Anda di halaman 1dari 21

LAPORAN PENDAHULUAN

ASUHAN KEPERAWATAN PADA ANAK DENGAN IDIOPATIK


TROMBOSITOPENI PURPURA (ITP)
DI RUANG ICU RUMAH SAKIT UMUM DAERAH PRAYA

Oleh :
ABDUL HANAN

PROGRAM STUDI S1 KEPERAWATAN


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN HAMZAR( STIKES ) HAMZAR
LOMBOK TIMUR NTB
TAHUN 2014/2015
Lembar Persetujuan :

Laporan Asuhan keperawatan pada pasien An. H dengan


Idiopatik Trombositopeni Purpura (ITP) di ruang ICU Rumah Sakit Umum
Daerah Praya Lombok Tengah - NTB
Telah diperiksa dan sisetujui untuk dipresentasikan :

Tanggal

Bulan

Tahun

Pembimbing Kllinik

Pembimbing Akademik

..

LAPORAN PENDAHULUAN

ITP (Idiopathic Thrombocytopenic Purpura)


A. Definisi
ITP adalah singkatan dari Idiopathic Thrombocytopenic Purpura.
Idiopathic berarti tidak diketahui penyebabnya. Thrombocytopenic berarti
darah yang tidak cukup memiliki keping darah (trombosit). Purpura berarti
seseorang memiliki luka memar yang banyak (berlebihan). Istilah ITP ini juga
merupakan singkatan dari Immune Thrombocytopenic Purpura (Family Doctor,
2006).
Idiophatic

(Autoimmune)

Trobocytopenic

Purpura

(ITP/ATP)

merupakan kelainan autoimun dimana autoanti body Ig G dibentuk untuk


mengikat trombosit.Tidak jelas apakah antigen pada permukaan trombosit
dibentuk. Meskipun antibodi antitrombosit dapat mengikat komplemen,
trombosit tidak rusak oleh lisis langsung. Insident tersering pada usia 20-50
tahum dan lebi serig pada wanita dibanding laki-laki (2:1) (Arief mansoer,
dkk).
ITP juga dapat dibagi menjadi dua, yakni akut ITP dan kronik ITP. Batasan
yang dipakai adalah waktu jika dibawah 6 bulan disebut akut ITP dan diatas 6
bulan disebut kronik ITP. Akut ITP sering terjadi pada anak-anak sedangkan
kronik ITP sering terjadi pada dewasa. (Imran, 2008)
Tabel Perbedaan ITP akut dengan ITP kronik
Awal penyakit
Rasio L:P
Trombosit
Lama Penyakit
Perdarahan

ITP akut
2-6 tahun
1:1
<20.000/ml
2-6 minggu
Berulang

ITP Kronik
20-40 tahun
1:2-3
30.000-10.000/ml
Beberapa tahun
Beberapa hari/ minggu

B. Etiologi
Penyebab dari ITP tidak diketahui secara pasti, mekanisme yang
terjadi melalui pembentukan antibodi yang menyerang sel trombosit, sehingga
sel trombosit mati. (Imran, 2008). Penyakit ini diduga melibatkan reaksi
autoimun, dimana tubuh menghasilkan antibodi yang menyerang trombositnya

