pada
archusbranchius yang berada dalam ruangan celah insang pada kedua tepi dari
pharing, tertutup operculum, biasanya memiliki pueumatica (gelembung
udara) dan memiliki ductus pneumaticus, beberapa jenis mempunyai bentuk
seperti paru paru misalnya pada dipnoi.
6. Terdapat 10 pasang nervi cranialis.
7. Suhu tubuh bergantung kepada lingkungan sekitarnya.
8. Memiliki sepasang gonad, umumnya ovivar,ada yang ovovivivar atau
vivipar.Fertilisasi diluar tubuh, ukuran telur kecil, tidak mempunyai membrane
embrio, hewanmudanya kadang kadang tidak mirip dengan yang dewasa.
Menurut Radiopoetro (1996), Kelompok Osteichthyes memiliki kerangka yang
tersusun atas tulang keras yang mengandung matriks kalsium fosfat. Ciri-ciri lainnya
adalah:
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.

Mulut terdapat di bagian depan tubuh


Celah insang satu di masing-masing sisi kepala.
Sirip ekor memiliki panjang yang sama pada bagian atas dan bawah.
Kulit licin karena sekresi mukus oleh kelenjar pada kulit.
Adanya gelembung renang sehingga tidak tenggelam saat tidak bergerak.
Sistem gurat sisterdapat pada sisi tubuh.
Usus panjang dan ramping menggulung.
Fertilisasi trjadi diluar.
Mengeluarkan telurnya atau bersifat ovipar.

Lebih kurang 20 ribu spesies ikan ber tulang sejati mempunyai skeletondari tulang
sejati. Kelompok ini meruoakan vertebrata paling sukses dan beragam. Sifat dan cara
hidupnya bermacam-macam, antara lain sebagai penyaring makanan ataupun predator.

Permukaan tubuh tertutup oleh sisik bertipe sikloid dan stenoid. Ciri-ciri sisik tipe
sikloid antara lain adalah bebentuk sirkuler, jika diamati dibawah mikroskop akan
tamnpak garis-gariskonsentris berjumlah sesuai dengan umurnya, tampak mengilap
kebiruanmengandung kristal guanine, dan sel-sel pigmen yang berbentuk bintang,
mengandung zat warna hitam (melatonin). Bentuk sirip stenoid mirip dengansiri
sikloid, tetapi bagian belakang memiliki gerigi (Jasin, 1984).
Ikan bertulang sejati memiliki gelembung renang yaitu kantong udarayang dapat
digunakan untuk mengubah daya apung dan sebagai alat bantudalam bernafas.
Beberapa anggotanya dapat berpindah dari perairan asin ke perairan tawar, misalnya
ikan salmon dan belut laut. Pada saat berada di air tawar, ginjal mengeluarkan urin
yang sangat encer dan insangnya menyerapgaram dari air dengan cara transfor aktif.
Ikan yang sering dijumpi di air tawar ikan nila dan ikan gabus (Djarubito, 1989 ).
2.3. Jenis-jenis Kelas Osteichtyes
Menurut Sukiya (2005), Ikan-ikan bertulang sejati dengan cepat (masih dalam
zaman devon) terpecah menjadi tiga kelompok berbeda yakni :
1. Paleoniskoida dibedakan dengan adanya sirip berjari (sirip yang tidak ada otot
maupum tulang) dan kenyataan bahwa ventilasi paru-paru dilakukan mellaui
mulut. Banyak dari kelompok ini bermigrasi ke Laut selama akhir era, (masa)
paleozoikum dan mesozoikum. Dalam lingkungan air yang stabil, tidak
diperlukan paru-paru, dan alat ini diubah menjadi gelembung renang yang
dapat digunakan ikan untuk mengubah daya apung di dalam air.
2. Ikan paru-paru mengembangkan suatu pembaruan berarti yang tidak dimiliki
moyangnya. Lubang hidung mereka yang pada Osctheichthys pertama hanya
bermuara keluar dan digunakan untuk membau (sebagaimana pada semua
keturunan paleoniskoid masa kini). Mengembangkan lubang internal ke rongga
mulut. Ini memungkinkannya untuk bernapas diudaara dengan mulut tertutup.
Menilik ikan paru-paru masa kini, dua adaptasi lain yang berarti telah
berevolusi dalam kelompok ini. Pertama adalah perkembangan dua atrium dan
sekat parsial dalam ventrikel jantung. Hal ini memungkinkan setidak-tidaknya
pemisahan parsial darah yang mengandung oksigen yang kembali dari paruparu dengan darah yang kurang oksigen dari bagian badan lainnya dan dengan
demikian merupakan perbaikan yang berarti dalam efisiensi sistem peredaran.
Adaptasi kedua adalah perkembangan sistem enzim yang diperlukan untuk
mengubah amonia menjadi urea yang kurang beracun. Ini terutama

