Anda di halaman 1dari 15

A.

Ilmu pengetahuan dalam lintasan sejarah peradaban dan kebudayaan islam


1. Ilmu pengetahuan menurut perspektif islam
Kata ilmu berasal dari bahasa Arab ilm (alima-yalamu-ilm), yang berarti
1
pengetahuan (al-marifah),
kemudian berkembang menjadi pengetahuan tentang
2
hakikat sesuatu yang dipahami secara mendalam.
Dari asal kata ilm ini
selanjutnya di-Indonesia-kan menjadi ilmu atau ilmu pengetahuan. Dalam perspektif
Islam, ilmu merupakan pengetahuan mendalam hasil usaha yang sungguh-sungguh
(ijtihd) dari para ilmuwan muslim (ulam/mujtahd) atas persoalan- persoalan
3
duniaw dan ukhrw dengan bersumber kepada wahyu Allah.
Ilmu dalam Islam merupakan pengetahuan mendalam hasil usaha yang sungguhsungguh dari para ilmuwan muslim atas persoalan- persoalan duniaw dan ukhrw
dengan berlandaskan kepada wahyu Allah. Pengetahuan ilmiah diperoleh melalui
indra, akal, dan hati/intuitif yang bersumber dari alam fisik dan alam metafisik. Hal
ini berbeda dengan epistemologi ilmu di Barat yang hanya bertumpu pada indra dan
akal serta alam fisik.

2. Ilmu pengetahuan pada masa keemasan islam (pada masa Abbasiyah abad 17-12M)
Dinasti Abbasiyah adalah suatu dinasti (Bani Abbas) yang menguasai daulat (negara)
Islamiah pada masa klasik dan pertengahan Islam. Daulat Islamiah ketika berada di
bawah kekuasaan dinasti ini disebut juga dengan Daulat Abbasiyah. Daulat Abbasiyah
adalah daulat (negara) yang melanjutkan kekuasaan Daulat Umayyah. Dinamakan Dinasti
Abbasiyah karena para pendiri dan penguasa dinasti ini adalah keturunan Abbas (Bani
Abbas), paman Nabi Muhammad saw. Pendiri dinasti ini adalah Abu Abbas as-Saffah,
nama lengkapnya yaitu Abdullah as-Saffah ibn Muhammad ibn Ali ibn Abdullah ibn alAbbas.
Selama dinasti ini berkuasa, pola pemerintahan yang diterapkan berbeda-beda sesuai
dengan perubahan politik, sosial , dan budaya.
Berdasarkan perubahan pola pemerintahan dan pola politik itu, para sejarawan
biasanya membagi masa pemerintahan Bani Abbas menjadi lima periode:
1. Periode Pertama (132 H/750 M 232 H/847 M), disebut periode pengaruh Persia
Pertama.
2. Periode Kedua (232 H/847 M 234 H/945 M), disebut masa pengaruh Turki
Pertama.
3. Periode Ketiga (334 H/945 M 447 H/1055 M, masa kekuasaan Dinasti Buwaih
dalam pemerintahan Khilafah Abbasiyah. Periode ini disebut juga masa pengaruh Persia
Kedua.
4. Periode Keempat (447 H/1055 M/ - 590 H/1194 M), masa kekuasaan Dinasti
Saljuk dalam pemerintahan Khilafah Abbasiyah; biasanya disebut juga dengan masa
pengaruh Turki Kedua.
5. Periode Kelima (590 H/1194 M 656 H/1258 M), masa Khalifah bebas dari
pengaruh dinasti lain, tetapi kekuasaannya hanya efektif di sekitar kota Bagdad.
Dalam zaman Daulah Abbasiyah, masa meranumlah kesusasteraan dan ilmu
pengetahuan, disalin ke dalam bahasa Arab, ilmu-ilmu purbakala. Lahirlah pada masa itu
sekian banyak penyair, pujangga, ahli bahasa, ahli sejarah, ahli hukum, ahli tafsir, ahli
hadits, ahli filsafat, thib, ahli bangunan dan sebagainya.
Zaman ini adalah zaman keemasan Islam, demikian Jarji Zaidan memulai lukisannya
tentang Bani Abbasiyah. Dalam zaman ini, kedaulatan kaum muslimin telah sampai ke
puncak kemuliaan, baik kekayaan, kemajuan, ataupun kekuasaan. Dalam zaman ini telah
lahir berbagai ilmu Islam, dan berbagai ilmu penting telah diterjemahkan ke dalam
1
01

bahasa Arab. Masa Daulah Abbasiyah adalah masa di mana umat Islam mengembangkan
ilmu pengetahuan, suatu kehausan akan ilmu pengetahuan yang belum pernah ada dalam
sejarah.
Kesadaran akan pentingnya ilmu pengetahuan merefleksikan terciptanya beberapa
karya ilmiah seperti terlihat pada alam pemikiran Islam pada abad ke-8 M. yaitu gerakan
penerjemahan buku peninggalan kebudayaan Yunani dan Persia.
Permulaan yang disebut serius dari penerjemahan tersebut adalah sejak abad ke-8 M,
pada masa pemerintahan Al-Makmun (813 833 M) yang membangun sebuah lembaga
khusus untuk tujuan itu, The House of Wisdom / Bay al-Hikmah. Dr. Mx Meyerhof
yang dikutip oleh Oemar Amin Hoesin mengungkapkan tentang kejayaan Islam ini
sebagai berikut: Kedokteran Islam dan ilmu pengetahuan umumnya, menyinari matahari
Hellenisme hingga pudar cahayanya. Kemudian ilmu Islam menjadi bulan di malam
gelap gulita Eropa, mengantarkan Eropa ke jalan renaissance. Karena itulah Islam
menjadi biang gerak besar, yang dipunyai Eropa sekarang. Dengan demikian, pantas kita
menyatakan, Islam harus tetap bersama kita. (Oemar Amin Hoesin)
Adapun kebijaksanaan para penguasa Daulah Abbasiyah periode 1 dalam
menjalankan tugasnya lebih mengutamakan kepada pembangunan wilayah seperti:
Khalifah tetap keturunan Arab, sedangkan menteri, gubernur, dan panglima perang
diangkat dari keturunan bangsa Persia. Kota Bagdad sebagai ibukota, dijadikan kota
internasional untuk segala kegiatan ekonomi dan sosial serta politik segala bangsa yang
menganut berbagai keyakinan diizinkan bermukim di dalamnya, ada bangsa Arab, Turki,
Persia, Romawi, Hindi dan sebagainya.
Ilmu pengetahuan dipandang sebagai suatu hal yang sangat mulia dan berharga. Para
khalifah dan para pembesar lainnya membuka kemungkinan seluas-luasnya untuk
kemajuan dan perkembangan ilmu pengetahuan. Pada umumnya khalifah adalah para
ulama yang mencintai ilmu, menghormati sarjana dan memuliakan pujangga.
Kebebasan berpikir sebagai hak asasi manusia diakui sepenuhnya. Pada waktu itu
akal dan pikiran dibebaskan benar-benar dari belenggu taklid, hal mana menyebabkan
orang sangat leluasa mengeluarkan pendapat dalam segala bidang, termasuk bidang
aqidah, falsafah, ibadah dan sebagainya.
Para menteri keturunan Persia diberi hak penuh untuk menjalankan pemerintahan,
sehingga mereka memegang peranan penting dalam membina tamadun/peradaban Islam.
Mereka sangat mencintai ilmu dan mengorbankan kekayaannya untuk memajukan
kecerdasan rakyat dan meningkatkan ilmu pengetahuan, sehingga karena banyaknya
keturunan Malawy yang memberikan tenaga dan jasanya untuk kemajuan Islam.
3. Prestasi ilmuwan dalam bidang ilmu kedokteran dan kesehatan
Berikut ilmuwan Muslim yang berjasa mengembangkan farmakologi:
1. Ibnu Al-Baitar
Lewat risalahnya yang berjudul Al-Jami fi Al-Tibb(Kumpulan Makanan dan
Obat-obatan yang Sederhana), Ibnu Al-Baitar turut memberi kontribusi dalam
farmakologi dan farmasi. Dalam kitabnya itu, Al-Baitar mengupas beragam
tumbuhan berkhasiat obat yang berhasil dikumpulkannya di sepanjang pantai
Mediterania antara Spanyol dan Suriah.
Tak kurang dari seribu tanaman obat dipaparkannya dalam kitab itu. Seribu
lebih tanaman obat yang ditemukannya pada abad ke-13 M itu berbeda dengan
tanaman yang telah ditemukan ratusan ilmuwan sebelumnya. Tak heran bila

