Anda di halaman 1dari 12

I.

PENDAHULUAN
A. Kompentensi yang diharapkan

Setelah mengikuti pelatihan ini peserta diharapkan menguasai materi


pembelajaran kombinatorik, peluang dan statistika, mampu menyelesaikan masalah
yang berhubungan dengan kombinatorik seperti faktorial, permutasi dan kombinasi,
mampu menentukan ruang sampel dan kejadian serta mampu menghitung peluang
suatu kejadian, mampu menyelesaikan hal-hal yang berkaitan dengan statistika.
Peserta juga diharapkan dapat mengiplementasikan pembelajaran materi ini di
kelas.

B. Pentingnya mempelajari Bahan Pelatihan

Bahan pelatihan ini mencakup materi yang dapat diberikan pada siswa SMA,
namun ada beberapa bagian yang merupakan bahan pengayaan bagi guru atau
peserta pelatihan, yaitu pada topik binomium Newton, kejadian bersyarat dan angka
baku.

C. Tujuan Mempelajari Bahan Pelatihan

Tujuan yang diharapkan dalam mempelajari bahan pelatihan ini adalah peserta
pelatihan dapat:
a. menjelaskan pengertian faktorial, permutasi dan kombinasi
b. menjelaskan pengertian dan menentukan ruang sampel dan kejadian
c. menjelaskan dan menggunakan prinsip penjumlahan dan perkalian
d. menjelaskan dan menentukan peluang suatu kejadian
e. memecahkan masalah yang terkait dengan peluang
f. menjelaskan pengertian statistika dan statistik
g. menjelaskan cara-cara penyajian data, baik melalui gambar/ diagram
maupun tabel
h. menjelaskan pengertian ukuran tendensi sentral dan ukuran pemusatan
i. memecahkan masalah yang terkait dengan statistika

D. Prasyarat mempelajari Bahan Pelatihan

Prasyarat untuk mempelajari bahan pelatihan ini adalah himpunan, tetapi akan
lebih baik para peserta pelatihan sudah mengusai kaidah pencacahan

E. Strategi Pelatihan

Strategi pelatihan untuk bahan pelatihan adalah sebagai berikut:


1. Peserta mengerjakan Pretes, kemudian mendiskusikannya
2. Peserta dibagi menjadi 6 kelompok
3. Kelompok I menyajikan “ Masalah yang berkaitan dengan kombinatorik ”,
kemudian diskusi materi terkait dan soal-soal latihan
4. Kelompok II menyajikan “ Kejadian dan peluang dengan menggunakan
definisi peluang secara klasik maupun secara aksioma peluang “ kemudian
diskusi materi terkait dan soal-soal latihan
5. Kelompok III menyajikan “ Peluang kejadian bersyarat dan peluang kejadian
saling bebas “ kemudian diskusi materi terkait dan soal-soal latihan
6. Kelompok IV menyajikan “ Penyajian data dengan histogram dan poligon
frekuensi “ kemudian diskusi materi terkait dan soal-soal latihan
7. Kelompok V menyajikan “ Statistika lima serangkai dari sekumpulan data “
kemudian diskusi materi terkait dan soal-soal latihan
8. Kelompok VI menyajikan “ Ukuran penyebaran dari sekumpulan data “
9. Kemudian diskusi materi terkait dan soal-soal latihan

II. KOMBINATORIK, PELUANG DAN STATISTIKA


1. KOMBINATORIK
Dalam kehidupan sehari-hari sering dijumpai persoalan-persoalan sebagai
berikut:
1. Dengan berapa cara dapat disusun n obyek menurut aturan tertentu?
2. Dengan berapa cara pengambilan sejumlah r obyek dari n obyek yang ada, bila
r < n?
3. Dengan berapa cara sesuatu kejadian kejadian dapat terjadi?
Persoalan-persoalan di atas dapat diselesaikan dengan menggunakan kombinatorik
Ada 2 (dua) prinsip pokok yang dipakai untuk menyelesaikan persoalan
kombinatorik, yaitu prinsip penjumlahan dan prinsip perkalian.

