Anda di halaman 1dari 5

Pemilu 2014 :

Meningkatnya Partisipasi Politik Rakyat Indonesia Dalam Pemilu 2014


Menurut Budiardjo (2008) partisipasi politik di maknai sebagai :
Kegiatan seseorang atau kelompok orang untuk ikut serta secara aktif dalam
kehidupan politik, yaitu dengan jalan memilih pimpinan Negara dan secara
langsung atau tidak langsung, mempengaruhi kebijakan Pemerintah (public
policy). Kegiatan ini mencakup tindakan seperti memberikan suara dalam
pemilihan umum menghadiri rapat umum, menjadi anggota suatu partai atau
kelompok kepentingan, mengadakan hubungan (contacting) dengan pejabat
Pemerintah atau anggota parlemen, dan sebagainya.
Dari penjelasan diatas dapat diketahui bahwa salah satu bentuk partisipasi politik
yang dilakukan oleh warga negara adalah keikutsertaan dalam pemilihan umum baik itu
untuk memberikan suara ataupun ikut mencalonkan diri dalam pemilu. Pada pemilu
tahun 2014 diketahui bahwa tingkat partisipasi pemilih mencapai 75%. Angka tersebut
meningkat 5% dibandingkan pemilu 2009 yang hanya mencapai 70% tetapi masih kalah
dengan tingkat partisipasi pemilih pada tahun 2014 yang sebesar 80 %. Tetapi jika
dilihat dari jumlah surat suara sah pada pemilu 2014 yang sebesar 124.972.491 dan
jumlah pemilih yang menggunakan hak suaranya adalah 140.090.586 maka persentase
suara sah sebesar 89 persen. (http://www.rumahpemilu.com)
Jika merujuk hasil tersebut diketahui bahwa tingkat partisipasi politik rakyat
Indonesia meningkat. Hal terebut mengindikasikan bahwa rakyat saat ini sudah mulai
mau mengikuti dan memahami tentang arti pentingnya keterlibatan mereka dalam
proses pemilu. Rakyat secara sukarela mau ikut serta dalam proses pemilihan umum
untuk memilih para pejabat publik yang akan mewakili suara mereka selama 5 tahun
kedepan.

Uji Kompetensi Dasar I Mata Kuliah Pengantar Ilmu Politik

Pilpres 2014 :
Koalisi Partai Dalam Pilpres 2014
Sesuai dengan UU No 42 Tahun 2008 pasal 9 tentang Pemilihan Umum Presiden
dan Wakil Presiden yang menyebutkan bahwa:
Pasangan Calon diusulkan oleh Partai Politik atau Gabungan Partai Politik
peserta pemilu yang memenuhi persyaratan perolehan kursi paling sedikit 20%
(dua puluh persen) dari jumlah kursi DPR atau memperoleh 25% (dua puluh lima
persen) dari suara sah nasional dalam Pemilu anggota DPR, sebelum pelaksanaan
Pemilu Presiden dan Wakil Presiden.
Hal tersebutlah yang memaksa partai-partai politik untuk melakukan koalisi demi
mengajukan capres dan cawapresnya masing-masing, karena tidak ada satu pun partai
yang memperoleh 20% kursi DPR maupun 25% suara nasional bahkan partai yang
memenangkan Pemilu yaitu PDIP hanya memperoleh 18,95 % suara nasional saja.
Maka dari itu pada penyelenggaraan Pemilihan Presiden (Pilpres) 2014 terbentuk dua
kolasi partai yang sama kuatnya. Koalis pertama adalah Koalisi Merah Putih (KMP)
yang terdiri dari Partai Gerindra, Golkar, PAN, PKS, PPP dan PBB yang memperoleh
sekitar 48,93% suara nasional. Selanjutnya Koalisi yang kedua adalah Koalisi Indonesia
Hebat (KIH) yang terdiri dari Partai PDIP, Hanura, Nasdem, PKB dan PKPI yang
memperoleh sekitar 40,88% suara nasional. Masih ada satu partai yang pada pilpres
menyatakan diri netral tetapi pada akhir-akhir ini lebih condong mendukung Koalisi
Merah Putih yaitu Partai Demokrat.
Secara konstitusional koalisi tersebut sebenarnya hanyalah merupakan persyaratan
untuk mengajukan pasangan calon Presiden dan wakil Presiden sesuai apa yang telah
diatur dalam UU No 42 Tahun 2008. Selain itu koalisi dalam prakteknya di Indonesia
bisa bermanfaat untuk membangun pemerintahan yang kuat dan stabil. Jika suatu
pemerintahan terpilih didukung oleh koalisi partai yang kuat maka akan membuat
jalannya pemerintahan menjadi stabil dan juga setiap kebijakan yang dibuat akan bisa
mudah disetujui oleh parlemen. Tetapi jika koalisi yang kuat tersebut tidak dikelola
dengan baik akan membuat pemerintahan menjadi tidak stabil karena partai-partai yang
ikut koalisi hanya ingin memperjuangkan kepentingan masing-masing. Selain itu jika
pemerintahan terpilih tidak didukung dengan koalisi partai yang kuat akan
menyebabkan pemerintahan yang berjalan menemui banyak hambatan dan kebijakan
yang dibuat akan banyak yang terganjal oleh parlemen.