1
11

kemudian //Al-Jami fi Al-Tibb// menjadi teks berbahasa Arab terbaik yang berkaitan
dengan botani pengobatan. Capaian yang berhasil ditorehkan Al-Baitar sungguh
mampu melampaui prestasi Dioscorides. Kitabnya masih tetap digunakan sampai
masa Renaisans di Eropa.
2. Abu Ar-Rayhan Al-Biruni (973-1051)
Al-Biruni mengenyam pendidikan di Khwarizm. Beragam ilmu pengetahuan
dikuasainya sepertiastronomi, matematika, filsafat dan ilmu alam. Ia memulai
melakukan eksperimen ilmiah sejak remaja. Ilmuwan Muslim yang hidup di zaman
keemasan Dinasti Samaniyaah dan Ghaznawiyyah itu turut memberi kontribusi
yang sangat penting dalam farmakologi dan farmasi.
Melalui kitab As-Sydanah fit-Tibb, Al-Biruni mengupas secara lugas dan jelas
mengenai seluk-beluk ilmu farmasi. Kitab penting bagi perkembangan farmakologi
dan farmasi itu diselesaikannya pada tahun 1050 setahun sebelum Al-Biruni tutup
usia. Dalam kitab itu, Al-Biruni tak hanya mengupas dasar-dasar farmasi, namun
juga meneguhkan peran farmasi serta tugas dan fungsi yang diemban seorang
famakolog.
3. Abu Jafar Al-Ghafiqi (wafat 1165 M)
Ilmuwan Muslim yang satu ini juga turut memberi kontribusi dalam
pengembangan farmakologi dan farmasi. Sumbangan Al-Ghafiqi untuk memajukan
ilmu tentang komposisi, dosis, meracik dan menyimpan obat-obatan dituliskannya
dalam kitab Al-Jami' Al-Adwiyyah Al-Mufradah. Risalah itu memeparkan tentang
pendekatan dalam metodelogi, eksperimen serta observasi dalam farmakologi dan
farmasi.
Setiap penyakit pasti ada obatnya. Sabda Rasulullah SAW yang begitu
populer di kalangan umat Islam itu tampaknya telah memicu para ilmuwan dan
sarjana di era kekhalifahan untuk berlomba meracik dan menciptakan beragam
obat-obatan.

1. Ibnu Rushd, dengan karyanya meliputi bidang filsafat,


kedokteran dan fikih dalam bentuk karangan, ulasan, essai dan
resume. Antara lain adalah Bidayat Al-mujtahid (kitab ilmu fiqih),
Kulliyaat fi at-tib (buku kedokteran), Fasl al-maqal fi ma bain alhikmat wa Asy-syariat (filsafat dalam Islam dan menolak
segala paham yang bertentangan dengan filsafat).
2. Ibnu Sina, adalah seorang filosof, ilmuwan, dokter dan penulis.
Sebagian besar karyanya adalah tentang filosofi dan pengobatan.
Dikenal sebagai Bapak Pengobatan Modern. Karyanya yang
sangat terkenal adalah The Book of Healing dan The Canon of
Medicine (Al-Qanun fi At Tibb) yang merupakan rujukan di
bidang kedokteran selama berabad-abad. Kemasyuran fisikawan
muda menyebar dengan cepat, dan dia merawat banyak pasien
tanpa meminta bayaran. Karya keduanya adalah ensiklopedi
yang monumental Kitab As-Syifa (The Book of
Recovery or The Book of Remedy) atau buku tentang penemuan, atau tentang
penyembuhan) yang merupakan titik puncak filsafat paripatetik dalam Islam. Kaya
lain Ibnu Sina adalah Sanatio atau Sufficienta, Sadidiyya (buku ilmu kedokteran),
Al-Musiqa (buku tentang musik), Al-Mantiq, Qamus el Arabi, Danesh Nameh (buku
filsafat), Uyun-ul Hikmah (buku filsafat), Mujiz, kabir wa Shaghir (buku tentang
1
21

