Anda di halaman 1dari 88

BAB I

PANCASILA SEBAGAI DASAR NEGARA


DAN IDEOLOGI NASIONAL
A. PANCASILA DALAM PENDEKATAN FILSAFAT
Untuk mengetahui secara mendalam tentang Pancasila, perlu pendekatan
filosofis. Pancasila dalam pendekatan filsafat adalah ilmu pengetahuan yang
mendalam mengenai Pancasila.
1. Nilai-Nilai yang Terkandung pada Pancasila
Berdasarkan pemikiran filsafati, Pancasila sebagai filsafat pada hakikatnya
merupakan suatu nilai (Kaelan;2000). Rumusan Pancasila sebagaimana terdapat
dalam Pembukaan UUD 1945 Alinea IV adalah sebagai berikut:
Ketuhanan Yang Maha Esa
Kemanusiaan yang adil dan beradab
Persatuan Indonesia
Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksaan dalam permusyawaratan/
perwakilan
Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Idonesia.
Kelima sila dari Pancasila pada hakikatnya adalah suatu nilai. Nilai-nilai yang
merupakan perasaan dari sila-sila Pancasila tersebut adalah
1. Nilai Ketuhanan;
2. Nilai Kemanusiaan;
3. Nilai Persatuan;
4. Nilai Kerakyatan;
5. Nilai keadilan.
Nilai itu selanjutnya menjadi sumber nilai bagi penyelanggaraan kehidupan
bernegara Indonesia.
Beberapa pengertian tentang nilai diberikan sebagai berikut:
Nilai adalah sesuatu yang berharga, baik dan berguna bagi manusia. Nilai adalah suatu
penetapan atau suatu kualitas yang menyangkut jenis dan minat. Nilai adalah suatu
penghargaan atau suatu kualitas terhadap suatu hal yang dapat menjadi dasar penentu
tingkah laku manusia, karena saat itu:
- Berguna (useful);
- Keyakinan (beliefe);
- Memuaskan (satisfying);
- Menarik (interesting);
- Menguntungkan (profitable);
- Menyenangkan (pleasant);
Ciri-ciri dari nilai adalah sebagai berikut:
- Suatu realitas abstrak.
- Bersifat normatif.
- Sebagai motivator (daya dorong) manusia dalam bertindak.
Nilai bersifat abstrak, seperti sebuah ide, dalam arti tidak dapat ditangkap melalui
indra, yang dapat ditangkap adalah objek yang memiliki nilai. Contohnya keadilan,
kecantikan, kedermawanan, kesederhanaan adalah hal-hal yang bersifat abstrak.
Meskipun abstrak, nilai merupakan suatu realitas, sesuatu yang ada yang dibutuhkan
manusia.
1

Nilai bersifat normative, suatu keharusan (das sollen) yang menuntut


diwujudkan dalam tingkah laku.
Nilai menjadi pendorong/motivator hidup manusia. Tindakan manusia
digerakkan oleh nilai. Misalnya, kepandaian. Setiap siswa berharap menjadi pandai dan
pintar. Karena mengharapkan nilai itu, setiap siswa tergerak untuk melakukan berbagai
perilaku supaya menjadi pandai.
Nilai juga meliki tingkatan.
Menurut tinggi rendahnya, nilai dapat dikelompokkan dalam tingkatan sebagai berikut.
a. Nilai-nilai kenikmatan
b. Nilai-nilai kehidupan
c. Nilai-nilai kejiwaan
d. Nilai-nilai kerohanian
Dalam filsafat Pancasila juga disebutkan bahwa ada 3 (tiga) tingkatan nilai, yaitu:
1. Nilai dasar
2. Nilai instrumental
3. Nilai praktis
Secara singkat dinyatakan bahwa nila dasar pancasila adalah nilai ketuhanan,
nilai kemanusiaan, nilai persatuan, nilai kerakyatan, dan nilai keadilan.
Diterimanya Pancasila sebagai dasar negara dan ideologi nasional dari negara
Indonesia memiliki konsekuensi logis untuk menerima dan menjadikan nilai-nilai
Pancasila sebagai acuan pokok bagi pengaturan penyelenggaraan bernegara.
2. Mewujudkan nilai Pancasila sebagai Norma Bernegara
Setiap norma pasti mengandung nilai. Nilai sekaligus menjadi sumber bagi
norma. Tanpa ada nilai tidak mungkin terwujud norma. Sebaliknya, tanpa dibuat
norma, nilai yang hendak dijalankan itu mustahil terwujudkan. Contah ada norma yang
berbunyi Dilarang merokok. Norma tersebut dimaksudkan agar terwujud nilai
kesehatan.
Norma yang kita kenal dalam kehidupsn sehari-hari ada 4 (empat) yaitu sebagai
berikut.
a. Norma agama
Sumber norma ini adalah ajaran-ajaran kepercayaan atau agama yang oleh
pengikut-pengikutnya dianggap sebagai perintah Tuhan.
b. Norma moral (etik)
Norma ini disebut juga dengan norma kesusilaan atau etika atau budi pekerti.
Asal atau sumber norma kesusilaan adalah dari manusia sendiri yang berdifat
otonom dan tidak ditujukan kepada sikap lahir, tetapi ditujukan kepada sikap
batin manusia.
c. Norma kesopanan
Norma sopan santun didasarkan atas kebiasaan, kepatuhan atau kepantasan yang
berlaku dalam masyarakat. Sanksi atas pelanggaran norma kesopanan berasal
dari masyarakat setempat.
d. Norma hukum
Norma hukum berasal dari luar diri manusia. Norma hukum berasal dari
kekuasaan luar diri manusia yang memaksakan kepada kita.
Etika Kehidupan Berbangsa Sebagai Berikut.
a. Etika Ssosial dan Budaya
Etika ini dimaksudkan untuk menumbuhkan dan mengembangkan
kembali kehidupan berbangsa yang berbudaya tinggi dengan menggugah,
2

menghargai, dan mengembangkan budaya lokal dan nasional serta menyiapkan


budaya yang dimaksud untuk mampu melakukan adaptasi dan tindakan proaksi
sejajar dengan tuntutan globalisasi.
b. Etika Pemerintah dan Politik
Etika ini dimaksudkan untuk mewujudkan pemerintahan yang bersih,
efesien, dan efektif serta menumbuhkan suasana politik yang demokratis yang
bercirikan keterbukaan, rasa bertanggung jawab, tanggap akan aspirasi rakyat,
menghargai perbedaan, jujur dalam persaingan, kesediaan untuk menerima
pendapatan yang lebih benar walau datang dari orang per orang ataupun
kelompak orang, serta menjunjung tinggi hak asasi manusia.
c. Etika Ekonomi dan Bisnis
Etika ini dimaksudkan agar prinsip dan perilaku ekonomi, baik oleh
pribadi, institusi maupun mengambil keputusan dalam bidang ekonomi, dapat
melahirkan kondisi dan realitas ekonomi yang bercirikan: persaingan yang jujur,
berkeadilan, mendorong berkembangnya etos kerja ekonomi, daya tahan
ekonomi dan kemauan asing, dan terciptanya suasana kondusif untuk
pemberdayaan ekonomi rakyat melalui usaha-usaha bersama secara
berkesinambungan.
d. Etika Penegakan Hukum yang Berkeadilan
Etika ini dimaksudkan untuk menumbuhkan kesadaran bahwa tertib
social, ketenangan dan keteraturan hidup bersama hanya dapat diwujudkan
dengan ketaatan terhadap hukum dan seluruh peraturan yang ada.
e. Etika Keilmuan dan Disiplin Kehidupan
Etika keilmuan diwujudkan dengan menjunjung tinggi nilai-nilai ilmu
pengetahuan dan teknologi agar mampu berpikir rasional, kritis, logis, dan
objektif. Di samping itu, etika ini mendorong tumbuhnya kemampuan
menghadapi hambatan, rintangan, dan tantangan dalam kehidupan, mampu
mengubah tantangan menjadi peluang, mampu menumbuhkan kreativitas untuk
penciptaan kesempatan baru, dan tahan uji serta pantang menyerah.
Norma etik atau moral memiliki kelemahan, yaitu tidak memiliki sanksi
yang kuat dan memuaskan terutama untuk mengatur perilaku hidup bernegara.
B. MAKNA PANCASILA SEBAGAI DASAR NEGARA
1. Landasasn Yuridis dan Historis sebagai Dasar Negara
Kedudukan Pancasila sebagai dasar Negara ini merupakan kedudukan yuridis
formal oleh karena tertuang dalam ketentuan hukum Negara, dalam hal ini UUD
1945 pada bagian pembukaan alinea IV.
Secara historis dapat pula dinyatakan bahwa Pancasila yang dirumuskan para
pendiri bangsa (the founding fathers) itu dimaksudkan untuk menjadi dasarnya
Indonesia merdeka.
2. Makna Pancasila sebagai Dasar Negara
Pancasila sebagai dasar (filsafat) Negara mengandung makna bahwa nilai-nilai
yang terkandung dalam Pancasila menjadi dasar ataw pedoman bagi
penyelenggaraan Negara.
Pancasila sebagai dasar Negara mengandung makna bahwa Pancasila harus kita
letakkan dalam keutuhannya dengan pembukaan UUD 1945 , dieksplorasikan pada
dimensi-dimensi yang melekatnya padanya, yaitu
3

a. Dimensi realitasnya, dalam arti nilai yang terkandung di dalamnya


dikonkretisasikan sebagai cerminan objektif yang tumbuh dan berkembang
dalam masyarakat;
b. Dimensi idealitasnya, dalam arti idealism yang terkandung di dalamnya
bukanlah sekadar utopi tanpa makna, melainkan diobjektifkan sebagai sebuah
kata kerja untuk menggairahkan masyarakat dan terutama para penyelenggara
Negara menuju hari esok yang lebih baik;
c. Dimensi fleksibilitasnya, dalam arti pancasila bukan barang yang beku,
dogmatis dan sudah selesai. Pancasila terbuka bagi tafsir baru untuk memenuhi
kebutuhan zaman yang terus berubah. Pancasila tanpa kehilangan nilai dasarnya
yang hakiki tetap actual, relevan dan fungsional sebagai tiang penyangga
kehidupan berbangsa dan bernegara.
C. IMPLEMENTASI PANCASILA SEBAGAI DASAR NEGARA
Hans Naswiaki berpendapat bahwa kelompok norma hukum Negara terdiri atas
4 (empat) kelompok besar,yaitu
1. Staatsfundamentalnorm atau norma fundamental Negara,
2. Staatgrundgesetz atau aturan dasar/pokok Negara,
3. Formellgesetz atau undang-undang,
4. Verordnung dan Autonome Satzung atau aturan pelaksana dan aturan otonom.
Pancasila sebagai cita hukum memilki dua fungsi,yaitu
a) Fungsi regulative, artinya cita hukum menguji apakah hukum yang dibuat adil
atau tidak bagi masyarakat;
b) Fungsi konstitutif, artinya fungsi yang menentukan bahwa tanpa dasar cita
hukum maka hukum yang di buat akan kehilangan maknanya sebagai hukum.
Pancasila sebagai Negara dapat disebut sebagai:
1. Norma dasar;
2. Staatsfundamentalnorm;
3. Norma pertama;
4. Pokok kaidah Negara yang fundamental;
5. Cita Hukum (Rechtsidee)
Adapun tata urutan perundangan adalah sebagai beriku.
1. Undang-Undang Dasar 1945.
2. Ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia.
3. Undang-Undang.
4. Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang (Perpu).
5. Peraturan Pemerintah.
6. Keputusan Presiden.
7. Peraturan Daerah.
Undang-Undang No. 10 Tahun 2004 tentang Pembentukan Peraturan
Perundang-undangan juga menyebutkan adanya jenis dan hierarki peraturan perundangundangan sebagai berikut.
a. UUD Negara Republik Indonesia tahun 1945.
b. Undang-Undang/Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang.
c. Peraturan Pemerintah.
d. Peraturan Presiden.
e. Peraturan Daerah.
D. MAKNA PANCASILA SEBAGIAN IDEOLOGI NASIONAL
1. Pengertian Ideologi
Berikut diberikan beberapa pengertian ideologi
4

a. Peatrick Corrbett menyatakan, ideologi sebagai setiap struktur kejiwaan yang


tersusun oleh seperangkat keyakinan mengenai penyelenggaraan hidup
bermasyarakat beserta pengorganisasiannya, seperangkat keyakinan mengenai
sifat hakikat manusia dan alam semesta yang ia hidup di dalamnya, suatu
pernyataan pendirian bahwa kedua perangkat keyakinan tersebut independen,
dan suatu dambaan agar keyakinan-keyakinan tersebut di hayati dan pernyataan
pendirian itu diakui sebagai kebenaran oleh segenap orang yang menjadi
anggota penuh dari kelompok social yang bersangkutan.
b. A.S Hornby menyatakan bahwa, ideology adalah seperangkat gagasan yang
membantuk landasan teori ekonomi dan politik atau yang dipegangi oleh
seorang atau sekelompok orang,
c. Soejono Soemargono menyatakan secara umum ideologo sebagai kumpulan
gagasan, ide, keyakinan yang menyeluruh dan sistematis, yang menyangkut
bidang :
1 Politik
2 sosial
3 kebudayaan, dan
4 agama
d. Gunawan Setirdja merumuskan ideology sebagai seperangkat ide asasi tentang
manusia dan seluruh realitas yang dijadikan pedoman dan cita-cita hidup.
e. Frans Magnis Suseno mengatakan bahwa ideologim sebagai suatu system
pemikiran dapat dibedakan menjadi idelologi tertutup dan terbuka.
a. Ideology tertutup merupakan suatu system pemikiran tertutup. Ideology ini
mempunyai cirri sebagai berikut.
o Merupakan cita-cita suatu kelompak orang untuk mengubah dan
memperbarui masyarakat.
o Atas nama ideology dibenarkan pengorbanan-pengorbananyang
dibebankan kepada masyarakat.
o Isinya bukan nilai-nilai dan cita-cita tertentu, melainkan terdiri dari
tuntutan-tuntutan konkret dan operasional yang keras, yang diajukan
dengan mutlak.
b. Ideology terbuka merupakan suatu pemikiran yang terbuka. Ideology
terbuka mempunyai cirri-ciri sebagai berikut.
o Bahwa nilai-nilai dan cita-citanya tidak dapat dipaksa dari luar
melainkan digali dan diambil dari moral,budaya masyarakat itu sendiri.
o Dasarnya bukan keyakinan ideologis sekelompok orang melainkan hasil
musyawarah dari consensus masyarakat tersebut.
o Nilai-nilai itu sifatnya dasar,secara garis besar saja sehingga tidak
langsung operasional.
Ada dua fungsi utama ideology dalam masyarakat (Ramlan Surbakti,1999).
Pertama, sebagai tujuan atau cita-cita yang hendak dicapai secara bersama oleh suatu
masyarakat. Kedua, sebagai pemersatu masyarakat dan karenanya sebagai prosedur
penyelesaian konflik yang terjadi dimasyarakat.
2. Landasan dan Makna Pancasila sebagai Ideologi Bangsa
Ketetapan bangsa Indonesia bahwa Pancasila adalah ideologi bagi negara dan
bangsa Indonesia adalah sebagai tertuang dalam Ketetapan MPR No.
XVII/MPR/1998 tentang Pencabutan Ketetapan MPR RI No. II/MPR/1978 tentang
Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila (Eka Prasetya Pancakarsa) dan
Penetapan tentang Penegasan Pancasila sebagai dasar Negara.

Adapun makna pancasila sebagai ideologi nasional menurut ketetapan tersebut


adalah bahwa nilai-nilai yang terkandung dalam ideologi pancasila menjadi cita-cita
normatifpenyelenggaraan bernegara.
Pancasila sebagai ideologi nasional Indonesia memiliki makna sebagai berikut:
1) Nilai-nilai yang terkandung dalam pancasila menjadi cita-cita normatif
penyelenggaraan bernegara;
2) Nilai-nilai yang terkandung dalam pancasila merupakan nilai yang disepakati
bersama dan olehkarena itu menjadi salah satu sarana pemersatu (integrasi)
masyarakat Indonesia.
E. IPLEMENTASI PANCASILA SEBAGAI IDEOLOGI NASIONAL
1. Perwujudan Ideologi Pancasila sebagai Cita-cita Bernegara.
Dalam ketetapan tersebut dinyatakan bawa Visi Indonesia Masa Depan terdiri
dari tiga visi,yaitu
1. Visi ideal, yaitu cita-cita luhur sebagaimana termaktub dalam pembukaan
Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 yaitu pada
Alenia kedua dan keempat;
2. Visi antara, yaitu Visi Indonesia 2020 yang belaku sampai dengan tahun 2020;
3. Visi Lima Tahunan, sebagaiman termaktub dalam Garis-Garis Besar Haluan
Negara.
Untuk mengukur tingkat keberhasilan perwujudan visi Indonesia 2020
dipergunakan indikator-indikator utama sebagai berikut.
1. Religious.
2. Manusiawi.
3. Bersatu.
4. Demokratis.
5. Adil.
6. Sejahtera.
7. Maju.
8. Mandiri.
9. Baik dan Bersih dalam Penyeenggaraan Negara.
2. Perwujudan Pancasila sebagai kesepakatan atau Nilai integrative Bangsa
Pancasila sebagai sarana pemersatu dalam masyarakat dan prosedur penyelesaian
konflik itulah yang terkandung dalam nilai integrative pancasila. Pancasila sudah
diterima oleh Masyarakat Indonesia sebagai sarana pemersatu, artinya sebagai suatu
kesepakatan bersama bahwa nilai-nilai yang terkandung didalamnya disetujui
sebagai milik bersama.
F. PENGAMALAN PANCASILA
Pengamalan Pancasila dalam kehidupan bernegara dapat dilakukan dengan cara:
1. Pengamalan secara objektif
Pemalan secara objektif adalah dengan melaksanakan dan menaati peraturan
perundang-undangan sebagai norma hokum Negara yang berlandaskan
pancasila.
2. Pengamalan secara subjektif
Pengamalansecara subjektif adalah dengan menjalankan nilai-nilai pancasila
yang berwujud norma etik secara pribadiatau sekelompak dalam bersikap dan
bertingkah laku pada kehidupan berbangsa dan bernegara.

BAB 2
HAKIKAT IDENTITAS NASIONAL
BANGSA
1. Bangsa dalam Arti Sosiologis Antropologis
Bangsa dalam pengertian sosiologis antropologis adalah persekutuan
hidup masyarakat yang berdiri sendiri yang masing-masing anggota persekutuan
hidup tersebut merasa satu kesatuan ras, bahasa, agama, dan adat istiadat.
2. Bangsa dalam Arti Politis
Bangsa dalam pengartian politik adalah suau daerah yang sama dan
mereka tunduk pada kedaluatan negaranya sebagai suatu kekuasaan tertinggi ke
luar dan kedalam.
3. Cultural Unity dan Political Unity
Cultural unity adalah bangsa dalam pengertian antropologi/sosiologi,
sedangkan political unity adalah bangsa dalam pengertian politik kenegaraan.
4. Proses Pembentuk Bangsa-Negara
Secara umum dikenal adanya dua proses pembentukan bangsa-negara, yaitu
model ortodoks yaitu model ortodoks. (ramlan Surbakti, 1999). Pertama, model
ortodoks yaitu bermula dari adanya suatu suatu bangsa terlebih duhulu, untuk
kemudian bangsa itu membentuk suatu Negara tersendiri. Kedua, model
mutakhir yaitu berawal dari adanya Negara terlebih dahulu yang terbentuk
melalui proses tersendiri, sedangkan penduduk Negara merupakan sekumpulan
suku bangsa dan ras.
A. IDENTITAS NASIONAL
1. Factor Pembentuk Identitas Bersama
a. Primordial
Faktor primodial merupakan identitas yang menyatukan masyarakat
sehingga mereka dapat membentuk bangsa-negara.
Contoh, bangsa Yahudi membentuk Negara Israel.
b. Sacral
Factor sacral dapat berupa kesamaan agamayang dipeluk masyarakat atau
ideology doktriner yang diakui oleh masyarakat yang bersangkutan. Contoh,
Negara Uni Sovyet diikat oleh kesamaan ideology komunis.
c. Tokoh
Kepemimpinan dari para tokoh yang disegani dan dihormati oleh
masyarakat dapat pula menjadi factor yang menyatukan bangsa-negara.
Contoh, Mahatma Ghandi di India.
d. Bhineka Tunggal Ika
Prinsip bhineka tunggal ika pada dasarnya adalah kesediaan warga
bangsa untuk bersatu dalam perbedaan (unity in diversity). Yang disebut
bersatu dalam perbedaan adalah kesediaan warga bangsa untuk setia pada
lembaga yang disebut Negara dan perintahnya, tanpa menghilangkan
keterikatannya pada suku bangsa, adat, ras, dan agamanya.
e. Sejarah
Persepsi yang sama tentang pengalaman masa lalu, seperti sama-sama
menderita karena penjajahan, tidak hanya elahirkan solidaritas tetapi juga
melahirkan tekad dan tujuan yang sama antaranggota masyarakat itu.
f. Perkembangan ekonomi
7

Perkembangan ekonomi (industrialisasi) akan melahirkan spesialisasi


pekerjaan dan profesi sesuai denan aneka kebutuhan masyarakat. Semakin
tinggi mutu dan variasi kebutuhan masyarakat, semakin saling bergantung
diantara jenis pekerjaan. Setiap orang akan saling bergantung dalam emenuhi
kebutuhan hidup.
g. Kelembagaan
Factor lain yang berperan dalam mempersatukan bangsa berupa lembagalembaga pemerintahan dan politik. Lembaga-lembaga itu seperti birokrasi,
angkatan bersenjata, pengadilan, dan partai politik.
2. Identitas Cultural Unity atau Identitas kesukubangsaan
Cultural unity merujuk pada bangsa dalam pengertian kebudayaan atau
bangsa dalam arti sosiologis antropologis. Cultural unity disatukan leh adanya
kesamaan ras dalam hal ras, suku, agama, adat dan budaya, keturunan (darah)
dan daerah asal (homeland). Unsure-unsur ini menjadi identitas kelompok
bangsa yang bersangkutan sehingga bias dibadakan dengan bangsa lain.
3. Identitas Political Unity dan identitas kebangsaan
Political unity merujuk pada bangsa dalam pengertian politk yaitu bangsanegara. Kesamaan primordial dapat saja menciptakan bangsa tersebut untuk
bernegara. Negara yang terbentuk berasal dari satu bangsa dengan identitas
primordial yang sama.

1.

2.

3.

4.

5.

6.

7.

B. HAKIKAT NEGARA
1. Arti Negara
Menurut Kamus Besar Indonesia, Negara mempunyai dua pengertian berikut.
Pertama, Negara adalah organisasi disuatu wilayah yang mempunyai kekuasaan
tertinggi yang sah dan ditaati rakyatnya. Kedua, Negara adalah kelompok social
yang menduduki wilayah atau daerah tertentu yang diorganisasi dibawah
lembaga politik dan pemerintah yang efaktif, mempunyai satu kesatuan politik,
berdaulat sehingga berhak menentukan tujuan nasionalnya.
Pengertian Negara dari pendapat para ahli, antara lain sebagai berikut.
Georg Jellinek
Negara ialah organisasi kekuasaan deri sekelompok menusia yang telah
berkediaman diwilayah tertentu.
Kranenburg
Negara adalah organisasi yang timbul karena kehendak dari suatu golongan atau
bangsanya sendiri.
Roger F. Soultau
Negara adalah alat (agency) atau wewenang (authority) yang mengatur atau
mengendalikan persoalan bersama atas nama masyarakat.
Soenarko
Negara adalah organisasi kekuasaan masyarakat yang mempunyai daerah
tertentu dimana kekuasaan Negara berlaku sepenuhnya sebagai sovereign.
Georg Wilhelm Fredrich Hegel
Negara merupakan organisasi kesusilaan yang muncul sebagai sitesis dari
kemerdekaan individual dan kemerdekaan universal.
R. Djokosoetono
Negara ialah suatu organisasi masyarakat atau kumpulan manusia yang berada
dibawah suatu pemerintahan yang sama.
Jean Bondin
8

Negara adalah suatu persekutuan keluarga dengan segala kepentingannya yang


dipimpin oleh akal deri suatu kuasa yang berdaulat.
8. Mirriam Budiarja
Negara adalah suatu daerah territorial yang rakyatnya diperintah oleh sejumlah
pejabat dan yang berhasil menuntut dari warganya ketaatan pada perundangan
melalui penguasaan control dari kekuasaan yang sah.
2. Unsur-Unsur Negara
Dapat disimpulkan bahwa Negara adalah organisasi yang didalamnya harus
ada rakyat, wilayah yang premanen dan pemerintah yang berdaulat (baik
kedalam maupun keluar). Unsur-unsur Negara meliputi:
a. Rakyat
Yaitu orang-orang yang bertempat tinggal diwilayah itu, tunduk pada
kekuasaan Negara dan mendukung Negara yang bersangkutan.
b. Wilayah
Yaitu daerah yang menjadi kekuasaan Negara serta menjadi tempat tinggal
bagi rakyat Negara.
c. Pemerintah yang berdaulat
Yaitu penyelenggara Negara yang memiliki kekuasaan menyelenggarakan
pemerintah di negara tersebut.
Unsur deklaratif adalah unsur yang sifatnya menyatakan, bukan unsure yang
mutlak.
Sebagai organisasi kekuasaan, Negara memiliki sifat memaksa,monopoli
dan mencakup semua.
a. Memaksa, artinya memiliki kekuasaan untuk menyelenggarakan ketertiban
dengan memakai kekerasan fisik secara legal.
b. Monopoli, artinya memiliki hak menetapkan tujuan bersama masyarakat.
c. Mencakup semua, atinya semua peraturan dan kebijakan Negara berlaku
untuk semua orang tanpa terkecuali.
3. Teori terjadinya negara
a. Proses tarjadinya Negara secara teoritis
secara teoritis yang dimaksud adalah , para ahli politik dan hokum tata
Negara berusaha membuat teoretisasi tentang terjadinya Negara.
Beberapa teori terjadinya Negara adalah sebagai berikut.
1) Teori Hukum Alam
Menurut teori hukum alam, terjadinya Negara adalah sesuatu yang ilmiah.
Bahwa segala sesuatu itu berjalan menurut hukum alam, yaitu mulai dari
lahir, berkembang, mencapai puncaknya, layu, dan akhirnya mati.
2) Teori Ketuhanan
Menurut teori ketuhanan, terjadinya Negara adalah karena kehendak tuhan,
didasari kepercayaan bahwa segala sesuatu berasal dari tuhan dan terjadi
atas kehendak tuhan.
3) Teori Perjanjian]
Menurut teori perjanjian, Negara terjadi sebagai hasil perjanjian antar
manusia/individu. Manusia berada dalam dua keadaan, yaitu keadaan
sebelum bernegara dan keadaan setelah bernegara.
Pendapat lain dikemukakan oleh G. Jellienk, yaitu terjadinya Negara dapat
dilihat secara primer dan sekunder. Menurut jellienk, terjadinya Negara secara
primer melalui empat tahapan,yaitu
a. Persekutuan masyarakat,
b. Kerajaan,
9

c. Negara, dan
d. Negara demokrasi.
Perkembangan Negara secara sekunder membicarakan tentang bagaimana
terbentuknya Negara beru yang dihubungkan dengan masalah pengakuan.
b. Proses Terjadinya Negara di Zaman Modern
Negara-negara di dunia ini terbentuk karena melalui beberapa proses, seperti:
a. Penaklukan atau occupatie,
b. Pelaburan atau fusi,
c. Pemecahan,
d. Pemisahan diri,
e. Perjuangan atau revolusi,
f. Penyerahan/pemberian, dan
g. Pendudukan atas wilayah yang belum ada pemerintahan sebelumnya.
4. Fungsi dan Tujuan Negara
Fungsi Negara merupakan gambaran apa yang dilakukan Negara untuk
mencapai tujuannya.
Di bawah ini adalah fungsi Negara menurut beberapa ahli,antara lain sebagai
berikut.
a. John Locke
Seorang sarjana Inggris membagi fungsi Negara menjadi tiga fungsi, yatu
1) Fungsi legislative, untuk membuat peraturan;
2) Fungsi eksekutif, untuk melaksanakan peraturan;
3) Fungsi federative, untuk mengurusi urusan luar negeri dan urusan
perang damai.
b. Montesquieu
Tiga fungsi Negara menurut Montesquieu adalah
1) Fungsi legislative, membuat undang-undang;
2) Fungsi eksekutif, melaksanakan undang-undang;
3) Fungsi yudikatif, untuk mengawasi agar semua peraturan ditaati (fungsi
mengadili), yang popular dengan nama Trias Politika.
c. Van Vollen Hoven
Seorang sarjana dar negeri Belanda, menurutnya fungsi Negara dibagi
dalam:
1) Regeling, membuat peraturan;
2) Bestuur, menyelenggarakan pemerintahan;
3) Rechtspraak, fungsi mengadili;
4) Politie, fungsi ketertiban dan keamanan;
Ajaran Van Vollen Hoven tersebut terkenal dengan catur praja.
d. Goodnow
Menurut goodnow, fungsi Negara secara prinsipil dibagi menjadi dua
bagian:
1. Policy making, yaitu kebijaksanaan Negara untuk waktu tertentu, untuk
selurah mayarakat.
2. Policy eksekuting, yaitu kebijaksanaan yang harus dilaksanakan untuk
tercapainya policy making.
C. BANGSA DAN NEGARA INDONESIA
1. Hakikat Negara Indonesia
Menurut Ir. Soekarno, yang dimaksud dengan bangsa Indonesia adalah seliruh
manusia yang menurut wilayahnya telah di tentukan untuk tinggal secara
bersama di wilayah nusantara dari ujung barat (sabang) sampai ujung timur
10

(merauke) yang memiliki Le desir detre ensemble (pendapat Ernest Renan)


dan Charaktergemeinschaft (pendapat Otto Van Bauer) yang telah menjadi
satu.
Factor-faktor penting bagi pembentukan bangsa Indonesia, sebagai berikut.
1) Adanya persamaan nasib,
2) Adanya keinginan bersama untuk merdeka,
3) Adanya kesatuan tempat tinggal,
4) Adanya cita-cita bersama untuk mencapai kemakmuran dan keadilan sebagai
suatu bangsa.
Hakikat Negara kesatuan Republik Indonesia adalah Negara kebangsaan
modern. Negara kebangsaan modern adalah Negara yang pembentukannya
didasarkan pada semangat kebangsaan atau nasionalisme- yaitu pada tekad
suatu masyarakat untuk membangun masa depan bersama dibawah satu Negara
yang sama walaupun warga masyarakat tersebut nerneda-neda agama, ras, etnik,
dan golongannya.
2. Proses Terjadinya Negara Indonesia
Secara teoritis, perkembangan Negara Indonesia terjadi sebagai berikut.
a. Terjadinya Negara tidak sekedar di mulai dari proklamasi, tetapi adanya
pengakuan akan hak setiap bangsa untuk memerdekakan dirinya.
b. Adanya perjuangan bangsa Indonesia melawan penjajahan.
c. Terjadinya Negara Indonesia adalah kehendak bersama seluruh bangsa
Indonesia, sebagai suatu keinginan luhur bersama.
d. Negara Indonesia perlu menyusun alat-alat kelengkapan Negara yang
meliputi tujuan Negara, bentuk Negara, system pemerintahan Negara , UUD
Negara, dan dasar Negara.
3. Cita-Cita,Tujuan, dan Visi Negara Indonesia
Bangsa Indonesia bercita-cita mewujudkan Negara yang bersatu, berdaulat,
adil, dan makmur.
Tujuan Negara Indonesia selanjutnya terjabar dalam Alinea IV Pembukaan
UUd 1945. Secara rinci sebagai berikut:
a. Melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia;
b. Memajukan kesejahtaraan umum;
c. Mencerdaskan kehidupan bangsa;
d. Ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan,
perdamaian abadi, dan keadilan social.
Adapun visi bangsa Indonesia adalah terwujudnya masyarakat Indonesia
yang damai, demokratis, berkeadilan, berdaya saing, maju dan sejahtera, dalam
wadah Negara Kesatuan Republik Indonesia yang didukung oleh manusia
Indoneisa yang sehat, mendiri, beriman, bertakwa, berakhlak mulia, cinta tanah
air, berkesadaran hokum dan lingkungan, menguasai ilmu pengetahuan dan
teknologi, memiliki etos kerja yang tinggi serta berdisiplin (Tap MPR No.
VII/MPR/2001)
D. IDENTITAS NASIONAL INDONESIA
Identitas nasional Indonesia menunjuk pada identitas-identitas yang sifatnya
nasional.
Beberapa bentuk identitas Indonesia, adalah sebagai berikut.
1. Bahasa nasional atau bahasa persatuan yaitu bahasa Indonesia
2. Bendera Negara yaitu Sang Merah Putih
3. Lagu Kebangsaan yaitu Indonesia Raya
4. Lambang Negara yaitu Garuda Pancasila
11

5. Semboyan negara yaitu Bhineka Tunggal Ika


6. Dasar falsafah Negara yaitu Pancasila
7. Konstitusi (Hukum Dasar) Negara yaitu UUD 1945
8. Bentuk Negara Kesatuan Republik Indonesia yang berkedaulatan rakyat
9. Konsepsi Wawasan Nusantara
10. Kebudayaan daerah yang telah diterima sebagai kebudayaan nasional