Contoh:
Untuk Prinsip Penjumlahan
• Suatu klub sepak bola mempunyai 40 anggota sedangkan klub bulutangkis
mempunyai 20 anggota.
a. Jika tidak ada anggota sepak bola yang merangkap menjadi anggota
bulutangkis, maka jumlah anggota kedau klub adalah 40 + 20 = 60 anggota
Jika kedua himpunan tidak beririsan, maka jumlah anggota kedua klub
ditambahkan.
b. Jika ada 7 anggota yang merangkap menjadi anggota kedua klub, maka
dibentuk 3 himpunan yang saling lepas atau tidak beririsan, yaitu:
(i) Himpunan I terdiri dari pemain sepak bola saja
(ii) Himpunan II terdiri dari pemain bulutangkis saja
(iii) Himpunan III terdiri dari pemain sepak bola dan bulutangkis
Ketiga himpunan ini saling lepas dengan masing-masing anggota 40-7, 20-7
dan 7, dengan demikian jumlah anggota dari kedua klub adalah 33+13+7= 53
Cara lain untuk memperoleh hasil di atas adalah dengan rumus

n(A∪B)=n(A)+n(B)-n(A∩B)

• Untuk Prinsip Perkalian


Ahmad pergi dari kota A ke kota C dan harus melalui kota B. Dari kota A ke kota
B ada 3 jalan alternatif dan dari kota B ke kota C ada 2 jalan alternatif. Dengan
berapa banyak cara Ahmad bepergian dari kota A ke kota C?

A B C
Dengan demikian, menurut prinsip perkalian banyaknya cara bepergian dari kota
A ke kota C adalah 3 . 2 = 6 cara

Soal:
Diketahui empat angka 1, 2, 5, 8
a. Tentukan banyaknya bilangan yang terdiri dari dua angka diketahui.
b. Tuliskan semua bilangan tersebut
c. Berapa banyak bilangan yang bernilai ganjil

1.1. Permutasi
Definisi:
Susunan n unsur berbeda dengan memperhatikan urutannya disebut
permutasi dari n unsur tersebut.

Pn = n!
n

Definisi:
Misalkan n bilangan asli. n faktorial atau n! adalah 1.2.3. . . . . . n
dan 0! = 1
Sifat 1:
Banyaknya permutasi dari r unsur ( r ≤ n ) yang diambil dari n unsur
berbeda
n!
adalah : P =
n r (n − r )!

Sifat 2:
Banyaknya permutasi dari n unsur dimana terdapat k unsur yang masing-
n!
masing muncul q1 , q 2 ,.........., q k kali adalah: P = q ! q !........ q !
1 2 k
Sifat 3:
Banyaknya permutasi siklis dari n unsur adalah: ( n - 1 )!

1.2. Kombinasi
Kombinasi adalah permutasi yang tidak memperhatikan urutan obyek.
Sifat :
n!
Kombinasi r unsur ( r ≤ n ) dari n unsur adalah: n Cr =
r !(n − r )!
1.3. Binomium Newton
n

( a + b) = ∑ C a
n n n −r r
b
r
r =0
Soal:
1. Diketahui enam angka yaitu: 0, 1, 2, 3, 4 dan 5
a. Berapa banyak bilangan yang dapat dibentuk dari enam angka yang diketahui
terdiri dari tiga angka (digit), bila tiap angka hanya dapat digunakan sekali
b. Berapa banyak daripadanya yang merupakan bilangan genap
c. Berapa banyak yang lebih besar dari 330
2. Dengan berapa carakah enam pohon dapat ditanam membentuk lingkaran?
3. Dari kelompok yang yang terdiri atas lima pria dan tiga wanita, berapa banyak
panitia yang beranggotakan tiga orang dapat dibentuk:
a. tanpa pembatasan?
b. dengan dua pria dan seorang wanita?
c. dengan seorang wanita dan dua orang wanita bila seorang wanita tertentu
harus ikut dalam panitia?
4. Tentukan koefisien x 7 dari (2x - 3) 10