dasar-dasar ilmu logika), Hikmah el Masyriqiyyin (Britanica Encyclopedia), AlInshaf (buku tentang keadilan sejati), Al-Hudud (istilah-istilah dan pengertianpengertian dalam ilmu filsafat, Al-Isyarat wat Tanbiehat (buku ini lebih banyak
membicarakan dalil-dalil dan peringatan-peringatan mengenai prinsip ketuhanan
dan keagamaan, An-Najah (buku tentang kebahagiaan jiwa).
3. Al-Biruni, meneliti garis lintang bagi Kath, Khwarazm,
dengan
menggunakan altitude maksima matahari. Menulis
beberapa hasil kerja ringkas, termasuk kajian proyeksi peta
"Kartografi", termasuk metodologi untuk membuat proyeksi
belahan bumi pada bidang datar. Menulis buku berjudul
"Kronologi" yang merujuk hasil kerja lain yang dihasilkan, buku
tentang astrolab, sistem desimal, pengkajian bintang, dan
tentang sejarah. Membuat penelitian radius Bumi kepada 6.339,6
kilometer (hasil ini diulang di Barat pada abad ke 16).
Sumbangannya terhadap matematika termasuk aritmatika teoritis
and praktis, penjumlahan seri, analisis kombinatorial, kaidah
angka 3, bilangan irasional, teori perbandingan, definisi aljabar,
metode pemecahan penjumlahan aljabar, geometri, teorema
Archimedes dan tentang sudut segitiga.
4. Al-Khawarizmi. Pengetahuan dan keahliannya bukan hanya
bidang syariat, tapi juga bidang falsafah, logika, aritmatika,
geometri, musik, ilmu hitung, sejarah Islam dan kimia.
Sumbangsihnya, antara lain Al-Jabr wal Muqabalah (trigonometri
dan astronomi), Hisab al-Jabr wa al-Muqabalah (matematika),
konsep sifat dan sistem nomor, tentang Cos, Sin dan Tan dalam
penyelesaian persamaan trigonometri, teorema segitiga sama kaki
dan perhitungan luas segitiga, segi empat dan lingkaran dalam
geometri, bidang astronomi (ilmu falaq).
5. Jabir Ibnu Hayyan. Dijuluki sebagai Bapak Kimia Modern. Teori
Jabir dan risalah- risalah bidang ilmu kimia (Kitab Al-Kimya dan
Kitab Al Sab'een). Karya lain yang telah diterbitkan adalah Kitab
al Rahmah, Kitab al Tajmi, Al Zilaq al Sharqi, Book of The Kingdom,
Book of Eastern Mercury, dan Book of Balance.
6. Ibnu Ismail Al Jazari. Penemu Konsep Robotika Modern,
mendapat julukan sebagai Bapak Modern Engineering berkat
temuan-temuannya yang banyak mempengaruhi rancangan
mesin-mesin modern saat ini, diantaranya combustion engine,
crankshaft, suction pump, programmable automation, buku alJami Bain al-Ilm Wal Aml al- Nafi Fi Sinat at al-Hiyal (The
Book of Knowledge of Ingenious Mechanical Devices), membuat
jam gajah yang bekerja dengan tenaga air dan berat benda untuk
menggerakkan secara otomatis sistem mekanis serta pompa air.
7. Abu Al Zahrawi. Penemu gips era Islam, seorang dokter, ahli
bedah serta seorang muslim yang taat. Penemu pertama dari
teknik pengobatan patah tulang dengan menggunakan gips
sebagaimana yang dilakukan pada era modern ini. Karya
fenomenal Al Zahrawi merupakan Kitab Al-Tasrif yang berisi
penyiapan
aneka
obat-obatan
yang
diperlukan
untuk
1
31

penyembuhan setelah dilakukannya proses operasi. Dalam


penyiapan obat-obatan itu, dikenalkan mengenai teknik
sublimasi. Al Zahrawi menjadi pakar kedokteran termasyhur di
zamannya. Prinsip-prinsip ilmu pengetahuan kedokterannya
masuk ke dalam kurikulum jurusan kedokteran di seluruh Eropa
8. Ibnu Haitham merupakan ilmuwan Optik. Belajar yang
dilakukan secara otodidak membuatnya mahir dalam bidang ilmu
pengetahuan, ilmu falak, matematika, geometri, pengobatan, dan
filsafat. Tulisannya mengenai mata telah menjadi salah satu
rujukan penting dalam bidang penelitian sains di barat. Kajiannya
mengenai pengobatan mata menjadi dasar pengobatan mata
modern. Banyak buku yang dihasilkan dan masih menjadi rujukan
hingga saat ini. Di antaranya adalah AlJami fi Usul alHisab yang
mengandung teori-teori ilmu matemetika dan matematika
penganalisaan; Kitab al-Tahlil wa alTarkib mengenai ilmu
geometri; Kitab Tahlil aimasail al Adadiyah tentang aljabar;
Maqalah fi Istikhraj Simat alQiblah yang mengupas tentang arah
kiblat; Maqalah
fima
Tadu llaih
mengenai penggunaan
geometri dalam urusan hukum syarak; dan Risalah fi Sinaat
al-Syir mengenai teknik penulisan puisi.
9. Al-Jahiz, ahli zoologi terkemuka dan merupakan ilmuwan muslim
pertama pencetus teori evolusi, mengungkap dampak lingkungan
terhadap kemungkinan seekor binatang untuk tetap bertahan
hidup. Al-Jahiz sebagai ahli biologi pertama yang mengungkapkan
teori berjuang untuk tetap hidup (struggle for existence). Al-Jahiz
mempelajari banyak hal, seperti puisi Arab, filsafat Arab, sejarah
Arab dan Persia sebelum Islam, serta Al-Quran dan hadist.
Berkat teorinya yang cemerlang, Al- Jahiz dikenal sebagai ahli
biologi terbesar yang pernah lahir di dunia Islam, dan berhasil
menuliskan kitab Ritab Al-Haywan (Buku tentang Binatang).
Dalam kitab itu ditulis tentang kuman, teori evolusi, adaptasi, dan
psikologi binatang. Al-Jahiz tercatat sebagai ahli biologi pertama
yang mencatat perubahan hidup burung melalui migrasi, mampu
menjelaskan metode memperoleh ammonia dari kotoran binatang
melalui penyulingan. Al-Jahiz menulis kitab al-Bukhala (Book of
Misers or Avarice
& the Avaricious), Kitab al-Bayan wa al-Tabyin (The Book of eloquence and
demonstration), Kitab Moufakharat al Jawari wal Ghilman (The book of dithyramb
of concubines and ephebes), dan Risalat mufakharat al-sudan ala al-bidan
(Superiority Of The Blacks To The Whites).
10.
Ar-Razi. Sejak muda telah mempelajari filsafat, kimia,
matematika dan kesastraan.
Dalam bidang kedokteran, ia berguru kepada Hunayn bin Ishaq. Ar-Razi dipercaya
memimpin sebuah rumah sakit di Rayy. Selanjutnya juga memimpin Rumah Sakit
Muqtadari di Baghdad. Ar-Razi diketahui sebagai ilmuwan serba bisa dan dianggap
sebagai salah satu ilmuwan terbesar dalam Islam. Kontribusi bidang kedokteran
tentang cacar dan campak. Sebagai dokter utama di rumah sakit di Baghdad, ar-Razi
merupakan orang pertama yang menjelaskan seputar penyakit cacar. "Cacar terjadi
1
41

