Anda di halaman 1dari 14

Jurnal Online Psikologi

Vol. 01 No. 02, Thn. 2013


http://ejournal.umm.ac.id

KEPERCAYAAN DIRI DENGAN KECEMASAN KOMUNIKASI DI DEPAN


UMUM PADA MAHASISWA
Reny Winarni
Fakultas Psikologi, Universitas Muhammadiyah Malang
reny_borneo@ymail.com
Kecemasan komunikasi di depan umum merupakan salah satu ketakutan
terbesar yang dialami oleh manusia. Kecemasan ini menghasilkan pengaruh
yang negatif terhadap berbagai aspek kehidupan, salah satunya aspek
akademis. Kecemasan komunikasi yang dialami seseorang saat akan
melakukan komunikasi di depan umum bisa muncul karena kurangnya rasa
percaya diri. Penelitian ini merupakan penelitian yang bersifat korelasional
yang bertujuan untuk mengetahui hubungan antara kepercayaan diri sebagai
variabel bebas dan kecemasan komunikasi di depan umum sebagai variabel
terikat. Sampel dalam penelitian ini berjumlah 100 orang mahasiswa
psikologi. Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah tehnik
purposive sampling. Penelitian ini menggunakan dua skala sebagai alat
ukur, yaitu skala kepercayaan diri dan skala kecemasan komunikasi di
depan umum. Analisa penelitian menggunakan korelasi product moment.
Berdasarkan hasil analisa ditemukan bahwa terdapat hubungan negatif
antara kepercayaan diri dengan kecemasan komunikasi di depan umum
dengan nilai r = -0,642 dan p=0,000. Sedangkan nilai koefisien determinasi
(r2)=0,412 menunjukkan sumbangan efektif kepercayaan diri terhadap
kecemasan komunikasi di depan umum sebesar 41,2% sedangkan sisanya
58,8% dipengaruhi oleh variabel lain.
Kata kunci: Kepercayaan diri, kecemasan komunikasi di depan umum
Communication apprehension is one of greater fear that human faced. This
anxiety causes the negative influence for some apects of life, one of them is
academic aspect. Communication apprehension experienced by a person
when going for a communication in public can arise due to lack of selfconfidence. This research is a correlational research that aims to
understand the correlation between self-confidence and communication
apprehension among student in psychology faculty university of
Muhammadiyah Malang. The subjects of this research were 100 students in
psychology faculty. Technics for intake of sampel used Technics purposive
sampling. This research using two scale as a measuring tools, namely selfconfidence scale and communication apprehension scale The analysed of
research product moment correlation method. The result showed that there
was a negative correlational between self confidence and communication
apprehension with correlation r = -0,642 dan p=0,000. While the value of
determinaton coeficient (r2) = 0,412 showed effective contribution for selfconfidence in term of communication apprehension 41, 2%, and 58, 2% had
been influenced by other variable.
Keyword : Self confidence, communication apprehension

400

Jurnal Online Psikologi


Vol. 01 No. 02, Thn. 2013
http://ejournal.umm.ac.id

Dunia pendidikan sangat erat kaitannya dengan komunikasi. Tidak ada institusi
pendidikan yang tidak dilahirkan oleh proses komunikasi, baik itu komunikasi verbal,
nonverbal, maupun komunikasi melalui media pembelajaran. Dimana komunikasi itu
menggambarkan bagaimana seseorang memahami, mendengar, dan kemampuan
memahami media. Sehingga dengan kemampuan tersebut individu mampu
menyampaikan ide, gagasan dan pengetahuannya kepada orang lain. Kegiatan
komunikasi merupakan hal yang sangat penting dalam kehidupan sehari-hari, meskipun
demikian sebagian orang masih mengalami kesulitan dalam hal berkomunikasi. Salah
satu bentuk kesulitan tersebut adalah kecemasan untuk mengungkapkan apa yang
hendak diinformasikan kepada orang lain. Sebenarnya perasaan cemas merupakan hal
yang wajar bila seseorang mengalami suatu kecemasan saat akan mulai suatu
pembicaraan, terutama didepan umum. Bahkan seseorang yang telah berpengalaman
berbicara di depan umum pun tidak terlepas dari perasaan ini.
Menurut Hoolbrook (dalam Horwits, 2002) kecemasan komunikasi mempunyai banyak
istilah yaitu sebagai demam panggung (stage fright), kecemasan komunikasi
(communication anxiety), kecemasan tampil didepan umum (performance anxiety), dan
kemudian berkembang dengan istilah communication apprehension. Communication
apprehension di definisikan sebagai kecemasan atau ketakutan yang di derita oleh
individu secara nyata atau antisipasi komunikasi, baik dalam suatu kelompok atau
individu dengan individu.
Horwitz (2002) juga mengemukakan bahwa kecemasan komunikasi merupakan suatu
jenis fobia sosial, yang ditandai dengan adanya suatu pemikiran bahwa dirinya akan
dikritik atau dinilai jelek oleh orang lain. Seperti yang dikemukan oleh Rakhmat (2007)
bahwa orang yang mengalami kecemasan komunikasi akan sedapat mungkin
menghindari situasi komunikasi, hal ini karena ia takut orang lain akan mengejeknya
atau menyalahkannya.
Salah satu skill yang harus dikuasai mahasiswa adalah kemampuan berkomunikasi di
depan umum dalam hal ini melakukan presentasi maupun diskusi. Presentasi dan
diskusi itu dapat di jumpai hampir setiap hari saat proses belajar mengajar di dalam
lingkungan perguruan tinggi. Dimana metode pembelajaran di Fakultas Psikologi UMM
kebanyakan menggunakan sistem diskusi dan presentasi guna membiasakan mahasiswa
berbicara di depan umum. Namun, tidak jarang mahasiswa merasa cemas untuk
mengungkapkan pemikirannya secara lisan, baik pada saat diskusi kelompok, bertanya
pada dosen, maupun ketika harus berbicara di depan kelas saat melakukan presentasi
tugas. Ketiga kegiatan tersebut menuntut mahasiswa untuk berbicara di depan umum,
dan ketika mahasiswa merasa cemas saat melakukannya dapat dikatakan mahasiswa
tersebut mengalami kecemasan berbicara di depan umum yang merupakan salah satu
bentuk dari hambatan komunikasi (communication apprehension). Problem kecemasan
komunikasi di depan umum ini masih banyak dihadapi oleh mahasiswa.
Dalam penelitian ini kecemasan komunikasi didepan umum lebih difokuskan pada
kegiatan presentasi maupun diskusi yang melibatkan dosen dan mahasiswa maupun
mahasiswa dengan mahasiswa dalam proses belajar mengajar. Perlu di sadari bahwa
kecemasan komunikasi di depan umum dalam hal ini saat menyampaikan informasi
kepada orang lain baik itu dengan melakukan presentasi maupun diskusi di depan kelas
masih banyak mahasiswa yang mengalami kecemasan saat akan melakukan hal tersebut.
401

