Anda di halaman 1dari 18

KASUS PRESENTASI

I. IDENTITAS PASIEN

Nama: S

Tanggal lahir: 11-09-2014

Rekam Medik: 69-96-24

Umur : 5 bulan 17 hari

Masuk Rumah Sakit : 26-02-2015

II. ANAMNESIS

Keluhan utama : benjolan di kepala bagian depan


Riwayat penyakit: Pasien dirujuk ke rumah sakit wahidin dari rumah sakit bulukumba
dengan keluhan benjolan di kepala bagian depan, benjolan diperhatikan muncul
setelah 21 hari setelah lahir, awalnya benjolan sebesar biji kelereng, lama kelamaan
membesar hingga sekarang sebesar bola tenis. Benjolan tidak disertai dengan gejala
kejang, demam, dan muntah. Buang air kecil dan buang air besar lancar.
Riwayat kehamilan: Ibu rutin kontrol ke puskesmas oleh bidan, ibu tidak pernah sakit
saat hamil, ibu rutin mengkonsumsi vitamin dan supplemen penambah darah, ibu
tidak pernah minum susu dan mengkonsumsi asam folat, ibu tidak pernah
mengkonsumsi obat-obatan dan jamu-jamuan.

III. PEMERIKSAAN FISIK


Status generalis :
Sakit sedang/gizi cukup/compos mentis

Status vitalis :
Nadi
: 120 x/menit
Pernafasan : 28 x/ menit
Suhu
: 36,8 C

Status lokalis :
Regio frontalis
Inspeksi: tampak benjolan sebesar bola tenis, hiperemis tidak ada, edema tidak ada

Palpasi : permukaan benjolan rata, konsistensi lunak, nyeri tekan tidak ada.
IV. FOTO KLINIS (Tanggal : 04/03/2015)

V. PEMERIKSAAN PENUNJANG
1. Foto thoraks:

Kesan : Bronchopneumonia bilateral


2. CT Scan kepala:

Kesan: defek pada os parietal disertai gambaran


meningocele

VI. LABORATORIUM (Tanggal: 12-02-2015)

No
.
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
11.
12.
13.
14.

VII.

Hasil

Nilai rujukan

9,7
4,48
11,7
35
310
800

4,00-10,00
4,00-6,00
12,0-16,0
37,0-48,0
150-400
4-10

23

1-7

92
6
0,20

140
10-50
<1,1

SGOT
SGPT
Albumin
Elektrolit
Natrium
Kalium
Klorida

54
39
4,2

<38
<41
3,5-5,0

141
5,0
108

136-145
3,5-5,1
97-145

DIAGNOSIS
Kista dermoid

VIII.

IX.

Pemeriksaa
n
WBC
RBC
HGB
HCT
PLT
Waktu
bekuan
Waktu
pendarahan
GDS
Ureum
Kreatinin

TERAPI
Sesuai terapi teman sejawat pediatrik
Rencana operasi eksterpasi kista
PROGNOSIS
Bonam

