Anda di halaman 1dari 38

UNIVERSITAS INDONESIA

TUGAS PENGOLAHAN MINYAK BUMI

GROUP 9
GROUP PERSONNEL:
ACHMAD FATHONY
(1106007602)
RIKY IKHWAN MAULANA (1106068522)
RIZKY PANDU S.
(0906557045)
TULUS SETIAWAN
(1106015945)

CHEMICAL ENGINEERING DEPARTMENT


ENGINEERING FACULTY
UNIVERSITAS INDONESIA
DEPOK
2014

TUGAS PENGOLAHAN MINYAK BUMI 2014


1. Ceritakan Proses Pengolahan Minyak Bumi, Proses Separasi, dan
Konversinya!
Pada prinsipnya, tahapan pengolahan minyak bumi meliputi proses distilasi, konversi,
pemisahan logam, dan pencampuran fraksi. Prinsip utama dari pemisahan antar fraksi yang
terkandung dalam minyak bumi adalah adanya perbedaan titik didih/uap dari tiap-tiap fraksinya.
Hal ini didasarkan pada kenyataan bahwa senyawa fraksi yang terkandung dalam minyak bumi
memiliki titik didih yang berbeda. Jadi pemisahannya memanfaatkan perbedaan titik didihnya.
Semakin besar perbedaannya, maka semakin mudah pemisahannya. Secara umum pengolhan
minyak bumi digambarkan dengan skema berikut.
Minyak Mentah

Penyimpanan

Penghilangan garam

Distilasi Fraksinasi

Fraksi berat dan Ringan

Proses Hidrokarbon
1. Cracking
2. Reforming
3. Alkilasi dan Polimerisasi
4. Pemurnian
5. Pencampuran

Produk akhir minyak bumi


Gambar 1. Skema Pengolahan Minyak Bumi

1
Universitas Indonesia

TUGAS PENGOLAHAN MINYAK BUMI 2014


Berikut ini akan kami bahas proses-proses pada skema diatas satu per satu.

Desalting
Selain mengandung berbagai zat pengotor, minyak mentah juga mengandung berbagai zat
mineral yang larut dalam air. Untuk menghilangkan garam mineral tersebut dilakukanlah proses
penghilangan garam atau yang biasa disebut dengan desalting. Proses ini dilakukan dengan cara
mencampur minyak mentah dengan air sehingga mineral-mineral tersebut akan larut dalam air.
Sedangkan penambahan asam dan basa dilakukan juga untuk menghilangkan senyawa-senyawa
nonhidrokarbon.
Proses desalting dilakukan untuk mencegah korosi pipa-pipa minyak dan mencegah
tersumbatnya lubang-lubang di menara fraksinasi. Setelah minyak mentah mengalami proses
desalting, selanjutnya minyak mentah dialirkan ke tangki pemanas untuk menguapkan minyak
mentah dan kemudian uap minyak mentah dialirkan dalam menara fraksinasi (menara distilasi).

Distilasi
Distilasi atau penyulingan merupakan suatu metoda pemisahan satu atau lebih senyawa
dari senyawa lainnya dengan memanfaatkan perbedaan titik didih dari senyawa-senyawa yang
akan dipisahkannya. Minyak bumi mengandung berbagai senyawa hidrokarbon yang memiliki
titik didih berbeda-beda tergantung dari struktur molekulnya.
Melalui metoda distilasi, senyawa-senyawa dalam minyak bumi dapat dipisah menjadi
berbagai fraksi senyawa hidrokarbon sesuai dengan titik didihnya. Metode distilasi dilakukan
dengan menggunakan pendinginan bertahap atau bertingkat. Titik didih dari senyawa hidrokarbon
yang terkandung pada minyak bumi dapat dilihat pada tabel di bawah.
Tabel 1. Hasil Pengolahan Minyak Bumi
JUMLAH ATOM

TITIK DIDIH (OC)

Gas-gas Petroleum

C1 C4

-164 - 30

Petroleum Eter

C5 C7

30 90

FRAKSI

KEGUNAAN
Bahan bakar gas
Palarut, binatu kimia
2
Universitas Indonesia

TUGAS PENGOLAHAN MINYAK BUMI 2014


Bensin (Gasolin)

C5 C12

30 200

Bahan bakar motor

Minyak

C11 C16

175 275

Minyak lampu, bahan

Tanah

(Kerosin)
Minyak

bakar kompor
Diesel

C15 C18

250 400

(Solar)

Bahan

bakar

mesin

diesel

Minyak Pelumas

C16 ke atas

350 ke atas

Parafin

C20 ke atas

53 57 (meleleh)

Pelumas
Lilin

gereja,

pengendapain air bagi


kain, korek api, dan
pengawetan
Ter

residu

Aspal buatan

Kokas petroleum

Residu

Bahan bakar, elektroda

Dengan memperhatikan data tabel tersebut dapat diketahui bahwa jika minyak
bumi/mentah dipanaskan pada temperature 30 derajat celcius maka gas-gas petroleum akan segera
mendidih dan menguap. Sedangkan senyawa lainnya tetap berada pada fasa awalnya. Hal yang
sama juga dilakukan pada senyawa lainnya

Cracking
Cracking adalah penguraian molekul-molekul senyawa hidrokarbon yang besar menjadi
molekul-molekul senyawa hidrokarbon yang kecil. Contoh cracking ini adalah pengolahan minyak
solar atau minyak tanah menjadi bensin.
Proses ini terutama ditujukan untuk memperbaiki kualitas dan perolehan fraksi gasolin
(bensin). Kualitas gasolin sangat ditentukan oleh sifat anti knock (ketukan) yang dinyatakan dalam
bilangan oktan. Bilangan oktan 100 diberikan pada isooktan (2,2,4-trimetil pentana) yang
mempunyai sifat anti knocking yang istimewa, dan bilangan oktan 0 diberikan pada n-heptana
yang mempunyai sifat anti knock yang buruk. Gasolin yang diuji akan dibandingkan dengan

3
Universitas Indonesia

TUGAS PENGOLAHAN MINYAK BUMI 2014


campuran isooktana dan n-heptana. Bilangan oktan dipengaruhi oleh beberapa struktur molekul
hidrokarbon.
Terdapat 3 cara proses cracking, yaitu :
a.

Thermal cracking

Thermal cracking adalah proses perengkagan dengan penggunaan suhu tinggi dan tekanan
yang rendah. Contoh reaksi-reaksi pada proses cracking adalah sebagai berikut :

b.

Catalytic cracking

Catalytic cracking adalah proses perengkahan dengan penggunaan katalis. Katalis yang
digunakan biasanya SiO2 atau Al2O3 bauksit. Reaksi dari perengkahan katalitik melalui
mekanisme perengkahan ion karbonium. Mula-mula katalis karena bersifat asam menambahkna
proton ke molekul olevin atau menarik ion hidrida dari alkana sehingga menyebabkan
terbentuknya ion karbonium :

c.

Hidrocracking

Hidrocracking merupakan kombinasi antara perengkahan dan hidrogenasi untuk


menghasilkan senyawa yang jenuh. Reaksi tersebut dilakukan pada tekanan tinggi. Keuntungan
lain dari Hidrocracking ini adalah bahwa belerang yang terkandung dalam minyak diubah menjadi
hidrogen sulfida yang kemudian dipisahkan.

