Anda di halaman 1dari 16

INFEKSI TEMPAT OPERASI SETELAH HISTEREKTOMI

AeuMuro Gashaw Lake, MD; Alexandra M. McPencow, MD; Madeline A. DickBiascoechea, MD;Deanna K. Martin, MPH; Elisabeth A. Erekson, MD, MPH
Tujuan : tujuan dari penelitian ini adalah untuk memperkirakan angka kejadian infeksi
tempat operasi setelah histerektomi dan faktor yang berhubungan dengan hal tersebut.
Rancangan penelitian : Peneliti melakukan analisis cross-sectional terhadap data American
College of Surgeons National Surgical Quality dan kemudian dilakukan analisis mengenai
histerektomi. Berbagai macam cara histerektomi kemudian dibandingkan. Dan hasil
utamanya adalah untuk mengidentifikasi adanya infeksi superficial (selulitis) setelah 30 hari
dilakukan histerektomi. Hasil lanjutan adalah untuk mengidentifikasi adanya infeksi organ
dalam dan jaringan antar organ setelah dilakukan histerektomi. Model regressi logistik
dilakukan untuk mengidentifikasi faktor resiko yang berhubungan dengan hal tersebut.
Hasil : Dari 13,882 wanita yang dimasukkan dalam analisis final. Kejadian selulitis post
operasi hhisterektomi adalah 1,6% (221 orang). Faktor resiko yang berhubungan dengan
kejadian selulitis post histerektomi antara lain adalah cara dilakukannya histerektomi yaitu
melalui pendekatan per-abdominal dibandingkan dengan pendekatan per-vaginal dengan
odds ratio 3,74 (level kepercayaan 95%), waktu operasi yang melebihi persentil 75% (odds
ratio 1,84, 95%), penggunaan anastesi kelas 3 (AOR 1,79, 95%), indeks massa tubuh
40kg/m2 (AOR 2,65,95%) dan diabetes melitus (AOR 1,54, 95%). Kejadian infeksi organ
dalam dan jaringan antar organ setelah histerektomi adalah 1,1%.
Kesimpulan : penemuan kami mengenai penurunan kejadian infeksi post histerektomi yang
dilakukan dengan pendekatan per-vaginal meyakinkan bahwa histerektomi per-vaginal adalah
pilihan utama untuk dilakukan histerektomi.
Kata kunci : histerektomi, hasil, komplikasi postoperasi, infeksi tempat operasi.

Pada masa ini, Lembaga kesehatan amerika serikat diponsori oleh Centers for
Medicare and Medicaid Services (CMS) dan the Joint Commission on the Accreditation of
Healthcare Organizationsmempunyai tujuan untuk mencegah infeksi terkait rumah sakit,
seperti infeki tempat operasi, sebagai suatu keutamaan untuk meningkatkan kesehatan dan
keselamatan pasien. Mulai awal tahun 2012, CMS meminta semua pusat layana kesehatan
untuk mempublikasi laporan data klinis dan hasil pengukuran dalam Systematic Clinical
Database Registry for General Surgeryatau rangkuman database klinis sistematis untuk
operasi umum pada program pelaporan rawat inap pasien. Konsekuensi dari rumah sakit yang
tidak melaporkan hal ini adalah denda yang mulai berlaku oktober 2013. Ada 2 operasi
utama yang harus dilaporkan berkaitan pada infeksi tempat operasi pada CMS yaitu operasi
kolon dan histerektomi.
Lebih dari 2 dekade,banyak kemajuan yang telah dikembangkan mengenai rute
histerektomi. Walaupun kejadian dan faktor resiko tempat infeksi dari histerektomi
perabdominal total telah dilaporkan, namun belum ada laporan mengenai rute histerektomi
yang lebih aman. Pemahaman yang lebih mendalam mengenai faktor resiko infeksi tempat
operasi setelah histerektomi bisa membantu menurunkan resiko infeksi dan mencegah
infeksi. Selain itu, pemahaman mengenai infeksi tempat operasi bisa menstratifikasi hasil dari
operasi itu sendiri. Tujuan penelitian ini adalah melihat angka kejadian temapt operasi setelah
30 hari setelah dilakukan histerektomi dengan berbagai rute dan kemudian mencari faktor
resiko terkait.

