Anda di halaman 1dari 18

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Upaya perbaikan gizi masyarakat sebagaimana disebutkan di dalam
undang-undang No 36 tahun 2009 bertujuan untuk meningkatkan mutu gizi
perseorangan dan masyarakat, antara lain melalui perbaikan pola konsumsi
makanan, perbaikan perilaku sadar gizi dan peningkatan akses dan mutu
pelayanan gizi dan kesehatan sesuai dengan kemajuan ilmu dan teknologi.
(http://pedoman-surveilans-gizi-kab-kota-2010)
Status gizi anak balita telah mengalami perbaikan yang ditandai dengan
menurunnya prevalensi gizi kurang dari 24,5% (Susenas,2005) menjadi 18,4%,
walaupun demikian masalah stunting pada anakbalita masih tinggi yaitu sebesar
36,8% (Riskesdas, 2007). Masalah gizi mikro di 10 Provinsi tahun 2006,
diperoleh gambaran prevalensi xeroptalmia pada balita 0,13% dan proporsi balita
dengan serum retinol < 20 gr/dl sebesar 14,6% (Puslitbang Gizi, 2006). Hasil
studi tersebut menggambarkan terjadinya penurunan jika dibandingkan dengan
hasil survei vitamin A pada tahun 1992. Selain itu, masalah anemia pada ibu hamil
berdasarkan Survei Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) tahun 2001 masih cukup
tinggi yaitu sebesar 40,1%. Secara nasional cakupan pemberian ASI eksklusif di
Indonesia beruktuasi dan menunjukan kecenderungan menurun selama tiga
tahun terakhir. Cakupan pemberian ASI eksklusif 06 bulan turun dari 62,2%
tahun 2007 menjadi 56,2% pada tahun 2008. Sedangkan cakupan pemberian ASI
eksklusif pada bayi sampai 6 bulan turun dari 28,6% tahun 2007 menjadi 24,3%
pada tahun 2008 (Susenas 2007 2008).

Rencana Pembangunan Jangka

Menengah Nasional (RPJMN) 2010-2014 telah menetapkan 4 sasaran


pembangunan kesehatan, yaitu; 1) Meningkatkan Umur Harapan Hidup menjadi
72 tahun; 2) Menurunkan Angka Kematian Bayi menjadi 24 per 1000 kelahiran
hidup; 3) Menurunkan Angka Kematian Ibu menjadi 228 per 100 ribu kelahiran
hidup; dan 4) Menurunkan prevalensi gizi kurang menjadi 15% dan menurunkan

prevalensi balita pendek menjadi 32%.


Untuk mencapai sasaran RPJMN Tahun 2010-2014 bidang kesehatan,
Kementerian Kesehatan telah menetapkan Rencana Strategi Kementerian
Kesehatan Tahun 2010-2014, yang memuat indikator keluaran yang harus dicapai,
kebijakan dan strategi. Di bidang perbaikan gizi telah ditetapkan 8 indikator
keluaran, yaitu;
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.

100% balita gizi buruk ditangani/dirawat


85% balita ditimbang berat badannya,
80% bayi usia 0-6 bulan mendapat ASI Eksklusif,
90% rumah tangga mengonsumsi garam beryodium,
85% balita 6-59 bulan mendapat kapsul vitamin A,
85% ibu hamil mendapat Fe 90 tablet,
100% kabupaten/kota melaksanakan surveilans gizi, dan
100% penyediaan buer stock MP-ASI untuk daerah bencana.

1.2 Tujuan
Adapun tujuan penulisan makalah ini, antara lain :
1. untuk mengetahui system kewaspadaan pangan dan gizi (SKPG)
2. untuk mengetahi pogram pemantauan pertumbuhan balita
3. untuk mengetahui system surveilans gizi
4. untuk mengetahui evaluasi keberhasilan program UPGK
1.3 Rumusan Masalah
Adapun ruang lingkup makalah ini, antara lain :
1. System kewaspadaan pangan dan gizi (SKPG)
2. Program pemantauan pertumbuhan balita
3. System surveilans gizi
4. Evaluasi keberhasilan rogram UPGK

BAB II
ISI
2.1 Sistem Kewaspadaan Pangan dan Gizi (SKPG)
2.1.1 Pengertian SKPG
Dalam Pelita III telah dicanangkan untuk mengadakan suatu usaha untuk
mengembangkan Sistem Kewaspadaan Pangan dan Gizi (SKPG).