berkembang sangat baik pada spesies Afrika dan Amerika Selatan. Sedangkan
di dalam air, ikan-ikan ini mengekskresikan limbah nitrogen mereka sebagai
amonia seperti yang dilakukan oleh ikan sirip berjari. Akan tetapi dalam musim
kering hewan-hewan ini membenamkan diri dalam lunpur dan beralih pada
reproduksi urea.
3. Krospterigia juga mempunyai lubang hidung dalam yang dapat digunakan
unutk mengembangkan paru-paru. Disamping itu sirip belakang dan sirip
pectoral mereka bergelambir, yaitu berdaging dan ditunjang oleh tulang.

BAB III
METODOLOGI PRAKTIKUM
3.1. Waktu dan Tempat Praktikum
Praktikum tentang Kelas Osteichtyes ini dilaksanakan pada hari selasa, tanggal 29
April 2014 di mulai pada pukul 15:00 sampai dengan 17:00 WIB, di laboratorium

Biologi Program Studi Biologi Fakultas Tarbiyah Institut Agama Islam Negeri Raden
Fatah Palembang.
3.2. Alat dan Bahan
a. Alat Praktikum
1. Media gambar
2. Loupe
3. Seperangkat alat bedah
4. Steoroform
5. Jarum pentul
b. Bahan praktikum
1. Ikan nila (Oreochromis niloticus)
3.3. Cara Kerja
1. Menyiapkan ikan nila segar.
2. Ikan yang masih segar diletakkan di atas steoroform.
3. Mengamati dan menggambar bentuk luar ikan nila meliputi kepala (Caput),
badan (Truncus), dan ekor (Caudal).
4. Membedah ikan nila
5. Mengamati dan menggambar bentuk dalam ikan nila meliputi: penampang
insang, system otot, system reproduksi, system pencernaan, topografi, bentuk
tulang, otak,

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1. Hasil Pengamatan
a. Morfologi Ikan Nila

1. Kepala (Caput)
2. Organon visual
3. Rongga mulut
4. Tutup insang (Operculum)
5. Membrane branchi ostegalis
6. Badan (truncus)
7. Pinae abdominalis
8. Sisik (squama)
9. Sirip di anus (Analis)
10. Ekor
11. Pinae dorsalis
12. Linea lateralis
Gambar ekor

Gambar sisik

1. Sirip ekor

1.
2.
3.
4.

Secondary radii
Anterior field
Lateral field
Focus

b. Anatomi Ikan Nila


No

Gambar Pengamatan

Keterangan

.
1.

Penampang insang

1. Lengkung insang
2. Tulang tapis

2.

Otot

1. Nyocomma
2. Nyomer
3. Susunan

otot-otot

badan
4. Neptum horizontal

3.

Topografi

1. Insang (branchia)
2. Gelembung renang
3.
4.
5.
6.

(pncumatoeyat)
Jantung (cor)
Hati (hepar)
Usus (intestinum)
Limpa (lien)

4.

System pencernaan

1.
2.
3.
4.
5.
6.

Lambung
Hati (hepar)
Usus (intestinum)
Limpa (lien)
Pankeras
Kantung empedu

5.

Bentuk tulang

1. Tulang belakang
2. Tulang rusuk

6.

System reproduksi

1.
2.
3.
4.

Gonad
Telur
Limpa
Empedu

7.

Otak

1.
2.
3.
4.

Cereblum
Pallium
Tractus olfactorius
Bulbus olfactorius

4.2. Pembahasan
Ikan nila merupakan jenis ikan konsumsi air tawar dengan bentuk tubuh dan
memanjang dan pipih kesamping, dan warna putih kehitaman. Ikan nila berasal dari

sungai nil dan danau- danau disekitarnyaaa. Sekarang ikan ini telah tersebar ke negaranegara di lima Benua yang beriklim tropis dan subtropics (Dwisang, 2008).
Ikan Nila (Oreochromis niloticus) termasuk jenis hewan vertebrata yang seluruh
badannya bersisik dan mempunyai gurat sisi. Ikan Nila termasuk dalam filum Chordata
yang berarti bertulang belakang atau kerangka tubuh (Dwisang, 2008).
Habitat lingkungan Ikan Nila, yaitu : danau, Sungai, Waduk, Rawa, Sawah, dan
perairanlainnya. Selain itu Ikan nila mampu hidup pada perairan payau, misalnya
tambak dengan salinitas maksimal 29% oleh karena itu masyarakat yang berada di
daerah sekitar pantai dapat membudidayakannya khusus kegiatan pembesaran Ikan
Nila (Santoso,1996).
Klasifikasi :
Fillum

