Anda di halaman 1dari 13

3) Faktor Pembentuk Tanah

Di dalam buku yang ditulis oleh Jenny (1941) Factors of Soil Formation
disampaikan hipotesis yang menggambarkan gagasan-gagasan tentarig pembentukan
tanah, yang bersumber pada penelitian terdahulu yang dilakukan oleh Dokuchaev dan
pakar-pakar tanah Rusia yang lain (Glinka dan Sibirtzev). Hipotesis tersebut adalah bahwa
tanah terbentuk sebagai hasil interaksi dari banyak faktor, yang paling penting daripadanya
adalah:
Iklim (C)
Organisme (0)
Relief (R)
Bahan induk (P)
Waktu (T)
Cara penghampiran di atas, memperlihatkan bahwa faktor pembentuk tanah berperan
sebagai variabel pengendali (control variables), terbebas dari pengaruh tanah yang
dihasilkan, meskipun tidak sepenuhnya bebas satu variable terhadap variabel yang lain.
Jenny kemudian mencoba untuk mentakrifkan hubungan antara sifat/sifat-sifat tanah dengan
faktor pembentuk tanah utama dengan menggunakan persamaan:
S = f(Cl, O, R, P, T ..) .(3.1)
Titik-titik menunjukkan bahwa faktor yang kurang penting seperti perolehan mineral dari
atmosfer, atau perubahan mineralogi akibat kebakaran, dalam kondisi tertentu mungkin
mempengaruhi sifat tanah. Persamaan 3.1. memperlihatkan asumsi bahwa terdapat
hubungan kausal (causal relationship) antara S dan faktor-faktor pembentuk tanah.

Universitas Gadjah Mada

Jenny (1980) mendefinisi ulang faktor-faktor pembentuk tanah sebagai state variables dan
memasukkan sifat-sifat ekosistem, vegetasi dan hewan sebagai faktor yang dapat
mempengaruhi sifat-sifat tanah. Bahan induk dan relief menentukan kondisi awal (initial
state) dalam perkembangan tanah, iklim dan organisme menentukan percepatan
berlangsungnya reaksi kimia dan biologis di dalam tanah, dan waktu menentukan masa
keberlangsungan dari reaksi di atas.
Pemakaian persamaan 3.1 dapat disederhanakan apabila perubahan sifat tanah S hanya
terkait pada satu variabel pengendali, misalnya iklim (climate) sedangkan yang lain tetap
(constant) atau mendekati tetap. Dalam keadaan semacam ini hubungan antara faktor
pembentuk tanah dengan sifat tanah disebut juga climofunction digambarkan dalam
persamaan:
S = f(Cl)o, r, p, t

.(3.2)

Dan deretan tanah yang terbentuk disebut Climosequence. Dengan prinsip yang sama
dikenal Biosequence, Toposequence, Lithosequence, dan Chronosequence.
Istilah toposequence setara dengan konsep catena dari Milne (1935).
3.1) Iklim
Iklim mencakup iklim lokal (iklim mikro) dan iklim global (iklim makro). Komponen
utama iklim dalam hubungannya dengan pembentukan tanah adalah lengas dan temperatur.
3.1.1) Lengas tanah tergantung beberapa faktor:
Pola dan intensitas curah hujan
Keragaman musiman
Kecepatan transpirasi dan evaporasi
Kemiringan lereng
Aspek lereng
Kedalaman jeluk mempan (effective depth)
Tekstur tanah/permeabiitas bahan induk
Cara untuk menentukan rezim lengas tanah adalah dengan perhitungan neraca air (water
balance). Perhitungan ini didasarkan pada pengukuran distribusi hujan, perhitungan
evapotranspirasi potensial, dan penilaian aliran permukaan (surface runoff dan infiltrasi.

Persamaan neraca lengas adalah sbb:


Universitas Gadjah Mada

10

Inflow = Outflow /- cadangan di dalam sistem (3.1.1)


P = ET + SR + I + / - S
Dimana

curah hujan (mm)

ET

evapotranspirasi (mm)

SR

aliran permukaan (runoff) (mm)

infiltrasi (mm)

cadangan lengas tanah (mm)

