Anda di halaman 1dari 21

KATA PENGANTAR

Salah satu cita-cita Nasional yang harus terus diperjuangkan oleh bangsa Indonesia ialah upaya
mencerdaskan kehidupan bangsa melalui pendidikan Nasional. Masa depan dan keunggulan bangsa
kita ditentukan oleh keunggulan sumber daya manusia (SDM) yang dimilikinya, disamping sumber
daya alam dan modal. SDM yang berkualitas tinggi diharapkan secara signifikan dapat menjadi subyek
pembangunan untuk lebih berhasil mengelola sumber daya (resources) bagi kepentingan kesejahteraan
masyarakat. Pada gilirannya adalah upaya bangsa ini dalam mewujudkan manusia Indonesia seutuhnya
melalui pelaksanaan pembangunan agar dapat berlangsung efektif.
Sudah saatnya pendidikan Nasional kita dikelola dengan metode-metode pembelajaran yang
sesuai dengan watak dan sikap siswa. Oleh karena itulah penulis mencoba menganalisis metode
pembelajaran problem solving sebagai metode pembelajaran yang dapat menyesuaikan dengan pola
fikir atau watak siswa dan sikap siswa.
Penulis berharap, dengan sedikit karya ini mudah-mudahan dapat menjadi masukan bagi semua
pihak yang merasa berkepentingan dengan masalah yang sedang dikaji. Walaupun penlis menyadari
masih kurang dan terbatasnya wawasan dan kemampuan yang penulis miliki. Kritik dan saran yang
sifatnya membangun sangat penulis harapkan guna perbaikan karya di waktu yang akan datang.

DAFTAR ISI
Kata Pengantar.........................................................................................................i
Daftar Isi....................................................................................................................ii
BAB. I Pendahuluan
1. Latar Belakang Masalah.................................................................................... 1
2. Rumusan Masalah............................................................................................... 2
BAB. II
Pembahasan
1.
2.
3.
4.
5.

Problem Solving Di Indonesia ......................................................................... 3


Problem Solving Di Malaysa ..
Problem Solving Di Inggris
Problem Solving Di
Problem Solving Di
Kelebihan Dan Kelemahan .

BAB. III
PENUTUP
Kritik Dan Saran ...
Daftar Pustaka ..

BAB I
PEMBUKAAN
1. Latar Belakang Masalah
Pembaharuan pendidikan atau inovasi pendidikan adalah konsep yang sering didengar dalam
dunia pendidikan Indonesia. Hal ini pula yang sejak lama sudah didambakan oleh masyarakat. Usaha
ke arah pembaharuan pendidikan dilakukan oleh Departemen Pendidikan Nasional dengan berbagai
cara, antara lain melalui pengubahan kurikulum yang disesuaikan dengan perkembangan zaman
(Fajaroh, 2003). Perubahan kurikulum telah terjadi beberapa kali, dan perubahan paling akhir adalah
sesuai Peraturan Mendiknas Tentang Kurikulum 2013.
Pendidikan dikatakan bermutu apabila proses pembelajaran berlangsung secara efektif, peserta
didik (siswa) memperoleh pengalaman yang bermakna bagi dirinya, dan produk pendidikan merupakan
individu-individu yang bermanfaat bagi masyarakat dan pembangunan bangsa. Selain itu peserta didik
berbeda dalam berbagai hal, terutama intelegensinya. Intelegensi adalah keseluruhan kemampuan
individu untuk berfikir dan bertindak secara terarah serta mengolah dan menguasai lingkungan secara
efektif. Banyak siswa yang prestasi belajarnya kurang bukan disebabkan oleh kemampuan intelegensi
yang belum optimal. Namun hal ini lebih disebabkan kemampuan berfikir untuk memanfaatkan apa
yang mereka ketahui atau disebut juga dengan kemampuan metakognisi, kurang berkembang.
Oleh karena itu 3 aspek penting dalam pelaksanaan pembelajaran yang saling terkait dan tidak
dapat dipisahkan, yaitu teaching of thinking, teaching for thinking, dan teaching about thinking harus
terus ditumbuhkembangkan sehingga dibutuhkan

metode pembelajaran yang menekankan pada

pengalaman berfikir operasional formal yang memungkinkan seseorang untuk mempunyai tingkah laku
problem solving dan sebuah konsep pembelajaran sistematik atau sering disebut juga dengan metode
pembelajaran learning cycle. Dengan adanya kedua penekanan ini diharapkan siswa akan dapat
mengembangkan keterampilan metakognisinya sehingga menyebabkan prestasi belajarnya meningkat.
2. Rumusan Masalah
Rumusan masalah dalam penulisan ini adalah bagaimana pembelajaran problem solving dapat
digunakan untuk meningkatkan keterampilan metakognisi siswa ?