12

BAB 3
HAK DAN KEWAJIBAN WARGA NEGARA
Warga Negara adalah bagian dari penduduk suatu Negara. Warga Negara
memiliki hubungan dengan negaranya. Kedudukannya sebagai Negara menciptakan
hubungan berupa peranan, hak, dan kewajiban yang bersifat timbal balik.
Pemahaman yang mengenai hubungan antara warga negar dengan Negara sangat
penting untuk mengembangkan hubungan yang harmonis, konstruktif, produktif, dan
demokratis. Pada akhirnya pola hubungan yang baik antara warga Negara dengan
Negara dapat mendukung kelangsungan hidup bernegara.
Lebih jauh mengenal hal tersebut, bahasan dalam bab ini meliputi:
1. Pengertian Warga Negara dan Kewarganegaraan;
2. Kedudukan Warga Negara dalam Negara;
3. Hak dan Kewajiban Warga Negara Indonesia.
A. PENGERTIAN WARGA NEGARA DAN KEWARGANEGARAAN
1. Warga Negara
Warga mengandung arti peserta, anggota atau warga dari suatu organisasi
perkumpulan. Warga negara artinya warga atatu anggota dari suatu negara.
Jadi, warga negara secara sederhana diartikan sebagai anggota dari suatu negara.
Istilah warga negara merupakan terjemahan kata citizen (bahasa inggris) yang
mempunyai arti sebagai berikut:
1. warga negara ;
2. petunjuk dari sebuah kota ;
3. sesama warga negara, sesama penduduk, orang setanah air ;
4. bawahan atau kawula.
Menurut As Hikam dalam Ghazali (2004), warga Negara sebagai terjemahan dari
citizen artinya adalah anggota dari suatu komunitas yang membentuk Negara itu
sendiri.
Dengan memiliki status sebagai warga Negara, orang memiliki hubungan dengan
Negara. Hubungan itu nantinya tercermin dalam hak dalam hak dan kewajiban. Seperti
halnya kita sebagai anggota sebuah organisasi, maka hubungan itu berwujud peranan,
hak dan kewajiban secara timbal balik. Angggota memiliki hak dan kewajiban kepada
organisasi, demikian pula organisasi memiliki hak dan kewajiban terhadap anggotanya.
Penduduk adalah orang-orang yang bertempat tinggal disuatu wilayah Negara
dalam kurun waktu tertentu.
2. Kewarganegaraan
Istilah kewarganegaraan (citizenship) memiliki arti keanggotaan yang
menunjukkan hubungan atau ikatan antara Negara dengan warga Negara. Menurut
memori penjelasan dari pasal II Peraturan Penutup Undang-Undang No. 62 Tahun 1958
tentang Kewarganegaraan Republik Indonesia, kewarganegaraan diartikan segala jenis
13

hubungan dengan suatu Negara yang mengakibatkan adanya kewajiban Negara itu
untuk melindungi orang yang bersangkutan. Adapun menurut Undang-Undang
Kewarganegaraan Republik Indonesia, kewarganegaraan adalah segala hal ihwal yang
berhubungan dengan Negara.
Pengertian kewarganegaraan dibedakan menjadi dua, yaitu sebagai berikut.
a. Kewarganegaraan dalam Arti Yuridis dan Sosiologis.
1. Kewarganegaraan dalam arti yuridis ditandai dengan adanya ikatan hukum
antara orang-orang dengan Negara.adanya ikatan hukum itu menimbulkan
akibat-akibat hukum tertentu, yaitu orang tersebut berada dibawah kekuasaan
Negara yang bersangkutan. Tanda dari adanya ikatan hukum, misalnya akta
kelahiran, surat pernyataan, bukti kewarganegaraan dan lain-lain.
2. Kewarganegaraan dalam arti sosiologis, tidak ditandai dengan ikatan hukum,
tetapi ikatan emosional, seperti ikatan perasaan, ikatan keturunan, ikatan nasib,
ikatan sejarah, dan ikatan tanah air. Dengan kata lain, ikatan lahir ini lahir dari
penghayatan warga Negara yang bersangkutan.
Jadi dari sisi kewarganegaraan sosiologis ada hal yang belum terpenuhi yaitu
persyaratan yuridis yang merupakan ikatan formal orang tersebut dengan negara. Disisi
lain, terdapat orang yang memiliki kewarganegaraan dalam arti yuridis, namun tidak
memiliki kewarganegaraan dalam sosiologis. Ia memiliki tanda ikatan hukum dengan
negara, tetapi ikatan emosional dan penghayatan hidupnya sebagai warga negara tidak
ada. Jadi, ada kalanya terdapat seorang warga negara hanya secara yuridis saja sebagai
warga negara, sedangkan secara sosiologis belum memenuhi. Adalah sangat ideal
apabila seorang warga negara memiliki persyaratan yuridis dan sosiologis sebagai
anggota dari negara.
b. Kewarganegaan dalam Arti Formil dan Materiil.
1. Kewarganegaraan dalam arti formil menunjuk pada tempat kewarganegaraan.
Dalam sistematika hukum, maslah kewarganegaraan berada pada hukum public.
2. Kewarganegaraan dalam arti materiil menunjuk pada akibat hukum dari dari
status kewarganegaraan, yaitu adanya hak dan kewajiban warga Negara.
Kewarganegaraan seseorang mengakibatkan orang tersebut memiliki pertalian
hukum serta tunduk pada hukum Negara yang bersangkutan. Orang yang sudah
memiliki kewarganegaraan tidak jatuh pada kekuasaan atau kewenangan Negara lain.
Negara lain tidak berhak memperlakukan kaidah-kaidah hukum yang bukan warga
negaranya.
B. KEDUDUKAN WARGA NEGARA DALAM NEGARA
Hubungan antara warga Negara dengan Negara terwujud dalam bentuk hak dan
kewajiban antara keduanya. Warga Negara memiliki hak dan kewajiban terhadap
Negara. Sebaliknya, Negara memiliki hak dan kewajiban terhadap warganya. Dengan
istilah sebagai warga Negara, ia memiliki hubungan timbal balik yang sederajat dengan
negaranya.
1. Penentu Warga Negara
Dalam penentuan kewarganegaraan didasarkan pada sisi kelahiran dikenal dua asas
yaitu asas ius soli dan asas ius sanguinis. Ius artinya hukum atau dalil. Soli berasal
dari kata solum yang artinya negeri atau tanah. Sanguinis berasal dari kata sanguis
yang artinya darah.

14

a. Asas ius sol yaitu asas yang menyatakan bahwa kewarganegaraan seseorang
ditentukan dari tentukan dari tempat dimana orang tersebut dilahirkan.
b. Asas ius sanguinis yaitu asas yang menyatakan bahwa kewarganegaraan
seseorang ditentukan berdasarkan keturunan dari orang tersebut.
Selain dari sisi kelahiran, penentuan kewarganegaraan dapat didasarkan pada aspek
perkawinan yang mencakup asas kesatuan hukum dan atas asas persamaan derajat.
a. Asas persamaan hukum didasarkan pandangan bahwa suami istri adalah suatu
ikatan yang tidak terpecah sebagai inti dari masyarakat.
b. Asas persamaan derajat berasumsi bahwa suatu perkawinan tidak menyebabkan
perubahan status kewarganegaraan suami atau istri.
Negara memiliki wewenang untuk menentukan warga Negara sesuai asas yang
dianut Negara tersebut. Dengan adanya kedaulatan ini, pada dasarnya suatu
Negara tidak terikat oleh Negara lain dalam menentukan kewarganegaraan.
Negara lain juga tidak boleh menentukan siapa saja yang menjadi warga Negara
dari suatu Negara.
Secara ringkas problem kewarganegaraan adalah munculnya apatride dan
bipatride. Apatride adalah istilah untuk orang-orang yang memiliki
kewarganegaraan rangkap (dua). Bahkan, dapat muncul multipatride yaitu
istilah untuk orang-orang yang memiliki kewarganegaraan banyak (lebih dari
dua).
2. Warga Negara Indonesia
Negara Indonesia telah menentukan siapa-siapa yang menjadi warga
Negara. Ketentuan tersebut tercantum dalam pasal 26 UUD 1945 sebagai
berikut:
1) Yang menjadi warga Negara adalah orang-orang bangsa Indonesia asli dan
orang-orang bangsa lain yang disahkan dengan undang-undang sebagai
warga Negara.
2) Pneududuk ialah warga Negara Indonesia dan orang asing ynag bertempat
tinggal di Indonesia.
3) Hal-hal mengenai warga Negara dan penduduk diatur dengan undangundang.
Berdasarkan hal diatas, kita mengetahui bahwa orang yang dapat menjadi
warga Negara Indonesia adalah
a. Orang-orang bangsa Indonesia asli;
b. Orang-orang bangsa lain yang disahkan dengan undang-undang menjadi
warga Negara.
Berdasarkan pasal 26 ayat (2) UUD 1945, penduduk warga Negara
Indonesia terdiri atas dua yaitu warga Negara dan orang asing. Ketentuan ini
merupakan hal baru dan sebagai hasil amandemen atas UUD 1945. sebelumnya,
penduduk Indonesia berdasarkan indische staatregeling 1927 pasal 163, dibagi
3, yaitu
a. Golongan eropa, terdiri atas
1) Bangsa Belanda
2) Bukan bangsa Belanda
3) Orang bangsa lain yang hukum keluarganya sama dengan golongan
Eropa.
15

b. Golongan Timur Asing, terdiri atas


1) Golongan Tionghoa
2) Golongan Timur Asing bukan Cina
c. Golongan Bumiputra atau Pribumi, taerbagi atas
1) Orang indonesia asli dan keturunannya
2) Orang lain yang menyesuaikan diri dengan pertama
Dengan adanya ketentuan baru mengenai penduduk indonesia, diharapkan
tidak ada lagi pembedaan dan penamaan penduduk Indonesia atas golongan
pribumi dan keturunan yang dapat memicu konflik antarpenduduk indonesia.
Orang-orang bangsa lain adalah orang-orang peranakan seperti peranakan
Belanda, Tionghoa, dan Arab yang bertempat tinggal di Indonesia, yang mengakui
Indonesia sebagai tumpah darahnya dan bersikap setia kepada Negara REpublik
Indonesia. Orang-orang ini dapat menjadi warga negara indonesia dengan cara
naturalisasi atau pewarganegaraan. Cara memperoleh kewarganegaraan indonesia
diatur dengan undang-undang. Adapun undang-undang yang mengatur tentang warga
Negara adalah undang-undang Nomor 12 Tahun 2006 tentang kewarganegaraan
Republik Indonesia.
3. Ketentuan Undang-Undang Mengenai Warga Negara Indonesia
Perihal warga Negara Indonesia diatur dengan undang-undang. Sejak
proklamasi kemerdekaan Indonesia sampai saat ini, undang-undang yang mengatur
perihal kewarganegaraan adalah sebagai berikut:
a. Undang-Undang No. 3 Tahun 1946 tentang warga Negara dan penduduk Negara.
b. Undang-Undang No. 6 Tahun 1947 tentang perubahan atas undang-undang No. 3
Tahun 1946 tentang warga Negara dan penduduk Negara.
c. Undang-undang No. 8 Tahun 1947 tentang memperpanjang waktu untuk
mengajukan pertanyaan berhubung dengan kewargaan Negara Indonesia.
d. Undang-undang No. 11 Tahun 1948 tentang memperpanjang waktu lagi untuk
mengajukan pernyataan berhubung dengan kewargaan Negara Indonesia.
e. Undang-Undang No. 62 Tahun 1958 tantang kewarganegaraan Republik Indonesia.
f. Undang-Undang No. 3 Tahun 1976 tentang perubahan atas Pasal 18 UndangUndang No. 62 Tahun 1958 tentang kewarganegaraan Republik Indonesia.
g. Undang-Undang No. 12 Tahun 2006 tentang kewarganegaraan Republik Indonesia.
Undang-undang yang mengatur tentang kewarganegaraan Indonesia atau
undang-undang-undang sebagai pelaksanaan dari pasal 26 UUD 1945 yang berlaku
sekarang ini adalah Undang-Undang No. 12 Tahun 2006 tentang kewarganegaraan
Republik Indonesia yang diundangkan pada 1 Agustus 2006. undang-undang ini
menggantikan undang-undang kewarganegaraan lama, yaitu undang-undang No. 62
Tahun 1958 tentang kewarganegaraan Republik Indonesia.
Pokok materi yang diatur dalam undang-undang ini adalah
a.
b.
c.
d.
e.

Siapa yang menjadi warga Negara Indonesia;


Syarat dan tata cara memperoleh kewarganegaraan Republik Indonesia;
Kehilangan kewarganegaraaan Republik Indonesia;
Syarat dan tata cara memperoleh kembali kewarganegaraan Republik Indonesia;
Ketentuan pidana.
Beberapa ketentuan yang diatur dalam Undang-Undang No. 12 Tahun 2006
antara lain sebagai berikut
16

a. Tentang siapa yang menjadi warga negara Indonesia, dinyatakan bahwa warga
Negara Indonesia adalah
1. setiap orang yang berdasarkan peraturan perundang-undangan dan/atau
berdasarkan perjanjian Pemerintah Republik Indonesia dengan Negara lain
sebelum undang-undang ini berlaku sudah menjadi warga Negara Indonesia;
2. anak yang lahir dari perkawinan yang sah dari seorang ayah dan ibu warga
Negara Indonesia;
3. anak yang lahir dari perkawinan yang sah dari seorang ayah warga Negara
Indonesia dan ibu warga Negara asing;
4. anak yang lahir dari perkawinan yang sah dari seorang ayah warga Negara asing
dan ibu warga Negara Indonesia;
5. anak yang lahir dari luar perkawinan yang sah dari seorang ibu warga Negara
Indonesia; tetapi ayahnya tidak mempunyai kewarganegaraan atau hukum
Negara asal ayahnya tidak memberikan kewarganegaraan kepada anak tersebut;
6. anak yang lahir dalam tenggang waktu 300 (tiga ratus) hari setelah ayahnya
meninggal dunia dari perkawinan yang sah dan ayahnya warga Negara
Indonesia;
7. anak yang lahir di luar perkawinan yang sah dari seorang ibu warga Negara
Indonesia;
8. anak yang lahir diluar perkawinan yang sah dari seorang ibu warga negara asing
yang diakui oleh seorang ayah warga negara Indonesia sebagai anaknya dan
pengakuan itu dilakukan sebelum anak tersebut berusia 18 (delapan belas) tahun
dan/atau belum kawin;
9. anak yang lahir diwilayah negara Republik Indonesia yang pada waktu lahir
tidak jelas status kewarganegaraan ayah dan ibunya;
10. anak yang baru lahir yang ditemukan diwilayah Republik Indonesia selama
ayah dan ibunya tidak diketahui;
11. anak yang lahir diwilayah negara Republik Indonesia apabila ayah dan ibunya
tidak mempunyai kewarganegaraan atau tidak diketahui keberadaanya;
12. anak yang lahir diluar wilayah negara republic Indonesia dari seorang ayah dan
ibu warga negara Indonesia yang karena ketentuan dari negara tempat anak
tersebut dilahirkan memberikan kewarganegaraan kepada anak yang
bersangkutan;
13. anak dari seorang ayah atau ibu yang telah dikabulkan permohonan
kewarganegaraan, kemudian ayah atau ibunya meninggal dunia sebelum
mengucapkan sumpah atau menyatakan janji setia;
14. anak warga negara Indonesia yang lahir diluar perkawinan yang sah, belum
berusia 18(delapan belas) tahun atau belum kawin diakui secara sah oleh
ayahnya yang berkewarganegaraan agar tetap diakui sebagai warga negara
Indonesia;
15. anak warga negara Indonesia yang belum berusia 5 (lima) tahun diangkat secara
sah sebagai anak oleh warga negara asing berdasarkan penetapan pengadilan
tetap diakui sebagai warga negara Indonesia.
b. Tentang pewarganegaraan
Pewarganegaraan adalah tata cara bagi orang asing untuk memperoleh
kewarganegaraan republic Indonesia melalui permohonan. Dalam undangundang juga dinyatakan bahwa kewarganegaraan republic Indonesia dapat juga
diperoleh melalui pewarganegaraan.
Permohonan pewarganegaraan dapat diajukan oleh pemohon jika memnuhi
persyaratan sebagai berikut.
17

1) Telah berusia 18 (delapan belas) tahun atau sudah kawin;


2) Pada waktu mengajukan permohonan sudah bertempat tinggal diwilayah negara
republic Indonesia paling singkat 5 (lima) tahun berturut-turut atau paling
singkat 10 (sepuluh) tahun tidak berturut-turut;
3) Sehat jasmani dan rohani;
4) Dapat berbahasa Indonesia serta mengakui dasar negara pancasila dan undangundang dasar negara republic Indonesia Tahun 1945;
5) Tidak pernah diajtuhi pidana karena melakukan tindak pidana yang diancam
dengan pidana penjara 1 tahun atau lebih;
6) Jika dengan memperoleh kewarganegaraan republic Indonesia, tidak menjadi
kewarganegaraan ganda;
7) Mempunyai pekerjaan dan/atau berpenghasilan tetap; dan
8) Membayar uang pewarganegaraan ke kas negara.
Permohonan pewargaan diajukan di Indonesia oleh pemohon secara tertulis dalam
bahasa Indonesia diatas kertas bermeterai cukup kepada Presiden melalui Menteri.
Menteri yang dimaksud adalah menteri yang lingkup tugas dan tanggung jawabnya di
bidang kewarganegaraan republic Indonesia dalam hal ini Menteri Hukum dan HAM.
Menteri meneruskan permohonan sebagaimana dimaksud disertai dengan pertimbangan
kepada Presiden dalam waktu paling lambat 3 bulan terhitung sejak permohonan
diterima. Selanjutnya Presiden berwenang mengabulkan atau menolak permohonan
pewarganegaraan. Pengabulan permohonan pewarganegaraan sebagaimana dimaksud
ditetapkan dengan Keputusan Presiden (Keppres).
Warga negara asing yang kawin secara sah dengan warga negara Indonesia dapat
memperoleh kewarganegaraan republic Indonesia dengan menyampaikan pernyataan
menjadi warga negara di hadapan pejabat berwenang.
Pernyataan sebagaimana dimaksud dilakukan apabila yang bersangkutan sudah
bertempat tinggal diwilayah negara republic Indonesia paling singkat 5 tahun berturutturut atau paling singkat 10 tahun tidak berturut-turut, kecuali dengan perolehan
kewarganegaraan tersebut mengakibatkan berkewarganegaraan ganda.
Orang asing yang telah berjasa kepada negara republic Indonesia atau dengan alasan
kepentingan negara dapat pula diberi kewarganegaraan republic Indonesia oleh
Presiden setelah memperoleh pertimbangan Dewan Perwakilan Rakyat Republik
Indonesia, kecuali dengan pemberian kewarganegaraan tersebut mengakibatkan yang
bersangkutan berkewarganegaraan ganda.
c. Tentang kehilangan kewarganegaraan, dinyatakan bahwa kewarganegaraan
Republik Indonesia hilang karena:
1) Memperoleh kewarganegaraan lain atas kemauannya sendiri;
2) Tidak menolak atau melepaskan kewarganegaraan lain, sedangkan orang yang
bersangkutan mendapat kesempatan untuk itu;
3) Dinyatakan hilang kewarganegaraannya oleh Presiden atas permohonannya
sendiri, yang bersangkutan sudah berusia 18 tahun atau sudah kawin, bertempat
tinggal diluar negeri, dan dengan dinyatakan hilang kewarganegaraan Republik
Indonesia tidak menjadi tanpa kewarganegaraan;
4) Masuk dalam dinas tentara asing tanpa izin terlebih dahulu dari Presiden;
5) Secara sukarela masuk dalam dinas negara asing, yang jabatan dalam dinas
semacam itu di Indonesia sesuai dengan ketentuan peraturan perundangundangan hanya dapat dijabat oleh warga negara Indonesia;
18

6) Secara sukarela mengangkat sumpah atau menyatakan janji setia kepada negara
asing atau bagian dari negara asing tersebut;
7) Tidak diwajibkan tetapi turut serta dalam pemilihan sesuatu yang bersifat
ketatanegaraan untuk suatu negara asing;
8) Mempunyai paspor atau surat yang bersifat paspor dari negara asing atau surat
yang dapat diartikan sebagai tanda kewarganegaraan yang masih berlaku dari
negara lain atas namanya;
9) Bertempat tinggal diluar wilayah negara Republik Indonesia selama 5 tahun
terus-menerus bukan dalam rangka dinas negara, tanpa alasan yang sah dan
dengan sengaja tidakk menyatakan keinginannya untuk tetap menjadi Warga
Negara Indonesia sebelum jangka waktu 5 tahun itu berakhir, dan setiap 5 tahun
beikutnya yang bersangkutan tidak mengajukan pernyataan ingin tetap menjadi
Warga Negara Indonesia epada Perwakilan Republik Indonesia yang wilayah
kerjanya meliputi tempat tinggal yang bersangkutan padahal Perwakilan
Republik Indonesia tersebut telah memberitahukan secara tertulis kepada yang
bersangkutan, sepanjang yang bersangkutan tidak menjadi tanpa
kewarganegaraan;
10) Perempuan warga negara Indonesia yang kawin dengan laki-laki warga negara
asing kehilangan kewarganegaraan Republik Indonesia jika menurut hukum
negara asal suaminya, kewarganegaraan istri mengikuti kewarganegaraan suami
sebagai akibat perkawinan tersebut;
11) Laki-laki Warga Negara Indonesia yang kawin dengan perempuan warga negara
asing kehilangan kewarganegaraan Republik Indonesia jika menurut hukum
negara asal istrinya, kewarganegaraan suami mengikuti kewarganegaraan istri
sebagai akibat perkawinan tersebut. Atau jika ingin tetap menjadi warga negara
Indonesia dapat mengajukan surat pernyataan mengenai keinginannya kepada
Pejabat atau Perwakilan Republik Indonesia yang wilayahnya meliputi tempat
tinggal perempuan atau laki-laki tersebut, kecuali pengajuan tersebut
mengakibatkan kewarganegaraan ganda. Surat pernyataan dapat diajukan oleh
perempuan setlah 3 tahun sejak tanggal perkawinannya berlangsung;
12) Setiap orang memperoleh kewarganegaraan republic Indonesia berdasarkan
keterangan yang kemudian hari dinyatakan palsu atau terjadi kekeliruan
mengenai orangnya oleh instansi yang berwenang, dinyatakan batl
kewarganegaraannya. Menteri mengumumkan nama orang yang kehilangan
kewarganegaraan repblik Indonesia dalam berita negara republic Indonesia.
Asas-asas yang dipakai dalam Undang-Undang No. 12 Tahun 2006 tentang
Kewarganegaraan Republik Indonesia meliputi:
a. Asas ius sanginis, yaitu asas yang menentukan kewarganegaraan seseorang
berdasarkan keturunan bukan negara tempat kelahiran;
b. Asas ius soli secara terbatas, yaitu asas yang menentukan kewarganegaraan
berdasarkan negara tempat kelahiran, yang diperuntukkan terbatas bagi anak-anak
sesuai dengan ketentuan yang diatur dalam undang-undang;
c. Asas kewarganegaraan tunggal, yaitu asas yang menentukan satu
kewarganegaraan bagi setiap orang;
d. Asas kewarganegaraan ganda terbatas, yaitu asas yang menentukan
kewarganegaraan ganda bagi anak-anak sesuai dengan ketentuan yang diatur
dalam undang-undang ini.
Undang-Undang No. 12 Tahun 2006 pada dasarnya tidak mengenal adanya
kewarganegaraan ganda (bipatride) ataupun tanpa kewarganegaraan (apatride).
19

Kewarganegaraan
pengecualian.

ganda

yang

diberikan

pada

anak-anak

merupakan

suatu

C. HAK DAN KEWAJIBAN WARGA NEGARA INDONESIA


1. Wujud Hubungan Warga Negara dengan Negara
Wujud hubungan antara warga negara dengan negara pada umumnya berupa
peranan (role). Peranan pada dasarnya adalah tugas apa yang dilakukan sesuai dengan
status yang dimiliki, dalam hal ini sebagai warga negara. Secara teori, status warga
negara meliputi statuspasif, aktif, negatif, dan positif. Peranan warga negara juga
meliputi peranan yang pasif, aktif, negatif dan positif. (Cholisin. 2000)
Peranan pasif adalah kepatuhan warga negara terhadap peraturan perundangundangan serta ambil bagian dalam kehidupan bernegara, terutama dalam
mempengaruhi keputusan public. Peranan positif merupakan aktivitas warga negara
untuk meminta pelayanan dari negara untuk memenuhi kebutuhan hidup. Peranan
negatif merupakan aktivitas warga negara untuk menolak campur tangan negara dalam
persoalan pribadi.
Di Indonesia, hubungan antara warga negara dengan negara telah diatur dalam
UUD 1945. hubungan antara warga negara dengan negara Indonesia tersebut
digambarkan dengan baik dalam pengaturan mengenai hak dan kewajiban. Baik itu hak
dan kewajiban warga negara terhadap negara maupun hak dan kewajiban negara
terhadap warganya. Ketentuan selanjutnya mengenai hak dan kewajiban warga negara
di berbagai bidang terdapat dalam perturan perundang-undangan di bawah undangundang dasar.
2. Hak dan Kewajiban Warga Negara Indonesia
Hak dan kewajiban warga negara tercantum dalam Pasal 27 sampai dengan
Pasal 34 UUD 1945. Beberapa hak dan kewajiban tersebut antara lain sebagai berikut.
1) Hak atas pekerjaan dan penghidupan layak. Pasal 27 ayat (2) UUD 1945 berbunyi
tiap tiap warga negara berhak atas pekerjaan dan penghidupan yang layak
bagi kemanusiaan. Pasal ini menunjukkan asa keadilan social dan kerakyatan.
2) Hak membela negara. Pasal 27 ayat (2) UUD 1945 berbunyi: setiap warga negara
berhak dan wajib ikut serta dalam upaya pembelaan negara.
3) Hak berpendapat. Pasal 28 UUD 1945, yaitu kemerdekaan berserikat dan
berkumpul, mengeluarkan pikiran dengan lisan dan tulisan dan sebagainya
ditetapkan dengan undang-undang.
4) Hak kemerdekaan memeluk agama. Pasal 29 ayat (1) dan (2) UUD 1945. ayat (1)
berbunyi bahwa: negara berdasarkanatas Ketuhanan Yang Maha Esa.ini berarti
bahwa bangsa Indonesia percaya terhadap Tuhan Yang Maha Esa.
Ayat (2) berbunyi :negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk
memeluk agamanya masing-masingdanuntuk beribadat menurut agama dan
kepercayaannya itu.
5) Pasal 30 ayat (1) UUD 1945 yaitu hak dan kewajiban dalam membela negara.
Dinyatakan bahwa tiap-tiap warga negara berhak dan wajib ikut serta dalam usaha
pertahanan dan keamanan negara.
6) Pasal 31 ayat (1) dan (2) UUD 1945
20

Yaitu hak untuk mendapatkan pengajaran. Ayat (1) menerangkan bahwa tiaptiap warga negara berhak mendapatkan pengajaran. Adapun dalam ayat (2)
dijelaskan bahwa pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan satu
system pengajaran nasional yang diatur dengan UUD 1945.
7) Hak untuk mengembangkan dan memajukan kebudayaan nasional Indonesia. pasal
32 UUD 1945 ayat (1) menyatakan bahwa negara memajukan kebudayaan nasional
Indonesia ditangah peradaban dunia dengan menjamin kebebasan masyarakat
dalam memelihara dan mengembangkan nilai-nilai budayanya.
8) Hak ekonomi atau hak untuk mendapatkan kesejahteraan social. Pasal 33 ayat (1),
(2), (3), (4), dan 5 UUD 1945 berbunyi:
9) Perekonomian disusun sebagai usaha bersama berdasar atas asas
kekeluargaan.
10) Cabang-cabang yang penting bagi negara dan yang menguasai hajat hidup
orang banyak dikuasai oleh negara.
11) Bum, air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh
negara dan dipergunakan untuk sebesar-besarnya bagi kemakmuran rakyat.
12) Perekonomian nasional diselenggarakan berdasar atas demokrasi ekonomi
dengan prinsip kebersamaan, efisiensi berkeadilan, berkelanjutan,
berwawasan lingkungan, kemandirian, serta dengan menjaga keseimbangan
kemajuan dan kesatuan ekonomi nasional
13) Ketentuan lebih lanjut mengenai pelaksanaan pasal ini diatur dalam
undang-undang.
9) Hak mendapatkan jaminan keadilan social. Dalam pasal 34 UUD 1945 dijelaskan
bahwa fakir miskin dan anak-anak terlantar dipelihara oleh negara
Kewajiban warga negara terhadap negara Indonesia, antara lain:
a. Kewajiban menaati hukum dan pemerintahan. Pasal 27 ayat (1) UUD 1945
berbunyi : segala warga negara bersamaan kedudukannya di dalam hukum dan
pemerintahan dan wajib menjunjung hukum dan pemerintahan itu dengan tidak ada
kecualinya.
b. Kewajiban membela negara. pasal 27 ayat (3) UUD 1945 yang menyatakan setiap
warga negara berhak dan wajib ikut serta dalam upaya pembelaan negara.
c. Kewajiban dalma upaya pertahanan negara. pasal 30 ayat (1) UUD 1945
menyatakan : tiap-tiap warga negara berhak dan wajib ikut serta dalam usaha
pertahanan dan keamanan negara.
Selain itu ditentukan pula hak dan kewajiban yang dimiliki negara terhadap
warga negara. hak dan kewajiban negara terhadap warga negara pada dasarnya
merupakan kewajiban dan hak warga negara terhadap negara. beberapa ketentuan
tersebut, antara lain sebagai berikut.
a.
b.
c.
d.
e.
f.

Hak negara untuk ditaati hukum dan pemerintahan.


Hak negara untuk dibela.
Hak negara untuk menguasai bumi, air dan kekayaan untuk kepentingan rakyat.
Kewajiban negara untuk menjamin system hukum yang adil.
Kewajiban negara untuk menjamin hak asasi warga negara.
Kewajiban negara untuk mengembangkan system pendidikan nasional untuk
rakyat.
g. Kewajiban negara untuk jaminan nasional.
h. Kewajiban negara memberi kebebasan beribadah.
21

Secara garis besar, hak dan kewajiban warga negara yang tertuang dalam UUD
1945 mencakup berbagai bidang. Bidang-bidang ini antara lain: bidang politik dan
pemerintahan, social, keagamaan, pendidikan, ekonomi dan pertahanan.
Selain adanya hak dan kewajiban warga negara di dalam UUD 1945, tercantum
pula adanya hak asasi manusia. Hak asasi manusia perlu dibedakan dengan hak warga
negara. hak warga negara merupakan hak yang ditentukan dalam suatu konstitusi
negara. munculnya hak ini adalah karena adanya ketentuan undang-undang dan berlaku
bagi orang yang berstatus sebagai warga negara. bias terjadi hak dan kewajiban warga
negara Indonesia berbeda dengan hak warga negara Malaysia oleh karena ketentuan
undang-undang yang berbeda. Adapun hak asasi manusia umumnya merupakan hakhak yang sifatnya mendasar yang melekat dengan keberadaannya sebagai manusia. Hak
asasi manusia tidak diberikan oleh negara, tetapi justru memahami keberadaannya oleh
negara.
Ketentuan lebih lanjut mengenai berbagai hak dan kewajiban warga negara
dalam hubungannya dengan negara tertuang dalam berbagai peraturan perundangundangan sebagai penjabaran atas UUD 1945. misalkan dengan undang-undang.
Contoh.

Hak dan kewajiban warga negara dibidang pendidikan:


1. UU No. 20 Tahun 2003 tentang system pendidikan nasional;
2. UU No. 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen.
Hak dan kewajiban warga negara dibidang pertahanan:
1. UU No. 3 Tahun 2002 tentang pertahanan negara
2. UU No. 2 Tahun 2002 tentang Kepolisian negara RI
3. UU No. 34 tahun 2004 tentang Tentara Nasional Indonesia.
Hak dan kewajiban warga negara di bidang politik terdapat dalam:
1. UU no. 9 Tahun 1998 tentang kemerdekaan mengemukakan pendapat di
muka umum;
2. UU No. 40 tahun 1999 tentang pers;
3. UU No. 31 Tahun 2002 tentang partai Politik;
4. UU No. 12 Tahun 2003 tentang pemilihan anggota DPR, DPD, dan DPRD;
5. UU No. 23 Tahun 2003 tentang pemilihan presiden dan wakil presiden; dan
lain-lain.
Berikut ini contoh hak dan kewajiban warga negara maupun hak dan kewajiban
negara terhadap warganya dibidang pendidikan berdasarkan undang-undang No. 20
Tahun 2003 tentang system pendidikan nasional.

22

BAB 4
HAK DAN KEWAJIBAN WARGA NEGARA, ORANG TUA,
MASYARAKAT, DAN PEMERINTAH
Bagian Kesatu
Hak dan Kewajiban Warga Negara
Pasal 5
(1) Setiap warga negara mempunyai hak yang sama untuk memperoleh pendidikan
yang bermutu.
(2) Warga negara yang memiliki kelainan fisik, emosional, mental, intelektual,
dan/atau social berhak memperoleh pendidikan khusus.
(3) Warga negara di daerah terpencil atau terbelakang serta masyarakat adapt yang
terpencil berhak memperoleh pendidikan layanan khusus
(4) Warga negara yang memiliki potensi kecerdasan dan bakat istimewa berhak
memperoleh pendidikan khusus.
(5) Setiap warga negara berhak mendapat kesempatan meningkatkan pendidikan
sepanjang hayat.
Pasal 6
(1) Setiap warga negara yang berusia tujuh sampai dengan lima belas tahun wajib
mengikuti pendidikan dasar.
(2) Setiap warga negara bertanggung jawab terhadap keberlangsungan
penyelenggaraan pendidikan.
Bagian Kedua
Hak dan Kewajiban Orang Tua
Pasal 7
(1) Orang tua berhak berperan serta dalam memilih satuan pendidikan dan
memperoleh informasi tentang perkembangan pendidikan anaknya.
(2) Orang tua dari anak usia wajib belajar, berkewajiban memberikan pendidikan
dasar kepada anaknya.
Bagian Ketiga
Hak dan Kewajiban Masyarakat
Pasal 8
Masyarakat berhak berperan serta dalam perencanaan, pelaksanaan,
pengawasan, dan evaluasi program pendidikan.
Pasal 9

23

Masyarakat berkewajiban memberikan dukungan sumber daya dalam


penyelenggaraan pendidikan.
Bagian Keempat
Hak dan Kewajiban Pemerintah dan Pemerintah Daerah
Pasal 10
Pemerintah dan pemerintah daerah berhak mengarahkan, membimbing,
membantu dan mengawasi penyelenggaraan pendidikan sesuai dengan peraturan
perundang-undangan yang berlaku.
Pasal 11
(1) pemerintah dan pemerintah daerah wajib memberikan layanan dan kemudahan,
serta menjamin terselenggaranya pendidikan yang bermutu bagi setiap warga
negara tanpa diskriminasi.
(2) Pemerintah dan pemerintah daerah wajib menjamin tersedianya dana guna
terselenggaranya pendidikan bagi setiap warga negara yang berusia tujuh
samapai dengan lima belas tahun.