Jurnal Online Psikologi


Vol. 01 No. 02, Thn. 2013
http://ejournal.umm.ac.id

Hal ini dapat kita ketahui bahwa di dalam kelas sebagian besar mahasiswa sering hanya
diam diri saja ketika dosen meminta komentar mereka mengenai materi yang baru saja
disampaikan. Begitu juga dalam situasi diskusi, hanya orang tertentu saja yang terlibat
aktif menginformasikan sesuatu sementara yang lainnya hanya sebagai pendengar saja,
mereka tidak berani mengemukakan pendapatnya atau menanyakan sesuatu yang belum
dipahami. Hal ini dikarenakan adanya rasa takut menerima tanggapan atau penilaian
negatif dari orang lain sehingga menyebabkan seseorang mengalami kecemasan
berbicara di depan umum atau tidak berkeinginan untuk bergabung dalam situasi
komunikasi. Keadaan yang demikian dapat menghalangi proses belajar selanjutnya.
Sebagaimana penelitian yang dilakukan oleh Keramida (2009) yang mengatakan bahwa
siswa yang mengalami kecemasan berbicara bahasa Inggris karena mereka takut akan
penilaian negatif dari rekan-rekan mereka dan persepsi mereka terhadap kemampuannya
dibandingkan dengan rekan-rekan mereka. Hal ini membuat para siswa tidak bersedia
untuk berpartisipasi dalam kegiatan berbicara dikelas. Seperti halnya penelitian yang
dilakukan oleh Mustapha, Ismail, Singh, dan Elias (2010) yang mana hasil penelitiannya
menunjukkan bahwa kebanyakan siswa mengalami kecemasan komunikasi yang relatif
tinggi dalam hal berkomunikasi. Penelitian ini juga mengungkapkan bahwa para siswa
lebih memilih diskusi kelompok sebagai cara mengurangi kecemasan komunikasi
mereka.
Penelitian yang dilakukan oleh Mc Croskey, et al., (dalam Rakhmat, 2007) memperoleh
hasil yang menunjukkan bahwa 10-20 % mahasiswa di Amerika menderita aprehensi
komunikasi, yaitu suatu kondisi ketika seseorang merasa cemas untuk melakukan
komunikasi dalam berbagai situasi komunikasi, baik formal maupun informal,
individual maupun kelompok. Hal tersebut sangat mengganggu aktivitas mereka dalam
akademis. Penelitian ini juga menerangkan bahwa orang-orang yang mengalami
ketakutan berkomunikasi, cenderung dianggap tidak menarik oleh orang lain, kurang
kredibel, dan sangat jarang menduduki jabatan pemimpin. Pada pekerjaan, mereka
cenderung tidak puas, di sekolah mereka cenderung malas karena itu mereka cenderung
gagal secara akademis.
Lebih lanjut, Hudaniah dan Dayakisni (2003) menyatakan bahwa pada umumnya
kecemasan itu berwujud ketakutan kognitif, keterbangkitan syaraf fisiologis dan suatu
pengalaman subjektif dari ketegangan atau kegugupan. Beberapa individu juga
mengalami perasaan tidak nyaman dengan kehadiran orang lain, biasanya disertai
dengan perasaan malu, yang ditandai dengan kekakuan, hambatan dan kecenderungan
untuk menghindari interaksi sosial. Keadaan individu yang seperti ini dianggap
mengalami kecemasan sosial.
Wrench, Brogan, McCroskey, dan Jowi (2005) melakukan penelitian yang hasil
penelitiannya menunjukkan bahwa extraversion dan neurotisisme menyumbang 72%
dari varians di tingkat individu yang mengalami kecemasan komunikasi sosial.
Selanjutnya kombinasi hambatan dalam berkomunikasi, kemauan untuk berkomunikasi,
dan keinginan untuk kontrol menyumbang 47% dari varians dalam tingkat individu
yang mengalami kecemasan komunikasi sosial. Hasil penelitian juga menemukan
bahwa orang yang memiliki tingkat kecemasan komunikasi sosial lebih tinggi ketika
berhadapan dengan orang asing daripada yang mereka lakukan dengan orang yang
sudah mereka kenal.
402