Evaporasi potensial dapat dihitung dengan persamaan empiris (e.g. Thornwaite) atau
dengan persamaan Penmann-Monteith. Persamaan empiris Thorriwaite menghitung
evaporasi potensial tanpa memperhitungkan temperatur udara. Persamaan PenmannMonteith yang merupakan persamaan penghitungan evaporasi potensial terbaik saat ini,
memungkinkan penghitungan evapotranspirasi dari data meteorologi. Infiltrasi dan runoff
dapat dihitung dengan persamaan empiris seperti Metode Nomor Kurve (Curve Number
Method)(Soil Conservation Service, 1985). Metode ini menghitung infiltrasi dan aliran
permukaan menggunakan data penggunaan lahan dan hidrologi. Terdapat banyak
persamaan yang agak rumit seperti SWAT (Soil and Water Assessment Tool)(Arnold et al.,
1993), WEPP (Water Erosion Prediction Project)(USDA-ARS, 1995), atau OPUS (Smith,
1992), yang menghitung infiltrasi, surface-runoff dan lengas tanah.
Bentuk utama topografi, yaitu kemiringan dan aspek lereng mempunyai pengaruh besar
pada kelengasan tanah. Hal ini pertama kali diungkapkan oleh Beven et al., (1979) dalam
bentuk indeks topografi (CTI~Compound Topographic Index) atau indeks kebasahan
(Wetness

Index).

Persamaan-persamaan

ini

menggambarkan

pengaruh

topografi

(kemiringan dan aspek lereng) terhadap lokasi dan luasan area akumulasi air di dalam
tanah. Indeks kebasahan dihitung sbb:
WT = ln(A/tan b) . (3.1.2)
dimana

wT

indeks kebasahan (wetness index)

luas daerah tangkapan

sudut kemiringan

Secara hidrologi, daerah tangkapan (A) adalah ukuran aliran permukaan (surface runoff)
pada suatu titik tertentu pada bentang lahan, dan merupakan gabungan pengaruh lereng
atasan dan pertemuan (convergence) daerah tangkapan dan pencaran (divergence) aliran.
Indeks kebasahan mencerminkan kecenderungan air untuk terakumulasi pada suatu titik
tertentu pada suatu daerah tangkapan (catchment area ~ A) dan juga sekaligus menunjukan
kecenderungan daya grafitasi untuk memindahkan air ke lereng bawahan (dinyatakan
Universitas Gadjah Mada

11

sebagai tan B. Untuk memperoleh informasi tentang kelengasan tanah Geographic


Information System (GIS) dapat digunakan untuk menghitung indeks kebasahan atas dasar
data Digital Elevation Model (DEM). Lebih lanjut, indeks kebasahan dapat digunakan untuk
mengetahui zona jenuh (zone of saturation) pada studi area dan dengan menggunakan
batas ambang indeks kebasahan maka aliran jenuh dapat ditentukan.
Kedalaman profil tanah juga mempengaruhi kandungan lengas tanah, Profil tanah yang
dalam (tebal) akan mampu menyimpan air dalam jumlah besar, makin tipis profil makin
berkurang kemampuan tanah untuk menyimpan air.
Tekstur tanah juga mempengaruhi kemampuan tanah untuk menyimpan lengas. Tanah
dengan tekstur pasiran, debuan dan lempungan biasanya mempunyai kandungan lengas
rendah, sedang dan tinggi. Hal ini disebabkan perbedaan dalam hal sebaran pori pada
tanah-tanah tersebut. Tanah pasiran mempunyai pori makro ( > 10 mikrometer), tanah
debuan dirajai pori sedang ( 0.2-10 mikrometer), dan tanah lempungan dirajai oleh pori
mikro (< 0.2 mikrometer).
Istilah lengas tanah mengacu pada keberadaan atau ketiadaan salah satu air tanah atau
lengas yang terdapat pada tekanan kurang dari 1500 kPa, di dalam tanah atau pada horizon
tertentu. Lengas tanah yang tertahan pada tekanan 1500 kPa atau lebih tidak cukup untuk
mendukung tanaman kebanyakan tanaman agar tetap hidup.
Kelas-kelas lengas tanah yang ditakrifkan dalam Taksonomi Tanah terdapat dalam Tabel
3.1.
Tabel 3.1. Klasifikasi lengas tanah
Rezim Lengas

Karakteristik

Tanah
Dry (Kering)

Kandungan lengas tanah kurang dari jumlah yang tersedia pada


tekanan 15 atmosfer (1500 kPa ~ titik layu permanen (permanent
wilting point) dalam kebanyakan tahun (6 dari 10 tahun)