Usaha ini

dianggap penting karena bertujuan untuk mencegah timbulnya keadaan gizi buruk
pada penduduk terutama di daerah rawan pangan. Sebagai realisasinya maka
Badan Libangkes/Puslitbang Gizi memprakarsai suatu usaha penelitian dan
pengembangan SKPG sejak 1979 di beberapa daerah dengan mendapatkan
bantuan dari USAID dan kerjasama dengan CORNELL UNIVERSITY. (suhardjo)
Kegiatan SKPG ini adalah mengamati situasi pangan dan gizi penduduk
secara terus menerus guna merencanakan dan melakukan tindakan pencegahan
dan penanggulangan pada saat yang tepat. (suhardjo).
Sistem Kewaspadaan Pangan dan Gizi (SKPG) adalah sistem informasi yan
g dapat digunakan sebagai alat bagi pemerintah daerah untuk mengetahui situasi
pangan dan gizi masyarakat (http://www.deptan.go.id).
2.1.2 Tujuan SKPG
SKPG bertujuan untuk : (http://www.mwaconsultant.com/penyusunandan-pemetaan-sistem-kewaspadaan-pangan-dan-gizi)
1. Membangun/menyediakan data dan informasi situasi pangan yang
mempengaruhi status gizi pada skala rumah tangga, wilayah dan nasional.
2. Membangun/menyediakan isyarat dini kemungkinan terjadinya ganguan
ketersediaan pangan yang dapat mengakibatkan kerawanan pangan dan
gizi.
3. Membangun/menyediakan kebijakan penyediaan kecukupan pangan
4. Membangun / menyediakan kebijakan tindakan penanggulangan
kerawanan pangan.

5. Menfasilitasi institusi lintas sektoral maupun swasta dalam menyusun


program-program yang mendukung ketahanan pangan.
2.1.3 Manfaat SKPG
1. Bagi Kepala Daerah
Sebagai dasar menetapkan kebijakan penanggulangan masalah pangan dan
gizi dalam:
Menentukan daerah prioritas.
Merumuskan tindakan pencegahan terhadap ancaman krisis
pangan dan gizi.
Mengalokasikan sumberdaya secara lebih efektif dan efisien.
Mengkoordinasikan program lintas sektor.
2. Bagi Pengelola Program
Penetapan lokasi dan sasaran.
Menyusun kegiatan terpadu sesuai dengan tugas pokok dan fungsi sekt
or.
Proses pemantauan pelaksanaan.
Pelaksanakan kerjasama lintas sektor.
Mengevaluasi pelaksanaan program.
3. Bagi Masyarakat
Kemungkinan kejadian krisis pangan di masyarakat dapat dicegah.
Ketahanan pangan ditingkat rumah tangga meningkat.
Melindungi golongan rawan dari keadaan
yang dapat memperburuk status gizi.
2.1.4 Indikator SKPG
Sesuai dengan fungsi dan kegunaannya indikator SKPG dikategorikan
dalam

(tiga)

kelompok

utama

yaitu

(http://www.mwaconsultant.com/penyusunan-dan-pemetaan-sistem-kewaspadaanpangan-dan-gizi)
1. Indikator untuk pemetaan situasi pangan dan gizi 1 tahun di kecamatan,
kabupaten/kota, provinsi maupun nasional dengan menggunakan 3
indikator
yang digabungkan secara komposit yaitu :
Indikator pertanian, dengan memperhatikan bahwa potensi pertanian
pangan antar wilayah sangat beragam maka akan didekati dengan

beberapa alternatif yang mungkin dan cocok diterapkan pada suatu


wilayah pengamatan.
Indikator kesehatan yaitu Prevalensi Kekurangan Energi Protein (KEP).
indikator sosial yaitu persentase keluarga miskin.
2. Indikator untuk peramalan produksi secara periodik (bulanan, triwulan,

3.

musiman atau tahunan) khusus untuk kondisi produksi pertanian yaitu:


Luas tanam
Luas kerusakan
Luas panen dan produktivitas
Indikator untuk pengamatan gejala kerawanan pangan dan gizi yaitu:
kejadian-kejadian yang spesifik lokal (indikator lokal) yang dapat dipakai
untuk mengamati ada/tidaknya gejala rawan pangan dan gizi.