MATERIAL DAN METODOLOGI PENELITIAN


Peneliti melakukan analisis data sekunder dari American College of Surgeons
National Surgical Quality Improvement Program (ACS NSQIP) tahun 2005-2009 terhadap
wanita

yang dilakukan histerektomi. ACS NSQIP adalah program nasional untuk

meningkatkan kualitas pembedahan dengan mengumpulkan data yang sejenis pada pasien
yang telah dilakukan operasi. Rumah sakit yang ikut serta dalam program

ini bersifat

sukarela dan rahasia. Informasi kemudian dikumpulkan dengan format diagram proses yang
termasuk dalam follow-up pasien selama 30 hari. Variabel yang dikumpulkan meliputi
karakteristik preoperasi, informasi bedah, dan komplikasi 30 hari post operasi. Data dari The
ACS NSQIP dan kontrol kualitasnya di deskripsikan melalui website yang mereka punya
(http://www.acsnsqip.org). Publikasi dari penelitian ini kemudian diverifikasi oleh the Yale
Human Investigation Committee yang merupakan bagian dari universitas Yale.
2

Kriteria ekslusi dalam penelitian ini adalah : 1) berjenis kelamin laki-laki, 2) wanita
dalam keadaan sedang hamil, 3) melakukan prosedur operasi dalam waktu 30 hari sebelum
dilakukan histerektomi, 4) dalam keadaan tidak bisa di histerektomi sesuai dengan Current
Procedural Terminology Coding System, 4th edition (CPT-4),5) indikasi adanya prosedur
eksentrasi pelvis saat dilakukan histerektomi sesuai dengan kode CPT-4, 6) wanita dengan
diagnosis infeksi pre-operativ meliputi sepsis, SIRS, dan shock septic segera sebelum
dilakukan histerektomi. Setelah dilakukan kriteria ekslusi maka peserta yang tersisa
dimasukkan dalam sampel.
Rute histerektomi dikelompokkan berdasarkan

kode CPT-4, antara lain : TAH,

histerektomi abdominal supracervical, histerektomi vaginal totalis, histerektomi vaginal


laparoskopi, histerektomi laparoskopi totalis, SCH laparokopi. Lebih jauh penelitian ini
mengidentifikasi infeksi tempat operasi berdasarkan insisi laparoskopi, yaitu : 1) laparotomi,
2) insisi laparoskopi, 3) TVH. Akhirnya, penelitian ini mengidentifikasi tempat infeksi
operasi berdasarkan insisi per-vaginal, yaitu : insisi non vaginal (SCH dan LASCH), 2) insisi
per-vaginal (TAH, TVH, LAVH, dan TLH).
Faktor resiko tempat

infeksi operasi di

eksplorasi dam dikelompokkan dalam

beberapa kategori: faktor demografi, faktor komorbid sebelum operasi, faktor intraoperasi.
Faktor demografi antara lain termasuk umur, ras, dan etnik. Wanita dikelompokkan menjadi 2
kategori (<80 tahun dan >80 tahun) karena dalam penelitian sebelumnya terdapat hubungan
antara umur dan resiko infeksi ditempat operasi.

Faktor komorbid preoperasi meliputi

diagnosis medis, obesitas, histerektomi karena kanker ginekologis, status fungsional


preoperasi, kehilangan berat badan, data laboratorium preoperasi dan klasifikasi American
Society of Anasthesia (ASA). Diagnosis medis meliputi diabetes melitus, riwayat
Cerebrovascular Accident (CVA) dengan defisit neurologis, ascites, dan penggunaan
kostikosteroid preoperasi, dan obesitas. Obesitas di klasifikasikan berdasarkan indeks massa
tubuh (IMT). Wanita dikategorikan berat badan normal bila IMT <30 kg/m2, obesitas bila
IMT 30 dan 40 kg/m2 dan obesitas berat bila IMT 40 kg/m2. Wanita yang melakukan
histerektomi atas indikasi kanker ginekologis diidentifikasi berdasarkan kode CPT-4 dan
dilakukan diseksi nodus lymphatikus atau dengan teknik radikal, didiagnosis ascites
preoperasi, kanker preoperasi disseminata, kemoterapi preoperasi, dan terapi radiasi
preoperasi. Status fungsional didefinisikan sebagai kemampuan wanita untuk melakukan
kegiatannya sehari-hari seperti mandi, makan, memakai pakaian, kegiatan di toilet dan
aktifitas lain yang bebas maupun terikat. Kehilangan berat badan dilakukan sebagai penanda
perburukan dan didefinisikan bila kekurangan berat badan >10% dari berat tubuh dalam
3