Xeric

Terdapat pada tanah di daerah sedang (temperate areas) yang


mempunyai muslin dingin lembab dan musim panas kering
(misalnya daerah iklim mediterranean)

Aridic/Torric

Tanah kering lebih dari setengah waktu dalam satu tahun (zone
iklim arid)

Perudic

Dalam

kebanyakan

tahun

curah

hujan

bulanan

Universitas Gadjah Mada

melebihi
12

evapotranspirasi bulanan (pada tahun yang sama)


Udic

Pada kebanyakan tahun, tanah tidak kering lebih dari 90 hari


berturutan

Ustic

Dalam kebanyakan tahun, tanah kering selama 90 hari berturutan


dan lembab pada salah satu bagian tanah selama setengah hari
dengan suhu tanah di atas 5C (e.g. selama musim tanam)

Aquic

Tanah cukup jenuh, terdapat kondisi tereduksi. Biasanya


mempunyai chroma rendah, berbecak atau terdapat gley pada
horizon bawahan

Bilamana kandungan lengas tanah tinggi, sebagaimana pada daerah iklim humid, akan
timbul gerakan lengas kebawah (downward movement) pada kebanyakan tahun yang
menyebabkan pelindian (leaching) garam-garam terlarutkan tinggi. Pada kondisi ekstrim
garam-garam terlindi ini dapat keluar dari solum dan terjadi translokasi zarah dari horizonhorizon atasan ke horizon bawahan. Pada daerah arid terdapat gerakan lengas ke atas
(upward movement) disebabkan percepatan evapotranspirasi tinggi yang menyebabkan
gerakan keatas dari garam-garam terlarutkan. Akumulasi dari garam-garam ini dapat
tersementasi membentuk padas (pan) yang tak tertembuskan oleh akar dan sangat
menurunkan infiltrasi.
3.1.2. Temperatur
Temperatur beragam tergantung lintang dan ketinggian tempat, dan besarnya
penyerapan serta pemantulan radiasi matahari oleh atmosfer. Radiasi matahari (solar
radiation) meningkat sejalan dengan ketinggian tempat, bervariasi musiman, dan
dipengaruhi oleh awan serta gejala atmosfer lain (misalnya pencemaran udara). Serapan
radiasi matahari pada permukaan tanah dipengaruhi banyak faktor seperti warna tanah dan
vegetasi penutup. Secara umum makin gelap warna tanah makin banyak radiasi diserap.
Pengaruh tanaman penutup terhadap serapan radiasi matahari beragam tergantung
kerapatan, tinggi dan warna vegetasi penutup. Serapan radiasi matahari berbeda pada
vegetasi hutan dan lahan olahan (tanaman semusim). Permukaan tanah yang berwarna
cerah atau keputihan cenderung untuk memantulkan radiasi matahani lebih tinggi.
Suhu mempengaruhi kecepatan pelapukan dan sintesis mineral, dan proses biologis serta
dekomposisi. Pelapukan akan semakin kuat dengan meningkatnya temperatur, itulah
sebabnya pelapukan di daerah tropis lebih kuat dibandingkan dengan daerah sub-tropis.
Temperatur juga mempengaruhi tingkat pembekuan dan pencairan (pelapukan fisik) di
daerah dingin. Proses biologis meningkat dengan meningkatnya temperatur. Kecepatan
Universitas Gadjah Mada

13

reaksi lebih kurang dua kali lipat untuk setiap kenaikan temperatur 10 C. Meskipun demikian
reaksi-reaksi dengan katalis enzim cukup peka terhadap temperatur yang tinggi dan
biasanya optimum pada suhu antara 30-35 C.
Mulai zaman Dokuchaev (1870), banyak pakar pedologi di Eropa dan Amerika Utara
beranggapan bahwa iklim paling dominan dalam pembentukan tanah. Hubungan antara
zona iklim dengan sebaran luas tanah-tanah serupa (sangat mirip) yang tersebar dari timur
ke barat Rusia mengilhami konsep zonal tanah. Tanah zonal adalah tanah dimana faktor
iklim, mempengaruhi tanah sedemikian kuat sehingga menihilkan pengaruh dari faktor-faktor
yang lain. Tanah intrazonal adalah tanah dimana terdapat kelainan lokal dari relief, bahan
induk, atau vegetasi yang cukup kuat untuk memodifikasi pengaruh iklim regional. Tanah
azonal adalah tanah yang belum matang, diferensiasi profil sangat terbatas karena salah
satu, sangat muda atau terdapat salah satu faktor lingkungan menghambat perkembangan
tanah. Di Amerika Serikat konsep zonal digunakan dalam menyusun klasifikasi tanah yang
dipublikasikan dalam USDA Yearbook of Agriculture (Baldwin et al, 1938).