Jurnal Online Psikologi


Vol. 01 No. 02, Thn. 2013
http://ejournal.umm.ac.id

Kecemasan komunikasi saat melakukan presentasi maupun diskusi yang dialami


seseorang saat akan melakukan komunikasi di depan kelas bisa muncul karena
kurangnya rasa percaya diri. Seperti yang dikemukakan oleh Rakhmat (2007), bahwa
tidak semua ketakutan atau kecemasan berkomunikasi disebabkan kurangnya percaya
diri, tetapi diantara berbagai faktor yang ada yang paling menentukan adalah percaya
diri. Kepercayaan diri adalah salah satu aspek kepribadian yang paling penting pada diri
seseorang. Tanpa adanya kepercayaan diri akan banyak menimbulkan masalah pada
diri. Kepercayaan diri merupakan atribut yang paling berharga pada diri seseorang
dalam kehidupan bermasyarakat, dikarenakan dengan kepercayaan diri seseorang
mampu mengaktualisasikan segala potensi yang ada pada dirinya. Selain itu rasa
percaya diri juga dapat membantu seseorang apabila berhadapan dengan ketidakpastian,
membantu melihat tantangan-tantangan sebagai kesempatan-kesempatan, mengambil
resiko-resiko yang dapat diperhitungkan, dan membuat keputusan-keputusan dengan
tepat (Davies, 2004).
Menurut Rakhmat (2007) seseorang yang kurang percaya diri akan cenderung sedapat
mungkin menghindari komunikasi. Mereka takut orang lain akan mengejeknya atau
menyalahkannya. Dalam diskusi, mereka akan lebih banyak diam. Dalam pidatao,
mereka akan berbicara terpatah-patah. Selain itu orang yang mengalami kecemasan di
dalam berkomunikasi, akan menarik diri dalam pergaulan, berusaha sekecil mungkin
untuk dapat berkomunikasi, dan hanya akan berbicara apabila terdesak saja.
Berdasarkan fenomena yang telah dipaparkan di atas, peneliti tertarik untuk meneliti
lebih lanjut mengenai Hubungan antara kepercayaan diri dengan kecemasan
komunikasi di depan umum pada mahasiswa. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk
mengetahui apakah ada hubungan antara kepercayaan diri dengan kecemasan
komunikasi di depan umum pada mahasiswa. Manfaat yang diperoleh yaitu mahasiswa
dapat lebih percaya diri lagi ketika melakukan komunikasi di depan umum dalam hal ini
presentasi maupun diskusi. Sehingga akan meningkatkan prestasi akademiknya.
Kepercayaan diri
Kepercayaan diri adalah salah satu aspek kepribadian yang paling penting pada
seseorang. Kepercayaan diri merupakan atribut yang paling berharga pada diri
seseorang dalam kehidupan bermasyarakat, dikarenakan dengan kepercayaan diri,
seseorang mampu mengaktualisasikan segala potensi dirinya. Kepercayaan diri
merupakan sesuatu yang urgen untuk dimiliki setiap individu. Kepercayaan diri
diperlukan baik oleh seorang anak maupun orangtua, secara individual maupun
kelompok (Risnawati & Ghufron, 2010).
Menurut Willis (dalam Ghufro dan Risnawati, 2010) kepercayaan diri adalah keyakinan
bahwa seseorang mampu menanggulangi suatu masalah dengan situasi terbaik dan dapat
memberikan sesuatu yang menyenangkan bagi orang lain.
Lauster (dalam Ghufro & Risnawati, 2010) mendefinisikan kepercayaan diri diperoleh
dari pengalaman hidup. Kepercayaan diri merupakan salah satu aspek kepribadian yang
berupa keyakinan akan kemampuan diri seseorang sehingga tidak terpengaruh oleh
orang lain dan dapat bertindak sesuai kehendak, gembira, optimis, cukup toleran, dan

403

Jurnal Online Psikologi


Vol. 01 No. 02, Thn. 2013
http://ejournal.umm.ac.id

bertanggung jawab. Lauster menambahkan bahwa kepercayaan diri berhubungan


dengan kemampuan melakukan sesuatu yang baik.
Menurut Lauster (dalam Ghufro & Risnawati, 2010), tentang kepercayaan diri ia
mengemukakan aspek-aspek orang yang percaya diri yaitu sebagai berikut:
1. Percaya pada kemampuan diri sendiri
Keyakinan kemampuan diri yaitu sikap positif seseorang tentang dirinya. Sehingga ia
mampu sungguh-sungguh akan apa yang dilakukannya.
2. Optimis
Sikap positif yang dimiliki seseorang yang selalu berpandangan baik dalam
menghadapi segala hal tentang diri dan kemampuannya.
3. Objektif
Orang yang memandang permasalahan sesuai dengan kebenaran yang semestinya,
bukan menurut kebenaran pribadi atau diri sendiri.
4. Bertanggung jawab.
Kesediaan orang untuk menanggung segala yang telah menjadi konsekuensinya
5. Rasional dan realistis
Analisis terhadap suatu masalah, sesuatu hal, dan suatu kejadian dengan
menggunakan pemikiran yang dapat diterima oleh akal dan sesuai dengan kenyataan.
Berdasarkan penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa kepercayaan diri adalah
keyakinan untuk melakukan sesuatu pada individu sebagai karakteristik pribadi yang di
dalamnya terdapat keyakinan akan kemampuan diri, optimis, objektif, bertanggung
jawab, rasional dan realistis.
Kecemasan Komunikasi di Depan Umum
Setiap orang pernah mengalami kecemasan, karenanya kecemasan bukanlah hal yang
asing bagi manusia. Walaupun setiap orang pernah mengalaminya, tingkat kecemasan
dan reaksi yang dilakukan untuk mengatasinya belum tentu sama, sehingga akibat yang
ditimbulkan juga berbeda setiap individu
Kecemasan komunikasi merupakan suatu gejala yang mempunyai banyak istilah.
Hoolbrook (dalam Horwits, 2002) kecemasan komunikasi sebagai demam panggung
(stage fright), kecemasan komunikasi (communication anxiety), kecemasan tampil
didepan umum (performance anxiety), kemudian berkembang dengan istilah
communication apprehension. Communication apprehension di definisikan sebagai
kecemasan atau ketakutan yang di derita oleh individu secara nyata atau antisipasi
komunikasi, baik dalam suatu kelompok atau individu dengan individu. Sehingga
kecemasan komunikasi akan sangat mempengaruhi komunikasi verbal mereka.
Horwitz (2002) juga mengemukakan bahwa kecemasan komunikasi merupakan suatu
jenis fobia sosial, yang ditandai dengan adanya suatu pemikiran bahwa dirinya akan
dikritik atau dinilai jelek oleh orang lain. Seperti yang dikemukan Rakhmat (2007)
bahwa orang yang mengalami kecemasan komunikasi akan sedapat mungkin
menghindari situasi komunikasi, hal ini karena ia takut orang lain akan mengejeknya
atau menyalahkannya.

