Anda di halaman 1dari 5

TERAPI MEDIKAMENTOSA

Penatalaksanaan medis terhadap korioretinitis berfokus terhadap pemberian terapi yang


spesifik berdasarkan etiologi serta untuk stabilisasi pasien dengan korioretinitis sehingga
menghindari komplikasi terhadap hilangnya penglihatan terutama pada bayi dan anak
yang imunokompromis. Perawatan terhadap penderita korioretinitis cukup kompleks dan
terdapat perawatan jangka pendek maupun jangka panjang sehingga dapat mencapai
tujuan yaitu menjaga kualitas hidup dari seseorang.

Pilihan terapi berdasarkan etiologi dari korioretinitis yaitu :


1) Anti Viral
4 obat yang digunakan untuk terapi infeksi cytomegalovirus sistemik yaitu
Ganciclovir, Valganciclovir (Prodrug oral dari Ganciclovir), Foscarnet, dan Cidofovir.
Formisiven merupakan obat yang digunakan secara intravitreal untuk menterapi
retinitis CMV pada pasien dengan acquired immunodeficiency syndrome (AIDS).
Obat yang terbaru yaitu Maribavir, yang memiliki potensi bila terdapat resistensi dari
strain Ganciclovir, namun obat ini masih dalam tahap penelitian. Pada anak dengan
infeksi human immunodeficiency virus (HIV), pilihan obat untuk terapi ininsial
dengan retinitis CMV adalah Ganciclovir intravena. Valganciclovir oral adalah
pilihan untuk anak dengan usia yang lebih tua. Pilihan alternatif untuk terapi penyakit
karena CMV atau bila resisten terhadap strain Ganciclovir pada anak dengan infeksi
HIV yaitu Foscarnet. Terapi kombinasi dengan Ganciclovir dan Foscarnet
memperlambat progresivitas dari retinitis pada pasien yang gagal dengan monoterapi
dan hal ini dapat digunakan sebagai terapi awal pada anak dengan ancaman terjadinya
penurunan

penglihatan.

Ganciclovir

intravena

dan

Foscarnet

juga

dapat

dipertimbangkan sebagai terapi awal dari penyakit susunan saraf pusat akibat CMV.
Namun terapi kombinasi juga berkaitan dengan tingkat efek samping yang terjadi.
2) Anti Parasit
Beberapa obat telah digunakan untuk menterapi toksoplasmosis. Terapi dengan obat
anti parasit juga efektif untuk infeksi yang aktif namun bukan untuk parasit yang
dalam bentuk kista. Terapi klasik yaitu triple drugs therapy dengan Pirimetamin (0,51 mg/kg/hari), Sulfadiazin (120-150 mg/kg/hari), dan Prednison. Penggunaan dari
Asam Folat bertujuan untuk meminimalisir toksisitas pada sumsum tulang akibat
pemakaian Pirimetamin.

3) Antibiotik
Terapi antibiotik alternatif yaitu Atovaquone (40 mg/kg/hari pada dewasa, dan tidak
terdapat dosis untuk anak-anak), Azitromisin (5mg/kg/hari), dan TrimethoprimSulfamethoxazole (40 mg/kg/hari, 8 mg/kg/hari Trimethoprim). Klindamisin
(20mg/kg/hari) dapat digunakan untuk menterapi parasit dalam bentuk kista. Durasi
terapi untuk infeksi congenital biasanya selama 1 tahun. Pencegahan untuk infeksi
fetal setelah ibu terinfeksi Toxoplasma selama kehamilan adalah dengan
menggunakan Spiramycin. Catstrach disease adalah self-limited disease pada pasien
imunokompeten. Bartonella henselae sensitif terhadap berbagai antibitotik, namun
hanya aminoglikosida yang memiliki aktivitas bakterisidal. Pada pasien yang
imunokompeten, Doksisiklin 200 mg/hari digunakan karena komponennya dapat
melewati sawar otak dan barier sawar ocular. Terdapat efek samping berupa
perubahan status dental pada seseorang terutama anak-anak. Siprofloksasin (1,5
gram/hari), Gentamisin (3-5 gram/hari), Eritromisin (20-50 mg dibagi dalam 3 dosis;
dewasa

gram/hari),

Trimethoprim-Sulfamethoxazole

(40

mg/kg/hari

Sulfamethoxazole, 8 mg/kg/hari Trimethoprim) adalah alternatif yang baik, dan


seperti Doksisiklin yang dapat diberikan selama 14-28 hari. Pasien dengan
imunodefisiensi membutuhkan terapi dengan waktu yang lebih lama, biasanya selama
4 bulan. Steroid juga diindikasikan untuk penyakit okular.
4) Anti Fungal
Terapi untuk korioretinitis akibat infeksi jamur lebih sulit dan membutuhkan jangka
waktu yang lebih lama. Amfoterisin B intravitreal (5-10 mcg) digunakan untuk
menterapi korioretinitis fungal yang bersifat serius. Infeksi Candida menggunakan
Fluconazole (6-12 mg/kg/hari) dan amfoterisin B (0,75-1 mg/kg/hari) telah
direkomendasikan sebagai pilihan antifungi untuk menterapi Candida endoftalmitis.
Generasi Triazole baru (Voriconazole, Posaconazole, Ravuconazole) digunakan bila
terdapat resistensi dari strain Candida dengan penggunaan Fluconazole untuk terapi
endoftalmitis fungal. Caspofungin adalah Echinocandin pertama yang dipilih untuk
menterapi endoftalmitis fungal karena Candida Albicans. Penelitian terhadap
Voriconazole intraocular ( 25 mcg/mL) telah digunakan untuk terapi bila resisten
Azole terhadap infeksi Candida dengan adanya keberhasilan. Histoplasmosis okular:
terapi terbatas untuk fotokoagulasi membrane neovaskular, terutama bila makula

