Anda di halaman 1dari 17

PERAWATAN KASUS

INFEKSI RONGGA MULUT


No Dokumen

No Revisi

0
Tanggal Terbit

STANDAR
PROSEDUR TETAP
GIGI

Halaman
1/1

Ditetapkan oleh
DIREKTUR RSUD BANGIL
KABUPATEN PASURUAN

Dr. AGUNG BASUKI, M Kes


Pembina Tk I
NIP. 19600504 198902 1 002
Pengertian

Infeksi rongga mulut meliputi :


Infeksi odontogen
Infeksi non-odontogen
Infeksi pasca trauma
Infeksi akibat komplikasi terapi
Infeksi fokal
Komplikasi dan atau manifestasi kelainan sistemik
Infeksi rongga mulut dapat terjadi pada jaringan keras (gigi dan tulang
rahang) serta pada jaringan lunak (mukosa rongga mulut, gusi, jaringan
periodontal, bibir, lidah dan kelenjar liur).
Infeksi rongga mulut berkembang menjadi :
Abses dento-alveolar dan menyebar ke berbagai spasium dan
jaringan di sekitar rongga mulut dan rahang
Fokus Infeksi
Sepsis

Tujuan

Kebijakan

Mengobati infeksi pada jaringan rongga mulut dan mencegahnya


agar tidak meluas dan menyebar ke jaringan sekitarnya serta tidak
berkembang ke arah komplikasi yang serius
Mengidentifikasi dan mengeliminasi penyebab
Merujuk atau mengkonsultasikan kasus tersebut ke Bagian Ilmu
lainnya yang berkompeten
Diagnosa dilakukan oleh Dokter Gigi
Eliminasi penyebab yang sederhana, misalnya pencabutan gigi,
dilakukan oleh Perawat Gigi
Eliminasi penyebab yang serius dilakukan oleh Dokter Gigi

Prosedur

1. Eliminasi penyebab :
Ekstraksi gigi, odontektomi dan operkulektomi
Sialolitotomi (kelenjar ludah).
Nekrotomi (post trauma)
Sekuesterektomi (osteomielitis)
Insisi drainase (abses)

Unit terkait

Bagian Periodopsi, Konservasi dan Pedodonsi Instalasi Gigi dan Mulut


SMF Radiologi
SMF Laboratorium
SMF Penyakit Dalam (Interne)
SMF Anak
Bagian Anastesi
Bagian OK

PENCABUTAN (EKSTRAKSI) GIGI DAN ODONTEKTOMI

No Dokumen

No Revisi

0
Tgl Terbit

STANDAR
PROSEDUR TETAP
GIGI

Halaman
1/2

Ditetapkan oleh
DIREKTUR RSUD BANGIL
KABUPATEN PASURUAN

Dr. AGUNG BASUKI, M Kes


Pembina Tk I
NIP. 19600504 198902 1 002
Pengertian

Pencabutan gigi dilakukan apabila gigi sudah tidak dapat dipertahankan


lagi, baik dari segi anatomis maupun fungsional di dalam rongga mulut.
Selanjutnya tindakan ini dilakukan apabila gigi tersebut merupakan
sumber penyakit bagi jaringan sekitar dan organ lainnya, serta jika gigi
tersebut akan mengganggu atau menghambat tindakan perawatan lainnya
terhadap pasien.
Odontektomi adalah tindakan pencabutan terhadap gigi yang tidak erupsi
atau semi erupsi dengan posisi tidak normal.
Indikasi Pencabutan Gigi dan odontektomi :
Gigi karies (berlubang) yang sudah tidak dapat dilakukan perawatan
dan penambahan
Sisa akar gigi gangrene, baik yang erupsi maupun yang non erupsi
Gigi non erupsi atau semi erupsi dengan posisi melintang atau
dengan arah erupsi yang tidak normal
Gigi goyang akibat kehilangan atau kerusakan jaringan pendukung
yang berlebihan
Gigi goyang dan patah akibat trauma
Gigi yang diduga akibat fokal infeksi dan tidak dapat dirawat lagi
Gigi yang bentuk anatomisnya, jumlah, ukuran, posisi atau arah
pertumbuhannya abnormal
Gigi berjejal, malposisi dan maloklusi untuk perawatan Ordonti
Pencabutan gigi untuk keperluan perawatan Prostodonti
Gigi yang mengalami kegagalan perawatan dan penambahan
Gigi yang berbatasan dengan kista atau tumor jinak
Gigi sulung persistensi

Tujuan

Mengeliminasi (menghilangkan) lokus minoris resistensi dan focus


infeksi dari dan di rongga mulut
Memudahkan perawatan di Bagian lain
Mengeliminasi faktor pengganggu / penghambat pertumbuhan
perkembangan gigi dan rahang

