Anda di halaman 1dari 13

Psikologi Sosial II

KONFLIK

AZHARIAH NUR. B. ARAFAH

Q11112008

WIRDA KHAIRIYAH

Q11112258

KHAERUNNISA MUHIRO

Q11112903

PSIKOLOGI A 2012

PROGRAM STUDI PSIKOLOGI


FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS HASANUDDIN
2014

A. Definisi Konflik
Konflik merupakan hal yang sering kita jumpai dalam kehidupan sehari-hari. Secara
definitif konflik memiliki pengertian yang berbeda-beda. Perbedaan ini disebabkan oleh sudut
pandang mereka yang berbeda-beda. Secara etimologi, istilah konflik berasal dari bahasa latin
confligere gabungan dari con yang berarti bersama dan figure yang berarti benturan atau
tabrakan. Arti kata ini menunjuk pada semua bentuk benturan, tabrakan, ketidaksesuaian,
ketidakserasian, pertentangan, perkelahian, oposisi dan interaksi-interaksi yang antagonis
(Kartono, 1998). Pengertian senada juga dijelaskan oleh Forsyth (2010 : 380) bahwa konflik
merupakan ketidaksetujuan, perselisihan dan pergesekan yang terjadi ketika tindakan atau
keyakinan satu maupun lebih anggota kelompok tidak diterima dan ditolak oleh satu atau lebih
anggota kelompok yang lain.
Robbin (2008 : 173) mendefinisikan konflik sebagai sebuah proses yang dimulai ketika
suatu pihak memiliki persepsi bahwa pihak lain telah memengaruhi secara negatif, atau akan
memengaruhi secara negatif, sesuatu yang menjadi perhatian/kepedulian dan kepentingan pihak
pertama. Lebih lanjut dijelaskan bahwa konflik itu dirasakan oleh pihak-pihak yang terlibat.
Konflik itu ada atau tidak ada merupakan persoalan persepsi dan kesepakatan.
Adapun Myers (2012 : 244) menyatakan bahwa konflik merupakan ketidaksesuaian
antara tindakan dan tujuan. Konflik juga dapat didefinisikan sebagai suatu keadaan yang di
dalamnya terdapat kecekcokan maksud antara nilai-nilai atau tujuan-tujuan, berpacu menuju
tujuan dengan cara yang tidak atau kelihataanya kurang sejalan sehingga yang satu berhasil
sementara yang lainnya tidak, juga merupakan konflik (Kolman & Thomas; Barelson & Steiner
dalam Wijono, 2010 : 177).
B. Penyebab Umum Konflik
Konflik dapat dikarenakan oleh berbagai macam hal. Secara umum penyebab konflik adalah:
a. Adanya tindakan yang bertentangan dengan hati nuraninya, ketidakpastian mengenai
kebutuhan yang harus dipenuhi, konflik peranan, konflik kepribadian, dan konflik tugas di
luar kemampuannya.
b. Perbedaan peranan (atasan dengan bawahan), kepribadian, dan kebutuhan (konflik
vertical).

c. Individu mendapat tekanan dari kelompoknya atau individu bersangkutan telah melanggar
norma-norma kelompok sehingga dimusuhi atau dikucilkan oleh kelompoknya.
Berubahnya visi, misi, tujuan , sasaran, policy, strategi dan aksi individu tersebut dengan
visi, misi, tujuan, sasaran, policy, strategi dan aksi organisasi.
d. Karena ambisi salah satu atau kedua kelompok untuk lebih berkuasa, ada kelompok yang
menindas, ada kelompok yang melanggar norma-norma budaya kelompok lainnya
(konflik primordial).
e. Karena perebutan kekuasaan organisasi baik ekonomi maupun politik (konflik horizontal
dan konflik elit poltitik).
C. Jenis-Jenis Konflik
Berdasarkan definisi diatas, konflik itu dirasakan oleh pihak-pihak yang terlibat. Oleh
karena itu jika ditinjau dari pihak yang terlibat, jenis konflik dibedakan menjadi konflik
antarindividu (intraindividual conflict), konflik antarpribadi (interpersonal conflict) dan konflik
organisasi. (Luthans dalam Wijono, 2010) namun pada pembahasan kali ini, kami menekankan
pada dua jenis konflik saja, yaitu konflik antarindividu (intraindividual conflict) dan konflik
antarpribadi (interpersonal conflict).
1. Konflik antarindividu (intraindividual conflict)
Konflik antarindividu dapat diartikan sebagai ketidaksesuaian yang terjadi dalam diri
individu itu sendiri. Tedapat dua teori dalam psikologi sosial yang dapat menjelaskan konflik
ini, yaitu field theory dan role theory.
- Field theory.
Lewin mendefenisikan konflik sebagai suatu keadaan dimana ada daya-daya yang saling
bertentangan arah, tetapi dalam kadar kekuatan yang kira-kira sama (dalam Lindzey & Hall,
1985; Sarwono, 1998). Berdasarkan jenis daya yang terlibat di dalamnya, konflik dibagi
menjadi beberapa tipe. Tipe-tipe tersebut adalah: (1) Konflik mendekat-mendekat
(approach-approach conflict), (2) Konflik mendekat-menjauh (approach-avoidance
conflict), (3) konflik menjauh-menjauh (avoidance-avoidance conflict) dan (4) Konflik

