Anda di halaman 1dari 15

Nama : Lia Rofiatun

NIM : 14104244009
Kelas : BK A 2014

NEUROSIS DAN PSIKOSIS

NEUROSIS
Pada akhir abad ke-18, istilah neurosis (psikoneurosis) dipakai untuk menerangkan
semua penyakit yang disebabkan oleh gangguan fungsi saraf, tetapi jaringan susunan saraf
sendiri tidak mengalami kerusakan. Sedangkan neurosis dalam psikoanalisis menurut
Sigmund Freud adalah kesehatan jiwa dan badan yang terganggu karena adanya konflik dan
kesulitan dalam jiwa individu. Dasar dari adanya neurosis menurut psikoanalisis ialah adanya
konflik dan kesulitan batin. Hal ini dapat dijelaskan demikian : seseorang yang sadar tidak
menyukai keinginan-keinginan tertentu yang dianggap bertentangan dengan nilai moral
manusia. oleh karena itu, keinginan-keinginan tersebut didesak dari alam sadar ke dalam
alam tak sadar. Secara sadar, ia tidak mau memuaskan keinginan-keinginannya, tetapi dalam
alam tak sadarnya selalu ada dorongan untuk memuaskan keinginan-keinginan yang terlarang
itu. Supaya dua keinginan dari sumber yang bertentangan itu bisa didamaikan, maka harus
ada kompromi antara dua keinginan yang bertentangan itu dan terdapat unsur-unsur untuk
memenuhi pengakuan dosa dari penderita, yaitu sebagai perbuatan untuk menghukum dirinya
sendiri.
Penderita neurotik jadi sakit karena merasa tertekan dari luar dan dari dalam serta
memperlihatkan simtom-simtom yang melumpuhkan meskipun tidak begitu berat
dibandingkan dengan gangguan mental yang lain. Di sini, neurosis dapat didefinisikan
sebagai gangguan tingkah laku yang disebabkan oleh tegangan emosi sebagai akibat dari
frustasi, konflik, represi, atau perasaan tidak aman.
Meskipun bentuk dari neurosis itu beraneka ragam dan setiap penderita neurotik
sangat unik dalam memperlihatkan simtom-simtom tertentu, tetapi beberapa ciri umum dapat
ditemukan dalam semua bentuk neurosis.
Ciri-ciri umum neurosis
(Yustinus Semium, 2006:315)
1.

Kecemasan
Penderita neurotik selalu dibayang-bayangi oleh perasaan ngeri dan takut. Ia selalu
gelisah walaupun berada dalam keadaan-keadaan yang biasa. Kecemasan neurosis adalah
perasaan tidak aman yang berkembang dalam individu yang disebabkan oleh situasisituasi lingkungan yang rupanya tidak berbahaya atau hanya sedikit menekan.
1

2.

Tidak Dapat Berfungsi Sesuai dengan Kapasitas


Biasanya penderita neurotik tidak dapat mewujudkan potensinya dan gagal mencapai
keberhasilan. Ia bekerja, tetapi selalu mengalami simtom-simtom somatik yang
melelahkan, selalu merasa cemas dan takut-takut, waktu dihabiskan hanya dengan
memikirkan dirinya sendiri, dan tidak mampu menjalin hubungan yang sehat.

3.

Pola Tingkah Laku yang Kaku atau Diulang-Ulang


Ciri tingkah laku neurosis kadang-kadang disebut kebodohan neurotik. Penderita tidak
mampu mempelajari cara-cara baru untuk menyesuaikan diri dengan masalah-masalah
kehidupan. Ia menganut pola-pola kaku yang digunakannya secara tidak tepat untuk
berbagai situasi (selalu membuat respons yang sama dan tidak tepat).

4.

Sikap Egosentrik
Orang yang neurotik selalu mengutamakan dirinya sendiri. Kesadaran akan dirinya
sendiri lebih kuat dibandingkan dengan orang yang normal dan akibatnya ia selalu
membanding-bantingkan dirinya sendiri dan situasinya dengan orang lain dan situasi
mereka. Ia sering menuntut kepada orang lain hanya karena ia ingin mementingkan
dirinya sendiri.

5.

Hipersensitif
Karena tingginya ketegangan yang dialami, maka penderita neurotik secara khas
mengadakan reaksi yang berlebihan terhadap situasi kehidupan. Sifat ini diperlihatkan
dengan sikap mudah tersinggung, tidak mampu menahan kritik, bereaksi secara
berlebihan terhadap pujian atau sanjungan, seing mengeluh tentang perasaan fisik yang
tidak enak walaupun hanya kecil, dan bereaksi dengan hebat terhadap situasi-situasi stres
yang normal.

6.

Tidak Matang
Para penderita neurotik pada umumnya adalah orang-orang yang telah gagal
mengembangkan pola-pola emosi dan motivasi yang dewasa. Hubungan emosional
mereka sering bercirikan ketergantungan dan kebutuhan-kebutuhan yang berlebihlebihan akan kasih sayang dan pengakuan dari orang lain. Kebutuhan yang bersifat
kekanak-kanakan dikekang dan frustasi diberi reaksi dengan cemberut, mencibir, dan
marah.

7.