Reforming
Reforming adalah perubahan dari bentuk molekul bensin yang bermutu kurang baik (rantai
karbon lurus) menjadi bensin yang bermutu lebih baik (rantai karbon bercabang). Kedua jenis
bensin ini memiliki rumus molekul yang sama bentuk strukturnya yang berbeda. Oleh karena itu,
4
Universitas Indonesia

TUGAS PENGOLAHAN MINYAK BUMI 2014


proses ini juga disebut isomerisasi. Reforming dilakukan dengan menggunakan katalis dan
pemanasan.
Contoh reforming adalah sebagai berikut :

Reforming juga dapat merupakan pengubahan struktur molekul dari hidrokarbon parafin
menjadi senyawa aromatik dengan bilangan oktan tinggi. Pada proses ini digunakan katalis
molibdenum oksida dalam Al2O3 atauplatina dalam lempung.Contoh reaksinya :

Alkilasi
Alkilasi merupakan penambahan jumlah atom dalam molekul menjadi molekul yang lebih
panjang dan bercabang. Dalam proses ini menggunakan katalis asam kuat seperti H2SO4, HCl,
AlCl3 (suatu asam kuat Lewis). Reaksi secara umum adalah sebagai berikut:
RH + CH2=CRR R-CH2-CHRR
Polimerisasi adalah proses penggabungan molekul-molekul kecil menjadi molekul besar.
Contoh polimerisasi yaitu penggabungan senyawa isobutena dengan senyawa isobutana
menghasilkan bensin berkualitas tinggi, yaitu isooktana.

Treating

5
Universitas Indonesia

TUGAS PENGOLAHAN MINYAK BUMI 2014


Treating adalah pemurnian minyak bumi dengan cara menghilangkan pengotorpengotornya. Cara-cara proses treating adalah sebagai berikut :
Copper sweetening dan doctor treating, yaitu proses penghilangan pengotor yang dapat
menimbulkan bau yang tidak sedap.
Acid treatment, yaitu proses penghilangan lumpur dan perbaikan warna.
Dewaxing yaitu proses penghilangan wax (n parafin) dengan berat molekul tinggi dari
fraksi minyak pelumas untuk menghasillkan minyak pelumas dengan pour point yang
rendah.
Deasphalting yaitu penghilangan aspal dari fraksi yang digunakan untuk minyak pelumas
Desulfurizing (desulfurisasi), yaitu proses penghilangan unsur belerang.

Blending
Proses blending adalah penambahan bahan-bahan aditif kedalam fraksi minyak bumi
dalam rangka untuk meningkatkan kualitas produk tersebut. Bensin yang memiliki berbagai
persyaratan kualitas merupakan contoh hasil minyak bumi yang paling banyak digunakan di
barbagai negara dengan berbagai variasi cuaca. Untuk memenuhi kualitas bensin yang baik,
terdapat sekitar 22 bahan pencampur yang dapat ditambanhkan pada proses pengolahannya.
Diantara bahan-bahan pencampur yang terkenal adalah tetra ethyl lead (TEL). TEL
berfungsi menaikkan bilangan oktan bensin. Demikian pula halnya dengan pelumas, agar
diperoleh kualitas yang baik maka pada proses pengolahan diperlukan penambahan zat aditif.
Penambahan TEL dapat meningkatkan bilangan oktan, tetapi dapat menimbulkan pencemaran
udara.

6
Universitas Indonesia

TUGAS PENGOLAHAN MINYAK BUMI 2014

Gambar 2. Skema Lengkap Proses Pengolahan Minyak Bumi

2. Proses Apa Saja yang Digunakan Untuk Membuat Bensin, Kerosin, dan Solar
3. Apa saja umpan yang digunakan untuk proses-proses tersebut?
(jawaban untuk nomor 2 dan 3 digabung)

Bensin
Proses separasi minyak bumi adalah proses pertama untuk pemisahan minyak bumi
menjadi fraksi-fraksinya. Proses ini meliputi proses distilasi atmosfer dan distilasi vakum, yang
menghasilkan nafta, kerosin, distilat vakum, dan residu (residu atmosferik dan residu vakum).
Dalam rangka meningkatkan nilai tambah fraksi minyak bumi tersebut, maka dilakukan
proses tahap kedua, yaitu: konversi, baik berupa proses termal maupun proses katalitik. Residu
direngkah secara proses termal, yaitu proses visbreker dan proses koker, dan menghasilkan produk
7
Universitas Indonesia

TUGAS PENGOLAHAN MINYAK BUMI 2014


bensin dan solar bermutu rendah. Proses perengkahan katalitik residu dan distilat vakum
menghasilkan produk bensin rengkahan katalitik (cat. cracked gasoline) yang bermutu tinggi,
tetapi mutu produk solar (cycle gas-oil) yang dihasilkannya masih rendah. Proses isomerisasi
fraksi nafta ringan dan proses reformasi katalitik fraksi nafta berat dapat menghasilkan komponen
utama bensin, yaitu masing-masing isomerat dan reformat. Proses penggabungan alkilasi dan
polikondensasi dari produk samping gas olefin rendah (C3/C4) dari proses perengkahan dapat
menghasilkan komponen utama bensin, yaitu masing-masing alkilat dan bensin polimer.
Bensin mempunyai kisaran titik didih dari 30oC sampai 215oC yang mengandung grup
hidrokarbon parafin, olefin, naftena, dan aromatik dengan variasi nilai angka oktananya cukup
besar.
Proses pembuatan bensin dimulai dengan separasi minyak bumi pada proses distilasi
atmofer dan distilasi vakum. Minyak bumi difraksionasi menjadi nafta (sd. 180oC), kerosin (180o
250oC), solar (250o350oC), distilat vakum (350o550oC), dan residu vakum (> 550oC).
Fraksi nafta diseparasi menjadi gas (C1/C2), LPG (C3/C4), nafta ringan (C5/C6) untuk
umpan proses isomerisasi, dan nafta berat dipakai sebagai umpan reformasi katalitik. Sehubungan
dengan banyaknya fraksi nafta yang digunakan untuk umpan proses petrokimia (sekitar 40% dari
total produk nafta), maka kebutuhan umpan nafta dipenuhi dengan hasil dari proses perengkahan
termal dan katalitik fraksi berat, dan juga dari proses penggabungan (alkilasi dan polimerisasi)
yang menggunakan umpan gas (C3/C4).
Proses pembuatan komponen bensin terdiri atas: (1) proses separasi atau distilasi
(menghasilkan straight-run naphtha) dan (2) proses konversi, yaitu: (a) proses konversi termal,
yaitu proses visbreker (visbreaker naphtha), dan proses koker (coker naphtha), dan (b) proses
konversi katalitik yaitu: proses perengkahan katalitik (bensin rengkahan katalitik cat. cracked
gasoline), proses penghidrorengkahan (hydrocracked naphtha), proses isomerisasi (isomerat),
proses reformasi katalitik (reformat), proses alkilasi (alkilat) dan proses polimerisasi (bensin
polimerpolygasoline).

1. Proses Perengkahan Katalitik


Mekanisme reaksi perengkahan katalitik dapat diuraikan seperti pada Gambar 1 berikut.
Reaksi perengkahan katalitik berjalan melalui pembentukan senyawa-antara ion karbonium (R+)
yang dihasilkan dengan penarikan ion hidrida (H-) dari molekul umpan oleh inti aktif asam Lewis
8
Universitas Indonesia

TUGAS PENGOLAHAN MINYAK BUMI 2014


katalis (I) atau pemberian proton (H+) oleh inti aktif asam Bronsted katalis ke olefin (II) yang
dihasilkan dari perengkahan termal umpan di dalam riser (III). Molekul hidrokarbon dari reaktan
harus berfase uap agar supaya molekul tersebut dapat dengan mudah berdifusi ke inti aktif asam
di dalam pori katalis. Ion karbonium dapat pecah (III) pada posisi beta dan terbentuk olefin dan
ion karbonium rendah, dan juga berisomerisasi (IV) atau transfer hidrogen (Gambar 1).