Peserts Didik
Pasal 12
(1) Setiap peserta didik pada setiap satuan pendidikan berhak:
a. mendapatkan pendidikan agama sesuai dengan agama yang dianutnya
dan diajarkan oleh pendidik yang seagama;
b. mendapatkan pelayanan pendidikan sesuai dengan bakat, minat dan
kemampuannya;
c. mendapatkan beasiswa bagi yang berprestasi yang orang tuanya tidak
mampu membiayai pendidikannya;
d. mendapatkan biaya pendidikan bagi mereka yang orang tuanya tidak
mampu membiayai pendidikannya;
e. pindah ke program pendidikan pada jalur dan satuan pendidikan lain
yang setara;
f. menyelesaikan program pendidikan sesuai dengna kecepatan belajar
masing-masing dan tidak menyimpang dari ketentuan batas waktu yang
ditetapkan.
(2) Setap peserta didik berkewajiban:
a. menjaga norma-norma pendidikan untuk menjamin keberlangsungan
proses dan keberhasilan pendidikan;
b. ikut menanggung biaya penyelenggaraan pendidikan, kecuali bagi
peserta didik yang dibebaskan dari kewajiban tersebut sesuai dengan
peraturan perundang-undangan yang berlaku.
(3) Warga negara asing dapat menjadi peserta didik pada satuan pendidikan yang
diselenggarakan dalam wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia.
(4) Ketentuan mengenai hak dan kewajiban peserta didik sebagaimana dimaksud
pada ayat (1), (2), dan ayat (3) diatur lebih lanjut dengna peraturan pemerintah.
24

BAB 5
NEGARA DAN KONSTITUSI
Secara umum negara dan konstitusi merupakan dua lembaga yang tidak dapat
dipisahkan satu sama lain.
A. KONSTITUSIONALISME
1. Gagasan tentang Konstitusionalisme
Pemerintah adalah satu unsur negara. Pemerintahlah yang menyelenggarakan
dan melaksanakan tugas-tugas demi terwujudnya tujuan bernegara.
Upaya mewujudkan pemerintahan yang menjamin hak dasar rakyat serta
kekuasaan yang terbatas itu dituangkan dalam suatu aturan bernegara yang
umumnya disebut konstitusi (hukum dasar atau undang-undang dasar negara).
Kekuasaan negara sedemikian rupa sehingga kekuasaan pemerintahan negara
efektif untuk kepentingan rakyat serta tercegah dari penyelahgunaan kekuasaan.
Konstitusi dianggap sebagai jaminan yang paling efektif bahwa kekuasaan
pemerintahan tidak akan disalahgunakan dan hak-hak warga negara tidak
dilanggar.
Gagasan bahwa kekuasaan negara harus dibatasi serta hak-hak dasar rakyat
dijamin dalam suatu konstitusi negara dinamakan konstitusionalisme. Carl J.
Friedrich berpendapat konstitusionalisme adalah gagasan bahwa pemerintah
merupakan suatu kumpulan aktivitas yang diselenggarakan atas nama rakyat,
tetapi yang tunduk pada beberapa pembatasan yang dimaksud untuk memberi
jaminan bahwa kekuasaan yang diperlukan untuk pemerintahan tidak
disalahgunakan oleh mereka yang mendapat tugas untuk memerintah.
Pembatasan yang dimaksud termaktub dalam konstitusi. (Taufiqurrohman
Syahuri,2004).
didalam gagasan konstitusionalisme, isi daripada konstitusi negara bercirikan
dua hal pokok, yaitu sebagai berikut.
a. konstitusi itu membatasi kekuasaan pemerintah atau penguasa agar tidak
bertindak sewenang-wenang terhadap warganya.
b. Konstitusi itu menjamin hak-hak dasar dan kebebasan warga negara.
2. negara konstitusional
konstitusionalisme merupakan gagasan bahwa konstitusi suatu negara harus
mampu memberi batasan kekuasaan pemerintahan serta memberi perlindungan
pada hak-hak dasar warga negara.
Negara konstitusional bukan sekedar konsep formal, tetapi juga memiliki makna
normative. Didalam gagasan konstitusionalisme, konstitusi tidak hanya
merupakan suatu dokumen yang menggambarkan pembagian dan tugas-tugas
kekuasaan tetapi juga menentukan dan membatasi kekuasaan gaar tidak
disalahgunakan. Sementara itu dilain pihak konstitusi juga berisi jaminan akan
hak-hak asasi dan hak dasar warga negara. Negara yang menganut gagasan
konstitusionalisme inilah yang disebut negara konstitusional.

25

Adnan Buyung Nasution (1995) menyatakan negara konstitusional adalah


negara yang mengakui dan menjamin hak-hak warga negara serta membatasi
dan mengatur kekuasaannya secara hukum.
B. KONSTITUSI NEGARA
1. pengertian konstitusi
konstitusi berasal dari istilah bahasa Prancis constituer yang artinya
membentuk. Pemakaian istilah konstitusi dimaksudkan untuk pembentukan
suatu negara atau menyusun dan menyatakan suatu negara. Konstitusi bisa
berarti pula peraturan dasar mengenai pembentukan negara. Istilah konstitusi
bisa dipersamakan dengan hukum dasar atau undang-undang dasar. Kata
konstitusi dalam kamus besar bahasa Indonesia diartikan sebagai berikut: (1)
segala ketentuan dan aturan mengenai ketatanegaraan; (2) undang-undang dasar
suatu negara.
Konstitusi juga dapat diartikan sebagai hukum dasar. Para pendiri negara koita
(the founding fathers) menggunakan istilah hukum dasar. Dalam penjelasan
UUD 1945 dikatakan : Undang-Undang Dasar suatu negara ialah hanya
sebagaian hukum dasar yan tertulis, sedang di samping Undang-Undang Dasar
tersebut berlaku juga hukum dasar yang tidak tertulis, yaitu aturan-aturan dasar
yang timbul dan terpelihara dalam praktik penyelenggaraan negara, meskipun
tidak tertulis. Hukum dasar tidak tertulis disebut konvensi.
Terdapat beberapa definisi konstitusi dari para ahli, yaitu
a. Herman Heller; membagi pengertian konstitusi menjadi tiga:
1) konstitusi dalam pengertian politik sosiologis. Konstitusi mencerminkan
kehidupan politik di dalam masyarakat sebagai suatu kenyataan.
2) Konstitusi merupakan satu kesatuan kaidah yang hidup dalam
masyarakat yang selanjutnya dijadikan suatu kesatuan kaidah hukum.
Konstitusi dalam hal ini sudah mengandung pengertian yuridis.
3) Kostitusi yang ditulis dalam suatu naskah sebagai undang-undang yang
tinggi yang berlaku dalam suatu negara.
b. K.C Wheare mengartikan konstitusi sebagai keseluruhan sistem
ketatanegaraan dari suatu negara, eberupa kumpulan peraturan yang
membentuk, mengatur atau memerintah dalam pemerintahan suatu
negara.
c. Prof. Prayudi Atmosudirdjo merumuskan konstitusi sebagai berikut.
1) konstitusi suatu negara adalah hasil atau produk sejarah dan
proses perjuangan bangsa yang bersangkutan.
2) Konstitusi suatu negara adalah rumusan dari filsafat, cita-cita,
kehendak, dan perjuangan bangsa Indonesia.
3) Konstitusi adalah cermin dari jiwa, jalan pikiran, mentalitas,
dan kebudayaan suatu bangsa.
Konstitusi dapat diartikan secara luas dan sempit, sebagai berikut.
a. konstitusi (hukum dasar) dalam arti luas meliputi hukum dasar tertulis dan
tidak tertulis.
b. Konstitusi (hukum dasar) dalam arti sempit adalah hukum dasar tertulis,
yaitu undang-undang dasar. Dalam pengertian ini undang-undang dasar
merupakan konstitusi atau hukum dasar yang tertulis.
26

Pada prinsipnya, tujuan konstitusi adalah untuk membatasi kewenangan


tindakan pemerintah, untuk menjamin hak-hak yang diperintah dan
merumuskan pelaksanaan kekuasaan yang berdaulat.
2. Kedudukan Konstitusi
konstitusi menjadi barometer kehidupan bernegara dan berbangsa yang sarat
dengan bukti sejarah perjuangan para pendahulu. Selain itu, konstitusi juga
merupakan ide-ide dasar yang digariskan oleh the founding fathers, serta
memberikan arahan kepada generasi penerus bangsa dalam mengemudikan
suatu negara yang mereka pimpin.
Konstitusi secara umum berisi hal-hal yang mendasar dari suatu negara. Hal-hal
mendasar itu adalah aturan-aturan norma-norma dasar yang dipakai sebagai
pedoman pokok bernegara.
Meskipun konstitusi yang ada didunia ini berbeda-beda baik dalam hal tujuan,
bentuk dan isinya, tetapi umumnya mereka mempunyai kedudukan formal yang
sama, yaitu sebagai (a) hukum dasar, dan (b) hukum tertinggi.
a. Konstitusi sebagai Hukum Dasar
Konstitusi berkedudukan sebagai hukum dasar karena ia berisi aturan dan
ketentuan tentang hal-hal yang mendasar dalam kehidupan suatu negara.
Secara khusus konstitusi memuat aturan-aturan tentang badan-badan
pemerintahan dan sekaligus memberikan kewenangan kepadanya.
Jadi, konstitusi menjadi (a) dasar adanya dan (b) sumber kekuasaan bagi
setiap lembaga negara. Oleh karena konstitusi juga mengatur kekuasaan
badan legislative (pembuat undang-undang), maka UUD juga merupakan (c)
dasar adanya dan sumber bagi isi aturan hukum yang ada di bawahnya.
b. Konstitusi sebagai hukum tertinggi
Konstitusi lazimnya juga diberi kedudukan sebagai hukum tertinggi dalam
tata hukum negara yang bersangkutan. Hal ini berarti bahwa aturan-aturan
yang terdapat dalam konstitusi, secara hierarkis mempunyai keudukan lebih
tinggi (superior) terhadap aturan-turan lainnya.
3. isi, tujuan dan fungsi konstitusi negara
konstitusi merupakan tonggak atau awal terbentuknya suatu negara. Konstitusi
menjadi dasar utama bagi penyelenggaraan bernegara. Karena itu konstitusi
menempati posisi penting dan strategis dalam kehidupan ketatanegaraan suatu
negara. Prof. Hamid S. Attamimi mengatakan bahwa konstitusi atau undangundang dasar merupakan pemberi pegangan dan pemberi batas, sekaligus
merupakan petunjuk bagaimana suatu negara harus dijalankan.
Hal-hal yang diatur dala, konstitusi negara umumnya berisi tentang pembagian
kekuasaan negara, hubungan antarlembaga negara, dan hubungan negara
dengan warga negara. Aturan-aturan itu masih bersifat umum dan secara garis
besar. Aturan-aturan itu selanjtnya dijabarkan lebih lanjut pada aturan
perundangan di bawahnya.
Menurut Mirriam Budiardjodalam bukunya dasar-dasar ilmu politik, konstitusi
atau undang-undang dasar memuat ketentuan-ketentuan sebagai berikut.
27

1. Organisasi negara, misalnya pembagian kekuasaan antara badan eksekutif,


legislative, dan yudikatif. Dalam negara federal, yaitu masalah pembagian
kekuasaan antara pemerintah federal dengan pemerintah negara bagian,
prosedur penyelesaian masalah pelanggaran yurisdiksi lembaga negara.
2. Hak-hak asasi manusia.
3. Prosedur mengubah undang-undang dasar.
4. Adakalanya memuat larangan untuk mengubah sifat-sifat tertentu dari
undang-undang dasar. Hal ini untuk menghindari terulangnya hal-hal yang
telah diatasi dan tidak dikehendaki lagi.
Apabila kita membaca pasal demi pasal dalam UUD 1945 maka kita dapat
mengetahui beberapa hal yang menjadi isi daripada konstitusi Republik
Indonesia ini. Hal-hal yang diatur dala UUD 1945 antara lain:
1. Hal-hal yang sifatnya umum, misalnya tentang kekuasaan dalam negara dan
identitas-identitas negara.
2. Hal yang menyangkut lembaga-lembaga negara, hubungan antarlembaga
negara, fungsi, tugas, hak dan kewenanannya.
3. Hal yang menyangkut hubungan antara negara dengan warga negara, yaitu
hak dan kewajiban negara terhadap warganya ataupun hak dan kewajiban
warga negara terhadap negara, termasuk juga hak asasi manusia.
4. Konsepsi atau citra negara dalam berbagai bidang, misalnya bidang
pendidikan, kesejahteraan, ekonomi, sosial dan pertahanan.
5. Hal mengenai perubahan undang-undang dasar.
6. Ketentuan-ketentuan peralihan atau ketentuan transisi
Sejalan dengan membatasi kekuasaan pemerintahan maka konstitusi secara
ringkas memiliki 3 tujuan, yaitu
a
b
c

Memberi pembatasan sekaligus pengawasan terhadap kekuasaan politik;


Melepaskan control kekuasaan dari penguasa itu sendiri;
Memberi batasan-batasan ketetapan bagi para penguasa dalam menjalankan
kekuasaannya (ICCE UIN, 2000).
Selain itu, konstitusi negara bertujuan menjamin pemenuhan hak-hak dasar
warga negara. Konstitusi negara memiliki fungsi-fungsi sebagai berikut (Jimly
Asshiddiqie, 2002)
a. Fungsi penentu atas pembatas kekuasaan negara.
b. Fungsi pengatur hubungan kekuasaan antaroragan negara.
c. Fungsi pengatur hubungan kekuasaan antara organ negara dengan warga
negara.
d. Fungsi pemberi atau sumber legitimasi terhadap kekuasaan negara ataupun
kegiatan penyelenggaraan kekuasaan negara.
e. Fungsi penyalur atau pengalih kewenangan dari sumber kekuasaan yang asli
(dalam demokrasi adalah kepada organ negara.
f. Fungsi simbolik yaitu sebagai sarana pemersatu (symbol of unity), sebagai
rujukan identitas dan keagungan kebangsaan (identity of nation) serta
sebagai center of ceremony.
g. Fungsi sebagai sarana pengendalianmasyarakat, baik dalam arti sempit yaitu
bidang politik dan dalam arti luas mencakup bidang sosial ekonomi.
h. Fungsi sebagai sarana perekayasaan dan pembaruan masyarakat.

28

C. UUD 1945 SEBAGAI KONSTITUSI NEGARA REPUBLIK INDONESIA


Konstitusi negara Indonesia adalah UUD 1945 yang untuk pertama kali disahkan
oleh Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) pada tanggal 18 Agustus
1945. dalam tata susunan peraturan perundangan, UUD 1945 menempati tingkat
tertinggi. Menurut
jenjang norma hukum, UUD 1945 adalah kelompok
staatsgrundgesetz atau aturan dasar/pokok negara yang berada di bawah Pancasila
sebagai Grundnorm atau norma dasar.
1. Konstitusi yang pernah berlaku di Indonesia
Dalam sejarahnya, sejak proklamasi 17 Agustus 1945 hingga sekarang di
Indonesia telah berlaku tiga macam undang-undang dasar dalam empat periode,
yaitu sebagai berikut.
a

b
c
d

Periode 18 Agustus 1945- 27 Desember 1949 berlaku UUD 1945. UUD


1945 terdiri dari bagian pembukaan, batang tubuh (16 bab), 37 pasal, 4 pasal
aturan peralihan, 2 ayat aturan tambahan, dan bagian penjelasan.
Periode 27 Desember 1949 17 Agustus 1950 berlaku UUD RIS. UUD RIS
terdiri atas 6 bab, 197 pasal, dan beberapa bagian.
Periode 17 Agustus 1950 5 Juli 1959 berlaku UUDS 1950 yang terdiri atas
6 bab, 146 pasal, dan bebrapa bagian.
Periode 5 Juli 1959 sekarang kembali berlaku UUD 1945.
Khusus untuk periode keempat berlaku UUD 1945 dengan pembagian
berikut:

a. UUD 1945 yang belum diamandemen;


b. UUD 1945 yang sudah diamandemen (tahun 1999, tahu 2000, tahun 2001,
dan tahun 2002).
Amandemen tersebut adalah:
1) Amandemen ke 1 pada siding umum MPR, disahkan 19 Oktober 1999;
2) Amandemen ke 2 pada siding tahunan MPR, disahkan 18 Agustus 2000;
3) Amandemen ke 3 pada siding tahunan MPR, disahkan 10 November 2001.
4) Amandemen ke 4 pada siding tahunan MPR, disahkan 10 Agustus 2002.
Undang-undang dasar negara republic Indonesia pertama kali ditetapkan oleh
PPKI (panitia persiapan kemerdekaan Indonesia) pada tanggal 18 Agustus 1945.
Undang-undang dasar yang ditetapkan oleh PPKI tersebut sebenarnya
merupakan hasil karya BPUPKI(badan penyelidik usaha persiapan
kemerdekaan Indonesia) melalui siding-sidangnya dari tanggal 29 Mei 1945
sampai 1 Juni 1945 dan tanggal 10 Juli sampai 16 Juli 1945. hasil karya
BPUPKI berupa rancangan pembukaan hukum
Sidang PPKI pertama berlangsung tanggal 18 Agustus 1945 yang menghasilkan 3
keputusan penting, yaitu sebagai berikut.
i. mengesahkan Rancangan Pembukaan Hukum Dasar Negara dan Hukum dasar
sebagai UUD negara kesatuan Republik Indonesia.
ii. memilih Ir. Soekarno dan Drs. Mohammad Hatta sebagai presiden dan wakil
presiden.
iii. Membentuk suatu Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP) untuk membantu
presiden.
Beberapa perubahan tersebut antara lain:
iv. istilah hukum dasar diganti menjadi undang-undang dasar;
29

v. kata mukadimah diganti menjadi pembukaan;


vi. "dalam suatu hukum dasar" diubah menjadi "dalam suatu undang-undang dasar"
vii. diadakannya ketentuan tentang perubahan undang-undang dasar yang
sebelumnya tidak ada;
viii. rumusan Ketuhanan dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi
pemeluk-pemeluknya diganti menjadi Katuhanan Yang Maha Esa.
Penetapan UUD 1945 sebagai konstittusi negara Indonesia oleh PPKI dilakukan
dua tahap, yaitu sebagai berikut.
a. pengesahan pembukaan Undang-Undang Dasar Negara Indonesia yang terdiri
dari 4 alinea.
b. Pengesahan Batang Tubuh Undang-Undang Dasar Negara Indonesia yang
terdiri atas 16 bab, 37 pasal, 4 pasal aturan peralihan, dan 2 ayat aturan
tambahan.
Jadi, pada waktu itu yang disahkan PPKI adalah UUD negara Indonesia yang terdiri
atas dua bagian yaitu bagianm pembukaan dan bagian batang tubuh atau pasalpasalnya.
Adapun bagian penjelasan dilampirkan kemudian dalam satu naskah yang dimuat
dalam Berita Republik Indonesia tahun II No. 7 tanggal 15 Februari 1946.
berdasarkan hal itu, maka naskah undang-undang dasar negara Indonesia yang
dimuat secara resmi dalam berita republic Indonesia tahun II No. 7 tanggal 15
Februari 1946, terdiri atas:
a. pembukaan,
b. batang tubuh, dan
c. penjelasan.
Konstitusi RIS atau UUD RIS 1945 terdiri atas:
a. Mukadimah yang terdiri atas 4 alinea.
b. Bagian batang tubuh yang terdiri atas 6 bab, 197 pasal dan lampiran.
Beberapa ketentuan pokok dalam UUD 1949 antara lain :
a. bentuk negara adalah serikat, sedang bentuk pemerintahan adalah republik.
b. System pemerintahan adalah parlementer. Dalam system pemerintahan ini,
kepala pemerintahan dijabat oleh seorang perdana menteri. Perdana menteri RIS
adalah Moh. Hatta.
Konstitusi yang berlaku sesudah UUD RIS adalah Undang-Undang Dasar
Sementara (UUDS) 1950. Undang-Undang Dasar Sementara (UUDS) 1950
dimaksudkan sebagai pengganti dari UUD RIS 1949 setelah Indonesia kembali ke
bentuk negara kesatuan. Perubahan UUD RIS menjadi UUDS 1950 dituangkan
dalam Undang-Undang Federal No. 7 Tahun 1950 tentang perubahan konstitusi
republic Indonesia serikat menjadi Undang-Undang Republik Indonesia.
UUDS 1950 terdiri atas:
a. Mukadimah yang terdiri dari 4 alinea
b. Batang tubuh yang terdiri atas 6 bab dan 146 pasal.
Isi pokok yang diatur dalam UUDS 1950 antara lain :
a. Bentuk negara kesatuan dan bentuk pemerintahan republik ;
b. System pemerintahan adalah parlementer menurut UUDS 1950;
30

c. Adanya badan Konstituante yang akan menyusun undang-undang dasar tetap


sebagai pengganti dari UUDS 1950.
UUDS 1945 berlaku dari tanggal 17 Agustus 1945 samapai 5 Juli 1949. dalam
sejarahnya lembaga konstituante yang diberi tugas menyusun undang-undang dasar
baru pengganti UUDS 1950 tidak berhasil meyelesaikan tugasnya. Situasi ini
kemudian memicu munculnya Dekrit Presiden 5 Juli 1959. pada tanggal 5 Juli 1959
presiden Soekarno mengeluarkan dekrit yang isinya sebagai berikut:
1. Menetapkan pembubaran konstituante;
2. Menetapkan berlakunya UUDS 1945 dan tidak berlakunya lagi UUDS 1950;
3. Pembentukan MPRS dan DPAS
UUD 1945 berlaku dari tanggal 5 Juli 1959 sampai tahun 1999. UUD 1945 ini berlaku
pada dua masa pemerintahan yaitu
a. Masa pemerintahan presiden Soekarno dari tanggal 5 Juli 1959 sampai 1966 ;
b. Masa pemerintahan Presiden Soekarno dari tahun 1966 sampai 1998.
2. Proses Amandemen UUD 1945
Istilah amandemen sebenarnya merupakan hak, yaitu hak parlemen untuk mengubah
atau mengusulkan perubahan rancangan undang-undang. Perkembangan selanjutnya
muncul istilah amandemen UUD yang artinya perubahan UUD. Istilah perubahan
konstitusi itu sendiri mencakup dua pengertian (Taufiqurohman Syahuri, 2004), yaitu
a. Amandemen konstitusi
b. Pemabruan konstitusi
Dalam hal pembaruan konstitusi, perubahan yang dilakukab adalah baru secara
keseluruhan. Jadi, yang berlaku adalaha konstitusi yang baru, yang tidak lagi ada
kaitannya dengan konstitusi lama atau asli. System ini dianut oleh negara seperti
Belanda, Jerman dan Prancis.
Amandemen atas UUD 1945 dimaksudkan untuk mengubah dan memperbaharui
konstitusi negara Indonesia agar sesuai dengan prinsip-prinsip negar demokrasi.
Dengan adanya amandemen terhadap UUD 1945 maka konstitusi kita harapkan
semakin baik dan lengkap menyesuaikan dengan tuntutan perkembangan dan
kehidupan kenegaraan yang demokratis.
UUD 1945 sebagai konstitusi atau hukum dasar negara republic Indonesia juag mampu
menyesuaikan dengan perkembangan dan tuntutan. Untuk itu perlu dilakukan
perubahan terhadap UUD 1945 yang sejak merdeka sampai masa pemerintahan
Presiden Soeharto belum pernah dilakukan perubahan.
Tentang perubahan undang-undang dasar dinyatakan pada Pasal 37 UUD 1945 sebagai
berikut:
(1) Usul perubahan pasal-pasal undang-undang dasar dapat diagendakan dalam siding
Majelis Permusyawaratan Rakyat apabila diajukan oleh sekurang-kurangnya 1/3
dari jumlah anggota majelis permusyawaratan rakyat.
(2) Setiap usul perubahan pasal-pasal Undang-Undang Dasar diajukan secara tertulis
dan ditunjukkan dengan jelas bagian yang diusulkan untuk diubah beserta
alasannya.
(3) Untuk mengubah pasal-pasal Undang-Undang Dasar, Sidang Majelis
Permusyawaratan Rakyat dihadiri sekurang-kurangnya 2/3 dari jumlah anggota
Majelis Permusyawaratan Rakyat.
31

(4) Putusan untuk mengubah pasal-pasal Undang-Undang Dasar dilakukan dengan


persetujuan dekurng-kurangnya lima puluh persen ditambah satu anggota dari
seluruh anggota majelis permusyawaratan rakyat.
(5) Khusus mengenai bentuk Negara Kesatuan Republik Indonesia tidak dapat
dilakukan perubahan.
a. Amandemen Pertama Terjadi pada Sidang Umum MPR Tahun 1999,
disahkan 19 Oktober 1999
MPR dalam sidang umum tahun 1999 mengeluarkan keputusan mengenai UUD
1945 dengan perubahan yang kemudian dikenal dengan perubahan pertama.
Perubahan pertama atas UUD 1945 tersebut diambil dalam suatu putusan majelis
pada tanggal 19 Oktober 1999. perubahan atas UUD 1945 berlaku sejak tanggal
ditetapkannya putusan yaitu 19 Oktober 1999.
Pada perubahan pertama ini MPR RI mengubah pasal 5 ayat (1), pasal 7, pasal 9,
pasal 13 ayat (2), pasal 14, pasal 15, pasal 17 ayat (2) dan (3), pasal 20 dan pasal 21
Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. jadi, pada
perubahan pertama, yang diamandemen sebanyak 9 pasal.
b. Amandemen kedua terjadi pada siding tahunan MPR, disahkan 18 Agustus
2000
MPR dalam sidang tahunan tahun 2000 mengeluarkan putusan mengenai UUD
1945 dengan perubahan yang kemudian dikenal dengan perubahan kedua.
Perubahan kedua atas UUD 1945 tersebut diambil dalam suatu putusan majelis dan
ditetapkan pada tanggal 18 Agustus 2000.
Pada perubahan kedua MPR RI mengubah dan/atau menambah pasal 18, pasal
18A,pasal 18B, pasal 19, pasal 20 ayatt (5), pasal 20A, pasal 22A, pasal 22B, bab
IXA, pasal 25E, bab X, pasal 26 ayat (2) dan ayat (3), pasal 27 ayat (3), bab XA,
pasal 28A, pasal 28B, pasal 28C,pasal 28D, pasal 28E, pasal 28F, pasal 28G, pasal
28H, pasal 28I, Pasal 28J, bab XII, pasl 30, bab XV, pasal 36A, pasal 36B dan pasal
36C undang-undang dasar negara republic Indonesia. tahun 1945.
Jadi pada perubahan kedua yang diamandemen sebanyak 25 pasal.
c. Amandemen ketiga terjadi pada siding tahunan MPR, Disahkan 10 November
2001
MPR dalam sidang tahunan tahun 2001 mengeluarkan putusan mengenai UUD
1945 dengan perubahan yang kemudian dikenal dengan perubahan ketiga.
Perubahan ketiga atas UUD 1945 tersebut diambil dalam suatu jurusan majelis dan
ditetapkan berlaku tanggal 9
november 2001.
Pada perubahan ketiga yang diamandemen sebanyak 23 pasal.
d. Amandemen keempat terjadi pada sidang tahunan MPR, disahkan 10Agustus
2002
MPR dalam sidang tahunan tahun 2002 kembali mengeluarkan putusan mengenai
UUD 1945 dengan perubahan yang kemudian dikenal dengan perubahan keempat.
Perubahan ke empat atas UUD 1945 tersebut diambil dalam suatu keputusan
majelis pada tanggan 10 Agustus 2002.
Pada perubahan keempat ini yang diamandemen sebanyak 13 pasal dan 3 pasal
aturan peralihan dan 2 pasal aturan tambahan.
32

Dengan cara amandemen ini, UUD 1945 yang asli masih tetap berlaku, hanya beberapa
ketentuan yang sudah diganti dianggap tidak berlaku lagi. Yang berlaku adalah
ketentuan-ketentuan yang baru. Nasakah perubahan merupakan bagian yang tak
terpisahkan dari undang-undang dasar negara republic Indonesia tahun 1945.
Dengan demikian, naskah UUD 1945 kita terdiri atas:
1. Naskah asli UUD 1945
2. Naskah perubahan pertama UUD 1945
3. Naskah perubahan kedua UUD 1945
4. Naskah perubahan ketiga UUD 1945
5. Naskah perubahan keempat UUD 1945.
3. Isi undang-undang dasar negara Indonesia tahun 1945
UUD 1945 sekarang ini hanya terdiri atas dua bagian, yaitu bagian pembukraan dan
bagian pasal-pasal. Hal ini didasarkan atas pasal II aturan tambahan naskah UUD
1945 perubahan keempatyang menyatakan dengan ditetapkannya peruban undangundang dasar ini, undang-undang dasar negara republic Indonesia tahun 1945 terdiri
atas pembukaan dan pasal-pasal.
Bagian pembukaan pada umumhya berisi pernyataan luhur dan cita-cita dari bangsa
yang bersangkutan. Namun tidak semua konstitusi negara memiliki bagian
pembukaan ini. Konstitusi Malaysia, Singapura dan Australia tidak memiliki bagian
pembukaan.
Pembukaan UUD 1945 merupakan bagian yang penting dalam konstitusi negara
Indonesia. pembukaan UUD 1945 berisi 4 alinea sebagai pernyataan luhur bangsa
Indonesia. selain berisi pernyataan kemerdekaan, ia juga berisi cita-cita dan
keinginan bangsa Indonesia dalam bernegara yaitu mencapai masyarakat yang
merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur. Tiap-tiap alinea pembukaan UUD
1945 memiliki makna dan cita-cita tersendiri sebagai satu kesatuan.
Alinea pertama berisi pernyataan objektif adanya penjajahan terhadap Indonesia.
selanjutnya mengandung pernyataan subjektif bangsa Indonesia bahwa penjajahan
harus dihapuskan karena tidak sesuai denngan perikemanusiaan dan perikeadilan.
Alinea kedua berisi pernyataan bahwa perjuangan yang dilakukan bangsa Indonesia
selama ini telah mampu menghasilkan kemerdekaan. Akan tetapi, kemerdekaan
bukanlah tujuan akhir perjuangan. Kemerdekaan adalah jabatan menuju
terwujudnya masyarakat yang adil dan makmur.
Alinea ketiga mengandung makna adanya motivasi spiritual bangsa Indonesia.
kemerdekaan Indonesia diyakini bukan hanya hasil perjuangan dan keinginan luhur
bangsa tetapi juga atas berkat rahmat Allah Yang Maha Esa.
Alinea keempat berisi langkah-langkah sebagai kelanjtan dalam bernegara. Dalam
alinea keempat ini ditetapkan tujuan bernegara, bentuk negara, system
pemerintahan negara, kostitusi negara, dan dasar negara.
Pembukaan UUD 1945 mengandung pokok-pokok pikiran. Pokok-pokok pikiran ini
merupakan pancaran dari pancasila. Poko-pokok pikiran itu ialah
a) Negara melindungi segenap bangsa indonesia dan seluruh tumpah darah
indonesia dengan berdasar atas persatuan
33

b) Negara hendak mewujudkan keadilan social bagi seluruh rakyat Indonesia.


c) Negara berkedaulatan rakyat, berdasar ats asas kerakyatan dan
permusyawaratan perwakilan.
d) Negara berdasar atas Ketuhanan Yang Maha Esa menurut dasar kemanusiaan
yang adil dan beradab.
Secara garis besar isi dari bagian pasal-pasal UUD 1945 adalah sebagai berikut.
c. Bab I tentang bentuk dan berkedaulatan (pasal 1)
d. Bab II tentang majelis permusyawaratan rakyat (pasal 2 sampai pasal 4)
e. Bab III tentang kekuasaan pemerintahan negara (pasal 4 sampai 19)
(bab IV tentang DPA diahpus)
f.
g.
h.
i.
j.
k.
l.
m.
n.
o.
p.

Bab V tentang kementerian negara (pasal 17)


Bab VI tentang pemerintah daerah (pasal 18 sampai 18B)
Bab VII tentang dewan perwakilan rakyat (pasal 19 sampai pasal 22B)
Bab VIIA tentang dewan perwakilan daerah (pasal 22C sampai 22D)
Bab VIIB tentang pemilihan umum (pasal 22E)
Bab VIII tentang hal keuangan (pasal 23 sampai 23D)
Bab VIIIA tentang badan pemeriksaan keuangan (pasal 23E sampai 23G)
Pasal IX tentang kekuasaan kehakiman (pasal 24 samapi 25)
Pasal IXA tentang wilayah negara (pasal 25A)
Bab X tentang warga negara dan penduduk (pasal 26 sampai 28)
Baba XA tentang hak asasi manusia dan kewajiban dasar manusia (pasal 28A
sampai 28J)
q. Baba XI tentang agama (pasal 29)
r. Bab XII tentang pertahanan dan keamanan negara (pasal 30)
s. Bab XIII tentang pendidikan dan kebudayaan (pasal 31 sampai 32)
t. Bab XIV tentang perekonomian nasional dan kesejahteraan social (pasal 33
sampai 34)
u. Bab XV tentang bendera, bahasa, lambing negara serta lagu kebangsaan (pasal
35 sampai 36C)
v. Bab XVI tentang perubahan undang-undang dasar (pasal 37)
D. SISTEM KETATANEGARAAN INDONESIA
Sistem ketatanegaraab Indonesia menurut UUD 1945 adalah sebagai berikut
a.
b.
c.
d.