PENCABUTAN (EKSTRAKSI) GIGI DAN


ODONTEKTOMI

No Dokumen
Kebijakan

No Revisi

Halaman
2/2

0
Ekstraksi gigi yang mudah dilakukan oleh Perawat Gigi di bawah
2

pengawasan Dokter Gigi


Ekstraksi gigi dan atau dengan penyulit / komplikasi dilakukan oleh
Dokter Gigi atau Dokter Gigi Sp. Bedah Mulut
Ekstraksi gigi dengan resiko tinggi dilakukan oleh Dokter Gigi Sp.
Bedah Mulut
Odontektomi dengan kesulitan ringan atau sedang dilakukan oleh
Dokter Gigi
Odontektomi dengan tingkat kesulitan berat atau beresiko tinggi
dilakukan oleh Dokter Gigi Sp. Bedah Mulut
Ekstraksi gigi dan odontektomi dengan narkose umum dilakukan
oleh Dokter Gigi Sp. Bedah Mulut

Prosedur

1. Pastikan penderita tidak dalam kondisi yang mempersulit atau dapat


menyebabkan komplikasi pra, durante dan pasca ekstraksi gigi,
misalnya :
Tidak dapat diajak bekerjasama (non-kooperatif)
Tidak dalam keadaan infeksi akut atau subakut
Belum diberikan antibiotika profilaksis (pasca infeksi akut dan
abses)
Tidak hamil trisemester pertama atau terakhir
Tidak dalam masa nifas atau menstruasi
Tidak tampak lelah, lapar, atau kurang tidur
Tidak memiliki riwayat kelainan sistemik atau sedang dalam masa
perawatan di bagian lain (harus konsul dulu)
2. Tindakan esepsis dan antiesepsis, minimal intra oral dengan betadin
10% selama 1-2 menit
3. Anastesi topikal (gigi sulung), infiltrasi dan blok anastesi (gigi
permanen)
4. Elevasi gigi jika perlu sebelum gigi diekstraksi
5. Jika perlu dilakukan pembuatan flap untuk tindakan odontektomi
6. Ekstraksi gigi atau odontektomi
7. Jika dilakukan pembuatan flap, lakukan penjahitan
8. Drug tampon

Prosedur

9. Instruksi pasca pencabutan


10. Pemberian ressep antibiotika, analgetika dan anti inflamasi
11. Untuk ekstraksi gigi atau odontektomi yang tidak dapat dilakukan
dengan anastesi lokal karena adanya hambatan fisik, emosional atau
kelainan sistemik dilakukan di bawah narkose umum

Unit terkait

Bagian Periodonsi, Ortodensi,Prostodonsi, Konservasi dan Pedodonsi


Instalasi Gigi dan Mulut
SMF Radiologi
SMF Laboratorium
SMF Penyakit Dalam
SMF Anak
Bagian Anastesi
Bagian OK

PERAWATAN PERDARAHAN
RONGGA MULUT

No Dokumen

No Revisi

0
STANDAR
PROSEDUR TETAP
GIGI

Tgl Terbit

Halaman
1/3

Ditetapkan oleh
DIREKTUR RSUD BANGIL
KABUPATEN PASURUAN

Dr. AGUNG BASUKI, M Kes


Pembina Tk I
NIP. 19600504 198902 1 002
Pengertian

Perdarahan rongga mulut adalah suatu keadaan keluarnya darah yang


banyak dan tidak kunjung berhenti dari luka akibat pencabutan gigi atau
trauma, serta mengalirnya darah dari sela-sela gusi yang penyebabnya
tidak jelas.
Perdarahan menyebabkan :
Rasa cemas atau panik pasien dan kadang juga bagi dokter gigi itu
sendiri
Terhambatnya prosedur perawatan lebih lanjut
Terganggunya proses penyembuhan
Menyebabkan komplikasi yang lebih serius
Berkurangnya kepercayaan pasien terhadap dokter gigi
Berkurangnya kepercayaan dokter gigi itu sendiri dalam mengangani
pasiennya
Jenis perdarahan :
1. Berdasarkan penyebabnya :
- Perdarahan akibat trauma mekanis
- Perdarahan spontan
2. Berdasarkan pembuluh darah yang putus :
- Perdarahan arteri
- Perdarahan vena
- Perdarahan kapiler
3. Berdasarkan saat terjadinya :
- Perdarahan primer
- Perdarahan intermediate
- Perdarahan sekunder
4. Berdasarkan lokasi atau jenis lukanya :
- Perdarahan luka terbuka atau perdarahan luar
- Perdarahan luka tertutup atau perdarahan dalam
5. Berdasarkan luasnya daerah yang terlihat :
- Perdarahan lokal
- Perdarahan menyeluruh / luas (difuse)

PERAWATAN PERDARAHAN
RONGGA MULUT
No Dokumen

No Revisi

0
Pengertian

Halaman
2/3

Penyebab perdarahan :
1. Penyebab lokal :
- Tindakan perawatan gigi yang disertai trauma berlebihan
4