waktu 6 bulan. Data laboratorium preoperasi digunakan untuk mengidentifikai adanya


anemia dan gangguan ginjal. Anemia didefinisikan bila hematocrite <36% berdasarkan
penelitian Wu et al 8 dan Heisler et al9. Gangguan ginjal didefinisikan apabila level creatinin
>1,5 mg/dl berdasarkan penelitian Dowdy et al10. Faktor intraoperasi yang diteliti termasuk
tipe anastesi, klasifikasi luka, tranfusi intraoperasi dan kesulitan prosedur. Kesulitan prosedur
dihitung berdasarkan derajat operasi dan waktu operasi. Prosedur dibagi berdasarkan kode 1
sampai 8 pada CPT. Mempertimbangkan kesulitan operasi dan semua jenis prosedur maka
setiap operasi dihitung berasarkan nilai total pengerjaan dan waktu. Waktu operasi
dikatagorikan berdasarkan variabel dikotomi yaitu diatas dan dibawah persentil 75 dari ratarata waktu pengerjaan operasi berdasarkan penelitian Culver et al,11 yang menemukan bahwa
waktu >75 persentil merupakan faktor reiko terjadinya infeksi ditempat operasi. Untuk
histerektomi berdasarkan data dari ACS NSQIP, yang termasuk persentil >75 adalah 149
menit.
Katagori infeksi tempat operasi di definisikan melalui kriteria yang ditemukan data
pada ACS NSQIP.12 Definisi ini didasarkan pada kriteria yang dikelompokkan oleh Centers
for Disease Control and Prevention (CDC).13 Tujuan utama dari penelitian ini adalah kejadian
tempat infeksi operasi superfisial (selulitis) setetlah 30 hari post histerektomi. Selulitis
didefinisikan sebagai infeksi yang meliputi kulit dan jaringan subkutan dikarenakan insisi
operasi. Tujuan sekunder dari penelitian ini adalah adanya infeksi yang meliputi organ dalam
dan jaringan lunak antar organ (fascia dan otot) disekitar luka insisi dan tempat lain
dikarenakan manipulasi pada prosedur operasi. Ini antara lain termasuk selulitis vaginal,
abses vaginal, peritonitis, dan abses pelvis. Infeksi pada organ dan organ dalam dikategorikan
menjadi 1 kategori dikarenakan sulitnya menyingkirkan bias ketika histerektomi dilakukan
sebagai prosedur primer. Akhirnya,peneliti kemudian memeriksa infeksi saluran kemih
postoperasi, yang dikelompokkan dengan kriteria CDC yaitu Symptomatic UTI dan
Asymptomatic UTI, yang diperiksa melalui biakan kateter pada pasien.
Uji statistik deskriptif, T test, uji pearson dan uji fisher, digunakan sebagai analisis
bivariat. Model regresi logistic dilakukan untuk mengidentifikasi faktor resiko dari selulitis,
infeksi organ dan infeksi organ dalam serta infeksi sistem urinari setelah histerektomi. 8,9
Variabel yang berkaitan dengan infeksi tempat operasi diidentifikasi dimasukkan dalam
analisis bivariat berdasarkan derajat kepercayaan 95%. Kemudian dihitung ood rationya.
Analisis statistik menggunakan software statistik STATA dan software statistik SAS.

Hasil
Sejumlah total 23,569 sampel yang dimasukkan dalam penelitian dan melalui
prosedur ginekologi pada tahun 2005-2009 ACS NSQI. Kriteria eksklusi dimasukkan dalam
analisis final yaitu: 1) jenis kelamin lelaki (51 sampel) 2) wanita dengan keadaan hamil (416
sampel) 3) prosedur bedah dalam 30 hari sebelum histerektomi (185 sampel) 4) histerektomi
yang tidak sesuai CPT-4 (8943 sampel) 5) prosedur eksentrasi pelvis pada saat histerektomi
berdasarkan CPT-4 (10 sampel) dan 6) wanita dengan infeksi preoperasi meliputi sepsis,
SIRS, dan shock septik sebelum dilakukan histerektomi (142 sampel). Sejumlah total 13,822
sampel dimasukkan dalam analisis final.

