Anda di halaman 1dari 27

SISTEM REPRODUKSI DAN PROSES KEHAMILAN

1.

STRUKTUR DAN FUNGSI ORGAN REPRODUKSI WANITA


A. Organ Reproduksi Eksternal

KETERANGAN :
1.

Mons Pubis
Adalah tumpukan lemak diatas simpisis pubis yang menjadi bantalan
Fungsi : melindungi tulang.

2.

Labia Mayor
Berupa dua buah lipatan jaringan lemak, berbentuk lonjong dan menonjol yang
berasal dari mons veneris

dan

berjalan

kebawah

dan

ke

belakang yang

mengelilingilabia minora. Terdiri dari 2 permukaan, yaitu bagian luar yang


menyerupai kulit biasa dan ditumbuhi rambut, dan bagian dalam menyerupai selaput
lendir dan mengandung banyak kelenjar sebacea.
Fungsi : labia mayora sebagai pelindung organ kelamin yang ada didalamnya dan
3.

menerima rangsang seksual


Labia Minor
Merupakan dua buah lipatan jaringan yang pipih dan berwarna kemerahan
yang terlihat jika labia mayora dibuka.

4.

Klitoris
1

Klitoris merupakan jaringan erektil yang terdapat pada ujunga bagian atas labia
minora. Mengandung banyak urat urat saraf sensoris dan pembuluh darah. Jumlah
pembuluh

darah dan

persyarafan yang

banyak

membuat

klitoris sangat sensitif terhadap suhu, sentuhan dan sensasi tekanan.


Fungsi utama : klitoris adalah menstimulasi dan meningkatkan keregangan seksual.
Ujung badan klitoris dinamai Glans dan lebih sensitif dari pada badannya panjang
klitoris jarang melebihi 2 cm dan bagian yang terlihat adalah sekitar 6x6 mm atau
kurang pada saat tidak terangsang dan akan membesar jika secara seksual terangsang
5.

Meatus Uretra
Merupakan lubang kecil uretra. Biasanya terletak sekitar 2,5 cm dibawah klitoris.
Berfungsi untuk berkemih.

6.

Vestibulum
Merupakan rongga yang sebelah lateral dibatasi oleh kedua labia minora, anterior
oleh klitoris dan dorsal oleh fourchet.Vestibulum merupakan muara muara dari 6
buah lubang yaitu vagina, urethra, 2 muara kelenjar bartolini yang terdapat di
samping dan agak ke belakang dari introitus vagina dan 2 muara kelenjar skene di
samping dan agak ke dorsal urethra.

7.

Liang Vagina
Liang vagina sangat bervariasi bentuk dan ukurannya. Pada gadis, kebanyakan
vagina tertutup

sama

sekali oleh

labia

minora

dan

jika dibuka,

terlihat

hampir seluruhnya tertutup oleh himen.


Fungsi : Sebagai liang senggama
8.

Hymen
Berupa lapisan yang tipis dan menutupi sebagian besar introitus vagina. Biasanya
himen berlubang sebesar ujung

jari berbentuk bulan

sabit

atau

sirkular sehingga darah menstruasi dapat keluar.


Namun kadang kala ada banyak lubang kecil (kribriformis), bercelah (septata), atau
berumbai tidak beraturan (fimbriata). Pada tipe himen fimbriata, pada gadis sulit
membedakannya dengan himen yang sudah mengalami penetrasi saat koitus.
B. Organ Reproduksi Internal

KETERANGAN :
1.

Uterus
Uterus merupakan organ muskular berlumen dengan tiga lapisan otot (perimetrium,
endometrium, miometrium). Berbentuk seperti buah pir dengan bagian bawah yang
mengecil. Berfungsi sebagai tempat pertumbuhan embrio.
Uterus mempunyai 3 macam lapisan dinding yaitu :
a.

Perimetrium merupakan lapisan paling luardan yang berhubungan dengan rongga

b.

perut yang berfungsi sebagai pelindung uterus.


Miometrium merupakan lapisan yang berfungsi mendorong bayi keluar pada
proses persalinan (kontraksi) yang kaya akan sel otot serta berfungsi
untuk relaksasi uterus dengan melebar dan kembali ke bentuk semula setiap

c.

bulannya.
Endometrium merupakan lapisan terdalam yang kaya akan sel darah merah serta
tempat menempelnya sel telur yang sudah dibuahi, bila tidak terjadi pembuahan
maka dinding endometrium inilah yang akan meluruh bersamaan dengan sel ovum
matang.

Korpus Uteri
Korpus uteri terdiri dari beberapa bagian :
3

a.
b.
c.

Istmus uteri : tempat dimana kanalis endoserviks membuka ke kavum uteri


Kornu : tempat bermuara keduatuba falopii yaitu dibagian superior dan lateral
Fundus : bagian atas uterus yang berbentuk konveks diantara kedua kornu

Fungsi : Sebagai tempat menempelnya zigot dan berkembangnya.

2.

Tuba Falopii
Merupakan organ tubulo muskuler, dengan panjang sekitar 12 cm dan diameternya
antara 3 sampai 8 mm. Tuba falopimerupakan saluran memanjang setelah infundibulum
yang bertugas sebagai tempat fertilisasi dan jalan bagi sel ovum menuju uterus dengan
bantuan silia pada dindingnya.
Tuba fallopi terbagi menjadi 4 bagian :
a.
b.

Pars Interstitialis, terletak diantara otot rahim, mulai dari ostium internum tubae
Pars Istmika tubae, bagian tuba yang berada diluar uterus dan merupakan

c.
d.

bagian yang paling sempit


Pars ampularis tubae, bagian yang paling luas dan membentuk huruf "S"
Pars infudibulo tubae, bagian akhir tubae yang memiliki umbai yang
disebut fimbriae tubae

Tuba Falopii berfungsi:


a.
b.
c.
d.

Menangkap ovum yang dilepaskan saat ovulasi


Sebagai saluran dari spermatozoa ovum dan hasil konsepsi
Tempat terjadinya konsepsi
Tempat pertumbuhan dan perkembangan hasil konsepsi sampai mencapai bentuk
blastula, yang siap mengadakan implantasi

3.

Ovarium
Ovarium menghasilkan ovum. Ovarium disebut juga dengan indung telur. Letak ovarium
di sebelah kiri dan kanan rongga perut bagian bawah. Ovarium berhasil memproduksi sel
telur jika wanita telah dewasa dan mengalami siklus menstruasi. Setelah sel telur masak,
akan terjadi ovulasi yaitu pelepasan sel telur dari ovarium. Ovulasi terjadi setiap 28 hari.
Sel telur disebut juga dengan ovum.
Ovarium berfungsi sebagai:
a. Perkembangan dan pelepasan ovum
b.