ketika darah 'mendidih' dan terinfeksi, dimana kemudian hal ini akan
mengakibatkan keluarnya uap. Kemudian darah muda (yang kelihatan seperti
ekstrak basah di kulit) berubah menjadi darah yang makin banyak dan warnanya
seperti anggur yang matang. Pada tahap ini, cacar diperlihatkan dalam bentuk
gelembung pada wine. Penyakit ini dapat terjadi tidak hanya pada masa kanakkanak, tapi juga masa dewasa. Cara terbaik untuk menghindari penyakit ini adalah
mencegah kontak dengan penyakit ini, karena kemungkinan wabah cacar bisa
menjadi epidemi." Buku ar-Razi yaitu Al-Judari wal-Hasbah (Cacar dan Campak)
adalah buku pertama yang membahas tentang cacar dan campak sebagai dua wabah
yang berbeda. Cara penjelasan yang tidak dogmatis dan kepatuhan pada prinsip
Hippokrates dalam pengamatan klinis memperlihatkan cara berpikir ar-Razi. Razi
menemukan penyakit "alergi asma", dan ilmuwan pertama yang menulis tentang
alergi dan imunologi. Pada bidang farmasi, ar-Razi juga berkontribusi membuat

1
51

peralatan seperti tabung, spatula dan mortar. Ar-razi juga mengembangkan obatobatan yang berasal dari merkuri. Ar-Razi mengemukakan pendapatnya dalam
bidang etika kedokteran. Untuk meningkatkan mutu seorang dokter, ar-Razi
menyarankan agar para dokter tetap belajar dan terus mencari informasi baru. ArRazi mengatakan bahwa tujuan menjadi dokter adalah untuk berbuat baik, bahkan
sekalipun kepada musuh dan juga bermanfaat untuk masyarakat sekitar. Karya arRazi pada bidang kedokteran dituliskan dalam buku Hidup yang Luhur (Arab:
OPQRRSTU), Petunjuk Kedokteran untuk Masyarakat Umum (Arab:VWRRRRXSY Z [RRRR\
]RRRRRR^_`TU), Keraguan pada Galen dan Penyakit pada Anak.

4. Ilmu pengetahuan pada masa kebangkitan islam sampai dengan sekarang


A. Perkembangan Ajaran Islam, Ilmu Pengetahuan, dan kebudayaan
1. Pada bidang Akidah
Salah satu pelopor pembaruan dalam dunia Islam Arab adalah suatu aliran
yang bernama Wahabiyah yang sangat berpengaruh di abad ke-19. Pelopornya
adalah Muhammad Abdul Wahab (1703-1787 M) yang berasal dari nejed, Saudi
Arabia. Pemikiran yang dikemukakan oelh Muhammada Abdul Wahab adalah
upaya memperbaiki kedudukan umat Islam dan merupakan reaksi terhadap
paham tauhid yang terdapat di kalangan umat Islam saat itu. Paham tauhid
mereka telah bercampur aduk oleh ajaran-ajaran tarikat yang sejak abad ke-13
tersebar luas di dunia Islam
Disetiap negara Islam yang dikunjunginya, Muhammad Abdul Wahab
melihat makam-makam syekh tarikat yang bertebaran. Setiap kota bahkan desadesa mempunyai makam sekh atau walinya masing-masing. Ke makam-makam
itulah uamt Islam pergi dan meminta pertolongan dari syekh atau wali yang
dimakamkan disana untuk menyelesaikan masalah kehidupan mereka seharihari. Ada yang meminta diberi anak, jodoh disembuhkan dari penyakit, dan ada
pula yang minta diberi kekayaan. Syekh atau wali yang telah meninggal. Syekh
atau wali yang telah meninggal dunia itu dipandang sebagai orang yang
berkuasa untuk meyelesaikan segala macam persoalan yang dihadapi manusia
di dunia ini. Perbuatan ini menurut pajam Wahabiah termasuk syirik karena
permohonan dan doa tidak lagi dipanjatkan kepada Allah SWT
Masalah tauhid memang merupakan ajaran yang paling dasar dalam Islam
. oleh karena itu, tidak mengherankan apabila Muhammad Abdul Wahab
memusatkan perhatiannya pada persoalan ini. Ia memiliki pokok-pokok
pemikiran sebagai berikut.

1
61

Yang harus disembah hanyalah Allah SWT dan orang yang


menyembah selain dari Nya telah dinyatakan sebagai musyrik
b.
Kebanyakan orang Islam bukan lagi penganut paham tauhid yang
sebenarnya karena mereka meminta pertolongan bukan kepada Allah,
melainkan kepada syekh, wali atau kekuatan gaib. Orang Islam yang
berperilaku demikian juga dinyatakan sebagai musyrik
c.
Menyebut nama nabi, syekh atau malaikat sebagai pengantar
dalam doa juga dikatakan sebagai syirik
d.
Meminta syafaat selain kepada Allah juga perbuatan syrik
e.
Bernazar kepada selain Allah juga merupakan sirik
f.
Memperoleh pengetahuan selain dari Al Quran, hadis, dan qiyas
merupakan kekufuran
g.
Tidak percaya kepada Qada dan Qadar Allah merupakan kekufuran.
h.
Menafsirkan Al Quran dengan takwil atau interpretasi bebas juga
termasuk kekufuran.
Untuk mengembalikan kemurnian tauhid tersebut, makam-makam yang
banyak dikunjungi denngan tujuan mencari syafaat, keberuntungan dan lain-lain
sehingga membawa kepada paham syirik, mereka usahakan untuk dihapuskan.
Pemikiran-pemikiran Muhammad Abdul Wahab yang mempunyai pengaruh pada
perkembangan pemikiran pembaruan di abad ke-19 adalah sebagai berikut.
a.
Hanya alquran dan hadis yang merupakan sumber asli ajaran-ajaran
Islam. Pendapat ulama bukanlah sumber
b.
Taklid kepada ulama tidak dibenarkan
c.
Pintu ijtihad senantiasa terbuka dan tidak tertutup
Muhammad Abdul Wahab merupakan pemimpin yang aktif berusaha
mewujudkan pemikirannya. Ia mendapat dukungan dari Muhammad Ibn Suud
dan putranya Abdul Aziz di Nejed. Paham-paham Muhammad Abdul Wahab
tersebar luas dan pengikutnya bertambah banyak sehingga di tahun 1773 M
mereka dapat menjadi mayoritas di Ryadh. Di tahun 1787, beliau meninggal
dunia tetapi ajaran-ajarannya tetap hidup dan mengambil bentuk aliran yang
dikenal dengan nama Wahabiyah.
2. Pada bidang Ilmu Pengetahuan
a.