Keluhan-Keluhan dan Simtom-Simtom Somatik


Perasaan tidak enak atau lemah sebagai simtom-simtom fisik merupakan hal-hal yang
paling sering menyebabkan penderita neurotik menggap dirinya sebagai orang yang
sakit. Penyakit fisik yang dasarnya psikogenetik itu mungkin berwujud rasa sakit di
bagian-bagian tertentu dari tubuh, disfungsi sistem organ tubuh, hipersensitif, bahkan
mungkin kelumpuhan.

8.

Tidak Bahagia
Merasa kesepian, merasa sakit, atau kehilangan hal-hal yang enak dan menyenangkan
dalam hidup adalah ciri-ciri khas dari penderita neurotik. Suasana hati yang secara umu
terdapat pada penderita neurotik adalah perasaan depresi, putus asa, dan pesimistik
terhadap masa depan. Kesengsaraannya bermata dua : selain merasa dirinya terbebani, ia
juga merasa terjerat pada jaring yang dibuatnya sendiri. Jarang sekali ia merasa bahagia.

9.

Motivasi Tidak Sadar


Pada individu yang normal, motivasi tak sadar merupakan dasar bagi banyak tingkah
laku, sedangkan pada penderita neurotik, motivasi tak sadar menguasai reaksi-reaksi
yang penting terhadap situasi-situasi kehidupan. Penderita neurotik lebih banyak
membutuhkan mekanisme-mekanisme pertahanan yang dikembangkan secara tak sadar.
Kesadaran tentang kenyataan sangat banyak diwarnai oleh ketakutan dan permusuhan tak
sadar yang merupakan dasar dari pola tingkah laku neurotik.

Jenis-Jenis Neurosis
(jurnal online : Niko Jaya Luban Gaol).
Dalam buku W.F. Maramis 1980 yang dikutip oleh Drs. Kuntjojo 2003 dalam bukunya
Psikologi Abnormal, bahwa kelainan jiwa yang disebut neurosis ditandai dengan bermacammacam gejala. Dan berdasarkan gejala yang paling menonjol, sebutan atau nama untuk jenis
neurosis diberikan. Dengan demikian pada setiap jenis neurosis terdapat ciri-ciri dari jenis
neurosis yang lain, bahkan kadang-kadang ada pasien yang menunjukkan begitu banyak
gejala sehingga gangguan jiwa yang dideritanya sukar untuk dimasukkan pada jenis neurosis
tertentu.
Bahwa nama atau sebutan untuk neurosis diberikan berdasarkan gejala yang paling menjonjol
atau paling kuat. Atas dasar kriteria ini para ahli mengemukakan jenis-jenis neurosis sebagai
berikut (W.F. Maramis, 1980:257-258).
a) Neurosis cemas (anxiety neurosis atau anxiety state)
Gejala-gejala neurosis cemas
Tidak ada rangsang yang spesifik yang menyebabkan kecemasan, tetapi bersifat
mengambang bebas, apa saja dapat menyebabkan gejala tersebut. Bila kecamasan yang
dialami sangat hebat maka terjadi kepanikan. Adapun gejala-gejala neurosis cemas
adalah :
1. Gejala somatis
Dapat berupa sesak nafas, dada tertekan, kepala ringan seperti mengambang, lekas
lelah, keringat dingan, dst.
2. Gejala psikologis
Berupa kecemasan, ketegangan, panik, depresi, perasaan tidak mampu,dst.
Faktor penyeban neurosis cemas
Menurut Maramis (1980 : 261), faktor pencetus neurosis cemas sering jelas dan secara
psikodinamik berhubungan dengan faktor-faktor yang menahun seperti kemarahan
yang dipendam.
3

Terapi untuk penderita neurosis cemas


Terapi untuk penederita neurosis cemas dilakukan dengan menemukan sumber
ketakutan atau kekuatiran dan mencari penyesuaian yang lebih baik terhadap
permasalahan. Mudah tidaknya upaya ini pada umumnya dipengaruhi oleh kepribadian
penderita.
b) Histeria
Gejala-gejala hysteria
Histeria merupakan neurosis yang ditandai dengan reaksi-reaksi emosional yang tidak
terkendali sebagai cara untuk mempertahankan diri dari kepekaannya terhadap
rangsang-rangsang emosional. Pada neurosis jenis ini fungsi mental dan jasmaniah
dapat hilang tanpa dikehendaki oleh penderita.Gejala-gejala sering timbul dan hilang
secara tiba-tiba, teruma bila penderita menghadapi situasi yang menimbulkan reaksi
emosional yang hebat.
Jenis-jenis hysteria
Histeria digolongkan menjadi 2, yaitu reaksi konversi atau hysteria minor dan reaksi
disosiasi atau histeria mayor.
Pada histeria minor kecemasan diubah atau dikonversikan (sehingga disebut reaksi
konversi) menjadi gangguan fungsional susunan saraf somatomotorik atau
somatosensorik,dengan gejala : lumpuh, kejang-kejang, mati raba, buta, tuli,dst.
Histeria mayor atau reaksi disosiasi. Histeria jenis ini dapat terjadi bila kecemasan
yang alami penderita demikian hebat, sehingga dapat memisahkan beberapa fungsi
kepribadian satu dengan lainnya sehingga bagian yang terpisah tersebut berfungsi
secara otonom, sehingga timbul gejala-gejala: amnesia, somnabulisme, fugue, dan
kepribadian ganda.
Faktor penyebab hysteria
Menurut Sigmund Freud, histeria terjadi karena pengalaman traumatis (pengalaman
menyakitkan) yang kemudian direpresi atau ditekan ke dalam alam tidak sadar.
Maksudnya adalah untuk melupakan atau menghilangkan pengalaman tersebut.Namun
pengalaman traumatis tersebut tidak dapat dihilangkan begitu saja, melainkan ada
dalam alam tidak sadar (uncociousness) dan suatu saat muncul kedalam sadar tetapi
dalam bentuk gangguan jiwa.
c) Neurosis fobik
Gejala-gejala neurosis fobik
Neurosis fobik merupakan gangguang jiwa dengan gejala utamanya fobia, yaitu rasa
takut yang hebat yang bersifat irasional, terhadap suatu benda atau keadaan. Fobia
dapat menyebabkan timbulnya perasaan seperti akan pingsan, rasa lelah, mual, panik,
berkeringat, dst. Ada bermacam-macam fobia yang nama atau sebutannya menurut
faktor yang menyebabkan ketakutan tersebut, misalnya :
Hematophobia : takut melihat darah
Hydrophobia : takut pada air
Pyrophibia : takut pada api
4