404

Jurnal Online Psikologi


Vol. 01 No. 02, Thn. 2013
http://ejournal.umm.ac.id

Sementara itu Zimbardo (dalam Horwits, 2002) menyebutkan kecemasan komunikasi


sebagai shyness, Zimbardo juga mengemukakan bahwa kecemasan komunikasi
mempunyai empat aspek, antara lain reaksi-reaksi kognitif, afektif, perubahan fisiologis
dan perilaku motorik. Mc. Croskey (dalam Rakhmat, 2007) memberikan istilah
kecemasan komunikasi sebagai communication apprehension, yang dapat didefinisikan
sebagai suatu kondisi ketika seseorang merasa takut atau cemas untuk melakukan
komunikasi, baik formal maupun informal, individual maupun kelompok. Kecemasan
dalam berkomunikasi sebenarnya merupakan bentuk perilaku yang normal bagi setiap
orang.
Lebih lanjut, Hudaniah dan Dayakisni (2003) menyatakan bahwa pada umumnya
kecemasan itu berwujud ketakutan kognitif, keterbangkitan syaraf fisiologis dan suatu
pengalaman subjektif dari ketegangan atau kegugupan. Beberapa individu juga
mengalami perasaan tidak nyaman dengan kehadiran orang lain, biasanya disertai
dengan perasaan malu, yang ditandai dengan kekakuan, hambatan dan kecenderungan
untuk menghindari interaksi sosial. Keadaan individu yang seperti ini dianggap
mengalami kecemasan sosial. Dimana salah satu bentuk kecemasan yang sering terjadi
adalah kecemasan dalam hal berkomunikasi. Ketika merasa cemas ataupun ketika
dihadapkan dengan situasi-situasi yang menekan, individu akan mengalami gejalagejala fisik maupun psikologis.
Berdasarkan beberapan pendapat di atas, dapat ditarik kesimpulan bahwa kecemasan
komunikasi merupakan pengalaman subjektif yang tidak menyenangkan mengenai
kekhawatiran atau ketegangan yang berupa perasaan cemas, tegang, dan emosi yang
dialami seseorang baik dalam situasi komunikasi yang bersifat formal maupun informal,
komunikasi dalam kelompok atau individu dengan individu yang ditandai dengan reaksi
fisik dan psikologis.
Zimbardo (dalam Horwits, 2002) mengemukakan bahwa kecemasan komunikasi
mempunyai 4 aspek antara lain:
1. Kognitif yaitu perhatian yang berlebihan terhadap diri sendiri dan juga terhadap
pandangan atau penilaian orang lain.
2. Afektif yaitu perasaan malu, gelisah dan bingung.
3. Perubahan Fisiologis yaitu detak jantung dan nadi meningkat, keringat berlebihan,
tangan dan kaki dingin serta perut mulas.
4. Perilaku motorik yaitu bicara terpatah-patah, tidak banyak bicara, gemetaran, kepala
menunduk atau berusaha menghindari tatap mata
Horwitz (2002) menerangkan ciri-ciri adanya kecemasan komunikasi, sebagai berikut:
1. Ketakutan sebelum dan selama aktivitas atau kegiatan berlangsung.
2. Pembangkitan Fisiologis (kegelisahan yang ditimbulkan oleh meningkatnya aktivitas
sistem saraf otonom).
3. Pembangkit reaksi subjektif pada diri individu.
4. Tidak dapat mengendalikan perasaan.
5. Ketakutan atau kecemasan dalam menyatakan sesuatu.
6. Perasaan takut dinilai orang lain.