BAB. II
PEMBAHASAN
1. METODE PENELITIAN PROBLEM SOLVING DI INDONESIA
Jenis penelitian yang digunakan pada penelitian ini adalah penelitian semu atau quasi eksperimental
dengan desain faktorial 3x3 yang disajikan dalam tabel berikut.
Table 1. Desain Penelitian Pembelajaran

Kreativitas (B)

(A)
Tinggi (b1)
Problem Solving

ab11

ab12

Rendah (b3)
ab13

ab21

ab22

ab23

ab31

ab32

ab33

Sedang (b2)

berbantuan alat
peraga (a1)
Problem Posing
berbantuan alat
peraga (a2)
Langsung (a3)

Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa SMP Negeri se-Kota Pontianak, Kalimantan Barat.
Sampel diambil secara acak dari SMP Negeri yang terdapat di Kota Pontianak dengan teknik pengambilan
sampel yaitu stratified cluster random sampling. Pada teknik ini, populasi dibagi menurut strata-strata, kemudian
dari strata-strata tersebut ditarik anggota sampel secara random dari sub-populasinya (Budiyono, 2003: 37). Dari
sampling yang dilakukan diperoleh SMP Negeri 10 mewakili kelompok tinggi, SMP Negeri 9 mewakili
kelompok sedang dan SMP Negeri 19 mewakili kelompok rendah.
Terdapat dua variabel dalam penelitian ini yakni variabel bebas yaitu model pembelajaran dan
kreativitas belajar siswa dan variabel terikat yaitu prestasi belajar matematika siswa. Untuk mengumpulkan data
digunakan metode tes, metode angket dan metode dokumentasi. Metode tes digunakan untuk digunakan untuk
mengevaluasi hasil belajar siswa setelah proses pembelajaran dan mendapatkan data prestasi belajar matematika
siswa. Data kreativitas belajar siswa yang digolongkan menjadi tiga kategori yaitu kreativitas belajar tinggi,
sedang dan rendah diperoleh dari angket, sedangkan metode dokumentasi digunakan untuk mengetahui
kemampuan awal siswa yang diambil dari nilai ulangan harian pada materi sebelumnya.
Adapun teknik analisis data yang digunakan untuk menguji hipotesis dalam penelitian ini adalah analisis variansi
dua jalan dengan banyaknya baris 3 dan banyaknya kolom 3 dengan sel tak sama. Sebelum masing-masing kelas
diberikan perlakuan, terlebih dahulu dilakukan uji prasyarat terhadap data kemampuan awal siswa meliputi uji
normalitas dengan menggunakan uji Liliefors dan uji homogenitas variansi menggunakan uji Bartlet.
Selanjutnya dilakukan uji keseimbangan dengan analisis variansi satu jalan untuk mengetahui apakah kelas
eksperimen satu, kelas eksperimen dua dan kelas kontrol dalam keadaan seimbang atau tidak.

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN


Dari hasil uji normalitas terhadap data kemampuan awal siswa, dengan taraf signifikansi 0,05 diperoleh
bahwa nilai Lhit untuk setiap kelas kurang dari Ltabel. Hal ini berarti bahwa hipotesis nol (H0) untuk setiap kelas
tidak ditolak. Kesimpulannya, masing-masing kelas berasal dari populasi yang berdistribusi normal. Demikian
pula hasil uji homogenitas variansi populasi terhadap data kemampuan awal siswa, diperoleh nilai sebesar 1,263
kurang dari nilai sebesar 5,991. Hal ini berarti pada taraf signifikansi 0,05, hipotesis nol (H0) tidak ditolak.
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa populasi yang dibandingkan mempunyai variansi yang sama
(homogen).
Berdasarkan hasil uji keseimbangan terhadap data kemampuan awal matematika siswa, diperoleh nilai
Fobs sebesar 1,9042 dan F sebesar 3,00 dengan DK = sehingga Fobs berada di luar daerah kritis. Hal ini berarti
pada taraf signifikansi 0,05, keputusan uji adalah H 0 tidak ditolak. Dengan demikian diperoleh bahwa populasi
pada kelas eksperimen satu, eksperimen dua dan kelas kontrol mempunyai kemampuan awal matematika yang
sama.
Untuk keperluan uji hipotesis, terlebih dahulu dilakukan uji normalitas dan homogenitas populasi terhadap data
prestasi belajar siswa. Uji normalitas dilakukan sebanyak 6 kali dan diperoleh setiap sampel mempunyai nilai
kurang dari . Hal ini berarti pada taraf signifikansi 0,05, keputusan uji untuk setiap sampel adalah H 0 tidak
ditolak. Dengan demikian, diperoleh simpulan bahwa semua sampel pada penelitian ini berasal dari populasi
yang berdistribusi normal.
Untuk uji homogenitas variansi populasi, diperoleh setiap pasang sampel mempunyai nilai yang kurang dari nilai
. Hal ini berarti pada taraf signifikansi 0,05 hipotesis nol (H 0) tidak ditolak. Dengan demikian dapat disimpulkan
bahwa populasi mempunyai variansi yang sama (homogen).
Berikut ini disajikan rangkuman deskripsi data prestasi belajar matematika siswa berdasarkan kategori model
pembelajaran yaitu Problem Solving berbantuan alat peraga, Problem Posing berbantuan alat peraga dan
pembelajaran langsung ditinjau dari kreativitas belajar tinggi, sedang dan rendah.
Tabel 2. Deskripsi data prestasi belajar matematika siswa pada masing-masing kategori model pembelajaran dan
kreativitas belajar
Model pembelajaran
Tinggi
Problem
56.125