2.1.5 Ruang Lingkup SKPG


Ruang lingkup kegiatan SKPG terdiri dari

pengumpulan, pemrosesan,

penyimpanan, analisis, dan penyebaran informasi situasi pangan dan gizi serta
investigasi mendalam (indepth investigation) bagi desa yang diindikasikan akan
terjadi kerawanan pangan dan gizi. Hasil analisis SKPG dapat dimanfaatkan
sebagai bahan perumusan kebijakan, perencanaan, penentuan intervensi atau
tindakan dalam penanganan kerawanan pangan dalam rangka mewujudkan
ketahanan pangan baik di tingkat nasional, propinsi maupun di tingkat kabupaten
(http://bkp.deptan.go.id).
2.1.6 Kewenangan Daerah dalam Pelaksanaan SKPG
1. SKPG adalah salah satu system surveilens yang menjadi kewenangan
pemerintah dan daerah dalam bidang kesehatan dan pertanian (UU No 22
2.

tahun 1999 dan PP No 25 tahun 2000).


SKPG merupakan kegiatan yang wajib tetap dilaksanakan oleh Propinsi
dan Kabupaten/Kota sebagai wilayah administrasi kesehatan (SE Menteri

Kesehatan 27 Juli 2000 No.1107/Menkes/E/VII/2000).


3. Daerah berwenang menyesuaikan SKPG sesuai keadaan setempat.
(http://www.deptan.go.id)
2.1.7 Pelaksanaan SKPG
1. Data yang Dikumpulkan
1) Data Bulanan

Data bulanan dikumpulkan berdasarkan tiga aspek ketahanan pangan,


yaitu: ketersediaan, akses terhadap pangan, pemanfaatan pangan, dan
spesifik local.
Setelah diketahui kantong-kantong kerawanan pangan dari hasil
analisis bulanan langkah selanjutnya dilakukan investigasi. Data
investigasi dikumpulkan dari hasil survey yang dilakukan oleh Tim
Pangan dan Gizi. Data yang dikumpulkan antara lain: (1) kondisi
umum responden, (2) Permasalahan yang dihadapi oleh responden, (3)
pemecahan masalah yang telah dilakukan.
2) Data Tahunan
Data tahunan dikumpulkan berdasarkan tiga aspek ketahanan pangan,
yaitu: ketersediaan, aksesibilitas dan pemanfaatan pangan.
2. Pengolahan dan Analisis Data
1) Analisis Situasi Pangan dan Gizi Bulanan
a.
Ketersediaan Pangan
b. Akses Pangan
c.
Aspek Pemanfatan Pangan
d.
Komposit
e.
Spesifik Lokal
Gejala akan terjadinya rawan pangan dan gizi yang dapat
dikembangkan berdasarkan karakteristik

masing-masing daerah.

Suatu daerah dikatakan aman apabila tidak terjadi perubahan indikator


lokal yang berarti jika dibandingkan dengan kondisi normal. Daerah
dikatakan waspada apabila tejadi perubahan indikator lokal yang
melebihi kondisi normal. Daerah dapat disebut rawan apabila terjadi
perubahan indikator yang sangat ekstrim melebihi kondisi normal.
f. Investigasi
Analisis data hasil investigasi dilakukan secara deskriptif dengan
melihat permasalahan dan upaya penanganan masalah yang dilakukan
dari 3 aspek, yaitu aspek ketersediaan pangan, akses terhadap pangan,
dan aspek pemanfaatan pangan. Dengan hasil anlisis investigasi
diharapkan dapat:
a. Menentukan kelompok sasaran (rumah tangga)
b. Menentukan jenis intervensi yang akan dilakukan (apa, jumlah,
berapa lama)