Sintesa dan sekresi hormon steroid

Ovarium terdapat 2 buah yaitu kiri dan kanan yang berfungsi untuk menghasilkan sel
ovum dan hormon wanita seperti :
a.

Estrogen yang berfungsi untuk mempertahankan sifat sekunder pada wanita, serta

b.

juga membantu dalam proses pematangan sel ovum.


Progesterone yang berfungsi dalam memelihara masa kehamilan.

Ovarium terdiri dari 2 bagian :


Kortaks Ovarii
a. Mengandung folikel primodial
4

b.

Berbagai fase pertumbuhan folikel menuju folikel de graaf

c. Terdapat korpus luteum dan albican

Modula ovarii
a. Terdapat pembuluh darah limfe
b.

4.

Terdapat serat syaraf

Fimbriae
Merupakan serabut/silia lembut yang terdapat di bagian pangkal ovarium berdekatan
dengan ujung saluran oviduct. Berfungsi untuk menangkap sel ovum yang telah matang
yang dikeluarkan oleh ovarium.

5.

Infundibulum
Merupakan bagian ujung oviduct yang berbentuk corong/membesar dan berdekatan
dengan fimbriae. Berfungsi menampung sel ovum yang telah ditangkap oleh fimbriae.

6.

Oviduct
Merupakan saluran panjang kelanjutan dari tuba fallopi. Berfungsi sebagai tempat
fertilisasi dan jalan bagi sel ovum menuju uterus dengan bantuan silia pada dindingnya.

7.

Cervix
Merupakan bagian dasar dari uterus yang bentuknya menyempit sehingga disebut juga
sebagai leher rahim. Menghubungkan uterus dengan saluran vagina dan sebagai jalan
keluarnya janin dari uterus menuju saluran vagina.

2.

STRUKTUR DAN FUNGSI ORGAN REPRODUKSI PRIA

A. Organ Kelamin External Pria


1.
Penis
Penis

(dari bahasa

dengan phallus,

yang

Latin yang
berarti

artinya

sama)

ekor,

adalah alat

akar

katanya

sama

kelamin jantan.

Penis

merupakan organ eksternal, karena berada di luar ruang tubuh. Pada manusia, penis
terdiri atas tiga bangunan silinder berisi jaringan spons. Dua rongga yang terletak di
bagian atas berupa jaringan spons korpus kavernosa. Satu rongga lagi berada di
bagian bawah yang berupa jaringan spons korpus spongiosum yang membungkus
uretra. Ujung penis disebut dengan glan penis. Uretra pada penis dikelilingi oleh
jaringan erektil yang rongga-rongganya banyak mengandung pembuluh darah dan
ujung-ujung saraf perasa. Bila ada suatu rangsangan, rongga tersebut akan terisi
penuh oleh darah sehingga penis menjadi tegang dan mengembang (ereksi).
Fungsi penis : secara biologi adalah sebagai alat pembuangan sisa metabolisme
berwujud cairan (urinasi) dan sebagai alat bantu reproduksi. Penis sejati dimiliki
oleh mamalia. Reptiliatidak memiliki penis sejati karena hanya berupa tonjolan
kecil serta tidak tampak dari luar, sehingga disebut sebagai hemipenis (setengah
penis).
2.

Skrotum
6

Skrotum

adalah

kantung

(terdiri

dari kulit dan otot)

yang

membungkus testis atau buah zakar. Sebuah kantung kulit yang menggantung
dibawah penis. Tugasnya adalah menyanggah dan melindungi testis. Skrotum
terletak di antara penis dan anus serta di depan perineum. Pada wanita, bagian ini
serupa dengan labia mayora. Skrotum berjumlah sepasang, yaitu skrotum kanan
dan skrotum kiri. Di antara skrotum kanan dan skrotum kiri dibatasi oleh sekat yang
berupa jaringan ikat dan otot polos (otot dartos). Otot dartos berfungsi untuk
menggerakan skrotum sehingga dapat mengerut dan mengendur. Di dalam skrotum
juga tedapat serat-serat otot yang berasal dari penerusan otot lurik dinding perut
yang disebut otot kremaster. Pada skrotum manusia dan beberapa mamalia bisa
terdapat rambut pubis. Rambut pubis mulai tumbuh sejak masa pubertas.
Fungsi utama skrotum adalah untuk memberikan kepada testis suatu lingkungan
yang memiliki suhu 1-8oC lebih dingin dibandingkan temperature rongga tubuh.
Karena menggantung diluar tubuh, Skrotum juga membuat suhu testis lebih rendah
dari suhu tubuh. Kondisi ini menguntungkan karena testis dapat membuat sperma
pada kondisi terbaik dalam menjalankan fungsinya, skrotum dapat merubah
ukuranya. Bila suhu udara dingin, skrotum akan mengerut dan menyebabkan testis
lebih dekat dengan tubuh dan dengan demikian lebih hangat sebaliknya pada cuaca
panas, skrotum akan membesar dan mengendur akibatnya luas permukaan skrotum
meningkat dan panas dapat di keluarkan.
Fungsi ini dapat terlaksana disebabkan adanya pengaturan oleh sistem otot rangkap
yang menarik testis mendekati dinding tubuh untuk memanasi testis atau
membiarkan testis menjauhi dinding tubuh agar lebih dingin. Pada manusia, suhu
testis sekitar 34C. Pengaturan suhu dilakukan dengan mengeratkan atau
melonggarkan skrotum, sehingga testis dapat bergerak mendekat atau menjauhi
tubuh. Testis akan diangkat mendekati tubuh pada suhu dingin dan bergerak
menjauh pada suhu panas.
B. Organ Kelamin Ixternal Pria
a. Testis

Testis adalah kelenjar kelamin jantan pada hewan dan manusia. Testis
berjumlah sepasang (testes = jamak). Testis dibungkus oleh skrotum, kantong kulit
di bawah perut. Padamanusia, testis terletak di luar tubuh, dihubungkan dengan
tubulus spermatikus dan terletak di dalam skrotum. Ini sesuai dengan fakta bahwa
proses spermatogenesis pada mamalia akan lebih efisien dengan suhu lebih rendah
dari suhu tubuh (< 37C).
Pada tubulus spermatikus terdapat otot kremaster yang apabila berkontraksi
akan mengangkat testis mendekat ke tubuh. Bila suhu testis akan diturunkan, otot
kremaster akan berelaksasi dan testis akan menjauhi tubuh. Fenomena ini dikenal
dengan refleks kremaster.
7

Selama masa pubertas, testis berkembang untuk memulai spermatogenesis.