Gambar 3. Mekanisme Reaksi Perengkahan


(Sumber:
http://www.lemigas.esdm.go.id/id/pdf/buku_populer/Proses%20Pembuatan%20BBB%20Solar%20Ramah%20Ling
kungan.pdf)

Transfer hidrogen berdampak negatif pada mutu produk, yaitu terbentuknya bensin
berkadar olefin tinggi dengan angka oktana rendah, dan minyak ringan berkadar aromatik tinggi
dengan angka setana rendah, serta terjadi pula penurunan
perolehan C3 dan C4.
Perengkahan termal dapat timbul bersamaan dengan perengkahan katalitik pada temperatur
operasi tinggi, yang merugikan, baik ditinjau dari perolehan maupun mutu produk bensin, yaitu
terbentuknya produk bensin berkadar olefin tinggi dengan sedikit kadar iso-olefin dan parafin
rendah serta produk gas tinggi (C1 C3).

9
Universitas Indonesia

TUGAS PENGOLAHAN MINYAK BUMI 2014


Perengkahan hidrokarbon umpan berjalan sebagai berikut:

Perengkahan parafin dipengaruhi oleh ukuran dan struktur molekul parafin, yaitu makin
besar jumlah atom karbon (C>6), dan yang mempunyai atom karbon tersier lebih mudah
perengkahannya dan produk gas yang dihasilkan mengandung banyak C3 dan C4.

Dehidrogenasi naftena menjadi aromatik dan pemutusan rantai cincin CC dari naftena
tersebut adalah dua reaksi utama pada perengkahan naftena. Produk cair dan gas
mengandung lebih banyak parafin daripada yang dihasilkan perengkahan parafin.

Perengkahan aromatik dengan gugus alkil berkadar atom karbon C <3 tidak sangat reaktif.
Pemutusan alkil aromatik beratom banyak terjadi pada atom karbon yang terikat langsung
pada cincin aromatik yang akan menghasilkan produk benzena dan olefin

Bahan baku proses perengkahan katalitik adalah fraksi berat minyak, yaitu di antaranya
fraksi minyak 250550oC dan juga residu yang terdiri atas molekul hidrokarbon dan kotoran nonhidrokarbon. Komposisi hidrokarbon umpan memengaruhi perolehan dan mutu produk bensin
yaitu:

Kecepatan relatif perengkahan hidrokarbon menurun dari olefin > naftena > isoparafin >
parafin > aromatik.

Semakin besar ukuran molekul, semakin tinggi pula kecepatan perengkahan.


Umpan distilat vakum aromatik akan menghasilkan konversi umpan rendah, perolehan
produk bensin rendah berangka oktana tinggi. Pengaruh jenis umpan distilat vakum pada
karakteristik produk bensin disajikan pada Tabel 2.

10
Universitas Indonesia

TUGAS PENGOLAHAN MINYAK BUMI 2014


Tabel 2. Pengaruh Jenis Umpan Distilat Vakum pada Karakteristik Produk Bensin

(Sumber:
http://www.lemigas.esdm.go.id/id/pdf/buku_populer/Proses%20Pembuatan%20BBB%20Solar%20Ramah%20Ling
kungan.pdf)

Umpan residu mengandung banyak kotoran non-hidrokarbon[15] yaitu senyawa organik


yang mengandung atom sulfur, nitrogen dan oksigen, dan senyawa asfalten atau karbon residu
(micro carbon residue) yang mengandung logam (Ni, V, Fe, Cu). Senyawa non-hidrokarbon
tersebut dapat menurunkan unjuk kerja katalis. Pengaruh kadar karbon residu pada karakteristik
produk bensin disajikan pada Tabel 3.

11
Universitas Indonesia

TUGAS PENGOLAHAN MINYAK BUMI 2014


Tabel 3. Distribusi Produk Rengkahan dari Umpan Berbagai Kadar Karbon Residu Umpan

(Sumber:
http://www.lemigas.esdm.go.id/id/pdf/buku_populer/Proses%20Pembuatan%20BBB%20Solar%20Ramah%20Ling
kungan.pdf)

2. Proses Reformasi Katalitik


Proses reformasi katalitik mengonversi umpan nafta berat berangka oktana rendah (RON
5060) menjadi produk reformat berangka oktana tinggi (RON 92100) dengan bantuan katalis
bifungsional. Proses reformasi katalitik telah berkembang dengan pesat baik dari segi teknologinya
dari sistem semi-regeratif sampai regeratif kontinu (Continous Catalyst RegenerationCCR)
maupun pengembangan katalisnya dari jenis mono-metalik menjadi bi-metalik dan poli-metalik,
sehingga dapat dihasilkan perolehan dan mutu dari produk reformat tinggi. Reformat berkadar
aromatik tinggi dipakai juga untuk pembuatan aromatik rendah.
Umpan proses reformasi katalitik yang baik adalah nafta berat berkadar naftena tinggi,
karena konversi naftena tersebut menjadi aromatik relatif lebih mudah daripada konversi parafin.
Temperatur operasi rendah <450oC memberikan reaksi berjalan lambat, sedang pada temperatur
tinggi >540oC akan terjadi reaksi samping hydrocracking yang akan menurunkan perolehan dan
mutu produk reformat.
Reaksi utama dari proses reformasi katalitik adalah konversi naftena dan parafin menjadi
aromatik berangka oktana tinggi. Untuk menurunkan pembentukan pengendapan kokas pada
permukaan katalis, unit proses reformasi semi regeneratif dioperasikan pada tekanan dan rasio
H2/HC yang relatif lebih tinggi daripada unitproses reformasi regeneratif.
12
Universitas Indonesia

TUGAS PENGOLAHAN MINYAK BUMI 2014


Reformat adalah komponen bensin terbesar kedua setelah bensin rengkahan katalitik dalam
pembuatan bensin ramah lingkungan dengan persentase sekitar 20-30% volume. Angka oktana
reformat RON 92108 dengan distribusi angka oktana rendah (tidak homogen/tidak baik).
Reformat mengandung kadar aromatik tinggi (>50% volume), sehingga sensitivitasnya (RON
MON) tinggi pula, yaitu sekitar 813 satuan (tidak baik).
Bahan baku proses reformasi katalitik adalah nafta berat, baik dari hasil distilasi minyak
bumi (straight-run naphtha) maupun produk nafta dari berbagai proses konversi seperti: nafta
rengkahan termal (visbreaker naphtha dan coker naphtha) dan nafta hidrorengkahan
(hydrocracked naphtha) dengan trayek titik didih 80 185oC. Sehubungan molekul heksana (C6)
merupakan sumber pembentukan benzena di dalam produk reformat, yang kadar aromatik itu
dibatasi di dalam bensin (15% volume), maka titik didih awal umpan dinaikkan menjadi 90oC.
Adanya kenaikan titik didih akhir produk reformat sekitar 1520oC terhadap titik didih akhir
umpan, dan dibatasinya titik didih akhir bensin 215oC, maka titik didih akhir umpan nafta berat
dibatasi <185oC. Kenaikan titik didih akhir umpan nafta sekitar 30oC akan menaikkan
pembentukan kokas pada permukaan katalis.
Umpan nafta berat adalah campuran hidrokarbon yang terdiri atas parafin (P), naftena (N)
dan aromatik (A) di mana (N+2A) dari nafta parafinik dan nafta aromatik adalah masing-masing
< 40% vol. dan > 40% vol. dan nafta naftenik sekitar 40% vol. Komposisi hidrokarbon umpan
nafta dari berbagai jenis minyak bumi disajikan pada Tabel 4.