mendekat-menjauh ganda (multiple approach-avoidance conflict). (Shawn dan Costanzo,


1982)
- Role theory.
Menurut teori peranan (Role Theory), peranan adalah sekumpulan tingkah laku yang
dihubungkan dengan suatu posisi tertentu (Biddle & Thomas, 1966). Menurut teori ini, peranan
yang berbeda membuat jenis tingkah laku yang berbeda pula. Tetapi apa yang membuat tingkah
laku itu sesuai dalam suatu situasi dan tidak sesuai dalam situasi lain relatif independent (bebas)
pada seseorang yang menjalankan peranan tersebut. Jadi tiap orang mempunyai peran pada
masing-masing situasi, dia akan berbeda bila menjadi ayah, berbeda lagi bila menjadi anak, jadi
bos, dll. Robbins (2008 : 359) menyatakan bahwa konflik peran terjadi pada situasi dimana

seseorang dihadapkan dengan ekspektasi-ekspektasi peran yang berlainan. Konflik peran


dapat dijelaskan melalui Role theory yang menyatakan bahwa konfik dapat terjadi akibat
adanya disensus yang terpolarisasi. Artinya terdapat dua pendapat yang saling bertentangan.
Teori ini membagi konflik peran menjadi inter role conflict dan intra role conflict. (Shawn
dan Costanzo, 1982).
Analisis :
Pada film Hotel Rwanda, dapat kita lihat bahwa terjadi konflik antarindividu khususnya
pada pemeran utama film tersebut yaitu Paul. Konflik antarindividu ini dapat kita jelaskan
dengan menggunakan Field Theory dan Role Theory.
- Field Theory
Seperti yang dijelaskan oleh Lewin bahwa konflik terjadi ketika ada daya-daya yang saling
bertentangan arah tetapi dalam kadar kekuatan yang kira-kira sama. Dalam film tersebut,
diketahui bahwa Paul adalah orang yang berasal dari suku Hutu sedangkan istri serta pada
tetangganya berasal dari suku Tutsi. Disini Paul memiliki konflik dimana ia sangat sulit untuk
memilih antara suku dimana ia berasal dengan keluarganya sendiri. Pengaruh dari suku dimana
ia berasal cukup besar terhadap Paul dan pengaruh keluarganya juga cukup besar terhadap Paul
sehingga pada awalnya ia bimbang dan bingung apa yang harus ia lakukan.

- Role Theory
Berdasarkan film Hotel Rwanda, dapat kita lihat bahwa konflik yang terjadi pada Paul juga
meliputi konflik peran dimana di dalam film ini menampilkan sosok Paul yang memiliki
beberapa peran. Yaitu peran sebagai suami, peran sebagai ayah (kepala rumah tangga), dan peran
sebagai manajer hotel Millescoliness. Konflik yang terjadi pada Paul lebih kepada konflik antar
peran karena sebagai seorang suami sekaligus kepala rumah tangga, dia harus melindungi dan
menjaga keluarganya. Tapi disatu sisi dan pada saat yang bersamaan pula, dia juga mesti
menjalankan perannya sebagai manajer di salah satu hotel berbintang lima dimana ia seyogyanya
bertanggung jawab atas hotel maupun orang yang berada di dalam hotel tersebut. Puncaknya,
ketika situasi daerah Rwanda menjadi tidak aman dimana suku Tutsi terus-terusan diserang oleh
suku Hutu yang membuat para penduduk daerah setempat (suku Tutsi) kehilangan tempat
tinggalnya. Akibatnya, mereka mengungsi di hotel tempat Paul bekerja sebagai manajer.
Disinilah Paul mengalami konflik dimana ia tahu bahwa hotel yang ia tempati bekerja itu
bukanlah tempat penampungan. Tapi disatu sisi, ia juga tidak tega melihat para suku Tusti yang
sudah tidak memiliki tempat tinggal.