Ukuran testis bergantung pada produksi sperma (banyaknya spermatogenesis),
cairan intersisial, dan produksi cairan dari Sel Sertoli.
Pada umumnya, kedua testis tidak sama besar. Dapat saja salah satu terletak
lebih rendah dari yang lainnya. Hal ini diakibatkan perbedaan struktur anatomis
pembuluh darah pada testis kiri dan kanan.
Testis berperan pada sistem reproduksi dan sistem endokrin. Fungsi testis:
- memproduksi sperma (spermatozoa)
- memproduksi hormon seks pria seperti testosteron.
Kerja testis di bawah pengawasan hormon gonadotropik dari kelenjar
pituitari bagian anterior:
- luteinizing hormone (LH)
- follicle-stimulating hormone (FSH)
Testis dibungkus oleh lapisan fibrosa yang disebut tunika albuginea. Di dalam
testis terdapat banyak saluran yang disebut tubulus seminiferus. Tubulus ini
dipenuhi oleh lapisan sel sperma yang sudah atau tengah berkembang.
Spermatozoa (sel benih yang sudah siap untuk diejakulasikan), akan bergerak
dari tubulus menuju rete testis, duktus efferen, dan epididimis. Bila mendapat
rangsangan seksual, spermatozoa dan cairannya (semua disebut air mani) akan
dikeluarkan ke luar tubuh melalui vas deferen dan akhirnya, penis. Di antara
tubulus seminiferus terdapat sel khusus yang disebut sel intersisial Leydig. Sel
Leydig memproduksi hormon testosteron. Pengangkatan testis disebut orchidektomi
atau kastrasi.
b. Saluran reproduksi
Saluran pengeluaran pada organ reproduksi dalam pria terdiri dari
epididimis, vas deferens, saluran ejakulasi dan uretra.
1.

Epididimis (tempat pematangan sperma)


Epididimis merupakan saluran berkelok-kelok di dalam skrotum yang keluar
dari testis. Epididimis berjumlah sepasang di sebelah kanan dan kiri.
Epididimis berfungsi sebagai tempat penyimpanan sementara sperma
sampai sperma menjadi matang dan bergerak menuju vas deferens.

2.

Vas deferens (saluran sperma dari testis ke kantong sperma)


Vas deferens atau saluran sperma (duktus deferens) merupakan saluran lurus
yang mengarah ke atas dan merupakan lanjutan dari epididimis. Vas
deferens tidak menempel pada testis dan ujung salurannya terdapat di dalam

kelenjar prostat. Vas deferens berfungsi sebagai saluran tempat jalannya


sperma dari epididimis menuju kantung semen atau kantung mani (vesikula
seminalis).
3.

Saluran ejakulasi
Saluran ejakulasi merupakan saluran pendek yang menghubungkan kantung
semen dengan uretra. Saluran ini berfungsi untuk mengeluarkan sperma agar
masuk ke dalam uretra

4.

Uretra
Uretra adalah saluran yang menghubungkan kantung kemih ke lingkungan
luar tubuh. Berfungsi sebagai saluran pengeluaran air mani. Panjang uretra
sekitar 20 cm dan berakhir pada akhir penis.

c. Kelenjar kelamin
Kumpulan kelenjar aksesoris terdiri dari vesikula seminalis, prostate, dan
kelenjar bulbouretralis. Sebelum ejakulasi, kelenjar tersebut mensekresikan mucus
bening yang menetralkan setiap urine asam yang masih tersisa dalam uretra.
Sel-sel sperma dapat bergerak dan mungkin aktif mengadakan metabolisme
setelah mengadakan kontak dengan plasma semen. Plasma semen mempunyai dua
fungsi utama yaitu: berfungsi sebagai media pelarut dan sebagai pengaktif bagi
sperma yang mula-mula tidak dapat bergerak serta melengkapi sel-sel dengan
substrat yang kaya akan elektrolit (natrium dan kalium klorida), nitrogen, asam
sitrat, fruktosa, asam askorbat, inositol, fosfatase sera ergonin, dan sedikit vitaminvitamin serta enzim-enzim. Kelenjar aksesoris terdiri dari:
1.

Vesikula seminalis (tempat penampungan sperma)


Vesikula seminalis atau kantung semen (kantung mani) merupakan
kelenjar berlekuk-lekuk yang terletak di belakang kantung kemih. Dinding
vesikula seminalis menghasilkan zat makanan yang merupakan sumber
makanan bagi sperma.
Vesikula seminalis menyumbangkan sekitar 60 % total volume semen.
Cairan tersebut mengandung mukus, gula fruktosa (yang menyediakan
sebagian besar energi yang digunakan oleh sperma), enzim pengkoagulasi,
asam askorbat, dan prostaglandin.

2.

Kelenjar prostat (penghasil cairan basa untuk melindungi sperma)


Kelenjar prostat melingkari bagian atas uretra dan terletak di bagian
bawah kantung kemih. Kelenjar prostat adalah kelenjar pensekresi terbesar.
Cairan prostat bersifat encer dan seperti susu, mengandung enzim
9

antikoagulan, sitrat (nutrient bagi sperma), sedikit asam, kolesterol, garam


dan fosfolipid yang berperan untuk kelangsungan hidup sperma.
3.

Kelenjar bulbouretra / cowper (penghasil lendir untuk melumasi saluran


sperma)
Kelenjar bulbouretralis adalah sepasang kelenjar kecil yang terletak
disepanjang uretra, dibawah prostat. Kelenjar Cowper (kelenjar bulbouretra)
merupakan kelenjar yang salurannya langsung menuju uretra. Kelenjar
Cowper menghasilkan getah yang bersifat alkali (basa).

C. Perjalanan Sperma (Diproduksi sampai dengan diejakulasi)


SPERMATOGENESIS
Peralihan dari bakal sel kelamin yang aktif membelah ke sperma yang masak
serta menyangkut berbagai macam perubahan struktur yang berlangsung secara
berurutan. Spermatogenesis berlangsung pada tubulus seminiferus dan diatur oleh
hormone gonadtotropin dan testosterone ( Yatim, 1990).
a. Tahap pembentukan spermatozoa dibagi atas tiga tahap yaitu :
1. Spermatocytogenesis
Merupakan spermatogonia yang mengalami mitosis berkali-kali yang akan
menjadi spermatosit primer.
a. Spermatogonia
Spermatogonia merupakan struktur primitif dan dapat melakukan
reproduksi (membelah) dengan cara mitosis. Spermatogonia ini
mendapatkan nutrisi dari sel-sel sertoli dan berkembang menjadi
spermatosit primer.
b. Spermatosit Primer
Spermatosit primer mengandung kromosom diploid (2n) pada inti
selnya

dan

mengalami

meiosis.

Satu

spermatosit

akan

menghasilkan dua sel anak, yaitu spermatosit sekunder.


2. Tahapan Meiois
Spermatosit I (primer) menjauh dari lamina basalis, sitoplasma
makin banyak dan segera mengalami meiosis I yang kemudian
diikuti

dengan

meiosis

II

Yatim,

1990).