Cedera pembuluh darah besar


Berkurangnya efek vasokonstriktor pada saat pencabutan gigi
Hiperemi akibat adanya inflamasi
Lisis atau lepasnya koagulum di daerah luka pasca pencabutan
gigi
- Perawatan luka yang buruk
2. Penyebab sistemik :
- Kelainan pada pembuluh darah
- Kelainan susunan darah (Blood dyscrasia)
- Kelainan sistemik yang menyebabkan pasien cenderung
mengalami perdarahan
- Penyakit lainnya yang erat kaitannya dengan perdarahan, masa
tumor (ameloblastoma) atau keganasan
Tujuan

Kebijakan

Mengatasi perdarahan lokal dalam rongga mulut dan mencegah


timbulnya komplikasi yang serius
Mengidentifikasi dan mengeliminasi penyebab perdarahan tersebut
secara lokal
Merujuk atau mengkonsultasikan kasus tersebut ke Bagian Ilmu
lainnya yang berkompeten
Perdarahan rongga mulut ditangani oleh Dokter Gigi dan Dokter Gigi
Sp. Bedah Mulut

PERAWATAN PERDARAHAN
RONGGA MULUT
No Dokumen

No Revisi

0
STANDAR
PROSEDUR TETAP
GIGI

Tgl Terbit

Halaman
3/3

Ditetapkan oleh
DIREKTUR RSUD BANGIL
KABUPATEN PASURUAN

Dr. AGUNG BASUKI, M Kes


Pembina Tk I
NIP. 19600504 198902 1 002
Pengertian

Penyebab perdarahan :
3. Penyebab lokal :
- Tindakan perawatan gigi yang disertai trauma berlebihan
- Cedera pembuluh darah besar
- Berkurangnya efek vasokonstriktor pada saat pencabutan gigi
- Hiperemi akibat adanya inflamasi
- Lisis atau lepasnya koagulum di daerah luka pasca pencabutan
gigi
5

- Perawatan luka yang buruk


4. Penyebab sistemik :
- Kelainan pada pembuluh darah
- Kelainan susunan darah (Blood dyscrasia)
- Kelainan sistemik yang menyebabkan pasien cenderung
mengalami perdarahan
- Penyakit lainnya yang erat kaitannya dengan perdarahan, masa
tumor (ameloblastoma) atau keganasan
Tujuan

Mengatasi perdarahan lokal dalam rongga mulut dan mencegah


timbulnya komplikasi yang serius
Mengidentifikasi dan mengeliminasi penyebab perdarahan tersebut
secara lokal
Merujuk atau mengkonsultasikan kasus tersebut ke Bagian Ilmu
lainnya yang berkompeten

Kebijakan

Perdarahan rongga mulut ditangani oleh Dokter Gigi dan Dokter Gigi Sp.
Bedah Mulut

Prosedur

Prinsip pengelolaan :
1. Kenalilah pasien yang memiliki resiko perdarahan, dengan cara :
- Anamnesa dan pemeriksaan klinis yang cermat
- Jika mungkin pemeriksaan lab. darah

PERAWATAN PERDARAHAN
RONGGA MULUT

No Dokumen

No Revisi

0
PROSEDUR TETAP
GIGI

Tgl Terbit

Halaman
4/3

Ditetapkan oleh
DIREKTUR RSUD BANGIL
KABUPATEN PASURUAN

Dr. AGUNG BASUKI, M Kes


Pembina Tk I
NIP. 19600504 198902 1 002
Prosedur

2. Jika pada saat melakukan tindakan terjadi perdarahan, maka :


- Jangan panik, tenang dan berusaha tampil meyakinkan
- Tenangkan pasien agar tidak menjadi cemas dan panik
3. Pastikan penyebab perdarahan, apakah lokal atau sistemik, melalui
anamnesa dan pemeriksaan klinis ulang lebih cermat
4. Jangan segan berkonsultasi dengan sejawat yang berkompeten
5. Jika perdarahan dapat diatasi, maka :
- Observasi selama 30 60 menit dan kontrol keesokan harinya
- Instruksi post-op
- Perawatan luka post-op yang optimal
Prosedur pemeriksaan :
1. Anamnesa :
1.1 Keadaan umum pasien :
- Apakah pasien kurang tidur, lelah akibat kerja berat atau belum
makan
- Apakah pasien sedang dalam masa nifas atau menstruasi
- Apakah pasien baru sembuh dari sakit berat
2.1 Riwayat kesehatan pasien :
- Apakah pasien memiliki riwayat hipertensi, DM atau penyakit
sistemik yang erat kaitannya dengan perdarahan
- Apakah pasien memiliki riwayat perdarahan pasca bedah atau
6

pencabutan gigi sebelumnya


- Apakah pasien mudah mengalami perdarahan spontan,
misalnya dari gusi atau hidung
- Apakah jika mengalami luka, perdarahannya lama (lebih dari 5
menit)
- Apakah pasien mengkonsumsi obat-obatan tertentu selama ini,
misalnya kloramfenikol, salisilat atau antikoagulan