Konsep zonalitas tanah tidak terlalu bermanfaat apabila diaplikasikan pada tanah-tanah
subtropik dan tropik. Di wilayah ini terdapat tanah-tanah yang umumnya jauh lebih tua
dibandingkan dengan tanah-tanah di Eropa, dan sebagai konsekwensinya tanah-tanah ini
telah mengalami beberapa tahapan erosi dan deposisi yang terkait dengan perubahan iklim,
umur tanah dan kedudukan topografi dalam lingkungan bentang darat tertentu. Konsep
tanah zonal juga tidak terlalu bermakna untuk daerah-daerah seperti Skandinavia atau
Universitas Gadjah Mada

14

bagian utara Amerika Serikat dimana bahan induk dari tanah yang ada sekarang sangat
muda dan relief berperan sangat kuat dalam proses pembentukan tanah.

Apabila rezim temperatur mempunyai imbuhan iso, perbedaan rata-rata temperatur tanah
pada musim dan musini dingin kurang dari 5 C pada jeluk (kedalaman dari permukaan) 50
cm.

3.2. Organisme
Tanah dan makhluk di atas dan di dalam tanah membentuk suatu ekosistem khusus.
Komponen aktif dari suatu ekosistem adalah vegetasi, hewan termasuk jasad renik, dan
manusia.
Vegetasi
Spesies tumbuhan yang membentuk koloni pertama pada batuan terlapuk sangat
ditentukan oleh iklim dan bahan induk tetapi pada gilirannya akan sangat menentukan tanah
Universitas Gadjah Mada

15

yang terbentuk. Sebagai contoh dibagian Barat-Tengah USA vegetasi hutan lebth
mendorong percepatan pembentukan tanah dibandingkan dengan vegetasi padang rumput
pada bahan induk yang sama dan iklim yang serupa. Perbedaan komposisi kimiawi dari air
tetesan daun dapat merupakan sebagian sebab dari perbedaan kecepatan pembentukan
tanah. Sebagai contoh seresah masam dari pinus mendorong pembentukan tanah masam
dengan struktur lemah, dimana seresah pohon berdaun lebar mendorong terbentuknya
tanah-tanah dengan struktur yang baik (well-structured soils).
Meso- / Makrofauna
Cacing tanah adalah salah satu yang sangat penting dari hewan pembentuk tanah di
daerah sedang (temperate), didukung oleh berbagai anthropoda kecil serta hewan hewan
penggerek lainnya (e.g. kelinci). Cacing tanah juga penting di daerah tropis tetapi pada
umumnya rayap, semut dan kutu lebih berperan dalam proses pembentukan tanah terutama
di daerah subhumiud sampai semiarid-savanna di Afrika dan Asia.
Mikroorganisme
Bahan organik tanah dikolonisasi oleh berbagai jenis organisme tanah, yang
terpenting adalah mikroorganisme yang memperoleh energi untuk pertumbuhan dan
perombakan/dekomposisi molekul organik. Selama dekomposisi unsur-unsur essensial
diubah dari kombinasi organik menjadi bentuk inorganik sederhana (mineralisasi).
Kebanyakan mikroorganisme terkonsentrasi pada 15-25 cm lapisan teratas karena substrat
C paling banyak tersedia pada jeluk tersebut. Jenis-jenis mikroorganisme tanah terdiri atas
bakteria, actinomycetes, fungi, algae, dan protozoa.
Manusia
Manusia mempengaruhi proses pembentukan tanah melalui pengaruhnya terhadap
vegetasi alami i.g. praktek pertanian, urban dan pengembangan industri. Penggunaan
peralatan mesin-mesin berat mengakibatkan pemampatan tanah dan menurunkan infiltrasi
air ke dalam tanah, yang lebih lanjut meningkatkan aliran permukaan (surface-runoff) dan
erosi. Penggunaan lahan dan pengelolaan spesifik lokasi (e.g. pemakaian pupuk,
pengapuran) juga mempengaruhi proses perkembangan tanah.