2) Analisis Situasi Pangan dan Gizi Tahunan


Analisis situasi pangan dan gizi tahunan disajikan berdasarkan tiga
jenis indikator: (1) aspek ketersediaan, (2) aspek akses pangan, dan (3)
aspek pemanfaatan pangan. Kemudian ketiga indikator digabung
(dikompositkan) menjadi satu informasi situasi pangan dan gizi
wilayah, maka dapat menggunakan tahapan sebagai berikut :
Menjumlahkan ketiga nilai skor pangan, gizi, dan kemiskinan.
Jumlah ketiga nilai indikator akan diperoleh maksimum 9, dan
jumlah yang terendah 3.
Hasil analisis untuk selanjutnya digunakan sebagai bahan intervensi
penanganan. Hasil analisis juga dapat divisualisasikan dalam bentuk
peta untuk mempermudah dalam mensosialisasikan dan advokasi
pengambilan kebijakan.
Peta situasi pangan dan gizi adalah peta yang menggambarkan tingkat
kerawanan masing-masing wilayah dan dapat ditinjau dari tiga aspek,
yaitu ketersediaan, akses, dan pemanfaatan pangan.
Peta rawan pangan dan gizi sangat berguna bagi pemerintah daerah,
untuk :
Mengidentifikasi wilayah - wilayah rawan
Mempertajam penetapan sasaran untuk tindakan intervensi
Memperbaiki kualitas perencanaan dibidang pangan dan gizi.
http://b
kp.deptan.go.id
2.1.8 Pelaporan dan Evaluasi SKPG
1. Pelaporan
Pokja Pangan dan Gizi (PPG) mengelola laporan dari kecamatan dan
kemudian menganalisa dan membahas laporan tersebut sehingga tersusun
informasi tentang situasi pangan dan gizi wilayahnya setiap bulan secara

berkesinambungan.
Pokja menyampaikan informasi/laporan tersebut kepada Bupati atau ketua

PPG setiap bulan secara berkesinambungan.


Bilamana terjadi masalah, maka Pokja menyusun alternatif pemecahan

masalah sebagai bahan pengambilan keputusan oleh Bupati/KDH. Tk. II.


Pokja mengkompilasi laporan tingkat kecamatan dan menyampaikan
laporan ke Pokja tingkat propinsi dengan tembusan ke pusat.

Pembahasan situasi pangan dan gizi dilaksanakan oleh Pokja PG yang


dikoordinasikan oleh DKP/TPG kabupaten, dan dilakukan secara rutin

setiap bulan.
2. Evaluasi
Evaluasi

dilaksanakan

pada

setiap

tingkat

untuk

mengetahui

perkembangan pelaksanaan SKPG. Dari hasil evaluasi diharapkan akan


dapat memberikan gambaran situasi produksi dan ketersediaan pangan,
situasi gizi dan kemiskinan.
Pada setiap wilayah pelaksanaan SKPG di sektor terkait sebagai bahan
untuk penyusunan kebijaksanaan/program pembangunan pangan dan gizi.
Evaluasi tiap tingkatan dilaksanakan sebagai berikut :

Evaluasi tingkat kabupaten dilakukan setiap bulan.


Evaluasi dilakukan melalui rapat/pertemuan yang dipimpin oleh Kepala
Daerah sebagai Ketua DKP.

http://bkp.deptan.go.id
2.1.9 Pengorganisasian Tim SKPG
Kabupaten membentuk Pokja/Tim SKPG yang berada dibawah
koordinasi Dewan Ketahanan Pangan Kabupaten dengan susunan Pokja/Tim
minimal sebagai berikut:
1. Sekretaris: BKP/Unit Kerja yang menangani ketahanan pangan tingkat
kabupaten
2. Anggota terdiri dari perwakilan-perwakilan instansi terkait, antara lain:
- Bappeda
- Unsur Pemda (Sekda, Asisten)
- Dinas Pertanian, Perkebunan, Peternakan, Perikanan, dan Kehutanan
- Dinas Kesehatan