Sitokenesis pada meiosis I dan II ternyata tidak membagi sel benih


yang lengkap terpisah, tapi masih berhubungan sesame lewat suatu
jembatan (Interceluler bridge). Dibandingkan dengan spermatosit I,
spermatosit II memiliki inti yang gelap ( Yatim, 1990).
3. Tahapan Spermiogenesis
Merupakan transformasi spermatid menjadi spermatozoa yang meliputi 4
fase yaitu fase golgi, fase tutup, fase akrosom dan fase pematangan. Hasil
akhir berupa empat spermatozoa masak. Dua spermatozoa akan membawa
10

kromosom penentu jenis kelamin wanita X. Apabila salah satu dari


spermatozoa ini bersatu dengan ovum, maka pola sel somatik manusia
yang 23 pasang kromosom itu akan dipertahankan.
Spermatozoa masak terdiri dari :
1. Kepala (caput), tidak hanya mengandung inti (nukleus) dengan
kromosom dan bahan genetiknya, tetapi juga ditutup oleh akrosom yang
mengandung enzim hialuronidase yang mempermudah fertilisasi ovum.
2. Leher (servix), menghubungkan kepala dengan badan.
3. Badan (corpus), bertanggungjawab untuk memproduksi tenaga yang
dibutuhkan untuk motilitas.
4. Ekor (cauda), berfungsi untuk mendorong spermatozoa masak ke
dalam vas defern dan ductus ejakulotorius ( Yatim, 1990).
Faktor-faktor yang merangsang terjadinya spermatogenesis :
1. LH (hormon lutein) berperan dalam merangsang sel leydig menghasilkan
testosterone
2. Testosteron, berperan pada tahap pembelahan spermatogonia menjadi
spermatosit
3. FSH berperan merangsang sel sertoli menghasilkan

FSH berperan

merangsang sel sertoli menghasilkan estrogen/estradiol


4. Estrogen, berperan dalam tahap spermiogenesis (spermatid

menjadi

spermatozoa)
Setelah sperma terbentuk di tubulus seminiferus

mengalami

pematangan di epididymis. Sel sertoli di epididimis menghasilkan nutrisi


dan hormon lain untuk mematangkan sperma. Setelah matang, sperma
akan disimpan di epididimis dan vas deferens. Sperma akan dikeluarkan
ke dalam duktus ejakulatorius dan uretra melalui proses ejakulasi.

11

EJAKULASI
Ejakulasi adalah suatu proses pengeluaran sperma sebagai akhir dari aksi seksual
pria
Aksi seksual pria terdiri dari tahap-tahap :
1. Ereksi : impuls saraf parasimpatik

menyebabkan arteri penis berdilatasi

sehingga darah memenuhi sinusoid jar.kavernosa penis mempengaruhi jar.


erektil penis sehingga menggembung
penis membesar
2. sehinggaLubrikasi : impuls saraf parasimpatik merangsang kel uretra dan
bulbouretra menghasilkan lender
3. Emisi : rangsang seksual meningkat
pleksus hipogastric

mempengaruhi

refleks

simpatis

menyebabkankontraksi vas deferens & ampula

sehingga sperma keluar, bercampur mukus dari kel vesikula seminalis


terbentuk cairan semen di duktus ejakulatorius
4. Ejakulasi : pengisian cairan di uretra
merangsang saraf pudendal ke korda
sakralis menyebabkan kontraksi otot ischiocavernosus dan bulbocavernosus
yang

menekan jaringan erektil penis timbul tekanan ritmik yang

mendorong cairan semen keluar dari uretra


Ketika ejakulasi terjadi, sekitar 40-150 juta sel sperma ditembakkan, dan sel
sperma tersebut berenang dengan cepat menuju tuba fallopi dalam misinya untuk
membuahi sebuah sel telur. Sebuah sel sperma yang berenang cepat dapat
mencapai sel telur dalam waktu setengah jam, dan yang lain mungkin mengambil
waktu beberapa hari. Sel sperma dapat hidup di sana 48-72 jam. Hanya beberapa
ratus sel sperma saja yang dapat mendekati sel telur, karena banyaknya rintangan
dan halangan alami yang ada di saluran reproduksi wanita.
D. Struktur Sperma

Struktur dan fungsi spermaa.


1.

Bagian Kepala
12

Pada

bagian

kepala

spermatozoon

ini,

terdapat

inti

tebal

dengansedikit sitoplasma yang diselubungi oleh selubung tebal dan terdapat 23kromosom
dari sel ayah. Selubung tebal yang dimaksud adalah akrosom, fungsidari akrosom adalah
sebagai pelindung dan menghasilkan enzim yang berfungsiuntuk menembus sel telur.b.
2.

Bagian Badan
Terdapat mitokondria yang berbentuk spiral dan berukuran besar, berfungsisebagai penyedia
ATP atau energi untuk pergerakan ekor.c.

3.

Bagian ekor
Pada bagian ekor sperma yang cukup panjang terdapat axial filament padabagian dalam,
dan membran plasma dibagian luar yang berfungsi untuk pergerakan sperma

E. Sifat Sperma X dan Y


1.
Sifat Sperma X
Sperma X bentuknya lebih panjang (lonjong) dan lebih besar.
gerakannya lambat.
Umurnya lebih lama (5-6 hari).
Tahan terhadap asam.
2.
Sifat Sperma Y
Sedangkan Untuk sperma Y bentuknya bundar, dan lebih kecil (1/3 X)
Gerakannya cepat
Umurnya lebih singkat (2-3 hari)
Kurang tahan asam.
F. Bentuk Sperma Normal dan Abnormal
Kriteria bentuk sperma normal bila:

Kepala : berbentuk oval, akrosom menutupi 1/3-nya, panjang 3-5 mikron,


lebar s/d 2/3 panjangnya. Akrosom penuh dengan enzim untuk mencerna
dinding sel telur agar sperma bisa menembus sel telur. Mitokondria berfungsi
sebagai motor penggerak untuk mengerakkan ekor.

Midpiece : langsing (< lebar kepala), panjang 2 kali panjang kepala, dan
berada dalam satu garis dengan sumbu panjang kepala.

Ekor : batas tegas, berupa garis dengan panjang 9 kali panjang kepala.

Gambar Kelainan Bentuk Sperma

13

3.

HORMON YANG BERHUBUNGAN DENGAN REPRODUKSI WANITA


Hormon merupakan suatu zat yang dihasilkan oleh suatu bagian dalam tubuh. Organ yang
berperan dalam sekresi hormon dinamakan kelenjar endokrin. Disebut demikian karena
hormon yang disekresikan diedarkan ke seluruh tubuh oleh darah dan tanpa melewati
saluran khusus. Di pihak lain, terdapat pula kelenjar eksokrin yang mengedarkan hasil
sekresinya melalui saluran khusus
.
Tabel Hormon
No
1

2
3
4

Nama Kelenjar
Hipofisa

Hormon yang dihasilkan


Follicle Stimulating Hormone (FSH)

Luteinizing Hormone (LH)

Ovarium

Luteotropic Hormone (LTH)


Estrogen

Endometrium
Testis

Progesteron
Human Chorionic Gonadotropin (HCG)
Testosteron

14

Berikut adalah hormon yang berhubungan dengan reproduksi wanita :


1.