Kreativitas belajar
Sedang
49.1463

Rerata marginal
Rendah
51.9643
52.43

Solving
berbantuan
alat peraga
Problem
Posing
berbantuan

55.1786

45.9375

47.0968

48.69

alat peraga
Langsung
46.3095
Rerata marginal
52.14

45.1724
36.4706
46.68

42.81
44.68

Pengujian hipotesis dilakukan untuk mengetahui apakah terdapat perbedaan pengaruh antara masing-masing
kategori model pembelajaran dan kreativitas belajar serta interaksinya terhadap prestasi belajar matematika.
Berikut disajikan tabel rangkuman hasil perhitungan analisis variansi dua jalan dengan sel tak sama.
Tabel 3. Rangkuman hasil analisis variansi dua jalan dengan sel tak sama
Sumber

JK

Dk

RK

Fobs

Keputusa

(A)

4771.39

2385.7

4.0281

3,00

n uji
H0

(B)

2702.24

1351.1

2.2813

3,00

ditolak
H0 tidak

(AB)

1575.97

393.99

0.6652

2,73

ditolak
H0 tidak

Galat
total

184786
312
193835

592.26

ditolak
-

Berdasarkan hasil analisis variansi dua jalan dengan sel tak sama dengan taraf signifikansi 0,05
diperoleh bahwa (a) Nilai Fa sebesar 4,0281 lebih dari nilai F0,05;2;312 sebesar 3,00. Oleh karena itu H0A ditolak.
Hal ini berarti terdapat perbedaan pengaruh antar masing-masing kategori model pembelajaran terhadap prestasi
belajar matematika (b) Nilai Fb sebesar 2,2813 lebih kecil dari F0,05;2;312 sebesar 3,00. Oleh karena itu H0B tidak
ditolak. Hal ini berarti tidak terdapat perbedaan pengaruh antar masing-masing kategori kreativitas belajar
terhadap prestasi belajar matematika (c) Nilai F ab sebesar 0.6652 lebih kecil dari F0,05;4;312 sebesar 2,73. Oleh
karena itu H0AB tidak ditolak. Hal ini berarti tidak terdapat interaksi antara model pembelajaran dan kreativitas
belajar terhadap prestasi belajar matematika siswa. Dengan kata lain, perbedaan prestasi belajar siswa pada
masing-masing kategori model pembelajaran konsisten terhadap masing-masing kategori kreativitas belajar dan
perbedaan prestasi belajar siswa pada masing-masing kategori kreativitas belajar konsisten terhadap masingmasing kategori model pembelajaran.
Berdasarkan hasil uji komparasi rerata antar baris pada masing-masing kategori model pembelajaran,
dengan taraf signifikansi 0,05 diperoleh hal berikut. H 0 yang pertama yakni tidak ditolak Hal ini berarti bahwa
tidak terdapat perbedaan prestasi belajar antara siswa yang dikenai model pembelajaran Problem Solving
berbantuan alat peraga dan model pembelajaran Problem Posing berbantuan alat peraga. Hasil ini tidak sesuai
dengan hipotesis penelitian. Kemungkinan disebabkan karena pada dasarnya kedua model pembelajaran ini
masing-masing berdasarkan sifat konstruksivisme, dimana siswa mengkonstruksi sendiri pengetahuannya
berdasarkan apa yang mereka ketahui sebelumnya.