13
Universitas Indonesia

TUGAS PENGOLAHAN MINYAK BUMI 2014


Tabel 4. Komposisi Hidrokarbon Nafta dari Berbagai Jenis Minyak Bumi dan Nafta Hidrorengkah

(Sumber:
http://www.lemigas.esdm.go.id/id/pdf/buku_populer/Proses%20Pembuatan%20BBB%20Solar%20Ramah%20Ling
kungan.pdf)

3. Proses Isomerisasi Katalitik

Proses isomerisasi katalitik ditujukan untuk mengkonversi umpan nafta ringan (C5C6)
berangka oktana rendah (RON 6570) menjadi produk isoparafin berangka oktana tinggi RON
8792 dengan sensitivitas (RONMON) rendah (baik) dengan bantuan katalis bifungsional.
Umpan normal parafin dan isoparafin bercabang tunggal mengalami isomerisasi menjadi
isoparafin bercabang banyak, berangka oktana tinggi.
Angka oktana produk isomerat dengan proses isomerisasi langsung (satu tahap) hanya
mencapai RON 8284, tetapi dengan pemisahan normal parafin dari isoparafin bercabang satu dari
produk campuran isomerat dan mensirkulasikannya kembali bersama umpan nafta ringan (proses
isomerisasi dua tahap) akan diperoleh kenaikan angka oktana produk isomerat sekitar 68 angka,
yaitu RON 92.

14
Universitas Indonesia

TUGAS PENGOLAHAN MINYAK BUMI 2014


Proses isomerisasi dapat pula dipakai untuk pembuatan produk isobutana yang merupakan
salah satu umpan proses alkilasi dengan penambahan satu kolom deisobutanizer pada unit proses
tersebut. Katalis isomerisasi adalah identik dengan katalis reformasi bifungsional yang
mengandung inti aktif logam platina dan inti aktif asam alumina klor dan/atau zeolit yang juga
berfungsi sebagai penyangga katalis.
Proses isomerisasi pentana (C5) dengan sirkulasi umpan dapat menaikkan angka oktana
dari umpan RON 7075 menjadi produk isomerat RON 92. Peningkatan angka oktana dari proses
isomerisasi heksana (C6) adalah lebih rendah daripada proses isomerisasi pertama tersebut, yaitu
sekitar 1015 saja. Kenaikan angka oktana dari proses isomerisasi C5/C6 dipengaruhi oleh
komposisi C5 dan C6 dari umpan nafta ringan. Isomerisasi heptana hanya memberikan isoparafin
rendah bercabang satu yang angka oktananya tidak begitu besar. Pada isomerisasi C6 dan C7 dapat
terjadi reaksi samping hidrorengkah. Angka oktana produk isomerat dari berbagai jenis umpan
disajikan pada Tabel 5.
Tabel 5. Angka Oktana Berbagai Jenis Umpan Proses Isomerisasi dan Produknya

(Sumber:
http://www.lemigas.esdm.go.id/id/pdf/buku_populer/Proses%20Pembuatan%20BBB%20Solar%20Ramah%20Ling
kungan.pdf)

4. Proses Alkilasi

Proses alkilasi dari umpan campuran antara molekul olefin C3/C4/C5 dan isoparafin C4
dengan bantuan katalis asam, adalah untuk pembuatan produk alkilat berangka oktana tinggi yang
merupakan salah satu komponen utama bensin.
Umpan olefin yaitu propilena, butilena dan amilena diperoleh dari proses rengkahan baik
termal (coking dan visbreaker) maupun katalitik (rengkahan katalitik). Sumber isoparafin seperti
15
Universitas Indonesia

TUGAS PENGOLAHAN MINYAK BUMI 2014


isobutana dan isopentana dihasilkan dari proses perengkahan katalitik, reformasi katalitik,
penghidrorengkahan dan proses isomerisasi butana dan pentana. Isobutana lebih banyak dipakai
pada proses alkilasi daripada isopentana yang dapat langsung dipakai sebagai komponen bensin.
Umpan olefin dan iso-parafin harus kering dengan kandungan sulfur rendah untuk
mengurangi kebutuhan katalis asam dan menjaga mutu produknya. Rasio tinggi antara iso-butana
dan olefin menghasilkan produk alkilat berangka oktana tinggi dengan titik didih akhir rendah.
Angka oktana (RON) produk alkilat dari berbagai jenis umpan olefin propilena, butilena,
isobutilena, amilena dan propilena/ butilena adalah sekitar 8897. Karakteristik produk alkilat dari
berbagai jenis umpan olefin disajikan pada Tabel 6.
Pada temperatur tinggi, reaksi akan menghasilkan produk alkilat berangka oktana tinggi
dengan titik didih akhir rendah, tetapi reaksi alkilasi tidak berjalan baik pada temperatur <35oC.
Proses alkilasi dengan katalis asam sulfat lebih sensitif terhadap temperatur reaktor daripada
dengan katalis asam fluorida. Tekanan operasi harus cukup untuk menjaga hidrokarbon umpan
dan katalis asam dalam keadaan cair. Pada kondisi operasi yang sama, karakteristik produk alkilat
tidak berbeda banyak bila menggunakan katalis asam baik asam sulfat maupun asam fluorida.

16
Universitas Indonesia

TUGAS PENGOLAHAN MINYAK BUMI 2014


Tabel 6. Karakteristik Alkilat dari Berbagai Jenis Umpan Olefin

(Sumber:
http://www.lemigas.esdm.go.id/id/pdf/buku_populer/Proses%20Pembuatan%20BBB%20Solar%20Ramah%20Ling
kungan.pdf)

5. Proses Polimerisasi

Proses polimerisasi atau proses kondensasi katalitik umpan olefin rendah dengan katalis
asam akan menghasilkan produk oligomer olefin (bensin polimer atau polygasoline) berangka
oktana tinggi RON 93100 dengan trayek titik didih mendekati trayek didih bensin. Umpan olefin
adalah propilena (C3) dan butilena (C4) yang dihasilkan dari proses perengkahan baik termal
maupun katalitik, dan produk bensin polimer yang dihasilkan mengandung olefin C6, C7, dan C8
(bensin polimer).
Proses UOP Catalytic Condensation Olefin C3/C4 menggunakan katalis asam fosfat
kieselguhr (katalis padat) untuk menghasilkan produk bensin polimer. Proses ini adalah proses
polimerisasi non-selektif yang dapat juga dipakai untuk polimerisasi olefin C3/C4 menjadi produk
olefin berat bertrayek titik didih tinggi seperti bahan bakar avtur dan solar, yang produknya ini
masih perlu dihidrogenerasi untuk menjenuhkan hidrokarbon olefinnya.
17
Universitas Indonesia