BAB 1
PENDAHULUAN
Meningocele adalah kelainan kongenital berupa penonjolan selaput otak dan cairan
otak lewat defek (lubang) pada tulang kepala. Bila sebagian jaringan otak ikut menonjol,
disebut meningoensefalokel atau ensefalokel. Kelainan ini merupakan bagian dari gangguan
yang dinamakan defek tabung saraf (neural tube defects, NTDs). Defek tuba neuralis
menyebabkan kebanyakan kongenital anomali pada susunan sistem saraf akibat kegagalan
tuba neuralis menutup secara spontan antara minggu ke-3 dan ke-4 dalam perkembangan
uterus. Meskipun penyebab yang tepat pada defek tuba neuralis masih belum diketahui, ada
bukti bahwa banyak faktor, termasuk radiasi, obat-obatan, malnutrisi, bahan kimia, dan
determinan genetik, yang dapat mempengaruhi perkembangan abnormal pada susunan saraf.
Defek tuba neuralis utama meliputi spina bifida dan kranium bifidum.
Pada stadium dini pembentukan lempeng neural terbentuk celah neural yang
kemudian membentuk pipa neural. Pipa neural inilah yang kemudian menjadi jaringan otak
dan medula spinalis. Ketika dalam kandungan, jaringan yang membentuk pipa neural tidak
menutup atau tidak tertutup secara sempurna. Ini menyebabkan adanya bagian yang terbuka
pada vertebra, yang mengelilingi dan melindungi korda spinalis. Proses penutupan pipa
neural ini berlangsung selama minggu keempat kehidupan embrio dan biasanya sebelum
wanita mengetahui kehamilannya dan berakhir. Proses neuralisasi mulai pada garis tengah
dorsal dan berlanjut ke arah sefal dan kaudal. Penutupan yang paling akhir terjadi pada ujung
posterior yaitu pada hari ke-28.
Meningokel spinal adalah penonjolan dura mater dan membrane araknoid yang terjadi
dengan defek pada kolum spinal, dengan medulla spinalis masih intak didalam kanalis
spinalis (spinal canal). Meningokel jarang terjadi dan terdiri dari kelompok lesi kistik
heterogen yang diklasifikasikan kepada 5 lokasi; posterior sacral dan lumbal, posterior
torakal, posterior servikal, anterior sacral dan anterolateral lumbal, torakal dan servikal.
Kranium bifidum atau kranioskizis, seperti spina bifida, adalah defek tabung
neural disrafik. Anomali ini lebih jarang dari spina bifida. Kranium bifidum terkadang
bersamaan

dengan spina bifida. Insidens kranium bifidum seperlimabelas hingga

sepersepuluh spina bifida: satu per 3.000 hingga 10.000 kelahiran. Sefalokel regio oksipital
umum di Eropa dan Amerika, sedang sefalokel frontal lebih sering dari sefalokel oksipital
di Asia Tenggara. Oksipital meningoensefalokel lebih sering pada wanita, sedang pria lebih
sering pada yang lainnya. Kranium bifidum diklasifikasikan ke dalam dua jenis: kranium
bifidum okultum dan kranium bifidum sistikum.

BAB II
ANATOMI DAN EMBRIOLOGI
1) Anatomi
Korda spinalis manusia memanjang dari foramen magnum hingga setinggi
vertebra lumbar pertama atau lumbar kedua. Rata-rata panjangnya 45 cm pada pria dan
42 cm pada wanita, memiliki bentuk seperti silinder pada segmen servikal atas dan
segmen thorakal, dan bentuk oval di segmen servikal bawah dan segmen lumbar, yang
merupakan tempat pleksus nervus brachial dan nervus lumbosakral.

Gambar 1: Sum-sum Tulang Belakang dan Medulla Spinalis


Pada tahap awal pertumbuhan fetal, korda spinalis ini mengisi sepanjang kanalis
vertebra. Saat bayi lahir, korda spinalis ini memanjang ke bawah sampai ke batas bawah
dari vertebra lumbar III. Pada akhir dewasa muda, korda spinalis mencapai posisi seperti
orang dewasa, dimana ia berhenti setinggi discus intervertebra lumbar I dan lumbar II.
Tempat dimana korda spinalis berakhir berubah seiring pertumbuhan karena kolumna

vertebralis bertumbuh lebih cepat dari pada korda spinalis. Panjang dari korda spinalis
secara keseluruhan adalah 70 cm. Korda spinalis mengalami pembesaran di dua tempat,
yaitu servikal (segmen C III- Th II) dan lumbar (segmen LI-SIII). Ini merupakan tempat
saraf yang menginnervasi ekstremitas atas dan bawah. Ujung bawah korda spinalis
meruncing membentuk konus medullaris. Korda spinalis manusia terbagi atas 31 segmen
(8 segmen servikal, 12 segmen thorakal, 5 segmen lumbal, 5 segmen sacral, dan 1
coccygeal) dimana dari masing-masing segmen, kecuali segmen servikal yang pertama,
memiliki sepasang root dorsal dan root ventral dan sepasang nervus spinalis. Segmen
servikal pertama hanya memiliki root ventral. Root ventral dan dorsal bergabung di
foramina

intervertebralis

untuk

membentuk

nervus

spinalis.