2. PELUANG

2.1. Pendahuluan
Teori Peluang dikembangkan pada abad ke XVII oleh ahli matematika dari
Perancis yang bernama Pierre de Fermat dan Blaise Pascal. Awalnya teori peluang
dimulai dari permainan judi atau permainan yang bersifat untung-untungan. Dalam
teori peluang banyak dijumpai soal-soal yang berkaitan dengan uang logam, dadu,
kartu bridge dan lain-lain.
Adapun tujuan mempelajari teori peluang agar siswa dapat menjelaskan konsep-
konsep dasar teori peluang supaya lebih mudah dipahami dan melatih kemampuan
siswa dalam hal berolah pikir.

2.2. Pengertian Ruang Sampel dan Kejadian


Ruang Sampel adalah seluruh kemungkinan yang terjadi dalam suatu percobaan
Ruang Sampel biasanya dilambangkan dengan huruf besar “ S “
Contoh:
1. Pada percobaan melempar sebuah dadu, maka ruang sampelnya ditulis:
S = { 1, 2, 3, 4, 5, 6 }
2. Pada percobaan melempar sebuah mata uang logam
S = { Angka, Gambar } atau S = { A, G }
S = { Muka , Belakang } atau S = { M, B }

Kejadian adalah bagian dari ruang sampel, biasanya untuk melambangkan suatu
kejadian digunakan huruf besar.
Contoh:
1. Pada percobaan melempar sebuah dadu.
a. Jika A adalah kejadian muncul mata dadu bilangan genap, maka:
A = { 2, 4, 6 }
b. Jika B adalah kejadian muncul mata dadu bilangan prima, maka:
B = { 2, 3, 5 }
c. Jika C adalah kejadian muncul mata dadu yang merupakan faktor dari 12,
maka:
C = { 1, 2, 3, 4, 6 }
2. Pada percobaan melempar dua mata uang logam.
a. Jika P adalah kejadian kedua mata uang muncul Angka, maka:
P = { AA }
b. Jika Q adalah kejadian muncul 1 Angka dan 1 Gambar, maka:
Q = { AG, GA }

Latihan 1:
1. Jika 3 buah uang logam dilempar, tentukan:
a. Ruang Sampel S
b. Kejadian R yaitu kejadian muncul semuanya gambar
c. Kejadian S yaitu kejadian muncul satu angka dan dua gambar
2. Jika 2 buah dadu dilempar, yaitu dadu I dan dadu II, tentukan:
a. Ruang Sampel S
b. Kejadian A yaitu kejadian muncul jumlah kedua mata dadu sama dengan 7
c. Kejadian B yaitu kejadian muncul mata dadu I angka 2

2.3. Peluang Suatu Kejadian


Menghitung Peluang dengan menggunakan Pendekatan Frekuensi Nisbi atau
Frekuensi Relatif
Contoh:
1. Jika sebuah uang logam dilempar sebanyak 15 kali, kemudian pada setiap
lemparan hasilnya dicatat dan diperoleh frekuensi muncul angka sebanyak 7 kali,
7
maka frekuensi relatif muncul angka =
15
2. Jika sebuah uang logam dilempar sebanyak 50 kali, kemudian pada setiap
lemparan hasilnya dicatat dan diperoleh frekuensi muncul gambar sebanyak 28
28
kali, maka frekuensi relatif muncul gambar =
50

Jadi, peluang suatu kejadian secara frekuensi relatif adalah perbandingan


banyaknya kejadian yang muncul dengan banyaknya percobaan yang dilakukan
dalam waktu tertentu.

banyaknya. kejadian. yang. muncul


Peluang. kejadian.sec ara. frekuensi. relatif =
banyaknya. percobaan. yang. dilakukan