Bentuk negara adalah kesatuan.


Bentuk pemerintahan adalah republic
System pemerintahan adalah presidensial
System politik adalah demokrasi atas kedaulatan rakyat.

1. Bentuk Negara Kesatuan


Secara teori, ada dua klasifikasi bentuk negara yaitu bentuk negara serikat atau
federal dan bentuk negara kesatuan. Negara federal adalah negara yang bersusunan
jamak, artinya negara yang didalamnya masih terdapat negara yang disebut negara
bagian. Jadi, terdapat dua susunan negara yaitu negara serikat/federal dan negara
bagian. Terdapat dua pemerintahan, yaitu pemerintah federal dan perintah negara
bagian. Kekuasaan dalam negara federal ada dua yaitu kekuasaan pemerintahan
federal dan kekuasaan pemerintah negara bagian. Keduanya adalah sederajat satu
sama lain.

34

Negara kesatuan adalah negara yang bersusunan tunggal. Suatu bentuk negara yang
tidak terdiri atas negara-negara bagaian atau negara yang didalamnya tidak terdapat
daerah yang bersifat negara. didalam negara kesatuan, kekuasaan mengatur seluruh
daerahnya ada di tangan pemerintah pusat. Pemerintah pusat inilah yang pada
tingkat terakhir dan tertinggi dapat memutuskan segala sesuatu yang terjadi di
dalam negara.
Maka didalam negara kesatuan hanya terdapat seorang kepala negara, satu undangundang dasar negara yang berlaku untuk seluruh warga negaranya, satu kepala
pemerintahan, dan satu parlemen (badan perwakilan rakyat).
Negara indonesia sebagai negara kesatuan menganut asa desentralisasi dalam
penyelenggaraan kekuasaannya. Hal ini didasarkan pada pasal 18 UUD 1945.
ketentuan dalam pasal 18 UUD 1945 perubahan kedua berbunyi sebagai berikut.
(1) Negara kesatuan republic Indonesia dibagi atas daerah-daerah provinsi dan
daerah provinsi itu dibagi atas kabupaten dan kota, yang tiap-tiap provinsi,
kabupaten dan kota itu mempunyai pemerintahan daerah, yang dianut dengan
undang-undang.
(2) Pemerintahan daerah provinsi, daerah kabupaten, dan kota mengatur dan
mengurus sendiri urusan pemerintahan menurut asa ekonomi dan tugas
pembantuan.
(3) Pemerintahan daerah provinsi, daerah kabupaten, dan kota memiliki Dewan
Perwakilan Rakyat Daerah yang anggota-anggotanya dipilih melalui pemilihan
umum.
(4) Gubernur, bupati, dan walikota masing-masing sebagai kepala pemerintah
daerah provinsi, kabupaten dan kota dipilih secara demokratis.
(5) Pemerintahan daerah menjalankan otonomi seluas-luasnya, kecuali urusan
pemerintahan yang oleh undang-undang ditentukan sebagai urusan pemerintah
pusat.
(6) Pemerintahan daerah berhak menetapkan peraturan derah dan peraturanperaturan lain untuk melaksanakan otonomi dan tugas pembantuan.
(7) Susunan dan tata cara penyelenggaraan pemerintahan daerah diatur dalam
undang-undang.
2. Bentuk Pemerintahan Republik
UUD 1945 menetapkan bahwa bentuk pemerintahan Indonesia adalah republic
bukan monarki atau kerajaan. Dasar penetapan ini tertuang dalam pasal 1 ayat (1)
UUD 1945 yang menyatakan Negara Indonesia adalah negara kesatuan, yang
berbentuk republik , berdasarkan pasal tersebut diketahui bahwa kesatuan adalah
bentuk negara, sedang republic adalah bentuk pemerintahan.
3. System pemerintahan presidensial
berdasarkan ketentuan-ketentuan dalam UUD 1945, Indonesia menganut system
pemerintahan presidensial. Secara teoretis, system pemerintahan dibagi dalam dua
klasifikasi besar, yaitu system pemerintahan parlementer dan system pemerintahan
presidensiil.
Adapun ciri-ciri system pemerintahan parlementer adalah sebgaia berikut
a Badan legislative atau parlemen adalah satu-satunya badan yang anggotanya dipilih
langsung oleh rakyat melalui pemilihan umum
35

b Anggota parlemen terdiri atas orang-orang dari partai politik yang memenangkan
pemilihan umum. Partai politik yang menang dalam pemilihan umum memiliki
peluang besar menjadi mayoritas dan memiliki kekuasaan besar di
parlemen.Pemerintah atau kabinet terdiri atas para menteri dan perdana menteri
sebagai pimpinan kabinet. Perdana menteri dipilih oleh parlemen untuk
melaksanakan kekuasaan eksekutif.
c Kabinet bertanggung jawab kepada parlemen dan dapat bertahan sepanjang
mendapat dukungan mayoritas anggota parlemen.
d Kepala negara tidak sekaligus sebagai kepala pemerintahan. Kepala negara adalah
presiden dalam bentuk pemerintahan republic atau raja/sultan dalam bentuk
pemerintahan monarki.
e Sebagai imbangan parlemen dapat menjatuhkan cabinet, kepala negara dapet
membubarkan parlemen.
Adapun ciri-ciri pemerintahan presidensiil adalah sebagai berikut
1) Penyelenggara negara berada ditangan presiden. Presiden adalah kepala negara
sekaligus
kepala pemerintahan.
2) Cabinet dibentuk oleh presiden. Cabinet bertanggung jawab kepada presiden dan
tidak bertanggung jawab kepada parlemen.
3) Presiden tidak bertanggung jawab kepada parlemen.
4) Presiden tidak dapat membubarkan parlemen seperti dalam system pemerintahan.
5) Parlemen memiliki kekuasaan legislative dan sebagai lembaga perwakilan.
6) Presiden tidak berada di bawah pengawasan langsung parlemen.
Berdasarkan uraian diatas, maka system pemerintahan berkaitan dengna keberadaan
lembaga eksekutif dan legislative serta hubungan antara keduanya. Gambaran akan
system pemerintahan di Indonesia dinyatakan dalam pasal-pasal UUD 1945 sebagai
berikut
1. Presiden republic Indonesia memegang kekuasaan pemerintahan menurut
undag-undang dasar. (pasal 4 ayat (1))
2. presiden berhak mengajukan rancangan undang-undang kepada dewan
perwakilan rakyat. (pasal 5 ayat (1))
3. presiden menetapkan peraturan pemerintah untuk menjalankan undang-undnag
sebagaimana mestinya. (pasal 5 ayat (2)).
4. presiden dan wakil presiden dipiih dalam satu pasangan secara langsung oleh
rakyat (pasal 6A ayat (1))
5. presiden tidak dapat membekukan dan/atau membubarkan dewan perwakilan
rakyat. (pasal 7C)
6. presiden memegang kekuasaan yang tertinggi atas angkatan darat, angkatan
laut, dan angkatan udara (pasal 10)
7. presiden dengan persetujuan dewan perwakilan rakyat menyatakan perang
membuat perdamaian dan perjanjian dengan negara lain (pasal 11 ayat (1))
8. presiden menyatakan keadaan bahaya. Syarat-syarat dan akibatnya keadaan
bahaya ditetapkan dengan undang-undang. (pasal 12)
9. presiden mengangkat duta dan konsul (pasal 13)
10. presiden memberi grasi, rehabilitasi, amnesty dan abolisi (pasal 14)
11. presiden memberi gelar, tanda jasa dan lain-lain tanda kehormatan (pasal 15)
12. presiden dibantu oleh menteri-menteri negara. menteri-menteri itu diangkat dan
diberhentikan oleh presiden (pasal 17 ayat (1) dan (2))
36

13. anggota dewan perwakilan rakyat dipilih melalui pemilihan umum. (pasal 19
ayat (1))
14. dewan perwakilan rakyat memegang kekuasaan membentuk undang-undang
(pasal 20 ayat (1))
15. dewan perwakilan rakyat memiliki fungsi legislasi, fungsi anggaran, dan fungsi
pengawasan. (pasal 20A ayat (1))
secara teoretis, system pemerintahan presidensiil memiliki kelebihan dan
kelemahan. Kelebihan dari system pemerintahan presidensiil adalah sebagai berikut
1) Badan eksekutif lebih stabil kedudukannya karena tidak tergantung pada
parlemen.
2) Masa jabatan badan eksekutif lebih jelas dengan jangka waktu tertentu.
3) Penyusunan program kerja kabinet mudah disesuaikan dengan jangka waktu
masa jabatannya.
4) Lagislatif bukan tempat kaderisasi unstuk jabatan-jabatan eksekutif karena
dapat diisi oleh orang luar termasuk anggota parlemen sendiri.
Kelemahan sistem pemerintahan presidensiil adalah sebagai berikut
1) Kekuasaan eksekutif diluar pengawasan langsung legislative sehingga dapat
menciptakan kekuasaan mutlak.
2) System pertanggung jawabannya kurang jelas
3) Pembuatan keputusan kebijakan public umumnya hasil tawar-menawar antara
eksekutif dan legislative sehingga dapat terjadi keputusan tidak tegas dan
memakan waktu yang lama.
Kelemahan utama dari system pemerintahan presidensiil adalah kecenderungan
kekuasaan eksekutif atau presiden yang mutlak.
Mengenai hal diatas, beberapa contoh dalam ketentuan UUD1945.
1) Presiden sewaktu-waktu dapat diberhentikan oleh MPR atau usul DPR. Jadi,
DPR tetap memiliki kekuasaan mengawasi presiden meskipun secara tidak
langsung.
2) Presiden dalam mengangkat pejabat negara pelu pertimbangan dan/atau
persetujuan DPR.
3) Presiden dalam mengeluarkan kebijakan tertentu, perlu pertimbangan dan/atau
persetujuan lembaga lain. Seperti DPR, MA, atau MK.
4) Parlemen diberi kekuasaan lebih besar dalam hal membentuk undang-undang
dan hak budget (anggaran)
5) Mahkamah Agung dan Mahkamah Konstitusi memiliki hak judicial review.
4. Sistem Politik Demokrasi
System polirik yang dianut negar Indonesia adalah system politik demokrasi. Hal
ini secara jelas dinyatakan dalam pasal 1 ayat (2) UUD 1945 bahwa kedaulatan
berada ditangan rakyat dan dilaksanakan menurut undang-undang dasar. Hakikat
demokrasi itu sendiri adalah kekuasaan dalam negara berada di tangan rakyat.
Secara teoretis, klasifikasi system politik di era modern ini terbagi dua yaitu system
politk demokrasi dan system politik otoritarian. Samuel Huntington dalam buku
gelombang demokratisasi ketiga(2001) membuat pembedaan antara system politik
demokrasi dan system politik nondemokrasi. System politik nondemokrasi atau
otoriter ini mencakup: monarki absolute, rezim militer, kediktatoran, rezim
komunis, rezim otoritarian dan fasis.
37

Pembagian atas system politik demokrasi dan system politik otoriter ini didasarkan
atas:
1. Kewenangan pemerintah terhadap aspek-aspek kehidupan warganya;
2. tanggung jawab pemerintah terhadap warga negara.

38

BAB 6
DEMOKRASI DAN PENDIDIKAN DEMOKRASI

Sejak digulirkanya reformasi tahun 1998, wacana dan gerakan demokrasi


terjadi secara masif dan luas di Indonesia. hampir semua negara di dunia meyakini
demokrasi sebagai "tolok ukur tak terbantah dari keaabsahan politik". Keyakinan
bahwa kehendak rakyat adalah dasar utama kewenangan pemerintah menjadi basis
bagi tegak kokohnya sistem politik demokrasi.
Pada bab ini, uraian mengenai demokrasi mencakup hal-hal
sebagai berikut.
1. Hakikat Demokrasi;
2. Demokratisasi;
3. Demokrasi di Indonesai;
4. Sistem Politik Demokrasi;
5. Pendidikan Demokrasi.
A. HAKIKAT DEMOKRASI
Kata demorasi dapat ditinjau dari dua pengertian, yaitu
a. pengertian secara bahasa atau etimologis, dan
b. pengertian secara istilah atau terminologis.
1. Pengertian Etimologis Demokrasi
Dari sudut bahasa (etimologis), demokrasi berasal dari bahasa yunani yaitu
demos yang berarti rakyat dan cratos atau cratein yang berarti pemerintahan atau
kekuasaan. Jadi, secara bahasa, demos-cratein atau demos-cratos berarti pemerintahan
rakyat atau kekuasaan rakyat
Konsep demokrasi lahir dari Yunani kuno yang dipraktikkan dalam hidup
bernegara antara abad ke-4 SM - abad ke-6 M. Demokrasi yang dipraktikkan pada
waktu itu adalah demokrasi langsung (direct democracy), artinya hak rakyat untuk
membuat keputusan-keputusan politik dijalankan secara langsung oleh seluruh rakyat
atau warga negara. Hal ini dapat dilakukan karena Yunani pada waktu itu berupa
negara kota (polis) yang penduduknya terbatas pada sebuah kota dan daerah sekitarnya
yang berpenduduk sekitar 300.000 orang. Tambahan lagi, meskipun ada keterlibatan
seluruh warga, namun masih ada pembatasan, misalnya para anak, wanita, dan para
budak tidak hak berpartisipasi dalam pemerintahan.
Disebabkan adanya perkembangan zaman dan juga jumlah penduduk yang terus
bertambah maka keadaan seperti yang dicontohkan dalam demokrasi secara langsung
yang diterpkan seperti di atas mulai sulit dilaksanakan, dengan alasan berikut.
a. Tidak ada tempat yang menampung seluruh warga yang jumlahnya cukup banyak.
b. Untuk melaksanakan musyawarah dengan baik dengan jumlah yang banyak sulit
dilakukan.
c. Hasil persetujuan secara bulat mufakat sulit tercapai, karena sulit memungut sura
dari peserta yang hadir.
d. dasar yang dihadapi negara semakin kompleks dan rumit sehingga membutuhkan
orang-orang yang secara khusus berkecimpung dalam penyelesaian masalah tersebut.
Jadi, demokrasi atas dasar penyaluran kehendak rakyat ada dua macam, yaitu
a. Demokrasi langsung
Demokrasi langsung adalah paham demokrasi yang mengikutsertakan setiap warga
negaranya dalam permusyawaratan untuk menentuka kebijaksanaan umum dan
39

undang-undang.
b. Demokrasi tidak langsung
Demokrasi tidak langsung adalah paham demokrasi yang dilaksanakan melalui sistem
perwakilan.
Untuk negara-negara modern, penerapan demokrasi tidak langsug dilakukan karena
berbagai alasan, antara lain:
a. Penduduk yang selalu bertambah sehingga pelaksanaan musyawarah pada suatu
tempat tidak gimungkinkan;
b. Masalah yang dihadapi semakin kompleks karena kebutuhan dan tantangan hidup
semakin banyak;
c. Setiap warga negara mempunyai kesibukan sendiri-sendiri di dalam mengurus
kehidupannya sehingga masalah pemerintahan cukupdiserahkan pada orang yang
berminat dan memiliki keahlian di bidang pemerintahan negara.
2. Pengertian Terminologis Demokrasi
Berikut ini beberapa defenisi tentang demokrasi.
a. Menurut Harris Soche
Demokrasi adalah bentuk pemerintahan rakyat, karena itu kekuasaan pemerintahan itu
melekat pada diri rakyat, diri orang banyak dan merupakan hak bagi rakyat atau orang
banyak untuk mengatur, mempertahankan, dan melindungi dirinya dari paksaan dan
pemerkosaan oang lain atau badan yang diserahi untuk memerintah.
b. Menurut Hennry B. Mayo
Sistem politik demokrasi adalah sistem yang menunjukkan bahwa kebijaksanaan
umum ditentukan atas dasar mayoritas oleh wakil-wakil yang diawasi secara efektif
oleh rakyat dalam pemilihan-pemilihan berkala yang didasarkan atas prinsip kesamaan
politik dan diselenggarakan dalam suasana terjaminya kebebasan politik.
c. Menurut International Commisison For Jurist
Demokrasi adalah suatu bentuk pemerintahan di mana hak untuk membuat keputusankeputusan politik diselenggarakan oleh warga negara melalui wakil-wakil yang dipilih
oleh mereka dan yang bertanggungjawab kepada mereka melalui suatu proses
pemilihan yang bebas.
d. Menurut C.F. Strong
Suatu sistem pemerintahan dalam mana mayoritas anggota dewasa dari masyarakat
politik ikut serta atas dasar sistem perwakilan yang menjamin bahwa pemerintah
akhirnya mempertanggungjawabkan tindakan-tindakan kepada mayoritas itu.
e. Menurut Samuel Huntington
Sistem politik sebagai demokratis sejauh para pembuat keputusan kolektif yang paling
kuat dalam sistem itu dipilih melalui pemilihan umum yang adil, jujur, dan berkala dan
di dalam sistem itupara calon bebas bersaing untuk memperoleh suara dan hampir
semua penduduk dewasa berhak memberikan suara.
Ada satu pengertian mengenai demokrasi yang dianggap paling populer di
antara pengertian yang ada. Pengertian tersebut dikemukakan pada tahun 1863 oleh
Abraham Lincoln yang mengatakan demokrasi adalah pemerintahan dari rakyat, oleh
rakyat, dan untuk rakyat.
Secara substantif, prinsip utama dalam demokrasi ada dua (Maswadi Rauf 1997), yaitu
a. kebebasan/persamaan, dan
b. kedaulatan rakyat.
Kebebasan dan persamaan adalah fondasi demokrasi. Kebebasan dianggap sebagai
sarana mencapai kemajuan dengan memberikan hasil maksimal dari usaha orang tanpa
adanya pembatasan dari penguasa. Jadi bagian tak terpisahkan dari ide kebebasan
adalah pembatasan kekuasaan pengusa politik. Demokrasi adalah sistem politik yang
40

melindungi kebebasan warganya sekaligus memberikan tugas pemerintah untuk


menjamin kebebasan tersebut. Demokrasi pada dasarnya merupakan pelembagaan dari
kebebasan.
3. Demokrasi sebagai Bentuk Pemerintahan
Secara klasik, pembagian bentuk pemerintahan menurut plato, dibedakan menjadi:
a. Monarki, yaitu suatu bentuk pemerintahan yang dipegang oleh seseorang sebagai
pemimpin tertinggi dan dijalankan untuk kepentingan rakyat banyak.
b. Tirani, yaitu suatu bentuk pemerintahan yang dipegang oleh seseorang sebagai
pemimpin tertinggi dan dijalankan untuk kepentingan pribadi.
c. Aristokrasi, yaitu suatu bentuk pemerintahan yang dipegang oleh sekelompok orang
yang memimpin dan dijalankan untuk kepentingan rakyat banyak.
d. Oligarki, yaitu suatu bentuk pemerintahan yang dipegang oleh sekelompok dan
dijalankan untuk kelompok itu sendiri.
e. Demokrasi, yaitu suatu bentuk pemerintahan yang dipegang oleh rakyat dan
dijalankan untuk kepentingan rakyat banyak.
f. Mobokrasi/Okhokrasi, yaitu suatu bentuk pemerintahan yang dipegang oleh rakyat
tetapi rakyat tidak tahu apa-apa, rakyat yang tidak berkependidikan, dan rakyat yang
tidak paham tentang pemerintahan, yang ahkirnya pemerintahan yang dijalankan tidak
berhasil untuk kepentingan rakyat banyak.
Bentuk pemerintahan seperti di atas, sekarang ini tidak lagi dianut oleh banyak negara.
Adapun bentuk pemerintahan yang dianut atau diterima dewasa ini adalah bentuk
pemerintahan modern menurut Nicollo Machiavelli.
Machiavelli membedakan bentuk pemerintahan, yaitu
a. Monarki adalah bentuk pemerintahan yang bersifat kerajaan.
b. Republik adalah bentuk pemerintahan yang dipimpin oleh seorang presiden atau
perdana menteri.
4. Demokrasi sebagai Sistem Politik
Beberapa ahli telah mendefinisikan demokrasi sebagai sistem politik. Misalnya;
a. Henry B. Mayo, menyatakan demokrasi sebagai sistem politik marupakan suatu
sistem yang menunjukkan bahwa kebijakan umum ditentukan atas dasar mayoritas oleh
wakil-wakil yang diawasi secara efektif oleh rakyat dalam pemilihan yang berkala
yang didasarkan atas prinsip kesamaan politik dan diselenggarakan dalam suasana
terjaminya kebebasan poltik.
b. Samuel Huntington, menyatakan bahwa sistem politik sebagai demokratis sejauh
para pembuat keputusan kolektif yang paling kuat dalam sistem itu dipilih melalui
pemilihan umum yang adil, jujur, dan berkala dan didalam sistem itu para calon bebas
bersaing untuk memperoleh suara dan hampir semua penduduk dewasa berhak
memberikan suara.
Sistem politik dewasa ini dibedakan menjadi dua (Huington, 2001), yaitu sistem politik
demokrasi dan sistem politik nondemokrasi. Termasuk sistem politik nondemokrasi
adalah sistem politik otoriter, totaliter, sistem diktator, rezim milite, rezim satu partai,
monarki absolut, dan sistem komunis. Sistem politik (Pemerintahan) demokrasi adalah
sistem pemerintahan dalam suatu negara yang menjalankan prinsip-prinsip demokrasi.
Sistem politik kediktatoran adalah sistem pemerintahan dalam suatu negara yang
menjalankan prinsip-prinsip kediktatoran/otoritarian. Umumnya dianggap bahwa
prinsip-prinsip kediktatoran/otoritarian adalah lawan dari prinsip-prinsip demokrasi.
Adapun prinsip-prinsip dari sistem politik demokrasi, sebagai berikut;
a. pembagian kekuasaan;
b. pemerintahan konstitusional;
41

c. pemerintahan berdasarkan hukum;


d. pemerintahan mayoritas;
e. pemerintahan dengan diskusi;
f. pemlihan umum yang bebas;
g. partai politik lebih dari satu dan mampu melaksanakan fungsinya;
h. manajemen yang terbuka;
i. pers yang bebas;
j. pengakuan tehadap hak-hak minoritas;
k. perlindungan terhadap hak asasi manusia;
l. peradilan yang bebas dan tidak memihak;
m. pengawasn terhadap administrasi negara;
n. mekanisme politik yang berubah antara kehidupan politik masyarakat denagan
kehidupan politik pemerintah;
o. kebijaksanaan pemerintah dibuat oleh badan perwakilan politik tanpa paksaan dari
lembaga manapun;
p. penempatan pejabat pemerintahan dengan merit system bukan poll system;
q. penyelesaian secara damai bukan dengan kompromi;
r. jaminan terhadap kebebasan individu dalam batas-batas tertentu;
s. konstitusi/UUD yang demokratis;
t. prinsip persetujuan.
5. Demokrasi sebagai Sikap Hidup
Perkembagan baru menunjukkan bahwa demokrasi tidak hanya dipahami sebagai
bentuk pemerintahan dan sistem politik, tetapi demokrasi dipahami sebagai sikap hidup
atau pandangan hidup demokratis. Pemerintahan atau sistem politik demokrasi tidak
datang, tumbuh dan berkembang dengan sendirinya.
B. DEMOKRATISASI
Demokratisasi adalah penerapan kaidah-kaidah atau prinsip-prinsip ddemokrasi pada
setiap kegiatan politik kenegaraan. Tujuannya adalah terbentuknya kehidupan politik
yang bercirikan demokrasi.
Demokratisasi melalui beberapa tahapan, yaitu
a. tahapan pertama adalah pergantian dari penguasa nondemokrastisasi ke penguasa
demokrasi;
b. tahapan kedua adalah pembentukan lembaga-lembaga dan tertib politik demokrasi;
c. tahapan ketiga adalah konsolidasi demokrasi;
d. tahapan keempat adalah praktik demokrasi sebagai budaya politik bernegara.
Dalam rumusan yang hampir sama, Samuel Huntington (2001), menyatakan bahwa
proses demokratisasi melalui 3 tahapan, yaitu pengakhiran rezim nondemokratis,
pengukuhan rezim demokratis, dan pengkonsolidasian sistem yang demokratis. Nilai
atau kultur demokrasi penting untuk tegaknya demokrasi suatu negara.
1. Nilai (Kultur) Demokrasi
Henry B. Mayo dalam Mirriam Budiardjo (1990) menyebutkan adanya delapan nilai
demokrasi, yaitu:
1. menyelesaikan pertikaian-pertikaian secara damai dan sukarela;
2. menjamin terjadinya perubahan secara damai dalam suatu masyarakat yang selalu
berubah;
3. pergantian penguasa dengan teratur;
4. penggunaan paksaan sesedikit mungkin;
5. pengakuan dan penghormatan terhadap nilai keanekaragaman;
6. menegakkan keadilan;
42

7. memajukan ilmu pengetahuan;


8. pengakuan dan penghormatan terhadap kebebasan.
Nilai-nilai demokrasi merupakan nilai yang diperlukan untuk mengembangkan
pemerintahan yang demokratis. Nilai-nilai tersebut antara lain: kebebasan
(berpendapat, berpartisipasi), menghormati orang/ kelompok lain, kesetaraan, kerja
sama, persaingan, dan kepercayaan (Asykuri Ibn Chamim, dkk, 2003).
Rusli Karim (1991) menyebutkan perlunya kepribadian yang demokratis meliputi;
inisiatif, disposisi resiprositas, toleransi, kecintaan terhadap keterbukaan, komitmen
dan tanggungjawab dan kerja sama keterhubungan.
Pendapat bahwa demokrasi sudah merupakan pola kehidupan, antara lain sebagai
berikut:
a. John Dewey dalam Zamroni (2001), demokrasi adalah pandangan hidup yang
dicerminkan dari perlunya partisipasi dari warga negara dalam membentuk nilai-nilai
yang mengatur kehdupa bersama.
b. Padmo Wahyono dalam Alfian dan Oetojo Usman (1990), demokrasi adalah pola
kehidupan berkelompok yag sesuai dengan keinginan dan pandangan hidup orangorang yang berkelompok tersebut.
c. Tim ICCE UIN Jakarta (2003), demokrasi sebagai way of life (pandangan hidup)
dalam seluk-beluk sendi kehidupan bernegara, baik oleh rakyat (masyarakat) maupun
pemerintah.
2. Lembaga (Struktur) Demokrasi
Menurut Marriam Budiardjo (1997), untuk melaksanakan nilai-nilai demokrasi perlu
diselenggarakan lembaga-lembaga, antara lain sebagai berikut.
a. Pemerintahan yang bertanggungjawab .
b. Suatu dewan perwakilan rakyat yang mewakili golongan dan kepentingan dalam
masyarakat yang diplih melalui pemilihan umum yang bebas dan rahasia.
c. Suatu organisasi politik yang mencakup lebih dari satu partai (sistem dwipartai,
multi partai). Partai menyelenggarakan hubungan yang kontinu dengan masyarakat.
d. Pers dan media massa yang bebas untuk menyatakan pendapat.
e. Sistem peradilan yang bebas untuk menjamin hak asasi manusia dan
mempertahankan keadilan.
Dengan demikian untuk keberhasilannya demokrasi dalam suatu negara, terdapat dua
hal penting sebagai berikut.
a. Tumbuh dan berkembangnya nilai-nilai demokrasi yang menjadi sikap dan pola
hidup masyarakat dan penyelenggara negara dalam kehidupan berbangsa dan
bernegara.
b. Terbentuk dan berjalanya lembaga-lembaga demokrasi dalam sistem politik dan
pemerintahan.
Jadi, suatu negara dikatakan negara demokrasi apabila memenuhi dua kriteria, yaitu
a. pemerintahan demokrasi yang berwujud pada adanya institusi (struktur) emokrasi;
b. masyarakat demokrasi yang berwujud pada adanya budaya (kultur) demokrasi
Dengan demikian dapat disimpulkan, demokrasi tidak hanya memerlukan institusi,
hukum,aturan, ataupun lembaga-lembaga negara lainnya. Demokrasi sejati
memerlukan sikap dan perilaku hidup demokratis masyarakatnya. Demokrasi ternyata
memerlukan syarat hidupnya, yaitu warga negara yang memiliki dan menegakkan
nilai-nilai demokrasi.
3. Ciri Demokratisasi
Demokratisasi memiliki ciri-ciri sebagai berikut. (Maswadi Rauf,1997)
a. Berlangsung secara evolusioner
b. Proses perubahan secara persuasif bukan koersif
c. Proses yang tidak pernah selesai
43

C. DEMOKRASI DI INDONESIA
1. Demokrasi Desa
Demokrasi desa memiliki 5 (lima) unsur atau anasir, yaitu
a. rapat,
b. mufakat,
c. gotong-royong,
d. hak mengadakan protes bersama,dan
e. hak menyingkir dari kekuasaan raja absolut.
Demokrasi desa tidak bisa dijadikan pola demokrasi untuk Indonesia modern. Namun,
kelima unsur demokrasi desa terseut dapat dikembangkan menjadi konsep demokrasi
Indonesia yang modern. Demokrasi Indonesia modern menurut Moh. Hatta harus
meliputi 3 (hal), yaitu
a. demokrasi di bidang politik
b. demokrasi di bidang ekonomi, dan
c. demokrasi di bidang sosial.
2. Demokrasi Pancasila
Bersumber pada ideologinya, demokrasi yang berkembang adalah demokrasi Pancasila.
Pancasila adalah ideologi nasional, yaitu seperangkat nilai yang dianggap baik, sesui,
adil, dan menguntungkan bangsa. Sebagai ideologi nasional, Pancasila berfungsi
sebagai;
1) cita-cita masyarakat yang selanjutnya menjadi pedoman dalam membuat dan menilai
keputusan politik;
2) alat pemersatu masyarakat yang mampu menjadi sumber nilai bagi prosedur
penyelesaian konflik yang terjadi.
Nilai-nilai demokrasi yang terjabar dari nilai-nilai Pancasila tersebut adalah sebagai
berikut.
a. Kedaulatan rakyat
b. Republik
c. Negara berdasar atas hukum
d. Pemerintahan yang konstitusional
e. Sistem perwakilan
f. Prinsip musyawarah
g. Prinsip ketuhanan
Demokrasi Pancasila dapat diartikan secara luas maupun sempit, sebagai berikut.
1) Secar luas demokrasi Pancasila berarti kedaulatan rakyat yang didasarkan pada nilainilai Pancasila dalam bidang politi, ekonomi, dan sosial.
2) Secara sempit demokrasi Pancasila berarti kedaulatan rakyat yang dilksanakan
menurut hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan.
3.Perkembangan Demokrasi
Perkembangan demokrasi di Indonesia telah mengalami pasang surut dan setua dengan
usia Republik Indonesia itu sendiri. Lahirnya konsep demokrasi dalam sejarah modern
Indonesia dapat ditelusuri pada sidang-sidang BPUPI antara bulan Mei sampai Juli
1945.
Paradigma kenegaraan Soepomo yang disampaikan tanggal 31 Mei 1945 terkenal
dengan ide integralistik bangsa Indonesia. Menurut Soepomo, politik pembangunan
negara harus sesuai dengan struktur sosial masyarakat Indonesia. Bentuk negara harus
mengungkap semangat kebatinan bangsa Indonesia yaitu hasrat rakyat akan persatuan.
(Suseno, 1997). Negara merupakan kesatuan integral dengan masyarakatnya.
Membicarakan pelaksanaan demokrasi tidak lepas dari periodisasi demokrasi yang
pernah dan berlaku dan sejarah Indonesia. Menurut Mirriam Budiardjo (1997)
dipandang dari sudut perkembangan sejarah, demokrasi Indonesia sampai masa Orde
44

Baru dapat dibagi dalam 3 (tiga) masa yaitusebagai berikut.