2. METODE PROBLEM SOLVING DI MALAYSIA

Metode pembelajaran problem solving adalah suatu metode pembelajaran yang membuat
pembelajaran di kelas menjadi lebih bermakna, hal ini dikarenakan dapat mereduksi hafalan siswa tanpa
mengetahui apa alasan dibalik fakta, mereduksi ketergantungan siswa terhadap guru yang menyebabkan
belajar tanpa bertanya dan percaya tanpa keraguan kepada sumber belajar dalam hal ini guru.
Dengan adanya penerapan metode pembelajaran problem solving di kelas dapat meningkatkan aktivitas
pembelajaran di kelas, hal ini dapat dilihat dari berbagai kegiatan pembelajaran seperti diskusi kelas,
pencarian data yang terkait dengan permasalahan, presentasi hasil dan sebagainya. Selain itu metode
pembelajaran problem solving mendidik siswa untuk mengurangi ketergantungan kepada guru sebagai
sumber belajar, karena sumber belajar tidak hanya guru namun lingkungan sekitar juga bisa menjadi sumber
belajar yang baik untuk mata pelajaran sosiologi. Jadi metode pembelajaran problem solving dapat menjadi
cara yang bagus untuk lebih memahami isi pelajaran dan mengembangkan kemampuan mereka untuk
menyesuaikan dengan pengetahuan baru.
Hasil analisis skor mean pengetahuan sebagai hasil belajar adalah 22,67 dari skor ideal 34. Nilai
22,67 menunjukkan tingginya pencapaian kompetensi siswa dalam hasil belajar. Adanya perbedaan
mencolok antara siswa yang meraih skor tertinggi dengan siswa yang meraih skor terendah yaitu 30
(tertinggi) dan 15 (terendah) dimungkinkan terjadi seperti yang disampaikan oleh Hamalik (dalam
Sugianto:47) yaitu: prestasi adalah hal-hal yang dicapai oleh siswa, ada dua faktor yang harus diperhatikan
dalam melaksanakan evaluasi belajar pertama perbedaan potensi yang dibawa saat belajar dan yang kedua
bermacam-macam tuntutan sosial ekonomi di sekitar kehidupan siswa.
Menurut Ali (2000) dan Sholahudin (2008) menyatakan bahwa pembelajaram rumpun IPS kurang
menarik siswa karena pada umumnya dilakukan dengan ceramah (kurang variatif), hal ini menyebabkan
minat siswa terhadap pelajaran IPS rendah. Metode pembelajaran problem solving dimungkinkan untuk
mengembangkan minat siswa terhadap pelajaran IPS pada umumnya dan sosiologi pada khususnya.
Minat adalah kecenderungan jiwa yang tetap untuk memperhatikan dan mengenang beberapa
aktivitas atau kegiatan (Slameto, 1995). Seseorang yang berminat terhadap suatu aktivitas dan
memperhatikan itu secara konsisten dengan rasa senang. Minat juga berkaitan dengan kepribadian. Jadi
pada minat terdapat unsur-unsur pengenalan (kognitif), emosi (afektif), dan kemampuan (konatif) untuk
mencapai suatu objek, seseorang, suatu soal atau suatu situasi yang bersangkutan dengan diri pribadi
(Slameto, 1995).
Hal ini terlihat dari jawaban angket siswa terhadap minat siswa terhadap pelajaran sosiologi setelah
pembelajaran di kelas menggunakan metode problem solving. Skor minat siswa terhadap pelajaran

sosiologi rata-rata mencapai 58,39 dari skor ideal 84. Hal ini menunjukkan tingginya minat siswa terhadap
pelajaran sosiologi.
Hasil analisis statistik menunjukkan bahwa metode pembelajaran problem solving mempengaruhi secara
signifikan hasil belajar (pengetahuan sebagai hasil belajar dan minat siswa terhadap pelajaran sosiologi
secara bersama-sama). Semakin tinggi penerapan metode pembelajaran problem solving maka semakin
tinggi pula hasil belajar (pengetahuan sebagai hasil belajar dan minat siswa terhadap pelajaran sosiologi),
begitu pula sebaliknya semakin rendah penerapan penerapan metode pembelajaran problem solving maka
semakin rendah pula hasil belajar (pengetahuan sebagai hasil belajar dan minat siswa terhadap pelajaran
sosiologi). Namun demikian diakui pula bahwa pemilihan metode pembelajaran problem solving bukan
satu-satunya faktor penentu yang mempengaruhi hasil belajar (pengetahuan sebagai hasil belajar dan minat
siswa terhadap pelajaran sosiologi).
HASIL PENELITIAN
Hasil perhitungan analisis korelasi product moment dengan menggunakan SPSS versi 17 adalah r y1
0,538. Hubungan positif ini menunjukan bahwa apabila metode pembelajaran problem solving meningkat
maka akan diikuti oleh peningkatan nilai pengetahuan sebagai hasil belajar.
Berdasarkan uji regresi hubungan antara penggunaan metode problem solving dengan pengetahuan sebagai
hasil belajar (koefisisen korelasi) adalah 0,463, berarti antara pengetahuan sebagai hasil belajar dengan
metode problem solving atau sebaliknya ada ada hubungan sebesar 0,463 yang positif. Nilai r square pada
hubungan antara penggunaan metode problem solving dengan pengetahuan sebagai hasil belajar adalah
0,215 artinya variansi atau naik turunnya skor metode problem solving, 21,5% menyebabkan naik turunnya
skor pengetahuan sebagai hasil belajar. Sedangkan sisanya 88,5,% menyebabkan variabel lain yang tidak di
bahas di dalam model.
Nilai anova sebesar 44,303 dengan signifikansi sebesar 0,000 < 0,05 artinya variabel pengetahuan
sebagai hasil belajar secara nyata dipengaruhi oleh variabel metode problem solving, Anova layak di bahas
jika jumlah variabel X lebih dari satu. Nilai uji t dapat dilihat konstanta nilainya adalah 105,075 dengan
signifikansi 0,000 berarti konstanta memiliki peran dalam model, koefisien regresi (pengetahuan sebagai
hasil belajar) nilainya 1,608 dengan signifikansi sebesar 0,000 artinya variabel hasil belajar secara nyata
dipengaruhi metode problem solving.
Hasil perhitungan analisis korelasi product moment dengan menggunakan SPSS versi 17 adalah r y1
0,468. Hubungan positif ini menunjukan bahwa apabila metode pembelajaran problem solving meningkat
maka akan diikuti oleh peningkatan skor minat siuswa terhadap pelajaran sosiologi.
Berdasarkan uji regresi hubungan antara penggunaan metode problem solving dengan minat siswa
terhadap pelajaran sosiologi (koefisisen korelasi) adalah 0,468, berarti antara minat siswa terhadap
pelajaran sosiologi dengan metode problem solving atau sebaliknya ada ada hubungan sebesar 0,468 yang