TUGAS PENGOLAHAN MINYAK BUMI 2014


Proses IFP Dimersol mempolimerisasi olefin propilena (C3) dengan menggunakan katalis
asam fosfat dan juga katalis alkil alumina untuk pembuatan produk dimer (heksena) yang
digunakan sebagai komponen bensin dimat. Proses dimersol ini adalah proses polimerisasi selektif
yang dapat juga dipakai untuk dimerisasi olefin C3/C4 khusus untuk pabrik alkohol.
Polimerisasi etilena akan menghasilkan produk polimer berat, sedang pentena sudah dapat
langsung dipakai sebagai komponen bensin. Proses polimerisasi propilena berjalan lebih lambat
daripada butilena. Pada temperatur rendah, tekanan tinggi dengan konversi umpan rendah, proses
polimerisasi olefin tersebut dapat menghasilkan produk bensin polimer berangka oktana tinggi.
Produk polimer berat dihasilkan pada proses polimerisasi olefin pada temperatur dan tekanan
tinggi. Kondisi operasi proses polimerisasi olefin adalah temperatur sekitar 170225oC dan
tekanan sekitar 2880 kg/cm2.
Bensin polimer dengan kandungan olefin tinggi >90% vol mempunyai angka oktana tinggi
dengan sensitivitas (RON-MON) tinggi (kurang baik) (Tabel 6). Sensivitas tinggi dari bensin
polimer tersebut merupakan suatu kelemahannya dibanding komponen bensin alkilat tetapi kedua
bensin (polimer dan alkilat) mempunyai distribusi angka oktana homogen (baik). Keuntungan
proses polimerisasi ini, ialah bahwa ia tidak memerlukan umpan isobutana yang produksinya
terbatas seperti halnya proses alkilasi.
Tabel 7. Angka Oktana Bensin Polimer

(Sumber:
http://www.lemigas.esdm.go.id/id/pdf/buku_populer/Proses%20Pembuatan%20BBB%20Solar%20Ramah%20Ling
kungan.pdf)

18
Universitas Indonesia

TUGAS PENGOLAHAN MINYAK BUMI 2014


Solar
Solar mempunyai kisaran titik didih antara 200o sampai dengan 370oC dan terdiri atas
hidrokarbon parafin, olefin, naftena dan aromatik. Umumnya komponen solar terdiri atas
hidrokarbon distilasi langsung dari minyak bumi (straight run gasoil), namun komponen solar
lainnya seperti solar rengkahan termal (visbroken gasoil dan coker gasoil) dan proses katalitik
(cycle gasoil dan hydrocracked gasoil) juga banyak digunakan.
Mutu solar distilasi langsung dari minyak bumi dipengaruhi oleh sifat umpan minyak bumi
tersebut, antara lain komposisi hidrokarbon dan kadar sulfur. Kadar sulfur dari solar distilasi
langsung meningkat dengan naiknya kadar sulfur umpan. Minyak bumi parafinik menghasilkan
produk solar yang massa jenisnya lebih rendah daripada solar yang berasal dari minyak bumi
naftenik.
Solar rengkahan, baik yang berasal dari rengkahan termal maupun rengkahan katalitik
(kecuali hasil penghidrorengkahanhydrocracked gasoil) mengandung persentase aromatik dan
olefin yang lebih besar daripada solar hasil distilasi langsung. Mutu komponen solar dipengaruhi
oleh berbagai faktor, di antaranya massa jenis, kadar hidrokarbon tak-jenuh (aromatik dan olefin),
kadar non- hidrokarbon (belerang, nitrogen dan oksigen), warna dan stabilitas.

1. Proses Penghidrorengkahan
Proses penghidrorengkahan adalah reaksi antara hidrogen dan distilat beratminyak bumi,
yaitu distilat vakum (vacuum distillate), minyak awa-aspal, (deasphalted oil) dan distilat-termal
berat (heavy thermal distillate), dengan bantuan katalis bifungsional. Proses ini menghasilkan
berbagai jenis produk bernilai tinggi, antara lain bahan bakar minyak bermutu tinggi (kerosin,
avtur, dan solar), bahan dasar pelumas, serta nafta ringan untuk umpan proses hidroisomerisasi
dan nafta berat sebagai umpan proses reformasi katalitik untuk pembuatan komponen-komponen
utama bensin (isomerat, dan reformat) bermutu tinggi: HOMC (high octane mogas component).
Umpan hidrorengkah adalah campuran hidrokarbon (parafin, naftena, dan aromatik) dan
sedikit pengotor non-hidrokarbon (sulfur, nitrogen, oksigen, dan logam: Ni dan V). Aromatik
pertama-tama bereaksi menjadi naftena, dan kemudian naftena tersebut pecah menjadi molekul
kecil. Parafin relatif stabil pada konversi umpan sekitar 65% vol. pada proses penghidrorengkahan
satu tahap. Mutu produk kerosin, dan solar naik dengan dinaikkannya konversi umpan, yaitu titik
asap kerosin 25 mm dan angka setana solar
19
Universitas Indonesia

TUGAS PENGOLAHAN MINYAK BUMI 2014


Pada proses penghidrorengkahan dua tahap, hidrogenasi aromatik bertambah dan juga
hidroisomerisasi parafin sehingga mutu produk akan meningkat lagi, yaitu titik asap kerosin 40
mm dan angka setana solar 70, dengan kadar isoparafin tinggi yang dapat meningkatkan sifat alir
produk solar (cold flow). Reaksi hidrorengkah dihambat oleh kotoran komponen non-hidrokarbon
(nitrogen) dari umpan yang terkonversi menjadi amonia dan terbawa dalam sirkulasi gas hidrogen
serta masuk ke dalam zona katalis. Umpan reaktor kedua dari proses penghidrorengkahan dua
tahap telah bebas dari kotoran komponen nitrogen tersebut sehingga katalis dapat bekerja secara
optimal. Karakteristik produk solar hidrorengkah dari umpan distilat vakum dan minyak awa-aspal
disajikan pada Tabel 8.
Tabel 8. Produk Solar Hidrorengkah

(Sumber:
http://www.lemigas.esdm.go.id/id/pdf/buku_populer/Proses%20Pembuatan%20BBB%20Solar%20Ramah%20Ling
kungan.pdf)

Umpan proses hidrorengkah adalah berbagai jenis distilat berat yaitu distilat vakum,
minyak awa-aspal dan distilat-termal berat yang terdiri atas molekul hidrokarbon (parafin, olefin,
naftena dan aromatik) dan kotoran non-hidrokarbon yang mengandung atom sulfur, nitrogen,
oksigen dan logam (Ni, V).
Hidrogenasi aromatik menjadi naftena merupakan reaksi pertama, yang kemudian cincin
naftena tersebut dipecah menjadi parafin dengan reaksi hidrodesiklisasi. Parafin relatif lebih stabil
20
Universitas Indonesia

TUGAS PENGOLAHAN MINYAK BUMI 2014


pada konversi umpan <65% volume. Kotoran komponen nitrogen umpan yang pecah menjadi
amonia dan terbawa di dalam sirkulasi gas hidrogen dapat menghambat reaksi hidrorengkah.
Untuk menstabilkan konversi umpan, maka temperatur operasi harus dinaikkan.

2. Proses Penghidromurnian
Komponen solar yang diproduksi di kilang-kilang minyak dewasa ini umumnya terdiri atas
solar hasil distilasi langsung minyak bumi, selain beberapa komponen solar olahan seperti solar
rengkahan termal dan solar rengkahan katalitik. Namun kualitas/mutu komponen-komponen solar
tersebut masih perlu ditingkatkan dengan proses penghidromurnian.
Solar rengkahan, baik yang berasal dari rengkahan termal maupun rengkahan katalitik
mengandung persentase aromatik dan olefin yang lebih besar daripada solar distilasi langsung.
Solar dari minyak bumi naftenik mempunyai massa jenis yang lebih tinggi dibanding dengan solar
distilasi minyak bumi parafinik.
Proses penghidromurnian komponen solar dengan memakai katalis monofungsional dapat
meningkatkan angka setana, warna, stabilitas dan menurunkan kadar hidrokarbon tak jenuh
(aromatik, olefin) serta kotoran non-hidrokarbon (belerang, nitrogen, oksigen). Katalis
penghidromurnian terdiri atas inti aktif logam saja dengan penunjang alumina (Al2O3).
Komponen solar terdiri atas solar hasil distilasi minyak mentah (straight run gasoil), solar hasil
rengkahan termal (visbroken gasoil dan coker gas oil), dan solar rengkahan katalitik (cycle gasoil
dan hydrocracked gasoil). Massa jenis, belerang dan angka setana dari berbagai jenis komponen
disajikan pada Tabel 8.
Tabel 9. Karakteristik Produk Solar dari berbagai jenis Proses Pembuatan

21
Universitas Indonesia

TUGAS PENGOLAHAN MINYAK BUMI 2014


Kerosin
Proses pembuatan kerosin, hampir sama dengan bensin dan solar. Mula-mula dilakukan
proses crude distillation dengan umpan minyak bumi sesuai skema berikut ini.