2. Konflik antarpribadi (interpersonal conflict)


Dalam konteks antarpribadi, konflik terjadi antara dua orang individu atau lebih. Konflik
ini dapat dijelaskan melalui Teori Johari Window yang dikemukakan oleh Joseph Luft dan
Harry Ingham. (Wijono, 2010 : 188) Jadi, berdasarkan teori ini, konflik dapat terjadi akibat
perbedaan persepsi dan cara berfikir seseorang. Misalnya konflik timbul pada situasi dimana
orang mengetahui tentang diri kita sedangkan kita tidak mengetahuinya (blind self), atau
sebaliknya. Lebih lanjut dijelaskan bahwa salah satu cara untuk mengurangi atau megatasi
konflik yaitu komunikasi dengan mengungkapkan diri (self disclosure).
Misalnya dalam film Hotel Rwanda sempat terjadi pada pasangan Paul dan Titiana.
Yaitu pada saat Titiana handak meminta Paul untuk pergi meninggalkannya sebab perbedaan
suku. Pada saat itu, awalnya Titiana tidak mengetahui seberapa besar cinta Paul dan
keinginan paul untuk bersama sehingga meminta Paul untuk meninggalkannya. Kemudian
pada suatu malam, mereka melakukan sejumlah percakapan dimana Paul terbuka dan
meyakinkan Titiana bahwa ia tidak akan meninggalkannya.

Konflik dalam kontkes kelompok memiliki tiga pandangan yang berbeda, yaitu
pandangan tradisional, pandangan hubungan manusia (human relations), dan pandangan
interaksionis. (Robbins, 2008 : 174) Pandangan trandisional mengatakan bahwa semua
konflik itu buruk atau bernilai negatif. Adapun pandangan hubungan manusia berpendapat
bahwa konflik itu merupakan kejadian alamiah yang terjadi pada semua kelompok. Terakhir,
pandangan interaksionis memiliki keyakinan bahwa konflik itu tujuannya baik. Artinya
pemimpin kelompok seyogyanya mempertahankan konflik minimum untuk menjaga
kelompok tetap harmonis, kooperatif, kreatif, kritis dsb. Pandangan ini membagi konflik
menjadi

Konflik fungsional, yaitu konflik yang konstruktif dan bisa mendukung


pencapaian tugas kelompok dan memperbaiki kinerjanya. Sehingga mendorong
seseorang untuk bekerja lebih keras, kreatif, kooperatif, dsb.

Konflkik disfungsional, yaitu konflik yang destruktif dan akan menghambat


kinerja kelompok.

Dalam konteks dinamika kelompok, Forsyth (2010 : 381) membagi konflik menjadi
intragroup conflict (konflik dalam kelompok) dan intergroup conflict (konflik antar
kelompok).
- Intragroup conflict
Intragroup conflict merupakan kesalahpahaman atau konfrontasi antar anggota dalam
sebuah kelompok. Konflik ini muncul ketika dua orang atau lebih dalam sebuah kelompok
merasa bahwa nilai-nilai yang mereka anut termasuk harapan mereka bertentangan satu
sama lain baik dimasa sekarang maupun dimasa depan.
- Intergroup conflict
Konflik antar kelompok terjadi ketika terdapat kepentingan yang sama atau berbeda
dengan tujuan dari masing-masing kelompok. Konflik antar kelompok dapat dijelaskan
dengan beberapa teori, yaitu :

1. teori realistis konflik (realistic group cinflict theory)