Hormon GnRH (Gonadotrophin Releasing Hormon)


Diproduksi di hipotalamus, kemudian dilepaskan, berfungsi menstimulasi
hipofisis anterior untuk memproduksi dan melepaskan hormon-hormon gonadotropin
(FSH/LH).

2.

Hormon FSH (Follicle Stimullating Hormone)


Diproduksi di sel-sel basa hipofisis anterior, sebagai respon terhadap GnRH.
Berfungsi memicu pertumbuhan dan pematangan folikel dan sel-sel granulosa di
ovarium wanita (pada pria: memicu pematangan sperma di testis). Pelepasannya
periodic/pulsatif, waktu paruh eliminasi pendek (sekitar 3 jam), sering tidak
ditemukan dalam darah. Sekresinya dihambat oleh enzim inhibin dari sel-sel
granulose ovarium, melalui mekanisme feedback negatif.
Follicle

Stimulating

Hormone

(FSH)

berfungsi

Merangsang

pematangan folikel dalam ovarium dan menghasilkan estrogen, mengendalikan ciri


seksual pria & wanita (penyebaran rambut, pembentukan otot, tekstur & ketebalan
kulit, suara dan bahkan mungkin sifat kepribadian)
3.

Hormon LH (Lutinizing Homone)/ICSH (Interstitial Cell Stimulating Hormon)


Diproduksi di sel-sel kromofob hipofisis anterior. Bersama FSH,LH berfungsi
memicu perkembangan folikel (sel-sel teka dan se-sel granulosa) dan juga
mencetuskan terjadinya ovulasi dipertengahan siklus( LH-surge). Selama fase luteal
siklus, LH meningkatkan dan mempertahankan fungsi siklus luteum pascaovulasi
dalam menghasilkan progesterone. Pelepasannya juga periodic/pulsatif, kadarnya
dalam darah berfariasi setiap fase siklus, waktu paruh eliminasinya pendek (sekitar
satu jam). Kerja sangat cepat dan singkat. (Pada pria: LH memicu sintesis tertosteron
di sel-sel leydig testis).
Luteinizing Hormone (LH) : berfungsi mempengaruhi pematangan folikel
dalam ovarium dan menghasilkan progestron, mengendalikan fungsi reproduksi
(pembentukan sperma & sementum, pematangan sel telur, siklus menstruasi.

4.

Hormon Estrogen
Estrogen (alami) diproduksi terutama oleh sel-sel teka internal folikel di
ovarium secara primer, dan dalam jumlah lebih sedikit juga diproduksi di kelenjar
adrenal mrlalui konfersi hormone androgen. Pada pria diproduksi juga sebagian di
testis. Selama kehamilan, diproduksi juga oleh plasenta. Berfungsi stimulasi

15

pertumbuhan dan perkembangan (proliferasi) pada berbagai organ reproduksi


wanita. Estrogen berfungsi untuk merangsang sekresi hormon LH.
Pada

uterus:

menyebabkan

proliferasi

endometrium.

Pada

serviks:

menyebabkan pelunakan serviks dan pengentalan lendir serviks pada vagina :


menyebabkan proliferasi epitel vagina. Pada payudara : menstimulasi pertumbuhan
payudara, juga mengatur distribusi lemak tubuh. Pada tulang, estrogen juga
menstimulasi osteoblas sehingga memicu pertumbuhan / generasi tulang. Pada
wanita pascamenopouse, untuk pencegahan tulang kropos/ osteoporosis, dapat
diberikan terapi hormone estrogen (sintetik) pengganti.
Hormon estrogen berfungsi mengendalikan perkembangan ciri seksual &
sistem reproduksi wanita, saat pembentukan kelamin sekunder wanita, seperti bahu
mulai berisi, tumbuhnya payudara, pinggul menjadi lebar, dan rambut mulai tumbuh
di ketiak dan kemaluan. Di samping itu, hormon enstrogen juga membantu dalam
pembentukan lapisan endometrium.
5.

Progesteron
Progesteron (alami) diproduksi terutama di korpus luteum di ovarium,
sebagian diproduksi di kelenjar adrenal, dan pada kehamilan juga diproduksi di
plasenta. Progesteron menyebabkan terjadinya proses perubahan sekretorik (fase
sekresi) pada endometrium uterus, yang mempersiapkan endometrium uterus berada
pada keadaan yang optimal jika terjadi implantasi. Progesteron untuk menghambat
sekresi FSH dan LH.
Hormon progesteron : berfungsi mempersiapkan lapisan rahim untuk
penanaman sel telur yang telah dibuahi, mempersiapkan kelenjar susu untuk
menghasilkan susu, menjaga penebalan endometrium, menghambat produksi hormon
FSH, dan memperlancar produksi laktogen (susu). Hormon ini dihasilkan oleh
korpus luteum dan dirangsang oleh LH.

6.

HCG (Human Chorionic Gonadotrophin)


Mulai diproduksi sejak usia kehamilan 3-4 minggu oleh jaringan trofoblas
(plasenta). Berfungsi meningkatkan dan mempertahankan fungsi korpus luteum dan
produksi hormon-hormon steroid terutama pada masa-masa kehamilan awal.
Mungkin juga memiliki fungsi imunologik. Deteksi HCG pada darah atau urine dapat
dijadikan sebagai tanda kemungkinan adanya kehamilan.

7.

LTH (Lactotrophic Hormon) / Prolactin


Diproduksi di hipofisis anterior, memiliki aktifitas memicu / meningkatkan
produksi dan sekresi air susu oleh kelenjar payudara. Di ovarium, prolaktin ikut
16

mempengaruhi pematangan sel telur dan mempengaruhi pematangan sel telur dan
mempengaruhi pematangan sel telur dan mempengaruhi fungsi korpus luteum.
4.