STANDAR PROSEDUR OPERASIONAL


PERAWATAN PERDARAHAN
RONGGA MULUT
No Dokumen

No Revisi

0
PROSEDUR TETAP
GIGI

Tgl Terbit

Halaman
5/3

Ditetapkan oleh
DIREKTUR RSUD BANGIL
KABUPATEN PASURUAN

Dr. AGUNG BASUKI, M Kes


Pembina Tk I
NIP. 19600504 198902 1 002
Prosedur

2. Pemeriksaan Ekstra Oral :


- Periksa adanya hematoma, ekhimosis dan petechiae di bagian
tubuh lainnya
trombositopenia; gangguan hemostasis
- Adanya kaku sendi (salah satu gejala hemofili A dan B)
- Icterus pada wajah dan konjuktiva
gangguan fungsi hati
- Muka tampak pucat
anemia dan leukimia
- Pigmentasi melanin kulit
sirosis hepatic; Addison disease
- Wajah penderita kemerahan
kemungkinan hipertensi
3. Pemeriksaan intra oral :
- Jenis perdarahan apakah lokal atau difuse
- Apakah perdarahan dari jaringan lunak atau trauma
- Identifikasi jenis perdarahan venous, arteri atau kapiler
- Adanya gingivitis, periodontitis atau paradontosis
- Adanya periodontal abses
- Adanya hemangioma di sekitar lokasi perdarahan
4. Pemeriksaan rontgenologis : adanya masa tumor di daerah tulang
Prosedur perawatan perdarahan rongga mulut :
1. Perdarahan durante / pasca bedah / ekstraksi gigi :
1.1 Perdarahan biasa; lakukan suction atau bersihkan medan operasi
dengan has steril
1.2 Perdarahan agak banyak; letakkan tampon mengandung
adrenalin (1:1000) atau larutan PH cain di daerah operasi atau
socket kemudian ditekan dan digigit oleh pasien selama 3-7
menit
1.3 Jika darah tampak memancar; identifikasi apakah berasal dari
tulang atau jaringan lunak
1.4 Jika berasal dari jaringan lunak; cari pembuluh darahnya, klem
lalu diikat dan dijahit, jika sulit ditemukan, lakukan kauterisasi
1.5 Jika berasal dari tulang; daerah tempat keluarnya darah ditekan,
diketuk atau dipukul dengan instrumen tumpul (dapat dibantu
dengan adrenalin), kemudian aplikasi bone wax pada daerah
tersebut, jika mungkin lakukan kauterisasi

STANDAR PROSEDUR OPERASIONAL


PERAWATAN PERDARAHAN
RONGGA MULUT
No Dokumen
Prosedur

No Revisi

Halaman
6/3

0
1.6 Jika perdarahan telah dapat diatasi; pasien jangan disuruh pulang
dulu, akan tetapi dapat diobservasi dulu selama 30 60 menit
apakah perdarahan terjadi lagi atau tidak
1.7 Jika perdarahan masih ada atau kembali terjadi; ulangi prosedur
perawatan lokal dan lakukan konsultasi dengan sejawat yang
berkompeten
2. Perawatan pasien yang datang dengan perdarahan :
2.1 Tanyakan kepada pasien perdarahan sudah berapa lama dan apa
penyebabnya
2.2 Jika pasien tampak pucat, lesu dan lemah akibat kekurangan
darah; lakukan urut-urutan prosedur perawatan lokal dan
dilanjutkan dengan konsultasi ke sejawat di SMF Penyakit
Dalam atau SMF Anak
2.3 Jika tampak perdarahan spontan lokal; usahakan lakukan
prosedur perawatan lokal, kemudian konsultasi ke sejawat SMF
Penyakit Dalam atau SMF Anak
2.4 Jika tampak adanya perdarahan spontan dan difuse; pastikan
penyebabnya apakah lokal atau sistemik
2.5 Jika penyebab lokal, maka lakukan :
- Urut-urutan prosedur perawatan lokal
- Anastesi infiltrasi untuk efek analgesik dan hemostasis
- Tindakan debrimen atau nekrotomi, dilanjutkan dengan
pembersihan karang gigi, dapat dibantu dengan cryo terapi
2.6 Jika diduga penyebabnya kelainan sistemik, lakukan :
- Bersihkan rongga mulut dengan larutan perhydrol, normal salin
dan betadin 10%
- Jika mungkin dilanjutkan dengan cryo terapi
- Selanjutnya konsultasi ke sejawat SMF Penyakit Dalam atau
SMF Anak pro rawat bersama
2.7 Penderita dengan perdarahan dengan riwayat trauma jaringan
lunak disertai hemangioma; lakukan prosedur perawatan lokal,
jika tidak mungkin, langsung lakukan cryo terapi atau eksisi /
ekstirpasi hemangioma

