Anda di halaman 1dari 12

DEMINERALISASI, DEPROTEINASI, DAN DEASETILASI

1. Demineralisasi
Demineralisasi adalah sebuah proses penghilangan kadar garam dan mineral
terlarut melalui proses pertukaran ion ( ion exchange process ) dengan
menggunakan media resin/softener anion dan kation. Proses ini mampu
menghasilkan zat dengan tingkat kemurnian yang sangat tinggi ( ultrapure water )
dengan jumlah kandungan kandungan Ionik dan An-ionik nya mendekati angka
nol sehingga mencapai batas yang hampir tidak dapat dideteksi lagi.
1.1. Proses Demineralisasi air
Dalam industri, proses demineralisasi air biasanya dilakukan dengan
menggunakan alat. Ada dua tipe kolom resin yang umum digunakan pada proses
demineralisasi air. Keduanya adalah Single Bed dan Mixed Bed Ion Exchange
Resin. Single Bed berarti di dalam satu kolom hanya terdapat satu jenis resin saja
yakni kation resin saja atau anion resin saja. Sedangkan kolom Mixed Bed berisi
campuran resin kation dan anion. Kedua tipe kolom resin di atas bekerja pada dua
tipe sistem demineralisasi yang berbeda.
a)

Multi-Stage Demineralisasi
Pada awal proses demineralisasi multi-stage, air akan melewati resin kation
untuk mengikat ion-ion mineral positif. Proses ini diikuti dengan pelepasan
ion H+ ke dalam air. Jika R dan K2+ berturut-turut adalah molekul ion resin
dan ion mineral positif, maka reaksi ion exchange yang terjadi pada kolom
resin yakni sebagai berikut:
2 R-H + K2+ R2K + 2 H+
Ion kalsium yang terlarut di dalam air biasanya berbentuk kalsium
bikarbonat. Pada saat ion kalsium diikat molekul resin, kalsium bikarbonat
akan terpecah membentuk molekul air dan karbondioksida.
2 R-H + Ca(HCO3)2 R2Ca + 2 H2 + 2 CO2
Molekul karbondioksida hasil reaksi di atas dikeluarkan melalui sistem
CO2 removal.

Ion H+ yang lepas ke dalam air akan berikatan dengan anion terlarut di dalam
air. Sehingga reaksi ion hidrogen tersebut akan menghasilkan asam kuat
seperti asam sulfurik, hidroklorik, dan asam nitrit. Untuk menghilangkan
keasaman ini, air dialirkan lebih lanjut ke resin anion. Saat melewati resin
anion, ion-ion negatif yang larut di dalam air akan terikat oleh molekul resin
diikuti dengab terlepasnya ion OH-. Jika A adalah ion negatif yang terlarut di
dalam air, maka reaksi yang terjadi pada resin anion adalah sebagai berikut:
2 R-OH + A2- R2A + 2 OHPada akhirnya ion H+ dan OH- akan bereaksi membentuk molekul air baru:
H+ + OH- H2O

Proses Demineralisasi Air Multi-stag

Bentuk variasi sistem demineralisasi lain yakni dengan menggunakan kolom


resin anion kuat dan lemah. Sistem ini menghasilkan kualitas output yang
sama dengan hanya menggunakan satu resin anion. Keuntungan sistem ini
yaitu lebih ekonomis saat harus mengikat anion-anion kuat seperti sulfat dan
klorit, karena pada saat proses regenerasi resin, larutan NaOH pekat yang
keluar dari kolom resin kuat sudah cukup untuk meregenerasi anion resin
lemah. Untuk menghadapi anion kuat terlarut dalam air dengan jumlah yang
sama, jumlah larutan NaOH yang dibutuhkan untuk meregenerasi dua anion

resin tersebut, lebih sedikit dibandingkan NaOH yang meregenerasi sistem


dengan satu anion resin.
b)

Mixed Bed Demineralisasi


Pada beberapa kebutuhan industri, terkadang dibutuhkan tidak satu tahap
proses pertukaran kation dan anion. Pada beberapa proses, bahan baku air
dilewatkan sampai dua atau tiga kation dan anion kolom resin. Untuk
meringkas proses, maka setiap stage pertukaran ion dapat digunakan satu
kolom resin yang berisi resin kation dan anion sekaligus. Pada akhir proses
demineralisasi, akan didapatkan air dengan kualitas sangat murni. Sistem ini
sangat cocok digunakan pada pabrik-pabrik pengguna boiler bertekanan
tinggi, serta industri elektronik untuk kebutuhan mencuci transistor dan
komponen-komponen elektronika lainnya.