Acrophobia : takut berada di tempat yang tinggi, dsb.


Faktor penyebab neurosis fobik
Neurosis fobik terjadi karena penderita pernah mengalami ketakutan dan shock hebat
berkenaan dengan situasi atau benda tertentu, yang disertai perasaan malu dan bersalah.
Pengalaman traumastis ini kemudian direpresi (ditekan ke dalam ketidaksadarannya).
Namun pengalaman tersebut tidak bisa hilang dan akan muncul bila ada rangsangan
serupa.
Terapi untuk penderita neurosis fobik
Menurut Maramis, neurosa fobik sulit untuk dihilangkan sama sekali bila gangguan
tersebut telah lama diderita atau berdasarkan fobi pada masa kanak-kanak. Namun bila
gangguan tersebut relatif baru dialami proses penyembuhannya lebih mudah.
d) Neurosis obsesif-kompulsif
Gejala-gejala neurosis obsesif-kompulsif
Istilah obsesi menunjuk pada suatu ide yang mendesak ke dalam pikiran atau
menguasai kesadaran dan istilah kompulsi menunjuk pada dorongan atau impuls yang
tidak dapat ditahan untuk tidak dilakukan, meskipun sebenarnya perbuatan tersebut
tidak perlu dilakukan.
Contoh obsesif-kompulsif antara lain :
1. Kleptomania : keinginan yang kuat untuk mencuri meskipun dia tidak
membutuhkan barang yang ia curi.
2. Pyromania : keinginan yang tidak bisa ditekan untuk membakar sesuatu.
3. Wanderlust : keinginan yang tidak bisa ditahan untuk bepergian.
4. Mania cuci tangan : keinginan untuk mencuci tangan secara terus menerus.
Faktor penyebab neurosis obsesif-kompulsif
Neurosis jenis ini dapat terjadi karena faktor-faktor sebagai berikut (Yulia D., 2000 :
116-117).
1. Konflik antara keinginan-keinginan yang ditekan atau dialihkan.
2. Trauma mental emosional, yaitu represi pengalaman masa lalu (masa kecil).
e) Neurosis depresif
Gejala-gejala neurosis depresif
Neurosis depresif merupakan neurosis dengan gangguang utama pada perasaan dengan
ciri-ciri : kurang atau tidak bersemangat, rasa harga diri rendah, dan cenderung
menyalahkan diri sendiri. Gejala-gejala utama gangguan jiwa ini adalah : gejala
jasmaniah : senantiasa lelah, dan gejala psikologis : sedih, putus asa, cepat lupa,
insomnia, anoreksia, ingin mengakhiri hidupnya, dst.
Faktor penyebab neurosis depresif
Menurut hasil riset mutakhir sebagaimana dilakukan oleh David D.Burns (1988 : 6),
bahwa depresi tidak didasarkan pada persepsi akurat tentang kenyataan, tetapi
merupakan produk keterpelesetan mental, bahwa depresi bukanlah suatu gangguan
emosional sama sekali, melainkan akibat dari adanya distorsi kognitif atau pemikiran
yang negatif, yang kemudian menciptakan suasana jiwa, terutama perasaan yang
5

negatif pula. Burns berpendapat bahwa persepsi individu terhadap realitas tidak selalu
bersifat objektif. Individu memahami realitas bukan bagaimana sebenarnya realitas
tersebut, melainkan bagaimana realitas tersebut ditafsirkan dan penafsiran ini bisa
keliru bahkan bertentangan dengan realitas sebenarnya. Konsepsi tersebut kemudian
oleh Burns dijelaskan dengan visualisasi sebagai berikut (1988)