STANDAR PROSEDUR OPERASIONAL


PERAWATAN PERDARAHAN
RONGGA MULUT
No Dokumen

No Revisi

0
PROSEDUR TETAP
GIGI

Tgl Terbit

Halaman
7/3

Ditetapkan oleh
DIREKTUR RSUD BANGIL
KABUPATEN PASURUAN

Dr. AGUNG BASUKI, M Kes


Pembina Tk I
NIP. 19600504 198902 1 002
Prosedur

2.8 Perdarahan dengan riwayat trauma wajah dan rongga mulut :


- Bersihkan rongga mulut dengan larutan perhydrol, normal salin
dan betadin 10%
- Anastesi infiltrasi untuk efek analgesik dan hemostasis
8

- Jika memungkinkan lakukan debrimen atau nekrotomi


Instruksi pasca tindakan :
Tampon digigit selama 30 60 menit
Jika perdarahan dapat diatasi, pasien diobservasi dulu selama 30 60
menit sebelum pasien pulang, selanjutnya keesokan harinya harus
kembali untuk kontrol
Jika dirumah terjadi perdarahan, segera kembali ke dokter
Jangan menyentuh atau memainkan lidah di daerah luka
Selama 24 jam jangan terlalu sering berkumur, meniup atau
menghisap-isap sesuatu
Kurangi bicara, banyak istirahat dan obat diminum teratur sesuai
anjuran dokter
Makan lunak yang bergizi, untuk sementara waktu mengunyah pada
daerah/sisi yang sehat
Kebersihan mulut harus dijaga
Unit Terkait

Bagian Periodonsi dan Pedodonsi Instalasi Gigi dan Mulut


SMF Radiologi
SMF Laboratorium
Bagian Hematologi (SMF Penyakit Dalam dan SMF Anak)
Bagian Anastesi
Bagian OK

STANDAR PROSEDUR OPERASIONAL


PERAWATAN PROSTODONSIA DENGAN
IMMEDIATE DENTURE
No Dokumen

No Revisi

0
Tgl Terbit

PROSEDUR TETAP
GIGI

Halaman
1/4

Ditetapkan oleh
DIREKTUR RSUD BANGIL
KABUPATEN PASURUAN

Dr. AGUNG BASUKI, M Kes


Pembina Tk I
NIP. 19600504 198902 1 002
Pengertian

Immediate Denture atau Gigi tiruan Immediate (GI) adalah perawatan


gigi tiruan yang dilakukan dalam waktu singkat, pada penderita yang
akan dilakukan pencabutan gigi, beberapa gigi atau seluruh gigi anterior

Tujuan

Untuk memperbaiki estetik penderita yang tidak mengalami masa


ompong

Kebijakan

Kasus yang membutuhkan GI :


Karies gigi yang parah disertai perubahan warna
Kelainan dalam posisi dan susunan gigi (berdesakan, tonggos, rotasi,
gigitan terbalik)
Adanya multi diastema
Gigi yang mengalami kelainan periodontal lanjut atau mengalami
trauma gigi dan tidak mungkin dipertahankan lagi
Adnya gigi tanggal

Prosedur

Dilakukan pencetakan sebelum pencabutan


Pembuatan gigi tiruan dengan melakukan pemotongan gigi pada

model kerja
Setelah dilakukan pencabutan, gigi tiruan langsung dipasang dan
dilakukan relining
Keuntungan :
Penderita tak mengalami masa ompong, ekspresi wajah dapat
dipertahankan
Gangguan mental dan psikologik tak terjadi
GI berfungsi sebagai pembalut luka cabut, mencegah kontaminasi
dari luat terhadap luka cabut, dapat menghambat terjadinya
perdarahan
Luka cabut dapat sembuh lebih cepat dan rasa sakit selama proses
penyembuhan luka akan sangat berkurang
Adaptasi penderita terhadap gigi tiruan mudah dicapai
Kondisi estetik gigi yang menunjang estetik wajah akan
menyenangkan penderita

STANDAR PROSEDUR OPERASIONAL


PERAWATAN PROSTODONSIA DENGAN
IMMEDIATE DENTURE
No Dokumen

No Revisi

0
Tgl Terbit

PROSEDUR TETAP
GIGI

Halaman
2/4

Ditetapkan oleh
DIREKTUR RSUD BANGIL
KABUPATEN PASURUAN

Dr. AGUNG BASUKI, M Kes


Pembina Tk I
NIP. 19600504 198902 1 002
Prosedur

Kerugian :
Biaya perawatan lebih mahal
Kunjungan perawatan ke dokter gigi pasca insersi relatif lebih
banyak
Pasca insersi memerlukan perawatan Relining yang berulang

Unit Terkait

Bagian Periodonsi Instalasi Gigi dan Mulut


Bagian Laboratorium Tehnik Gigi dan Instalasi Gigi dan Mulut

Unit Terkait

Bagian Periodonsi dan Pedodonsi Instalasi Gigi dan Mulut


SMF Radiologi
SMF Laboratorium
Bagian Hematologi (SMF Penyakit Dalam dan SMF Anak)
Bagian Anastesi
Bagian OK