a. Masa Republik I, yang dinamakan masa demokrasi parlementer.
b. Masa Republik II, yaitu masa demokrasi terpimpin.
c. Masa Republik III, yaitu masa demokrasi Pancasila yang menonjolkan sistem
presidensiil.
Pelaksanaan demokrasi di Indonesia dapat pula dibagi ke dalam periode berikut.
a. Pelaksanaan Demokrasi Masa Revolusi tahun 1945 sampai 1950.
b. Pelaksanaan Demokrasi Masa Orde Lama yang terdiri:
1) Masa demokrasi liberal tahun 1950 sampai 1959;
2) Masa demokrasi terpimpin tahun 1959 sampai 1965.
c. Pelaksanaan Demokrasi Masa Orde Baru tahun 1966 sampai 1998.
d. Pelaksanaan Demokrasi Masa Transisi tahun 1998 sampai 1999.
e. Pelaksanaan Demokrasi Masa Reformasi tahun 1999 sampai dengan sekarang.
Pada masa transisi dan reformasi ini juga, banyak terjadi pertentangan, perbedaan
pendapat, yang kerap menimbulkan kerusuhan dan konflik antarbangsa sendiri. Antara
tahun 1998 sampai tahun 1999 dianggap tahun yang penuh dengan gejolak dan
kerusuhan. Beberapa kasus kerusuhan tersebut antara lain:
a. kerusuhan di Aceh;
b. kerusuhan dan pertentangan diwilayah TimorTimur;
c. konflik di Ambon, Maluku, Kalimatan Tengah, dan lain-lain.
D. SISTEM POLITIK DEMOKRASI
1. Lndasan Sistem Politik di Indonesia
Berdasarkan pembagian sistem politik, ada dua pembedaan, yaitu sistem
politik demokrasi dan sistem politik nondemokrasi (Samuel Huntington, 2000).
Sitem politik demokrasi didasarkan pada nilai, prinsip, prosedur, dan kelembagaan
yang demokratis.
Indonesia sejak awal berdiri sudah menjadikan demokrasi sebagai pilihan
sistem politiknya. Cita-cita para pendiri negara (Frans Magnis Suseno, 1997).
Namun sejak awal pula, perkembangan demokrasi di Indonsia mengalami masa
pasang surut demokrasi, sesuai dengan konteks zamannya.
Landasan negara Indonesia sebagai negara demokrasi terdapat dalam:
1. Pembukaan UUD 1945 pada Alinea 4 yaitu "...maka disusunlah kemerdekaan
kebangsaan Indonesia itu dalam suatu UUD Negara RI yang terbentuk dalam
susunan Negara RI yang berkedaulatan rakyat..."
2. Psal 1 ayat (2) UUD 1945 menyatakan bahwa kedaulatan di tangan rakyat dan
dilakukan menurut ketentuan UUD.
Isi mekanisme sistem politik demokrasi Indonesia dirumuskan pada bagian
pasal-pasal UUD 1945. Hal demikian sebagaimana dinyatakan dalam pasal 1 ayat
(2) UUD 1945 bahwa kedaulatan di tangan rakyat dan dilakukan menurut ketentuan
UUD. Dari pasal ini jelas bahwa isi demokrasi Indonesia, baik itu demokrasi politik,
ekonomi,dan sosial dijabarkan pada ketentuan-ketentuan dalam UUD 1945.
2. Sendi-Sendi Pokok Sistem Politik Demokrasi Indonesia
Adapun sendi-sendi pokok dari sistem politik demokrasi di Indonesia sebagai
berikut.
a. Ide kedaulatan rakyat
b. Negara berdasar atas hukum
c. Bentuk republik
d. Pemerintahan berdasarkan konstitusi
45

e. Pemerintahan hyang bertanggungjawab


f. Sistem perwakilan
g. Sistem pemerintahan presidensiil
3. Mekaisme dalam Sistem Politik Demokrasi Indonesia
Pokok-pook dalam sistem politik Indonesia sebagai berikut.
a. Merupakan bentuk negara kesatuan dengan prinsip otonomi yang luas.
b. Bentuk pemerintahan republik, sedangkan sistem pemerintahan presidensiil.
c. Presiden adalah kepala negara sekaligus kepala pemerintah.
d. Kabinet atau menteri diangkat oleh presiden dan bertanggungjawab kepada presiden.
e. Parlemen terdiri dari dua (bikameral), yaitu Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), dan
Dewan Perwakilan Daerah (DPD).
f. Pemilu diselenggarakan untuk memilih presiden dan wakil presiden, anggota DPR,
anggota DPD, anggota DPRD Provinsi, anggota DPRD Kabupaten/Kota dan Kepala
daerah.
g. Sistem multipartai.
h. Kekuasaan yudikatif dijalankan oleh Nahkamah Agung dan badan peradilan di
baeahnya yaitu pengadilan tinggi dan pengadilan negeri seta sebuah Mahkamh
Konstitusi.
i. Lembaga negara lainnya adalah Badan Pemeriksa Keuangan dan Komisi Yudisial.
4. Masa Depan Demokrasi
Dewasa ini demokrasi telah menjadi tolok ukur tak terbantah keabsahan politik semua
bangsa di dunia. Di penghuung abad ke-20 kita menyaksikan gelombang aneksasi
paham demokrasi mewabah ke seluruh dunia. Demokratisasi telah menjadi isu global
berbarengan dengan isu hak asasi manusia dan persoalan lingkungan hidup. Semua
optimis dan berharap akan masa depan demokrasi.
Setidaknya ada 5 (lima) kondisi yang diperlukan bagi kelancaran demokratisasi di
negara-negara berkembang, yaitu sebagai berikut.
a. Pengakuan struktur ekonomi yang berbasis keadilan sehingga memungkinkan
terwujudnya prinsip kesederajatan warga negara.
b. Tersedianya kebutuhan-kebutuhan dasar bagi kepentingan survave warga negara
seperi pangan, kesehata, dan pendidikan.
c. Kemapanan kesatuan dan identitas nasional sehingga tahan terhadap pembelahan dan
perbedaan sosial politik warga negara.
d. Pengetahuan yang luas, pendidikan, kedewasaan, sikap toleransi, dan rasa
tanggungjawab dalam menggunakan sumber-sumber publiksecara efisien.
f. Pangkuan yang berkelanjutan dari negara-negara demokratis terhadap praktik
demokrasi yang berjalan dan secara khusus bersedia menawarkan pelatiha dan
penyebarluaskan praktik demokrasi yang baik dan kredibel.
Pendapat lain menyatakan, diperlukan 5 (lima) kondisi yang dianggap mendukung
pembangunan demokrasi yang stabil, yaitu sebagai berikut.
a. Para pemimpin tidak menggunakan instrumen kekerasan, yyaitu polisi dan militer
untuk meraih dan mempertahankan kekuasaan.
b. Terdapatnya organisasi masyarakat pluralis yang modern dan dinamis.
c. Potensi konflik dalam pluralisme subkultural dipertahankan pada level yang masih
dapat ditoleransi.
d. Di antara penduduk negeri, khususnya lapisan politik aktif, terdapat budaya politik
dan sistem keyakinan yang mendukung ide dan lembaga demokrasi.
e. Dampak dari pengaruh dan kontrol oleh negara asing dapat meghambat atau
mendukung secara positif.
Masa depan demokrasi Indonesia sesungguhnya telah mendapat pijakan kuat atas
46

keberhasilan Orde Baru memajukan pendidikan dan kesehatan warga negara. Tingkat
pendidikan yang tinggi dengan semakin banyaknya kelas menengah terdidik membawa
harapan bagi demokrasi di Indonesia, setidaknya memberi basis bagi berkembangnya
tradisi dan nilai-nilai demokrasi di masyarakat. Harapan lain adalah semakin kuatnya
peranan media massa dalam proses pendidikan politik dan kontrol negara, tingkat
urbanisasi dan mobilitas tinggi warga negara yang memungkinkan terjadinya
pluralisasi dan heterogenisasi.
Pelacakan historis di Indonesia konon menunjukkan bahwa feodalisme merupakan
salah satu penghambat berkembangnya demokrasi dalam realitas hidup sehari-hari.
Contohnya adalah subbudaya politik Jawa yang memunculkan budaya patron-client.
Feodalisme atau masyarakat yang feodalistik sangat sulit dimasuki kepribadian
demokratis yang bercirikan inisiatif, disposisi resiprositas, toleransi, kecintaan terhadap
keterbukaan, komitmen dan tanggungjawab, dan kerja sama keterhubungan.
E. PENDIDIKAN DEMOKRASI
Berdasarpada uraian-uraian sebelumnya dapat diambil kesimpulan bahwa sistem
politik demokrasi suatu negara berkaitan dengan dua hal yaitu institusi (struktur)
demokrasi dan perilaku (kultur) demokrasi. Menjamin analisis Gabriel Almond dan
Sidney Verba, bahwa kematangan budaya politik akan tercapai bila ada keserasian
antara struktur dengan kultur, maka membangun masyarakat demokrasi berarti usaha
menciptakan keserasian antara struktur yang demokratis dengan kultur yang
demokratis.
Masyarakat yang demokratis adalah masyarakat yang perilaku hidup baik keseharian
dan kenegaraannya dilandasi oleh nilai-nilai demokrasi. Mengutip pendapatannya
Hanry B. Mayo, nilai-niali demokrasi meliputi: damai dan sukarela, adil, menghargai
perbedaan, menghormati kebebasan, memahami keanekaragaman, teratur, paksaan
yang minimal dan memajukan ilmu. Membangun kultur demokrasi berarti
mengenalkan, mensosialisasikan dan menegakkan nilai-nilai demokrasi pada
masyarakat.
Pendidikan demokrasi pada hakikatnya adalah sosialisasi nilai-nilai demokrasi supaya
bisa diterima dan dijalankan oleh warga negara. Pendidikan demokrasi bertujuan
mempersiapkan warga masyarakat berperilku dan bertindak demokratis, melalui
aktivitas menanamkan pada generasi muda akan pengetahuan, kesadaran, dan nilainiali demokrasi. Pengetahuan dan kesadaran akan nilai demokrasi itu meliputi tiga hal.
Pertama, kesadaran bahwa demokrasi adalah pola kehidupan yang paling menjamin
hak-hak warga masyarakat itu sendiri, demokrasi adalah pilihan terbaik di antara yang
buruk tentang pola hidup bernegara. Kedua, demokrasi adalah sebuah learning process
yang lama dan tidak sekedar meniru dari masyarakat lain. Ketiga, kelangsungan
demokrasi tergantung pada keberhasilan mentransformasikan nilai-niali demokrasi
pada masyarakat.
Indonesia sesungguhnya memiliki pengalaman yang kaya akan pendidikan demokrasi.
Menurut Udin S. Winatapura (2001), sejak tahun 1945 sampai sekarang instrumen
perundangan sudah menempatkan pendidikan demokrasi dan HAM sebagai bagian
integral dari pendidikan nasional. Misalnya, dalam usulan BP KNIP tanggal 29
Desember 1945 dikemukakan bahwa "Pendidikan dan pengajaran harus membimbing
murid-murid menjadi warga negara yang mempunyai rasa tanggungjawab"' yang
kemudian oleh kementrian PPK dirumuskan dalam tujuan pendidikan : "...untuk
mendidik warga negara yang sejati yang bersedia menyumbangkan tenaga dan pikiran
untuk negara dan masyarakat" dengan ciri-ciri sebagai berikut: "Perasaan bakti
kepada Tuhan Yang Maha Esa; perasaan cinta kepada negara; perasaan cinta kepada
bangsa dan kebudayaan; perasaan berhak dan wajib ikut memajukan negaranya
47

menurut pembawaan dan kekuatannya; keyakinan bahwa orang menjadi bagian tak
terpisahkan dari keluarga dan masyarakat; keyakinan bahwa orang hidup
bemasyarakat harus tunduk pada tata tertib; keyakinan bahwa pada dasarnya
manusia itu sama derajatnya sehingga sesama anggota masyarakat harus saling
menghormat, berdasarkan rasa keadilan dengan berpegang teguh pada harga diri;
dan keyakinan bahwa negara memerlukan warga negara yang rajin bekerja,
mengetahui kewajiban, dan jujur dalam pemikiran dan tindakan". Dari hutipan di atas
dapat dilihat bahwa semua ide yang terkandung dalam butir-butir rumusan tujuan
pendidikan nasional sesungguhnya merupakan esensi pendidikan demokrasi dan HAM.
Intenational Commission of Jurist sebagai organisasi ahli hukum internasional dalam
konferensinya di Bangkok tahun 1965 mengemukakan bahwa syarat-syarat dasar untuk
terselenggaranya pemerintah yang demokratis di bawah Rule of Law ialah:
a. perlindungan konstitusional , dalam arti bahwa konstitusi, selain menjamin hak-hak
individu, harus menentukan pula cara proedural untuk memperoleh perlindungan atas
hak-hak yang dijamin;
b. badan kehakiman yang bebas dan tidak memihak;
c. pemilihan umum yang bebas;
d. kebebasan untuk menyatakan pendapat;
e. kebebasan untuk berserikat/berorganisasi dan beroposisi;
f. pendidikan kewarganegaraan.
Namun berdasarkan praktik pendidikan selama ini, pendidikan kewarganegaraan di
Indonesia ternyata tidak hanya mengemban misi sebagai pendidikan demokras.
Pendidikan kewarganegaraan mengemban misi, sebagai berikut:
a. pendidikan kewarganegaraan sebagai pendidikan kewarganegaraan dalam arti
sesungguhnya yaitu civic edication.
b. pendidikan kewarganegaraan sebagai pendidik nilai dan karakter.
c. pendidikan kewarganegaraan sebagai pendidikan bela negara.
d. pendidikan kewarganegaraan sebagai pendidikan demokrasi (politik).

48

BAB 7
NEGARA HUKUM DAN HAK ASASI MANUSIA

Negara hukum merupakan terjemahan dari konsep Rechtsstaat atau Rule of low
yang bersumber dari pengalaman demokrasi konstitusional dieropa abad ke-19 dan ke20. oleh karena itu, negara demokrasi pada dasarnya adalah negara hukum. Ciri negara
hukum antara lain : adanya supremasi hukum, jaminan hak asasi manusia, dan legalitas
hukum. Dinegara hukum, peraturan perundang-undangan yang berpuncak pada undangundang dasar (konstitusi) merupakan satu kesatuan sistem hukum sebagai landasan bagi
setiap penyelenggaraan kekuasaan.
Negara indonesia adalah negara hukum. Hal ini tertuang secara jelas dalam
pasal 1 ayat (3) UUD 1945 perubahan ketiga yang berbunyi negara indonesia adalah
negara hukum. Artinya ; Negara Kesatuan Republik Indonesia adalah negara yang
berdasar atas hukum (reechtsstaat), tidak berdasar atas kekuasaan (machtsstaat), dan
pemerintahan berdasarkan sistem konstitusi (hukum dasar), bukan absolutisme
(kekuasaan yang tidak terbatas). Sebagai konsekuensi dari pasal 1 ayat (3) amandemen
ketiga Undang-Undang Dasar 1945, 3 (tiga) prinsip dasar wajib dijunjung oleh setiap
warga negara yaitu supremasi hukum, kesataraan dihadapan hukum, dan penegakan
hukum dengan cara-cara yang tidak bertentangan dengan hukum (RPJM 2004-2009).
Perwujudan hukum tersebut terdapat dalam UUD 1945 serta peraturan
perundang-undangan dibawahnya. Negara bertujuan melindungi segenap bangsa dan
seluruh tumpah darah indonesia serta turut memajukan kesejahteraan umum dan
kecerdasan rakyat. Negara hukum Indonesia menganut konsep negara hukum materil.
Negara hukum bewrkaitan dengan hak asai manusia. Sebab, salah satu ciri dari
negara hukum adanya jaminan atas hak asasi manusia. Oleh karena itu, negara hukum
bertanggung jawab atas perlindungan dan penegakan hak asasi para warganya.
Bahasan mengenai negara hukum dan hak asasi manusia pada bab ini meliputi :
1.
2.
3.
4.
5.

Konsep dan Ciri Negara Hukum;


Negara Hukum Indonesia;
Hakikat Hak asasi Manusia;
Sejarah Perkembangan Hak Asasi Manusia;
Hak asasi Manusia di Indonesia.
A. KONSEP DAN CIRI NEGARA HUKUM
1. Pengertian Negara Hukum
Negara hukum merupakan terjemahan dari istilah Rechtsstaat atau Rule of Law.
Rechtsstaat atau Rule of Law itu sendiri dapat dikatakan sebagai bentuk perumusan
yuridis dari gagasan konstitusionalisme.Oleh karena itu, konstitusi dan negar
(hukum) merupakan dua lembaga yang tidak terpisahkan.
Secara sedarhana, yang dimaksud dengan negara hukum adalah negara yang
penyelengaraan kekuasaan pemerintahannya didassarkan atas hukum. Didalamnya
pemerintah dan lembaga-lembaga lain dalam melaksanakan tindakan apapun harus
dilandasi oleh hukum dan dapat dipertanggung jawabkan secara hukum. Dalam
49

negara hukum, kekuasaan menjalankan pemerintahan berdasarkan kedaulatan


hukum ( supremasi hukum ) dan bertujuan untuk menyelengarakan ketertiban
hukum ( Mustafa Kamal Pasha,2003).
Pengertian diataas belum lengkap, oleh karena dapat saja negara berdasar atas suatu
hukum tetapi justru landasan hukum yang dibuat tersebut dugunakan untuk
menyalahgunakan kekuasaan serta tidak menjamin kepentingan rakyat. Di dalam
negara hukum , hukum sebagai dasar diwujudkan dalam peraturan perundangundangan yang berpuncak pada konsitusi atau hukum dasar negara. Konstitusi
negara juga harus berisi gagasan atau ide tentang konstitusionalisme. Dengan
demikian didalam negara hukum, kekuasaan negara berdasar atas hukum bukan
kekuasaan belaka serta pemerintahan negara berdasar pada konstitusi yang
berpaham konstitusionalisme.
Negara berdasar atas hukum menempatkan hukum sebagai hal yang tertinggi
(supreme) sehingga ada istilah supremasi hukum. Supremasi hukum harus tidak
boleh mengabaikan tiga ide dasar hukum, Yaitu keadilan, kemanfaatan, dan
kepastian (achmad Ali; 2002). Oleh karenanya, negara dalam melaksanakan hukum
harus memperhatikan tiga hal tersebut. Di negara hukum, hukum tidak hanya
sekedar sebagai formalitas atau prosedur belaka dari kekuasaan. Bila sekedar
formalitas,hukum dapat menjadi sarana pembenaran untuk dapat melakukan
tindakan yang salah atau menyimpang. Contoh, pada masa lalu presiden sering
membuat Keppres sebagai tempat berlindung dengan dalih telah berdasarkan
hukum, padahal dengan Keppres tersebut presiden dapat menyalahgunakan
kekuasaannya. Oleh karena itu di negara hukum, hukum harus tidak boleh
mengabaikan rasa keadilan masyarakat.
Apabila negara berdasar atas hukum, pemerintahan negara itu juga harus berdasar
atas hukum suatu konstitusi atau undang-undang dasar sebagai landasan
penyelenggaraan pemerintahan. Konstitusi dalam negara hukum adalah konstitusi
yang bercirikan gagasan konstitusianalisme yaitu adanya pembatasan atas
kekuasaan dari jaminan hak dasar warga negara. Tanpa adanya konstitusi yang
demikian, sulit untuk disebut negara hukum. Negara-negara komunis atau negara
otoriter memiliki konstitusi tetapi menolak gagasan tentang konstitusionalisme
sehingga tidak dapat disebut negara hukum dalam arti yang sesunggunya.
Negara hukum adalah unik, sebab negara hendak dipahami sebagai suatu konsep
hukum (Jimly Asshiddiqie,2004). Di katakan sebagai suatu konsep yang unik sebab
tidak konsep misalnya negara politik, negara ekonomi dan sebagainya. Dalam
negara hukum nantinya akan terdapat satu kesatuan sistem hukum yang berpuncak
pada konstitusi atau undang-undang dasar. Dengan adanya sistem hukum,
penyelengaraan negara dan rakyat dapat bersatu dibawah dan tunduk pada sistem
yang berlaku. Dengan demikian, dalam negara yang berdasar atas hukum, konstitusi
negara merupakan sarana pemersatu bangsa. Hubungan antara warga negara dengan
negara, hubungan antar lembaga negara dan kinerja masing-masing elemen
kekuasaan berada pada satu sistem atauran yang disepakati dan dijunjung tinggi.
2. Negara Hukum Formil dan Negara Hukum Materiil
Salah satu ciri penting dalam negara yang meganut konstitusionalisme yang
hidup pada abad ke-19 adalah sifat pemerintahannya yang pasif, artinya pemerintah
hanya sebagai wasit atau pelaksana dari berbagai keinginan rakyat yang dirumuskan
50

para wakilnya di parlemen. Di sini peranan negara lebih kecil daripada peranan
rakyat karena pemerintah hanya menjadi pelaksana (tunduk pada) keinginankeinginan rakyat yang diperjuangkan secara liberal untuk menjadi keputusan
parlemen.
Jika dikaitkan dengan Trias Politik dalam konsep Montesquieu, tugas pemerintah
terbatas pada tugas eksekutif, yaitu melaksanakan undang-undang yang dibuat oleh
parlemen. Tugas pemerintah hanyalah melaksanakan apa yang telah di putuskan
oleh parlemen. Pada waktu itu (abad ke-19) masih dikuasai gagasan bahwa
pemerintah hendaknya tidak turut campur dalam urusan warga negaranya kecuali
dalam hal menyangkut kepentingan umum seperti bencana alam, hubungan luar
negeri dan pertahanan negara (Mirriam Budiarjo,1997) Aliran ini disebut
liberalisme yang dirumuskan dalam dalil The least government is the best
government (pemerintahan yang paling sedikit mengatur adalah pemerintahan yang
baik).
Negara dalam pandangan ini adalah negara yang memiliki ruang gerak sempit.
Negara mengurus hal-hal sedikit sedangkan yang banyak terutama dalam
kepentingan ekonomi diserahkan pada warga secara liberal. Negara hanya
mempunyai tugas pasif, yaitu baru bertindak apabila hak-hak warga negara
dilanggar atau ketertiban keamananumum terancam.Konsepsi negara demikian
adalah negara hukum dalam arti sempit atau disebut negara hukum formil, negara
hukum klasik. Negara dalam pandangan ini hanya dianggap sebagai Negara
Penjaga Malam (Nachtwachterstaat).
Jadi negara hukum formil adalah negara hukum dalam arti sempit yaitu negara yang
membatasi ruang geraknya dan bersifat pasif terhadap kepentingan rakyat negara.
Negara tidak campur tangan secara banyak terhadap urusan dan kepentingan warga
negara. Urusan ekonomi diserahkan pada warga dengan dalil Laissez faire, laissez
aler yang berarti bahwa warga dibiarkan mengurus kepentingan ekonominya sendiri
maka dengan sendirinya perekonomian negara akan sehat.
Negara hukum formil dikecam banyak pihak karena mengakibatkan kesenjangan
Ekonomi Yang amat mencolok terutama setelah Perang Dunia Kedua. Gagasan
bahwa pemerintah dilarang campur tangan dalam urusan warga baik dalam bidang
ekonomi dan sosial lambat laun berubah menjadi gagasan bahwa pemerintah
bertanggung jawab atas kesejahteraan rakyat dan karenanya harus aktif mengatur
kehidupan ekonomi dan sosial (Mirriam Budiarjo,1997). Untuk itu pemerintah tidak
boleh pasif atau berlaku seperti penjaga malam melainkan harus aktif melakukan
upaya-upaya membangun kesejahteraan rakyat.
Gagasan baru ini disebut dengan Welfare State atau Negara Kesejahteraan. Sebagai
konsep hukum, negara yang muncul adalah Negara Hukum Materiil atau negara
Hukum dalam arti luas. Dalam negara hukum materiil atau dapat disebut negara
hukum modern, pemerintah diberi tugas membangun kesejahteraan umum
diberbagai lapangan kehidupan.untuk itu pemerintah diberi kewenagan atau
kemerdekaan untuk turut campur dalam urusan warga negara. Pemerintah diberi
Freises Ermessen, yaitu kemerdekaan yang dimiliki pemerintah untuk turut serta
dalam kehidupan ekonomi sosial dan keleluasaan untuk tidak terikat pada produk
legislasi perlemen.

51

Konsep negara hukum materiil (modern) dengan demikian berbeda dengan konsep
negara hukum formil (klasik) yang muncul pada abad ke-19. Pemerintah dalam
negara hukum materiil bisa bertindak lebih luas dalam urusan dan kepentingan
publik jauh melebihi batas-batas yang pernah diatur dalam konsep negara hukum
formil. Pemerintah (eksekutif) bahkan bisa memiliki kewenagan legislatif.
Kewenagan ini meliputi tiga hal, pertama, adanya hak inisiatif yaitu hak
mengajukan rancangan undang-undang bahkan membuat peraturan perundangundangan yang sederajat dengan undang-undang tanpa terlebih dahulu persetujuan
parlemen, meskipun dibatasi kurun waktu tertentu. Kedua, hak delegasi, yaitu
membuat peraturan perundang-undangan dibawah undang-undang,dan ketiga Driot
ermesen ( menafsirkan sendiri aturan-aturan yang masih enunsiatif) (Mahfud
MD,1993).
Jadi, Negara hukum materiil ( negara hukum modern) atau dapat disebut Welfare
State adalah negara yang pemerintahnya memiliki keleluasaan untuk turut campur
tangan dalam urusan warga dengan dasar bahwa pemerintah ikut bertanggung
jawab terhadap kesejahteraan rakyat. Negara bersifat aktif dan mandiri dalam upaya
membangun kesejahteraan rakyat.
3. Ciri-Ciri Negara Hukum
Negara Hukum Yang muncul pada abad ke-19 adalah negara hukum formil atau
negara hukum dalam arti sempit. Pada uraian sebelumnya telah dikemukakan
bahwa negara hukum merupakan terjemahan dari istilah Rechtsstaat atau Rule of
Law. Istilah Rechtsstaat diberikan oleh para ahli hukum Eropa Kontinental sedang
Istilah Rule Of Law diberikan oleh para ahli Hukum Anglo Saxon.
Friedrich Julius Stahl dari kalangan ahli hukum Eropa Kontinental memberikan
ciri-ciri Rechtsstaat sebagai berikut.
a. Hak asasi manusia.
b. Pemisahan atau pembagian kekuasaan untuk menjamin hak asasi manusia yang
biasa dikenal sebagai Trias Politika.
c. Pemerintahan berdasarkan peraturan peraturan.
d. Peradilan administrasi dalam perselisihan
Adapun AV Dicey dari kalangan ahli hukum Anglo Saxon memberi ciri-ciri
Rule of Law sebagai berikut.
a. Supremasi hukum, dalam arti tidak boleh ada kesewenag-wenangan,sehingga
seseoarang hanya boleh dihukum jika melanggar hukum.
b. Kedudukan yang sama didepan hukum, baik bagi rakyat biasa maupun bagi
pejabat.
c. Terjaminnya hak-hak manusia dalam undang-undang atau keputusan
pengadilan.
Ciri-ciri Rechtsstaat atau Rule of Law diatas masih dipengaruhi oleh konsep
negara hukum formil atau negara hukum dalam arti sempit. Dari pencirian diatas
terlihat bahwa peranan pemerintah hanya sedikit, karena ada dalil bahwa
pemerintah yang sedikit adalah pemerintah yang baik.
Dengan Munculnya konsep negara hukum materiil pada abad ke-20 maka
perumusan ciri-ciri negara hukum sebagaimana dikemukakan oleh Stahl dan Discey
diatas kemudian ditinjau lagi sehingga dapat menggambarkan perluasan tugas
pemerintah yang tidak boleh lagi bersifat pasif.
52

Sebuah komisi para juris yang tergabung dalam International Commission of


Jurits pada konferensinya di Bankok tahun 1965 merumuskan ciri-ciri pemerintahan
yang demokratis di bawah Rule of Law yang dinamis. Ciri-ciri trsebut adalah
a. Perlindungan konstitusional, dalam arti bahwa konstitusi selain menjamin hakhak individual harus menentukan pula cara prosedural untuk memperoleh
perlindungan atas hak-hak yang dijamin;
b. Badan kehakiman yang bebas dan tidak memihak;
c. Kebeasan untuk menyatakan pendapat;
d. Pemilihan umum yang bebas;
e. Kebebasan untuk berorganisasi dan beroposisi;
f. Pendidikan civics (kewarganegaraan).
Dari pencirian seperti itu terlihat bahwa adanya pengakuan terhadap perluasan
tugas pemerintah (eksekutif) agar lebih menjadi lebih aktif tidak hanya selaku
penjaga malam.Pemerintahan diberi tugas dan tanggung jawab membangun
kesejahteraan dan pemerataan yang adil bagi rakyatnya. Ciri-ciri negara hukum
diatas sudah dipengaruhi oleh konsepsi negara hukum dan materiil (modern).
Disamping perumusan ciri-ciri negara hukum seperti diatas, ada pula berbagai
pendapat mengenai ciri-ciri negara hukum yang dikemukakan oleh para ahli.
Menurut Montesquieu, Negara yang dipaling baik ialah negara hukum,sebab
didalam konstitusi dibanyak negara terkandung tiga inti pokok, Yaitu
a. Perlindungan HAM,
b. Ditetapkanya ketatanegaraan suatu negara, dan
c. Membatasi kekuasaan dan wewenang organ-organ negara.
Prof. Sudargo Gautama mengemukakan ada tiga (tiga) ciri atau unsur dari
negara hukum, Yakni sebagai berikut:
a. Terdapat pembatasan kekuasaan negara terhadap perorangan, maksudnya
negara tidak dapat bertindak sewenang-wenang. Tindakan negara dibatasi oleh
hukum, Individual mempunyai hak terhadap negara atau rakyat mempunyai hak
terhadap penguasa.
b. Asas legalitas
Setiap tindakan negara harus berdasarkan hukum yang telah diadakan terlebih
dahulu yang harus ditaati juga oleh pemerintah atau aparaturnya.
c. Pemisahaan kekuasaan
Agar hak-hak asasi itu betul-betul terlindungi, diadakan pemisahan kekuasaan
yaitu badan yang membuat peraturan perundang-undangan, melaksanakan, dan
badan yang mengadili harus terpisah satu sama lain tidak berada dalam satu
tangan.
Frans Magnis Suseno (1997) mengemukakan adanya 5 (lima) ciri negara hukum
sebagai salah satu ciri hakiki negara demokrasi,Kelima ciri negara hukum
tersebut adalah sebagai berikut.
a. fungsi kenegaraan dijalnkan oleh lembaga yang bersangkutan sesuai dengan
ketetapan sebuah undang-undang dasar.
b. Undang-Undang Dasar menjamin hak asasi manusia yang paling penting.karena
tanpa jaminan tersebut,hukum akan menjadi sarana penindasan jaminan hak
asasi manusia memastikan bahwa pemerintah tidak dapat menyalhgunakan
hukum untuk tindakan yang tidak adil atau tercela.
53

c. Badan-Badan negara menjalankan kekuasaan masing-masing selalu dan hanya


taat pada dasar hukum yang berlaku
d. Terhadap tindakan badan negara, masyarakat dapat mengadu ke pengadilan dan
putusan pengadilan dilaksanakan oleh badan negara.
e. Badan kehakiman bebas dan tidak memihak
Mustafa Kamal Pasha(2003) mennyatakan adanya tiga ciri khas negara hukum
yaitu.
a. Pengakuan dan perlindungan terhadap hak asasi manusia
Di dalam ciri ini terkandung ketentuan bahwa di dalam suatu negara hukum dijamin
adanya perlindungan hak asasi manusia berdasarkan ketentuan hukum. Jaminan itu
umunya dituangkan dalam konstitusi negara bukan pada peraturan perundangundangan dibawah konstitusi negara. Undang-Undang Dasar negara berisi
ketentuan-ketentuan tentang hak asasi manusia. Inilah salah satu gagasan
konstitusionalisme
b. Peradilan yang bebas dari pengaruh kekuasaan lain dan tidak memihak
Dalam Ciri ini terkandung ketentuan bahwa pengadilan sebagai lembaga peradilan
dan badan kehakiman harus benar-benar independen dalam membuat putusan
hukum, tidak dipengaruhi oleh kekuasaan lain terutama kekuasaan eksekutif.
Dengan wewenang sebagai lembaga yang mandiri terbebas dari kekuasaan lain,
diharapkan negara dapat menegakan kebenaran dan keadilan.
c. Legalitas dalam arti hukum dalam segala bentuk
Bahwa segala tindakan penyelengara negara maupun warga negara dibenarkan oleh
kaidah hukum yang berlaku serta dapat dipertanggung jawabkan secara hukum.
B. NEGARA HUKUM INDONESIA
1. Landasan yuridis negara hukum indonesia
Dasar pijakan bahwa negara indonesia adalah negara hukum sekarang ini
tertuang dengan jelas pada pasal 1 ayat (3) UUD 1945 Perubahan ke tiga, yang
berbunyi negara indonesia adalah negara hukum.dimasukannya ketentuan ini
kedalam bagian pasal UUD 1945 Menunjukan semakin kuatnya dasar hukum
serta menjadi amanat negara, bahwa negara indonesia adalah dan harus
merupakan negara hukum.
Sebelumnya landasan negara indonesia kita temukan dalam bagian penjelasan
umum UUD 1945 tentang sistem pemerintahan nagara, yaitu sebagai berikut.
1. Indonesia ialah negara yang berdasar atas hukum (Rechtsstaat). Negara
indonesia berdasar atas hukum (Rechtsstaat), tidak berdasar atas kekuasaan
belaka (Machtsstsaat).
2. Sistem Kontstitusional Pemerintah berdasar atas sistem konstitusi (hukum
dasar), tidak bersifat absolutisme (kekuasaan yang tidak terbatas).
Berdasarkan perumusan diatas, negara indonesia memakai istilah Rechtsstaat yang
kemungkinan dipengaruhi oleh konsep hukum belanda yang termasuk dalam
wilayah Eropa kontinental. Perumusan negara hukum indonesia adalah
a. Negara berdasar atas hukum, bukan berdasar atas kekuasaan belaka
b. Pemerintah negara berdasar atas suatu konstitrusi dengan kekuasaan
pemerintahaan terbatas tidak absolut.
54

Konsepsi negara hukum indonesia dapat kita masukan dalam konsep negara hukum
material atau negara hukum dalam arti luas. Hal ini dapat kita ketahui dari
perumusan mengenai tujuan bernegara sebagaimana tertuang dalam UUD 1945
alinea IV. Dalam hal tujuan bernegara, negara bertugas dan bertanggung jawab
tidak hanya melindungi segenap bangsa indonesia dan seluruh tumpah darah
indonesia tetapi juga memajukan kesejahteraan umum,
Dasar lain yang dapat dijadikan landasan bahwa indonesia adalah negara hukum
dalam arti materiil terdapat dalam bagian pasal-pasal UUD 1945, Sebagai berikut.
Pada Bab XIV tentang perekonomian negara dan kesejahteraan sosial pasal 33 dan
34 UUD 1945, yang menegaskan bahwa negara turut aktif dan bertabggung jawab
atas perekonomian negara dan kesejahteraan rakyat. Adapun rumusan-rumusan
tersebut sebagai berikut.
Pasal 33
1. Perekonomian disusun sebagai usaha bersama berdasar atas kekeluargaan
2. Cabang Cabang Produksi yang penting bagi negara dan yang menguasai hajat
hidup orang banyak dikuasai oleh negara
3. bumi dan air dan kekayaan alam ynag terkandung di dalamnya dikuasai oleh
negara dan dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat.
4. perekonomian nasional diselenggarakan berdasar atas demokrasi ekonomi
dengan prnsip kebersamaan, efesiensi berkadilan, berkelanjutan, berwawasan
lingkungan, kemandirian.
Pewujudan Negara Hukum Indonesia
Oprasionalsasi dari konsep negara hukum indonesia dituangkan dalam konstitusi
negara, yaitu UUD 1945. UUD 1945 merupakan hukum dasar negara yang
menempati posisi sebagai hukum negara tertinggi dalam tertib hukum (legal order)
Indonesia. Di bawah UUD 1945 terdapat berbagai aturan hukum/peraturan
perundang-undangan yang bersumber dan berdasarakan pada UUD 1945.
Adpun tata urutan perundangan adalah sebagai berikut:
1.
2.
3.
4.
5.