Kolom Resin Mixed Bed

1.2. Demineralisasi pada pembuatan Chitosan


Limbah cangkang udang dicuci denagn air mengalir dan dikeringkan di
bawah sinar matahari sampaikering, kemudian dicuci di dalam air panas dua kali
lalu direbus selama 10 menit. Tiriskan dan keringkan. Bahan yang sudah kering
lalu digiling samapi menjadi serbuk ukuran 40-60 mesh.

Kemudian dicampur asam klorida 1N (HCl 1N) denagn perbandingan 10:1


untuk pelarut dibandingkan dengan kulit udang, lalu diaduk merata sekitar 1 jam.
Biarkan sebentar, kemudian panaskan pada suhu 90oC selama 1 jam. Residu
berupa padatan dicuci denagn air sampai pH netral dan selanjutnya dikeringkan
dalam oven pada suhu 80oC selama 24 jam atau dijemur sampai kering.

Serbuk hasil deproteinasi ini umumnya masih berupa senyawa Kalsium


Karbonat sehingga apabila dicamprukan dengan larutan HCl akan terbentuk
gelembung gas dari CO2. Proses ini bertujuan untuk menghilangkan kandungan
mineral dalam kulit udang. Caranya ialah hasil proses deproteinasi yang berupa
serbuk dimasukkan kedalam larutan HCl, kemudian pisahkan endapan serbuk dari

larutan HCl. Hasil endapan yang diperoleh dibilas dengan aquades lalu
dipanaskan sampai kering. Hasil dari proses ini disebut chitin.
Reaksi serbuk limbah kulit udang saat dicampur dengan larutan NaOH
CaCO3(s) + 2HCl(l)

CaCl2(s) + H2O(l) + CO2(g)

2. Deproteinasi
Deproteinasi adalah penghilangan kandungan protein. Adapun tujuan dari
penghilangan protein disini agar bahan yang digunakan tidak mengalami
pembusukan, kandungan protein dalam suatu zat dapat mempercepat tumbuhnya
bakteri. Proses ini memerlukan larutan basa, biasanya digunakan larutan NaOH.
Caranya ialah setelah limbah kulit udang digerus halus lalu dicampur dengan
larutan

NaOH.

Pemberian

larutan

basa

ini

bertujuan

untuk

menghancurkan protein yang terkandung pada kulit udang. Setelah dicampur


dengan larutan basa pisahkan endapannya dengan cara disafing, endapan ini lalu
dinetralkan terlebih dahulu dengan cara dibilas dengan aquades. Kemudian
dikeringkan dengan cara dipanaskan sampai terbentuk serbuk.
Bahan baku untuk membuat produk chitosan ini adalah karapaks udang dan
cangkang dari berbagai jenis hewan. Di pasar-pasar tradisional di Indonesia,
bahan-bahan tersebut banyak sekali ditemukan. Juga di tempat-tempat khusus,
seperti restoran seafood dan pabrik pengolahan makanan laut, dapat kita peroleh
dalam jumlah yang sangat melimpah. Jika bahan-bahan tersebut dibiarkan saja
tanpa diolah, lama kelamaan akan menumpuk menjadi limbah yang dapat
mencemari dan mengganggu lingkungan.Maka dari itu, penggunaan pengawet
makanan berbahan dasar chitosan ini dapat menjadi suatu solusi tepat mengurangi
limbah karapaks dan cangkang menjadi sesuatu yang bermanfaat.
Limbah udang yang telah dimineralisasi dicampur denagn larutan sodium
hidroksida 3,5% (NaOH 3,5%) dengan perbandingna antara pelarut dan cangkang
udang 6:1. Aduk sampai merata sekitar 1 jam. Selanjutnya biarkan sebentar, lalu
dipanaskan pada suhu 90oC selama 1 jam. Larutan lalu disaring dan didinginkan
sehinggadiperoleh residu padatan yang kemudian dicuci denagn air samapai pH
netral dan dikeringkan pada suhu 80oC selama 24 jam atau dijemur sampai kering.