DIALOG INTERNAL
Realitas yang dihadapi
ditafsirkan

REALITAS
Sederetan peristiwa
yang positif

INDIVIDU

MOOD
Perasaan
diciptakan oleh
pikiran.
Semua
pengalaman
diproses melalui
otak

Bagan 1.1 : Proses terjadinya depresi


(Sumber : RSJ Lali Jiwo, Yogyakarta)
f) Neurasthenia
Gejala-gejala neurasthenia
Neurasthenia disebut juga penyakit payah. Gejala utama gangguan ini adalah tidak
bersemangat, cepat lelah meskipun hanya mengeluarkan tenaga yang sedikit, emosi
labil, dan kemampuan berpikir menurun. Di samping gejala-gejala utama tersebut juga
terdapat gejala gejala tambahan, yaitu insomnia, kepala pusing, sering merasa
dihinggapi bermacam-macam penyakit, dst.
Faktor penyebab neurasthenia
Neurasthenia dapat terjadi karena beberapa faktor (ZakiahDaradjat, 1983 : 34), yaitu
sebagai berikut.
1. Terlalu lama menekan perasaan, pertentangan batin, kecemasan.
2. Terhalanginya keinginan-keinginan.
3. Sering gagal dalam menghadapi persaingan-persaingan

PSIKOSIS
Psikosis biasanya diklasifikasikan menjadi dua kelompok utama, yaitu psikosis organik dan
psikosis fungsional. Pada psikosis organik, kondisi patologik tubuh dapat ditunjukkan sebagai
penyebabnya. Sistem saraf pusat merupakan bagian organisme yang paling besar
kemungkinannya terkena. Psikosis fungsional adalah gangguan mental yang berat dan
melibatkan seluruh kepribadian tanpa ada kerusakan jaringan. Psikosis fungsional tidak
mempunyai dasar fisik yang dapat diamati. Karena tidak memiliki dasar organik, gangguangangguan psikosis fungsional dianggap sebagai akibat dari hidup dengan stres emosional
selama bertahun-tahun.
Psikosis Fungsional
(Yustinus Semium, 2006:19)
Psikosis fungsional dibagi atas tiga kelompok bersama dengan semua sub kelompoknya,
yakni :
A. Skizofrenia
1. Tipe yang tidak teratur (disorganized type)
2. Tipe katatonik
3. Tipt paranoid
4. Tipe residual (residual type)
5. Tipe yang tidak terperinci (undifferentiated type)
B. Gangguan Bipolar
1. Tipe manik
2. Tipe depresif
3. Tipe campuran (sirkuler)
C. Gangguan-Gangguan Psikotik Lain
1. Gangguan involusional
2. Gangguan devolusional (paranoid)
A. Gangguan Skizofrenik
(Kuntjojo, 2009:28)
Arti sebenarnya dari Schizophrenia adalah kepribadian yang terbelah (split of personality).
Sebutan ini diberikan berdasarkan gejala yang paling menonjol dari penyakit ini, yaitu
adanya jiwa yang terpecah belah. Antara pikiran, perasaan, dan perbuatan terjadi disharmoni.
1. Gejala-gejala schizophrenia menurut Singgih Dirgagunarsa 1998 (Kuntjojo, 2009:29).
a. Kontak dengan realitas tidak ada lagi, penderita lebih banyak hidup dalam dunia
khayal sendiri, dan berbicara serta bertingkah laku sesuai dengan khayalannya,
sehingga tidak sesuai dengan kenyataan.
b. Karena tidak ada kontak dengan realitas, maka logikanya tidak berfungsi sehingga isi
pembicaraan penderita sukar untuk diikuti karena meloncat-loncat (inkoheren) dan
seringkali muncul kata-kata aneh yang hanya dapat dimengerti oleh penderita sendiri.
c. Pikiran, ucapan, dan perbuatannya tidak sejalan, ketiga aspek kejiwaan ini pada
penderita schizophrenia dapat berjalan sendiri-sendiri, sehingga ia dapat
menceritakan kejadian yang menyedihkan sambil tertawa.
7

2.

d. Sehubungan dengan pikiran yang sangat berorientasi pada khayalannya sendiri,


timbul delusi atau waham pada penderita schizophrenia (bisa waham kejaran dan
kebesaran).
e. Halusinasi sering dialami pula oleh penderita schizophrenia.
Faktor penyebab terjadinya schizophrenia menurut W.F. Maramis 2005
Pendapat para ahli mengenai faktor penyebab schizophrenia ada bermacam-macam. Ada
yang menyatakan bahwa penyakit ini merupakan keturunan. Ada pula yang menyatakan
bahwa schizophrenia terjadi gangguan endokrin dan metabolisme. Sedangkan pendapat
yang berkembang dewasa ini adalah bahwa penyakit jiwa ini disebabkan oleh beberapa
faktor, antara lain keturunan, pola asuh yang salah, maladaptasi, tekanan jiwa, dan
penyakit lain yang belum diketahui (Kuntjojo, 2005:29).