Islam merupakan agama yang sangat mendukung kemajuan ilmu


pengetahuan. Oleh karena itu, Islam menghendaki manusia menjalankan
kehidupan yang didasarkanpada rasioanlitas atau akal dan iman. Ayat-ayat Al
Quran banyak memberi tempat yang lebih tinggi kepada orang yang memiliki
ilmu pengetahuan, Islam pun menganjurkan agar manusia jangan pernah
merasa puas dengan ilmu yang telah dimilikinya karena berapapun ilmu dan
pengetahuan yang dimiliki itu, masih belum cukup untuk dapat menjawab
pertanyaan atau masalah yang ada di dunia ini. Firman Allah SWT( lihat Al_quran
onlines di google)
Artinya : Dan seandainya pohon-pohon di bumi menjadi pena dan laut (menjadi
tinta), ditambahkan kepada tujuh laut (lagi) sesudah (kering)nya, niscaya tidak
akan habis-habisnya (dituliskan) kalimat Allah. Sesungguhnya Allah maha
perkasa lagi maha bijaksana. (QS luqman : 27)

1
71

Ajaran Islam tersebut mendapat respon yang positif dari para pemikir
Islam sejak zaman klasik (650-1250 M), zaman pertengahan (1250-1800 M)
hingga periode modern (1800 m dan seterusnya). Masa pembaruan merupakan
zaman kebangkitan umat Islam. Jatuhnya mesir ke tangan barat menynadarkan
umat Islam bahwa di barat telah timbul peradaban baru yang lebih tinggi dan
merupakan ancaman bagi Islam. Raja-raja dan pemuka-pemuka Islam mulai
memikirkan cara untul meningkatkan mutu dan kekuatan umat Islam. Pemikiran
dan usaha pembaruan antara lain sebagai berikut.

aperiode modern (1250-1800 M)


Sebenarnya pembaruan dan perkembangan ilmu pengetahuan telah
dimulai sjak periode pertengahan, terutama pada masa kerajaan usmani. Pada
abad ke-17, mulai terjadi kemunduran khusunya ditandai oleh kekalahankekalahan yang dialami melalui peperangan melawan negara-negara Eropa.
Peristiwa tersebut diawali dengan terpukul mundurnya tentara usmani ketika
dikirm untuk menguasai wina pada tahun 1683. kerajaan usmani menyerahkan
Hungaria kepada Austria, daerah Podolia kepada Polandia, dan Azov kepada
Rusia dengan perjanjian Carlowiz yang ditandatangani tahun 1699
Kekalahan yang menyakitkan ini mendorong raja-raja dan pemukapemuka kerajaan usmani mengadakan berbagai penelitian untuk menyelidiki
sebab-sebab kekalahan mereka dan rahasia keunggulan lawan. Mereka mulai
memperhatikan kemajuan Eropa, terutama Prancis sebagai negara yang
terkemuka pada waktu itu. Negara Eropa mulai mempunyai arti yang penting
bagi cendikiawan atau pemuka-pemuka usmani. Orang-orang Eropa yang selama
ini dipandang sebagai kafir dan rendah mulai dihargai. Bahkan, duta-dutapun
dikirim ke Eropa untuk mempelajari kemajuan berbagai disiplin ilmu serta
suasana dari dekat
Pada tahun 1720, Celebi Mehmed diangkat subagai duta di Paris dengan
tugas khusu mengunjungi pabrik-pabrik, benteng-benteng pertahanan, dan
institusi-institusi lainnya serta memberi laporan tentang kemajuan tekhnik,
organisasi angkatan perang modern, rumah sakit, observatorium, peraturan,
karantina, kebun binatang, adat istiadat dan lain sebagainya seperti ia lihat di
Perancis. Di tahun 1741 M anaknya, Said Mehmed dikirim pula ke paris
Laporan-laporan kedua duta ini menarik perhatian Sultan Ahmad III (17031730 M) untuk memulai pembaruan di kerajaan Usmani. Pada tahun 1717 M,
seorang perwira Perancis bernama De Rochefart datang ke Istanbul dengan usul
membentuk suatu korps artileri tentara Usmani berdasarkan ilmu-ilmu
kemiliteran modern. Di tahun 1729, datang lagi seorang Perancis yakni Comte
De Bonneval yang kemudia masuk Islam dengan nama baru Humbaraci Pasya. Ia
bertugas melatih tentara usmani untuk memakai alat-alat (meriam) modern.
Untuk menjalankan tugas ini, ia dibantu oleh Macarthy dari Irlandia, Ramsay dari
Skotlandia dan Mornai dari Perancis. Atas usaha ahli-ahli Eropa inilah, taktik dan
teknik militer ,odern pun dimasukkan ke dalam angkatan perang usmani. Maka
pada tahun 1734 M, dibuka sekolah teknik militer untuk pertama kalinya.

1
81

Dalam bidang non militer, pemikiran dan usaha pembaruan dicetuskan


oleh Ibrahim Mutafarrika (1670-1754 M). Ia memperkenalkan ilmu-ilmu
pengetahuan modern dan kemajuan barat kepada masyarakat turki yang disertai
pula oleh usha penerjemahan buku-buku barat ke dalam bahasa turki. Suatu
badan penerjemah yang terdiri atas 25 orang anggota dibentuk pada tahun 1717
M
Sarjana atau filsuf Islam yang termasyur, baik didunia Islam atau barat
ialah Ibnu Sina (1031 M) dan Ibnu Rusyd (1198 M). Dalam bidang seni atau syair,
penyair persia Umar Khayam (1031 M) dan penyair lirik Hafiz (1389 M) yang
dijuluki Lisan Al Gaib atau suara dari dunia gaib, sangat dikenal luas saat itu

embaruan pada periode modern (1800 M dan seterusnya)