positif. Nilai r square pada hubungan antara penggunaan metode problem solving dengan minat siswa
terhadap pelajaran sosiologi adalah 0,219 artinya variansi atau naik turunnya skor metode problem solving,
21,9% menyebabkan naik turunnya skor minat siswa terhadap pelajaran sosiologi. Sedangkan sisanya
78,1,% menyebabkan variabel lain yang tidak di bahas di dalam model.
Nilai anova sebesar 45,542 dengan signifikansi sebesar 0,000 < 0,05 artinya variabel minat siswa
terhadap pelajaran sosiologi secara nyata dipengaruhi oleh variabel metode problem solving, Anova layak
di bahas jika jumlah variabel X lebih dari satu. Nilai uji t dapat dilihat konstanta nilainya adalah 79,338
dengan signifikansi 0,000 berarti konstanta memiliki peran dalam model, koefisien regresi (minat siswa
terhadap pelajaran sosiologi) nilainya 1,065 dengan signifikansi sebesar 0,000 artinya variabel minat siswa
terhadap pelajaran sosiologi secara nyata dipengaruhi metode problem solving.
Hasil perhitungan analisis korelasi product moment dengan menggunakan SPSS versi 17 adalah r y1
0,618 Hubungan positif ini menunjukan bahwa apabila metode pembelajaran problem solving meningkat
maka akan diikuti oleh peningkatan skor pengetahuan sebagai hasil belajar dan minat siswa terhadap
pelajaran sosiologi secara bersamaan.
Berdasarkan uji regresi hubungan antara penggunaan metode problem solving dengan pengetahuan sebagai
hasil belajar dan minat siswa terhadap pelajaran sosiologi secara bersamaan (koefisisen korelasi) adalah
0,505, berarti antara pengetahuan sebagai hasil belajar dan minat siswa terhadap pelajaran sosiologi secara
bersamaan dengan metode problem solving atau sebaliknya ada ada hubungan sebesar 0,505 yang positif.
Nilai r square pada hubungan antara penggunaan metode problem solving dengan pengetahuan sebagai hasil
belajar dan minat siswa terhadap pelajaran sosiologi secara bersamaan adalah 0,255 artinya variansi atau
naik turunnya skor metode problem solving, 25,5% menyebabkan naik turunnya skor pengetahuan sebagai
hasil belajar dan minat siswa terhadap pelajaran sosiologi secara bersamaan. Sedangkan sisanya 74,5%
menyebabkan variabel lain yang tidak di bahas di dalam model.
Nilai anova sebesar 27,592 dengan signifikansi sebesar 0,000 < 0,05 artinya variabel pengetahuan
sebagai hasil belajar dan minat siswa terhadap pelajaran sosiologi secara bersamaan secara nyata
dipengaruhi oleh variabel metode problem solving, Anova layak di bahas jika jumlah variabel X lebih dari
satu. Nilai uji t dapat dilihat konstanta nilainya adalah 83,166 dengan signifikansi 0,000 berarti konstanta
memiliki peran dalam model, koefisien regresi pengetahuan sebagai hasil belajar nilainya 0,921 dan minat
siswa terhadap pelajaran sosiologi secara bersamaan nilainya 0,642 dengan signifikansi sebesar 0,000
artinya variabel pengetahuan sebagai hasil belajar dan minat siswa terhadap pelajaran sosiologi secara
bersamaan secara nyata dipengaruhi metode problem solving.
3. METODE PROBLEM SOLVING DI INGGRIS