: Chordata

Sub Fillum

: Vertebrata

Kelas

: Detoichtyas

Sub Kelas

: Achanthoptarigi

Ordo

: Parcomorphi

Sub Ordo

: Parchokka

Family

: Cichlidan

Genus

: Oreochromis

Spesies

: Oreochromis niloticus

a. Anatomi eksternal
Anatomi eksternal ikan nila meliputi bagian kepala (caput), organon visual,
rongga mulut, operculum (tutup insang), membrane branchi ostegalis, badan
(truncus), pinae abdominalis, sisik (squama), analis (sirip di anus), pinae dorsalis,
dan linea lateralis. Tipe sisik ikan nila yaitu stenoid. Ekor Ikan nila memiliki
bentuk tipe Imargind yang memiliki ekor yang kuat untuk berenang
Menurut Pratama (2009), ikan nila mempunyai nilai bentuk tubuh yang pipih
kea rah vertical (kompres) dengan profil empat persegi panjang kea rah
anteroposterior, posisi mulut terletak di ujung/termal.
Pada sirip ekor tampak jelas garis-garis yang vertical dan pada sirip
punggungnya garis terlihat condong lekuknya. Ciri ikan nila adalah garis-garis

vertikal berwarna hitam pada sirip, ekor, punggung dan dubur. Pada bagian sirip
caudal/ ekor yang berbentuk membulat warna merah dan biasa digunakan sebagai
indikasi kematangan gonad (Riki, 2013).
Sisik dan sirip merupakan eksoskleton, sedang endoskeleton terdiri atas tulang
tempurung kepala , columna vertebralis, cingulum pectoralis, tulang-tulang kecil
tambahan yang menyokong sirip. Tulang-tulang tempurung kepala terdiri atas
cranium sebagai tempat otak, capsula untuk tempat beberapa pasang organon
sensoris (olfactory, optic, auditory) dan skeleton viceralis, yang merupakan bagian
pembentuk tulang rahang dan penyokong lidah insang untuk mekanisme.
Tengkorak (tempurung) kepala melekat dekat sekali dengan columna vertebralis,
oleh karena itu ikan tidak bisa memutar kepalanya. Gigi biasanya terdapat pada
tulang premaxillary dentary, vomer dan tulang palatine (Riki, 2013).
Pada rahang terdapat bercak kehitaman. Sisik ikan nila adalah tipe scenoid.
Ikan nila juga ditandai dengan jari-jari darsal yang keras, begitupun bagian
awalnya. Dengan posisi siap awal dibagian belakang sirip dada (abdormal)
(Pratama, 2009).
b. Anatomi internal
Dari hasil pengamatan diketahui bahwa anatomi internal ikan nila yaitu:
penampang insang meliputi: lengkung insang dan tulang tapis. System otot,
topografi meliputi: insang (branchia), gelembung renang (pncumatoeyat), jantung
(cor), hati (hepar), usus (intestinum), limpa (lien). System pencernaan meliputi
lambung, hati, pancreas, usus, dan kantung empedu. Bentuk tulang meliputi tulang
belakang dan tulang rusuk. Sistem reproduksi meliputi: gonad, empedu, telur, dan
limpa. Otak yang meliputi: cereblum, pallium, tractus olfactorius, dan bulbus
olfactorius. Pada otot meliputi: nyocomma, nyomer, susunan otot-otot badan dan
neptum horizontal (Wijaya, 2004)
Anatomi internal pada ikan meliputi sistem skeleton, sistem otot, sistem
pencernaan, sistem sirkulasi, sistem respirasi, sistem ekskretori, sistem saraf dan
organ, sistem rerproduksi serta sistem endokrin (Dhewi, 2008).
Secara umum, proses pencernaan ikan sama dengan vertebrata yang lain.
Namun, ikan memiliki beberapa variasi terutama dalam hubungannya dengan cara
memakan. Alat pencernaan ikan terdiri atas saluran pencernaan dan kelenjar
pencernaan. Pada umumya, saluran pencernaan ikan berturut-turut dimulai dari
segmen mulut, rongga mulut, faring, esophagus, lambung, pylorus, usus, rectum,
dan anus. Sedangkan sel atau kelenjar pencernaan terdapat pada lambung, hati,
dan pankeas (Dhewi, 2008).