22
Universitas Indonesia

TUGAS PENGOLAHAN MINYAK BUMI 2014


Yang diperoleh dari crude distillation adalah sebagai berikut.
Tabel 10. Yield Proses Crude Distillation

(Sumber: http://www.processengr.com/ppt_presentations/oil_refinery_processes.pdf)

Kemudian untuk produksi kerosene berkualitas tinggi (jet fuel), kerosene hasil distilasi akan
melalui proses penghidromurnian sebagaimana skema berikut.

Gambar 4. Skema Proses Konversi Crude Oil


(Sumber:http://global.britannica.com/EBchecked/topic/454440/petroleum-refining/81814/Kerosene)

23
Universitas Indonesia

TUGAS PENGOLAHAN MINYAK BUMI 2014


Proses penghidropemurnian adalah reaksi eksotermis yang terdiri atas: reaksi hidrogenasi
hidrokarbon tak jenuh (aromatik dan olefin), reaksi hidrodesulfurisasi, reaksi hidrodenitrifikasi
dan hidrodeoksigenasi. Ketiga reaksi yang tersebut terakhir disajikan pada Tabel 11 berikut.
Tabel 11. Reaksi Pemurnian Hidro

(Sumber:
http://www.lemigas.esdm.go.id/id/pdf/buku_populer/Proses%20Pembuatan%20BBB%20Solar%
20Ramah%20Lingkungan.pdf)

24
Universitas Indonesia

TUGAS PENGOLAHAN MINYAK BUMI 2014


4. Jelaskan secara spesifik proses dan produk yang dihasilkan dari kilang minyak
bumi pertamina!
Kilang atau Refinery Unit merupakan bagian yang sangat penting dalam pengolahan
minyak bumi dimana minyak mentah yang keluar dari dalam perut bumi diolah menjadi berbagai
macam produk, seperti gasoline, avtur, lubricating oil ataupun produk-produk lainnya termasuk
bahan baku industri petrokimia. Begitu strategisnya peranan dari refinery unit ini sehingga
pembahasan tentang performa operasional kilang, proses yang terjadi di setiap unitnya serta
tuntutan dari produk-produk yang ingin dihasilkan menjadi sangat menarik. Dalam pembahasan
ini, kami akan mencoba meninjau proses-proses yang terjadi pada pengilangan serta produkproduk apa saja yang dihasilkan dari kilang minyak bumi Pertamina.
Saat ini pertamina memiliki enam Unit Pengolahan (UP) yang beroperasi, antara lain RU
II Dumai - Sei Pakning, RU III Plaju, RU IV Cilacap, RU V Balikpapan, RU VI Balongan and RU
VII Sorong dengan total kapasitas 1,046 juta barel. Daftar kilang Pertamina dan kapasitasnya
dijelaskan dalam tabel 1.
Tabel 12. Kilang Pertamina

No
1
2
3
4
5
6

Refining Unit
RU II Dumai
RU III Plaju
RU IV Cilacap
RU V Balikpapan
RU VI Balongan
RU VII Kasim

Capacity (MBSD)
170
133,7
348
260
125
10

Sebelum membahas mengenai produk dari kilang Pertamina, terlebih dahulu kita mengenal
mengenai proses-proses yang terjadi pada pengolahan minyak bumi. Ada berbagai macam proses,
misalnya proses persiapan, pemisahan, perekahan (cracking), pembentukan (reforming), dsb. Pada
tahap persiapan terjadi pemurnian dari impurities (sulfur, garam, dll) yang bisa mengganggu
proses pada refinery. Selanjutnya pemisahan dilakukan melalui proses distilasi dimana minyak
mentah diuapkan lalu dipisahkan menjadi fraksi-fraksi tertentu. Lalu ada juga proses cracking
dimana rantai karbon panjang diputus untuk menghasilkan rantai karbon yang lebih pendek,
sedangkan pada reforming terjadi penyusunan ulang struktur karbon, misalnya membentuk
25
Universitas Indonesia

TUGAS PENGOLAHAN MINYAK BUMI 2014


struktur rantai lurus menjadi rantai bercabang untuk menghasilkan gasoline dengan kualitas lebih
baik (nilai oktan yang tinggi). Pembahasan secara lebih spesifik mengenai proses pada kilang
dijelaskan sebagai berikut.

A. PROSES-PROSES UTAMA DI REFINERY UNIT


Secara umum terdapat 6 proses utama dalam Refinery Unit, mulai dari persiapan, pemisahan,
treating, konversi, perbaikan kualitas maupun proses lainnya seperti polimerisasi dan isomerisasi.
1. Persiapan
Unit proses : Desalter
Tujuan proses : Menurunkan water, menurunkan kadar garam
Proses desalting merupakan proses penghilangan garam yang dilakukan dengan cara
mencampurkan minyak mentah dengan air, tujuannya adalah untuk melarutkan zat-zat mineral
yang larut dalam air. Pada proses ini juga ditambahkan asam dan basa dengan tujuan untuk
menghilangkan senyawa-senyawa selain hidrokarbon. Setelah melalui proses desalting, maka
selanjutnya minyak akan menjalani proses distilasi.
Proses desalting dilakukan untuk mencegah korosi pipa-pipa minyak dan mencegah
tersumbatnya lubang-lubang di menara fraksinasi. Setelah minyak mentah mengalami proses
desalting selanjutnya dialirkan ke tangki pemanas untuk menguapkan minyak mentah dan
kemudian dialirkan dalam kolom distilasi.
2. Pemisahan
Unit proses : Crude Distilling Unit (CDU), High Vakum Unit (HVU)
Tujuan proses : Pemisahan primer berdasarkan titik didih
Minyak mentah yang telah melalui proses desalting kemudian diolah lebih lanjut dengan
proses distilasi bertingkat, yaitu cara pemisahan campuran berdasar perbedaan titik didih. Fraksifraksi yang diperoleh dari proses distilasi bertingkat ini adalah campuran hidrokarbon yang
mendidih pada interval (range) suhu tertentu. Proses distilasi bertingkat dan fraksi yang dihasilkan
dari distilasi bertingkat digambarkan melalui gambar 1 berikut.

26
Universitas Indonesia

TUGAS PENGOLAHAN MINYAK BUMI 2014

Gambar 5. Distilasi atmosferik

Diagram menara fraksionasi (distilasi bertingkat) untuk penyulingan minyak bumi.