Selulitis
Kejadian selulitis setelah histerektomi adalah sebesar 1,6% (221 sampel). Empat
wanita (0,03%) didiagnosis selulitis post operasi disertai infeksi organ dalam. Dua belas
wanita(0,08%) didiagnosis selulitis post operasi dan infeksi saluran kemih. Variabel yang
berhubungan dengan selulitis dimasukkan dalam analisis bivariat termasuk diabetes melitus
(p<0,001), IMT (P<0,001) ascites preoperasi (P<0,01), kehilangan berat badan (P=0,02),
histerektomi dengan kanker (P<0,001), Anastesi kelas 3 (P<0,001), kesulitan pengerjaan
(P<0,001), penggunaan general anastesi (P=0,001) dan waktu operasi > persenti 75
(P<0,001).
Variabel yang berkaitan dengan selulitis 30 hari post operasi histerektomi kemudian
dimasukkan dalam analisis multivariat dan didapatkan AOR 3,74 (95% dengan tingkat
kepercayaan 2,26-6,22) untuk laparotomi yang menggunakan prosedur insisi abdominal
dibandingkan dengan yang menggunakan insisi per vagina, waktu operasi melebihi persentil
75 (AOR 1,84; 95% dengan level kepercayaan 1,40-2,44), penggunaan anastesi kelas 3
(AOR 1,79; 95% dengan tingkat kepercayaan 1,31-2,34), obesitas berat (AOR 2,65; 95%
tingkat kepercayaan 1,85-3,80) dan diabetes melitus (AOR 1,54 ; 95% tingkat kepercayaan
1,06-2,24)

Infeksi organ dan jaringan antar organ


Kejadian infeksi organ dan organ dalam post-histerektomi adalah 1,1% (154 sampel).
Tidak ada sampel yang didiagnosis infeksi organ sekaligus jaringan antar organ. 21 sampel
(0,1%) didiagnosis infeksi organ dalam dan infeksi saluran kemih. Variabel yang
berhubungan dengan infeksi organ dalam adalah ras (P=0,001), diabetes melitus (P<0,010),
riwayat CVA dengan defisit neurologis (P<0,01), merokok (P=0,001),obesitas (P=11), ascites
preoperasi (P=0,04), anemia preoperasi (P<0,01), Anastesi kelas 3(P<0,001), dan waktu
operasi melebih persentil 75 (P=0,03)
Variabel yang berhubungan dengan infeksi organ dalam sesuai dengan analisis regresi
multivariat adalah penggunaan anastesi kelas 3(AOR 1,81; CI 95% 1,25-2,62), merokok
(AOR 1,99, CI 95% 1,40-2,83), riwayat gangguan serebrovaskular dengan defisit neurologis
(AOR 4,41 CI 95% 1,54-12,65), anemia preoperatif (AOR 2,23;CI 95% 1,21-2,43), dan
obesitas morbid (AOR 2,23;CI 95% 1,43-3,49). Ketika peneliti meneliti mengenai rute
histerektomi, baik trans vaginal ataupun trans abdominal, peneliti tidak menemukan
hubungan.

Infeksi saluran kemih


Infeksi saluran kemih (ISK) post-operasi histerektomi terjadi 2,7% dari semua sampel
(370 sampel). Variabel yang berhubungan dengan ISK post-histerektomi berdasarkan analisis
bivariat adalah riwayat gangguan serebro vaskular dengan defisit neurologis (p=0,01),
anastesi kelas 3 (p<0,001), waktu operasi yang melebih persentil 75% (p<0,001). Variabel
yang berhubungan dengan ISK post-histerektomi berdasarkan analisis regresi multivariat
adalah riwayat gangguan serebro vaskuler dengan defisit neurologis (AOR 3,29; CI 95%
1,41-7,70), penggunaan kortikosteroid (AOR 2,37 CI 95% 1,14-4,90) an waktu operasi
melebihi persentil 75 (AOR 1,86, CI 95% 1,52-2,29).

10

Kejadian infeksi saluran kemih post histerektomi dengan rute histerektomi


Peneliti meneliti 6 rute histerektomi yaitu TAH,SCH,TLH,LASCH,LAVH, dan TVH.
Peneliti menemukan adanya kesamaan dalam histerektomi yang dilakukan melalui rute
perabdominal. Peneliti mendapatkan bahwa rute histerektomi perabdominal memiliki
hubungan dengan infeksi tempat operasi superfisial namun tidak dengan infeksi organ
ataupun infeksi jaringan antar organ atau kejadian ISK post operasi. Akhirnya, peneliti
mencari hubungan antara histerektomi yang dilakukan tranvaginal (SCH vs Kolpotomi
vaginal) dan hasilnya tidak ditemukan hubungan apapun.