Uji Kompetensi Dasar I Mata Kuliah Pengantar Ilmu Politik

Penyusunan Kabinet Jokowi-JK :


Akomodasi Kepentingan Politik Pada Penyusunan Kabinet
Pembentukan kabinet merupakan salah satu tugas yang harus dilaksanakan dalam
waktu dekat oleh Presiden terpilih. Penentuan jumlah dan komposisi kabinet merupakan
hak prerogratif presiden, dimana Presiden memiliki kekuasaan untuk mengangkat dan
memberhentikan menteri. Hal ini lah yang saat ini sedang dilaksanakan oleh Presiden
dan Wakil Presiden terpilih yaitu Jokowi-JK. Pada janjinya kabinet yang akan dibentuk
adalah kabinet yang berisi kalangan profesional, tetapi pada kenyataannya susunan
kabinet yang berjumlah 34 kementerian hanya di isi 18 menteri yang berasal dari
kalangan profesional dan 16 menteri yang berasal dari partai politik pendukungnya.
Berkaitan dengan penyusunan kabinet tersebut memang wajar jika hal tersebut
terjadi. Presiden terpilih tetap harus mempertimbangkan keberadaan partai-partai politik
pendukungnya. Karena dia tidak bisa terpilih jika tidak mendapatkan dukungan dari
partai-partai tersebut. Maka dari itu seorang Presiden akan mengakomodasi keinginan
partai-partai politik tersebut agar kedepannya stabilitas pemerintahannya bisa terwujud.
Hal ini juga sesuai dengan pendapat dari Hanta Yudha (2010: 216), yang menyatakan
bahwa:
Koalisi dilakukan Presiden untuk mendapatkan dukungan politik di parlemen
untuk menjaga stabilitas pemerintahan. Dukungan partai politik di parlemen
terhadap pemerintahan tentunya tidak gratis. Presiden terpaksa harus
mengakomodasi kepentingan partai politik. Akomodasi politik Presiden terhadap
partai politik biasanya melalui jatah pos menteri di kabinet. Kabinet akan
didominasi para pengurus dan kader partai politik.
Meskipun dalam penyusunan kabinet tetap mengakomodasi kepentingan partai
politik, tetapi perlu diperhatikan bahwa ada ketentuan yang menyebutkan bahwa
seseorang yang akan diangkat menjadi menteri dan masuk dalam kabinet Presiden
terpilih haruslah memiliki integritas dan kepribadian yang baik selama perjalanan
karirnya. Maka dari itu penting sekali diadakan fit and proper test terhadap setiap
kandidat menteri yang akan duduk dalam kabinet. Dengan dilakukannya fit and proper
Test

tersebut akan bisa diketahui seberapa pantaskah orang tersebut duduk dalam

jabatan menteri.