3.3. Relief (timbulan)


Gejala topografi utama mudah diketahui di lapangan (e.g. pegunungan, lembah,
perbukitan, dataran banjir). Bentuk topografi (topographic attribute) misalnya lereng, aspek,
daerah tangkapan khusus (specific catchment area) penting dalam pedologi
Universitas Gadjah Mada

16

Topographic

Definition

attnbute
Altitude

Hydrologic significance

Elevation

climate,

vegetation

type,

potential energy
Slope

Gradient

overland and subsurface flow,


velocity and runoff rate

Aspect

Slope azimuth

solar radiation

Catchment area

Area draining to catchment outlet

runoff volume

Specific catchment

Upslope area per unit width of runoff volume


contour

flow path length

maximum distance of water flow erosion rates, sediment yield


to a point in the catchment

Profile curvature

describes the shape of a slope in water


a

downward

direction

flow,

flow

velocity,

and sediment transport processes

indicates the rate of change in (erosion, deposition)


gradient
plan curvature

describes the shape of the slope converging/diverging flow, soil


in a direction perpendicular to the

water content

slope and indicates the rate of


change in gradient

Universitas Gadjah Mada

17

Atas dasar bentuk topografi urisur-unsur bentang darat dapat dipilah-pilahkan. Beberapa
penulis (Hugget, 1975; Pennock et al., 1987; Irvin (1996) mencoba menggambarkan
hubungan antara unsur-unsur bentang darat dengan sifat-sifat tanah dan karakteristik
hidrologi yang juga mempengaruhi genesis tanah. Hugget menggunakan bentuk lereng
(slope shape) untuk menentukan kelas-kelas drainase. Ia menyatakan bahwa pada
umumnya daya hantar hidraulik (hydraulic conductivity) menurun sejalan dengan penurunan
jeluk tanah. Dengan demikian aliran bawah permukaan bervariasi tergantung tebal profil dan
kemiringan lereng. Aliran air yang mengandung bahan terlarut dan tersuspensikan akan
bergerak dari daerah atasan ke lembah di bagian bawahan. Gerakan ini dapat berakibat
terjadinya eluviasi pada daerah atasan dan illuviasi pada bagian bawahan. Penelitian
Pennock et al. (1987) menunjukkan hubungan antara kandungan lengas tanah dan posisi
topografi e.g. punggung (shoulder) < lereng atas (backslope) < lereng bawah. Irvin (1996)
menghubungkan unsur bentang darat dengan sifat-sifat tanah dan berpendapat bahwa pada
umumnya, meningkatnya kemiringan diikuti oleh penurunan:
o

Pelindian (leaching)

Kandungan bahan organik

Translokasi lempung

Pelapukan mineral

Diferensiasi horizon
Universitas Gadjah Mada

18

Ketebalan solum

Bentuk topografi dan vegetasi penutup mempengaruhi lengas tanah lewat pengaruhnya
pada agihan aliran permukaan dan infiltrasi. Tanah dengan lapisan bawahan kedap air dan
tanah yang berkembang pada lereng akan memperlihatkan aliran lateral bawah permukaan
yang cukup besar. Dengan demikian tanah pada bagian atas (lereng atas) akan terdrainase
bebas dengan kedudukan air tanah yang dalam. Sedangkan tanah pada lereng bawahan
dan lembah akan mengalami drainase buruk dengan air tanah dekat pada permukaan.
Urutan pembentukan tanah dibawah kondisi drainase yang berbeda-beda pada bahan induk
yang relatif serupa digambarkan pada Gambar 3.4.
Setiap lereng bukit dengan kemiringan tinggi sangat rentan terhadap transportasi bahan
penyusun tanah. Erosi cenderung lebih tinggi pada permukaan cembung dan terjal
dibandingkan dengan permukaan cekung dengan kemiringan rendah. Tanah pada punggung
perbukitan cenderung lebih tipis karena erosi sedangkan tanah pada lereng bawah dan
lembah cenderung tebal karena deposisi. Transportasi sedimen berbeda tergantung ukuran
partikel. Perpindahan partikel kasar sangat lambat tetapi pertikel yang berukuran seang dan
halus akan teralih tempatkan lebih cepat. Partikel lempung akan membentuk aggregat
dengan bahan organik dan oksida-oksida besi dan aluminium sehingga lebih stabil dan
kurang peka terhadap transport partikel.