Undang-undang Dasar 1945


ketetapan majelis Permusyawaratan Rakyat republik Indonesia
undang-undang
peraturan pemerintah pengganti undang-undang (Perpu)
peraturan pemerintah
a. keputusan Presiden
b. Peraturan Daerah

Hubungan Negara Hukum Dengan Demokrasi


Hubungan negara dengan demokrasi dapat di nyataka bahwa negara demokrasi
pada dasarnya adalah negara hukum. Namun, negara hukum belum tentu negara
demokrasi. Negara hukum hanyalah satu ciri dari negara demokrasi. Franz Magnis
Suseno menyatakan adanya 5 gugus ciri hakiki dari negara demokrasi yaitu
sebagai berikut:
1. Negara hukum
2. pemerintah dibawah kontrol nyata masyarakat
55

3. pemilihan umum yang bebas


4. prinsip mayoritas
5. adanya jaminan terhadap hak-hak demkratis.
C. HAKIKAT HAK ASASI MANUSIA
1. Pengertian Hak Asasi Manusia
Hak asasi manusia merupakan hak dasar yang melekat dan dimiliki setiap manusia
sebagai anugerah tuhan yang maha esa. Mustafa kemal pasha menyatakan bahwa
yang dimaksud dengan hak asasi manusia ialah hak-hak dasar manusia yang
dibawah sejak lahir yang melekat pada esensinya sebagai anugerah Allah SWT
Pengakuan terhadap HAM memiliki dua landasan, sebagai berikut
Landasan yang langsung dan pertama, yakni kodrat manusia.kodrat manusia adalah
sama derajat dan martabatnya.
Landsasan yang kedua dan yang lebih dalam tuhan menciptakan manusia semua
manusia adalah makhluk dari pencipta yang sama yaitu Tuhan yang Maha Esa.
Hak asasi manusia wajib dihormati , dijunjung tinggi, dan dilindungi oleh negara,
hukum, pemerintah dan setiap orang demi kehormatan serta perlindungan harkat dan
martabat manusia.
Secara definitif, hak artinya kekuasaan atau wewenang yang dimiliki seseorang
atas suatu diluar dirinya (Suria Kusuma, 1986), kabalikan dari hak adalah kewajiban
berarti tugas yang harus dijalankan manusia untuk mengakui kekuasaan itu. Setiap
orang memiliki hak dasar memeluk agama, yang berarti kebebasan dan kewengan dia
untuk menganut suatu agama sedangkan orang lain memiliki kewajiban untuk
mengakui kewengan orang tersebut. Hubungan ini akan terjadi bilamana ada
pengakuan yang sama antar manusia itu sendiri.
Istilah hak azazi manusia bermula dari Barat yang dikenal dengan Right of man untuk
menggantikan natural right. Karena istilah right of man tidak mencakup right of
woman maka oleh elanor roselvelt diganti dengan istilah human right yang lebih
universal dan netral (Gazali, 2004).
Istilah natural right berasal dari konsep Jhon Looke (1632-1704) mengenai hakhak alamiah manusia. John Looke mengambarkan bahwa kehidupan manusia yang asli
sebelum bernegara (state of nature) memiliki hak-hak dasar perorangan yang alami.
Hak-hak alamiah itu meliputi hak untuk hidup, hak untuk kemerdekaan, dan hak milik,
serta bernegara , hak-hak itu tidak lenyap tetapi justru harus dijamin dalam kehidupan
bernegara.
2. Macam hak asasi manusia.
Berdasarkan pada undang-undang Nomor 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi
Manusia, dinyatakan bahwa hak manusia adalah seperangkat hak yang melekat pada
hakikat dan keberdaan manusia sebagai mahluk Tuhan Yang Maha Esa dan merupakan
Anugrah-Nya yang wajib dihormati, dan dijunjung tinggi, dan dilindungi oleh negara
hukum, pemerintahan, dan setiap orang demi kehormatan serta perlindungan harkat dan
martabat manusia.

56

Berdasarkan pengertian hak asasi manusia, ciri pokok dari hak manusia adalah (Tim
ICCE UIN, 2003) :
1. Hak asasi manusia tidak perlu diberikan, dibeli ataupu diwarisi. Hak asasi manusia
adalah bagian dari manusia secara otomatis.
2. Hak asasi manusia berlaku untuk semua orang tanpa memandang jenis kelamin,
asal-usul, ras, agama, etik, dan pandangan politik.
3. hak asasi manusia tidak boleh dilanggar . tidak seorangpun mempunyai hak untuk
membatasi atau melanggar hak orang lain. Orang tetap memiliki hak asasi manusia
sekalipun sebuah negara membuat hukum yang tidak melindungi bahkan melanggar
hak asasi manusia.
Hak asasi manusia merupakan hak dasar dari manusia. Apa saja yang termasuk hak
dasar manusia itu senantiasa
berubah ukuran
menurut ukuran zaman dan
perumusannya. Beberapa contoh hak dasar tersebut sebagai berikut :
a. Hak asasi manusia menurut Piagam PBB tentang Deklarasi Universal of Human
Right 1948, meliputi :
a. Hak berpikir dan mengeluarkan pendapat
b. Hak memiliki sesuatu
c. Hak mendapatkan pendidikan dan pengajaran
d. Hak menganut aliran kepercayaan atau agam
e. Hak untuk hidup
f. Hak untuk kemerdekaan kemerdekaan hidup
g. Hak untuk memperoleh nama baik
h. Hak untuk memperoleh pekerjaan, dan
i. Hak untuk mendapatkan perlindungan hukum
b. Hak asasi manusia menurut undang-undang nomor 39 tahun 1999 tentang hak asasi
manusia, meliputi :
a. Hak untuk hidup
b. Hak untuk berkeluarga
c. Hak mengembangkan diri
d. Hak keadilan
e. Hak kemerdekaan
f. Hak berkomunikasi
g. Hak keamanan
h. Hak kesejahteraan, dan
i. Hak perlindungan
hak manusia meliputi berbagai bidang, sebagai berikut :
a. hak asasi pribadi (Personal Rights), misal, hak kemerdekaan, hak menyatakan
pendapat, hak memeluk agama,
b. hak asasi politik (Political Rights), yaitu hak untuk diakui sebagai warga negara.
Misalnya memilih dan dipilih, hak berserikat, dan hak berkumpul
c. hak asasi ekonomi (property Rights), misal hak memiliki sesuatu, hak mengadakan
perjanjian , hak bekerja, hak mendapat hidup layak.
d. Hak asasi sosial dan kebudayaan (Social And Cultural Rights), misal, mendapatkan
pendidikan, hak mendapat santunan, hak pensiun, hak mengembangkan
kebudayaan, hak berekspresi.
e. Hak untuk mendapat perlakuan yang sama dalam hukum dan pemerintaha (Rights
of Legal Equality).
f. Hak untuk mendapat perlakuan yang sama dalam tata cara peradilan dan
perlindungan (Procedural Rights)
57

D. SEJARAH PERKEMBANGAN HAK ASASI MANUSIA


Sejarah Pengakuan Hak Asasi Manusia
Latar belakang sejarah hak asasi manusia, pada hakikatnya, muncul karena
inisiatif manusia terhadap harga diri dan martabatnya, sebagai akibat tindaka
sewenang-wenang dari penguasa, penjajahan, perbudaka, ketidakadilan, dan kezaliman
(tirani)
Perkembangan pengakuan hak asasi manusia itu berjalan secara perlahan dan beraneka
ragam. Perkembangan dapat kita lihat berikut ini :
a. Perkembangan hak asasi manusia pada masa sejarah
1. Perjuangan nabi musa dalam membebaskan umat yahudi dari Perbudakan (tahun
6000 sebelum masehi)
2. Hukum Hammurabi di Babylonia yang memberi jaminan keadilan bagi warga
negara (tahun 2000 sebelum masehi).
3. Socrates (469-399SM), Plato (429-347 SM), dan Aristoteles (384-322 SM) sebagai
filsuf Yunani peletak dasar diakuinya hak asasi manusia. Mereka mengajarkan
untuk mengkritik pemerintah yang tidak berdasarkan keadilan, cita-cita, dan
kebijaksanaan.
4. Perjuangan Nabi Muhamad saw. Utuk membebaskan para bayi wanitadan wanita
dari penindasan bangsa Quraisy (tahun 600 masehi).
b. Perkembangan hak asasi manusia di inggris
Inggris merupakan negara pertama di dunia yang memperjuangkan hak asasi manusia.
Perjuangan tersebut tampak dari beberapa dokumen sebagai berikut.
1. Tahun 1215, munculnya paiagam magna charta atau piagam agung. Terjadi pada
pemerintahan raja John, yang yang bertindak sewenang-wenang terhadap rakyat
dan kelompok bangsawan. Tindakan Raja John, tersebut mengakibatka rasa tidak
puas kaum bangsawan yang kmudian berhasil membuat suatu perjanjian yang
disebut Magna Charta. Magna Charta membatasi kekuasaan Raja John di Inggris.
2. Tahun1628, keluarnya piagam petiton of Rights
Dokumen ini berisi pertanyaan mengenai hak-hak rakyat beserta jaminannya. Hakhak tersebut adalah
a) Pajak dan pungutan istimewa harus disertai persetujuan;
b) Warga negara tidak boleh dipaksakan menerima tentara di rumahnya;
c) Tentara tidak boleh menggunaka hukum perang dalam keadaan damai.
3. Tahun1679, munculnya Habeas Corpus Act
Dokumen ini merupakan undang-undang yang mengatur tentang penahanan
seseorang. Isisnya adalah sebagai berikut.
a) Seseorang yang ditahan segera diperiksa dalam waktu dua hari setelah
penahanan.
b) Alasan penahanan seseornag harus disertai bukti yang sah menurut hukum.
4. Tahun 1689, keluar bill of rights
Merupakan undang-undang yang diterima parlemen Inggris Sebagai berikut
a) Kebebasan dalam pemilihan anggota parlemen
b) Kebebasan berbicara dan mengeluarkan pendapat
c) Pajak, undang-undang, dan pembentuka tentara harus seizin parlemen
58

d) Harga warga negara untuk memeluk agama menurut kepercayaannya masingmasing


e) Parlemen berhak untuk mengubah keputusan raja.
c. Perkembangan Hak Asasi Manusia di Amerika Serikat
Perjangan penegak hak asasi manusia di amerika serikat didasari pemikiran John
Locke, yaitu tentang hak-hak alam seperti, hak hidup (life), hak kebebasan (liberty),
Dan hak milik (property). Dasar inilah ang kemudian dijadikan landasan bagi
pengakuan hak-hak asasi manusia yang terlihat dalam Declaration of Indenpedence
of The United States.
Di Amerika Serikat perjuangan hak-hak asasi manusia itu adalah rakyat Amerika
Serikat yang berasal dari Eropa sebagai Emigran merasa tertindas oleh
pemerintahan Inggris, yang pada waktu itu merupakan jajahan Inggris. Amerika
Serikat berhasil mencapai kemerdekaanya pada tanggal 4 juli 1776. Deklarasi
kemerdekaan Amerika Serikat dimasukkan dalam konstitusi negara tersebut. Dalam
sejarah perjuangan hak asasi manusia, negara Amerika Serikat dapat dikatakan
sebagai negara pertama yang menetapkan dan melindungi hak asasimanusia dalam
konstitusinya.
d. Perkembangan Hak Asasi Manusia di Prancis
Perjuangan hak asasi manusia di prancis dirumuskan dalam suatu naskah pada awal
revolusi Prancis pada tahun 1789, sebagai pernyataan tidak puas dari kaum Borjuis
dan rakyat terhadap kesewenang-wenangan Raja Louis XVI. Naskah tersebut
dikenal dengan Declaration des Droits de L homme et Du Citoyen (pernyataan
mengenai hak-hak asasi manusia dan warga negara). Deklarasi ini menyatakan
hak-hak asasi manusia ialah hak-hak alamiah yang dimiliki manusia menurutnya
kodratnya, yang tidak dapat dipisahkan daripada hakikatnya dan karena itu bersifat
suci.
Revolusi Prancis ini dikenal sebagai perjuangan penegakan HAM di Eropa. Dalam
revolusi ini, muncul semboyan liberty, Egality, dan Fraternity 9kebebasan,
Persamaan, dan persaudaraan). Pada tahun 1791, deklarasi ini dimasukkan dalam
konstitusi Prancis.
e. Altantik Charter Tahun 1941
Atlantic Charter muncul pada saat terjadinya paerang dunia II yang dipeloori oleh
F>D> Roosevelt, yang menyebutkan The Four Freedom (empat macam kebebasan):
1. Kebebsan untuk beragama (freedom of religion);
2. kebebasan berbicara dan berpendapat (freedom of speech and thought);
3. kebebasan dari rasa takut (freedom of fear);
4. kebebsan dari kemelaratan (freedom of want).
Empat kebebasan tersebut dianggap sebagai tiang penjaga hak-hak asasi manusia
yang mendasar.
f.

Pengakuan Hak Asasi Manusia oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa


Pada tanggal 10 Desember 1948. PBB telah berhasil merumuskan naskah yang
dikenal dengan Universal Declaration of Human Rights,yaitu prnyataan sedunia
tentang hak-hak asasi manusia, sehingga pada tanggal 10 Desember sering
diperingati sebagai hari hak asasi manusia.
Isi pokok deklarasi itu tertuang dalam pasal 1 yang menyatakan:
59

sekalian orang dilahirkan merdeka dan mempunyai martabat dan hak-hak yang
sama. Mereka dikaruniai akal dan budi, dan hendaknya bergaul satu sama lain
dalam persaudaraan
Deklarasi tersebut melambangkan komitmen moral dunia Internasional pada hak
asasi manusia. Deklarasi Universal ini menjadi pedoman sekaligus standar
minimum yang dicita-citakan umat manusia untuk menciptakan dunia yang lebih
baik dan damai. Berawal dari Dekalarasi universal tersebut, negara-negara yang
tergabung dalam berbagai organisasi dan kelompok regional mulai merumuskan
bersama hak asasi maunusia sebagai komitmen mereka dalam menegakkan hak
asasi manusia. Setiap negara pun mulai menunjukan jaminan hak asasi manusia
dalam konstitusi atau undang-undang dasarnya.
g. Hasil Sidang Majelis Umum PBB Tahun 1966
Tahun 1966, dalam sidang majelis umum PBB, telah diakui covenants Human
Rights dalam hukum Internasional dan diratifikasi oleh negara-negara anggota PBB.
Covenants tersebut antara lain:
a) The Intentional on Civil and Polotical Rights, yaitu tentang hak sipil dan hak
politik (konvensi tentang hak sipil dan politik, 1966);
b) The International Coventant an Economic, Social, and Cultur Rights, yaitu
berisi syarat-syarat dan nilai-nilai bagi sistem demokrasi ekonomi, sosial, dan
budaya (konvensi tentang hak ekonomi, sosial, dan budaya, 1966);
c) Optional Protocol, adanya kemungkinan seorang warga negara yang
mengadukan pelanggaran hak asasi manusia kepada The Human Rights
Commite PBB, setelah melalui upaya pengendalian di negaranya.
Selanjutnya, berkembang beberapa deklarasi mengenai hak asasi manusia di dunia,
antara lain:
1. Declaration on The Rights of People to Peace (Deklarasi hak bangasa atas
perdamaian) pada tahun 1948 oleh negara dunia ketiga.
2. Declaration on The Rights to Development (Deklarasi hak atas pembangunan)
pada tahun 1968 oleh negara dunia ketiga.
3. African Charter on Human and peoples Rights (Banjul Charter) oleh negara
Afrika yang tergabung dalam persatuan Afrika (OAU) pada tahun 1981.
4. Cairo Declaration on Human Rights in Islam oleh negara yang tergabung dalam
OKI (Organisasi Konferensi Islam) tahun 1990
5. Bangkok Declaration diterima oleh negara-negara Asia pada tahun 1993.
6. Deklarasi Wina tahun 1993 yang merupakan deklarasi universal dari negaranegara yang tergabung dalam PBB.
Berdasarkan sejarah perkembangannya, ada 3 (tiga) generasi hak asasi manusia,
sebagai berikut.
1. Generasi pertama adalah Hak Sipil dan Politik yang bermula di duna Barat
(Eropa), contohnya: hak atas hidup, hak atas kebebasan dan keamanan, hak atas
kesemaan di muka peradilan, hak kebebasan berpikir dan berpendapat, hak
beragama, hak berkumpul dan hak berserikat.
2. Generasi kedua adalah Hak Ekonomi, Sosial dan Budaya yang diperjuangkan
oleh negara sosialis di Eropa Timur, misalnya: hak atas pekerjaan, hak atas
penghasilan yang layak, hak memebentuk serikat pekerja, hak atas pangan,
kesehatan, hak atas perumahan, pendidikan, dan hak atas jaminan sosial.
60

3. Generasi ketiga adalah hak perdamaina dan pembangunan yang diperjunagakan


oleh negara-negara berkembang (Asia-Afrika), misalnya: hak bebas dari
ancaman musuh, hak setiap bangsa untuk merdeka, hak sederajat dengan bangsa
lain, dan hak mendapatkan kedamaian
Perkembangan berikutnya, yaitu munculnya generasi keempat hak asasi manusia
(Tim ICCE UIN, 2003). Hak asasi manusia generasi keempat ini mengkritik pernana
negara yang sangat dominan dalam proses pembangunan yang berfokus pembangunan
ekonomi sehingga menimbulkan dampak negatif bagi keadilan rakyat. Program
pembangunan dijalankan tidak memenuhi kebutuan rakyat tetapi untuk sekolompok
atau elite penguasa saja. Pemikiran hak asasi manusia generasi keempat dipelopori oleh
negara-negara Asia pada tahun 1983 yang melahirkan deklarasi hak asasi manusia yang
disebut Declaration of The Basic Duties of Asian People and Government.
Pemikiran generasi keempat ini lebih maju dari generasi ketiga, karena tidak saja
mencakup struktural, tetapi juga berpijak pada terciptanya tatanan sosial yang
berkadilan.deklarasi Hak Asasi Asian selain berbicara tentang hak asasi juga berbicara
tentang kewajiban asasi.
E. HAK ASASI MANUSIA DI INDONESIA
1. Pengakuan Bangsa Indonesia Akan Hak Asasi Manusia
Pengakuan hak asasi manusia di Indonesia telah tercantum dalam UUD 1945 yang
sebenarnya lebih dahulu ada dibanding dengan Deklarasi Universal PBB yang lahir
pada 10 Desember 1945. Pengakuan hak asasi manusia dalam Undang-Undang Dasar
1945 dan peraturan perundang-undangan lainnya adalah sebagai berikut.
a. Pembukaan Undang-Undang Dasar Alinea Pertama
Hak asasi manusia sebenarnya sudah tercantum dalam Pembukaan UUD 1945. Oleh
karena itu, bisa dikatakan bahwa negara Indonesia sendiri sjak masa berdirinya, tidak
bisa lepas dari Hak Asasi Manusia itu sendiri. Hal ini dapat dilihat pada alinea pertama
yang berbunyi Bahwa sesungguhnya kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa .
Berdasarkan hal ini, bangsa Indonesia mengakui adanya hak untuk merdeka atau bebas.
b. Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 Alinea Keempat
Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 Alinea Empat berbunyi, kemudian dari pada
itu untuk membentuk suatu pemerintahan negara Indonesia yang melindungi segenap
bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan
kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan
ketertiban dunia berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial,
maka disusunlah kemerdekaan kebangsaan itu dalam suatu Undang-Undang Dasar
Negara Indonesia yang terbentuk dalam susunan Negara Republik Indonesia yang
berkedaulatan rakyat dengan berdasarkan kepada Ketuhanan Yang Maha Esa,
Kemanusiaan Yang Adil dan beradab, Persatuan Indonesia, dan Kerkyatan yang
dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwkilan, serta dengan
mewujudkan kwedilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.
Sila kedua Pancasila, kemanusiaan yang adil dan beradab merupakan landasan idil akan
pengakuan dan jaminan hak asasi manusia di Indonesia.
c. Batang Tubuh Undang-Undang Dasar 1945
Rumusan hal tersebut mencakup hak dalam bidang politik, ekonomi,sosial, dan budaya
yang tersebar dar pasal 27 sampai denga pasal 34 UUD 1945. Namun, rumusan61

rumusan dalam konstitusi itu amat terbatas jumlahnya dan dirumuskan secara singkat
dan dalam garis besarnya saja.
Sampai pada berakhirnya era orde baru tahun 1998, pengakuan akan hak asasi manusia
di indonesia tidak banyak mengalami perkembangan dan tetap berlandaskan pada
rumusan yang ada dalam UUD 1945, yaitu tertuang pada hak dan kewajiban warga
negara. Rumusan baru tentang hak asasi manusia tertuang dalam pasal 28-A-J UUD
1945 hasil amandemen pertama tahun 1999.
d. Ketetapan MPR.
Ketetapan MPR mengenai hak asasi manusia tertuang dalam ketetapan MPR No.
XVII/MPR/1998 tentang Hak Asasi Manusia. Berdasarkan hal itu maka keluarlah
Undang-Undang Nomor 19 tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia sebagai undangundang yang sangat penting kaitannya dalam proses jalannya Hak Asasi Manusia di
Indonesia. Selain itu juga undang-undang No. 26 tahun 2000 tentang pengadilan Hak
Asasi Manusia.
Macam-macam hak asasi manusia yang tercantum dalam ketetapan tersebut adalah :
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.

Hak untuk hidup


Hak berkelaurga dan melanjutkan keturunan
Hak keadilan
Hak kemerdekaan
Hak atas kebebasan informasi
Hak keamanan
Hak kesejahteraan
Kewajiban
Perlindungan dan pemajuan

e. Peraturan perudang-undangan
Undang-undang tentang HAM di Indonesia adalah Undang-Undang Nomor 39 Tahun
1999. Adapun hak-hak yang ada dalam Undang-Undang Nomor 39 tahun 1939 tersebut
antara lain adalah sebagai berikut :
1. Hak untuk hidup (Pasal 4)
2. Hak untuk berkeluarga (Pasal 10)
3. Hak untuk mengembangkan diri (Pasal 11,12,13,14,15,16)
4. Hak untuk memperoleh keadilan (Pasal 20-27)
5. Hak atas kebebasan pribadi (Pasal 20-27)
6. Hak atas rasa aman (Pasal 36-42)
7. Hak atas kesejahteraan (Pasal 36-42)
8. Hak turut serta dalam pemerintahan (Pasal 43-44)
9. Hak wanita (Pasal 45-51)
10. Hak anak (Pasal 52-66)
Dalam UUD 1945 BAB 20A Pasal 28A sampai J, tercantum rumusan hak asasi
manusia. Rumusan tersebut pada dasarnya sama dengan rumusan yang ada dalam
ketetapan MPR No. XVII/MPR/1998. Perlu diketahui bahwa Tap MPR No.
XVII/MPR/1998 sekarang ini telah dicabut berdasarkan ketetapan MPR No.
I/MPR/2003. hal ini disebabkan isi dalam ketetapan tersebut sudah termuat dalam UUD
1945.

62

Dengan masuknya rumusan hak asasi manusia dalam UUD 1945 tersebut, semaki
kuat jaminan hak asasi manusia di Indonesia. Tugas negara selanjutnya adalah
mengadakan penegakan hak asasi manusia dan memberi perlindungan warga dari
tindakan pelanggaran hak asasi manusia.
2. Penegakan hak asasi manusia.
Dalam rangka memberikan jaminan perlindungan terhadap hak asasi manusia,
disamping dibentuk aturan-aturan hukum. Juga dibentuk kelembagaan yang menangani
masalah dengan penegakan hak asasi manusia, antara lain :
a. Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) dibentuk berdasarkan
Keppres Nomor 5 Tahun 1993 pada tanggal 7 Juni 1993 yang kemudian
dikukuhkan lagi melalui Undang-Undang Nomor 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi
Manusia. Komnas HAM adalah lembaga yang mandiri yang berkedudukan
setingkat dengan lembaga negara lainnya yang berfungsi melaksanakan pengkajian,
penelitian, penyuluhan, pamantauan, dan mediasi hak asasi manusia :
Komnas HAM bertujuan :
1. Mengembangkan kondisi yang kondusif bagi pelaksanaan Hak Asasi Manusia
sesuai dengan pancasila, Undang-Undang Dasar 1945, dan Piagam Perserikatan
Bangsa-Bangs, serta Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia.
2. Meningkatkan perlindungan dan penegakkan hak asasi manusia guna
perkembangan pribadi manusia Indonesia seutuhnya dan kemampuannya
berfartisifasi dalam berbagai bidang kehidupan.
b. Pengadilan Hak Asasi manusia dibentuk berdasarkan Undang-Undang Nomor 26
Tahun 2000 tentang Pengadilan hak asasi manusia.
Pengadilan HAM bertugas dan berwenang dan memeriksa dan memutuskan perkara
HAM yang berat.
c. Pengadilan Hak Asasi Manusia Ad Hoc dibentuk atas usul dari DPR berdasarkan
peristiwa tertentu dengan Keputusan Presiden untuk memeriksa dan memutuskan
pelanggaran hak asasi manusia yang berat yang terjadi sebelum diundangkannya
Undang-Undang.
d. Komisi kebenaran dan Rekonsiliasi. Undang-Undan Nomor 26 Tahun 2000
memberikan alternatif bahwa penyelesaia pelanggara Hak Asasi Manusia yang berat
dapat dilakukan diluar pengadilan Hak Asasi Manusia.
Penegakan dan perlindungan tidak hanya di bentuk oleh negara. Adapula
lembaga-lembaga yang dibentuk oleh masyarakat, yaitu LSM, sebagai contoh :
a.
b.
c.
d.

KONTRAS (Komisi untuk orang hilang dan tindak kekerasan


YLBHI (Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia)
Lembaga Studi dan Advokasi Masyarakat (ELSAM), dan
Human Rights Watch (HRW)

3. Konvensi Internasional tentang Hak Asasi Manusia


Beberapa konvensi yang berhasil diciptakan adalah sebagai berikut:
1. Universal Declaration of Human Rights (Pernyataan hak asasi manusia sedunia)
2. International Convenant of civil and Political rights (Perjanjian International
tentang Hak Sipil dan Politik.
63

3. Declaration on The Right of People to Peace (Deklarasi Hak Bangsa atas


Perdamaian) pada tahun 1984 dan Declaratio on The Rights to development.
4. African Charter on Human dan Peoples Rights (Banjul Charter) oleh negara Afrika
yang tergabung dalam Persatuan Afrika (OAU) pada tahun 1981.
5. Cairo Declaration On Human Rights in Islam oleh negara yang tergabung dalam
OKI.
6. Bangkok Declaration.
7. Vienaa Declaration (Deklarasi Wina) 1993
4. Keikutsertaan Indonesia Dalam Konvensi International
Beberapa macam diantara, konvensi International tentang hak asasi manusia yang
sudah diratifikasi :
a.
b.
c.
d.
e.
f.

Konvensi Jenewa 12 Agustus 1949


Konvensi Tentang Hak Politik Kaum Perempuan
Konvensi tentang penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi Terhadap perempuan
Konvensi Hak Anak
Konvensi Pelarangan, Pengembangan, Produksi dan penyimpanan senjata.
Dan beberapa konvensi lainnya.

64

BAB 8
WAWASAN NUSANTARA SEBAGAI GEOPOLITIK INDONESIA
Cara bagaimana suatu bangsa memandang tanah air beserta lingkungannya
menghasilkan wawasan nasional. Wawasan nasional itu selanjutnya menjadi pandangan
atau visi bangsa dalam menuju tujuanya. Namun tidak semua bangsa memiliki
wawasan nasional. Inggris adalah salah satu bangsa yang memiliki wawasan nasional
yang berbunyi Britain rules the waves ini berarti tanah inggris bukan hanya sebatas
pulaunya, tetapi juga lautnya.
Apakah wawasan nusantara itu? Secara konsepsional wawasan nusantara
(wasantara )merupakan wawasan nasionalnya bangsa Indonesia. Rumusan wawasan
bangsa Indonesia yang selanjutnya di sebut wawasan nusantara itu merupkan salah satu
konsepsi politik dalam ketatanegaraan republic Indonesia.
Pembahasan mengenai wawasan nusantara, tersaji dalam urutan sebagai berikut:
1.
2.
3.
4.
5.

Pengertian, hakikat, dan kedudukan wawasan nusantara.


Latar belakang konsepsi wawasan nusantara.
Wawasan nusantara sebagai geopolitik Indonesia.
Perwujudan wawasan nusantara.
otonomi daerah Indonesia.

A. Pengertian, Hakikat dan Kedudukan Wawasan Nusantara


1) Pengertian wawasan nusantara
Pengertian wawasan nusantara dapat di artikan secara etimologis dan
terminologis
a. Secara etimologis, wawasan nusantar a berasal dari kata wawasan dan
nusantara .wawasan berasal dari kata mawas (bahasa jawa) yang berarti
pandangan,tinjauan atau penglihatan indrawi.selanjutnya kata mawas yang
berarti memandang, meninjau atau melihat. Wawasan artinya
pandangan,tinjauan,penglihatan, tanggap indrawi. Wawasan berate pula cara
pandang, cara melihat. Nusantara berasal dari kata nusa dan antara. Nusa
artinya pulau atau kesatuan kepulauan. Antara artinya menunjukan letak
antara dua unsure. Nusatara artinya kesatuan kepulaun yang teretak antara
dua benua, yaitu benua asia dan Australia dan dua samudra, yaitu samudra
hindia dan pasifik.
b. Secara terminologis, wawasan nusantar a menurut beberapa pendapat
sebagai berikut
a) Pengertian wawasan nusantara menurut professor wan usman wawasan
nusantara adalah cara pandang bangsa Indonesia mengenai diri tanah
dan tanah airnya sebagai negara kepulauan dengan semua aspek
kehidupan yang beragam
b) Pengertian wawasan nusantara dalam GBHN 1998, wawasan nusantara
adalah cara pandang dan sikap bangsa Indonesia mengenai diri dan
lingkunganya, dengan mengutamakan persatuan dan kesatuan bangsa
serta kesatuan wilayah dalam penyelenggaraan kehidupan
bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.
c) Pengertian wawasan nusantara menurut kelompok kerja wawasan
nuantara untuk di usulkan menjadi tap MPR yang di buat oleh
lemhannas tahun 1999, sebagai berikut cara pandang dan sikap bangsa
65

Indonesia mengenai diridan lingkunganya yang serba beragam dan


bernilai strategis dengan mengutamakan persatuan dan kesatuan bangsa
serta kesatuan wilayah dalam penyelenggaraan kehidupan
bermasyarakat, berbangsa dan bernegara untuk mencapai tujuan
nasional.
Pengertian yang di masdud belumlah menjawab apa itu wawasan
nusantara secara tuntas. Di ibaratkan diri kita masing-masing bahwa kita
memiliki wawasan diri yang dapat mengartikan sebagai carapandang diri
kita sendiri beserta lingkungan tempat tinggalnya.
2) Hakikat Wawasan Nusantara
Hakikat wawasan nusantara adalah keutuhan bangsa dan kesatuan wilayah
nasional. Dengan kata lain, hakikat wawasan nusantara adalah persatuan
bangsa dan kesatuan bangsa kesatuan wilayah
Bangsa Izan nusantarzzzzndonesia yang dari aspek sosial budaya adalah
beragam serta dari segi kewilayahan bercorak nusantara, kita pandang
merupakan satu kesatuan yang utuh.
3) Kedudukan Wawasan Nusantara.
Wawasan Nusantara berkedudukan sebagai visi bangsa. Visi adalah
B. Latar belakang konsepsi wawasan nusantara
Latar belakang atau faktor-faktor yang memengaruhi t
C. Wawasan nusantara sebagai geopolitik Indonesia tumbuhnya konsepsi wawasan
nusantara adalah sebagai berikut:
1. Aspek historis
2. Aspek geografis dan sosial
3. Aspek geopolitis dan kepentingan nasional.
1. Segi historis atau Sejarah
Dari segi sejarah, bahwa bangsa Indonesia menginginkan m,enjadi bangsa yang
bersatu dengan wilayah yang utuh adalah karena dua hal yaitu
a.