Saluran pencernaan pada ikan dimulai dari rongga mulut (cavum oris). Pada
rongga mulut terdapat gigi-gigi kecil yang berbentuk kerucut pada geraham bawah
dan lidah pada dasar mulut yang tidak dapat digerakkan. Lidah ikan banyak
menghasilkan lendir, tetapi tidak menghasilkan ludah (enzim). Dari rongga mulut,
makanan masuk ke esophagus melalui faring yang terdapat di daerah sekitar
insang kemudian makanan di dorong masuk ke lambung. Lambung ikan pada
umumnya membesar dan tidak memiliki batas yang jelas dengan usus. Dari
lambung, makanan masuk ke usus yang berupa pipa panjang berkelok-kelok dan
sama besarnya. Usus bermuara pada anus (Pratama, 2009).
Fungsi utama sistem otot adalah untuk berbagai variasi gerak dari organ tubuh.
Gerak otot pada ikan terutama untuk membuka dan menutup mulut, menggerakan
mata, membuka dan menutup insang, menggerakan sirip dan gerakan ke atas atau
ke samping atau melawan arus air. Gerakan tersebut hanya memerlukan sistem
otot sederhana. Jenis otot pada ikan adalah otot lurik, polos, jantung. Kerja
sistem otot pada ikan dikontrol oleh rangsang saraf (Sukiya, 2005).
Pada ikan jantan terdapat sepasang testis yang panjang. Testis tersebut terletak
ventral dari ren. Pada ujung caudal mulai vas deferens yang bermuara ke dalam
sinus urogenitalis. Pada ikan betina terdapat sepasang ovaria yang panjang.
Ovaria ini mempunyai rongga yang mengarah ke caudal melanjutkan diri ke
dalam oviduct yang bermuara ke dalam sinus urogenitalis. Ovum dibungkus
dengan suatu membrane tebal (zona radiata). Zona ini dibentuk dari lapisan
superficial protoplasma (Radiopoetro, 1996).
BAB V
PENUTUP
5.1. Kesimpulan
Adapun kesimpulan dari praktikum Zoologi Vertebrata Kelas Osteichtyes yaitu
sebagai berikut:
1. Ikan nila adalah hewan vertebrata yang mempunyai tulang belakang.
2. Anatomi eksternal Ikan terdiri dari beberapa bagian yaitu: kepala (caput),
badan (truncus), dan ekor (caudal).
3. Ikan nila memiliki sisik yang berjenis stenoid.
4. Ikan nila memiliki bentuk caudal bertipe Imargind, yang memiliki ekor yang
kuat untuk berenang.
5. Anatomi internal ikan nila meliputi : penampang insang meliputi: lengkung
insang dan tulang tapis. System otot, topografi meliputi: insang (branchia),

gelembung renang (pncumatoeyat), jantung (cor), hati (hepar), usus


(intestinum), limpa (lien). System pencernaan meliputi lambung, hati,
pancreas, usus, dan kantung empedu. Bentuk tulang meliputi tulang belakang
dan tulang rusuk. Sistem reproduksi meliputi: gonad, empedu, telur, dan limpa.
Otak yang meliputi: cereblum, pallium, tractus olfactorius, dan bulbus
olfactorius. Pada otot meliputi: nyocomma, nyomer, susunan otot-otot badan
dan neptum horizontal
5.2. Saran
Sebaiknya praktikum Kelas Osteichtyes lebih bisa untuk memanfaatkan waktu
seefektif mungkin dan perlunya perlengkapan alat uhntuk menunjang kelancaran
dalam praktikum.

DAFTAR PUSTAKA
Affandi, R, dan Tang, U. 2002. Fisiologi Hewan Air. University Riau Press: Riau
Campbell. 2003. Biologi Edisi kelima Jilid 2. Erlangga: Jakarta.
Djarubito, Mukayat. 1989. Zoologi Dasar. Erlangga: Jakarta.
Dhewi. 2008. Kualitas Ikan Nila. Graha Ilmu: Jakarta
Jasin, Maskoeri. 1984. Zoologi Vertebrata. Wijaya utama: Surabaya.
Pratama, 2009. Morfologi Ikan Nila. Airlangga. Jakarta
Putra, adriansyah. 2010. Macam-macam sisik ikan nila. Graha Ilmu: Jakarta
Radiopoetro. 1996. Zoologi. Erlangga: Jakarta.
Riki. 2013. Laporan Praktikum Ikan Nila. http//:www.laporanpraktikumpisces.pdf.
Diakses pada tanggal 4 mei 2014 pukul 13.00 WIB.

Santoso. Budi. 1996. Budidaya Ikan Nila. Kasinius: Yogyakarta.


Sukiya. 2005. Biologi Vertebrata. Universitas Malang Press : Malang.
Wijaya, Nuriman, Suatma, Yusnidar. 2004. Penuntun Praktikum Zoologi Vertebrata.
FKIP UNPAR: Palangka Raya.