Penelitian ini dilaksanakan di Harverd High School Tahun Pelajaran 2011/2012 semester genap dengan
jumlah sampel dalam penelitian ini adalah 80 orang yang diambil secara random sampling. Rancangan
penelitian menggunakan rancangan Posttest Only control group Design dengan desain faktorial 2 2,
analisis variansnya menggunakan analisis varians dua jalur (Anava AB) dan dilanjutkan dengan uji
Scheffe. Variabel bebas dalam penelitian ini adalah model pembelajaran problem solving, variabel
terikat dalam penelitian ini adalah prestasi belajar matematika, dan penalaran formal sebagai variabel
moderator yang digunakan untuk membedakan antara kelompok atas dan kelompok bawah. Instrumen
penalaran formal digunakan untuk mengumpulkan data kelompok penalaran formal tinggi dan
kelompok penalaran formal rendah sedangkan instrument prestasi belajar digunakan untuk
mengumpulkan data tentang prestasi belajar.
III. Hasil Penelitian
Hasil dari penelitian diringkas dalam bentuk rekap ukuran statistik data seperti pada tabel berikut.
No
U Statistik
A1
A2
A1B1
A1B2
A2B1
A2B2
1
Nilai Maksimum
91
75
91
63
75
68

2
Nilai Minimum
38
41
64
38
44

41

3
Jangkauan
53
34
27
25
31
27

4
Mean

63,50
59,73
76.25
50.75
61.40
58.05

5
Median
71
60
75.0
51.5
60.5
59.0

6
Modus
71
64
71
54
66
64

8
Varians
223,64
62,92
66.83
49.99
72.99
50.26

Dengan ringkasan anava dua jalur seperti pada tabel berikut.


Sumber
JK
Dk
RJK
FHitung
Ftabel
Keterangan
Varians

Antar A
285.013
1
285.013
4.749
3.98
Signifikan
Antar B
4161.61
1
4161.612
69.341
3.98
Signifikan
Inter AB
2453.11
1
2453.112
40.874
3.98
Signifikan
Dalam
4561.25
76
60.016

Total
11461
79

IV. Pembahasan
Hasil uji hipotesis pertama telah berhasil menolak Ho dan menerima H1 yang menyatakan bahwa tidak
ada perbedaan prestasi belajar matematika antara siswa yang mengikuti model pembelajaran problem
solving dengan model pembelajaran konvensional. Sehingga secara keseluruhan, prestasi belajar
matematika pada siswa yang mengikuti model pembelajaran problem solving lebih baik dari model

pembelajaran konvensional. Hasil uji hipotesis tersebut membuktikan bahwa model pembelajaran
problem solving lebih unggul dari model pembelajaran konvensional.
Pembelajaran akan efektif apabila kegiatan belajar disesuaikan dengan berkembangnya intelektual anak
dan siswa dihadapkan permasalahan-permasalahan yang selanjutnya akan dipecahkan. Guru perlu
mengembangkan kemampuan siswa untuk berpikir kritis dan mengembangkan kemampuan mereka
untuk menyesuaikan dengan pengetahuan baru dan memberikan kesempatan kepada siswa untuk
mengaflikasikan pengetahuan yang mereka miliki untuk menyelesaikan permasalahan yang baru.
Sasaran utama dari pembelajaran matematika adalah permasalahan-permasalahan. Untuk menemukan
suatu permasalahan tersebut, siswa harus berpikir dan membuat suatu keputusan sesuai dengan strategi
yang akan digunakan untuk memecahkan masalah tersebut.