Menurut teori realistis konflik (realistic cinflict) dalam hubungan antar kelompok
tedapat dua tujuan yang berbeda terhadap sesuatu yang sama. (Myers, 2012 : 254) hal ini
menyebabkan setiap kelompok ingin meraih keuntungan sebesar-besarnya dengan
mengorbankan kelompok lain. Teori ini berpendapat bahwa permusuhan antar kelompok
bukan berasal dari level deprivasi absolut tapi berasal dari deprivasi relatif. Artinya
terjadi ketidakpuasan karena adanya keyakinan bahwa dirinya atau kelompoknya berada
dalam situasi yang lebih buruk ketimbang kelompok lain, atau lebih buruk ketimbang di
masa lalu. (Taylor dkk, 2009 : 221)
2. Teori indentitas sosial (Social Identity Theory)
Selain itu konflik antar kelompok juga dapat dijelaskan dengan teori identitas
sosial. Teori ini melihat bahwa hubungan antar kelompok harus dilihat dari perspektif
kelompok bukan individu. Setiap individu dalam masyarakat dikelompokkan berdasarkan
katagori yang berbeda-beda, misalnya jenis kelamin, suku, agama, dan pekerjaan. Maka
terbentuk identitas individu, yang nantinya dapat membentuk identitas kelompok. Pada
saat ini kita membuat penilaian yang tegas tentang orang lain sebagai bagian dari kita
atau bagian dari mereka. Kemudian, kita akan berpihak pada kelompok yang yang
menjadi identitas kita dan yang mendukung kita untuk bekerjasama dan membantu kita.
Selanjutnya, dalam teori ini juga mengandung tiga asumsi dasar, yaitu : (1) orang
mengkategorisasikan dunia sosial menjadi in-group

dan outgroup; (2) orang

mendasarkan harga dirinya dari identitas sosialnya sebagai anggota ingroup; dan (3)
konsep diri orang sebagian bergantung pada bagaimana mereka mengevaluasi ingroup
dibandingkan dengan keloppok lain. Dimana seseorang memiliki rasa harga diri yang
tinggi jika termasuk kelompok yang unggul atau dominan dan memiliki harga diri yang
rendah jika kelompoknya inferior. (Tajfel, dalam Taylor dkk, 2009 : 233)
3. Teori konflik Ralf Dahrendorf
Teori konflik Ralf Dahrendorf menjelaskan bahwa Teori Konflik adalah suatu
perspektif yang memandang masyarakat sebagai sistem sosial yang terdiri atas
kepentingan-kepentingan yang berbeda-beda dimana ada suatu usaha untuk menaklukkan
komponen yang lain guna memenuhi kepentingan lainnya atau memproleh kepentingan
sebesar-besarnya. Bagi Dahrendorf, masyarakat memiliki dua wajah, yakni konflik dan

konsesus yang dikenal dengan teori konflik dialektika. Teori konflik harus menguji
konflik kepentingan dan penggunaan kekerasan yang mengikat masyarakat sedangkan
teori konsesus harus menguji nilai integrasi dalam masyarakat. Bagi Ralf, masyarakat
tidak akan ada tanpa konsesus dan konflik. Masyarakat disatukan oleh ketidakbebasan
yang dipaksakan. Dengan demikian, posisi tertentu di dalam masyarakat mendelegasikan
kekuasaan dan otoritas terhadap posisi yang lain. Fakta kehidupan sosial ini yang
mengarahkan Dahrendorf kepada tesis sentralnya bahwa perbedaan distribusi otoritas
selalu menjadi faktor yang menentukan konflik sosial.
Hubungan Otoritas dan Konflik Sosial Ralf Dahrendorf berpendapat bahwa posisi
yang ada dalam masyarakat memiliki otoritas atau kekuasaan dengan intensitas yang
berbeda-beda. Otoritas tidak terletak dalam diri individu, tetapi dalam posisi, sehingga
tidak bersifat statis. Jadi, seseorang bisa saja berkuasa atau memiliki otoritas dalam
lingkungan tertentu dan tidak mempunyai kuasa atau otoritas tertentu pada lingkungan
lainnya.
Kekuasaan atau otoritas mengandung dua unsur yaitu penguasa (orang yang
berkuasa) dan orang yang dikuasai atau dengan kata lain atasan dan bawahan. Mereka
yang berada pada kelompok atas (penguasa) ingin tetap mempertahankan status quo
sedangkan mereka berada di bawah (yang dikuasai atau bawahan ingin supaya ada
perubahan. Dahrendorf mengakui pentingnya konflik mengacu dari pemikiran Lewis
Coser dimana hubungan konflik dan perubahan ialah konflik berfungsi untuk
menciptakan perubahan dan perkembangan. Jika konflik itu intensif, maka perubahan
akan bersifat radikal, sebaliknya jika konflik berupa kekerasan, maka akan terjadi
perubahan struktural secara tiba-tiba. Menurut Dahrendorf,