Nervus

spinalis

meninggalkan kanalis vertebralis melalui foramina intervertebralis: Servikal I muncul di


atas atlas; servikal VIII muncul antara servikal VII dan thorakal I. Nervus spinal lain
keluar di bawah vertebra yang berkesesuaian. Karena perbedaan tingkat pertumbuhan dari
korda spinalis dan kolumna vertebralis, segmen korda spinalis tidak sesuai dengan
kolumna vertebranya. Ditingkat servikal, ujung spinal vertebra sesuai dengan tingkat
kordanya; tapi tulang servikal VI sesuai dengan tingkat korda spinalis VII. Pada regio
thorakal atas, ujung spinal berada dua segmen di atas korda spinalis yang berkesesuaian,
jadi thorakal IV sesuai dengan korda segmen ke VI. Pada regio thorakal bawah dan
lumbar atas, beda antara tingak vertebra dan korda adalah tiga segmen, jadi spinal
thorakal X sesuai dengan lumbar I. Kumpulan akar saraf lumbosakral di filum terminale
disebut cauda equina.
2) Embriologi
Proses pembentukan embrio pada manusia melalui 23 tahap perkembangan
setelah pembuahan setiap tahap rata-rata memakan waktu selama 2 -3 hari. Ada dua
proses pembentukan sistem saraf pusat. Pertama, neuralisasi primer, yakni pembentukan
struktur saraf menjadi pipa, hal yang serupa juga terjadi pada otak dan korda spinalis.
Kedua, neuralisasi sekunder, yakni pembentukan lower dari korda spinalis, yang
membentuk bagian lumbal dan sakral. Neural plate dibentuk pada tahap ke 8 (hari ke1719), neural fold terbentuk pada tahap ke 9 (hari ke 19-21) dan fusi dari neural fold
terbentuk pada tahap ke 10 (hari ke 22-23). Beberapa tahap yang sering mengalami
gangguan yakni selama tahap 8 10 (yakni, ketika neural plate membentuk fold

pertamanya dan berfusi untuk membentuk neural tube) hal ini dapat menyebabkan
terjadinya craniorachischisis, yang merupakan salah satu bentuk yang jarang dari neural
tube defect (NTD).
Pada tahap ke 11 (hari ke 23-26), saat ini terjadi penutupan dari bagian rostral
neuropore. Kegagalan pada tahap ini mengakibatkan terjadinya

anencephaly.

Mielomeningocele terjadi akibat gangguan pada tahap 12 (hari ke 26-30), saat ini terjadi
penutupan bagian caudal dari neuropore. Secara embriologis ada beberapa teori yang
mencoba menjelaskan sebab kegagalan penutupan tabung saraf. Yang banyak dianut para
peneliti adalah teori gangguan neurulasi, yaitu tetap bertahannya perlekatan antara
ektoderm neural(saraf) dengan ektoderm permukaan (epidermis) pada garis tengah
sewaktu proses organogenesis di awal kehamilan, sehingga terjadi hambatan migrasi selsel mesoderm pembentuk tulang di tempat adesi dua lapisan ektoderm itu. Keadaan ini
menyebabkan di daerah itu tidak ada pembentukan tulang sehingga timbul defek. Teori
ini disebut teori non-separasi dari Sternberg.

Gambar 2: Periode embrionik

Bab III
MENINGOCELE
1) Definisi
Meningocele adalah ekstrusi mening yang melewati defek pada tulang cranium
atau vertebrae. Meningokel spinal adalah tonjolan keluarnya meninges melalui defek
pada kolum vertebra atau foramina dan sering diasosiasikan dengan disrafik vertebrae
kongenital dan medulla spinalis masih intak didalam kanalis vertebra. Meningokel adalah
satu dari tiga jenis kelainan bawaan spina bifida. Ini adalah jenis yang paling jarang dari
spina bifida. Spina bifida terjadi pada sekitar 1 dari setiap 1.000 kelahiran. Meningokel
adalah meningens yang menonjol melalui vertebrata yang tidak utuh dan teraba sebagai
suatu benjolan berisi cairan dibawah kulit. Angka kejadiannya 3 dari 1000
kelahiran.Meningokel adalah penonjolan dari pembungkus medulla spinalis melalui spina
bifida dan terlihat sebagai benjolan pada permukaan. Pembengkakan kistis ini ditutupi
oleh kulit yang sangat tipis. Meningokel merupakan kelainan kongenital SSP yang paling
sering terjadi. Biasanya terletak di garis tengah. Meningokel biasanya terdapat di daerah
servikal atau daerah torakal sebelah atas.Kantong hanya berisi selaput otak, sedangkan
korda tetap dalam korda spinalis (dalam durameter tidak terdapat saraf). Tidak terdapat
gangguan sensorik dan motorik. Bayi akan menjadi normal sesudah operasi. Meningokel
adalah penyakit kongenital dari kelainan embriologis yang disebut neural tube defect
(NTD) yaitu adanya defek pada penutupan spina yang berhubungan dengan pertumbuhan
yang abnormalnya korda spinalis atau penutupannya.