Kaum muslim memiliki banyak sekali tokoh tokoh pembaruan yang
pokok pokok pemikirannya maupun jasa-jasanya di berbagai bidang telah
memberikan sumbangsih bagi uamt Islam di dunia. Beberapa tokoh yang
terkenal dalam dunia ilmu pengetahuan atau pemikiran Islam tersebut antara
lain sebagai berikut.
1) Jamaludin Al Afgani (Iran 1838 Turki 1897)
Salah satu sumbangan terpenting di dunia Islam diberikan oleh sayid
Jamaludin Al Afgani. Gagasannya mengilhami kaum muslim di Turki, Iran, mesir
dan India. Meskipun sangant anti imperialisme Eropa, ia mengagungkan
pencapaian ilmu pengetahuan barat. Ia tidak melihat adanya kontradiksi antara
Islam dan ilmu pengetahuan. Namun, gagasannya untuk mendirikan sebuah
universitas yang khusus mengajarkan ilmu pengetahuan modern di Turki
menghadapi tantangan kuat dari para ulama. Pada akhirnya ia diusir dari negara
tersebut.
2) Muhammad Abduh (mesir 1849-1905) dan Muhammad Rasyd Rida (Suriah 18651935)
Guru dan murid tersebut sempat mengunjungi beberapa negara Eropa dan
amat terkesan dengan pengalaman mereka disana. Rasyd Rida mendapat
pendidikan Islam tradisional dan menguasai bahasa asing (Perancis dan Turki)
yang menjadi jalan masuknya untuk mempelajari ilmu pengetahuan secara
umum. Oelh karena itu, tidak sulit bagi Rida untuk bergabung dengan gerakan
pembaruan Al Afgani dan Muhammad Abduh di antaranya melalui penerbitan
jurnal Al Urwah Al Wustha yang diterbitkan di paris dan disebarkan di Mesir.
Muhammad Abduh sebagaimana Muhammad Abdul Wahab dan Jamaludin Al
Afgani, berpendapat bahwa masuknya bermacam bidah ke dalam ajaran Islam
membuat umat Islam lupa akan ajaran-ajaran Islam yang sebenarnya. Bidah
itulah yang menjauhkan masyarakat Islam dari jalan yang sebenarnya.
3) Toha Husein (Mesir Selatan 1889-1973)
Toha husein adalah seorang sejarawan dan filsuf yang amat mendukung
gagasan Muhammad Ali Pasya. Ia merupakan pendukung modernisme yang
1
91

gigih. Pengadopsian terhadap ilmu pengetahuan modern tidak hanya penting


dari sudut nilai praktis (kegunan)nya saja, tetapi juga sebagai perwujudan suatu
kebudayaan yang amat tinggi. Pandangannya dianggap sekularis karena
mengunggulkan ilmu pengetahuan.
4) Sayid Qutub (Mesir 1906-1966) dan Yusuf Al Qardawi.
Al qardawi menekankan perbedaan modernisasi dan pembaratan. Jika
modernisasi yang dimaksud bukan berarti upaya pembaratan dan memiliki
batasan pada pemanfaatan ilmu pengetahuan modern serta penerapan
tekhnologinya, Islam tidak menolaknya bahkan mendukungnya. Pandangan al
qardawi ini cukup mewakili pandangan mayoritas kaum muslimin. Secara umum,
dunia Islam relatif terbuka untuk menerima ilmu pengetahuan dan tekhnologi
sejauh memperhitungkan manfaat praktisnya. Pandangan ini kelak terbukti dan
tetap bertahan hingga kini di kalangan muslim. Akan tetapi, dikalangan pemikir
yang mempelajari sejarah dan filsafat ilmu pengetahuan, gagasan seperti ini
tidak cukup memuaskan mereka.
5) Sir Sayid Ahmad Khan (india 1817-1898)
Sir Sayid Ahmad Khan adalah pemikir yang menyerukan saintifikasi
masyarakat muslim. Seperti halnya Al Afgani, ia menyerukan kaum muslim untuk
meraih ilmu pengetahuan modern. Akan tetapi, berbeda dengan Al Afgani ia
melihat adanya kekuatan yang membebaskan dalam ilmu pengetahuan dan
tekhnologi modern. Kekuatan pembebas itu antara lain meliputi penjelasan
mengenai suatu peristiwa dengan sebab-sebabnya yang bersifat fisik materiil. Di
barat, nilai-nilai ini telah membebaskan orang dari tahayuldan cengkeraman
kekuasaan gereja. Kini, dengan semangat yang sama, Ahmad Khan merasa wajib
membebaskan kaum muslim dengan melenyapkan unsur yang tidak ilmiah dari
pemahaman terhadap Al Quran. Ia amat serius dengan upayanya ini antara lain
dengan menciptakan sendiri metode baru penafsiran Al Quran. Hasilnya adalah
teologi yang memiliki karakter atau sifat ilmiah dalam tafsir Al Quran
6) Sir Muhammad Iqbal (Punjab 1873-1938)
Generasi awal abad ke-20 adalah Sir Muhammad Iqbal yang merupakan
salah seorang muslim pertama di anak benua India yang sempat mendalami
pemikiran barat modern dan mempunyai latar belakang pendidikan yang
bercorak tradisional Islam. Kedua hal ini muncul dari karya utamanya di tahun
1930
yang
berjudul The
Reconstruction
of
Religious
Thought
in
Islam (Pembangunan Kembali Pemikiran Keagamaan dalam Islam). Melalui
penggunaan istilahrecontruction, ia mengungkapkan kembali pemikiran
keagamaan Islam dalam bahasa modern untuk dikonsumsi generasi baru muslim
yang telah berkenalan dengan perkembangan mutakhir ilmu pengetahuan dan
filsafat barat abad ke-20

B. Islam dan iptek


2
02

1. Motivasi alquran dan hadis kearah pengembangan iptek


Iptek atau Ilmu Pengetahuan dan Teknolgi, merupakan salah satu hal yang tidak dapat kita
lepaskan dalam kehidupan kita. Kita membutuhkan ilmu karena pada dasarnya manusia
mempunyai suatu anugerah terbesar yang diberikan Allah SWT hanya kepada kita,
manusia, tidak untuk makhluk yang lain, yaitu sebuah akal pikiran. Dengan akal pikiran
tersebutlah, kita selalu akan berinteraksi dengan ilmu. Akal yang baik dan benar, akan
terisi dengan ilmu-ilmu yang baik pula. Sedangkan teknologi, dapat kita gunakan sebagai
sarana untuk mendapatkan ilmu pengetahuan itu sendiri.