Latihan 2:
Lakukan percobaan di bawah ini dengan kelompokmu !
1. Melempar sebuah uang logam sebanyak: 25 kali, 30 kali, 50 kali, dan 100 kali
Kemudian hitung peluang secara frekuensi relatif munculnya gambar!
2. Melempar sebuah dadu sebanyak 10 kali, kemudian hitung peluang secara
frekuensi relatif
a. munculnya mata dadu bilangan prima
b. munculnya mata dadu 5
c. munculnya mata dadu 2

Menghitung Peluang Secara Klasik


Pada percobaan melempar sebuah mata uang logam, maka peluang muncul
1
gambar =
2
Hal ini dapat dijelaskan sebagai berikut:
Ruang Sampel pada percobaan melempar sebuah uang logam adalah S = { A, G }
banyaknya anggota S atau n (S) = 2, sedangkan kejadian muncul gambar sebanyak
1 atau n (G) = 1, sehingga peluang kejadian muncul gambar pada percobaan
n( G )
melempar sebuah mata uang logam: p =
n( S )
1
Jadi, p =
2

Menghitung Peluang dengan Definisi Aksioma Peluang


Setiap kejadian di ruang sampel dikaitkan dengan bilangan antara 0 dan 1, bilangan
ini disebut peluang.
a. Kejadian yang tak mungkin terjadi mempunyai peluang nol
b. Kejadian yang pasti terjadi mempunyai peluang satu
c. Peluang dari kejadian A bernilai antara 0 dan 1
d. Jika A dan B dua kejadian sehingga A ∩ B = ∅, maka
P(A∪B)=P(A)+P(B)
e. Jika A dan B dua kejadian sehingga A ∩ B ≠ ∅, maka
P(A∪B)=P(A)+P(B)-P(A∩B)

Soal:
1. Sebuah dadu dilempar 100 kali. Hasil lemparan dicatat dalam bentuk tabel sbb:

Muncul 1 2 3 4 5 6
mata
dadu
Frekuensi 14 17 20 18 15 16

Tentukan frekuensi relatif muncul mata dadu 3


a. Tentukan frekuensi relatif muncul mata dadu 1
b. Tentukan frekuensi relatif muncul mata dadu bilangan genap
c. Tentukan frekuensi relatif muncul mata dadu bilangan prima
2. Seorang dokter menggunakan obat Y untuk penyakit Z dengan peluang 0,8.
Tentukan jumlah orang yang diharapkan sembuh jika ia menggunakan obat Y
untuk penyakit Z pada 300 orang
3. Dua buah dadu dilantunkan secara bersama-sama. Tentukan peluang:
a. Jumlah mata dadu yang muncul 7
b. Dadu I muncul mata dadu 2 dan dadu II muncul mata dadu 3
c. Dadu I muncul mata dadu 2 atau dadu II muncul mata dadu 5

2.4. Kejadian Majemuk


Sifat 1 : Misalkan A dan B dua kejadian pada ruang sampel dengan A ∩ B = ∅,
maka : P ( A ∪ B ) = P ( A ) + P ( B )
Sifat 2 : Misalkan A dan B dua kejadian pada ruang sampel dengan A ∩ B ≠ ∅,
maka : P ( A ∪ B ) = P ( A ) + P ( B ) - P ( A ∩ B )

2.5. Peluang Komplemen suatu Kejadian


Sifat : Misalkan A kejadian pada ruang sampel, maka P ( A’ ) = 1 - P ( A )

2.6. Kejadian Bersyarat


Definisi: Dua kejadian A dan B pada ruang sampel dikatakan kejadian bersyarat
yaitu Kejadian B terjadi dengan syarat kejadian A terjadi lebih dahulu
P( A ∩ B )
atau B/A, maka peluangnya adalah: P(B/A) = atau
P( A)
P(A ∩ B) = P(A). P(B/A)