10

STANDAR PROSEDUR OPERASIONAL


PERAWATAN ORTHODENTI DENGAN
PIRANTI CEKAT
No Dokumen

No Revisi

0
Tgl Terbit

PROSEDUR TETAP
GIGI

Halaman
1/5

Ditetapkan oleh
DIREKTUR RSUD BANGIL
KABUPATEN PASURUAN

Dr. AGUNG BASUKI, M Kes


Pembina Tk I
NIP. 19600504 198902 1 002
Pengertian

Perawatan orthodonti adalah perawatan untuk memperbaiki maloklusi


gigi dan rahang dengan penyebab dental maupun skeletal yang bertujuan
menghasilkan estetik, fungsi pengunyahan dan bicara yang lebih baik.
Piranti orthodonti cekat adalah semua jenis piranti cekat yang dipasang di
gigi penderita, yang terdiri dari : cincin, breket, busur kawat dan alat-alat
lainnya

Tujuan

Untuk mempermudah dan menyeragamkan


orthodonti dengan piranti cekat

Kebijakan

prosedur

perawatan

Cetak gigi, separasi gigi dan pengikatan busur kawat pada breket
dapat dilakukan oleh dokter gigi spesialis orthodenti (drg. Sp. Ort.),
dokter gigi atau perawat yang telah terlatih
Pemasangan cincin dan breket dipasang oleh drg. Sp. Ort
Penggantian kawat dilakukan oleh drg. Sp. Ort
Perawat gigi terlatih yang dimaksud adalah perawat gigi yang telah
dilatih dan diberi wewenang oleh dokter gigi spesialis orthodenti

Prosedur

1. Dilakukan anamnesa
2. Dilakukan pencetakan gigi pada penderita
3. Penderita dikirim ke SMF Radiologi untuk diambil foto sefalometrik
dan panoramik
4. Jika diperlukan pencabutan dikirim ke bagian pencabutan,
jika diperlukan penumpatan dikirim ke bagian tumpatan / IKGA,
jika diperlukan pembersihan karang gigi / oral hygiene dikirim ke
bagian periodonsi
5. Dilakukan separasi untuk persiapan pemasangan cincin dan separator
dibiarkan selama kurang lebih 3 hari
6. Dilakukan pengambilan separator dan pemasangan cincin
7. Pada kunjungan berikutnya dilakukan pemasangan breket dan busur
kawat
8. Kontrol untuk piranti cekat biasanya dilakukan sebulan sekali

prosedur

9. Pada waktu kontrol rutin dilakukan pengaktifan sesuai keperluan


10. Setelah perawatan dengan piranti cekat selesai yang biasanya
membutuhkan waktu kurang lebih 2 tahun, maka piranti cekat dilepas
dan gigi dicetak
11. Pada kunjungan berikutnya dipasang plat retensi yang umumnya
dipasang minimum selama 1 tahun

Unit Terkait

SMF Radiologi
Bagian Bedah Mulut
Bagian Periodonsi
Bagian Konservasi Gigi
11

Bagian Laboratorium Tehnik Gigi


Bagian IKGA

PERAWATAN ORTHODENTI DENGAN


PIRANTI LEPAS

No Dokumen

No Revisi

0
Tgl Terbit

PROSEDUR TETAP
GIGI

Halaman
1/6

Ditetapkan oleh
DIREKTUR RSUD BANGIL
KABUPATEN PASURUAN

Dr. AGUNG BASUKI, M Kes


Pembina Tk I
NIP. 19600504 198902 1 002
Pengertian

Perawatan orthodenti adalah perawatan untuk memperbaiki maloklusi


gigi dan rahang dengan penyebab dental maupun skeletal yang bertujuan
menghasilkan estetik, fungsi pengunyahan dan bicara yang lebih baik.
Pitanti orthodenti lepas adalah semua jenis plat orthodenti yang dapat
dipasang dan dilepas sendiri oleh penderita, dan tidak termasuk piranti
myofungsional, terbuat dari akrilik dan kawat, kadang-kadang ditambah
alat lain misalnya screw ekspansi.

Tujuan

Untuk mempermudah dan menyeragamkan


orthodonti dengan piranti lepas

Kebijakan

Prosedur

prosedur

perawatan

Cetak gigi dilakukan oleh dokter gigi spesialis orthodenti (drg. Sp.
Ort.), dokter gigi, atau perawat yang telah terlatih
Pemasangan piranti lepas dilakukan oleh drg. Sp. Ort
Perawat gigi terlatih yang dimaksud adalah perawat gigi yang telah
dilatih dan diberi wewenang oleh dokter gigi spesialis orthodenti

1. Dilakukan anamnesa
2. Dilakukan pencetakan gigi pada penderita
3. Penderita dikirim ke SMF Radiologi untuk diambil foto sefalometrik
dan panoramik
4. Jika diperlukan pencabutan dikirim ke bagian pencabutan,
12