sumber konflik dalam

masyarakat yaitu karena adanya status sosial didalam masyarakat, adanya benturan
kepentingan kaya-miskin, pejabat-pegawai rendah, majikan-buruh, buruh dan majikan,
antar kelompok, antar partai dan adanya ketidakadilan atau diskriminasi agama dan
kekuasaan (penguasa dan dikuasai).
Banyak hal yang melatarbelakangi timbulnya konflik baik intragroup conflict (konflik
dalam kelompok) maupun intergroup conflict (konflik antar kelompok). Myers (2012 : 245-

260) mengemukakan bahwa terdapat beberapa hal yang menjadi penyebab atau pemicu
timbulnya konflik tersebut, yaitu :
-

Dilema Sosial
Bila dua atau lebih orang, kelompok, suku, atau bangsa berinteraksi, pandangan mereka
tentang kebutuhan dan tujuan mungkin bertentangan. Oleh karena itu, konflik dapat terjadi
akibat adanya individu atau kelompok tertentu yang merasa tidak ingin dirugikan dan
memiliki keinginan untuk mempertahankan pendapatnya, keyakinannya, dan kepentingan
tertentu. Sehingga dilema sosial muncul karena seseorang mengejar kepentingan idividu
yang akan merugikan kepentingan bersama.

Kompetisi
Permusuhan sering muncul ketika individu atau kelompok bersaing untuk suatu hal.
Ketika kepentingan berbenturan, maka terjadilah realistic group conflict, artinya
kompetisi menyebabkan adanya permusuhan yang kemudian bermuara pada adanya saling
berprasangka satu dengan yang lain, serta saling memberikan evaluasi yang negatif.
Kompetisi menang kalah menimbulkan konflik yang kuat, citra diri negatif dari orang luar
kelompok mereka, kepaduan dan kebanggaan bagi kelompok yang kuat.

Ketidakadilan
Konflik akan selalu muncul ketika seseorang merasakan ancaman ketidakadilan. Keadilan
sebagai pembagian imbalan yang sesuai proporsi kontribusi seseorang. Konflik terjadi
ketika seseorang tidak setuju dengan tingkat kontribusi (income) mereka yang tidak sesuai
dengan hasil (outcome) yang didapatkannya.

Persepsi
Konflik dapat terjadi akibat persepsi seseorang yang tidak sesuai dengan yang sebenarya
terjadi. Hal ini menimbulkan kesalahpahaman individu maupun kelompok. Misalnya pada
situasi dimana

inti permaslahan yang sederhana dibungkus oleh kesalahpahaman.

Seringkali pihak yang berkonflik mengalami mirror image perception yang artinya
persepsi persepsi yang belum tentu benar.
-

Perilaku agresif
Perilaku agresif yang dilakukan suatu kelompok terhadap kelompok lain dapat
menimbulkan konflik antar kelompok. Ketika suatu kelompok menyerang kelompok lain,