Uji Kompetensi Dasar I Mata Kuliah Pengantar Ilmu Politik

Pembahasan RUU Pilkada :


Penolakan Pembahasan RUU Pilkada
Didalam rancangan RUU Pilkada dijelaskan bahwa pemilihan gubernur/wakil
gubernur, bupati/wakil bupati dan walikota/wakil walikota melalui lembaga perwakilan
yang dilakukan oleh DPRD Provinsi dan DPRD Kabupaten/Kota. Penjelasan tersebut
memperlihatkan kedudukan DPRD sebagai penentu seluruh tahapan dalam pemilihan
Kepala Daerah. Sebab dari mulai proses pencalonan, pengujian calon, penyampaian visi
dan misi, pemilihan calon hingga ditetapkan menjadi Kepala Daerah sepenuhnya berada
di tangan DPRD. Praktek Pilkada tidak langsung tersebut tentu saja merupakan
kemunduran karena pada dasarnya diberlakukannya Pilkada langsung merupakan
koreksi terhadap sistem demokrasi tidak langsung (perwakilan) di era sebelumnya. Hal
tersebut sesuai dengan pendapat J. Prihatmoko (2003) dalam Abdul Hakim (2011:61)
menyatakan bahwa:
Ide atau gagasan pilkada langsung muncul sebagai reaksi atas penyimpanganpenyimpangan demokrasi dalam pilkada perwakilan oleh DPRD 5 tahun terakhir.
Keprihatinan dan kekecewaan terhadap praktik pilkada menurut UU No. 22 Tahun
1999 dan PP No. 151/2000 tersebut disebabkan oleh dua isu krusial, yakni
maraknya politik uang (money politcs) dan campur tangan (intervensi) pengurus
politik ditingkat lokal maupun pusat
Pilkada secara tidak langsung hanya membuat hilangnya legitimasi dari Kepala
Daerah tersebut. Rakyat pasti tidak akan percaya dengan pemerintahan yang ada, karena
rakyat menilai bahwa yang menjadi Kepala Daerah tersebut hanya kepanjangan tangan
dari elite-elite politik yang berkuasa. Rakyat hanya dibiarkan menjadi penonton dan
tidak diberikan akses untuk ikut memilih pemimpin di daerahnya sendiri.
Selain itu jika Pilkada dikembalikan lagi kepada DPRD, para calon kepala daerah
yang akan mencalonkan diri dalam pemilihan Kepala Daerah tentu saja akan melakukan
berbagai tindakan pendekatan seperti praktek-praktek penyuapan kepada anggotaanggota DPRD agar melancarkan calon tersebut menduduki jabatan Kepala Daerah. Hal
tersebut hanya akan menyebabkan terjadinya dominasi kekuasaan oleh elite-elite politik.
Para elite politik yang memiliki modal dan koneksi terhadap DPRD akan mudah untuk
terus menjabat sebagai Kepala Daerah. Sehingga pada akhirnya tidak akan muncul lagi
regenerasi pemimpin yang berkualitas, berkompeten, berasal dari rakyat dan benarbenar ingin berjuang untuk rakyat seperti Tri Rismaningsih, Ahok, Ridwan Kamil, dll.
Uji Kompetensi Dasar I Mata Kuliah Pengantar Ilmu Politik

DAFTAR PUSTAKA
BBC Indonesia. (2014). Kabinet Jokowi-Jk Utamakan Profesionalitas. Diperoleh Pada
04 Oktober 2014, dari http://www.bbc.co.uk.
Budiardjo, Miriam. (2008). Dasar-Dasar Ilmu Politik. Jakarta: PT Gramedia Pustaka
Utama.
Hakim, Abdul Aziz. (2011). Kejanggalan Impeachment Kepala Daerah diEra
Pemilihan Langsung. Jurnal Hukum, 18, 56-80. Diperoleh pada 04 Oktober
2014, dari http://law.uii.ac.id.
Komisi Pemilihan Umum.(2008). Undang-Undang Nomer 42 Tahun 2008 tentang
Pemilihan Umum Presiden dan Wakil Presiden. Diperoleh Pada 04 Oktober
2014, dari http://www.kpu.go.id.
Sadikin, usep Hasan. (2014). Menilai Kualitas Pemilu 2014. Diperoleh Pada 06 Oktober
2014, dari http://www.rumahpemilu.com.
Yudha A.R, Hanta. (2010). Presidensialisme Setengah Hati : dari dileme ke kompromi.
Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.

Uji Kompetensi Dasar I Mata Kuliah Pengantar Ilmu Politik