Gambar 3: meningocele
2) Etiologi
Penyebab spesifik dari meningokel belum diketahui. Banyak faktor seperti
keturunan dan lingkungan diduga terlibat dalam terjadinya defek ini. Tuba neural
umumnya lengkap empat minggu setelah konsepsi. Hal-hal berikut ini telah ditetapkan
sebagai faktor penyebab; kadar vitamin maternal rendah, termasuk asam folat,
mengonsumsi klomifen dan asam valfroat, dan hipertermia selama kehamilan.
Diperkirakan hampir 50% defek tuba neural dapat dicegah jika wanita bersangkutan
meminum vitamin-vitamin prakonsepsi, termasuk asam folat. Kelainan konginetal SSP
yang paling sering dan penting ialah defek tabung neural yang terjadi pada 3-4 per
100.000 lahir hidup. Bermacam-macam penyebab yang berat menentukan morbiditas dan
mortalitas, tetapi banyak dari abnormalitas ini mempunyai makna klinis yang kecil dan
hanya dapat dideteksi pada kehidupan lanjut yang ditemukan secara kebetulan.
Penonjolan dari korda spinalis dan meningens menyebabkan kerusakan pada korda
spinalis dan akar saraf, sehingga terjadi penurunan atau gangguan fungsi pada bagian
tubuh yang dipersarafi oleh saraf tersebut atau bagian bawahnya.
3) Insiden
Prevalensi tertinggi meningokel adalah di Asia Tenggara, khususnya di kalangan
ras Melayu. Frekuensi pasien meningokel di beberapa klinik bedah saraf di Jawa Timur

(Surabaya dan Malang) lebih tinggi (8,7%) dibanding di Jawa Tengah (Solo, Yogya dan
Semarang) (6,1%). Penderita umumnya berasal dari keluarga tidak mampu dan
berpendidikan rendah. Cacat yang terjadi berupa deformitas pada wajah yang berdampak
gangguan kosmetik, fungsional, mental, sosial, dan bahkan kematian. Untuk
mengobatinya harus dilakukan pembedahan yang memerlukan biaya relatif sangat mahal,
dengan risiko yang cukup besar.
4) Patofisiologi
Belum ditemukan penjelasan yang mendasari tetap melekatnya kedua lapisan
ektoderm tersebut. Diduga terdapat peranan substansi mediator berupa beberapa faktor
pertumbuhan (growth factor). Faktor pertumbuhan yang berfungsi mensintesis jaringan
tulang adalah Transforming Growth Factor-b (TGF-b), khususnya isomer TGF-b1, dan
Insuline-like Growth Factor-I (IGF-I). Tulang kepala tersusun dari bermacam macam sel
tulang yang terdiri osteoblas, khondroblas, osteosit dan khondrosit, dan matriks tulang
antara lain kolagen tipe-1, kolagen tipe-2, osteokalsin, osteospondin, dan kartilago.
Fungsi sel tulang dipacu oleh dua faktor pertumbuhan, yaitu TGF-b1 dan IGF-I. Sudah
ada beberapa penelitian yang mengungkap aktifitas dua faktor pertumbuhan tersebut
dalam memacu pertumbuhan dan pembentukan tulang, misalnya pada kasus
kraniosinostosis (sutura mengalami fusi sempurna sebelum waktunya) dan akromegali,
kadar TGF-b1 dan IGF-I lebih tinggi dibanding kadarnya yang normal. Selain berperan
dalam proses fertilisasi dan embriogenesis, TGF-b1 dan IGF-I telah dibuktikan berfungsi
sebagai faktor pertumbuhan tulang pada hewan coba. Kombinasi keduanya yang
ditambahkan secara eksogen (aplikasi sistemik) pada kelinci percobaan menyebabkan
percepatan penutupan defek kalvaria, demikian juga halnya bila kedua growth factor
tersebut diberikan secara aplikasi lokal. TGF-b1 dan IGF-I telah pula dibuktikan dapat
menstimulasi pertumbuhan tulang baru, baik secara endokondral maupun intramembran.
Sampai saat ini belum ada penelitian yang mengungkap korelasi kedua faktor
pertumbuhan tadi dengan defek tulang pada meningokel. Seperti telah diungkap di atas,
yang mendasari terjadinya meningokel adalah fusi tulang kepala tidak sempurna sehingga
terbentuk defek. Dapat diduga bahwa pada saat terjadi proses fusi tulang kepala terdapat
kekurangan kadar satu atau lebih dari faktor pertumbuhan yang berfungsi untuk

