Anda di halaman 1dari 3

Banggai Collision: Terjepit di Antara Benturan Dua Benua

Oleh: Awang Harun Satyana

Kali ini saya ingin bercerita tentang komponen lain yang terlibat dalam Banggai
collision, yaitu OFIOLIT, batuan asal mantel dan kerak samudera, yang terjepit di
antara dua benua (pecahan Sundaland dan pecahan Australia) yang saling
berbenturan di Sulawesi.

Ofiolit adalah nama sekelompok batuan beku berkomposisi dominan ultrabasabasa berasal dari bagian paling atas mantel Bumi dan kerak samudera di
atasnya. Sehingga, urutan batuannya dari bawah ke atas adalah: peridotit yang
digenerasikan di lapisan paling atas mantel Bumi; lalu di atasnya ada lapisan
batuan penyusun kerak samudera, terdiri atas: gabro, retas lempeng dan tiang
(sill dan dike) dolerit, dan lava bantal basal.

Dengan urutan seperti begitu, diyakini bahwa ofiolit digenerasikan di tengahtengah samudera, tepatnya di punggungan/pematang tengah samudera (midoceanic ridge -MOR), tempat celah besar kerak samudera terhubung ke mantel
Bumi. Di MOR, magma induk yang berkomposisi ultrabasa keluar di celah MOR
lalu menyusun sebagian kompleks ofiolit dan magmanya terdiferensiasi sampai
berkomposisi basa.

Bila kita menemukan batuan-batuan ofiolit di daratan, padahal mereka harusnya


berada di tengah samudera, apa yang telah terjadi? Yang telah terjadi adalah
ada proses-proses tektonik yang luar biasa yang telah memindahkan sebagian
penyusun dasar samudera ke daratan. Proses pemindahan seperti itu bisa
berjalan melalui: (1) subduksi lempeng samudera, (2) obduksi sebagian lempeng
samudera.

Subduksi lempeng samudera, proses ini membawa lempeng samudera yang


disusun ofiolit berjalan mendekati pinggir benua. Lalu karena lempeng samudera
lebih berat maka terjadi subduksi lempeng samudera, subduksi adalah
menekuknya, menunjamnya lempeng samudera relatif ke bawah lempeng
benua. Dalam proses pertemuan kedua lempeng ini, sebagian kerak samudera
yang berjalan menunjam di bawah benua menuju mantel akan dikeruk (scrapped
off), dan batuan-batuan kerak samudera serta sebagian penyusun mantel atas

akan dialihtempatkan (emplaced) ke lereng palung. Palung adalah tempat


lempeng samudera menunjam. Suatu waktu, oleh proses tekanan pertemuan
lempeng, lereng palung akan terdeformasi, terangkat sehingga menyingkapkan
batuan-batuan ofiolitnya di daratan. Dengan cara begitu, tersingkaplah ofiolit di
Ciletuh-Sukabumi, Luk Ulo-Kebumen, atau Bantimala-Sulawesi Selatan.

Obduksi sebagian kerak samudera, terjadi dalam proses benturan dua benua.
Satu benua dengan benua yang lain semula berjauhan, di tengahnya lempeng
samudera. Tetapi karena proses tektonik lempeng, benua-benua ini saling
mendekat, lempeng samudera di antaranya menunjam ke bawah satu benua.
Kedua benua terus saling mendekat sampai akhirnya berbenturan. Dalam proses
benturan ini, sebagian massa lempeng samudera berupa mantel bagian atas
(lithospheric mantle) dan kerak samudera akan terputus (detached) dari
lempeng samudera induknya yang terus menunjam masuk ke dalam mantel
Bumi. Lepasan segmen lempeng samudera ini kemudian akan menumpu
(obducted) di atas satu lempeng benua. Dengan cara begitu, segmen lempeng
samudera ini, yaitu ofiolit, tersingkap, misalnya di Pegunungan MeratusKalimantan Selatan, Sulawesi Timur, sebagian Pegunungan Tengah Papua dan
sebagian Timor.

Ofiolit yang tersingkap di Sulawesi adalah singkapan ofiolit paling luas di


Indonesia, meliputi dua lengan Sulawesi, yaitu Lengan Timur dan Lengan
Tenggara. Ofiolit ini diyakini hasil obduksi, sebagai akibat benturan
mikrokontinen/benua Banggai dengan Sulawesi bagian timur. Ofiolit ini, yang
menurut penelitian berumur Kapur Atas (Kadarusman et al., 2004), sekitar 80
juta tahun yang lalu, tersesarkan dan menumpu menutupi lempeng benua
Banggai yang ditutupi batuan sedimen gampingan Formasi Poh berumur Miosen
Atas-Pliosen (7-5 juta tahun yang lalu). Ada batuan berumur 80 juta tahun yang
lalu yang berposisi di atas batuan berumur 5 juta tahun menunjukkan suatu
proses tektonik-deformasi yang sangat kuat.

Kami (saya dan peserta fieldtrip Pertamina EP dan SKK Migas) hanya punya
waktu dua hari mengunjungi dan belajar di lapangan tentang ESO (East Sulawesi
Ophiolite) ini, itu pun hanya di ujung Lengan Timur Sulawesi, yaitu di daerah
Biak-Poh tempat ofiolitnya tersingkap di tebing jalan, dan di pantai Balantak
tempat ofiolitnya tersingkap di tebing pantai.

Kadarusman et al. (2004) pernah memelajari ofiolit di Lengan Timur dan Lengan
Tenggara Sulawesi ini. Disimpulkan mereka bahwa bahwa ESO yang tersingkap di
banyak tempat di wilayah ini urutannya tidak lengkap (dismembered) karena
proses tektonik, namun bila direkonstruksi dari berbagai tempat itu urutannya
menjadi lengkap, hanya tak pernah ditemukan urutan lengkap ofiolit di satu

tempat. Urutan lengkap ESO berdasarkan rekonstruksi dari bawah ke atas


adalah: residual mantle peridotite, maficultramafic cumulate-layered-isotropic
gabbro, sheeted dolerites dan basaltic volcanic rocks. Berdasarkan urutan
kristalisasi batuan gabro dan kimia mineral diyakini bahwa ESO dulu dibentuk di
punggungan tengah samudera (MOR) dan umurnya Kapur Atas/ Kapur Akhir.

Demikian, ofiolit adalah kelompok batuan sangat penting untuk memahami


riwayat tektonik suatu kawasan. Bila kawasan itu punya jalur ofiolit, maka
kawasan itu telah mengalami sejarah geologi dan tektonik yang luar biasa,
termasuk benturan antar segmen-segmen litosfer Bumi.***

Anda mungkin juga menyukai