11

DISKUSI
Peneliti menemukan bahwa kejadian selulitis 30 hari setelah operasi dan infeksi organ
ataupun jaringan antar organ sebesar 2,7% dari semua kejadian. Kejadian ISK post
histerektomi adalah 3 %.
Faktor resiko yang berhubungan dengan kejadian selulitis post histerektomi adalah
rute histerektomi, waktu operasi yang lebih dari persentil 75 (149 menit), anastesi kelas 3,
diabetes melitus dan obesitas berat (BMI 40 kg/m 3). Peneliti tidak menemukan hubungan
merokok atau histerektomi dengan kanker ginekologis terhadap kejadian selulitis post
histerektomi.
Penemuan dari penelitian ini kembali meyakinkan bahwa pendekatan histerektomi per
vaginal merupakan rute pilihan untuk menghindari adanya infeksi tampat operasi. Pendekatan
histerektomi dengan laparatomi meningkatkan resiko terjadinya infeksi tempat operasi
superfisial. Walaupun telah dilakukan histerektomi dengan invasi minimal melalui abdominal
ternyatatidak menurunkan angka kejadian infeksi tempat operasi.
Penemuan penelitti ini sesuai dengan hasil dari penelitian yang dilakukan oleh
National Healthcare Safety Network (NHSN). Penelitian dari NHSN menggunakan data yang
didapat dari internet. Data tersebut kemudian diteliti dengan monitoring dari CDC untuk
menentukan infeksi dalam rumah sakit yang berhubungan dengan infeksi setelah operasi.
Awalnya, semua faktor resiko yang didapat dari NHSN didasarkan pada metode prediksi
Culver et al yang dibagi menjadi jenis luka operasi, klasifikasi ASA dan waktu operasi.
Melalui faktor resiko ini, Edwards et al menganalisis sekitar 7000 kasus histerektomi yang
dilaporkan NHSN. Kejadian dari infeksi post operasi (superfisial, organ dan jaringan antar
organ) setelah TVH adalah 0,9% dan melalui TAH 1,7%. Tidak seperti hasil penelitian Culver
et al, penelitian kami juga menentukan faktor resiko spesifik yang terkait dengan infeksi luka
operasi post histerektomi. Dengan menganalisis berbagai faktor resiko yang memungkinkan
terjadinya hal ini, penelitian kami kemudian menemukan faktor resiko tambahan yaitu rute
histerektomi, anemia sebelum operasi, merokok dan riwayat kelainan serebro vaskular
dengan defisit neurologis yang kemudian dapat dipertimbangkan pada penelitian lanjutan
mengenai infeksi post operasi histerektomi.
Penemuan kami berdasarkan pada data multinasional yang dikumpulkan dengan
standar yang diakui. Sama dengan Olsen et al yang juga melakukan penelitian multicenter
dengan desain penelitian retrospektif terhadap pasien TAH dan TVH, dimana sampel di
kumpulkan menggunakan International Classification of Disease (ICD), Ninth Revision, dan
12