menstimulasi sintesis tulang, yaitu TGF-b1 dan atau IGF-I. Disimpulkan bahwa growth
factor TGF-b1 dan IGF-I memegang peranan penting dalam pembentukan tulang kepala
pasien meningokel. Dengan demikian kekurangan kadar TGF-b1 dan IGF-I akan
berakibat terbentuknya defek tulang kepala. Penelitian ini memperkuat penelitianpenelitian sebelumnya bahwa etiologi meningokel adalah defisiensi asam folat yang
mengakibatkan penurunan kadar TGF-b1 dan IGF-I dalam serum ibu dan tulang kepala
janin.
5) Gejala klinis
Gejalanya bervariasi, tergantung kepada beratnya kerusakan pada korda spinalis
dan akar saraf yang terkena. Beberapa anak memiliki gejala ringan atau tanpa gejala,
sedangkan yang lainnya mengalami kelumpuhan pada daerah yang dipersarafi oleh korda
spinalis atau akar saraf yang terkena. Gejala pada umumnya berupa penonjolan seperti
kantung dipunggung tengah sampai bawah pada bayi baru lahir. Kelumpuhan atau
kelemahan pada pinggul, tungkai atau kaki, penurunan sensasi, inkontinesia urin maupun
inkontinensia tinja. Korda spinalis yang terkena rentan terhadap infeksi (meningitis).
6) Klasifikasi
Meningokel spinal adalah penonjolan dura mater dan membrane araknoid yang
terjadi dengan defek pada kolum spinal, dengan medulla spinalis masih intak didalam
kanalis spinalis (spinal canal). Meningokel jarang terjadi dan terdiri dari kelompok lesi
kistik heterogen yang diklasifikasian kepada 5 lokasi; posterior sacral dan lumbal,
posterior torakal, posterior servikal, anterior sacral dan anterolateral lumbal, torakal dan
servikal. Meningokel posterior sacral dan lumbal yaitu disrafisme atau defek fusi pada
midline apabila diaplikasikan pada tulang spinal digolongkan dengan beberapa istilah
yang boleh mengelirukan. Contohnya bayi baru lahir yang lahir dengan mielomeningokel
atau meningokel selalunya diklasifikasikan sebagai spina bifida cystica. Bayi baru lahir
dengan meningokel posterior lumbosacral segera dapat dikenali dengan jelas. Lesi bisa
dengan saiz yang berbeda, bisa dikurangkan, transiluminasi baik, dan tertutup
sepenuhnya dengan kulit yang dapat bervariasi dengan derajat displastisitas yang
berbeda. Kemungkinan terjadinya ruptur pada kantung bisa terjadi dengan kebocoran

cairan serebrospinal terutamanya apabila elemen kutan displastik adalah nipis.