Pendidikan sains dan teknologi seharusnya sudah diberikan dengan mantab saat anak masih kecil.
Hal ini dikarenakan, ilmu yang dipelajari tidak jauh jauh dari apa yang kita temukan setiap
harinya. Kita dapat menjelaskan kepada mereka (anak kecil) dengan bahasa yang ringan dan
mudah dipahami. Tidak perlu bertele tele yang mana bahasa itu hanya bisa dimengerti orang
dewasa. Dengan proses pembelajaran yang menyenangkan, insyaallah akan membuat mereka
suka pada IPTEK. Dengan begitu, muncullah bibit bibit baru yang lebih unggul yang akan
menggantikan para ilmuwan abad ini. Sesungguhnya IPTEK sendiri adalah suatu ilmu pengetahuan
yang menarik dan menyenangkan. Apalagi dalam pembelajarannya terdapat banyak sekali hikmah
yang kita temukan didalamnya. Yang mana pada saat kita melakukan penelitian/praktek, kita akan
menyadari betapa Maha Besar Dia yang menciptakan langit dan bumi serta seisinya. Seperti dalam
(Q.S. Az-Zuhruf : 9)
Dan sungguh jika kamu tanyakan kepada mereka: Siapakah yang menciptakan langit dan
bumi?, niscaya mereka akan menjawab: Semuanya diciptakan oleh yang Maha Perkasa lagi
Maha Mengetahui.
motivasi islam dalam mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi sangatlah besar. Hal ini
terbukti dari firman Allah dan hadist Rasulullah yang menyatakan bahwa ilmu sangatlah penting
dan Allah mencintai hamba-hamba-Nya yang berilmu bahkan akan mengangkat derajatnya. Selain
itu juga terbukti dengan banyaknya para ilmuan dan orang muslim yang ahli dalam suatu disiplin
ilmu tertentu. Tak hanya itu, perkembangan iptek di masa Khalifah Abbasiyah yang berkembang
dengan baik juga merupakan bukti bahwa ilmu pengetahuan sangat penting dalam islam. Namun,
perlu diingat pula bahwa kemajuan iptek perlu didukung dengan kemajuan dan perbaikan imtaq.
Kedua hal tersebut haruslah selaras dan seimbang. Iptek sesungguhnya sangatlah penting dan
teramat berguna dalam meningkatkan taraf hidup manusia. Karena itu perlu ada saringan
pengguna iptek. Saringannya adalah agama dan akal budi.

2.

Kedudukan ilmuan dalam islam dan peringatan sesudah mendapatkan ilmu


Dalam al-Quran Surat AlMujadalah ayat 11 dikemukakan: Alloh akan mengangkat derajat
orang-orang yang beriman dan berilmu pengetahuan beberapa derajat mengilhami kepada
kita untuk serius dan konsisten dalam memperdalam dan mengembangkan ilmu
pengetahuan. Beberapa tokoh penting (ilmuwan) dalam sejarah Islam jelas menjadi bukti
janji Alloh s.w.t akan terangkatnya derajat mereka baik dihadapan Alloh maupun sesama
manusia.
Nama-nama besar seperti Abu Hasan Alasyari (873-935), al Jubai (w.303 H) al Maturidi

2
12

(w.944) dalam lapangan theology Islam; Imam AlBukhari (w.870), Imam Muslim (w.875), al
Turmudzi (w.892) dan al NasaI (w.915) dalam lapangan Hadist; AlKhuwarizmi (800-847)
ilmuwan Muslim perintis ilmu pasti, al farghani atau farghanus abad 9 seorang ahli
astronomi dll.
Dalam lapangan kedokteran ilmuwan Muslim yang sangat terkenal, antara lain Abu ali Al
Husain bin Abdullah bin Sina (Ibn Sina) atau Avicenna (980-1037) dan diberi julukan sebagai
the prince of physician yang juga dikenal sebagai Filsuf besar, termasuk Al Farabi (870-950)
yang juga memiliki keahlian dalam lapangan logika, politik dan ilmu jiwa (Abuddin: 150151) dan masih banyak lainnya, menunjukkan pada umat Islam tingginya kedudukan mereka
di kalangan umat Islam hingga menembus umat di luar Islam. Semuanya sebagai
konsekwensi logis dari ilm yang mereka miliki.
DR Wahbah Zuhaili dalam Tafsir Al Munir nya memaknai kata darajaat (beberapa derajat)
dengan beberapa derajar kemuliaan di dunia dan akhirat. Orang alim yang beriman akan
memperoleh fahala di akhirat karena ilmunya dan kehormatan serta kemulyaan di sisi
manusia yang lain di dunia. Karena itu Alloh s.w.t meninggikan derajat orang mumin diatas
selain mumin dan orang-orang alim di atas orang-orang tidak berilmu. (juz 28: 43)
Dalam perspektif sosiologis, orang yang mengembangkan ilmu berada dalam puncak
piramida kegiatan pendidikan. Banyak orang sekolah/ kuliah tetapi tidak menuntut ilmu.
Mereka hanya mencari ijazah, status/gelar. Tidak sedikit pula guru atau dosen yang
mengajar tetapi tidak mendidik dan mengembangkan ilmu. Mereka ini berada paling bawah
piramida dan tentunya jumlahnya paling banyak. Kelompok kedua adalah mereka yang
kuliah untuk emnuntu ilmu tetapi tidak emngembangkan ilmu. Mereka ini ingin memiliki
dan menguasai ilmu pengetahuan untuk bekal hidupnya atau untuk dirinya sendiri, tidak
mengembangkannya untuk kesejahteraan masyarakat. Kelompok ini berada di tengah
piramida kegiatan pendidikan. Sedangkan kelompok yang paling sedikit dan berada di
puncak piramida adalah seorang yang kuliah dan secara bersungguh-sungguh mencintai dan
mengembangkan ilmu. Salah satunya adalah dosen yang sekaligus juga seorang pendidik dan
ilmuwan. (Tobroni:36)
Keutamaan orang alim (ilmuwan) dibanding lainnya diperkuat oleh hadist Nabi dari Muadz;
" "
Keutamaan orang alim atas hamba (lainnya) adalah seperti kelebihan bulan purnama atas
bintang-bintang H.R Abu Daud, Turmudzi, Nasai , dan Ibn hibban.
Dan Hadist riwayat Ibnu Majah dari Utsman r.a;
" :"
Tiga golongan orang yang ditolong di hari kiamat; yaitu para Nabi kemudian Ulama
kemudian syuhada. (Ihya: 17)
Penjelasan al Quran , Hadist maupun fakta di atas memberikan gambaran yang jelas bahwa
kedudukan ilmu dan ilmuwan begitu tinggi dan mulya di hadapan Alloh dan hambahambaNya. Jika umat Islam menyadari dan memegang teguh ajaran agamanya untuk
menjunjung tingi ilmu pengetahuan , maka pasti dapat di raih kembali puncak kejayaan
Islam sebagaimana catatan sejarah di abad awal Hijrah hingga abad ke dua belas Hijrah,
dimana umat dan Negara- negara Islam menjadi pusat peradaban dunia.