2.7. Kejadian Saling Bebas


Definisi: Dua kejadian A dan B pada ruang sampel dikatakan saling bebas jika
P(A ∩ B) = P(A) . P(B)

Soal:
1. Suatu pengiriman 10 pesawat TV 3 diantaranya dinyatakan cacat. Berapakah
peluang sebuah hotel membeli 4 pesawat TV tersebut dan 2 TV ternyata cacat?
2. Tiga buah buku diambil secara acak dari suatu rak yang berisi empat novel, tiga
buku syair dan sebuah kamus. Berapakah peluang
a. kamus terpilih?
b. dua novel dan sebuah buku syair yang terpilih?
3. Dua kartu diambil secara berturutan tanpa dikembalikan dari suatu kotak kartu
bridge. Berapakah peluang kartu yang terpilih lebih besar dari 2 tetapi lebih kecil
dari 9?
4. Bila A dan B dua kejadian yang saling asing dengan P(A) = 0,4 dan P(B) = 0,5,
hitunglah:
a. P(A ∪ B)
b. P(A’)
c. P(A’ ∩ B)
5. Dalam sebuah kotak berisi 15 telur 5 telur diantaranya rusak. Untuk memisahkan
telur baik dan telur yang rusak dilakukan pengetesan satu persatu. Berapakah
peluang diperoleh telur rusak ke 3 pada pengetesan ke 5?

3. STATISTIKA
Pengertian Statistika dan Statistik
Statistika adalah ilmu yang merupakan cabang dari matematika. Dalam statistika
terdiri dari dua kegiatan:
a. Mengumpulkan data, menyajikan data dalam bentuk diagram dan menghitung
nilai-nilai ukuran data sehingga menjadi satu nilai yang mudah dimengerti
makna dari data tersebut.
b. Menggunakan pengolahan data pada (a) untuk membuat kesimpulan atau
meramalkan hasil yang akan datang.
Kegiatan (a) disebut Statistika Deskriptif dan kegiatan (b) disebut Statistika
Inferensial.
Nilai-nilai ukuran data sehingga mudah dimengerti maknanya disebut statistik.
Statistik memberikan karakteristik-karakteristik tertentu dari data. Nilai ukuran
terkecil, nilai ukuran terbesar, nilai rataan, median, modus, jangkauan data, kuartil,
desil dan persentil disebut statistik.
3.1. Pengertian Populasi, Sampel dan Data
Definisi:
Populasi adalah kumpulan dari semua obyek atau benda yang akan diteliti.
Sampel adalah sub kumpulan obyek atau benda yang merupakan bagian dari
populasi. Data adalah bentuk jamak dari datum. Datum adalah suatu informasi
yang diperoleh dari suatu pengamatan. Dengan demikian data adalah
kumpulan dari datum-datum.

3.2. Statistik Lima Serangkai (Ukuran terkecil, Ukuran Terbesar, Kuartil Bawah,
Median dan Kuartil Atas)
Median adalah data tengah dari suatu kumpulan data yang telah diurutkan.
n +1
Jika n ganjil, maka merupakan bilangan bulat, sehingga median adalah
2
n +1
datum yang ke , sedangkan jika n ganjil, maka median adalah
2
1 1
xn + (xn − xn ) = (xn + xn )
2 +1 2 +1
2 2 2 2 2

Contoh:
Tentukan statistik lima serangkai dari data:
79, 63, 94, 100, 83, 92, 78, 62, 53, 84, 76
Jawab:
Data diurutkan terlebih dahulu: 53, 62, 63, 76, 78, 79, 83, 84, 92, 94, 100
Ukuran terkecil : 53
Ukuran terbesar : 100
63 + 76
Kuartil 1 (Q1) : = 69,5
2