Universitas Gadjah Mada

19

Relief juga mempunyai pengaruh kuat terhadap iklim lokal dan vegetasi. Perubahan
ketinggian tempat (elevasi) akan mempengaruhi temperatur (penurunan temperatur 0.5-1 C
untuk setiap kenaikan elevasi 100 m), jumlah curah hujan (presipitasi) dan dengan demikian
mempengaruhi lengas tanah. Saling tindak dari faktor-faktor ini akan sangat mempengaruhi
tipe vegetasi.
3.4. Bahan Induk
Sifat bahan induk mempunyai pengaruh yang sangat menentukan pada sifat-sifat
tanah. Sifat bahan induk yang sangat menonjol pada sifat tanah antara lain adalah tekstur,
komposisi mineralogi, dan tingkat stratifikasi bahan induk. Tanah mungkin terbentuk
langsung lewat pelapukan batuan padu ditempat (tanah residual), saprolit (batuan terlapuk),
atau mungkin juga berkembang dari deposit permukaan (superficial deposits) yang mungkin
telah teralihtempatkan oleh es, air, angin atau gravitasi.
Bahan padu (batuan beku, sedimen) berfungsi sebagai sumber bahan induk setelah
berlangsung pelapukan fisik atau kimia. Tanah dapat juga terbentuk dari sedimen organik
(gambut). Sifat-sifat kimia dan mineralogi bahan induk akan sangat menentukan kecepatan
pelapukan. Pada tahap awal pembentukan tanah, kecepatan disintegrasi batuan mungkin
membatasi kecepatan dan kedalaman pembentukan tanah. Gerakan infiltrasi air sebagian
besar dikendalikan oleh tekstur bahan induk. Lebih lanjut, bahan induk mempunyai pengaruh
yang sangat kuat terhadap tipe mineral lempung yang terdapat di dalam tanah.
3.5 Waktu
Waktu berpengaruh pada pembentukan tanah lewat dua cara:
Kondisi faktor pembentuk tanah mungkin berubah seiririg dengan waktu (eg.
perubahan iklim, topografi dan bahan induk baru)
Tingkaf-capaian (extent) reaksi pedogenetik tergantung waktu dimana ia telah
bekerja
Tanah-tanah monogenetik (monogenetic soils) adalah tanah yang terbentuk dibawah
pengaruh seperangkat (one set) faktor pembentuk tanah untuk suatu periode tertentu. Tanah
yang terbentuk oleh lebih dari satu set faktor disebut juga tanah poligenetik. Tanah yang
sangat tua terbentuk pada lapukan batuan padu (eg. granit, basalt) dimana batuan tsb
terbentuk lebih dari 500 juta tahun yang lalu (Paleozoikum). Tanah semacam ini dapat
dijumpai di Afrika dan Australia.
lklim telah berubah sepanjang sejarah geologi, paling akhir, peruhahan besar terkait dengan
pergantian periode glacial dan interglacial pada Pleistocene Eropa lan Amerika Utara telah
Universitas Gadjah Mada

20

menderita 4 kali invasi kuat es, dimana setiap periode glacial dipisahkan oleh interval
interglacial bebas es yang cukup panjang. Kondisi lingkungan pada masa-masa bebas es ini
cukup hangat atau semi-tropis. Jumlah zaman es Pleistocene diperkirakan 1-1.5 juta tahun.
Es menghilang dari Amerika Utara diperkirakan sekitar 12.000 tahun yang lalu. Ketika saliu
berpindah, tanah tersapu, pegunungan terkupas, lembah terisi dan batuan bawahan tergilas.
Akhirnya ketika es mencair, terdapat regolith dan bahan induk baru yang tersedia bagi
proses pembentukan tanah selanjutnya. Salah satu tanah yang termuda adalah terbentuk
pada bahan aluvial atau lakustrin, umumnya belum mempunyai waktu yang cukup untuk
berkembang sebagaimana tanah disekitarnya. Termasuk tanah-tanah muda adalah tanah
yang berkembang dari bahan koluvial (colluvial).

Pada Gambar 3.5. terlihat bahwa perkembangan tanah merupakan fungsi waktu. Bahan
induk dapat berupa batuan induk yang relatif belum terlapuk. Setelah terjadi pelapukan
batuan dan akumulasi bahan organik pada permukaan akan berlangsung perkembangan
horizon A karena proses dekomposisi dan mineralisasi. Setelah horizon A, secara perlahan
akan terbentuk horizon B, ditandai terbentuknya mineral lempung sekunder (ditunjukan oleh
huruf t).

Universitas Gadjah Mada

21