405

Jurnal Online Psikologi


Vol. 01 No. 02, Thn. 2013
http://ejournal.umm.ac.id

Hipotesis
Ada hubungan negatif antara kepercayaan diri dengan kecemasan komunikasi di depan
umum pada mahasiswa. Dimana semakin tinggi kepercayaan diri seseorang maka
semakin rendah kecemasan komunikasi di depan umum pada mahasiswa, sebaliknya
semakin rendah kepercayaan diri, maka semakin tinggi tingkat kecemasan berbicara di
depan umum pada mahasiswa
METODE PENELITIAN
Rancangan Penelitian
Rancangan penelitian menggunakan penelitian kuantitatif korelasional antara dua
variabel dengan menggunakan metode penghitungan statistik tertentu sehingga akan
diketahui ada atau tidak hubungan antara dua variabel yang diteliti.
Subjek penelitian
Subjek penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah mahasiswa fakultas
Psikologi Universitas Muhammadiyah Malang. Adapun karakteristik subjek penelitian
yang digunakan peneliti meliputi jenis kelamin (laki-laki maupun perempuan) dan
angkatan mahasiswa yaitu angkatan 2010 dan 2011. Sampel yang digunakan peneliti
sebanyak 50 mahasiswa fakultas Psikologi dari angkatan 2010 dan 50 mahasiswa dari
angkatan 2011. Dimana populasi dari angkatan 2010 sebanyak 276 orang dan angkatan
2011 sebanyak 333 orang. Menurut Arikunto (2006) jika jumlah populasi besar maka
sampel yang dapat diambil antara 10-15% atau lebih. Tehnik pengambilan sampel yang
digunakan ialah dengan tehnik purposive sampling, yaitu suatu bentuk metode
pemilihan subjek sesuai dengan karakteristik yang ditentukan oleh peneliti.
Variabel dan Instrumen Penelitian
Varibel bebas penelitian, yaitu kepercayaan diri sedangkan variabel terikatnya yaitu
kecemasan komunikasi di depan umum. Kepercayaan diri adalah keyakinan untuk
melakukan sesuatu pada individu sebagai karakteristik pribadi yang di dalamnya
terdapat keyakinan akan kemampuan diri, optimis, objektif, bertanggung jawab, rasional
dan realistis. Kecemasan komunikasi di depan umum adalah pengalaman subjektif yang
tidak menyenangkan mengenai kekhawatiran atau ketegangan yang berupa perasaan
cemas, tegang, dan emosi yang dialami seseorang baik dalam situasi komunikasi yang
bersifat formal maupun informal, komunikasi dalam kelompok atau individu dengan
individu yang ditandai dengan reaksi fisik dan psikologis.
Untuk mengukur kepercayaan diri menggunakan skala likert yang diadaptasi dari Putro
(2012), dengan judul penelitian Hubungan Kepercayaan Diri dengan Kemampuan
Persuasi pada Sales Kartu Kredit. Peneliti mengadaptasi alat ukur tersebut yang mana
terdiri dari 35 item pernyataan yang kemudian diubah sesuai dengan aspek yang ingin
diungkap oleh peneliti. Alasan peneliti mengadaptasi alat ukur ini, karena masingmasing pernyataan sudah mencakup lima aspek dari kepercayaan diri yang diungkap
oleh Lauster (dalam Ghufro dan Risnawati, 2010) yaitu, percaya pada kemampuan diri
sendiri, optimis, objektif, bertanggung jawab, rasional dan realistis. Dari kelima aspek,

406

Jurnal Online Psikologi


Vol. 01 No. 02, Thn. 2013
http://ejournal.umm.ac.id

masing-masing aspek akan memiliki skor tinggi dan rendah sesuai respon yang
diberikan oleh subjek penelitian. Misalnya sebagai berikut:
Tabel 1. Indeks Validitas dan Reliabilitas Skala Kepercayaan Diri
No

Aspek

Percaya pada kemampuan diri


sendiri
Optimis
Objektif
Bertanggung jawab
Rasional dan realistis

2
3
4
5

Item tidak
valid
-

Indeks
Validitas
0,475-0,706

Indeks
Reliabilitas

0,402-0,682
0,500-0,666
0,509-0,701
0,322-0,748

0,810

Penghitungan validitas dilakukan dengan menggunakan program SPSS ver 12 for


windows. Validitas konstruk dari skala ditentukan dengan jalan mengkorelasikan antara
masing-masing item dengan skor total masing-masing item. Jika skor koreksi > 0,3
maka item tersebut memenuhi kriteria validitas. Akan tetapi jika skor koreksi item < 0,3
maka item tersebut tidak memenuhi kriteria validitas atau gugur (Azwar, 2010).
Pengujian reliabilitas dilakukan dengan menggunakan tehnik Alpha dari Conbach
(Azwar, 1997). Pengujian reliabilitas instrumen dilakukan dengan menggunakan SPSS
ver 12 for windows. Berdasarkan hasil penghitungan, jika diperoleh koefisien tiap-tiap
aspek memiliki alpha ( ) standar yang bernilai 0,8 maka skala yang diukur dinyatakan
reliabel (Azwar, 2010).
Berdasarkan tabel diatas dapat diketahui bahwa uji validitas menunjukkan dari 35 item
skala kepercayaan diri semua item valid sehingga bias digunakan untuk penelitian.
Demikian juga dengan uji reliabilitas juga dinyatakan reliable karena memiliki alpha ( )
standar yang bernilai > 0,8.
Sedangkan metode pengumpulan data yang digunakan untuk mengukur kecemasan
komunikasi di depan umum menggunakan skala hasil adapatasi dari Pajarwati (2005),
dengan judul penelitian Hubungan antara Harga Diri dengan Kecemasan Komunikasi
pada Mahasiswa. Peneliti mengadaptasi alat ukur tersebut yang mana terdiri dari 25
item pernyataan yang kemudian diubah sesuai dengan aspek yang ingin diungkap oleh
peneliti. Alasan peneliti mengadaptasi alat ukur ini, karena masing-masing pernyataan
sudah mencakup empat aspek kecemasan komunikasi yang dikemukakan oleh
Zimbardo (dalam Horwits, 2002) yaitu kognitif, afektif, perubahan fisiologis, dan
perilaku motorik. Masing-masing aspek akan mendapatkan skor tinggi dan rendah
sesuai dengan respon yang diberikan oleh subjek penelitian.
Tabel 2. Indeks Validitas dan Reliabilitas Skala Kecemasan Komunikasi
No
1
2
3
4