Median : 79
84 + 92
Kuartil 3 (Q3) : = 88
2

3.3. Rataan Kuartil dan Rataan Tiga


1
Rataan Kuartil = (Q + Q )
2 1 2

1
Rataan Tiga = (Q + 2Q + Q )
4 1 2 3

3.4. Jangkauan Data, Jangkauan Antar Kuartil, Langkah, Pagar Dalam dan
Pagar Luar.
Definisi:
• Jangkauan data atau Rentangan data adalah selisih antara nilai
maksimum dan nilai minimum dari data.
J = x max − x min
• Jangkauan antar kuartil adalah selisih antara kuartil atas dan kuartil bawah.
H = Q3 − Q1 , Jangkauan antar kuartil disebut juga hamparan
• Satu langkah didefinisikan sebagai satu setengah panjang hamparan. Jika H
menyatakan hamparan dan L menyatakan satu langkah maka:
L = 1,5 x H
• Pagar Dalam dan Pagar Luar
Pagar dalam (PD) adalah suatu nilai yang letaknya satu langkah di bawah
nilai kuartil bawah Q1 dan Pagar Luar (PL) adalah suatu nilai yang
letaknya satu langkah di atas kuartil atas Q3
PD = Q1 - L dan PL = Q3 + L

3.5. Penyajian Data dalam bentuk Diagram


Penyajian data dalam bentuk diagram, misalnya:
a. Diagram Kotak Garis
b. Diagram Batang Daun
c. Diagram Batang
d. Diagram Garis
e. Diagram Lingkaran

3.6. Daftar Distribusi Frekuensi, Frekuensi Relatif, Frekuensi Kumulatif,


Histogram
Frekuensi, Poligon Frekuensi dan Ogive
• Daftar Distribusi Frekuensi adalah suatu cara mengorganisasikan data
dengan membagi data menjadi beberapa kelompok atau kelas, kemudian
setiap kelompok atau kelas dari data dicatat mengenai banyaknya data atau
frekuensi yang masuk dalam kelompok tersebut.
• Frekuensi Relatif adalah frekuensi tiap kelas dibagi frekuensi total
dikalikan 100%
• Frekuensi Kumulatif adalah menjumlahkan setiap frekuensi dengan
frekuensi kelas sebelumnya.
• Histogram adalah salah satu cara menyatakan daftar distribusi
frekuensi atau distribusi frekuensi relatif.
• Poligon Frekuensi adalah garis yang menghubungkan titik tengah titik
tengah pada histogram
• Ogive adalah kurva distribusi frekuensi kumulatif

3.7. Data Statistika Deskriptif


Ukuran-ukuran Tendensi Sentral
• Rataan Hitung, Rataan Geometris, Rataan Harmonis dan Rataan
Kuadratis
Rataan Hitung
Misalkan suatu data disajikan dalam bentuk data tunggal yaitu:
x1 , x 2 ,.............., x n , rataan hitung adalah
x1 + x 2 +............+ x n 1
n

x= atau x = ∑x
n n i =1 i

Rataan untuk data dalam daftar distribusi frekuensi


k

∑f
i =1
i
. xi f 1 . x1 + f 2 . x 2 +.............+ f k . x k
x= =
k
f 1 + f 2 +...........+ f k
∑f i =1
i
Rataan Geometris
Misalkan data bernilai positif terdiri atas x1 , x 2 ,.............., x n . Rataan geometris
dinyatakan oleh g adalah akar ke n dari perkalian nilai-nilai data:
g = n x . x ........... x
1 2 n

Rataan Harmonis
Misalkan data bernilai positif terdiri atas x1 , x 2 ,.............., x n . Rataan harmonis
dinyatakan oleh h adalah nilai yang memenuhi
1 1 1 1 1
= ( + +.............+ )
h n x1 x 2 xn
Hubungan antara rataan hitung, rataan geometris dan rataan harmonis
Misalkan diketahui data x1 , x 2 ,.............., x n bilangan-bilangan positif. Rataan
geometris lebih kecil atau sama dengan rataan hitung tetapi lebih besar atau
sama dengan rataan harmonis
Jadi: h ≤ g ≤ x