5.
6.
7.
8.

jika diperlukan penumpatan dikirim ke bagian tumpatan / IKGA,


jika diperlukan pembersihan karang gigi / oral hygiene dikirim ke
bagian periodonsi
Digambarkan desain alat pada cetakan gigi dan dikirim ke bagian
laboratorium tehnik gigi untuk dibuatkan alatnya
Setelah alat selesai dilakukan pemasangan piranti lepas
Kontrol piranti lepas sebulan sekali
Setelah perawatan dengan piranti lepas yang aktif selesai dipasang
plat retensi yang umumnya dipakai selama 1 tahun

STANDAR PROSEDUR OPERASIONAL


PERAWATAN ORTHODENTI DENGAN
PIRANTI LEPAS
No Dokumen

No Revisi

0
Tgl Terbit

PROSEDUR TETAP
GIGI

Halaman
2/6

Ditetapkan oleh
DIREKTUR RSUD BANGIL
KABUPATEN PASURUAN

Dr. AGUNG BASUKI, M Kes


Pembina Tk I
NIP. 19600504 198902 1 002
Unit Terkait

SMF Radiologi
Bagian Bedah Mulut
Bagian Periodonsi
Bagian Konservasi Gigi
Bagian Laboratorium Tehnik Gigi
Bagian IKGA

13

PERAWATAN KONSERVASI GIGI

No Dokumen

No Revisi

0
Tgl Terbit

STANDAR
PROSEDUR TETAP
GIGI

Halaman
1/7

Ditetapkan oleh
DIREKTUR RSUD BANGIL
KABUPATEN PASURUAN

Dr. AGUNG BASUKI, M Kes


Pembina Tk I
NIP. 19600504 198902 1 002
Pengertian

Perawatan konservasi gigi adalah suatu tindakan pencegahan maupun


perawatan penyakit gigi yang timbul pada bagian email, dentin, dan
pulpa serta pengembalian fungsi dan aesthetis gigi.

Tujuan

Mempertahankan gigi dengan cara-cara tertentu supaya dapat bertahan


lama, dan dapat mengembalikan fungsi dan aesthetis gigi tersebut.

Kebijakan

Prosedur

Menentukan penyakit gigi yang timbul pada bagian email, dentin,


dan pulpa dilakukan oleh dokter gigi.
Perawatan dan pengembalian fungsi dan aesthetis gigi dilakukan oleh
dokter gigi dibantu oleh perawat gigi terlatih.
Perawatan yang dilakukan adalah perawatan :
1. Hyperaemi Pulpa
2. Pulpitis
3. Gangraen Pulpa

1. Perawatan Hyperaemi Pulpa


Diagnosa dan indikasi
Pembersihan cavitas dari jaringan yang terkena caries
Sterilisasi cavitas
Applikasi cement phosphat
Tumpatan permanen
Untuk penderita sensitif dentin, cavitas ditutup sementara dengan
obat sedatif selama 1 minggu. Setelah 1 minggu tidak ada keluhan
penderita, tumpatan sementara dibongkar, kemudian diganti
tumpatan permanen.
2. Perawatan Pulpitis
Terdiri dari beberapa cara :
2.1 Mumifikasi
Visit I :
- Diagnosa dan indikasi
- Ro foto bila perlu

14

PERAWATAN KONSERVASI GIGI

No Dokumen
Prosedur

No Revisi

0
Ro foto bila perlu
Pembersihan sisa cavitas dari sisa makanan dan jaringan
caries
Cavitas dikeringkan, applikasi arsen, tutup tumpatan
sementara
Pasien diberi obat analgetica untuk menahan rasa sakit

Visit II : (setelah 3 6 hari)


- Tumpatan sementara dibongkar, arsen dibuang, test
vitalitasnya
- Setelah pulpa mati dalam keadaan aseptic dilakukan open
boor pada kamar pulpa
- Jaringan pulpa pada kamar pulpa dibuang
- Applikasi obat desinfectans
- Tutup tumpatan sementara

Visit III : (setelah 1 minggu)


- Tumpatan sementara dibongkar, obat
dibuang
- Applikasi obat mumifikasi
- Applikasi cement phosphat di atasnya
- Tutup tumpatan sementara

Visit IV : (setelah 1 minggu)


- Kontrol, bila tidak ada gejala apa-apa tumpatan
dibongkar
- Tumpatan permanen

2.2 Mortal Pulpectomy


Visit I :
- Diagnosa dan indikasi
- Ro foto
- Bersihkan jaringa caries
- Applikasi arsen, tutup cavitas
sementara
- Pasien diberi obat analgetica
Prosedur

Halaman
2/7

desinfectans

dengan

tumpatan

Visit II : (setelah 3 6 hari)