Kita pernah mengalami kehidupan sebagai bangsa yang terjajah dan


terpecah.
b.
Kita pernah mengalami wilayah yang terpisah-pisah.
Bangsa Indonesia sebagaimana bangsa lain terutama di Benua Asia dan Afrika
sama-sama pernah mengalami masa penjajahan bangsa Barat. Bangsa Barat
yang pernah menjajah Indonesia adalah Spanyol, Portugis, Inggris, dan
Belanda. Selanjutnya dalam kurun waktu terakhir menjelang kemerdekaan,
bangsa Indonesia pernah mengalami penjajahan Jepang. Tidak kurang dari 350
tahun kita hidup dalam zaman penjajahan. Kehidupan sebagai bangsa yang
terjajah adalah penderitaan, kesengsaraan, kemiskinan, dan kebodohan.
Penajah juga menciptakan perpecahan dalam diri bangsa Indonesia.
Politik pecah belah penjajah terhadap bangsa Indonesia dikenal dengan politik
Devide et impera. Dengan adanya politik pecah belah ini orang-orang Indonesia
justru melawann bangsanya sendiri.
Secara historis, wilayah Indonesia adalah wilayah bekas jajahan Belanda
atau wilayah eks Hindia Belanda. Wilayah Hindia Belanda yang berbentuk
kepulauan merupakan wilayah yang terpisahkan oleh laut bebas. Bukti bahawa
wilayah Hindia Belanda adalah terpisah-pisah dan bukan merupakan satu
66

kesatuan adalah adalah digunakannya ketentuan bahwa laut territorial Hindia


Belanda adalah selebar 3 mil, berdasarkan territoriale, zee Maritime Kringen
Ordonnentie tahun 1939 disingkat Ordonansi 1939. dengan adanya Ordonansi
1939 tersebut, laut atau perairan yang berada di dalama wilayah yang lebih dari
3 ml adalah diluar wilayah territorial. Perairan itu menjadi lautan bebas dan
berlaku sebagai perairan internasional.
Berdasarakan keadaan historis demikian, bangsa Indonesia berupaya
mengembangkan konsepsi tentang visi bangsa, yaitu sebagai bangsa yang
bersatu serta wilayah yang utuh.
Untuk bisa keluar dari keadaan bangsa terjajah dan terpecah, kita
membutuhkan semangat kebangsaan. Semangat kebangsaan melahirkan visi
sebagai bangsa yang bersatu. Tumbuhnya semnagt kebangsaan (nasionalisme)
menjadi ideology bagi perjuangan bangsa Indonesia yang akhirnya bertitik
puncak pada proklamasi kemerdekaan bangsa Indonesia 17 Agustus 1945.
munculnya semnagat kebangsaan Indonesia ditandai dengan era kebangkitan
nasional yaitu kemunculan berbagai organisasi perjuangan. Penegasan akan
semangat kebangsaan itu ditandai dengan adanya Sumpah Pemuda 28 Oktober
1928. Akhirnya, semangat kebangsaan menemukan hasilnya, yaitu proklamasi
Kmerdekaan 17 Agustus 1945.
Perkembangan semangat kebangsaan Indonesia dapat dikategorikan
dalam kurun waktu sebagai berikut:
a.

Zaman perintis 1908, yaitu dengan kemunculan Pergerakan Nasional


Budi Utomo.
b.
Zaman penegas 1928, yaitu dengan ikrar Sumpah pemuda
c.
Zaman pendobrak 1945, yaitu dengan Proklamasi Kemerdekaan
Indonesia.
Proklamasi kemerdekaan 17 Agustus 1945 merupakan revolusi
integrative dari bangsa Indonesi. Bangsa Indonesia yang sebelumnya terpecahpecah dalam banyak suku dan terjajah beralih menjadi bangsa yang bersatu dan
merdeka.
Upaya untuk menjadikan wilayah Indonesia sebagai wilayah yang utuh
tidak lagi terpisah adalah dengan mengganti territoriale zee en Maritime
Kringen Ordonnentie tahun 1939. pada saat kita merdeka tahun 1945, wilayah
Indonesia masih dalam keadaan terpisah-pisah disebabkan masih berlakunya
Ordonansi tahun 1939.
Perdana menteri Juanda pada tanggal 13 Desember 1957 mengeluarkan
pernyataan yang selanjutnya dikenal dengan Deklarasi Juanda 1957. peryataan
(deklarasi) menegenai wilayah perairan Indonesia itu berbunyi sebagai beikut:
bahwa segala perairan disekitar, di antara dan yang menghubungkan
pulau-pulau yang termasuk Negara Indonesia dengan tidak memandang
luas atau lebarnya adalah bagian-bagian yang wajar daripada wilayah
daratan Negara Indonesia dan dengan demikian bagian daripada
perairan pedalaman atau nasional yang berada dibawah kedaulatan
mutlak Negara Indonesia. Lalu lintas yang damai di perairan pedalaman
ini bagi kapal-kapal asing dijamin selama dan sekadar tidak bertentangan
dengan/mengganggu kedaulatan dan keselamatan Negara Indonesia.
67

Penentuan batas landas lautan territorial (yang lebarnya 12 mil) diukur


dari garis yang menghubungkan titik-titik ujung yang terluar pada pulaupulau Negara Indonesia. Ketentuan-ketentuan diatas akan diatur selekaslekasnya dengan undang-undang.
Isi pokok Deklarasi Juanda adalah menyatakan laut territorial Indonesia
adalah selebar 12 mil tidak lagi 3 mil berdasarkan point to point theory.
Deklarasi Juanda dinyatakan sebagai pengganti territoriale Zee en Maritime
Kringen Ordonantie tahun 1939 dengan tujuan:
a.

Perwujudan bentuk wilayah Negara kesatuan Republik Indonesi yang utuh


dan bulat;
b.
Penentuan batas-batas wilayah Negara Indonesia dosesuaikan dengan asas
Negara kepulauan;
c.
Pengaturan lalu lintas damai pelayaran yang lebih menjamin keselamatan
dan keamanan Negara kesatuan Republik Indonseia.
Dekalarasi Juanda dikukuhkan dakam Undang-Undang Nomor 4/Prp
Tahun 1960 tentang Perairan Indonesia yang berisi:
a.

Perairan Indonesia adalah laut wilayah Indonesia beserta perairan


pedalaman Indonesia;
b.
Laut wilayah Indonesia adalah jalur 12 mil laut;
c.
Perairan pedalaman Indonseia adalah semua perairan yang terletak apada
sisi dalam dari garis dasar.
Keluarnya deklarasi Juanda 1957 tersebut melahitkan konsepsi wawsan
nusantara dimana laut tidak lagi sebagai pemisah, tetapi sebagai penghubung.
Wawasan nusantara dibangun dari konsepsi kewilayahan. Negara Indonesia
adalah satu kesatuan wilayah yang berciri nusantara.
Melelui perjuangan panjang akhirnya Konferensi PBB tanggal 30 April
1982 menerima The United Nations Convention on the Law of the sea
(UNCLOS). Berdasarkan Kovensi Hukum laut 1982 tersebut diakui asa Negara
Kepulauan (Archipelago State).
Pada tahun 1969 negara Indonesia mengeluarkan Deklarasi tentang
landas kontinen Indonesia. Deklarasi itu berintikan:
1. kekayaan alam di landas kontinen adalah milik Negara bersangkutan;
2. batas landas kontinen yang terletak di antara dua Negara adalah garis
tengahnya.
Tentang landas kontinen dikuatkan dengan Undang-Undang No. 1
Tahun 1973 tentang Landas Kontinene Indonesia. Selanjtnya pada tahun 1980
pemerintah Indonesia mengeluarkan pengumuman tentang Zone Ekonomi
Eksklusif (ZEE) Indonesia. Zee berintikan:
1. Lebar Zone Eksklusif Indonesia 200 mil diukur dari garis pangkal laut
wilayah Indonesia.
2. Hak berdaulat untuk menguasai kekayaan sumber alam di ZEEI.
3. Lautan ZEEI tetap merupakan lautan bebas untuk pelayaran Internasional.
ZEEI diterima oleh hamper seluruh pserta konferensi Hukum Laut
Internasional di Jamaika tahun 1982 dan dikukuhkan oleh Pemerintah RI
dngan UU No. 5/1983.
2. Segi geografis dan sosial budaya
68

Dari segi geografis dan sosial budaya, Indonesia m,erupakan Negara


bangsa dengan wilayah dan posisi yang unik serta bangsa yang heterogen.
Keunikan wilayah heterogenitas bangsa menjadikan bangsa Indonesia perlu
memiliki visi untuk menjadi bangsa yang bersatu dan utuh.
Keunikan wilayah dan heterogenitas bangsa tersebut, antara lain sebagai
berikut:
a.

Indonesia bercirikan Negara kepulauan/maritime (Archipelago State)


dengan jumlah 17.508 pulau.
b.
Luas wilayah 5,192 juta km2 dengan perincian daratan seluas 2,027
juta km2 dan laut seluas 3,166 juta km2. Negara kita terdiri 2/3
lautan/perairan.
c.
Jarak utara selatan 1.888 km dan jarak timur barat 5.110 km.
d.
Indonesia terletak di anatara dua benua dan dua samudra (posisi
silang).
e.
Indonesia terletak pada garis khatulistiwa.
f.
Indonesia berada pada iklim tropis dengan dua musim.
g.
Indonesia menjadi pertemuan dua jalur pegunungan, yiatu
Mediterania dan Sirkum Pasifik.
h.
Berada pada 6oLU 11o LS dan 95o BT 141o BT.
i.
wilayah yang subur dan habitable (dapat dihuni).
j.
Kaya akan flora, fauna, dan sumber daya laam.
k.
Memiliki etnik yang sangat banyak (heterogenitas suku bangsa)
sehingga memiliki kebudayaan yang beragam.
l.
Memiliki jumlah penduduk yang besar dengan jumlah sekitar
218,868 juta (tahun 2005)
Posisi Indonsia yang demikian ini sering dinyatakan memiliki posisi
yang strategis.Keunikan wilayah dan heterogenitas bangsa membuka dua
peluang. Secara positif adapat dijadikan modal memperkuat bangsa menuju
cita-cita. Secara negative dapat mudah menimbulkan perpecahan serta infiltrasi
pihak luar.
3. Segi geopolitis dan kepentingan nasional.
Geopolitik adalah istilah yang pertama kali dikemukakan oleh Frederich
Ratzel sebagai Ilmu Bumi Politik. Sebagai ilimu, geopolitik mempelajari
fenomena politik dari aspek geografi. Bahwa politik suatu Negara dipengaruhi
oleh konstelasi geografi Negara yang bersangkutan. Geopolitik memaparkan
dasar pertimbangan dari aspek geografi dalam menentukan kebijakan nasional
untuk mewujudkan suatu tujuan. Prinsip-prinsip geopolitik suatu Negara dapat
menjadi dasar bagi perkembangan wawsan nasional bangsa itu.
Kesatuan antara bangsa Indonesia dengan wilayah tanah air yang
membentuk semangat dan wawasan kebangsaan, yaitu sebagai bangsa yang
bersatu.prinsip geopolitik Indonesia sebagaimana tersebut diatas menandakan
bahwa dalam hal wilayah, bangsa Indonesia tidak ada semangat untuk
memperluas wilayah sebagai ruang hidup (lebensraum). Kesepakatan para
pendiri Negara Republic Indonesia adalah wilayah Indonesia merdeka hanyalah
wilayah bekas jajahan Belanda atau eks Hindia Belanda. Wilayah yang
bangsanya memiliki le desir detre ensemble dan character-gemeinschaft
menurut Soekarno itulah yang harus kita satukan dan pertahankan. Upaya
membangun kesadaran untuk bersatunya bangsa dalam wilayah adalah konsepsi
69

wawsan nusantara. Cirri nasionalisme Indonseia adalah nasionalisme yang tidak


chauvisnisme dan juga bukan kosmopolitanisme. Nasionalisme Indonesia
tumbuh dalam internasionalisme, mengembangkan hubungan baik dengan
bangsa lain secara sederajat.
Salah satu kepentingan nasional Indonesia adalah bagaimana
menjadikan bangsa dan wilayah ini senantiasa satu dan utuh. Kepentingan
nasional itu merupakan turunan lanjut dari cita-cita nasional, tujuan nasional
maupun visi nasional. Cita-cita nasional bangsa Indonesia sebagaimana tertuang
dalam pembukaan UUD 1945 Alinea II adalah unyuk mewujudkan Negara
Indonesia. Yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur. Adapun tujuan
nasional Indonesia sebagaimana tertuang dalam pembukuan UUD 1945 Alinea
IV, salah satunya adalah melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh
tumpah darah Indonesia. Visi nasional Indonesia menurut ketetapan MPR No.
VII/MPR/2001 tentang Visi Indonesia Masa depan adalah terwujudnya
masyarakat Indonesia yang religius, manusiawi, bersatu, demokratis, adil,
sejahtera, maju, mandiri, serta baik dan bersih dalam penyelenggaraan Negara.
Upaya untuk terus membina persatuan dan keutuhan wilayah adalah
dengan mengembangkan wawasan nasional bangsa. Wawsan nasional bangsa
Indonesia itu adalah Wawasan Nusantara.

70

BAB 9
KETAHANAN NASIONAL SEBAGAI GEOSTRATEGI INDONESIA
Setiap bangsa dalam rangka mempertahankan eksistesi dalam mewujudkan citacitanya perlu memmiliki pemahaman geopolitik dan geostrategi. Geopolitik bangsa
Indonesia di terjemahkan dalam konsep wawasan nusantara, sedangkan geostrategi
bansa Indonesia dirumuskan dalam kosep ketahanan nasional. Sesuai dengan bagan
paradigma ketatanegaraan Negara Repoblik Indonesia, maka ketahanan nasional
merupakan salah satu konsepsi politik dari Negara Repoblik Indonesia. ketahanan
nasional dapat dikatakan sebagai konsep geostrateginya bangsa Indonesia. dengan kata
lain, geostrategi bangsa Indonesia diwujutkan melalui konsep ketahanan nasional.
Geostrategi adalah suatu cara atau pendekatan dalam memanfaatkan kondisi
lingkungan untuk mewujutkan cita-cita proklamasi dan tujuan Nasional. Urayan
selanjutnay tentang Ketahanan Nasional tersaji dalam urutan bab berikut:
1. pengertian ketahanan nasional
2. perkembangan konsep Ketahanan Nasinal di Indonesia
3. unsur-unsur Ketahanan Nasional
4. pembelaan Negara
5. Indonesia dan Perdamaian dunia
A. PENGERTIAN KETAHANAN NASIONAL
Terdapat tiga prespektif atau sudut pandang terhadap konsepsi ketahanan nasional
yaitu:
1. ketahanan nasional sebagai kondisi. Prespektif ini melihat ketahanan nasional
sebagai suatu penggambaran atas keadaan yang seharusnya dipenuhi.
2. Ketahanan nasonanl sebagai suatu pendekatan, metode atau cara dalam
menjalankan sebuah kegiatan khususnya pembangunan negara.
3. Ketahanan nasional sebagai doktrin. Ketahanan nasional merupakan salalh satu
konsep khas indonesia yang berupa ajaran koseptual tentang pengaturan dan
penyelenggaraan bernegara.
Berdasarkan ketiga pengertian ini, kita mengenal 3 wujut atau wilayah dari ketahanan
nasional ( Chaidir Basrie, 2002 ) yaitu:
1. Ketahanan Nasional sebagai kondisi
2. Ketahanan Nasonal sebagai metode
3. Ketahanan Nasional sebagai doktrin
Ketahanan nasional adalah konsepsi politik kenegaraan Repoblik Indonesia.
Ketahanan Nasional merupakan konsepsional bagi pembangunan Nasional di
Indonesia. Ketahanan Nasional Indonesia pada dasarnya bermula dari konsep kekuatan
nasional yang selanjutnya dikembangkan termaksud penggunan istilah kethanan
Nasional.
A. PERKEMBANGAN KONSEP KETAHANAN NASIONAL DI INDONESIA
1. Sejarah lahirnya Ketahanan Nasional
Konsepsi ketahanan nasonal memiliki latrbelakang sejarah kelahiranya di
Indonesia. gagasan tentang ketahanan nasional bermula pada awal tahun 1960-an pada
kalangan militer angkatan darat di SSKAD yang sekarang bernama SESKOAD. Masa
itu adalah sedang meluasnya pengaruh komunisme yang berasal dari Uni sovyet dan
cina. Pengaruh komunisme sampai menjalar di kawasan ind Cina sehingga satu persatu
kawasan indo Cina menjadi negara komunis.
71

Tahun 1960-an terjadi gerakan komunis di Filipina,Malaya,singapura dan


Thailand. Bahkan, gerkan komunis di Indonesia berhasil mengadakan pemberontakan
pada 30 september 1965, namun akhirnya dapat diatasi. Menyadari atas berbagai
kejadian tersebut, semakin kuat gagasan pemikiran tentang kekuatan apa yang
seharusnya ada dalam masyarakat dan bangsa Indonesia agar kedaulatan dan keutuhan
bangsa Indonesia terjamin di masa-masa mendatang.
Perkembangan atas pemikiran diatas semakin kuat telah barakhirnya gerakan
G30 S PKI. Pada tahun 1968 pemikiran di lingkungan SSKAD tersebut di lanjutkan
oleh Lembaga Pertahanan Nasional. Tantangan dan ancaman terhadap bangsa harus di
wujutkan dalam bentuk ketahan bangsa yang di manifestasikan dalam bentuk tameng
yang terdiri dari unsur-unsur idiologi, ekonomi, social dan militer. Tameng yang
dimaksud adalah sublimasi dan tameng kekuatan sebagai manifestasi dari konsep
kekuatan SSKAD.
Dalam pemikiran Lemhanas tahun 1968 tersebut telah ada kemajuan konseptual
berupa di temukanya unsur dari ke tata kehidupan nasinal yang berupa ediologi, politik,
ekonomi dan militer. Pada tahun 1969, lahirlah istilah ketahanan nasionalyang menjadi
pertanda dari di tinggalkanya konsep kekuatan, meksipun dalam ketahanan nasional
sendiri terdapat konsep kekuatan. Konsepsi ketahanan nasional waktu ini di rumuskan
sebagai keuletan dan daya tahan suatu bangsa yang mengandung kemampuan
mengembangkan kekuatan nasional yang ditujukan untuk menghadapi segala ancaman
dan kekuatan yang membahayakan kelangsungan hidup negara dan bangsa Indonesia.
kata segala menujukan kesadaran akan spectrum ancaman yang lebih dari sekedar
ancaman komunis dan atau pemberontakan.
Kesadaran akan spekrum ini di perluas pada tahun 1972 menjadi ancaman,
tantangan, hambatan, dan gagguan (ATHG). Konsepsi ketahanan nasional tahun 1972
di rumuskan debagai kondisi dinamis atau bangsa yang berisi keuletan dan ketngguhan
yang mengandung kemampuan untuk mengembangkan kekuatan nasional, didalam
menghadapi dan mengatasi segala tantangan, ancaman, hambatan dan gangguan baik
yang dating dari luar maupun dari dalam, yang langsung maupun tidak langsung yang
membahayakan identitas, integritas, kelansungan hidup bangsa dan negara serta
mengejar tujuan perjuangan nasional. Dari sejarah tersebut dapat disimpulkan bahwa
konsepsi ketahanan nasional berawal dari konsep kekuatan nasional yang di
kembangkan oleh kalangan militer.
2. Ketahanan Nasional Dalam GBHN
Konsepsi ketahanan nasional untuk pertama kalinya dimasukan dalam GBHN
1973 yaitu ketetapan MPR No. IV/MPR/1973 adalah sama dengan rumusan ketahanan
nasional tahun 1972 dari Lemhanas.
Pada GBHN 1993 terjadi perubahan perumusan mengenai konsep ketahanan nasional.
Ketahanan nasional dirumuskan sebagai kondisi dinamis yang merupakan integrasi dari
kondisi tiap aspek kehidupan bangsa dan negara pada hakekatnya ketahanan nasioal
adalah kemampuan dan ketahanan suatu bangsa untuk dapat menjamin kelangsungan
hidup untuk dapat menjamin kelangsungan hidup menuju kejayaan bangsa dan negara.
Rumusan mengenai ketahanan nasional dalam GBHN 1998 adalah sebagai berikut:
1

Untuk tetap memungkinkan berjalanya pembangunan nasional yang selalu harus


menuju ke tujuan yang di capai dan agar dapat secara efektif dielakan dari
72

hambatan, tantangan, ancaman dan gangguan yang timbul dari luar maupun dari
dalam maka pembangunan nasional disenggarakan melalui pendekatan ketahanan
nasional yang mencerminkan keterpaduan antara segala aspek kehidupan nasional
bangsa secara utuh dan menyeluruh.
2. Ketahanan nasional adalah kondisi dinamis yang merupakn integrasi dari kondisi
tiap aspek kehidupan bangsa dan negara.pada hakikatnya ketahanan nasional untuk
adalah ketahanan dan kemampuan dan ketangguhan suatu bangsa unutk dapat
menjamin kelangsungan hidup menuju kejayaan bangsa dan negara.
3. ketahanan nasional meliputi ketahanan ideology,ketahanan politik, ketahanan
ekonomi, ketahanan sosisal budaya dan ketahanan pertahanan keamanan.
Menyimak rumusan mengenai konsepsi ketahanan nasional dalam GBHN
tersebut, kita kembali mengetahui akan adanya tiga wujud atau wajah konsep ketehanan
nasional, yaitu

Ketahanan nasional sebagai metode pendekatan sebagai tercermin dari rumusan


pertama.
Ketahana nasioanl sebagai kondisi sebagaimana tercermin sebagai rumusan kedua.
Ketahanan nasional sebagai doktrin dasar nasional sebagaimana tercermib
sebagaimana urusan ketiga.
Pada wujud yang pertama , yaitu kketahanan nasional sebagai pendekatan
dimadsudkan konsepsi ketahanan nasional di gunakan sebagai strategi atau cara dalam
melaksanakan dalam mbangunan.
Pada wujud yang kedua , yaitu ketahanan nasional sebagai kondisi hyang di
madsu adalah kondisi yang dinamis yang merupakan integrasidari tiap aspek kehidupan
bangsa dan negara.
Adapun wujud yang ketiga , yaitu ketahanan nasional menggambarkan kondisi
ideal dari bidang-bidang pembangunan.
UNSUR-UNSUR KETAHANAN NASIONAL
1.Gatra Dalam Kesehatan Nasional
Unsur, elemen atau factor yang mempengaruhi kekuatan /kesehatan nasional
suatu negara terdiri dari beberapa aspek . para ahli memberikan pendapatnya mengenai
unsur-unsur kekuatan nasional suatu negara.
1. Unsur kekuatn nasional menurut Hans J. Morgenthou
Unsur kekuatan nasional terbagi dari dua factor:
a. faktor tetap ( stable factors ) terdiri atas geografi dan sumber daya alam ;
b. fakto berubah ( dynamic factors ) terdiri atas kemampuan industri,
militer, demografi, karakter nasional, moral nasional, dan kualitas
diplomasi;
2. Unsur kekuatan nasional menurut James Lee RaY
3. Unsur kekuatan negara menurut Palmer dan Perkins
4. Unsur kekuatan nasional menurut Prakhas chandara
5. Unsur kekuatan negara menurut Alfred T. Mahan
6. Unsur kekuatan negara menurut Cline
73

7. Unsur kekuatan nasional model nasional


Bila di bandingkan perumusan unsur-unsur kekuatan nasional/ketahanan
nasional diatas, pada hakikatnya dapat dilihat adanya persamaan. Unsur-unsur
demikian diatas memengaruhi negara dalam mengembangkan kekuatan nasionalnya
untuk menjmin kelangsungan hidup bangsa dan negara yang bersangkutan.
2. Penjelasan atas Tap Gatra dalam Ketahanan Nasional
a. Unsur atau Gatra Penduduk
penduduk suatu negara menentukan kekuatan atau ketahanan suatu negara yang
bersagkutan. Faktor yang berkaitan dengan penduduk negara meliputi dua hal berikut :
1. Aspek kualitas mencangkup tingkat pendidikan, keterampilan, etos kerja, dan
kepribadian.
2. Aspek kualitas yang mencangkup jumlah penduduk, pertumbuhan, persebaran,
perataan, dan perimbangan penduduk ditiap wilayah penduduk.
b. Unsur atau Gatra wilayah
wilYh turut pula menentukan kekuatan nasional negara. Hal yang terkait dengan
wilayah negar meliputi:
1. Bentuk wilayah negara dapat berupa negara pantai, negara kepulauan atau
negara kontinenta.
2. luas wilayah negara; ada negara dengan wilayah yang luas dan negara dengan
wilayah negara yang sempit.
3. Posisi geografis, astronomis, dan geologis negara;
4. daya dukung wilayah negara; ada negara habitable dan wilayah yang
unhabitable.
c. Unsur atau Gatra Sumber daya alam
hal-hal yang berkaitan dengan unsur sumber daya alam sebagai elemen ketahanan
nasional, meliputi:
1. potensi sumber daya alam wilayah yang bersangkutan mencangkup sumber
daya alam hewani, nabati dan tambang.
2. kemampuan mengeksplorasi sumber daya alam;
3. pemanfaatan sumber daya alam dengn memperhitungkan masa depan dan
lingkungan hidup;
4. control atas sumber daya alam
dewasa ini kemampuan melakukan kontol atas sumber daya alam menjadi semakin
penting bagi ketahanan nasional dan kemajuan suat nagara. Banyak nagara yang kay
akan sumber day alam seperti minyak di negara-negara Afrika tetapi negar tersebut
tetaplah miskin. Negara-Negara berkembang belum mampu melakukan control atas
sumber daya alam yang berasala dari miliknaya. Justru negara-negara yang tdak
memiliki sumber daya alam seperti singapura dan jepang bias mampu oleh karena bias
mampu melakukan kendali jalur perdagangan sumber daya alam dunia.
d. Unsur atau Gatra di Bidang Ideologi
ideologi adalah seperangkat gagasan, ide, cita dari sebuah masyarakat tentang
kebaikan bersama yang di rumuskan dalam bentuk tujuan yang harus di capai dan caracara yang digunakan untuk mencapai tujuan itu. Ideologi itu berisikan serangkaian
74

nilai (norma) atau sistem dasar yang bersifat menyeluruh dan mendalam yang dimiliki
dan di pegang oleh suatu masyarakat aty bangsa sebagai wawasan atau pandangan
hidup mereka. Nilai yang terkandung di dalam ideologi tersebut di yakini oleh
masyarakat sebagai nilai yang baik, adil dan benar sehingga keinginan untuk
melaksanakan segala tindakan berdasarkan nilai tersebut.
Ideologi mendukung ke tahanan suatu bangsa oleh karena ideology suatu
bangsa memiliki dua funsi pokok yaitu:
1. sebagai tujuan atau cita-cita dari kelompo masyarakat yang bersangkutan,
2. sebagai sarana pemersatu dari masyarakat yang bersangkutan.
Sejar dunia telah membuktikan bahwa ideologi dapat digunakan sebagai unsur
untuk membangun kekuatan social negara. Bagi bangsa Indonesia, pancasila telah di
tetapkan sebagai ideology nasional melalui kesepakatan. Pancasiala adalah kesepakatan
bangsa. Kesepakatan atas pancasila menjadikan segenap elemen bangsa bersedia
bersatu di bawah negara Indonesia.
e. Unsur atau Gatra di Bidang politik
politik penyelenggaraan bernegara amat mempengruhi kekuatan nasional suatu
negara. penyelenggaraan bernegara di tinjau dari beberapa aspek, seperti:
1. sistim politik yang di pakai yaitu apakah sistim demokrasi atau non demokrasi;
2. sistim pemerintahan yang di jalankan apakah sistim presidensil atau
parlementer;
3. bentuk pemetitahan yang di pilih apakah republic atau kerajaan;
4. susunan negara yang di bentuk apakah sebagai bagian atau serikat
Pemilihan suatu bangsa atas poitik penyelenggaraan bernegara tentu saja
bergantung pada nilai-nilai dan aspirasi bangsa yang bersangkutan. Dalam
realitasnya, sebuah bangsa bisa memiliki beberapa kali perubahan dan pergantian
polotik penyelenggaraan bernegara. Bangsa Indonesia pada saat ini telah
berketetapan untuk mewujutkan negara Indonesia yang bsrsusunan kesatuan,
berbentuk republic dengan system pemerintahan presidensil.
f. Unsur atau Gatra di Bidang ekonomi
ekonomi yang di jalankan oleh suatu negara merupakan kekuatan nasional neegara
yang bersangkutan terlebih di era global sekarang ini. Bidang ekonomi beperan
langsung dalam upaya pemberian dalam distribusi kebutuhan warga negara.
kemajuan pesat di bidang ekonomi tetu saja menjadikan negara yang bersangkutan
tumbuh sebagai kekuatan dunia. Contoh, Jepang dan Cina.
g. Unsur atau Gatra di Bidang Sosial Budaya
Unsur budaya di masyarakat juaga menentuakan kekuatan nasional suatu negar.
Hal-hal yang dialami oleh suatu negara yang homogen tentu saja akan berbeda
dengan yang akan dihadapi bangsa yang heterogen (prular) dari sosial budaya
masyarakatnya. Pengembangan integrasi nasional menjadi hal yang amat penting
sehingga dapat memperrkuat ketahanan nasionalnya.
h. Unsur atau Gatra di Bidang Pertahanan Keamanan
pertahanan keamanan suatu negara merupakan unsur pokok terutama dalam
menghadapi anacaman militer negara lain. Oleh karena itu, unsur teruama
75

pertahanan keamanan berada di tangan militer. Negara dapat melibatkan


rakyatnya dalam upaya pertahanan negara sebagai betuk hak dan kewajiban
warga negara dalam membela negara. Upaya melibatkan rakyat menggunakan
cara yang berbeda-beda sesuai dengan sistem politik pertahanan yang dianut oleh
negara. Bangsa indonesia dewasa ini menetapkan politik pertahanan sesuai
dengan UU No. 3 tahun 2002 tentang pertahanan negara.
ketahanan nasional adalah suatu pengertian holistic, yang mana terdapat
saling hubungan anatargatra dalam keseluruhan kehidupan nasional. Kualitas
antargatra dalam kehidupan nasional Indonesia tersebut terintegrasi dan dalam
integrasinya dengan trigatra. Keadaan kedelapan unsur tersebut menunjukan
kondisi ketahanan nasional Indonesia, apakah ketahanan nasional kita kiat atau
lemah. Kelemahan disalah satu gatra dapat mengakibatkan kelemahan di salah
satu gatra lain dan mempeengaruhi kondisi secara keseluruhan. Ketahanan
nasional Indonesia bukanlah merupakan bukanlah suatu penjumlahan ketahanan
segenap gatranya, melainkan suatu hasil keterkaitan yang intergratif dari kondisi
dinamik kehidupan bangsa di seluruh aspek kehidupanya.
D. PEMBELAAN NEGARA
Terdapat hubungan antara ketahanan nasional suatu negara dengan pembelaan
negara. kegiatan pembelaan negara pada dasarnya usaha merupakan usaha dari
warga untuk mewujudkan ketahanan nasional.
Bela negara biasanya selalu dikaitkan dengan militer atau militerisme,seolaholah kewajiban dan tanggung jawab untuk membela negara hanya terletak pada
Tentara Nasional Indonesia. padahal berdasarkan pasal 27 dan 30 UU 1945,
masalah bela negara dan pertahanan negara merupakan hak dan kewajiban warga
negara Repoblik Indonesia. bela negara adalah upaya setiap warga negara untuk
mempertahankan Negara Indonesia terhadap ancaman, baik dari luar maupun dalam
negri.
1. Makna Bela Negara
Membela negara merupakan kewajiban sebagai warga negara. membela
negara bukan hanya merupakan kewajiban tetapi juga hak setiap warga negara
terhadap negaranya. Membela negara Indonesia adalah merupakan hak dan
kewajiban setiap warga negaranya. Hal ini tercantum secara jelas dalam pasal 27
ayat 3 UUD 1945 perubahan kedua yang berbunyi setiap warga negara berhak dan
wajib ikut serta dalam upaya pembelaan negara . Setia warga negara juga berhak
dan ikut serta dalam pertahanan negara. hal demikian sebagaiman tercantum dalam
pasal 30 UU 1945 perubahan ke dua bahwa tiap-tiap warga negara berhak dan
wajib ikut serta dalam usaha pertahanan dan keamanan negara. .
Konsep bela negara dapat di uraikan secara fisik maupun non fisik. Secara
fisik Yaitu dengan cara menghadapi serangan atau agresi musuh. Bela negara secara
fisik di lakukan untuk menghadapi ancaman dari luar. Adapun bela negara secara
non fisik dan di defenisikan sebagai segala upaya mempertahankan Negara
Kesatuan Repoblik Indonesia dengan cara meningkatkan kesadaran berbangsa dan
bernegara, menanamkan kecintaan terhadap tanah air serta berperan aktif dalam
memajukan bangsa dan negara.\
2. Peraturan perundang-undangan tentang Bela Negara
76

Sampai saat ini undang-undang yang merupakan pelaksanaan dari pasal 30


UUD1945 tersebut adalah:
1. Undang-Undang No. 2 Tahun 2002 Tentng Kepolosian Negara Repoblik
Indonesia;
2. Undang-Undang No. 3 Tahun 2002 tentang Pertahanan Negara;
3. Undang-Undang No. 34 Tahun 2004 tentang Tentara Nasional Indonesia
Mengenai perang warga negara dalam bela negara disebutkan dalam pasal 9
UU No. 3 tahun 2002, yaitu pasal I, 2, 3,
3. Keikutsertaan Warga Negara dalam Bela Negara
Keikutsertaan warga negara dalam menghadapi berbagai ancaman tettu saja
dengan upaya bela negra. Urayan sebelumnya telah dikatakan bahwa bela negara
mencangkup pengertian bela negara secara fisik dan non fisik. Bela negara secara fisik
adalah memanggul senjata dalam menghadapi musuh. Bela negara secara fisik
pengertianya lebih sempit dari bela negara secara non fisik.
a.Bela Negara Secara Fisik
Menurut undang-undang No. 3 tahun 2002 tentang pertahanan negara,
keikutsertaan warga negara dalam bela negara secara fisik dapat dilakukan dengan
menjadi anggota tentara Nasional Indonesia dan latihan dasar kemiliteran.
Tiga fungsi yang disebut pertama umumnya dilakukan pada massa damai atau
pada saat terjadinya bencana alam atau darurat sipil., dimana unsur-unsur rakyat terlati
membantu pemerintah daerah dalam menanagani keamanan dan ketertiban masyarakat,
sementara fungsi perlawanan rakyat dilakukan dalam keadaan darurat perang dimana
rakyat terlati merupakan sumber bantuan tempur bagi pasukan leguler TNI dan terlibat
langsung di medan perang.
Bila keadaan ekonomi dan keuangan memunkinkan, dapat pula
dipertimbangkan kemudian untuk mengadakan wajib militer bagi warga negara yang
memenuhi syarat seperti yang banyak dilakukan banyak negara maju di barat. Mereka
yang teleh mengikuti penddikan dasar militer akan dijadikan cadangan tentara Nasional
Indonesia selama waktu tertentu, dengan masa dinas misalnya sebulan dalam setahun
untuk mengikuti latihan atau kursus-kursus penyerangan.Dalam keadaan darurat
perang, mereka dapat dimobilisasi dalam waktu singkat dalam tugas-tugas tempur
maupun territorial.
Rekrutmen dilakukan secara selektif, teratur, dan
berkesenambungan.
b.Bela Negara Secara Nonfisik
Menurut undang-undang No. 3 Tahun 2002 keikutsertaan sertaan warga negara
dalam belanegara secara nonfisik dapat diselenggarakan melalui pendidikan
kewarganegaraan. Berdasarkan hal diatas keterliibatan warga negara dalam bela negara
secara nonfisik dapat dilihat sebagai berikut.
a.
b.
c.
d.
e.