3. Deasetilasi

Chitin merupakan polisakarida terbesar kedua setelah sakarida. Chitin


mempunyai rumus molekul (C8H13O5)n yang tersusun atas 47% C, 6% H, 7% N,
dan 40% O. Lebih dari sepuluh gigaton (1013 kg) chitin tersedia di alam. Chitin
terdapat pada binatang invertebrata laut, serangga, fungi dan jamur. Chitin terdiri
dari unit-unit N-asetilglukosamin dengan ikatan beta 1,4. Modifikasi chitin
memerlukan pemecahan dengan enzim chitinase. Banyak bakteri yang
menghasilkan chitinase dan salah satu diantaranya Serratia marcescens.
Proses deasetilasi ini merupakan proses terakhir pembuatan chitosan. Proses
ini menggunakan larutan NaOH, chitin yang telah diperoleh dari tahap
demineralisasi selanjutnya dicampur dengan larutan NaOH. Saat pencampuran
dengan larutan NaOH, terjadi adisi OH- pada amida kemudian terjadi eliminasi

gugus COCH3-, sehingga terbentuklah gugus NH2 yang berikatan dengan polimer
chitin. Inilah senyawa yang disebut chitosan. Senyawa ini dapat digunakan untuk
mengawetkan makanan karena gugus NH2 pada chitosan dapat menghambat
pertumbuhan bakteri dengan cara adsorpsi chitosan pada permukaan bakteri
sehingga bakteri yang telah mengadsorpsi chitosan ini akhirnya mati.

Reaksi chitin dan NaOH menghasilkan chitosan

Chitosan dibuat dengan menambahkan sodium hidroksida (NaOH) 50%


denagn perbandingan 20:1 (pelarut dibanding chitin). Aduk sampai merata selama
1 jam dan biarkan sekitar 30 menit, lalu dipanaskan selama 90 menit denagn suhu
140oC. Larutan kemudian disaring untuk mendapatkan residu berupa padatan, lalu
dilakukan pencucian denagn air sampai pH netral, kemudian dikeringkan denagn
oven suhu 70oC selama 24jam atau dijemur sampai kering. Bentuk akhir chitosan
bisa berbentuk serbuk maupun serpihan.

Chitosan adalah produk hasil proses deasetilasi chitin yang memiliki sifat
unik. Unit penyusun chitosan merupakan disakarida saling berikatan beta. Berat
molekul chitosan tergantung dari degradasi yang terjadi pada saat proses
pembuatan chitosan. Berat molekul chitosan sekitar 1,063 x 105 dalton.

Pembuatan chitosan dilakukan dengan cara penghilangan gugus asetil (-COCH 3)


