Anda di halaman 1dari 3

HASIL DAN PEMBAHASAN

Adanya bahan-bahan aktif berupa tanin, saponin dan flavonoid yang terkandung sebagai
antibakteri pada daun kersen (Muntingia calabura L.) dengan pelarut etanol berperan utama
dalam menghambat pertumbuhan maupun membunuh bakteri Streptococcus agalactiae. Menurut
Hamdiyati dkk (2009) flavonoid memiliki sifat lipofilik sehingga dimungkinkan akan merusak
membran sel bakteri.

Flavonoid dapat berefek antibakteri melalui kemampuan untuk

membentuk kompleks dengan protein ekstraseluler dan protein yang dapat larut dengan dinding
sel bakteri (Ardanurdin dkk., 2004). Menurut Noorhamdani dkk (2012) kemampuan yang
dimiliki flavonoid dalam memberikan efek antibakteri antara lain dengan menghambat fungsi
membran sitoplasma, menghambat sintesis asam nukleat, dan menghambat aktivitas antibakteri
dengan jalan menghambat metabolisme energi, flavonoid menghambat konsumsi oksigen dengan
jalan mengganggu rantai transport elektron respirasi.
Aktivitas senyawa antibakteri terhadap mikroorganisme dapat disebabkan oleh beberapa
faktor antara lain gangguan pada senyawa penyusun dinding sel, peningkatan permeabilitas
membran sel yang dapat menyebabkan kehilangan komponen penyusun sel, menginaktivasi
enzim, dan destruksi atau kerusakan fungsi material genetik (Melki dkk., 2012).
1. Hand sanitizer yang menggunakan triclosan
Hand sanitizer yang ada saat ini memiliki berbagai macam zat yang terkandung,
yaitualkohol 60-95%, benzalkonium chloride, benzethonium chloride, chlorhexidine,
gluconatee, chloroxylenolf, clofucarbang, hexachloropheneh, hexylresocarcinol, iodine.
( Benjamin, 2010). Menurut CDC (Center for Disease Control) hand sanitizer terbagi
menjadi dua yaitu mengandung alkohol dan tidak mengandung alkohol. Hand sanitizer
dengan kandungan alcohol antara 60- 95 % memiliki efek anti mikroba yang baik
dibandingkan dengan tanpa kandungan alkohol. ( CDC, 2009)
Hand sanitizer memiliki kelebihan pada tingkat kenyamanan, terutama bagi orang tua.
Saat harus mengganti popok si kecil di tempat umum dan tak ada air serta sabun untuk
membasuh tangan, hand sanitizer bisa menjadi dewa penolong. Belum lagi kandungan
moisturizer yang akan menjaga tangan Anda tetap halus dan lembut setelah pemakaian (Salha
dan Afraa, 2012).

Namun dibalik semua kelebihan itu, penggunaan cairan pembersih tangan ini bisa
sangat berbahaya bagi anak-anak. Beberapa kasus yang pernah terjadi, anak-anak keracunan
hand sanitizer karena mereka tergoda untuk menjilatnya. Padahal, kandungan alkohol di
dalamnya sangat tinggi yakni di atas 60%. Artinya, penggunaan hand sanitizer pada anak
harus dalam pengawasan orang dewasa. Pastikan sanitizer benar-benar kering dan menguap
dari tangan buah hati sebelum ia menyentuh apapun, terutama makanan (Larson, 2005).
2. Antiseptik dari ekstrak daun kersen
Hasil analisis ragam menunjukkan bahwa perlakuan ekstrak etanol daun kersen
memberikan pengaruh yang berbeda nyata (P<0,05) dalam menghambat pertumbunan
bakteri. Hal tersebut disebabkan adanya senyawa flavonoid, saponin dan tanin dari daun
kersen yang dapat menghambat aktivitas bakteri (Zakaria et al., 2010). Aktifitas antibakteri
sendiri dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu pH, lingkungan, komponen pembenihan,
stabilitas zat aktif, besarnya inokulum, masa pengeraman dan aktifitas metabolis bakteri
(Maharti, 2007).
Senyawa flavonoid yang terdapat dalam ekstrak daun kersen termasuk auron, flavonol,
dan flavon (Arum dkk., 2012). Senyawa flavonoid pada umumnya mudah larut dalam air,
terutama bentuk glikosidanya. Oleh karena itu, senyawa ini banyak ditemukan dalam ekstrak
air tumbuhan (Robinson, 1991 dalam Rahyomi, 2008).
Saponin merupakan senyawa aktif berbentuk busa yang stabil bila ditambahkan asam
klorida satu persen (Poeloengan dkk., 2012). Saponin tergolong senyawa antibakteri karena
memiliki kemampuan dalam menekan pertumbuhan bakteri (Arabski, Wasik, Dworecki dan
Kaca (2009) dan Karlina et al. (2013).
Tanin juga memiliki kemampuan menghambat pertumbuhan bakteri dengan cara
menginaktivasi enzim. Kelangsungan aktivitas bakteri tergantung pada kerja enzim. Apabila
kerja enzim terganggu, otomastis enzim akan membutuhkan energi dalam jumlah yang
relative besar untuk aktivitasnya, sehingga memungkinkan energi untuk pertumbuhan bakteri
menjadi berkurang. Apabila hal tersebut berlangsung lama maka aktivitas bakteri akan
terhambat dan lisis bahkan inaktif (Santoso, Soemardini dan Rusmayanti 2013). Adanya
ketiga senyawa (flavonoid, saponin, tanin) tersebut, maka ekstrak daun kersen dapat
digunakan sebagai alternatif antiseptik alami.
3. Pebedaan mencuci tangan dengan menggunakan hand sanitizer triclosan dengan
ekstrak etanol daun kersen
a. Hand sanitizer triclosan

Lama pemakaian adalah 2 minggu. Ibu jari ditempelkan pada agar darah sebelum
dan sesudah perlakuan. Hasil rata-rata angka kuman sebelum cuci tangan adalah 33,48
dan setelah menggunakan hand sanitizer adalah 34,47. Analisis hasil dengan
menggunakan uji t berpasangan menunjukkan hasil yang tidak bermakna (p>0,05),
dengan demikian tidak terdapat perbedaan yang bermakna antara sebelum cuci tangan
dan setelah menggunakan hand sanitizer Triclosan (Rachmawati dan Triyana, 2008).
b. Ekstrak daun kersen
Probandus yang memenuhi kriteria inklusi diminta untuk menempelkan salah satu
ibu jari tangannya ke agar darah yang diberi tulisan SEBELUM kemudian probandus
diminta cuci tangan dengan antiseptik etanol (tanpa air) dan ditempelkan ke agar darah
yang diberi tanda SESUDAH selanjutnya diinkubasi selama 18-24 jam. Hasil rata-rata
angka kuman sebelum cuci tangan adalah 23,26 dan setelah cuci tangan dengan ekstrak
etanol daun kersen adalah 2,66. Analisis hasil dengan menggunakan uji t berpasangan
menunjukkan hasil yang bermakna (p<0,01), dengan demikian terdapat perbedaan yang
bermakna antara sebelum dan sesudah cuci tangan menggunakan ekstrak etanol daun
kersen (Rachmawati dan Triyana, 2008).