SIKLUS MENSTRUASI
Fase Menstruasi adalah peristiwa luruhnya sel ovum matang yang tidak dibuahi
bersamaan dengan dinding endometrium yang robek. Dapat juga diakibatkan karena
berhentinya sekresi hormone estrogen dan progesterone sehingga kandungan hormone
dalam darah menjadi tidak ada. Fase menstruasi mulai pada hari pertama dari siklus dan
berlangsung 3-6 hari dengan total darah dan cairan yang keluar bervariasi tetapi biasanya
tidak lebih dari 60 ml. (Atikah dan Siti Misaroh, 2009).
Pada permulaan siklus, Kelenjar pituitari (hipofisis) yang terletak di dasar otak yang
terdiri dari dua lobus, yaitu lobus anterior dan lobus posterior. Lobus anterior dari kelenjar
hipofisis menghasilkan Follicle Stimulating Hormone (FSH) kedalam aliran darah. Hormon
ini menyebabkan tumbuhnya sebuah folikel (folliculus = kantung kecil) di dalam ovarium
dan di dalam folikel inilah sebuah sel telur berkembang.. Salah satu atau beberapa sel telur
kemudian tumbuh lebih cepat daripada sel telur lainnya dan menjadi dominant hingga
kemudian mulai memproduksi hormon yang disebut estrogen yang dilepaskan kedalam
aliran darah. Hormone estrogen bekerjasama dengan hormone FSH membantu sel telur yang
dominan tersebut tumbuh dan kemudian memberi signal kepada rahim agar mempersiapkan
diri untuk menerima sel telur tersebut. Hormone estrogen tersebut juga menghasilkan lendir
yang lebih banyak di vagina untuk membantu kelangsungan hidup sperma setelah
berhubungan intim.
Ketika sel telur telah matang, sebuah hormon dilepaskan dari dalam otak yang
disebut dengan Luteinizing Hormone (LH). Hormone ini dilepas dalam jumlah banyak dan
memicu terjadinya pelepasan sel telur yang telah matang dari dalam ovarium menuju tuba
falopi. Jika pada saat ini, sperma yang sehat masuk kedalam tuba falopi tersebut, maka sel
telur tersebut memiliki kesempatan yang besar untuk dibuahi.
Sel telur yang telah dibuahi memerlukan beberapa hari untuk berjalan menuju tuba
falopi, mencapai rahim dan pada akhirnya menanamkan diri didalam rahim. Kemudian,
sel telur tersebut akan membelah diri dan memproduksi hormon Human Chorionic
Gonadotrophin (HCG). Hormone tersebut membantu pertumbuhan embrio didalam rahim.
Jika sel telur yang telah dilepaskan tersebut tidak dibuahi, maka endometrium akan
meluruh dan terjadinya proses menstruasi berikutnya.
Fase-fase yang berhubungan dengan efek terhadap uterus adalah fase
menstruasi,Proliferasi, dan sekretori. Fase menstruasi mulai pada hari pertama dari siklus
17

dan berlangsung 3-6 hari dengan total darah dan cairan yang keluar bervariasi tetapi
biasanya tidak lebih dari 60 ml. Fase ini diikuti oleh fase proliferasi (hari ke 6-14) saat
lapisan endometrium dan kelenjar serta pembuluh rahim tumbuh sebagai respons terhadap
stimulasi oleh estrogen. Fase terakhir berupa sekretori (hari ke 14-28) yaitu saat garis
endometrium semakin tebal dan kelenjar uterin mulai mengeluarkan secret. Fase terakhir
ini terutama di atur oleh progesteron. Menstruasi mempunyai kisaran waktu tiap siklus
sekitar 28-35 hari setiap bulannya.

Siklus menstruasi terdiri dari :

18

a.

Fase Menstruasi yaitu peristiwa luruhnya sel ovum matang yang tidak dibuahi bersamaan
dengan dinding endometrium yang robek. Dapat juga dikarenakan berhentinya sekresi
hormone estrogen dan progesterone sehingga kandungan hormone dalam darah menjadi
tidak ada

b.

Fase Proliferasi/ Fase Folikuler ditandai dengan menurunnya hormone progesterone


sehingga memacu kelenjar hipofisis untuk mensekresikan FSH dan merangsang folikel
dalam ovarium serta dapat membuat hormone estrogen di produksi kembali. Sel folikel
berkembang menjadi folikel de Graaf yang masak dan menghasilkan hormone estrogen
yang merangsang keluarnya LH dari hipofisis. Estrogen dapat menghambat sekresi FSH
tetapi dapat memperbaiki dinding endometrium yang robek.

c.

Fase Ovulasi/ Fase Luteal ditandai dengan sekresi LH yang memacu matangnya sel ovum
pada hari ke-14 sesudah menstruasi 1. Sel ovum yang matang akan meninggalkan folikel
dan folikel akan mengkerut dan berubah menjadi corpus luteum. Corpus luteum berfungsi
untuk menghasilkan hormone progesterone yang berfungsi untuk mempertebal dinding
endometrium yang kaya akan pembuluh darah.

d.

Fase Pasca Ovulasi/ Fase Sekresi ditandai dengan corpus luteum yang mengecil dan
menghilang dan berubah menjadi Corpus albicans yang berfungsi untuk menghambat
sekresi hormone estrogen dan progesterone sehingga hipofisis aktif mensekresikan FSH
dan LH. Dengan terhentinya sekresi progesterone maka penebalan dinding endometrium
akan terhenti sehingga menyebabkan endometrium mengering dan robek. Terjadilah fase
perdarahan atau menstruasi.

5.

FISIOLOGI KEHAMILAN
Secara berurut, proses terjadinya kehamilan dimulai dari awal siklus menstruasi
wanita FSH atau Folikel Stimulating Hormon yang merangsang beberapa folikel menjadi
matang dalam kisaran waktu kurang lebih 2 minggu. Saat sel telur matang, ukurannya akan
menjadi tiga kali lipat dari ukuran normal. Dan hanya satu folikel yang dominan dalam 1
siklus pematangan tersebut. Selanjutnya sel telur akan lepas dai indung telur dan dikenal
dengan istilah ovulasi. Sel telur yang telah matang tersebut selanjutnya akan ditangkap
oleh apa yang disebut fimbrae. Selanjutnya akan menuju ke saluran telur atau tuba falopi.
Di tempat tersebut, sel telur akan menunggu kedatangan sperma untuk membuahinya.
Jika sperma masuk ke dalam tuba falopi, ia akan bertemu dengan sel telur yang
sedang matang atau ovum dan terjadilah pembuahan sel telur atau yang dikenal dengan
istilah konsepsi atau fertilitas. Sel telur yang telah berhasil dibuai sperma akan membelah
diri dan bergerak kembali menuju ke dalam ringga rahim dan selanjutnya melekat pada
mukosa

rahim

dan

melakukan

proses

menetap

atau

disebut

dengan

istilah

nidasi/implemetasi.