- Badan Pemberdayaan Masyarakat Desa


- Dinas Tenaga Kerja
- Dinas Perindustrian dan Perdagangan
- Kantor Statistik Kabupaten
- SKPD-KB Kabupaten/Kota
- Dinas Sosial
- Bakorluh (Badan koordinasi penyuluhan)
- Satuan Pelaksana Penanggulangan Bencana Alam
- Divisi Regional Perum Bulog
- Kepolisian Resort
Tugas umum pokja SKPG di tingkat kabupaten antara lain:

Menemukenali secara dini dan merespon kemungkinan timbulnya masalah

pangan dan gizi


Menyiapkan bahan perumusan kebijakan dan

rawan pangan dan gizi


Menggalang kerjasama dengan berbagai institusi termasuk kalangan

intervensi penanganan

swasta serta lembaga swadaya masyarakat dalam implementasi rencana


tindak lanjut dan intervensi penanggulangan kerawanan pangan dan gizi
Secara khusus tugas Pokja/Tim SKPG di tingkat kabupaten antara lain:

Melakukan pertemuan-pertemuan koordinasi teknis konsolidasi data dan

informasi pangan dan gizi secara regular (bulanan dan tahunan)


Melakukan pengolahan dan analisis data bulanan dan tahunan
Menyiapkan bahan dan menyusun laporan situasi pangan dan gizi
Melaporkan hasil analisa bulanan dan tahunan kepada Ketua Dewan
Ketahanan Pangan Kabupaten dan Tim Pokja pangan dan Gizi Tingkat
Provinsi.

Melakukan investigasi kedalaman masalah pangan dan gizi berdasarkan


hasil analisis bulanan dan merumuskan langkah-langkah intervensi.

http://bkp.deptan.go.id
2.1.10 Keluaran Hasil SKPG
Keluaran SKPG disuatu Kabupaten/Kota adalah sebagai berikut :
(http://www.mwaconsultant.com/penyusunan-dan-pemetaan-sistem-kewaspadaanpangan-dan-gizi )
1.Tersedianya Peta kecamatan daerah rawan pangan dan gizi.
2.Adanya ramalan produksi dan ketersediaan makanan pokok.
3.Diketahuinya perkembangan pola konsumsi dan status gizi.
4.Adanya rumusan kebijakan bidang pangan dan gizi.
2.2 Program Pemantauan Pertumbuhan Balita
2.3 Sistem Surveilans Gizi
2.3.1 Pengertian Surveilans Gizi
Surveilans gizi adalah kegiatan analisis secara sistematis dan terus
menerus terhadap masalah gizi buruk dan indikator pembinaan gizi masyarakat
agar dapat melakukan tindakan penanggulangan secara efektif, esien dan tepat
waktu melalui proses pengumpulan data, pengolahan, penyebaran informasi
kepada penyelenggara program kesehatan dan tindak lanjut sebagai respon
terhadap perkembangan informasi. (http://pedoman-surveilans-gizi-kab-kota2010)
2.3.2 Prinsip prinsip Dasar Surveilans Gizi
Tersedia data yang akurat dan tepat waktu
Ada proses analisis atau kajian data
Tersedianya informasi yang sistematis dan terus menerus
Ada proses penyebarluasan informasi, umpan balik dan pelaporan
Ada tindak lanjut sebagai respon terhadap perkembangan indikator
2.3.3

Ruang Lingkup Surveilans Gizi


Ruang

lingkup

surveilans

gizi

di

((http://pedoman-surveilans-gizi-kab-kota-2010)

Kabupaten/Kota

meliputi

1. Pemantauan kasus gizi buruk pada balita.


2. Pemantauan pertumbuhan balita (D/S).
3. Pemantauan pemberian ASI Eksklusif pada bayi 0-6 bulan.
4. Pemantauan konsumsi garam beryodium.
5. Pemantauan pemberian kapsul vitamin A pada balita.
6. Pemantauan pemberian Fe 90 tablet pada ibu hamil.
2.3.4 Langkah langkah Kegiatan Surveilans Gizi
Kegiatan surveilans gizi dimulai dengan pengumpulan data, pengolahan
dan analisis data, diseminasi informasi dan tindak lanjut/respon. (http://pedomansurveilans-gizi-kab-kota-2010)
1. Pengumpulan Data
1) Pengumpulan Laporan Rutin Puskesmas
Pengumpulan