Pandangan irisan menunjukkan bagaimana fasa uap dan cairan dijaga agar selalu kontak satu sama
lain, sehingga pengembunan dan penyulingan berlangsung menyeluruh sepanjang kolom.
Selain distilasi atmosferik, juga terdapat distilasi vakum yang merupakan proses distilasi
lanjutan untuk mengolah residu dari distilasi atmosferik yang jumlahnya mencapai 60% dari total
feed. Pada distilasi vakum beroperasi pada tekanan dibawah 1 atm untuk menurunkan tekanan uap
sehingga fraksi minyak berat yang sulit terfraksinasi bisa menguap pada dan terfraksinasi. Fraksifraksi yang didapatkan setelah proses distilasi selanjutnya diolah lebih lanjut dengan proses
reforming, polimerisasi, treating, dan blending.
3. Treating
Unit proses : Hydrotreating dan demetalisasi (HDS, ARHDM, DHDT), Amine Absorber
Tujuan proses : Pemurnian

4. Konversi
Unit proses : Hydrocracker, Fluid Catalytic Cracking (FCC), RFCC, Delayed Coker, Visbreaker,
Platforming, H2 Plant
Tujuan proses : Pembentukan / reforming

27
Universitas Indonesia

TUGAS PENGOLAHAN MINYAK BUMI 2014


5. Perbaikan kualitas
Unit proses : Hydrotreater (HDS)
Tujuan proses : perbaikan kualitas

6. Proses-proses lain
Unit proses : Polimerisasi, isomerisasi, MDU
Tujuan proses : Polimerisasi, aromatisasi, filtrasi

B. REFORMING
Reforming merupakan proses penataan ulang struktur molekul hidrokarbon dari nafta dan parafin
menjadi aromatik dan isoparafin dengan angka oktan tinggi. Proses ini bertujuan untuk merubah
bentuk molekul bensin yang bermutu kurang baik (rantai karbon lurus) menjadi bensin dengan
mutu tinggi (rantai karbon bercabang).
Terdapat tiga macam proses reforming, yaitu isomerisasi, hydrocracking dan dehidrogenasi yang
akan diurai lebih detil sebagai berikut :
1. Isomerisasi
Isomerisasi merupakan proses pembentukan isomer. Terdapat 2 macam isomerisasi pada
pengolahan minyak bumi, yaitu isomerisasi normal parafin menjadi isoparafin dan isomerisasi
alkilsiklopentana menjadi siklopentana.
a. Isomerisasi normal parafin menjadi isoparafin.

b. Isomerisasi alkilsiklopentana menjadi siklopentana, ditambah konversi lanjutan menjadi


benzena. Yield isomerisasi akan meningkat seiring dengan suhu tinggi, kecepatan ruang
rendah, dan tekanan rendah.

28
Universitas Indonesia

TUGAS PENGOLAHAN MINYAK BUMI 2014

2. Hydrocracking
Hydrocracking merupakan proses mengubah umpan berupa minyak berat menjadi produkproduk minyak yang lebih ringan dengan kehadiran hydrogen dengan bantuan katalis dan
menggunakan tekanan tinggi dan temperatur medium. Proses ini melibatkan perekahan dan
penjenuhan parafin, dilakukan pada bagian akhir reaktor karena reaksi berjalan relatif lambat.
Tujuan dari proses ini adalah untuk mengkonversi residual material (middle boiling point) menjadi
hidrokarbon kualitas yang lebih tinggi seperti gasoline bernilai oktan tinggi, jet fuel, dan high
grade fuel oil.
Tabel 13. Umpan dan produk yang dihasilkan dari proses hydrocracking
Feed

Products

Kerosine

Naphta

Straight-run diesel

Naphta and/or jet fuel

Atmospheric gas oil

Naphta, jet fuel and/or diesel

Vacuum gas oil

Naphta, jet fuel, diesel, tube oil

FCC LCO

Naphta

FCC HCO

Naphta and/or distillates

Coker LCGO

Naphta and/or distillates

Coker HGCO

Naphta and/or distillates

Tabel 14. Perbedaan antara catalytic cracking dan hydrocracking


Kondisi

Catalytic Cracking

Hydrocracking
29
Universitas Indonesia

TUGAS PENGOLAHAN MINYAK BUMI 2014


Umpan

Atmospheric dan

Naphtha atau distillates

(Feedstock)

vacuum gas oil

(kerosene atau diesel)

Kondisi Operasi

Temperatur reaktor

Suhu (T)

rata-rata 870-950 oF

Tekanan reaktor(P): 100-200

: 350-450 oC

kg/cm2
Katalis

Zeolite

Zeolite

Reaksi

Endotermis

Eksotermis

Produk Utama

Gasoline

Gasoline and jet fuel

Reaksi yang terjadi pada proses hydrocracking yaitu :


Reaksi utama :

Hydrogenasi PNA (Poly Nucleic Aromatic)

Ring opening dan pemisahan rantai samping

Reaksi cracking paraffine


Reaksi lain:

Isomerisasi (Senyawa cincin, rantai samping, paraffine)

Penjenuhan olefin

Penghilangan sulfur, nitrogen, oksigen

Konversi polynaphthene dan PNA

Akumulasi parafin di unconverted oil/UCO

30
Universitas Indonesia

TUGAS PENGOLAHAN MINYAK BUMI 2014

Gambar 6. Urutan reaksi Hydrocracking pada reaktor hydrocrakcer

3. Dehidrogenasi
Dehidrogenasi merupakan proses refining yang sangat bersifat endotermis dan dapat
menurunkan suhu reaksi ketika proses berlangsung, juga memiliki laju reaksi yang paling tinggi
dalam proses reforming. Tujuan dari proses ini adalah untuk menghilangkan Hidrogen (H2) agar
menghasilkan hidrokarbon dengan kualitas yang lebih baik/meningkatkan nilai oktan.
Terdapat 3 macam reaksi dehidrogenasi, antara lain :

Dehidrogenasi alkilsikloheksana menjadi aromatik.


Contoh: Dehidrogenasi Metilsikloheksana

Dehidroisomerisasi alkilsiklopentana menjadi aromatik


Contoh: Dehidroisomerisasi Metilsiklopentana

Dehidrosiklisasi parafin menjadi aromatik.


31
Universitas Indonesia

TUGAS PENGOLAHAN MINYAK BUMI 2014


Contoh: Dehidrosiklisasi n-Heptane

C. PRODUK-PRODUK KILANG PERTAMINA


Pada pengilangan minyak bumi akan dihasilkan berbagai macam produk, misalnya bahan
bakar (avtur, premium, pertamax, diesel, kerosene), minyak pelumas (lubricating oil), aspal serta
berbagai macam produk turunan lainnya untuk industri petrokimia. Berikut ini berbagai macam
produk yang dihasilkan dari kilang Pertamina :

Produk non-BBM
1. LPG
Merupakan gas ringan yaitu C3 dan C4 yang terasosiasi bersama minyak bumi. Produk ini
biasa digunakan untuk konsumsi rumah tangga sebagai bahan bakar untuk memasak.

2. Naphtha
Nafta (bensin berat) nafta adalah fraksi minyak bumi yang diperoleh sebagai destilat
pada suhu 1400-1800 guna nafta : bahan penambah pada bensin, bahan baku pembuatan etilen
dan senyawa aromatik

3. Aspal
Aspal diproduksi oleh Kilang LOC I/II/III, dihasilkan oleh jenis Crude Oil jenis Asphaltic
berbentuk semisolid, bersifat Non Metalik, larut dalam CS2 (Carbon Disulphide), mempunyai sifat
waterproofing dan adhesive. Di Indonesia hanya Pertamina Unit Pengolahan IV Cilacap yang
dapat menghasilkan Asphalt dari minyak bumi. Setelah selesainya proyek Debottlenecking maka
produksi aspal meningkat dari 520 kiloton/tahun menjadi 720 kiloton/tahun. Jenis aspal yang
diproduksi adalah Penetrasi 60/70 dan Penetrasi 80/100.