prosedur modifikasi klinis dari 4 rumah sakit yang tergabung dalam program pencegahan
infeksi pada kurun waktu 2003-2005. BMI 35kg/m 3 dan tranfusi darah (sebelum, intra dan
sesudah operasi) diidentifikasi sebagai faktor resiko terjadinya infeksi superfisial post operasi
histerektomi dengan laparotomy. Bagaimanapun, penelitian yang lain tidak menemukan
hubungan obesitas dengan operasi ginekoogis lainnya. Kami menemukan bahwa BMI 35
kg/m3 merupakan faktor resiko dari infeksi post operasi superfisial (selulitis).
Pada analisis multicenter skala besar kami, kami tidak menemukan hubungan antara
tranfusi darah sebelumoperasi dan infeksi tempat operasi. Walaupun tranfusi intra operasi
telah diidentifikasi dengan analisis bivariat sebelumnya sebagai faktor resiko yang
berhubungan, namun dalam analisis multivariat, peneliti tidak menemukan perbedaan
statistik yang bermakna. Perbedaan yang didapat ini dikarenakan karena perbedaan jumlah
sampel yang terlibat dalam penelitian ini.
Peneliti mengidentifikasi faktor resiko yang berhubungan dengan infeksi organ dan
jaringan antar organ setelah histerektomi dan menemukan bahwa anemia preoperasi dan
riwayat penyakit serebrovaskular dengan defisit neurologis merupakan refleksi dari penyakit
kronik sistemik yang diderita pasien sebelum operasi. Faktor resiko ini merupakan faktor
resiko tambahan selain penggunaan ASA kelas 3, status merokok, dan obesitas berat (BMI
40 kg/m3). Peneliti tidak menemukan perbedaan signifikan antara infeksi organ dan jaringan
antar organ dengan rute histerektomi. Peneliti mempunyai hipotesis bahwa penemuan
hubungan antara anemia preoperasi dan riwayat kelainan serebro vaskuler dengan defisit
neurologis merupakan penurunan respon tubuh terhadap stressor operasi dan komplikasi yang
menyertainya. Peneliti menemukan bahwa kelainan serebrovaskular dengan defisit neurologis
mempunyai hubungan dengan peningkatan resiko infeksi organ dan jaringan antar organ post
histerektomi. Telah diteliti juga dalam penelitian lain bahwa kelainan serebrovaskuler
merupakan faktor resiko yang signifikan terhadap peningkatan efek samping pasca operasi.
Peneliti juga memperhatikan bahwa kejadian ini juga berkaitan dengan defisit neurologis
yang diderita pasien yang kemudian mempengaruhi kebebasan fungsional penderita. Chen et
al menemukan bahwa penurunan kebebasan fungsional merupakan faktor resiko yang
meningkatkan kejadian infeksi post operasi, terutama infeksi Staphylococcus aureus resisten
penisilin pada orang dewasa.
Peneliti tidak menemukan perbedaan antara faktor resiko antara infeksi organ dan
jaringan

antar

organ.

Peneliti

kemudian

menggabungkan

kategori

ini

untuk

mengidentifikasi faktor resiko infeksi tempat operasi. Peneliti percaya infeksi organ dan
jaringan antar organ, walaupun dalam kriteria ACS NSQIP dan CDC berbeda, adalah sebuah
13

kejadian yang sama pada kasus histerektomi trans vaginal. Setelah histerektomi, sebagai
contoh infeksi organ dalam pada histerektomi trans vaginal adalah abses transvaginal.
Peneliti percaya bahwa abses pelvis yang mengalir melalui insisi operasi sama dengan infeksi
antar organ dengan abses pelvis sesuai dengan penemuan radiologis. Karena ada ketimpangan
antara kedua terminology ini maka peneliti kemudian menggabungkan keduanya.
Faktor resiko yang berhubungan dengan ISK post operasi histerektomi adalah riwayat
kelainan serebrovaskuler dengan defisit neurologis, penggunaan steroid kronis, dan waktu
operasi yang melebih persentil 75. Peneliti menemukan bahwa kejadian ISK post
histerektomi 30 hari post histerektomi adalah 3% (402 wanita). Namun peneliti tidak
menemukan informasi mengenai lama penggunaan kateter dikarenakan terbatasnya data.
Seratus empat puluh dua wanita diidentifikasi mempunyai infeksi sistemik preoperasi
yang meliputi sepsis, shock septik,dan SIRS dan kemudian di eksklusikan dari penelitian
dikarenakan indeks bias yang cukup tinggi dari tujuan penelitian ini. Walaupun keadaan ini
dihubungkan dengan peningkatan resiko terjadinya infeksi tempat operasi namun sulit untuk
membedakan infeksi tersebut didapat saat operasi atau sebelum operasi.
Penelitian ini memiliki banyak keterbatasan. Pertama adalah analisis kami terbatas
hanya pada variabel yang tertulis pada data. Contohnya, keterbatasan kriteria antara infeksi
organ dan jaringan antar organ dalam ASQ NSQIP.