19

Nidasi adalah masuknya dan tertanamnya hasil konsepsi ke dalam endometrium. Bagianbagian nidasi meliputi :
1) Pertemuan kedua inti ovum dan spermatozoa membentuk zigot
2) Dalam beberapa jam zigot membelah dirinya menjadi dua dan seterusnya.
3) Bersamaan dengan pembelahan inti, hasil konsepsi terus berjalan ke uterus
4) Hasil pembelahan sel memenuhio seluruh ruangan dalam ovum yang besarnya 100
MU atau 0,1 mm dan disebut stadium morula
5) Selama pembelahan sel di bagian dalam, terjadi pembentukan sel di bagian luar
morula yang kemungkinan berasal dari korona radiata yang menjadi sel trofoblas
6) Sel trofoblas dalam pertumbuhannya mampu mengeluarkan hormone korionik
gonadotropin yang mempertahankan korpus luteum gravidarum
7) Pembelahan berjalan terus dan di dalam morula terjadi ruangan yang mengandung
cairan yang disebut blastula
8) Perkembangan dan pertumbuhan terus berjalan, blastula dengan vili korialis yang
dilapisi sel trofoblas telah siap untuk mengadakan nidasi
9) Sementara itu, fase sekresi endometrium telah makin gembur dan makin banyak
mengandung glikogen yang disebut desidua
10) Sel trofoblas yang meliputi primer vili korialis melakukan destruksi enzimatik
dan proteotik, sehingga dapat menanamkan diri di dalam endometrium
11) Proses penanaman blastula disebut nidasi atau implantasi
12) Proses nidasi tersebut terjadi pada hari ke-6 sampai 7 setelah konsepsi

20

21

Perkembangan Bayi Menurut Trimester Kehamilan :


1.

Trimester Pertama (Minggu 0 12)


a. Periode Germinal (Minggu 0 3)
Pembuahan telur oleh sperma terjadi pada minggu ke-2 dari hari pertama
menstruasi terakhir.
Telur yang sudah dibuahi sperma bergerak dari tuba fallopi dan menempel ke
dinding uterus (endometrium).
b.

Periode Embrio (Minggu 3 8 )


Sistem syaraf pusat, organ-organ utama dan struktur anatomi mulai terbentuk.
Mata, mulut dan lidah terbentuk. Hati mulai memproduksi sel darah. Janin
berubah dari blastosis menjadi embrio berukuran 1,3 cm dengan kepala yang
besar

c.

Periode Fetus (Minggu 9 12)


Semua organ penting terus bertumbuh dengan cepat dan saling berkait. Aktivitas
otak sangat tinggi.

2.

Trimester kedua (Minggu 12 24)


Pada minggu ke-18 ultrasongrafi sudah bisa dilakukan untuk mengecek

3.

kesempurnaan janin, posisi plasenta dan kemungkinan bayi kembar.


Jaringan kuku, kulit dan rambut berkembang dan mengeras pada minggu ke 20

21.
Indera penglihatan dan pendengaran janin mulai berfungsi.
Kelopak mata sudah dapat membuka dan menutup.
Janin (fetus) mulai tampak sebagai sosok manusia dengan panjang 30 cm.
Trimester ketiga (24 -40)
Semua organ tumbuh sempurna
22

Janin menunjukkan aktivitas motorik yang terkoordinasi (nendang, nonjok)

serta periode tidur dan bangun.


Masa tidurnya jauh lebih lama dibandingkan masa bangun.
Paru-paru berkembang pesat menjadi sempurna.
Pada bulan ke-9, janin mengambil posisi kepala di bawah, siap untuk dilahirkan.
Berat bayi lahir berkisar antara 3 -3,5 kg dengan panjang 50 cm.

Alasan Wanita Hamil Tidak Mengalami Menstruasi


Karena saat terjadi implantasi embrio (sel telur yang sudah dibuahi) di dinding
rahim atau endometrium, ovarium menghentikan produksi ovum sampai terjadi kelahiran
dan mengaktifkan hormon progesteron untuk memelihara dinding rahim sebagai
pendukung

untuk

perkembangan

janin.

sebaliknya,

jika

tidak

terjadi

pembuahan/fertilisasi, hormon progesteron menghentikan perannya untuk sementara


ketika ovum yang belum dibuahi sampai di uterus, dan dinding rahim luruh bersama
ovum yang mati.

6.

PERUBAHAN FISIOLOGI KEHAMILAN

A. Perubahan Perubahan Fisiologi Kehamilan


1.

Rahim atau Uterus


Perubahan fisiologis selama kehamilan pada uterus adalah uterus akan
membesar pada bulan bulan pertama dibawah
pengaruh estrogen dan progesteron yang kadarnya meningkat. Berat uterus normal
30 gram, pada akhir kehamilan (40 minggu) menjadi 100 gram, dengan panjang
20 cm dan dinding 22,5 cm. Hubungan antara besarnyauterus dengan tuanya
kehamilan sangat penting diketahui, antara lain untuk membuat diagnosis apakah
wanita tersebut hamil fisiologik, atau hamil ganda, atau menderita penyakit
seperti mola hidatidosa dan sebagainya (Hanifa, Abdul Bari dan Trijatmo, 2005 :
89). Sumber lain juga menyebutkan "rahim yang semula besarnya sejempol atau
beratnya 30 gram akan mengalami hipertropi dan hiperflasia sehingga beratnya
menjadi seberat 1000 gram saat akhir kehamilan" (Manuaba, 1998 : 106).

2.

Serviks uteri
Perubahan fisiologis selama kehamilan pada serviks uteri terjadi juga karena
pengaruh hormon estrogen. Akibat kadar estrogen meningkat dan dengan
23

adanyahipervaskularisasi maka konsistensi serviks menjadi lunak (Hanifa, Abdul


Bari dan Trijatmo, 2005 : 89).
3.

Vagina dan Vulva


Perubahan fisiologis selama kehamilan pada vagina dan vulva juga terjadi
akibat

hormon estrogen yang

mengalami

perubahan.

Adanya hipervaskularisasi mengakibatkanvagina dan vulva tampak lebih merah,


agak

kebiru-biruan

(livide).

Tanda

ini

disebut

tanda Chadwick.

Warna porsiopun tampak livide (Hanifa, Abdul Bari dan Trijatmo, 2005 : 95).
4.

Ovarium
Pada permulaan kehamilan masih terdapat korpus luteum graviditatis sampai
terbentuknya plasenta pada

kira-kira

luteum graviditatisberdiameter

kehamilan

kira-kira

16

cm.

minggu. korpus

Kemudian

mengecil

setelah plasenta terbentuk (Hanifa, Abdul Bari dan Trijatmo, 2005 : 95).
5.