Aspek
Kognitif
Afektif
Perubahan fisiologis
Perilaku motorik

Item tidak valid


-

407

Indeks
Validitas
0,456-0,667
0,512-0,669
0,364-0,732
0,518-0,722

Indeks
Reliabilitas

0,811

Jurnal Online Psikologi


Vol. 01 No. 02, Thn. 2013
http://ejournal.umm.ac.id

Berdasarkan table 2 dapat diketahui bahwa dari 60 item yang disajikan tidak ada item
yang tidak valid sehingga dapat dinyatakan 60 item yang disajikan valid. Serta aspek
yang diiujikan juga dinyatakan reliabel, karena memiliki alpha ( ) standar yang bernilai
>0,8. Sehingga dapat disimpulkan bahwa skala tersebut memiliki validitas dan
reliabilitas yang meyakinkan dan siap untuk digunakan dalam penelitian. Untuk
mengklasifikasikan tinggi rendahnya kepercayaan diri terhadap kecemasan komunikasi
di depan umum pada mahasiswa menggunakan rumus T-score.
Prosedur dan Analisa Data Penelitian
Prosedur penelitian ini terbagi dalam dua tahap, yaitu tahap persiapan dan tahap
pelaksanaan. Saat memasuki tahap persiapan, peneliti akan mengadaptasi skala
kepercayaan diri dan skala kecemasan komunikasi. Skala kepercayaan diri yang
diadaptasi dari Putro (2012) dengan judul penelitian Hubungan Kepercayaan Diri
dengan Kemampuan Persuasi pada Sales Kartu Kredit. Skala kepercayaan diri tersebut
terdiri dari item 35 item. Serta skala kecemasan komunikasi yang diadaptasi dari
Pajarwati (2005), dengan judul penelitian Hubungan antara Harga Diri dengan
kecemasan Komunikasi pada Mahasiswa. Skala kecemasan komunikasi tersebut terdiri
dari 25 item. Kemudian setelah instrumen telah siap digunakan, peneliti melakukan uji
coba skala tersebut kepada 75 orang mahasiswa Psikologi Universitas Muhammadiyah
Malang. Setelah selesai dilakukan uji coba skala, peneliti melakukan uji validitas dan
reliabilitas terhadap hasil uji coba tersebut. Berdasarkan analisa data yang dilakukan,
dari 60 item yang disajikan, semua item dinyatakan valid dan dapat digunakan dalam
penelitian ini. Selanjutnya setelah tahap persiapan terlaksana, maka peneliti mulai
melangkah pada tahap pelaksanaan. Di tahap pelaksanaan ini, skala yang telah
dinyatakan valid diberikan kepada subjek penelitian, yaitu Mahasiswa Psikologi
angkatan 2010 dan 2011 sejumlah 100 mahasiswa. Metode analisis data yang digunakan
dalam penelitian ini adalah analisis data korelasi product moment dari pearsons. Untuk
mengklasifikasikan tinggi rendahnya kepercayaan diri mahasiswa dan dihitung dengan
menggunakan T-score.
HASIL PENELITIAN
Hasil penelitian menunjukkan bahwa deskripsi keseluruhan subjek penelitian
sebagaimana berikut :
Tabel 3. Deskripsi Subjek Penelitian
Jenis Kelamin
Laki-laki
Perempuan
Total

Jumlah
36
64
100

Presentase
36 %
64 %
100 %

Dari tabel 3 dapat diketahui bahwa subjek penelitian berjumlah 100 mahasiswa. Dari
100 mahasiswa tersebut, sebanyak 36 orang berjenis kelamin laki-laki dan 64 orang
berjenis kelamin perempuan.

408

Jurnal Online Psikologi


Vol. 01 No. 02, Thn. 2013
http://ejournal.umm.ac.id

Tabel 4. Hasil Uji T-Score Kepercayaan diri


Kategori
Tinggi
Rendah
Total

Interval
>50
< 50

Frekuensi
55
45
100

Prosentase
55 %
45 %
100 %

Tabel 5. Hasil Uji T-Score Kecemasan Komunikasi


Kategori
Tinggi
Rendah
Total

Interval
>50
< 50

Frekuensi
47
53
100

Prosentase
47 %
53 %
100 %

Berdasarkan tabel 4 dan 5 diatas dapat dijelaskan bahwa jumlah subjek yang
mempunyai kepercayaan diri yang tinggi sebanyak 55 orang atau 55%. Sedangkan
subjek yang memiliki kepercayaan yang rendah sebanyak 45 orang atau 45%.
Selanjutnya pada tabel 5, disimpulkan bahwa jumlah responden yang memiliki
kecemasan komunikasi yang tinggi adalah sebanyak 47 orang atau 47%. Sedangkan
yang memiliki kecemasan komunikasi yang rendah adalah sebanyak 53 orang atau 53%.
Tabel 6. Korelasi Antara Kepercayaan Diri dengan Kecemasan Komunikasi
R
-0,642

r2
0,412

p/sig
0,000

Keterangan
Sig < 0,01

Kategori
Sangat Signifikan

Dari hasil analisis uji korelasi product moment diperoleh kesimpulan bahwa adanya
hubungan yang signifikan antara variabel keoercayaan diri dengan kecemasan
komunikasi. Hal ini dapat dilihat pada tabel 8 diperoleh koefisien korelasi (r) sebesar 0,642 dengan nilai p sebesar 0,000 menandakan adanya hubungan kearah negatif yang
sangat signifikan antara kepercayaan diri dengan kecemasan komunikasi di depan
umum pada mahasiswa. Dengan demikian, hipotesis yang diajukan terbukti, bahwa
terdapat hubungan negatif yang signifikan antara kepercayaan diri dengan kecemasan
komunikasi. Hasil perhitungan koefisien determinan variabel (r2) diperoleh 0,412 atau
41,2% yang menandakan bahwa kepercayaan diri memiliki sumbangan efektif terhadap
kecemasan komunikasi di depan umum sebesar 41,2% sedangkan sisanya 58,8%
dipengaruhi oleh variabel lain yang dapat mempengaruhi kecemasan komunikasi.
DISKUSI
Penelitian ini bertujuan untuk melihat hubungan antara kepercayaan diri dengan
kecemasan berbicara di depan umum pada mahasiswa. Berdasarkan hasil penelitian
yang telah dilakukan menunjukan bahwa terdapat hubungan antara kepercayaan diri
dengan kecemasan komunikasi di depan umum pada mahasiswa. Hal ini berarti hipotesa
diterima yaitu terdapat hubungan negatif antara kepercayaan diri dengan kecemasan
komunikasi di depan umum pada mahasiswa dengan mengacu pada nilai korelasi
sebesar -0,642 dan p = 0,000. Hal ini berarti semakin tinggi kepercayaan diri mahasiswa
maka semakin rendah kecemasan komunikasi di depan umum mahasiswa, begitu juga