maka kelompok yang diserang akan membalas. Hal ini akan bisa berlanjut kepada konflik
yang berkepanjangan.
Selain itu, Forsyth (2010) menambahkan bahwa situasi yang tidak menyenangkan
(aversif situastion) juga menjadi salah satu penyebab timbulnya konflik.
Analisis :
- Intragroup conflict
Film Hotel Rwanda, secara keseluruhan menceritakan tentang konflik yang terjadi antara
suku Tutsi dan Hutu pada tahun 1994. Setelah dianalisis, dapat kita lihat bahwa konflik yang
terjadi di dalam film ini secara keseluruhan ada 2, yaitu konflik intrakelompok (Intragroup
conflict)dan konflik interkelompok (Intergroup conflict).
Intragroup conflict dapat dilihat dari sudut pandang tokoh utama, yaitu Paul. Konflik ini
muncul ketika Paul telah memiliki perbedaan pendapat, harapan dan nilai yang dia anut juga
telah berbeda dengan kelompoknya (Hutu). Hal ini tercermin ketika paul membantu dan
menolong istrinya beserta tetangganya yang bersuku Tutsi. Pada saat itu, paul sudah tidak
sepaham lagi dengan kelompok asalnya.
Berdasarkan teori identitas sosial, dengan tindakan Paul yang menolong ini, dia secara
tidak langsung dan secara tersyirat memberi penilaian bahwa dia telah mengelompokkan diri
sebagai bagian dari suku Tutsi. Oleh karenanya maka Paul yang telah menjadi bagian dari
kelompok merasa bertanggungjawab terhadap kelompoknya terseut dengan memberikan
perlindungan tempat tinggal, makanan, dsb. Hal ini menciptakan konflik yang fungsional,
artinya konflik yang membangun kelompok. Artinya, konflik tadi membuat Paul bekerja
sama dengan suku Hutu, serta memikirkan berbagai cara untuk menyelamatkannya.
Adapun faktor yang menyebabkan Paul memiliki konflik dengan anggota kelompoknya,
ialah dilema sosial. Dimana ia mengutamakan kepentingan individunya yaitu menjaga
istrinya dibandingkan kepentingan kelompok. Selain itu, dia juga merasa adanya
ketidakadilan perilaku agresif dalam kelompoknya. Sebab setelah dia menunjukkan kartu
identitasnya yang menyatakan dia orang hutu, dia tetap diperlakukan seperti orang Tutsi oleh
kelompoknya sendiri.

- Intergroup conflict
Di Kigali, Rwanda pada masa itu, suku Hutu merasa berkuasa dan berniat untuk
membunuh semua orang Tutsi. Hal itu dikarenakan suku Hutu merasa suku Tutsi pernah
bekerjasama dengan Belgia dan membuat mereka menderita. Suku Hutu pun merasa bahwa
mereka harus untuk balas dendam terhadap suku Tutsi. Disinilah awal mula terjadinya
konflik antar kedua suku tersebut.
Film ini juga memperlihatkan adanya konflik interkelompok yaitu konflik antara suku
Hutu dan suku Tutsi. Kalau kita merujuk kembali pada penyebab konflik, maka dapat dilihat
bahwa di dalam film ini, konflik itu terjadi karena adanya ambisi dari salah satu kelompok
yang ingin lebih berkuasa dan menindas kelompok yang lain, atau dengan kata lain, ada
pengaruh paham primordialisme yaitu perasaan kesukuan yang berlebihan.
Selain itu konflik antar kelompok juga dapat dijelaskan dengan teori identitas sosial.
Berdasarkan teori ini, terdapat dua kelompok yang memiliki identitas yang berbeda. yaitu
kelompok Hutu dan kelompok Tutsu. Setiap anggota kelompok menyatakan dirinya sebagai
bagian dari anggota kelompoknya dan bukan bagian dari kelompok yang lain. Sehingga
orang-orang yang masuk pada kelompok Tutsi akan berpihak pada kelompok yang menjadi
identitasnya dan menciptakan sikap saling mendukung untuk bekerjasama dan membantu
meskipun dalam kesusahan. Kelompok Hutu juga demikian, mereka melakukan kerjasama
untuk menyerang suku Tutsi yang bukan bagian dari kelompok mereka.
Teori konflik Ralf Dahrendorf menjelaskan Hubungan Otoritas dan Konflik Sosial yang
berpendapat bahwa posisi yang ada dalam masyarakat memiliki otoritas atau kekuasaan
dengan intensitas yang berbeda-beda. Otoritas tidak terletak dalam diri individu, tetapi
dalam posisi, sehingga tidak bersifat statis. Jadi, seseorang bisa saja berkuasa atau memiliki
otoritas dalam lingkungan tertentu dan tidak mempunyai kuasa atau otoritas tertentu pada
lingkungan lainnya. Dalam hal ini, Paul memiliki otoritas terhadap hotelnya sedangkan dia
tidak memiliki otoritas di tempat lain. Misalnya dalam hal bernegara.
Kekuasaan atau otoritas mengandung dua unsur yaitu penguasa (orang yang berkuasa)
dan orang yang dikuasai atau dengan kata lain atasan dan bawahan. Mereka yang berada
pada kelompok atas (penguasa) ingin tetap mempertahankan status quo sedangkan mereka
berada di bawah (yang dikuasai atau bawahan) ingin supaya ada perubahan. Dalam hal ini,
suku Hutu berada pada kelompok atas atau penguasa, jadi mereka mempertahankan