4. Heavy Aromate
Heavy Aromate adalah produk sampingan yang diproduksi oleh unit Naptha Hydro
Treater. Heavy Aromate digunakan sebagai bahan solvent.

32
Universitas Indonesia

TUGAS PENGOLAHAN MINYAK BUMI 2014


5. Lude Base Oil
Lube Base Oil adalah bahan baku pelumas atau disebut pelumas dasar, diproduksi oleh
MEK Dewaxing Unit (MDU) I, II, dan III dalam bentuk cair. Lube Base oil digunakan sebagai
bahan baku minyak pelumas berbagai jenis permesinan baik berat maupun ringan. Selain itu lube
base oil juga digunakan untuk bahan kosmetika.

6. Low Sulphur Waxy Residue (LSWR)


Low Sulphur Waxy Residue (LSWR) merupakan bottom produk dari Crude Distilling Unit
(FOC II). LSWR digunakan sebagai bahan baku untuk diproses lebih lanjut menjadi berbagai
produk BBM dan NBM, disamping dapat dimanfaatkan sebagai minyak bakar untuk pemanas di
negara-negara bersuhu dingin.

7. Minarex (Pertamina Extract)


Seperti telah diketahui bahwa crude oil (minyak mentah /minyak bumi), dapat
menghasilkan bermacam jenis produk, tidak hanya produk BBM tetapi juga produk non BBM
serta produk petrokimia.
Proses ekstraksi dari LOC I,II&III tidak hanya menghasilkan base oil, parafinic, asphalt
dan IFO (Industrial Fuel Oil), tetapi juga menghasilkan produk hasil ekstraksi yang diberi nama
Minarex (Pertamina Extract). Minarex dapat digunakan untuk proses industri pada industri karet
seperti ban dan tinta cetak, karena dapat memperbaiki proses pelunakan dan pemekaran karet dan
menurunkan kekentalan komponen karet.

8. Parafinic Oil
Paraffinic oil adalah proccessing oil dari jenis Paraffinic dengan komposisi Paraffinic
Hydrocarbon, Nepthenic, dan sedikit Aromatic Hydrocarbon. Paraffinic oil pada umumnya
digunakan sebagai proccessing oil pada produk karet yang berwarna terang yaitu sebagai :

bahan kimia pembantu pada industri penghasil barang karet seperti ban kendaraan bermotor,
tali kipas, suku cadang kendaraan.

proccessing oil dan extender untuk polymer karet alam dan karet sintesis.

base oil untuk tinta cetak.

33
Universitas Indonesia

TUGAS PENGOLAHAN MINYAK BUMI 2014


9. Toluene
Toluene diproduksi dalam bentuk cair. Toluene digunakan sebagai bahan baku TNT,
solvent, pewarna, pembuat resin. Juga untuk bahan parfum, pembuat plasticizer dan obat-obatan.

Produk BBM (Bahan Bakar Minyak)


1. Bensin Premium
Premium adalah bahan bakar minyak jenis distilat berwarna kekuningan yang jernih.
Warna kuning tersebut akibat adanya zat pewarna tambahan (dye). Penggunaan premium pada
umumnya adalah untuk bahan bakar kendaraan bermotor bermesin bensin, seperti : mobil, sepeda
motor, motor tempel dan lain-lain. Bahan bakar ini sering juga disebut motor gasoline atau petrol.

2. Solar/Gasoil (HSD: High Speed Diesel)


Minyak solar adalah bahan bakar jenis distilat berwarna kuning kecoklatan yang jernih.
Penggunaan minyak solar pada umumnya adalah untuk bahan bakar pada semua jenis mesin diesel
dengan putaran tinggi (diatas 1.000 RPM), yang juga dapat dipergunakan sebagai bahan bakar
pada pembakaran langsung dalam dapur-dapur kecil, yang terutama diinginkan pembakaran yang
bersih. Minyak solar ini biasa disebut juga Gas Oil, Automotive Diesel Oil, High Speed Diesel.

3. Avtur/Avgas
Digunakan sebagai bahan bakar pesawat

4. Kerosene
Minyak tanah atau kerosene merupakan bagian dari minyak mentah yang memiliki titik
didih antara 150 C dan 300 C dan tidak berwarna. Digunakan selama bertahun-tahun sebagai
alat bantu penerangan, memasak, water heating, dll yang umumnya merupakan pemakaian
domestik (rumahan).

5. IDF (Industrial Diesel Fuel)

34
Universitas Indonesia

TUGAS PENGOLAHAN MINYAK BUMI 2014


Minyak Diesel adalah hasil penyulingan minyak yang berwarna hitam yang berbentuk cair
pada temperature rendah. Biasanya memiliki kandungan sulfur yang rendah dan dapat diterima
oleh Medium Speed Diesel Engine di sektor industri. Oleh karena itulah, diesel oil disebut juga
Industrial Diesel Oil (IDO) atau Marine Diesel Fuel (MDF).

6. IFO (Industrial Fuel Oil)


Sebuah campuran bahan bakar minyak gasoil dan berat, dengan gasoil kurang dari
minyak diesel laut. Daftar kilang serta umpan dan produk pada Kilang Pertamina dijelaskan
melalui tabel 4 berikut ini.
Tabel 17. Umpan dan produk yang dihasilkan dari kilang Pertamina
Kilang Minyak
Kilang Dumai / S. Pakning
(RU II)

Kilang Plaju (RU III)

Kilang Cilacap (RU IV)

Unit Proses

Umpan

Produk

CDU
HVU
H. Cracker
D. Coker
Platformer

Minas
Duri
Lirik
Pedada
Selat Panjang

CDU
HVU
FCCU
Poly Propylene
PTA

SPD
TAP
Ramba/Kuang
Jene
Lalang
SLC
Geragai
Mixed SPD/TAP
Mixed Crude
Klamono
Bula
Arabian Light Crude 11,51
Mixed crude 235, 39

Fuel Comp I & II


Lube-Oil Plant I, II, III
Asphalt Plant
Paraxylene Plant

LPG
Mogas
Avtur
Kerosene
ADO
IDO/MDF
IFO/MFO
LSWR
Coke
LPG
Mogas
Avigas
Kerosene
Avtur
ADO
Diesel Oil
Fuel Oil
SLWR
Solvent
RAW PP
LPG
Gasoline
Kerosene
ADO/IDO
IFO/MFO
35

Universitas Indonesia

TUGAS PENGOLAHAN MINYAK BUMI 2014

Kilang Balikpapan (RU V)

Kilang Balongan (RU VI)

Kilang Kasim (RU VII)

CDU
HVU
H. Cracker
Platformer
Wax Plant

Bekapai/Handil 61,25
Badak/Waluyo
Mixed Crude 210,96

CDU
ARHDM
RCC Complex
Propylene Rec.
LNG Plant

Duri
Minas

Crude oil 8,96


Light slop 0.11

HVI 60
HVI 160
HVI 650
Minarex
Slack Wax
LPG
Heavy Naphtha
Premium
Kerosene
Avtur
ADO
IDO/MDF
Wax
Food Oil
POD
LSWR
LPG
Propylene
Premium
Pertamax
Kerosene
ADO
IDO/MDF
MFO
Decand Oil
Sulfur
Light Naphtha
Premium
Reformate
ADO
Residu

REFERENSI
Ramadhani, Adhe Surya. Pengolahan Minyak Bumi. http://www.planetkimia.com/2012/
10/pengolahan-minyak-mentah/. (diakses pada 24 Maret 2014)
Nasution. Materi Presentasi Kilang Minyak Pertamina.
36
Universitas Indonesia

TUGAS PENGOLAHAN MINYAK BUMI 2014

37
Universitas Indonesia