terancam terkena. Terapi antifungal tidak memiliki peranan terhadap penyakit ini
karena tidak ada organisme yang bereplikasi secara aktif. Amfoterisin B dapat
digunakan untuk menterapi penyakit sistemik (0,75-1 mg/kg/hari). Infeksi spesies
Cryptococcus dengan menggunakan Amfoterisin B (0,75-1 mg/kg/.hari)
5) Anti Tuberkulosis
Obat anti tuberkulosis yang digunakan adalah Isoniazid (10-30 mg/kg/hari),
Rifampisin (10-20 mg/kg/hari), Pirazinamid (30 mg/kg/hari), dan Etambutol (15
mg/kg/hari). Obat lain seperti Aminoglikosida dan Kuinolon dapat digunakan bila
terdapat resistensi terapi dari obat. Durasi dari terapi bergantung pada tingkat
penyakit da status imun dari host.
6) Anti Helmintes
Antihelmintes, termasuk Diethylcarbamazine (6 mg/kg/hari), Albendazole (400 mg, 2
kali sehari peroral), dan Mebendazole (100-200 mg, 2 kali sehari peroral), biasanya
digunakan dengan kortikosteroid dengan Toxocariasis dan Baylisascariasis.
Terapi terhadap etiologi tidak mengubah dari gejala klinis pada korioretinitis karena perubahan
patologi selama terjadinya respon inflamasi dan atau imunologi disamping terjadinya infeksi.
Terapi terhadap etiologi infeksi lain, seperti sifilis, yersiniosis, neuroborreliosis, tergantung dari
luasnya penyakit namun cukup berhasil pada kebanyakan pasien. Pada anak-anak, jika tidak
diobati, 85 % dari anak-anak dengan gejala subklinis akan menunjukkan tanda-tanda gangguan
tumbuh kembang. Transmisi dan tingkat keparahan infeksi pada anak dapat diantisipasi dengan
memberikan perawatan kepada ibu selama hamil. Pengobatan pada anak-anak dengan infeksi
kongenital dapat mengubah perjalanan penyakit, meskipun kekambuhan dari korioretinitis masih
bisa terjadi pada anak-anak yang diobati.
Gejala pada mata dapat diterapi sebagai berikut :

Steroid dapat digunakan untuk manajemen akut dari vaskulitis, penyakit kolagen
vascular, atau sarkoidosis; pada proses infeksi (penyakit tuberkulosis), atau pada kasus infeksi
akibat spesies Toxoplasma.

Terapi laser pada lesi di retina dapat dikerjakan pada kondisi tertentu dengan hasil
yang baik

Tabel 1. Terapi Standar untuk Toksoplasmosis Okular: Obat dan Dosis


Pyrimethamine
75- 100 mg dosis awal (2 hari)
25-50 mg per hari sampai lesi sembuh (biasanya 4- 6
minggu)
Sulfadiazine
2.0-4.0 g dosis awal (2 hari)
0.5-1.0 g qid sampai lesi sembuh (biasanya 4- 6
minggu)
Asam Folat
Prednisone

5 mg 3 kali seminggu selama terapi pyrimethamine


0.5-1 mg/kg per hari selama 3-6 minggu (dimulai pada
hari ketiga)
Tapper off sesuai respon klinis; hindari penggunaan
pada pasien immunocompromised; hitung sel darah
putih dan platelet setiap minggu.
Sumber : AAO, 2012

TERAPI OPERATIF

Vitrektomi biasanya tidak diperlukan dan dikerjakan pada kasus berat yang resisten
dengan terapi medis konservatif.

Sitologi okular digunakan untuk mendeteksi keberadaan eosinofil, antibodi okular, dan
tingkat

immunoglobulin E (IgE) sebaiknya dilakukan untuk membedakan larva migrans

toxocara okular dari retinoblastoma malignan untuk mencegah enukleasi yang tidak diperlukan.
CONSULTATION

Involvement of the following specialists is helpful in performing a diagnostic workup,


determining the length of treatment, and planning the total management of a child with
chorioretinitis:

Ophthalmologist - For determination of eye damage, treatment, and long-term


follow-up care

Infectious disease specialist - For diagnostic workup, selection of therapeutic


agents and options, investigation of potential drug toxicities, and determination of treatment
length in consultation with the ophthalmologist

Other specialists include the following:

Neurologist - For seizure control and long-term follow-up care of neurologic


deficits

Allergy and immunology/rheumatology specialist - To treat other associated


conditions (ie, juvenile rheumatoid arthritis)

Audiologist - For assessment and corrective measures to detect and treat deafness
(if possible)

Physical therapist - For maximization of functions and range of motions of


muscles and joints and for referral to an orthopedist for surgical intervention if needed

Occasionally, genetic testing is required to investigate possible dysmorphic syndromes.

Anda mungkin juga menyukai