statusnya dengan menindas, menyakiti dan menyiksa suku Hutu. Adapun suku hutu yang
dikuasai ingin supaya da perubahan. Oleh akrena itu, mereka meminta berbagai dukungan
dari negara lain untuk membatu mereka. Misalnya dalam hal tempat tinggal, obat-obatan,
bahkan kemerdekaan.
Mengacu pada pendapat Myers (2012 : 245-260) yang mengemukakan bahwa terdapat
beberapa hal yang menjadi penyebab atau pemicu timbulnya konflik tersebut, maka konflik
antara kelompok Hutu dan Tutsi disebabkan oleh :
-

Dilema Sosial
Konflik terjadi akibat suku Hutu dan suku Tutsi memiliki tujuan yang berbeda dan
pandangan yang bertentangan. Oleh karena itu, konflik dapat terjadi akibat adanya
kelompok tertentu (Hutu) yang merasa dirugikan akibat dibunuhnya ketua mereka dan
membuat mereka memiliki keinginan untuk menyerang kelompok lain. Dilema sosial ini
muncul karena kelompok tertentu (Tutsi) mengejar kepentingannya sendiri yang akan
merugikan kepentingan bersama dan tidak memikirkan dampaknya pada orang banyak.

Ketidakadilan
Konflik akan selalu muncul ketika seseorang merasakan ancaman ketidakadilan. Konflik
terjadi ketika seseorang tidak setuju dengan tingkat kontribusi (income) mereka yang tidak
sesuai dengan hasil (outcome) yang didapatkannya. Konflik antar dua kelompok ini terjadi
akibat ketidakadilan yang dirasakan oleh kelompok Hutu pada saat orang Belgia bersekutu
dengan suku Tutsi dan menindas orang Hutu.

Perilaku agresif
Perilaku agresif yang dilakukan suatu kelompok terhadap kelompok lain dapat
menimbulkan konflik antar kelompok. Ketika suatu kelompok menyerang kelompok lain,
maka kelompok yang diserang akan membalas. Hal ini akan bisa berlanjut kepada konflik
yang berkepanjangan. Hal ini dapat dilihat pada saat suku Hutu ditindas oleh orang Belgia
dan suku Tutsi kemudian suku Hutu membalaskan dendamnya dengan menyiksa para
suku Tutsi, mulai dari memukul, menendang, hingga membunuh.
Mengacu pada pendapat Forsyth (2010) yang menyatakan bahwa situasi yang tidak
menyenangkan (aversif situastion) juga menjadi salah satu penyebab timbulnya konflik. Hal
ini dirasakan oleh kedua kelompok ketika ketuanya terbunuh. Situasi tersebut tentunya tidak
menyenangkan bagi kelompok Tutsi dan timbullah konflik

DAFTAR PUSTAKA

Forsyth, D. R. (2010). Group Dynamics 4thed. United States : Thomson Learning.


Myers, D. G. (2012). Psikologi Sosial social psychology. Edisi ke 10. Terjemahan Aliya
Tusyani. Jakarta : Salemba Humanika
Robbins, S.P & Judge T. A. (2008). Perilaku Organisasi Organizational Behavior 12th ed.
Terjemahan Diana Angelica. Jakarta : Salemba Empat.
Shawn, Marvin E., Costanzo Philip R. (1982) Theories of Social Psychology 2nded. Tokyo:
McGraw-Hill Kogakusha Ltd.
Wijono, Sutarto. (2010). Psikologi Industri dan Organisasi: Dalam Suatu Bidang Gerak
Psikologi Sumber Daya Manusia. Jakarta: Kencana.
Taylor, Shelley.E., Peplau, L.A., Sears, D.O. (2009). Psikologi Sosial. Edisi ke 12. Jakarta :
Kencana.
http://perilakuorganisasi.com/ralf-dahrendorf-teori-konflik.html