Rataan Kuadratis
Misalkan data terdiri atas x1 , x 2 ,.............., x n . Rataan kuadratis dinyatakan
oleh k adalah akar kuadrat dari rata-rata kuadrat data yang diketahui atau


2
x
i
k =
n

Modus, Median, Kuartil, Desil dan Persentil


Modus adalah nilai yang paling banyak muncul.
Modus data dalam bentuk daftar distribusi frekuensi
∆1
Nilai Modus : M o = L + ( )c
∆1 + ∆ 2
L = batas bawah limit kelas modus
∆ 1 = selisih frekuensi kelas modus dengan kelas sebelumnya
∆ 2 = selisih frekuensi kelas modus dengan kelas sesudahnya
c = panjang kelas modus
Median data dalam daftar distribusi frekuensi
n
− fk
Median ( M 2
) = L +( )
e f
L = batas bawah limit kelas median
n = ukuran data
f k = frekuensi kumulatif sebelum kelas median
f = frekuensi kelas median
c = panjang kelas median

Kuartil, Desil dan Persentil


i (n + 1)
Untuk data tunggal kuartil adalah nilai data yang ke , i =1, 2, 3
4
Jika i = 1 disebut kuartil bawah (Q1)
Jika i = 2 disebut kuartil tengah (Q2) atau Median
Jika i = 3 disebut kuartil atas (Q3)

Untuk data dalam daftar distribusi frekuensi


i. n
− fk
Kuartil (Qi) = 4 dimana i = 1, 2, 3
L+
f

L = batas bawah limit kelas Qi


n = ukuran data
f k = frekuensi kumulatif sebelum kelas Qi
f = frekuensi kelas Qi
c = panjang kelas Qi

Untuk Desil dan Persentil caranya sama, yaitu


i (n + 1) i (n + 1)
Desil nilai data yang ke , sedangkan Persentil nilai data yang ke
10 100

3.8. Ukuran Penyebaran Data


Ukuran penyebaran data yang akan dibahas adalah
a. Simpangan Rata-rata
b. Ragam (Variansi) dan Simpangan baku
c. Koefisien Keragaman
d. Angka Baku

a. Simpangan Rata-rata
Definisi:
Misalkan nilai-nilai data tunggal: x1 , x 2 ,.............., x n , maka simpangan rata-rata
n
1
SR = ∑| x − x| , dimana x = rataan hitung dan n = ukuran data
n i =1 i

Untuk data dalam daftar distribusi frekuensi simpangan rata-rata adalah


k
1 1
SR = ∑ f | x − x| = ( f | x − x ) +................+ f | x − x|) , dimana
n i =1 i i n 1 1 k k

n = ukuran data, k = banyaknya kelas dan f i = frekuensi kelas ke i


dan xi = titik tengah kelas ke i

Ragam (Variansi) dan Simpangan baku


Misalkan nilai-nilai data tunggal: x1 , x 2 ,.............., x n , maka ragam (variansi)
n
1 1

2 2 2 2
adalah: s = ( xi − x ) = [( x1 − x ) +..............+( x n − x ) ]
n i =1 n
sedangkan simpangan baku adalah
n
1

2 2
s= s = ( xi − x )
n i =1

Ragam dan simpangan baku data dalam daftar distribusi frekuensi adalah
k
1
s = ∑f i ( xi − x )
2 2

n i =1
sedangkan simpangan baku adalah
k
1
∑ f i ( xi − x ) , dimana f i = frekuensi kelas ke i dan
2 2
s= s =
n i =1
xi = titik tengah kelas ke i

Koefisien Keragaman
simpangan. baku s
Koefisien Keragaman (V) = =
rataan. hitung x
Koefisien Keragaman dinyatakan dalam prosen:
s
V= x100%
x

Angka Baku
Misalkan suatu nilai datum x dari kumpulan data mempunyai rataan hitung x
dan simpangan baku s, maka angka dari nilai x diberikan oleh

x−x
z=
s