Simtom
(Yustinus Semium, 2006:22)
Simtom-simtom yang sangat umum kelihatan pada penderita skizofrenik, yaitu simtomsimtom kognitif, simtom-simtom suasana hati, simtom-simtom somatik, dan simtom-simtom
motor.
1. Simtom-simtom kognitif
Simtom-simtom ini meliputi delusi, halusinasi, disorganisasi proses pikiran, dan
pembanjiran kognitif (cognitive flooding).
Delusi. Delusi-delusi yang umum ditemukan dalam pikiran penderita skizofrenik adalah
keyakinan-keyakinan yang salah dan tidak rasional serta begitu melekat pada pikirannya
sehingga tidak mungkin lagi berubah. Hal-hal yang tidak rasional itu biasanya terungkap
dalam : (1) ide-ide referensi atau pengaruh, dan (2) delusi dikejar-kejar (delusion of
persecution) dan delusi kemegahan (delusion of grandeur). Ide-ide pengaruh terungkap
apabila penderita menyatakan bahwa orang memasukkanpikiran-pikiran ke dalam
kepalannya atau mengarahkan tingkah lakunya, atau juga menyebabkan perasaan
fisiknya tidak enak. Sarana-sarana yang diceritakan penderita untuk memasukkan
pengaruh-pengaruh itu mungkin hipnotik, listrik, magnet, atau mistik. Mengenai delusi
dikejar-kejar, penderita skizofrenik menggap bahwa penyebab gejala tersebut adalah
musuh atau orang-orang yang mengejarnya. Dalam delusi kemegahan, penderita
skizofrenik biasanya menganggap dirinya memiliki kemampuan yang luar biasa atau
mengidentifikasikan dirinya dengan seorang tokoh masyarakat yang menonjol, anggota
keluarga kerajaan, tokoh sejarah, atau bahkan tokoh agama.
Halusinasi. Halusinasi yang merupakan simtom umum skizofrenik berbeda dengan
delusi, yakni penderitan yang berhalusinasi mengungkapkan pengalamannya tentang
kenyataan secara salah dan sama sekali tidak tepat, mendengar, mencium, atau melihat
segala seuatu yang sebenarnya tidak ada. Sebaliknya, delusi adalah tafsiran yang salah
terhadap pengalaman yang sudah terungkap secara tepat pada panca indra. Macam
halusinasi diantaranya adalah halusinasi pendengaran (auditory hallucination), halusinasi
rasa (gustatory hallucination), halusinasi bau (olfactory hallucination), dan halusinasi
penglihatan (visual hallucination).
Disorganisasi Proses Pikiran. Penderita skizofrenik mengalami disorganisasi proses
pikiran dimana pikiran-pikirannya kehilangan hubungan asosiatid sehingga pikiran8

pikirannya menjadi tidak relevan. Dengan demikian, sulit sekali mengikuti arah
pikirannya, dan akibatnya komunikasi sosial yang efektif hampir tidak mungkin baginya.
Sarat dengan stimulus (stimulus overload atau cognitive flooding). Elemen yang
penting dalam pengalaman kognitif dari penderita skizofrenik adalah perhatiannya yang
meluas yang mengakibatkan apa yang dinamakan sarat dengan stimulus (stimulus
overload). Banyak penderita skizofrenik tidak mampu menyaring stimulus-stimulus yang
datang dari dalam maupun dari luar dirinya. Akibatnya penderita skizofrenik terpaksa
memperhatikan segala suatu yang ada disekitarnya atau yang ada di dalam dirinya sendiri
dan merasa seolah-olah kebanjiran dan bahkan juga terbebani oleh persepsi, pikiran, dan
perasaan.
2.

Simtom-simtom suasana hati


Penderita skizofrenik secara khas memperlihatkan ketidakmampuan untuk mengalami
emosi yang sejati. Dengan kata lain, penderita skizofrenik mengalami ketumpulan emosi.
Sikap apatis,menyendiri, dan melamun merupakan respons terhadap situasi-situasi yang
seharusnya menimbulkan kegembiraan, ketakutan, atau kemarahan. Ia juga tidak mampu
mengadakan kontak dengan orang lain.

3.

Simtom-simtom somatik
Simtom-simtom somatik yang menarik perhatian adalah rangsangan fisiologis umum
(denyut jantung, tekanan darah, telapak tangan berkeringat), tetapi bukti-bukti yang ada
tidak konsisten dan bertentangan (Holmes, 1991).

4.

Simtom-simtom motor
Terdapat gangguan-gangguan tertentu yang rupanya menjadi ciri khas dari penderita
skizofrenik, seperti misalnya, menyeringai, gerakan-gerakan stereotipis atau tetap
(seperti mengusap-usap tangan, menghapus apa saja, menarik rambut, sikap badan yang
kaku dan tegang, senyuman yang tampak hambar), memerankan halusinasi yang sedang
dialaminya (seperti mendengar dengan penuh perhatian), mengambil posisi-posisi yang
aneh (sering kali kikuk dan melelahkan) dalam jangka waktu yang lama.

Aneka Ragam Skizofrenia


(Yustinus Semium, 2006:28)
1. Skizofrenia yang Tidak Teratur
Skizofrenia ini sebelumnya disebut skizofrenia hebefrenik, lebih dekat dengan
pandangan orang awam tentang sakit jiwa. Gangguan ini bercirikan tingkah laku bodoh,
ketidakmampuan antara pikiran, bicara, dan tindakan, sifat kekanak-kanakan.
2.