Jonassen (2010) menguraikan pentingnya pembelajaran problem solving sebab problem solving
merupakan kegiatan yang paling nyata dan pembelajaran yang paling relevan yang dapat melibatkan
siswa dalam proses pembelajaran. Pengetahuan yang terbangun dalam konteks pemecahan masalah
akan lebih baik dipahami, dipertahankan, dan lebih cepat diterima oleh pebelajar. Pembelajaran
matematika dengan model problem solving memberikan kesempatan seluas-luasnya kepada siswa
untuk terlibat langsung dalam pembelajaran dan membangun sendiri pengetahuannya dan guru hanya
sebatas fasilitator. Matematika memerlukan pola pikir yang logis, kritis dan penuh kecermatan.
Dengan memusatkan perhatian siswa terhadap permasalahan-permasalahan pada soal matematika,
perhatian siswa akan terpusat pada permasalahan tersebut serta siswa akan berusaha mencari solusi
pemecahan masalah tersebut serta mengaitkan dengan kemampuan yang telah dimiliki sebelumnya.
Dengan adanya permasalahan tersebut, siswa tidak lagi berpikir bahwa matematika tersebut hanya
sekumpulan rumus-rumus yang harus dihapalkan.
Jika dibandingkan dengan model pembelajaran konvensional, model pembelajaran problem solving
tampak lebih banyak melibatkan siswa dalam proses pembelajarannya. Sehingga siswa aktif terlibat
dalam proses pembelajaran. Sedangkan pembelajaran konvensional merupakan suatu model
pembelajaran yang berpusat pada guru dimana guru sebagai pemberi informasi. Guru mengatur
secara ketat proses pembelajaran baik dari segi topik, materi, maupun strategi. Disini guru
menekankan tugasnya sebagai model. Tujuan yang akan dicapai secara maksimal bila guru mampu
mendemontrasikan pengetahuan dan keterampilan secara tepat sehingga dapat ditiru oleh siswa.
Dalam penerapan model pembelajaran konvensional, guru juga harus mendemonstrasikan
pengetahuan atau keterampilan yang akan dilatihkan kepada siswa langkah demi langkah, karena
peran guru dalam pembelajaran sangat dominan. Hal ini menyebabkan aktivitas siswa menjadi
terbatas dan mengakibatkan siswa tidak mampu meningkatkan prestasi belajarnya secara maksimal.
Berdasarkan paparan di atas, terlihat jelas bahwa model pembelajarn problem solving lebih baik
diterapkan dalam proses pembelajaran karena melibatkan siswa secara maksimal. Oleh karena itu
prestasi belajar siswa yang mengikuti model pembelajaran problem solving lebih baik daripada siswa
yang mengikuti model pembelajaran konvensional.
Hasil uji hipotesis yang kedua dari uji anava dua jalur telah berhasil menolak hipotesis nol yang
menyatakan tidak terdapat pengaruh interaksi antara model pembelajaran dengan penalaran formal
terhadap prestasi belajar matematika. Sehingga dapat disimpulkan terdapat pengaruh interaksi antara
model pembelajaran dengan penalaran formal terhadap prestasi belajar matematika.Mengenai
pengaruh interaksi antara model pembelajaran (problem solving dan konvensional) dengan penalaran
formal (formal tinggi dan formal rendah), dalam penelitian ini diperoleh hasil-hasil sebagai berikut.
Pertama, secara kualitatif penelitian ini telah mengungkapkan bahwa kategori baik (pada kelompok
siswa yang mengikuti model pembelajaran problem solving dan memiliki penalaran formal tinggi),
berkategori sedang (pada kelompok siswa yang mengikuti model pembelajaran problem solving dan
memiliki penalaran formal rendah), berkategori sedang (pada kelompok siswa yang mengikuti model
pembelajaran konvensional dan memiliki penalaran formal tinggi), dan berkategori sedang (pada
kelompok siswa yang mengikuti model pembelajaran konvensional dan memiliki penalaran formal
rendah. Skor rata-rata prestasi belajar matematika pada siswa yang memiliki penalaran formal tinggi
dengan model pembelajaran problem solving lebih besar dari skor rata-rata prestasi belajar
matematika pada siswa yang memiliki penalaran formal tinggi dengan model pembelajaran
konvensional. Interaksi antara model pembelajaran problem solving pada siswa yang memiliki
penalaran formal tinggi merupakan kombinasi yang paling baik untuk mencapai prestasi belajar
matematika. Interaksi antara model pembelajaran konvensional dengan penalaran formal rendah juga
juga memberikan pengaruh yang baik terhadap prestasi belajar matematika. Jika dibandingkan
dengan model pembelajaran problem solving, model konvensional lebih tepat diterapkan pada siswa
yang memiliki penalaran formal rendah. Hal ini sesuai dengan karakter dari model pembelajaran

konvensional yang menekankan kemampuan guru dalam menyampaikan materi pelajaran. Siswa
yang memiliki penalaran formal rendah tidak merasa terbebani dengan suatu permasalahan.
Hasil uji hipotesis yang ketiga telah berhasil menolak hipotesis nol, yang menyatakan tidak ada
perbedaan prestasi belajar matematika pada kelompok siswa yang memiliki penalaran formal tinggi,
antara siswa yang mengikuti model pembelajaran problem solving dengan siswa yang mengikuti
model pembelajaran konvensional.
Penerapan model pembelajaran problem solving terhadap siswa yang memiliki penalaran formal
tinggi memberi peluang kepada siswa untuk bisa mengeksplorasi pengetahuannya sehingga pada saat
proses pembelajaran berlangsung siswa mampu mengembangkan kemampuan yang dimilikinya
secara optimal. Gagne (1970) mengidentifikasikan bahwa problem solving learning dapat
membentuk perilaku pemecahan masalah yang dapat membentuk siswa berpikir kritis dan ilmiah
termasuk belajar menggunakan pemikiran atau intelektual tinggi. Pada saat proses pembelajaran
siswa aktif mengidentifikasikan permasalahan serta mengaitkan dengan pengetahuan yang dimiliki
sebelumnya. Dengan demikian pembelajaran akan lebih bermakna karena melibatkan siswa dari awal
sampai akhir pembelajaran. Dalam pembelajaran pemecahan masalah menantang siswa untuk
menemukan sendiri pemecahan masalah tersebut dan setelah siswa menemukan solusi pemecahan
masalah tersebut, siswa akan merasa bangga dan berusaha mencoba lagi permasalahan-permasalahan
yang lainnya. Malik & Iqbal (2012) memberikan catatan penting bahwa jika siswa ingat bahwa ia
telah memecahkan masalah, maka ia akan hanya ingat solusi dan berusaha memecahkan lagi. Pada
siswa yang memiliki penalaran formal tinggi bila diberikan model pembelajaran konvensional akan
merasa jenuh karena mereka