Pemeriksaan neurologis adalah normal tanpa deformitas pada ekstremitas bawah. Tonus
sfingter anus adalah normal. Lingkar kepala adalah normal dan ubun ubun kecil datar
kerana tidak terdapat ciri ciri hidrosefalus. Meningokel sacral anterior merupakan lesi
yang tersembunyi kerana tidak kelihatan abnormalitas. Lesi ini juga lebih jarang terjadi
daripada meningokel posterior disepanjang aksis spinal. Lesi ini disebabkan oleh
gangguan embriologi yang melibatkan massa sel kaudal dan selalunya dikaitkan dengan
anomaly rektal (termasuk anus imperforata), malformasi uterus dan vagina, duplikasi
pelvis renal atau ereter, tulang pelvik dan anomali vertebral, dermoid dan teratoma
dikaitkan dengan kista. Abnormalitas embriologis pada elemen anterior sacral
menyebabkan herniasi dura mater yang mengakibatkan perkembangan terjadinya
meningokel sacral anterior. Kelainan ini sering disertai dengan defek lempeng neural
yang lain. Dulunya meningokel sacral anterior ditemukan disebabkan oleh efek massa.
Kista akan membesar dengan perlahan dalam beberapa decade dan menggeser rectum,
kandung kemih, dan uterus dan menyebabkan kesulitan dengan fungsi kemih dan usus.
Kista ini saiznya kecil semasa anak dan dengan perlahan membesar secara progressif
disebabkan tekanan hidrostatik dan pulsasi cairan serebrospinal. Oleh kerana lesi ini lebih
sering pada perempuan, massa kistik ditemukan apabila terjadinya distosia maternal,
dengan konsekuensi fatal pada ibu jika terjadinya rupture meningokel sehingga terjadinya
meningitis. Nyeri kepala mungkin terjadi semasa defekasi disebabkan peningkatan
tekanan cairan serebrospinal dalam kista, perubahan posisi menyebabkan perpindahan
cairan dari ruangan subaraknoid spinal kedalam kista menghasilkan nyeri kepala tekanan
rendah. Pemeriksaan neurologi tidak ada kelainan. Tergantung kepada saiz massa, kista
bisa dipalpasi pada abdomen, vagina atau rektal. Pada palpasi massanya terisi
cairan,melekat dengan sacrum pada anterior dan posterior rectum. Meningokel Kranial
gejala klinisnya sangat bervariasi tergantung malformasi serebral yang terjadi, termasuk
hidrosefalus dan banyaknya jaringan otak yang mengalami displasia dan masuk ke dalam
kantung meningoensefalokel. Jika hanya mengandung meningen saja, prognosisnya lebih
baik dan dapat berkembang normal. Gejala-gejala sehubungan dengan malformasi otak
adalah mental retardasi, ataxia spastik, kejang, buta dan gangguan gerakan bola mata.

7) Diagnosa
Meningocele biasanya dideteksi sebelum lahir. Seorang dokter dapat melakukan
beberapa pemeriksaan untuk mendiagnosis meningocele antaranya adalah melakukan
pemeriksaan ultrasound, amniosentesis, dan Alpha-fetoprotein (AFP) ;sebagai skrining
pada trimester kedua. Tes skrining darah dan amniocentesis bisa menunjukkan defek pada
tabung saraf. Meningocele bisa terlihat dengan pemeriksaan USG. Waktu yang tepat
untuk melakukan pemeriksaan diagnostik ini adalah pada usia gestasi 16 dan 18 minggu,
sebelum konsentrasi AFP yang normalnya menurun, dan pada saat yang tepat untuk
melakukan aborsi terapeutik. Pengambilan sampel virus koronik (chorionic villus
sampling) juga merupakan pemeriksaan untuk mendiagnosa defek pada tuba neural pada
masa prenatal. Selain itu, rencana kelahiran dengan sesar dapat menurunkan disfungsi
motorik. Setelah bayi lahir dilakukan pemeriksaan rontgen tulang belakang untuk
menentukan luas dan lokasi kelainan, pemeriksaan USG tulang belakang bisa
menunjukkan adanya kelainan pada korda spinalis maupun vertebrata, serta pemeriksaan
CT-Scan atau MRI tulang belakang kadang-kadang dilakukan untuk menentukan luas dan
lokasi kelainan.