409

Jurnal Online Psikologi


Vol. 01 No. 02, Thn. 2013
http://ejournal.umm.ac.id

sebaliknya semakin rendah kepercayaan diri mahasiswa maka semakin tinggi


kecemasan komunikasi di depan umum pada mahasiswa.
Hasil penelitian ini mendukung pendapat yang dikemukakan oleh Rini (dalam
Andrianto & Dewi, 2006) yang mengatakan bahwa perasaan cemas saat berbicara di
depan umum dikarenakan kurangnya rasa percaya diri. Mahasiswa yang melakukan
komunikasi di depan umum sering kali menjadi cemas karena kepercayaan diri yang
dimilikinya rendah. Mahasiswa yang mempunyai kepercayaan diri yang tinggi akam
memiliki keyakinan atas kemampuan yang ada dalam dirinya sendiri saat akan
melakukan kegiatan komunikasi di depan umum. ia akan menyampaikan segala sesuatu
dengan penuh keyakinan dan merasa bangga ketika apa yang disampaikannya di respon
dengan baik oleh audiens.
Selain itu mahasisiwa yang memiliki kepercayaan diri yang tinggi selalu berfikir
optimis bahwa apa yang akan disampaikannya saat akan melakukan komunikasi di
depan umum dapat disampaikan dengan baik serta apa yang disampaikan dapat diterima
dan dipahami dengan baik oleh audiens. Sebaliknya mahasiwa yang memiliki
berkepercayaan diri rendah tidak miliki sikap optimis dengan apa yang hendak
disampaikannya saat melakukan komunikasi di depan umum. Mereka akan merasa
bahwa apa yang akan disampaikan mereka dinilai buruk oleh para audiens atas apa yang
telah disampaikannya serta merasa bahwa mereka akan menjadi bahan pembicaraan
oleh audiens dan lain sebagainya. Pemikiran-pemikiran seperti ini yang kerap kali di
miliki oleh mahasiwa yang memiliki kepercayaan diri rendah yang akan membuat
mahasiswa mengalami kecemasan komunikasi di depan umum.
Mahasiswa yang memiliki kepercayaan diri yang tinggi juga memiliki sikap yang
objektif dalam memandang sebuah permasalahan sesuai dengan kebenaran semestinya
bukan dengan pemikiran pribadinya. Sehingga ketika ia akan melakukan sebuah
komunikasi di depan umum maka ia akan menyampaikan segala sesuatu sesuai dengan
kebenaran dan fakta. Kemudian mahasiswa yang memiliki kepercayaan diri yang tinggi
juga memiliki sikap bertanggung jawab yang sehingga ketika dia melakukan suatu
kesalahan maka dia akan menerima konsekuensi atas perbuatan yang dilakukannya.
Ketika ia menyampaikan sesuatu yang salah maka ia akan meminta maaf dan
menjelaskan kembali apa yang telah disampaikan dengan benar dan sesuai dengan fakta.
Selain itu mahasiswa yang memiliki kepercayaan diri yang tinggi juga dalam
berkomunikasi di depan umum dapat menyampaikan segala sesuatu yang hendak
disampaikan secara rasional dan realistis. Hal ini dapat diartikan bahwa apa yang
hendak disampaikan dapat diterima oleh akal dan sesuai dengan kenyataan.
Berdasarkan hasil penelitian pada tabel 5 menjelaskan bahwa jumlah responden yang
memiliki kecemasan komunikasi yang tinggi adalah sebanyak 47 orang atau 47%, dan
yang memiliki kecemasan komunikasi yang rendah adalah sebanyak 53 orang atau 53%.
Sedangkan dalam hal kepercayaan diri jumlah responden yang memiliki kepercayaan
diri tinggi sebanyak 55 orang atau 55%. Sedangkan subjek yang memiliki kepercayaan
yang rendah sebanyak 45 orang atau 45%. Sehingga dari hasil penelitian tersebut
menunjukkan bahwa sebagian besar subjek penelitian memiliki kepercayaan diri yang
cukup tinggi sebanyak 55 orang dan kecemasan berbicara di depan umum yang rendah
sebanyak 53 orang.
410