Mamma
Mamma akan

membesar

dan

tegang

akibat

hormon somatomammotropin, estrogen, danprogesteron, akan tetapi belum


mengeluarkan air susu.
Dibawah pengaruh progesterondan somatomammotropin terbentuk lemak
disekitar kelompok-kelompok alveolus sehingga mamma menjadi lebih besar.
Papila mamma akab lebih membesar, lebih tegak, dan tampak lebih
hitam, seperti seluruh aerola mamma karena hiperpigmentasi(Hanifa, Abdul Bari
dan Trijatmo, 2005 : 95). Sumber lain menyebutkan "sedikit pembesaran
payudara, peningkatan sensitivitas dan ras geli mungkin dialami khususnya
oleh primigravida, pada kehamilan minggu ke-4. Cairan yang jenrnih ditemukan
dalam payudara pada usia kehamilan 4 minggu dan kolostrum dapat diperah
keluar pada usia kehamilan16 minggu (Farrer, 2001 : 64).
6.

Sirkulasi Darah
Perubahan fisiologis selama kehamilan pada terjadi pula pada sirkulasi
darah.

Perubahan

sirkulasi

darah

ini

terjadi

akibat

adanya

sirkulasi

ke plasenta, uterus yang terus membesar dengan pembuluh darah yang membesar
pula, mamma dan alat lainnya yang memang berfungsi berlebihan dalam
kehamilan. Volume darah ibu bertambah secara fisiologik dengan adanya
pencairan darah yang disebut hidremia. Volume darah akan bertambah banyak
kira-kira 25%, dengan puncak kehamilan 32 minggu, diikuti dengan cardiac
output yang meninggi sebanyak kira-kira 30% (Hanifa, Abdul Bari dan Trijatmo,
2005 : 96).
7.

Sistem Respirasi

24

Seorang wanita hamil pada kelanjutan kehamilannya tidak jarang


mengeluh tentang rasa sesak dan pendek napas. Hal ini ditemukan pada
kehamilan 32 minggu ke atas oleh karena usus-usus tertekan oleh uterus yang
membesar kearah diafragma sehinggadiafragma kurang leluasa bergerak. Untuk
memenuhi kebutuhan oksigen yang meningkat kira-kira 20%, seorang wanita
hamil selalu bernafas lebih dalam (Hanifa, Abdul Bari dan Trijatmo, 2005 : 96).
8.

Traktus digestivus
Pada bulan-bulan pertama kehamilan terdapat perasaan enek (nusea).
Mungkin

ini

akibat

kadar

hormon estrogen yang

meningkat. Tonus otot-

otot traktus digestivusmenurun, sehingga motilitas seluruh traktus digestivus juga


berkurang. Tidak jarang dijumpai pada bulan-bulan pertama kehamilan gejala
muntah (emesis). Biasanya terjadi pada pagi hariyang dikenal sebagai morning
sickness (Hanifa, Abdul Bari dan Trijatmo, 2005 : 96).
9.

Traktus Urinarius
Pada bulan-bulan pertama kehamilan kandung kencing tertekan
oleh uterus yang mulai membesar, sehingga timbul sering kencing. Keadaan ini
hilang dengan makin tuanya kehamilan bila uterus gravidarum keluar dari rongga
panggul. Pada akhir kahamilan bila kepala janin mulai turun ke bawah pintu atas
panggul, keluhan sering kencing akan timbul lagi karena kandung kencing mulai
tertekan kembali (Hanifa, Abdul Bari dan Trijatmo, 2005 : 97.

10.

Kulit
Pada kulit terdapat deposit pigmen dan hiperpigmentasi alat-alat
tertentu. Pigmentasi ini disebabkan oleh pengaruh melalnophore stimulating
hormone (MSH)

yang

meningkat.

terdapat hiperpigmentasi yang

sama,

Di

juga

di

daerah

leher

sering

daerah aerola mamma.Linea

alba pada kehamilan menjadi hitam, dikenal dengan linea grisea. Tidak jarang
dijumpai

kulit

perut

seolah-olah

retak-retak,

warnanya

berubah

agak hiperemik dan kebiru-biruan, disebut striae albikantes (Hanifa, Abdul Bari
dan Trijatmo, 2005 : 96). Sumber lain menyebutkan "pigmentasi yang lebih gelap
terjadi pada puting dan aerola mammae, wajah (kloasma-topeng kehamilan) dan
garis tengah abdomen (dari bagian atas umbilikus hingga rambut pubis)-linea
nigra (Farrer, 2001 : 65).
11.

Metabolisme dalam Kehamilan


Pada

wanita

hamil

basal metabolic

rate (BMR)

meninggi,

sistem endokrin juga meninggi, dan tampak lebih jelas kelenjar gondoknya
(glandula tireoidea) (Hanifa, Abdul Bari dan Trijatmo, 2005 : 98). Secara umum
dampak dari metabolisme ini akan terjadi kenaikan berat badan. Berat badan
25

wanita hamil akan naik kira-kira diantara 6,5-16,5 kg rata-rata 12,5 kg. Kenaikan
berat badan ini terutama terjadi dalam kehamilan 20 minggu terakhir. Kenaikan
berat badan ini disebabkan oleh hasil konsepsi (fetus, plasenta, dan likuor amnii)
dan dari ibu sendiri (uterus dan mamma yang membesar, volume darah yang
meningkat, lemak dan protein lebih banyak dan akhirnya adanya retensi air)
(Hanifa, Abdul Bari dan Trijatmo, 2005 : 98).
12.

Edema
Edema tungkai bawah pada trimester terakhir dapat merupakan hal
fisiologis. Namun bila disertai edema di tubuh bagian atas seperti muka dan
lengan, terutama bila diikuti peningkatan tekanan darah, maka dapat dicurigai
adanya preeklamsia (Manjoer, dkk, 2001 : 258).

13.

Tulang dan Gigi


Persendian panggul akan terasa lebih longgar, karena ligamenligamen melunak (softening). Juga terjadi sedikit pelebaran pada ruang
persendian. Apabila pemberian makanan tidak dapat memenuhi kebutuhan janin,
kalsium maternal pada tulang-tulang panjang akan berkurang untuk memenuhi
kebutuhan ini. Bila konsumsi kalsium cukup, gigi tidak akan kekurangan kalsium
(Mochtar, 1998 : 38).

DAFTAR PUSTAKA

Wylie, Linda. 2010 . Esensial Anatomi Dan Fisiologi Dalam Asuhan Maternitas . Edisi Kedua .
Jakarta . EGC
Barbara. R. 2004. Keperawatan Ibu-Bayi Baru Lahir Edisi 3. Jakarta : EGC
Perisis Mary Hamilton. 1995. Dasar-Dasar Keperawatan Maternitas : Jakarta : EGC
Anonim : http://firmanbiotik.blogspot.com/2013/09/makalah-hormon-reproduksi.html (Diakses
pada : 03-03-2015 pukul 19:00)
Anonim : http://gunkgrace.blogspot.com/2011/11/proses-menstruasi.html (Diakses pada : 03-032015 pukul 19:00)
Anonim
:
http://sitibarokahmidwife.blogspot.com/2014/01/genitalia-eksterna-dan-internapada.html (Diakses pada : 03-03-2015 pukul 17:00)

26

27