dari chitin disebut juga dengan proses deasetilasi yang menggunakan larutan
NaOH pekat 50% dengan perbandingan 1:20 selama 1 jam pada suhu 120-140 oC.
Reaksi yang terjadi dalam proses tersebut antara NaOH dengan gugus N-asetil
pada chitin (rantai C-2) yang akan menghasilkan Na-asetat dan terbentuklah
gugus amina (-NH2) pada chitosan. Semakin banyak gugus asetil yang hilang dari
polimer chitin maka akan semakin kuat interaksi antar ion dan ikatan hidrogen
dari chitosan. Gugus (-NH2) inilah yang menyebabkan chitosan mempunyai
banyak fungsi.
Chitosan merupakan senyawa kimia yang mudah menyesuaikan diri,
hidrofilik dan memiliki reaktivitas tinggi (karena mengandung gugus OH atau
gugus NH2) untuk ligan yang bervariasi. Chitosan berbentuk spesifik dan
mengandung gugus amino dalam rantai karbonnya. Hal ini menyebabkan chitosan
bermuatan positif yang berlawanan dengan polisakarida lainnya. Chitosan
merupakan polielektrolit netral pada pH asam. Bahan-bahan seperti protein, ion
polisakarida, asam nukleat yang bermuatan negatif akan berinteraksi kuat dengan
chitosan membentuk ion netral. Chitosan larut dalam beberapa larutan asam
organik tetapi tidak larut dalam pelarut organik dan tidak larut pada larutan yang
mengandung konsentrasi ion hidrogen di atas pH 6,5. Umumnya mutu chitosan
terdiri dari beberapa parameter yaitu bobot molekul, kadar air, kadar abu,
kelarutan, warna dan derajat deasetilasi.
Chitin dan chitosan memiliki beberapa kelebihan dibandingkan dengan
polimer lainnya yaitu:
a)

Merupakan sumberdaya yang dapat diperbarui karena bahan utamanya


berasal dari kulit udang

b)

Merupakan senyawa biopolimer yang dapat terdegradasi dan tidak


mencemari lingkungan serta tidak bersifat toksik

c)

Mempunyai fungsi biologis dapat membentuk gel, koloid dan film

d)

Mengandung asam amino dan hidroksil yang dapat dimodifikasi

kulit udang

Chitosan dan turunannya telah banyak digunakan dalam berbagai aplikasi


mulai dari bidang pangan, mikrobiologi, kesehatan, pertanian dan sebagainya.
Aplikasi chitosan dalam bidang pangan salah satunya sebagai makanan berserat
sehingga dapat meningkatkan massa feses, menurunkan kolesterol dan
menurunkan respon glisenik dari makanan. Peranan chitosan pada industri kertas
dikarenakan adanya muatan positif yang dapat dijadikan alternatif yang baik
sebagai perekat (sizer) dan pengisi (filler) kertas, dengan cara membentuk ikatan
dengan selulosa yang bermuatan negatif. Chitosan juga mempunyai fungsi
membentuk film (film forming) dan juga sebagai pelapis (coating). Chitosan juga
efektif sebagai penjernih pada sari buah karena konsentrasi yang rendah dapat
mencapai kejernihan supernatan yang tinggi dan cepat.

chitosan sebagai coating (pelapis) yang aman pada buah

chitosan sebagai sensor kebusukan ikan

Semakin tinggi mutu chitosan atau chitin berarti semakin tinggi pula
kemurniannya, salah satu parameter mutu chitin atau chitosan yang cukup penting
adalah derajat deasetilasinya. Semakin tinggi derajat deasetilasinya maka semakin
tinggi kemurniannya artinya chitin dan chitosan semakin murni dari pengotornya
yaitu protein, mineral dan pigmen serta gugus asetil untuk chitosan yang disertai
kelarutannya yang sempurna dalam asam asetat 1%. Sehubungan dengan
kebutuhan setiap industri akan chitosan yang bermutu tertentu maka perlu
didesain kondisi proses pembuatan chitosan yang akan menghasilkan produk
dengan mutu beragam.

Daftar pustaka
Arsya, Fitriani. 2013. Demineralisasi. (Online) https://www.scribd.com/doc/8549
3282/demineralisasi. (Diakses pada 4 maret 2015)
Dahlan, Hatta.2010.Penuntun Praktikum Teknologi Bioproses.Laboratorium
Teknologi Bioproses Universitas Sriwijaya.
Pursman, Habib. 2012. Demineralisasi air. (Online) http://artikel-teknologi.com/
proses-demineralisasi-air. (Diakses pada 4 maret 2015)
Suptijah, Pipih. 2012. Kitin. (Online) https://astutipage.wordpress.com/tag/deprote
inasi. (Diakses pada 4 maret 2015)
Suptijah, Pipih. 2012. Kitosan. (Online) https://astutipage.wordpress.com/tag/deas
etilasi. (Diakses pada 4 maret 2015)