Skizofrenia Katatonik
Kalau orang mengunjungi rumah sakit jiwa atau sakit mental biasanya sangat tertarik
mengamati pasien-pasien yang duduk atau terbaring dengan tidak bergerak pada suatu
posisi yang aneh, atau yang bertingkah laku tidak masuk akal dan selalu terjadi berulangulang, seperti misalnya, berjalan mondar-mandir ke sana kemari dengan tidak hentihentinya di dalam ruangan, sekian langkah ke suatu arah dan sekian langkah lagi ke arah
9

yang lain, atau terus-menerus mengulangi kata-kata yang sama. Inilah yang disebut
penderita skizofrenia katatonik.
3.

Skizofrenia Paranoid
Penderita skizofrenia paranoid memperlihatkan ide-ide referensi dan pengaruh, serta
delusi dikejar-kejar dan kadang-kadang delusi kemegahan. Skizofrenia tipe paranoid
harus dibedakan dari paranoia yang sebenarnya. Dalam paranoia, delusi ada tetapi ciri
skizofrenik yang lainnya tidak ada. Ciri khas penderita paranoid adalah murung, mudah
tersinggung, dan curiga.

4.

Skizofrenia Residual
Orang-orang yang mengalami gangguan skizofrenia residual adalah orang-orang yang
sekurang-kurangnya memiliki riwayat satu episode psikotik yang jelas pada masa lampau
dan sekarang memperlihatkan beberapa tanda skizofrenia, seperti emosi yang tumpul,
menarik diri dari orang lain (masyarakat), bertingkah laku eksentrik, atau mengalami
gangguan pikiran, tetapi simtom-simtom ini pada umumnya tidak begitu kuat.
Selanjutnya, simtom-simtom seperti halusinasi dan delusi tidak sering terjadi atau hanya
samar-samar (Holmes, 1991).

5.

Skizofrenia yang Tidak Terperinci


Skizofrenia yang tidak terperinci merupakan kategori keranjang sampah dimana individu
yang mengalami skizofrenia tipe ini tidak memiliki salah satu atau lebih dari satu kriteria
dari semua tipe skizofrenia yang dikemukakan. Menurut Maslim, skizofrenia yang tidak
terperinci tidak memenuhi kriteria umu untuk diagnosis skizofrenia, tidak memenuhi
kriteria untuk diagnosis skizofrenia paranoid, hebefrenik, katatonik, atau tidak memenuhi
kriteria untuk skizofrenia residual atau depresi pasca skizofrenia (Maslim, 1998).
Penyebab Skizofrenia
Penyebab skizofrenia telah diselidiki dan menghasilkan beraneka ragam pandangan,
tetapi tetap merupakan masalah yang sangat kontroversial. Umunya para ahli mencari
penyebab skizofrenia dengan mengajukan beberapa pendekatan. Beberapa pendekatan
yang sampai sekarang masih digunakan ialah sebagai berikut :
1. Pendekatan psikodinamik
Pendekatan psikodinamik mengemukakan empat hal yang menyebabkan skizofrenia,
yakni regresi, penarikan diri, stres, dan pengaruh keluarga.
2. Pendekatan belajar
Para ahli teori belajar mengemukakan dua penjelasan mengenai skizofrenia. (1)
skizofrenia itu disebabkan oleh dorongan atau rangsangan (drive/arousal) yang tinggi
dan dorongan atau rangsangan yang tinggi itu mengganggu fungsi kognitif. (2) teori
belajar juga mengemukakan bahwa karena individu tidak dihadiahi setelah
memperhatikan stimulus-stimulus yang relevan dalam lingkungan, maka ia tidak lagi
memperhatikan stimulus-stimulus itu dan sebagai penggantinya ia memperhatikan
stimulus-stimulus yang tidak relevan.
10