Meningkatkan kesadaran berbangsa dan bernegara


Menanamkan kecintaan terhadap tanah air
Berperan aktif dalam memajukan bangsa
Meningkatkan kesadaran dan kepatuhan terhadap hukum
Pembekalan mental spiritual di kalangan masyarakat
77

Sampai sat ini belum ada undang-undang sendiri yang mengatur mengenai
pendidikan kewarganegaraan, pelatihan dasar kemiliteran secara wajib, dan pengabdian
secara profesi sebagaimana diamanatkandalam undang-undang No. 3 Tahun 2002.
Apabila undang-undang mengenai pendidikan kewarganegaraan keluar maka akan
semakin jelas bentuk keikutsertaan warga negara dalam membelaan negara.
4. Identifikasi Ancaman terhadap Bangsa Dan Negara
Ancaman dapat dibedakan menjadi dua yaitu ancaman militer dan ancaman non
militer.
Bentuk-bentuk dari ancaman militer :
a. agresi berupa penggunaan bersenjata oleh negara lain terhadap kedaulatan
negara, keutuhan wilayah dan keselamatan segenap bangsa.
b. Pelanggaran wilayah yang dilakukan oleh negara lain, baik yang menggunakan
kapal maupun pesawat non komersial.
c. Spionasa yang di lakukan oleh negara lain untuk mencari dan mendapatkan
rahasia militer.
d. Sabotase untuk merusak instalansi penting militer dan objek vital nasional yang
membahayakan keselamatan negara
e. Aksi terror bersenjata yang di lakukan oleh jaringan terorisme internasional atau
bekerja sama dengan terorisme dalam negeri.
f. Pemberontakan bersenjata
g. Perang saudara yang terjadi antar kelompok masyarkat bersenjata dengan
kelompok masyarakat bersenjata lainya.
E. INDONESIA DAN PERADABAN DUNIA
1. Posisi Negara Dalam Era Global
Globaliasasi adalah proses social yang muncul sebagai akibat dari kemajuan dan
inovasi teknologi serta perkembangan komunikasi dan informasi.
Beberapa pendapat mengenai global dan globalisasi sebagai berikut;
1.

2.

3.

4.
5.
6.
7.

Kata globalisasi diambil dari kata global, yang maknanya ialah universal atau
internasional. Jadi globalisasi maksudnya adalah universalisasi atau
internasionalisasi.
globalisasi dalam arti literal adalah sebuah perubahan sosial, berupa
bertambahnya keterkaitan diantara masyarakat dan elemen-elemennya yang
terjadi akibat transkulturasi dan perkembnagan teknologi di bidang transportasi
dan komunikasi yang memfasilitasi pertukaran budaya dan ekonomi
internasional.
beberapa pakar mengatakan era globalisasi adalah era yang tercipta berkat
kemajuan teknologi informasi, telekomunikasi dan transportasi yang semakin
pesat dan canggih.
istilah globalisasi dapat diterapkan dalam berbagai konteks sosial, budaya,
ekonomi, dan sebagainya.
sebagian pihak sering menggunakan istilah globalisasi yang dikaitkan dengan
berkurangnya peran negara atau batas-batas negara.
globalisasi sebagai sebuah gejala tersebarnya nilai-nilai dan budaya tertentu
keseluruh dunia
global artinya sejagat. Era global berarti era kesejagatan
78

8.

globalisasi menyangkut seluruh aspek kehidupan masyarakat dan individu


anggota masyarakat. Globalisasi menyangkut kesadaran baru mengenai dunia
sebagai satu kesatuan.
9. globalisasi didefinisikan sebagai fenomena yang menjadikan dunia mengecil
dari segi perhubungan manusia disebabkan oleh perkembangan teknologi
informasi dan komunikasi.
Namun sebagai sebuh proses, globalisasi memiliki karakteristik sebagai berikut.
a. terkait erat dengan kemajuan teknologi, arus informasi dan komunikasi yang
lintas batas negara;
b. tidak dapat dilepaskan dari adanya akumulasi capital, tingginya arus investasi,
keuangan, dan perdagangan global;
c. berkaitan dengan semakin tingginya intensitas perpindahan manusia, barang,
jasa dan pertukaran budaya yang lintas batas negara;
d. ditandai dengan semakin meningkatnya tingkat keterkaitan dan ketergantungan
tidak hanya antarbangsa/negara tetapi juga antar masyarakat (poppy S Winanti,
2002)
Globalisasi abad XXI diyakini berpengaruh besar terhadap kehidupan suatu
bangsa. Globalisasi akan menimbulkan ancaman dan tantangan yang ditengarai bias
berdampak negatif bagi bangsa dan negara. Namun disisi lain globalisasi memberikan
peluang yang akan berdampak positif bagi kemajuan suatu bangsa.
Dalam menghadapi globalisasi ini, bangsa-bangsa didunia memberi respon atau
tangggapan yang dapat dikategorikan sebagai berikut
a. sebagian bangsa menyambut positif globalisasi karena dianggap sebagai jalan
keluar untuk perbaikan nasib umat manusia.
b. Sebagian masyarakat yang krisis menolak globalisasi karena dianggap sebagai
bentuk baru penjajahan melalui cara-cara baru yang bersifat transnasional
dibidang politik, ekonomi, dan budaya.
c. Sebagian yang lain tetap menerima globalisasi sebagai sebuah keniscayaan
akibat perkembangan teknologi informasi dan transportasi tetapi tetap krisis
terhadap akibat negatif globalisasi.
Globalisasi perlu diwaspadai dan dihadapi dengan sikap arif bijaksana. Salah satu
sisi negatif dari globalisasi adalah semakin menguatnya nilai-nilai materialistis pada
masyarakat indonesia. Disisi lain nilai-nilai solidaritas sosial, kekeluargaan,
keramahtamahan sosial dan rasa cinta tanah air yang pernah dianggap sebagai kekuatan
pemersatu dan ciri khas bangsa indonesia makin pudar.
Dalam naskah rencana pembangunan jangka menengah nasional (RPJMN) 20042009 telah dimunculkan program pengembangan nilai budaya. Program ini bertujuan
untuk memperkuat jati diri bangsa dan memantapkan budaya nasional.
Disamping itu, diupayakan pula pembangunan moral bangsa yang mengedepankan
nilai-nilai kejujuran, amanah, keteladanan, sportivitas, disiplin, etos kerja, gotong
royong, kemandirian, sikap toleransi, rasa malu, dan tanggung jawab. Tujuan tersebut
dilaksanakan pula melalui pengarusutamaan nilai-nilai budaya pada setiap aspek
pembangunan.
Kegiatan pokok yang kaan ditempuh antara lain adalah
1) Aktualisasi nilai moral dan agama
79

2) Revitalisasi dan rektualisasi budaya lokal yang bernilai luhur termasuk didalamnya
pengembangan budaya maritim, dan
3) Transformasi budaya melalui adopsi dan adaptasi nilai-nilai baru yang positif untuk
memperkaya dan memperkokoh khazanah budaya bangsa.
2. Partisipasi Indonesia bagi Perdamaian Dunia
Peran serta indonesia dalam operasi pemeliharaan perdamaian merupakan
amanat pembukaan UUD 1945, yaitu dalam rangka mewujudkan perdamaian dunia
yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilaan social. Harapan
untuk hidup damai tampaknya masih menjadi impian yang sulit bagi sebagian
bangsa disebagian kawasan. Berakhirnya perang dunia II dan perang dingin yang
di tandai dengan pembubaran uni Sovyet tahun 1991, ternyata tidak membuat dunia
bebas dari konflik bersenjata. Perang besar antara kedua negara raksasa AS dan
US memang tidak terjadi, namun perang kecil dan konflik justru berkecamuk
dimana-mana. Di wilayah Balkan, balkin dan bekas Unu Sovyet, afrika, timu
tengah, perang dan berbagai jenis konflik lain terus berkecamuk.
Untuk menjaga perdamaian kawasan konflik PBB membentuk pasukan
perdamaian dalam rangka operasi pemeliharaan perdamaian (OPP). Beberapa conto
pasukan perdamaian tersebut. Keikutsertanan Indonesia dalam upaya perdamaian
dunia adalah dengan menjadi anggota pasukan perdamaian pada tahun 1957.
pesukan perdamaian Indonesia dinamakan kontingen Garuda. Selain keikutsertaan
melalui kontingen Garuda dalam upaya pemeliharaan perdamaian PBB, Indonesia
tercatat sebagai anggota tidak tetap Dewan Keamanan PBB sebanyak tiga
kali.yaitu:
1. Periode 1973 1974
2. periode 1995 1996
3. periode 2007 2008
Dukungan yang luas terhadap ke anggotaan Indonesia di Dewan Keamanan ini
merupakan cerminan pengakuan masyarakat internasional terhadap peran dan
sumbangan selama ini dalam upaya dalam menciptakan keamanan dan perdamaian baik
pada tingkat kawasan maipun global. Peran dan kontribusi Indonesia tersebut
mencangkup antara lain keterlibatan pasukan Indonesia di berbagai misi penjagaan
perdamaian PBB sejak tahun 1957. upaya perdamaian seperti kamboja dan Filipina
selatan dalam konteks ASEAN ikut serta menciptakan tatanan kawasan di bidang
perdamaian dan keamanan. Serta peran aktif di berbagai forum pembahasan isu
pelucutan dan non-proliferasi nuklir.
Dengan tepilh menjadi anggota, berati indonesia akan mengemban kepercayaan
masyarat internasional untuk berpartisipasi menjadi Dewan Keamanan, sebagai badan
yang efektif untuk menghadapi tantangan-tantangan global. Di bidang keamanan dan
perdamaian dunia. Keanggotaan Indonesia di Dewan keamanan merupakan wujut dari
upaya di bidang diplomasi untuk melaksanakan amanat pembukaan UUD 1945 alinea
IV, yang memandatkan indonesia untuk turut seta aktif dalam upaya menciptakan
ketertiban dunia yang berdasarkan kebebasan, perdamaian abadi, dan keadialan sosial
3. Segi Geopolitis dan Kepentingan Nasional
Geopolitis adalah istilah yang pertama kali di gunakan oleh Frederich Ratzel sebagai
ilmu bumi politik. Geopplitik mempelajari fenomena politik dari aspek geografis.
80

Prinsip geopolitik Indonesia sebagaimana tersebut di atas menandakan bahwa dalam


hal wilayah, bangsa Indonesia tidak ada semangat untuk mempeluas wilayah sebagai
ruang lingkup. Salah satu kepentingan nasional indonesisa adalah bagaimana
menjadikan bangsa dan wilayah ini senantiasa satu dan utuh. Kepentingan nasional
merupakan turunan lanjut dari cita-cita nasional, tujuan nasional maupun visi nasional.
Cita-cita nasional bangsa indonesia sebagaimana tertuang dalam pembukaan UUD
1945 alinea II adalah untuk mewujudkan Negara Indonesia.
2. WAWASAN WIATA MANDALA SEBAGAI GEOPOLITIK INDONESIA
1. Geopolitik sebagai Ilmu Bumi politik
Geopolitik sebagai etimologi berasal dari kata geo ( bahasa yunani ) yang berarti
bumi dan tidak lepas dari pengaruh letak serta kondisi geografis bumi yang menjadi
wilayah hidup. Geopolitik dimaknai sebagai ilmu penyelenggaraan negara yang
setiap kebujakanya di kaitkan dengan masalah-masalah geografi wilayah atau
tempat tinggal suatu bangsa. Geopolitik adalah ilmu yang mempelajari hubungan
antara factor-faktof geografi, strategi, dan politik suatu negara, sedang untuk
implementasinya di perlukan suatu atrategi yang bersifat nasional.
Istilah geopolitik pertama kali di artiakan oleh Frederich Radzel sebagai ilmu bumi
politik, yang kemudian di peluas oleh Rudolf Kjellen menjadi georagrapichal
pilitich, disingkat geopolitik.
Teori-teori Geopolitik
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
3.

Teori geopolitik Frederich Radzel


Teori geopoloik Rudolf Kjellen
Teori geopolitik Karl Haushofer
Teori geopolitik Halfort Mackinder
Teori gopolitik Alfred Thayer Mahan
Teori geopolitik GuilioDouhet, Wiliam Mitchel, Saversky, dan Jfc Puller
Teori geopolitik Nichkholas J. Spickaman
Paham Geopolitik Bangsa Indonesia
Paham geopolitk Indonesia terumuskan dalam konsepsi wawasan nusantara.
Bagi bangsa Indonesia, geopolitik merupakan pandangan baru dalam
mempertimbangkan factor-faktor geografis wilayah negara untuk mencapai tujuan
nasionalnya. Untuk Indonesia, geopolitik adalah kebijakan dalakm rangaka
mencapai tujuan nasional dengan memanfaatkan keuntungan letak geografis negara
berdasarkan pengetahuan ilmiah tentang kondisi geografis tersebut.
Secara geografis Indonesia mempunyai ciri khas, yakni di apit dua samudra (
hindia dan Pasific ) dan dua benua ( asia dan Australia ), serta terletak di bawah
orbit geostationari satellite orbit ( GSO ). Indonesia merupakan negara kepulauan
yang di sebut nusantara ( Nusa diantara air ), sehingga bira di sebut sebagai benua
maritum Indonesia.
Secara histories, wilayah Indonesia sebelumnya adalah wilah jajahan Belanda
yang dulunya di sebut hindia Belanda. Berdasarkan fakta geografis dan sejarah
inilah wilayah Indonesia beserta yang ada di dalamnya di pandang sebagai satu
kesatuan. Pandangan atau wawasan nasional Indonesia ini dinamakan wawasan
nusantara.
D. PERWUJUDAN WAWASAN NUSANTARA
81

1. Perumusan Wawasan Nusantara


Konsepsi wawasan nusantara di tuangkan dalam peraturan per undangan
yaitu dalam ketetapan MPR mengenai GBHN. Secara berturut-turut adalah:
1. Tap MPR No. IV/MPR/1973
2. Tap MPR No. IV/MPR/1978
3. Tap MPR/No II/MPR/1983
4. Tap MPR/No.II/MPR/1988
5. Tap MPR/No.II/MPR/1993
6. Tao MPR/No.II/MPR/1998
Hakikat wawasan nusantara adalah kesatuan bangsa dan ke utuhan wilayah Indonesia.
cara pandang bangsa Indonesia mencangkup yaitu:
1. perwujudan kepulauan nusantara sebagai suatu kesatuan politik
2. perwujudan kepulauan nusantara Sebagai Sutu kesatuan Ekonomi
3. perwujudan kepulauan nusantara sebagai satu kesatuan social budaya
4. perwujudan kepulauan nusantara sebagai satu kesatuan pertahanan keamanan.
Wawasan nusantra mengajarkan peuanya kesatuan system politik, system
ekonomi, system social, system budaya, dan system pertahanan keamanan dalam
lingkup negara nasional Indonesia.
2. Batas Wilayah Negsra Kesatuan Repoblik Indonesia
a. wilayah daratan ( negara Malaysia, papua nugini dan timur Leste )
b Wilayah Perairan ( indonesia dan Filipina ,Indonesia dan Malaysia ).
c. Wilayah udara ( negara tidak berdaulat datas udara tetapi ada peratuaran
tersendiri yang mengaatur hal itu ).
3. Unsur Dasar Wawasan Nusantara
a. Wadah, sebagai wadah kehidupan masyarakat berbangsa dan bernegara meliputi
wilayah nusantara.
b. Isi, yaitu aspirari bangsa yang berkembang dimasyarakat dan tujuan nasional
yang terdapat dalam pembukaan UUD 1945.
c. Tata laku, yaitu hasil interaksi antara wadah dan isi yang terdiri dari tatalaku
batiniah dan lahiriah.
4. Tujuan dan Manfaat Wawasan Nusantara
a. Tujuan wawasan nusantara
tujuan wawasan Nusantara terdiri atas dua yaitu :
1. Tujuan ke Dalam.
2. Tujuan ke Luar.
b. Manfaat Wawasan Nusantara
82

1. Diterima dan di akui konsepsi nusantara di forum Internasional


2. Pertambahan luas wilayah territorial Indonesia.
3. Pertambahan luas wilayah sebagai ruang hidup memberikan potesi sumber daya
yang besar bagi kesejahteran rakyat.
4. Penerapan wawasan nusantara menghasilkan cara pandang tentang ke utuhan
wilayah nusantara yang perlu di pertahankan oleh bangsa Indonesia
5. wawasan nusantara menjadi salah satu sarana integrasi nasional
E. OTONOMI DAERAH DI INDONESIA
1. Kaitan Wawasan Nusantara dengan Otonomi Daerah
Negara kita melaksanakan otonomi daerah karena melaksanakan amanat UUD 1945
pasal 18.
2. Otonomi Daerah Di Indonesia
Menurut pasal 1 UUD 1945 Negara Indonesia Ialah Negara kesatuan yang
berbentuk republic. Nega RI memilih cara desentralisasi dalam penyelenggaraan
pemerintahanya bukan sentralisasi di sebabkan:
1. Wilayah Indonesia yang sangat luas
2. daerah- daerah di Indonesia yang memiliki kondisi geografis dan budaya yang
berlainan.
Dengan alasan demikian maka pemerintah menyerahkan sebahagian
kekuasanya kepada wialayah atau daerah-daerah agar mengurus dan mengatur
sendiri kekuasaanya. Dengan demikian daerah memiliki hak atau kewenangan
untuk mengurus dan mengatur sendiri urusanya oleh karena sudah di serahi
kewenagan dari pemerintah pusat.
Menurut undang-undang No. 32 tahun 2004 tentang pemerintah daerah,
daerah yang otonom atau daerah otonom, meliputi tiga daerah yaitu:
1.
2.
3.
3.

Daerah Propinsi
Daerah Kabupaten
Daerah Kota
Kedudukan Wawasan Nusantara
Wawsan nusantara berkedudukan sebagai visis bangsa. Visi adalah keadaan
suatu rumusan umum mengenai keadaan yang diinginkan. Wawasan nasional
merupakan visi bangsa yang bersangkutan dalam menuju masa depan. Visi
bangsa Indonesia sesuai dengan konsep wawasan nusantara adalah menjadi
bangsa yang satu dengan wilayah yang satu dan utuh pula.

B. Latar Belakang Konsepsi Wawasan Nusantara


Latar belakang atau faktor-faktor yang memengaruhi tumbuhnya konsepsi
Wawasan Nusantara adalah sebagai beikut:
1. Aspek historis
2. Aspek geografis dan social budaya.
3. Aspek geopolitis dan kepentingan nasional.
83

4. Segi historis atau Sejarah


Dari segi sejarah, bahwa bangsa Indonesia menginginkan m,enjadi
bangsa yang bersatu dengan wilayah yang utuh adalah karena dua hal yaitu
a.

Kita pernah mengalami kehidupan sebagai bangsa yang terjajah dan


terpecah.
b.
Kita pernah mengalami wilayah yang terpisah-pisah.
Bangsa Indonesia sebagaimana bangsa lain terutama di Benua Asia dan
Afrika sama-sama pernah mengalami masa penjajahan bangsa Barat. Bangsa
Barat yang pernah menjajah Indonesia adalah Spanyol, Portugis, Inggris, dan
Belanda. Selanjutnya dalam kurun waktu terakhir menjelang kemerdekaan,
bangsa Indonesia pernah mengalami penjajahan Jepang. Tidak kurang dari 350
tahun kita hidup dalam zaman penjajahan. Kehidupan sebagai bangsa yang
terjajah adalah penderitaan, kesengsaraan, kemiskinan, dan kebodohan.
Penajah juga menciptakan perpecahan dalam diri bangsa Indonesia.
Politik pecah belah penjajah terhadap bangsa Indonesia dikenal dengan politik
Devide et impera. Dengan adanya politik pecah belah ini orang-orang Indonesia
justru melawann bangsanya sendiri.
Secara historis, wilayah Indonesia adalah wilayah bekas jajahan Belanda
atau wilayah eks Hindia Belanda. Wilayah Hindia Belanda yang berbentuk
kepulauan merupakan wilayah yang terpisahkan oleh laut bebas. Bukti bahawa
wilayah Hindia Belanda adalah terpisah-pisah dan bukan merupakan satu
kesatuan adalah adalah digunakannya ketentuan bahwa laut territorial Hindia
Belanda adalah selebar 3 mil, berdasarkan territoriale, zee Maritime Kringen
Ordonnentie tahun 1939 disingkat Ordonansi 1939. dengan adanya Ordonansi
1939 tersebut, laut atau perairan yang berada di dalama wilayah yang lebih dari
3 ml adalah diluar wilayah territorial. Perairan itu menjadi lautan bebas dan
berlaku sebagai perairan internasional.
Berdasarakan keadaan historis demikian, bangsa Indonesia berupaya
mengembangkan konsepsi tentang visi bangsa, yaitu sebagai bangsa yang
bersatu serta wilayah yang utuh.
Untuk bisa keluar dari keadaan bangsa terjajah dan terpecah, kita
membutuhkan semangat kebangsaan. Semangat kebangsaan melahirkan visi
sebagai bangsa yang bersatu. Tumbuhnya semnagt kebangsaan (nasionalisme)
menjadi ideology bagi perjuangan bangsa Indonesia yang akhirnya bertitik
puncak pada proklamasi kemerdekaan bangsa Indonesia 17 Agustus 1945.
munculnya semnagat kebangsaan Indonesia ditandai dengan era kebangkitan
nasional yaitu kemunculan berbagai organisasi perjuangan. Penegasan akan
semangat kebangsaan itu ditandai dengan adanya Sumpah Pemuda 28 Oktober
1928. Akhirnya, semangat kebangsaan menemukan hasilnya, yaitu proklamasi
Kmerdekaan 17 Agustus 1945.
Perkembangan semangat kebangsaan Indonesia dapat dikategorikan
dalam kurun waktu sebagai berikut:
d.
e.

Zaman perintis 1908, yaitu dengan kemunculan Pergerakan Nasional


Budi Utomo.
Zaman penegas 1928, yaitu dengan ikrar Sumpah pemuda
84

f.

Zaman pendobrak 1945, yaitu dengan Proklamasi Kemerdekaan


Indonesia.
Proklamasi kemerdekaan 17 Agustus 1945 merupakan revolusi
integrative dari bangsa Indonesi. Bangsa Indonesia yang sebelumnya terpecahpecah dalam banyak suku dan terjajah beralih menjadi bangsa yang bersatu dan
merdeka.
Upaya untuk menjadikan wilayah Indonesia sebagai wilayah yang utuh
tidak lagi terpisah adalah dengan mengganti territoriale zee en Maritime
Kringen Ordonnentie tahun 1939. pada saat kita merdeka tahun 1945, wilayah
Indonesia masih dalam keadaan terpisah-pisah disebabkan masih berlakunya
Ordonansi tahun 1939.
Perdana menteri Juanda pada tanggal 13 Desember 1957 mengeluarkan
pernyataan yang selanjutnya dikenal dengan Deklarasi Juanda 1957. peryataan
(deklarasi) menegenai wilayah perairan Indonesia itu berbunyi sebagai beikut:
bahwa segala perairan disekitar, di antara dan yang menghubungkan
pulau-pulau yang termasuk Negara Indonesia dengan tidak memandang
luas atau lebarnya adalah bagian-bagian yang wajar daripada wilayah
daratan Negara Indonesia dan dengan demikian bagian daripada
perairan pedalaman atau nasional yang berada dibawah kedaulatan
mutlak Negara Indonesia. Lalu lintas yang damai di perairan pedalaman
ini bagi kapal-kapal asing dijamin selama dan sekadar tidak bertentangan
dengan/mengganggu kedaulatan dan keselamatan Negara Indonesia.
Penentuan batas landas lautan territorial (yang lebarnya 12 mil) diukur
dari garis yang menghubungkan titik-titik ujung yang terluar pada pulaupulau Negara Indonesia. Ketentuan-ketentuan diatas akan diatur selekaslekasnya dengan undang-undang.
Isi pokok Deklarasi Juanda adalah menyatakan laut territorial Indonesia
adalah selebar 12 mil tidak lagi 3 mil berdasarkan point to point theory.
Deklarasi Juanda dinyatakan sebagai pengganti territoriale Zee en Maritime
Kringen Ordonantie tahun 1939 dengan tujuan:
d.

Perwujudan bentuk wilayah Negara kesatuan Republik Indonesi yang utuh


dan bulat;
e.
Penentuan batas-batas wilayah Negara Indonesia dosesuaikan dengan asas
Negara kepulauan;
f.
Pengaturan lalu lintas damai pelayaran yang lebih menjamin keselamatan
dan keamanan Negara kesatuan Republik Indonseia.
Dekalarasi Juanda dikukuhkan dakam Undang-Undang Nomor 4/Prp
Tahun 1960 tentang Perairan Indonesia yang berisi:
d.

Perairan Indonesia adalah laut wilayah Indonesia beserta perairan


pedalaman Indonesia;
e.
Laut wilayah Indonesia adalah jalur 12 mil laut;
f.
Perairan pedalaman Indonseia adalah semua perairan yang terletak apada
sisi dalam dari garis dasar.
Keluarnya deklarasi Juanda 1957 tersebut melahitkan konsepsi wawsan
nusantara dimana laut tidak lagi sebagai pemisah, tetapi sebagai penghubung.
85

Wawasan nusantara dibangun dari konsepsi kewilayahan. Negara Indonesia


adalah satu kesatuan wilayah yang berciri nusantara.
Melelui perjuangan panjang akhirnya Konferensi PBB tanggal 30 April
1982 menerima The United Nations Convention on the Law of the sea
(UNCLOS). Berdasarkan Kovensi Hukum laut 1982 tersebut diakui asa Negara
Kepulauan (Archipelago State).
Pada tahun 1969 negara Indonesia mengeluarkan Deklarasi tentang
landas kontinen Indonesia. Deklarasi itu berintikan:
1. kekayaan alam di landas kontinen adalah milik Negara bersangkutan;
2. batas landas kontinen yang terletak di antara dua Negara adalah garis
tengahnya.
Tentang landas kontinen dikuatkan dengan Undang-Undang No. 1
Tahun 1973 tentang Landas Kontinene Indonesia. Selanjtnya pada tahun 1980
pemerintah Indonesia mengeluarkan pengumuman tentang Zone Ekonomi
Eksklusif (ZEE) Indonesia. Zee berintikan:
4. Lebar Zone Eksklusif Indonesia 200 mil diukur dari garis pangkal laut
wilayah Indonesia.
5. Hak berdaulat untuk menguasai kekayaan sumber alam di ZEEI.
6. Lautan ZEEI tetap merupakan lautan bebas untuk pelayaran Internasional.
ZEEI diterima oleh hamper seluruh pserta konferensi Hukum Laut
Internasional di Jamaika tahun 1982 dan dikukuhkan oleh Pemerintah RI
dngan UU No. 5/1983.
5. Segi geografis dan sosial budaya
Dari segi geografis dan sosial budaya, Indonesia m,erupakan Negara
bangsa dengan wilayah dan posisi yang unik serta bangsa yang heterogen.
Keunikan wilayah heterogenitas bangsa menjadikan bangsa Indonesia perlu
memiliki visi untuk menjadi bangsa yang bersatu dan utuh.
Keunikan wilayah dan heterogenitas bangsa tersebut, antara lain sebagai
berikut:
a.
b.

c.
d.
e.
f.
g.
h.
i.
j.
k.

Indonesia bercirikan Negara kepulauan/maritime (Archipelago State)


dengan jumlah 17.508 pulau.
Luas wilayah 5,192 juta km2 dengan perincian daratan seluas 2,027
juta km2 dan laut seluas 3,166 juta km2. Negara kita terdiri 2/3
lautan/perairan.
Jarak utara selatan 1.888 km dan jarak timur barat 5.110 km.
Indonesia terletak di anatara dua benua dan dua samudra (posisi
silang).
Indonesia terletak pada garis khatulistiwa.
Indonesia berada pada iklim tropis dengan dua musim.
Indonesia menjadi pertemuan dua jalur pegunungan, yiatu
Mediterania dan Sirkum Pasifik.
Berada pada 6oLU 11o LS dan 95o BT 141o BT.
wilayah yang subur dan habitable (dapat dihuni).
Kaya akan flora, fauna, dan sumber daya laam.
Memiliki etnik yang sangat banyak (heterogenitas suku bangsa)
sehingga memiliki kebudayaan yang beragam.
86

l.

Memiliki jumlah penduduk yang besar dengan jumlah sekitar


218,868 juta (tahun 2005)
Posisi Indonsia yang demikian ini sering dinyatakan memiliki posisi
yang strategis.Keunikan wilayah dan heterogenitas bangsa membuka dua
peluang. Secara positif adapat dijadikan modal memperkuat bangsa menuju
cita-cita. Secara negative dapat mudah menimbulkan perpecahan serta infiltrasi
pihak luar.
6. Segi geopolitis dan kepentingan nasional.
Geopolitik adalah istilah yang pertama kali dikemukakan oleh Frederich
Ratzel sebagai Ilmu Bumi Politik. Sebagai ilimu, geopolitik mempelajari
fenomena politik dari aspek geografi. Bahwa politik suatu Negara dipengaruhi
oleh konstelasi geografi Negara yang bersangkutan. Geopolitik memaparkan
dasar pertimbangan dari aspek geografi dalam menentukan kebijakan nasional
untuk mewujudkan suatu tujuan. Prinsip-prinsip geopolitik suatu Negara dapat
menjadi dasar bagi perkembangan wawsan nasional bangsa itu.
Kesatuan antara bangsa Indonesia dengan wilayah tanah air yang
membentuk semangat dan wawasan kebangsaan, yaitu sebagai bangsa yang
bersatu.prinsip geopolitik Indonesia sebagaimana tersebut diatas menandakan
bahwa dalam hal wilayah, bangsa Indonesia tidak ada semangat untuk
memperluas wilayah sebagai ruang hidup (lebensraum). Kesepakatan para
pendiri Negara Republic Indonesia adalah wilayah Indonesia merdeka hanyalah
wilayah bekas jajahan Belanda atau eks Hindia Belanda. Wilayah yang
bangsanya memiliki le desir detre ensemble dan character-gemeinschaft
menurut Soekarno itulah yang harus kita satukan dan pertahankan. Upaya
membangun kesadaran untuk bersatunya bangsa dalam wilayah adalah konsepsi
wawsan nusantara. Cirri nasionalisme Indonseia adalah nasionalisme yang tidak
chauvisnisme dan juga bukan kosmopolitanisme. Nasionalisme Indonesia
tumbuh dalam internasionalisme, mengembangkan hubungan baik dengan
bangsa lain secara sederajat.
Salah satu kepentingan nasional Indonesia adalah bagaimana
menjadikan bangsa dan wilayah ini senantiasa satu dan utuh. Kepentingan
nasional itu merupakan turunan lanjut dari cita-cita nasional, tujuan nasional
maupun visi nasional. Cita-cita nasional bangsa Indonesia sebagaimana tertuang
dalam pembukaan UUD 1945 Alinea II adalah unyuk mewujudkan Negara
Indonesia. Yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur. Adapun tujuan
nasional Indonesia sebagaimana tertuang dalam pembukuan UUD 1945 Alinea
IV, salah satunya adalah melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh
tumpah darah Indonesia. Visi nasional Indonesia menurut ketetapan MPR No.
VII/MPR/2001 tentang Visi Indonesia Masa depan adalah terwujudnya
masyarakat Indonesia yang religius, manusiawi, bersatu, demokratis, adil,
sejahtera, maju, mandiri, serta baik dan bersih dalam penyelenggaraan Negara.
Upaya untuk terus membina persatuan dan keutuhan wilayah adalah
dengan mengembangkan wawasan nasional bangsa. Wawsan nasional bangsa
Indonesia itu adalah Wawasan Nusantara.

87

Pokok Bahasan I
PANCASILA SEBAGAI DASAR NEGARA DAN IDEOLOGI NASIONAL
Pokok Bahasan 2
HAKIKAT IDENTITAS NASIONAL
Pokok Bahasan 3
HAK DAN KEWAJIBAN WARGA NEGARA
Pokok Bahasan 4
HAK DAN KEWAJIBAN WARGA NEGARA, ORANG TUA, MASYARAKAT,
DAN PEMERINTAH
Pokok Bahasan 5
NEGARA DAN KONSTITUSI
Pokok Bahasan 6
Pokok Bahasan 7
DEMOKRASI DAN PENDIDIKAN DEMOKRASI
Pokok Bahasan 8
NEGARA HUKUM DAN HAK ASASI MANUSIA
Pokok Bahasan 9
SUPREMASI HUKUM
Pokok Bahasan 10
WAWASAN NUSANTARA SEBAGAI GEOPOLITIK INDONESIA
Pokok Bahasan 11
KETAHANAN NASIONAL SEBAGAI GEOSTRATEGI INDONESIA

88