Jurnal Online Psikologi


Vol. 01 No. 02, Thn. 2013
http://ejournal.umm.ac.id

Secara umum faktor-faktor yang menyebabkan timbulnya kecemasan adalah faktor


internal dan faktor eksternal. faktor internal meliputi rasa pesimis, takut gagal,
pengalaman negatif masa lalu, dan pikiran yang tidak rasional. Sementara faktor
eksternal seperti kurangnya dukungan sosial, lingkungan pergaulan dan lain-lain. Dalam
penelitian ini besarnya pengaruh atau kontribusi kepercayaan diri terhadap kecemasan
berbicara di depan umum dapat diketahui dari nilai koefisien determinasi r2 sebesar
0,412 yang artinya bahwa kepercayaan diri memiliki sumbangan efektif terhadap
kecemasan komunikasi sebesar 41,2% sedangkan sisanya 58,8% dipengaruhi oleh
faktor lain. faktor lain yang mempengaruhi kecemasan komunikasi tersebut yaitu,
pengalaman yang negatif pada masa lalu, pikiran yang tidak rasional, penilain negatif
dari orang lain serta pola fikir yang negatif.
Penelitian ini telah direncanakan dan berusaha dilaksanakan dengan sebaik-baiknya,
namun tetap saja terdapat keterbatasan dalam penelitian ini. Penelitian ini hanya
dilakukan pada satu disiplin ilmu sehingga penelitian ini tidak dapat menggambarkan
kondisi mahasiswa secara keseluruhan di setiap fakultas yang ada di universitas
tersebut. Oleh karena itu dengan melibatkan fakultas lain, diharapkan dapat mengetahui
tingkat kecemasan komunikasi di depan umum pada mahasiswa secara keseluruhan di
kampus tersebut.
SIMPULAN DAN IMPLIKASI
Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan negatif dan
sangat signifikan antara kepercayaan diri dengan kecemasan komunikasi di depan
umum pada mahasiswa. Nilai korelasi yang diperoleh dari penelitian ini sebesar
0,642 dengan nilai p sebesar 0,000 menandakan adanya hubungan kearah negatif yang
sangat signifikan antara kepercayaan diri dengan kecemasan komunikasi di depan
umum pada mahasiswa. Mahasiswa akan memiliki kecemasan komunikasi yang rendah
ketika mereka memiliki kepercayaan diri yang tinggi, begitu juga sebaliknya.
Implikasi dari penelitian, yaitu diharapkan mahasiswa yang berintelektual mampu
memaknai secara postif pengalaman dan tantangan dalam dunia luar secara
professional. Cara memaknai tantangan tersebut dengan menumbuhkan konsep diri
yang positif sehingga akan muncul kepercayaan diri akan eksistensinya dalam
menghadapi permasalahan. Bagi peneliti selanjutnya yang mungkin tertarik meneliti
dengan topik yang sama, disarankan untuk menggunakan variabel-variabel lain yang
dapat mempengaruhi kecemasan berbicara di depan umum. Berdasarkan hasil penelitian
58,8% merupakan faktor lain yang berpengaruh terhadap kecemasan berbicara di depan
umum seperti pengalaman yang negatif pada masa lalu, pikiran yang tidak rasional,
penilain negatif dari orang lain serta pola fikir yang negatif.
REFERENSI
Adrianto, B. (2008). Kecemasan presentasi ditinjau dari keterampilan komunikasi dan
kepercayaan diri pada mahasiswa. Accessed on September 20, 2012.
http://www. Google.com.
Arikunto, S. (1998). Prosedur penelitian (suatu pendekatan pratek). Jakarta: Rineka
Cipta.
411

Jurnal Online Psikologi


Vol. 01 No. 02, Thn. 2013
http://ejournal.umm.ac.id

Azwar, S. (2010). Penyusunan skala psikologi edisi dua. Yogyakarta: Pustaka


Pelajar.
Azwar, S. (1997). Reliabilitas dan validitas. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Davies, P. (2004). Meningkatkan rasa percaya diri. Yogyakarta: Torrent Books.
Dewi, A.P & Andrianto, S. (2006). Hubungan antara pola pikir dengan kecemasan
berbicara di depan umum pada mahasiwa fakultas keguruan. Accessed on
September
20,
2012
http://www28.indowebster.com/ac2d8c89734f144a40a1a4f5790e6a83.phdf.
De Vito, J. A. (1991). Komunikasi antar manusia kuliah dasar edisi kelima. Jakarta:
Profesional Books.
Ghufron, M. N. & Rini, R. (2010). Teori-teori psikologi. Yogyakarta: Ar- Ruzz.
Media.
Hakim, T. (2002). Mengatasi rasa tidak percaya diri. Jakarta: Puspa Swara.
Hudaniah & Tri Dayakisni. (2003). Psikologi sosial. Malang: Penerbit Universitas
Muhammadiyah.
Horwitz, B. (2001). Communication apprehension: origins and management. New
York: Singular Thomson Learning.
Rakhmat, J. (2007). Psikologi komunikasi. Bandung: Remaja Rosdakarya.
Keramida, A. (2009). Helping students overcome foreign language speaking anxiety in
the english classroom: theoretical issues and practical recommendations. Journal
of Education Studies, 2, (4). 27 - 37 Accessed on January 10, 2013. http://www.
Ccsenet.org/journal.html.
Lautser, P. (1995). Tes kepribadian. Jakarta: Gaya Media Pratama.
Mustapha W, Ismail N & Singh R. (2010).ESL students communication apprehension
and their choice of communicative activities. Jurnal of AJTLHE, 2, 22-29.
Accessed on September 20, 2012. http: //www.Eric.ed.gov.
Pajarwati. (2005). Hubungan antara harga diri dengan kecemasan komunikasi pada
mahasiswa. Skripsi. Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Malang.
Tidak diterbitkan.
Poerwanti, E. (2000). Dimensi-dimensi riset ilmiah. Malang: pusat penerbit Universitas
Muhammadiyah Malang.
Rakhmat, J. (2007). Psikologi komunikasi. Bandung: Remaja Rosdakarya.
Wrench, Jason, Brogan S, McCroskey & Jowi D. (2005). Social communication
apprehension: the intersection of communication apprehension and social
412

Jurnal Online Psikologi


Vol. 01 No. 02, Thn. 2013
http://ejournal.umm.ac.id

phobia. Journal of Human Communication. A Publication of the Pacific and


Asian Communication Association. 11, (4), 401- 422. Accessed on September
20, 2012. http://www. Eric.ed.gov.
Winarsunu, T. (2009). Statistik dalam penelitian psikologi pendidikan. Malang: UMM
Press.
Zuriah, N. (2005). Metodologi penelitian sosial dan pendidikan. Jakarta: PT Bumi
Aksara.

413