dibandingkan dengan model pembelajaran problem solving, model konvensional lebih tepat
diterapkan pada siswa yang memiliki penalaran formal rendah. Hal ini sesuai dengan karakter dari
model pembelajaran konvensional yang menekankan kemampuan guru dalam menyampaikan materi
pelajaran. Siswa yang memiliki penalaran formal rendah tidak merasa terbebani dengan suatu
permasalahan.
Hasil uji hipotesis yang ketiga telah berhasil menolak hipotesis nol, yang menyatakan tidak ada
perbedaan prestasi belajar matematika pada kelompok siswa yang memiliki penalaran formal tinggi,
antara siswa yang mengikuti model pembelajaran problem solving dengan siswa yang mengikuti
model pembelajaran konvensional.
Penerapan model pembelajaran problem solving terhadap siswa yang memiliki penalaran formal
tinggi memberi peluang kepada siswa untuk bisa mengeksplorasi pengetahuannya sehingga pada saat
proses pembelajaran berlangsung siswa mampu mengembangkan kemampuan yang dimilikinya
secara optimal. Gagne (1970) mengidentifikasikan bahwa problem solving learning dapat
membentuk perilaku pemecahan masalah yang dapat membentuk siswa berpikir kritis dan ilmiah
termasuk belajar menggunakan pemikiran atau intelektual tinggi. Pada saat proses pembelajaran
siswa aktif mengidentifikasikan permasalahan serta mengaitkan dengan pengetahuan yang dimiliki
sebelumnya. Dengan demikian pembelajaran akan lebih bermakna karena melibatkan siswa dari awal
sampai akhir pembelajaran. Dalam pembelajaran pemecahan masalah menantang siswa untuk
menemukan sendiri pemecahan masalah tersebut dan setelah siswa menemukan solusi pemecahan
masalah tersebut, siswa akan merasa bangga dan berusaha mencoba lagi permasalahan-permasalahan
yang lainnya. Malik & Iqbal (2012) memberikan catatan penting bahwa jika siswa ingat bahwa ia
telah memecahkan masalah, maka ia akan hanya ingat solusi dan berusaha memecahkan lagi. Pada
siswa yang memiliki penalaran formal tinggi bila diberikan model pembelajaran konvensional akan
merasa jenuh karena mereka tidak bisa mengembangkan ide-ide yang dimiliki secara optimal,
sehingga prestasi belajar yang dicapai juga belum maksimal.
Dari uraian di atas, model pembelajaran problem solving memberikan kesempatan yang luas kepada
siswa untuk mengembangkan kemampuan yang dimiliki sebelumnya untuk memecahkan masalah
yang dihadapi, sedangkan model pembelajaran konvensional lebih menekankan kemampuan guru
dan membatasi siswa yang memiliki kemampuan untuk memecahkan masalah. Dapat disimpulkan
untuk siswa yang memiliki penalaran formal tinggi memiliki prestasi belajar matematika lebih baik
diberikan model pembelajaran problem solving dibandingkan dengan model pembelajaran
konvensional.
Hasil uji hipotesis yang keempat telah berhasil menolak hipotesis nol, yang menyatakan tidak ada
perbedaan prestasi belajar matematika pada kelompok siswa yang memiliki penalaran formal rendah,
antara kelompok siswa yang mengikuti model pembelajaran problem solving dengan siswa yang
mengikuti model pembelajaran konvensional. Penerapan model pembelajaran problem solving pada
siswa yang memiliki penalaran formal rendah membuat siswa terbebani karena harus aktif dan
dituntut untuk berpikir kritis. Siswa yang memiliki penalaran formal rendah cenderung pasif.
Dibandingkan dengan pembelajaran konvensional dimana siswa bersifat menerima apa yang
diberikan oleh guru sehingga siswa merasa tidak merasakan dibebani dengan permasalahan.