Kerna itu, peneliti tidak bisa

membedakan antara abses pelvis, selilutis pada leher vagina dan fasciitis.
Kedua, variabel yang spesifik tidak bisa dikumpulkan secara general pada data SQ
NSQIP yang kemudian mempengaruhi hasil penelitian ini. Contihnya antara lain pada tipe
dan waktu pemberian antibiotik profilaksis sebelum operasi, yang kemudian ternyata
berhubungan dengan kejadian infeksi post operasi pada penelitian lain. Keterbatasan yang
lain adalah keterbatasan informasi pada data mengenai indikasi dari histerektomi. Prosedur
bedah dikategorikan berdasarkan kode CPT. Kejadian ISK post histerektomi setelah
dilakukan pembedahan berulang memberi hubungan positif menurut penelitian lain. Sampel
pada penelitian ini tidak dibedakan berdasarkan terjadinya prosedur operasi seblumnya
sehingga peneliti sulit untuk membedakannya.
Peneliti tidak menemukan hubungan antara histerektomi yang dilakukan karena
kanker ginekologi dan infeksi tempat operasi. Penemuan ini mungkin dikarenakan kurangnya
informasi spesifik pada data mengenai derajat keganasan dan kondisi patologis lainnya.
Peneliti terbatas mengidentifikasi prosedur pada keganasan ginekologis berdasarkan kode
CPT-4 yang mengindikasikan diseksi radikal dan lymphadenektomi. Sebagai tambahan,
beberapa histerektomi pada keganasan memerlukan diseksi dari vesica urinaria yang
14

kemudian dimasukkan dalam pembedahan kolon yang kemudian tidak dimasukkan dalam
analisis. Peneliti telah mengidentifikasi semua variabel kanker yang tersedia pada data ACS
NSQIP (termasuk tumor setempat, kemoterapi atau radioterapi sebelum dilakukan operasi)
yang kemudian dianalisis baik secara individual ataupun multifaktorial dan tidak ditemukan
hubungan yang siknifikan dengan kejadian infeksi tempat operasi. Namun hal ini dapat juga
dikarenakan keterbatasan data mengenai derajat tumor dan keganasan.
Terkahir, partisipasi rumah sakit dalam ASQ NSQIP bersifat sukarela dan bebas, maka
hal ini bisa menimbulkan bias seleksi yang cukup besar. Bagaimanapun, pada tahun 2009,
>320 rumah sakit telah berpartisipasi dalam program ASQ NSQIP yang melibatkan rumah
sakit komunitas dan tersier. Data anggota ACS NSQIP tidak bisa diidentifikasi, karena itu
peneliti tidak bisa mengelompokkan faktor resiko berdasarkan tempatnya. Bagaimanapun
penelitian sebelumnya telah menunjukkan bahwa efek dari pengelompokan tempat dari
kategori ACS NSQIP tidak memberikan perubahan pada tujuan akhir.
Penelitian ini menemukan banyak faktor seperti rute histerektomi, waktu operasi,
diabetes melitus, penggunaan anastesi kelas 3, BMI, merokok, anemia preoperasi, kelainan
serebro vaskular dengan defisit neurologis, dan penggunaan kostikosteroid merupakan faktor
resiko yang berhubungan dengan infeksi tempat operasi. Model prediksi infeksi tempat
operasi dengan berbagai jenis operasi histerektomi sangat diperlukan. Sayangnya, peneliti
tidak bisa mengembangkan model prediksi tersebut dikarenakan keterbatasan data dalam
penelitian.
Penurunan angka kejadian infeksi dalam rumah sakit sangat penting untuk menjaga
kualitas dari kesehatan pasien. Instruksi dari CMS pada rumah sakit yang telah disertifikasi
untuk melaporkan semua data dan pengukuran hasil dari tindakan medis sangat diperlukan
terutama untuk stabilitas dalam rumah sakit terkait. Program ACS NSQIP untuk
meningkatkan kualitas dan keselamatan pasien telah sukses dengan memberikan feedback
yang berkala, konsisten, terpercaya dan berdasarkan resiko pada rumah sakit terkait. Institusi
secara cepat dapat mengidentifikasi sistem dan strategi untuk meningkatkan keselamatan
pasien pada beberapa aerah. Program faktor rsiko terpercaya ini kemudian meningkatkan
hasil dari operasi. pengetahuan berdasarkan kejadian infeksi tempat operasi post histerektomi
dan faktor yang mempengaruhinya merupakan sesuatu yang sangat penting untuk
meningkatkan keselamatan pasien setelah histerektomi dengan mengidentifikasi faktor
tersebut dan kemudian dimodifikasi. Dikarenakan CMS menginstruksikan pelaporan infeksi
tempat operasi post histerektomi tanpa disertai dengan faktor resiko yang spesifik

15

berhubungan dengan histerektomi maka pengawasan yang serius harus dilakukan untuk
mengidentifikasi kejadian yang tidak diinginkan

16