data

kegiatan

Pembinaan

Gizi

Masyarakat

di

Kabupaten/Kota antara lain meliputi pembinaan pencatatan dan


pelaporan

serta

melakukan

rekapitulasi

hasil

kegiatan

di

Puskesmas/Kecamatan. Dalam pelaksanaan pengumpulan data, bila


ada puskesmas yang tidak melapor atau melapor tidak tepat waktu,
data laporan tidak lengkap dan atau laporan tidak akurat maka
pengelola kegiatan gizi diharuskan melakukan pembinaan secara aktif
untuk melengkapi data. Kegiatan ini dapat dilakukan melalui telepon,
Short Message Service (SMS) atau kunjungan langsung ke
puskesmas.
2) Pengumpulan Laporan Kasus Gizi Buruk
Selain merekap data kegiatan Pembinaan Gizi Masyarakat dari
Puskesmas, pengelola kegiatan gizi juga perlu melakukan kompilasi
laporan kasus gizi buruk yang dirawat di RS atau informasi dari
masyarakat dan media. Bila ada laporan kasus gizi buruk dari
masyarakat atau media, pengelola gizi perlu melakukan klarikasi ke
puskesmas mengenai laporan/informasi tersebut untuk melakukan
konrmasi status gizinya. Klarikasi laporan kasus gizi buruk dapat
dilakukan melalui telepon dan sms. Bila hasil konrmasi ternyata
balita tersebut benar gizi buruk (BB/PB atau BB/TB <-3 SD dengan
atau tanpa gejala klinis) maka perlu dilakukan pelacakan atau
penyelidikan kasus. Pelacakan kasus meliputi waktu kejadiannya,

tempat/ lokasi kejadian dan identitas orangnya termasuk umur, jenis


kelamin dan penyebab terjadinya kasus gizi buruk. Pelacakan kasus
gizi buruk dilakukan apabila:
a. Kasus gizi buruk belum mendapatkan penanganan.
b. Kasus gizi buruk terkonsentrasi pada satu wilayah.
c. Dicurigai kemungkinan adanya rawan pangan.
Keluaran yang diharapkan dari langkah pengumpulan data adalah
adanya rekapitulasi laporan terkait dengan jumlah puskesmas yang
melapor, ketepatan waktu, kelengkapan dan kebenaran data yang
dilaporkan.
2. Pengolahan, Analisis dan Penyajian Data
Pengolahan, analisis dan penyajian data di Kabupaten/Kota dilakukan
berdasarkan

hasil

rekapitulasi

laporan

kegiatan

Pembinaan

Gizi

Masyarakat dari puskesmas. Kegiatan in dilakukan oleh pengelola gizi


setiap bulan, kecuali untuk data pemberian ASI eksklusif 0-6 bulan,
pemberian kapsul vitamin A pada balita, dan pemantauan konsumsi garam
beryodium tingkat rumah tangga dilakukan setiap 6 bulan sekali.
1) Pengolahan dan Analisis Data
Pengolahan

data

dapat

dilakukan

secara

manual

maupun

komputerisasi. Hasil pengolahan berupa cakupan masing-masing


indikator Pembinaan Gizi Masyarakat, sedangkan analisis data
dilakukan dengan 2 (dua) pendekatan yaitu analisis deskriptif dan
analitik.
a. Analisis Deskriptif
Analisis deskriptif dimaksudkan untuk memberikan gambaran
umum tentang data cakupan kegiatan pembinaan gizi masyarakat.
Tujuannya adalah untuk menetapkan daerah prioritas untuk
pembinaan wilayah dan menentukan kecenderungan antar waktu.

Menetapkan daerah prioritas untuk pembinaan wilayah


Analisis deskriptif untuk membandingkan antar wilayah
dilakukan dengan membandingkan hasil cakupan antar wilayah
dengan target yang harus dicapai. Wilayah yang cakupannya

rendah harus mendapat prioritas pembinaan.