- Tumpatan sementara dibuang, arsen dikeluarkan
- Test vitalitas pulpa, setelah pulpa mati cavitas disterilkan
dengan alkohol
- Open boor sampai ketemu orifice saluran akar gigi
- Jaringan pulpa diambil sampai pada bagian apex dengan
jarum extirpatie
- Pengukuran panjang saluran akar gigi dengan Ro foto
- Pelebaran saluran akar dengan reamer
- Irrigasi dengan NaOCl
- Saluran akar gigi dikeringkan dengan paper point
- Paper point diberi obat desinfectans dimasukkan saluran
akar gigi
- Ditutup cotton pellet steril dan tumpatan sementara

Visit III : (setelah 4 6 hari)


- Tumpatan sementara dibongkar, paper point dikeluarkan
- Bila tidak ada gejala apa-apa, saluran akar diisi dengan
bahan pengisi saluran akar
15

Visit IV : (setelah 6 hari)


- Kontrol, bila tidak ada keluhan atau gejala apa-apa, lantas
diberi tumpatan permanen

2.3 Vital Pulpectomy


Visit I :
- Diagnosa dan indikasi
- Buat Ro foto
- Anasthesi lokal pada gigi yang akan dirawat
- Cavitas disterilkan dengan alkohol
- Open boor sampai ketemu orifice saluran akar gigi
- Jaringan pulpa diambil sampai bagian apex akar dengan
jarum extirpatie
- Pengukuran panjang saluran akar denga Ro foto
Prosedur

Pelebaran saluran akar dengan reamer


Irrigasi dengan NaOCl
Dikeringkan dengan paper point
Paper point diberi obat desinfectans dimasukkan saluran
akar, di atasnya ditutup cotton pellet steril dan tumpatan
sementara

Selanjutnya :
- Untuk Visit II sama dengan Visit III pada perawatan
Mortal Pulpectomy
- Untuk Visit III sama dengan Visit IV pada perawatan
Mortal Pulpectomy
Untuk perawatan Vital Pulpectomy dengan One Visit,
prosedurnya :
- Diagnosa dan indikasi
- Ro foto
- Anasthesi lokal pada gigi yang akan dirawat
- Cavitas disterilkan dengan alkohol
- Open boor sampai ketemu orifice saluran akar gigi
- Extirpatie jaringan pulpa sampai bagian apex
- Pengukuran panjang saluran akar denga Ro foto
- Pelebaran saluran akar dengan reamer
- Irrigasi dengan NaOCl
- Pengeringan saluran akar dengan paper point
- Pengisisan saluran akar gigi dengan bahan pengisi
saluran akar
- Applikasi cement phosphat
- Tumpatan permanen

PERAWATAN KONSERVASI GIGI

No Dokumen
Prosedur

No Revisi

0
3. Perawatan Gangren Pulpa yaitu :
Pulpectomy (Root Canan Treatment)
Visit I :
- Diagnosa dan indikasi
- Ro foto
- Pemberian jaringan caries

Halaman
5/7

16

Visit II : (setelah 3 hari)


- Saluran akar dibersihkan dari sisa-sisa makanan dan
jaringan pulpa yang busuk dikeluarkan dengan jarum
extirpatie
- Pelebaran saluran akar dengan reamer
- Irrigasi dengan NaOCl
- Pengeringan saluran akar dengan paper point yang diberi
obat desinfectans
- Di atasnya diberi cotton pellet dengan tumpatan
sementara

Visit III : (setelah 4 - 6 hari)


- Tumpatan sementara dibongkar, paper point dilekuarkan
- Irrigasi dengan NaOCl
- Saluran akar dikeringkan dengan paper point
- Dimasuki paper point yang diberi desinfectans
- Di atasnya diberi cotton pellet dan tumpatan sementara
Selanjutnya Visit III diulang kira-kira 2 3 kali visit lagi
(Visit IV, V, VI) sampai saluran akar steril

Visit VII : (setelah 4 - 6 hari)


- Tumpatan sementara dibongkar, paper point dilekuarkan
dengan pinset steril untuk dilakukan bacteri test
Caranya : paper point dimasukkan ke dalam H2O2. Bila :
H2O2 berbuih berarti saluran akar belum steril
H2O2 tidak berbuih berarti saluran akar sudah
steril

Prosedur

Unit Terkait

Trepanasi, saluran akar dibiarkan terbuka agar gas


gangren bisa keluar

Bila pada visit ini saluran akar sudah steril kemudian diisi
dengan bahan pengisi saluran akar
Applikasi cement phosphat
Tumpatan sementara

Visit VIII : (setelah 4 - 6 hari)


- Bila tidak ada keluhan dan gejala apa-apa dari penderita,
tumpatan sementara dibongkar
- Tumpatan permanen

SMF Radiologi
Bagian Bedah Mulut Instalasi Gigi dan Mulut
Bagian Periodonsi Instalasi Gigi dan Mulut
Bagian Laboratorium Tehnik Gigi Instalasi Gigi dan Mulut

17

Anda mungkin juga menyukai