3. Pendekatan eksistensial-humanistik
Kebanyakan perhatian dari para ahli teori humanistik-eksistensial dipusatkan pada
gangguan-gangguan yang tidak berat seperti kecemasan dan depresi (gangguan
unipolar), tetapi mereka memberikan suatu pandangan yang radikal tentang
skizofrenia.
4. Pendekatan kognitif
Pendekatan kognitif berbeda dari pendekatan psikodinamik dan pendekatan belajar
dalam dua hal. Pertama, pengalaman-pengalaman pancaindra yang aneh yang
kelihatan pada skizofrenia bukan tidak real dan juga bukan disebabkan oelh
gangguan itu, melainkan pengalaman-pengalaman tersebut adalah real dan
merupakan penyebab dari gangguan itu. Dengan kata lain, individu tidak
berhalusinasi karena skizofrenia, melainkan individu memiliki pengalamanpengalaman pancaindra yang berbeda dan masalah-masalah baru timbul bilamana ia
berusaha menjelaskan pengalaman-pengalaman tersebut. Kedua, proses lberpikir
yang kelihatan pada skizofrenia tidak kalut dan tidak berbeda dari proses alami oleh
orang lain, melainkan proses-proses pikiran itu sama dengan proses berpikir dari
orang-orang normal dan hanya kelihatan kalut karena individu menangani
pengalaman-pengalaman pancaindra berbeda yang mengganggu proses-proses
berpikir yang normal.
5. Pendekatan fisiologis
Menurut pendekatan fisiologis, skizofrenia itu disebabkan oleh aktivitas dopain yang
tinggi pada daerah-daerah otak yang mengatur emosi dan fungsi kognitif.
B. Gangguan Bipolar
(Yustinus Semium, 2006:105)
Istilah bipolar digunakan karena individu memperlihatkan dua kutub suasana hati yang
ekstrem, yakni perubahan antara keadaan mania dan depresi. Karena perubahan tersebut,
maka gangguan bipolar dulu disebut gangguan manik-depresif. Gangguan bipolar dibagi
menjadi tiga tipe, yakni tipe manik, tipe depresif, dan tipe campuran (sirkuler). Individu
didiagnosis sebagai manik apabila suasana hatinya yang dominan adalah mania, dan
dikatakan depresif kalau suasana hatinya yang dominan adalah depresif, dan dikatakan
campuran bila gambaran-gambaran simtomnya adalah manik dan depresif tercampur
atau berubah-ubah dalam jangka waktu beberapa hari.
Simtom
Simtom-simtom umum dari manik-depresif (bipolar) adalah sebagai berikut :
1. Serangannya biasanya mendadak hanya dalam beberapa kasus reaksi ini berkembang
secara berangsur-angsur.
2. Biasanya reaksi ini berhenti dengan sendirinya atau karena dirawat sesudah jangka
waktu 6 bulan.
3. Reaksi ini akan terjadi berulang-ulang kali dengan jarak di antaranya mungkin
selama beberapa tahun.
4. Tidak ada bukti deteriorasi intelektual atau emosional pada pasien.
5. Suasana hati yang berubah-ubah merupakan satu simtom yang sangat menonjol.
11

6. Ilusi, delusi, halusinasi mungkin ada tetapi bukan merupakan simtom khas.
Penyebab
Untuk bermacam-macam gangguan dicari penyebabnya dengan menggunakan
pendekatan-pendekatan psikodinamik, belajar, kognitif, dan fisiologis. Tetapi, tidak
demikian halnya dengan gangguan bipolar karena semua teori psikologis sekarang telah
diabaikan dan hanya menggunakan teori fisiologis (Holmes, 1991).
C. Gangguan-Gangguan Psikotik Lain
(Yustinus Semium, 2006:122)
Meskipun bentuk gangguan psikotik fungsional yang paling banyak adalah gangguan
skizofrenia dan gangguan bipolar, tetapi ada dua kategori lain yang secara klinis penting
adalah: gangguan involusi (invollutional disorder) dan gangguan delusional
Gangguan Involusi
Ciri khas yang membedakan keadaan psikotik involusi dari depresi yang terlihat pada
beberapa pasien bipolar ialah reaksi ini terjadi pada usia setengah baya (bagi wanita
sekitar usia 40-an dan bagi pria sekitar usia 50-an) yang tampaknya mengiringi prosesproses involusi (fisiologis), seperti menopause pada wanita. Ciri lain yang penting ialah
tidak ada sejarah sebelumnya tentang reaksi manik atau reaksi depresif. Bentuk yang
sangat penting ialah melankolia involusi (involutional malancholia) dan bentuk yang lain
adalah psikosis involusi, tipe paranoid (delusional).
Gangguan Delusional
Gangguan ini dulu disebut gangguan paranoid atau reaksi paranoid. Sebagaimana
terkandung dalam nama tersebut, simtom utama dari gangguan delusional yaitu adanya
delusi-delusi. Akan tetapi, tidak seperti delusi-delusi yang terdapat pada gangguan
skizofrenik, delusi-delusi dari gangguan delusional tidak aneh. Dengan kata lain, delusidelusi itu menyangkut situasi-situasi yang dapat terjadi dalam kehidupan yang real
seperti miesalnya, delusi-delusi dikejar, diracuni, tertular penyakit, dicintai atau ditipu
orang lain. Halusinasi-halusinasi pendengaran dan penglihatan dapat juga terjadi dalam
beberapa kasus, tetapi bila halusinasi-halusinasi ini ada biasanya hanya berlangsung
sesaat (tidak lama) dan tidak seperti halusinasi-halusinasi pada skizofrenia yang
berlangsung sepanjang hari. Orang-orang yang mengalami gangguan delusional tidak
memperlihatkan performansi intelektual yang menurun atau tingkah laku yang aneh
seperti yang kelihatan dalam diri orang-orang yang mengalami gangguan skizofrenia.
Simtom
Sistem delusi biasanya berputar disekitar satu tema saja dan isi tema sangat bervariasi,
yaitu sebagai berikut :
1. Delusi dikejar-kejar (persecutory delusion)
2. Delusi kemegahan (grandiose delusion)
3. Delusi dakwaan (litigious delusion)
4. Delusi erotik atau delusi cinta (erotic and amorous delusion)
5. Delusi cemburu
6. Delusi somatik
12