Membandingkan Kecenderungan antar Waktu


Analisis
antar

deskriptif
waktu

di

untuk
suatu

membandingkan kecenderungan
wilayah

dilakukan

dengan

membandingkan hasil cakupan dalam satu periode waktu


tertentu dengan targe yang harus dicapai
b. Analisis Analitik
Analisa analitik dimaksudkan untuk memberikan gambaran
hubungan antar 2 (dua) atau lebih indikator yang saling terkait,
baik antar indikator gizi maupun indikator gizi dengan indikator
program terkait lainnya. Tujuan analisis ini antara lain untuk
menentukan

upaya

yang

harus

dilakukan

bila

terdapat

kesenjangan cakupa antara dua indikator.


2) Penyajian Data
Hasil pengolahan dan analisis data kegiatan Pembinaan Gizi
Masyarakat dapat disajikan dalam bentuk narasi, tabulasi, grak dan
peta.
3. Diseminasi Informasi
Diseminasi informasi

dilakukan untuk menyebarluaskan informasi hasil

pengolahan dan analisis data untuk mendapatkan dukungan dari lintas


sektor dan lintas program di setiap jenjang pemerintahan tentang hasil
kegiatan Pembinaan Gizi Masyarakat. Kegiatan diseminasi informasi dapat
dilakukan dalam bentuk pemberian umpan balik dan sosialisasi advokasi
pada pertemuan lintas program dan lintas sector.
1) Umpan Balik
Pengelola kegiatan gizi memberikan umpan balik bulanan berbentuk
absensi laporan dan hasil cakupan indikator pembinaan gizi ke
puskesmas dan rumah sakit. Umpan balik disertai dengan ulasan
terhadap hasil yang telah dicapai, kelengkapan data disertai dengan

saran-saran yang harus dilakukan oleh puskesmas. Selain hal tersebut,


umpan balik hendaknya memuat pula ucapan terima kasih bagi
puskesmas yang telah mengirim data secara lengkap dan tepat waktu.
2) Pertemuan Lintas Program dan Lintas Sektor
Diseminasi informasi dapat juga dilakukan kepada lintas sektor, lintas
program dan puskesmas melalui pertemuan koordinasi dan rapat
konsultasi di tingkat Kabupaten/Kota. Bila memungkinkan diseminasi
informasi dapat dilakukan pula melalui media secara berkala. Hasil
yang

diharapkan

dari

kegiatan

diseminasi

informasi

adalah

disepakatinya upaya pemecahan masalah untuk perbaikan dan


peningkatan pelaksanaan kegiatan Pembinaan Gizi Masyarakat.
4. Tindak Lanjut
Tindak lanjut sebagai respon dilakukan apabila data cakupan indikator
Pembinaan Gizi Masyarakat menunjukkan adanya kekurangan atau
kesenjangan antara hasil yang dicapai dengan yang seharusnya dicapai.
Tindak lanjut terhadap hasil analisis yang bersifat teknis dilakukan oleh
pengelola program gizi, sedangkan yang bersifat kebijakan dilakukan oleh
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota.
2.4

Evaluasi Keberhasilan Program UPGK

2.4.1 Pengertian UPGK


UPGK adalah usaha perbaikan gizi masyarakat yang berintikan
penyuluhan gizi melalui peningkatan peran serta masyarakat dan didukung
kegiatan yang bersifat lintas sektoral dan dilaksanakan oleh berbagai sector
terkait. Secara rinci UPGK merupakan usaha keluarga untuk memperbaiki gizi
seluruh anggota keluarga, dilaksanakan oleh keluarga dan masyarakat dengan
kader sebagai penggerak masyarakat, merupakan bagian dari kehidupan keluarga
sehari-hari dan secara operasional adalah rangkaian kegiatan yang saling
mendukung

untuk

keluarga/masyarakat

melaksanakan
(Departemen

alih

teknologi

sederhana

kepada

Kesehatan

RI,

1990).