3. Fungsi IPTEK dalam memperkuat imtaq


4. Alquran sumber inspirasi untuk menemukan ilmu yang amaliah dan amal yang ilmiah
Ilmu merupakan pijakan dalam beramal, sebagai landasan berbuat dan mengarahkan
perbuatan ke arah kebaikan. Dengan ilmu kita mengetahui segalanya. Seorang bijak pernah

2
22

berkata, "Ilmu tanpa amal; cacat. Dan, amal tanpa ilmu; buta." Maaf kalau perkataan orang
bijak ini salah redaksi. Atau, ada istilah bangsa Arab yang tak pernah luput dari ingatan
kita, "Al-'ilmu bilaa 'amalin, kasy-syajari bilaa tsamar". Terjemahan bahasa Indonesianya
lebih kurang seperti ini: "Ilmu yang tidak diamalkan bagai pohon tak berbuah. Hati-hati, ini
bukan hadits, melainkan pepatah alias 'ibarah. Makanya, jika berdakwah, pakailah dalil
sesuai sumbernya. Jangan pepatah dianggap hadits.
Amal adalah pendorong untuk tetap menjaga dan memperkokoh ilmu dalam sanubari para
penuntut ilmu, dan ketiadaan amal merupakan pendorong hilangnya ilmu dan mewariskan
kelupaan. Asy Sya'bi berkata : "Kami dahulu meminta bantuan dalam mencari hadits dengan
berpuasa, dan kami dahulu meminta bantuan untuk menghapal hadits dengan
mengamalkannya".
As Sulamiy berkata : "Telah memberi kabar kepada kami dari orang-orang yang mengajari
Al-Qur'an kepada kami, bahwa mereka (para shahabat Nabi) dahulu belajar Al-Qur'an dari
Nabi shollallohu alaihi wa sallam dimana mereka apabila mempelajari sepuluh ayat mereka
tidak akan beranjak ke ayat berikutnya sampai mereka mengamalkan kandungannya".
Sesungguhnya orang yang bodoh kelak di hari kiamat akan ditanya kenapa ia tidak belajar
(mencari ilmu), sedangkan orang yang berilmu akan ditanya apa yang telah diamalkan
dengan ilmunya. Jika ia meninggalkan amal, maka ilmunya akan berbalik menjadi hujjah
bagi dirinya. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda : "Pada hari kiamat nanti,
seseorang akan digiring kemudian dilemparkan ke dalam api neraka sampai isi perutnya
terburai keluar. Kemudian penghuni neraka bertanya kepadanya : Bukankah kamu dahulu
menyerukan kebajikan dan melarang kemungkaran?' Ia menjawab : Saya dahulu
menganjurkan kebaikan tapi saya sendiri tidak melakukannya, dan saya melarang
kemungkaran tapi saya sendiri mengerjakannya'."(HR. Bukhari dan Muslim).
Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam juga bersabda : "Perumpamaan seorang alim yang
mengajarkan kebaikan kepada manusia dan melupakan dirinya, seperti lilin yang menerangi
manusia tetapi membakar dirinya sendiri". (HR. Thabrani).
Yahya bin Muadz Ar Razi berkata : "Orang miskin pada hari kiamat adalah orang yang
ilmunya berbalik menjadi hujjah baginya, ucapannya berbalik menjadi musuhnya, dan
pemahamannya yang mematahkan udzurnya".
Ibnul Jauzi berkata : "Orang yang benar-benar sangat patut dikasihani adalah orang yang
menyia-nyiakan umurnya dalam suatu ilmu yang tidak ia amalkan, sehingga ia kehilangan
kesenangan dunia dan kebaikan akhirat, kemudian dia ketika hari kiamat dalam datang
dalam keadaan bangkrut dengan kuatnya hujjah atas dirinya". (Shoidul Khatir hal. 144).
DIarsipkan di bawah: Fatwa2 Ulama!, Manhaj!, Salaf! | Ditandai: abdullah bin al mu'taz, abi
barzah al aslami, abu darda, abu hurairah, abu qilabah, al-hilyah, amal, as sulamiy, azzuhri, hr. bukhari muslim, hr. thabrani, ibnul jauzi, ilmu, ilmu menuntut amal, imam
tirmidzi, shoidul khatir, sufyan ats-Tsauri, yahya bin muadz ar razi

DAFTAR PUSTAKA

Al-Ghazali, Muhammad. Al-Ghazali Menjawab 100 Soal Keislaman. Penerjemah


2
32

Abdullah Abbas. Jakarta: Lentera Hati, 2011.


Ali, Yunasril. Buku Induk Rahasia dan Makna Ibadah. Jakarta: Penerbit Zaman, 2012.
Bakhtiar, Amsal. Filsafat Agama: Wisata Pemikiran dan Kepercayaan Manusia.
Jakarta: Rajawali Pers, 2009
Bisri, Mukti dkk. Pendidikan Agama Bernuansa Kesehatan. Modul Guru. Jakarta: Pilar
Media, 2007
Departemen Pendidikan Nasional, Pusat Bahasa. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Edisi
Keempat. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Umum, 2008
Koenig, Harold G. Is Religion Good for Your Health?: The Effects of Religion on
Physical and Mental Health.
Hashman, Ade. Rahasia Kesehatan Rasulullah: Meneladani Gaya Hidup Sehat Nabi
Muhammad SAW. Jakarta: PT. Mizan Republika, 2012.
homehttp://danusiri.dosen.unimus.ac.id/2012/01/13/pandangan-islam-tentangkesehatan-bag-/
http://ki2011-baktihamdani.blogspot.com/2011/06/ilmu-amaliah-dan-amalilmiah.html
http://idajamal.blogspot.com/2010/04/keutamaan-menuntut-ilmu-dankedudukan.html
Al ghazali, Abi Hamid Muhammad bin Muhammad. Ihya Ulum Ad-Diin. Jilid I, tt
Ahmad Al Hasyimiy, Sayyid. Mukhtarul Ahadist An-Nabawiyyah wal Hikam Al Muhammadiyyah, Beirut
Libanon: Darul Fikr 1414 H / 1994 M
Abdul Baqi, Muhammad Fuad. Al Lulu Wal Marjan (Terj.) juz II. Surabaya : P.T Bina Ilmu. 2006
Az-Zuhaili, Wahbah. At-Tafsir Al- Munir Fil Aqidah wal Syariah wal Manhaj .Juz 28. Beirut- Libanon:
Darul Fikr. 1411 H/1991 M
Ibn Rusn, Abidin. Pemikiran Al Ghazali tentang Pendidikan, Yogyakarta.: Pustaka Pelajar . 1998
Nata, Abuddin. Tafsir Ayat-ayat Pendidikan Tafsir Ayat-Ayat Al- Tarbawiy. Jakarta: P.T Rajawali Press,
2008
Shihab, Quraisy. Tafsir AL Mishbah. Volume 5
Tobroni, DR. Pendidikan Islam Paradigma Teologis, Filosofis dan Spiritualitas. Malang : UMM Press.
2008

2
42