Psikosis Organik
(Yustinus Semium, 2006:152)
Psikosis organik (gangguan mental organik) disebabkan oleh bermacam-macam
faktor fisik atau organik yang mengakkibatkan gangguan mental yang sangat berat
sehingga individu secara sosial menjadi lumpuh dan sama sekali tidak mampu
menyesuaikan diri. Simtom-simtom utama gangguan mental organik adalah fungsifungsi intelektual lemah dan emosi tidak stabil, dan inni dapat dilihat dari tingkah laku
umum individu yang selalu mudah tersinggung atau suasana hati yang selalu berubahubah tanpa penyebab yang jelas, tidak memperhatikan penampilan pribadi, mengabaikan
tanggung jawab, dan antisosial. Rathus dan Nevid (1991) secara terperinci menyebutkan
ciri-ciri dari gangguan-gangguan mental organik seperti terlihat dalam tabel 1.2.
Jika tingkah laku individu disebabkan oleh gangguan organik itu menjadi sedemikian
abnormal dan sangat irrasional sehingga orangnya dianggap pasif atau lumpuh, atau
kadang-kadang bisa mengancam bagi masyarakat dan dirinya sendiri, maka secara
hukum ia dinyatakan sebagai orang gila. Istilah gila ini adalah istilah hukum atau
sosiologis dan bukan istilah psikologis.
Tabel 1.2 : Ciri-Ciri Umum Gangguan-Gangguan Mental Organik
(Sumber: Disadur dari Rathus & Nevis 1991:457)
1. Fungsi intelektual atau ingatan menurun, mengalami kesulitan dalam berbicara,
memahami, menghitung, dan kehilangan pengetahuan umum.
2. Kehilangan ingatan terhadap peristiwa-peristiwa yang baru saja terjadi dan bukan
terhadap peristiwa-peristiwa yang sudah lama terjadi lebih merupakan ciri khas
kerusakan organik.
3. Adanya disorientasi dan gangguan motor (misalnya kesulitan berjalan atau oto
gemetar yang tidak berada di bawah kendali kemauan).
4. Gangguan penilaian atau kesulitan dalam mengambil keputusan dengan tepat, seperti
berpakaian secara tidak tepat atau meninggalkan rumah pada waktu hujan lebat dan
angin ribut.
5. Suasana hati yang tidak stabil dan agitasi emosional, misalnya peralihan yang terjadi
dengan cepat dari tertawa ke menangis atau sebaliknya.
6. Perubahan-perubahan kepribadian dalam kehidupan kemudian.
Faktor-faktor psikososial yang dapat menjelaskan tingkah laku abnormal dari
menurunnya fungsi intelektual tidak ada (misalnya depresi yang terjadi sesudah
kehilangan orang yang dicintai).

13

PERBEDAAN NEUROSIS DAN PSIKOSIS


(Kuntjojo, 2009:26)
Neurosis dapat disebut sebagai gangguan mental atau gangguan saraf, sedangkan psikosis
dapat disebut sebagai penyakit mental atau penyakit jiwa.
J.C. Coleman (W.F. Maramis, 2005 : 251) telah menemukan 6 perbedaan antara psikosis
dengan neurosis atas dasar : 1.perilaku umum, 2. gejala-gejala, 3. orientasi, 4. Pemahaman
(insight), 5.resiko social, dan 6. Penyembuhan.
Perbedaan psikosis dengan neurosis menurut Coleman adalah sebagaimana disajikan dalam
table 1.3 berikut.
TABEL 1.3
PERBEDAAN ANTARA PSIKOSIS DENGAN NEUROSIS
No.
Faktor
Psikosis
Neurosis
1.
perilaku umum
Gangguan terjadi
Gangguan terjadi pada
pada seluruh aspek
sebagian kepribadian, kontak
kepribadian, tidak ada
dengan realitas masih ada.
kontak dengan realitas.
2.
gejala-gejala
Gejalan bervariasi luas
Gejala psikologis dan somatik
dengan waham, halusinasi,
bisa bervariasi, tetapi bersifat
kedangkalan
temporer dan ringan.
emosi, dst. yang terjadi
secara terus-menerus.
3.
orientasi
Penderita sering
Penderita tidak atau jarang
mengalami disorientasi
mengalami disorientasi.
(waktu, tempat, dan
orang-orang).
4.
pemahaman
Penderita tidak emahami
Penderita memahami bahwa
(insight)
bahwa dirinya sakit.
dirinya mengalami gangguan
jiwa.
5.
resiko sosial
Perilaku penderita dapat
Perilaku penderita jarang atau
membahayakan orang
tidak membahayakan orang
lain dan diri sendiri.
lain dan diri sendiri.
6.
penyembuhan
Penderita memerlukan
Tidak begitu memerlukan
perawatan di rumah
perawatan
sakit. Kesembuhan
di rumah sakit. Kesembuhan
seperti keadaan semula
seperti semula dan
dan permanen sulit
permanen sangat mungkin
dicapai.
untuk
dicapai.

14

DAFTAR PUSTAKA
Kuntjojo, Psikologi Abnormal.
Diakses di : https://ebekunt.files.wordpress.com/2009/11/psikologi-abnormal.pdf
Diakses pada 8 Desember 2014

Niko Jaya Luban Gaol


Diakses di : http://e-journal.uajy.ac.id/153/3/2TA12720.pdf
Diakses pada 8 Desember 2014

Semium, Yustinus. Kesehatan Mental 2. Yogyakarta: Kanisius, 2006.

Semium, Yustinus. Kesehatan Mental 3. Yogyakarta: Kanisius, 2006.

15