https://sasrianaoctavinia.wordpress.com/2012/10/29/artikel-1-ilmu-sosial-dasar/

2.4.2 Tujuan UPGK


Tujuan umum dari UPGK adalah untuk meningkatkan dan membina
keadaan gizi anggota masyarakat, melalui pembinaan keluarga agar peningkatan
gizi menjadi bagian dari pola kehidupan sehari-hari. Secara operasional tujuan ini
diperinci menjadi tujuan khusus yaitu : partisipasi dan pemerataan kegiatan,
perubahan sikap dan perilaku yang mendukung tercapainya perbaikan gizi, serta
perbaikan

gizi

anak

balita

(Departemen

Kesehatan

RI,

1990).

https://sasrianaoctavinia.wordpress.com/2012/10/29/artikel-1-ilmu-sosial-dasar/
Kegiatan usaha perbaikan gizi keluarga merupakan kegiatan lintas
sektoral yang didukung oleh beberapa Departemen dan Badan badan
Pemerintah. Departemen Kesehatan, Departemen Pertanian, Departemen Agama
dan Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional merupakan sector sector
yang memainkan peran utama.(suhardjo)
Dalam pelaksanaannya UPGK dibagi dalam tiga jenis kegiatan yaitu :
(suhardjo)
1. UPGK Dasar : merupakan kegiatan yang bersifat promotif dan preventif,
yaitu penimbangan anak balita, penyuluhan gizi yang terarah, pemberian
paket pertolongan gizi, pemanfaatan lahan pekarangan untuk menghasilkan
bahan pangan bernilai gizi baik, pencatatan dan pelaporan, demostrasi
menu, pemeliharaan kesehatan sederhana dengan cara rujukan ke
puskesmas untuk imunisasi dan pelayanan kesehatan lainnya.
2. UPGK Lengkap : merupakan kegiatan promotif-preventif-kuratifrehabilitatif yang kegiatannya sama dengan UPGK Dasar ditambah dengan
kegiatan kegiatan pemberian makanan tambahan, imunisasi kesehatan
lingkungan, penyediaan air bersih, pelayanan KB, penyuluhan kesehatan.
3. UPGK Intensif : merupakan kegiatan promotif-kuratif-rehabilitatifinovatif-income generating, lebih sering disebut sebagai Nutrition
Intervention Pilot Project(NIPP). NIPP merupakan kegiatan multidisiplin
yang terpadu dan mencoba untuk mengatasi masalah masalah KEP
dengan mengkaitkan kegiatan kegiatan gizi dengan kegiatan kegiatan

yang ada dalam masyarakat misalnya proyek padat karya, KUD,


Puskesmas, Bantuan Desa dan lain-lain.
2.4.3 Perkembangan Pelaksanaan Kegiatan UPGK
Perkembangan kegiatan UPGK terpadu selama empat tahun Pelita III
telah meluas yaitu pada tahun 1979/1980 baru meliputi 4.821 desa, pada akhir
tahun 1982/1983 telah dapat menjangkau semua propinsi di Indonesia dan
mencapai 32.438 desa.

Anak Balita yang dilayani kegiatan tersebut telah

bertambah pula dengan pesatnya, yakni sekitar 90.000 anak pada akhir tahun
1979/1980 meningkat menjadi 2 juta anak, pada akhir 1981/1982, atau meningkat
lebih dari tiga kali, pada akhir tahun 1982/1983 jumlah anak yang dilayani 6,7
juta anak. (suhardjo)
Secara terperinci perkembangan pelaksanaan masing masing kegiatan
UPGK yang ada pada berbagai Departemen/Instansi adalah sebagai berikut :
(suhardjo)
1.
2.
3.
4.
5.

Kegiatan UPGK Departemen Kesehatan


Kegiatan UPGK BKKBN
Kegiatan UPGK Departemen Pertanian
Kegiatan UPGK Departemen Agama
Kegiatan UPGK Lain - lain

BAB III
KESIMPULAN
3.1 Kesimpulan
Secara rinci UPGK merupakan usaha keluarga untuk memperbaiki gizi
seluruh anggota keluarga, dilaksanakan oleh keluarga dan masyarakat dengan
kader sebagai penggerak masyarakat, merupakan bagian dari kehidupan keluarga
sehari-hari dan secara operasional adalah rangkaian kegiatan yang saling
mendukung

untuk

keluarga/masyarakat.

3.2 Saran
2.5

melaksanakan

alih

teknologi

sederhana

kepada