Gambar 4 : Menunjukkan kantong yang berisi


CSS terapung di dalam cairan amnion

8) Penanganan
Pada kasus tertentu kelainan ini dapat dikoreksi dengan pembedahan.
Pembedahan terdiri dari insisi meningokel dan penutupan dura meter. Kemudian kulit
diatas cacat ditutup. Pada meningokel kranial, di mana kantung tidak mengandung
jaringan saraf, hasil dari pembedahan hampir selalu baik. Pada posterior spinal
meningokel kerana lesinya ditutupi oeh kulit luar dan kebocoran cairan serebrospinal
tidak terjadi, tindakan bedah boleh dilakukan secara elektif walaupun selalunya defek
lesinya dioperasi sebelum bayi baru lahir dipulangkan dari rumah sakit. Meningokel
dibuka pada permukaan dorsalnya, dan jika ditemukan elemen neural displastik yang
abnormal yang melekat dengan dinding kantung dilakukan eksisi terlebih dahulu kerana
tidak ada fungsinya. Jika terdapat akar saraf yang mengalami herniasi ke dalam defek, di
kembalikan ke dalam ruang subaraknoid yang normal. Pada Anterior spinal meningokel,
majoritas dari meningokel ini mempunyai pedikel yang boleh diligasi. Selepas dilakukan
aspirasi cairan serebrospinal dari kista, kantung meningokel harus dalam keadaan kempes
apabila koneksi dengan ruangan subaraknoid spinal dieliminasi. Kantung tidak perlu
dieksisi. Selepas kantung dikempeskan, gejala berkaitannya akan berkurang dan hilang.
a. Pendekatan Endoskopi endonasal (EEA)
Meningoceles di dasar tengkorak dan bagian atas tulang belakang dapat didekati
secara langsung dengan menggunakan Pendekatan Endoskopi endonasal (EEA).
Pendekatan minimal invasif ini memungkinkan ahli bedah untuk mengakses daerah yang
terkena melalui koridor alami hidung, tanpa membuat sayatan terbuka. Ahli bedah
kemudian menghapus meningoceles melalui hidung dan rongga hidung. Pendekatan
endoskopi endonasal mempunyai manfaat tidak ada sayatan untuk disembuhkan, tidak
ada cacat, dan waktu pemulihan lebih cepat. Untuk meningoceles di tulang punggung
bagian bawah, menggunakan teknik operasi tulang belakang minimal invasif untuk
menutup kantung.
9) Prognosis
Prognosis pada kasus meningokel umumnya baik kerana lesi ini adalah defek tuba
neural yang tertutup. Meningokel tidak melibatkan jaringan saraf dan tidak ada tisu yang

fungsional didalam herniasi. Medulla spinalis dan cauda equine juga berada dalam
keadaan normal. Maka setelah dilakukan penatalaksanaan bedah, jarang terjadi sekuele
neurologis. Gejala dari kompresi struktur bersebelahan lesi akan berkurang dan hilang
apabila kantung dikempeskan.
10) Pencegahan
Risiko dapat dikurangi dengan mengonsumsi asam folat. Kekurangan asam folat
pada seorang wanita harus dikoreksi sebelum wanita tersebut hamil, karena kelainan ini
terjadi sangat dini. Kepada wanita yang berencana untuk hamil dianjurkan untuk
mengonsumsi asam folat sebanyak 0.4 mg/hari. Kebutuhan asam folat pada wanita hamil
adalah 1 mg/hari.

REFERENSI
1. http://www.upmc.com/services/neurosurgery/brain/conditions/brain
tumors/pages/meningocele.aspx
2. Martinez-Lage JF, Poza M, Sola M, Soler CL, Montalvo CG, et al. The Child with a
Cephalocele: Etiology, Neuroimaging, and Outcome. Childs Nerv. Syst; 1996; 12: 540550.
3. Thaller SR, Hoyt J, Tesluk H, and Holmes R. The Effect of Insulin Growth Factor-1 on
Calvarial Sutures in a Sprague-Dawley Rat. J.Cranio-fac.Surg; 1993; 4: 35.

Beri Nilai