sendiri. Dalam kondisi normal, antibodi adalah respons tubuh yang sehat
terhadap bakteri atau virus yang masuk ke dalam tubuh. Tetapi untuk penderita
ITP, antibodinya bahkan menyerang sel-sel keping darah tubuhnya sendiri.
(Family Doctor, 2006).
Meskipun pembentukan trombosit sumsum tulang meningkat,
persediaan trombosit yang ada tetap tidak dapat memenuhi kebutuhan tubuh.
Pada sebagian besar kasus, diduga bahwa ITP disebabkan oleh sistem imun
tubuh. Secara normal sistem imun membuat antibodi untuk melawan benda
asing yang masuk ke dalam tubuh. Pada ITP, sistem imun melawan platelet
dalam tubuh sendiri. Alasan sistem imun menyerang platelet dalam tubuh
masih belum diketahui. (ana information center, 2008).
ITP kemungkinan juga disebabkan oleh hipersplenisme, infeksi virus,
intoksikasi makanan atau obat atau bahan kimia, pengaruh fisis (radiasi,
panas), kekurangan factor pematangan (misalnya malnutrisi), koagulasi
intravascular diseminata (KID), autoimun. Berdasarkan etiologi, ITP dibagi
menjadi 2 yaitu primer (idiopatik) dan sekunder. Berdasarkan awitan penyakit
dibedakan tipe akut bila kejadiannya kurang atau sama dengan 6 bulan
(umumnya terjadi pada anak-anak) dan kronik bila lebih dari 6 bulan (umunnya
terjadi pada orang dewasa). (ana information center, 2008)
Selain itu, ITP juga terjadi pada pengidap HIV. sedangkan obat-obatan
seperti heparin, minuman keras, quinidine, sulfonamides juga boleh
menyebabkan trombositopenia. Biasanya tanda-tanda penyakit dan faktorfaktor yang berkatan dengan penyakit ini adalah seperti yang berikut : purpura,
pendarahan haid darah yang banyak dan tempo lama, pendarahan dalam lubang
hidung, pendarahan rahang gigi, immunisasi virus yang terkini, penyakit virus
yang terkini dan calar atau lebam.
C. Patofisiologi
ITP adalah salah satu gangguan perdarahan di dapat yang paling
umum terjadi. ITP adalah syndrome yang di dalamnya terdapat penurunan
jumlah trombosit yang bersirkulasi dalam keadaan sum-sum normal.
Kerusakan trombosit pada ITP melibatkan autoantibody terhadap glikoprotein
yang terdapat pada membrane trombosit. Penghancuran terjadi terhadap

trombosit yang diselimuti antibody, hal tersebut dilakukan oleh magkrofag


yang terdapat pada limpa dan organ retikulo endotelial lainnya. Megakariosit
pada sum-sum tulang bisa normal atau meningkat pada ITP. Sedangkan kadar
tromboproitein dalam plasma, yang merupakan progenitor proliferasi dan
maturasi dari trombosit mengalami penurunan yang berarti, terutama pada ITP
kronis. Adanya perbedaan secara klinis maupun epidemologis antara ITP akut
dan kronis, menimbulkan dugaan adanya perbedaan mekanisme patofisiologi
terjadinya trombsitopenia diantara keduanya. Pada ITP akut, telah dipercaya
bahwa penghancuran trombosit meningkat karena adanya antibody yang
dibentuk saat terjadi respon imun terhadap infeksi bakteri, virus, atau pada
imunisasi, yang bereaksi silang dengan antigen dari trombosit. Mediator
lainnya akan meningkat selama terjadinya respon imun terhadap produksi
trombosit. Sedangkan pada ITP kronis mungkin telah terjadi gangguan dalam
regulasi sistem imun seperti pada penyakit autoimun lainnya yang berakibat
terbentuknya antibodi spesifik terhadap antibodi.

D. Pathway

E. Manifestasi Klinis
1. Masa prodormal, keletihan, demam dan nyeri abdomen.
2. Bintik-bintik merah pada kulit (terutama di daerah kaki), seringnya
bergerombol dan menyerupai rash. Bintik tersebut ,dikenal dengan
petechiae, disebabkan karena adanya pendarahan dibawah kulit .
3. Memar atau daerah kebiruan pada kulit atau membran mukosa (seperti di
bawah mulut) disebabkan pendarahan di bawah kulit. Memar tersebut
mungkin terjadi tanpa alasan yang jelas. Memar tipe ini disebut dengan
purpura. Pendarahan yang lebih sering dapat membentuk massa tigadimensi yang disebut hematoma.
4. Hidung mengeluarkan darah atau pendarahan pada gusi. Beberapa macam
pendarahan yang sukar dihentikan dapat menjadi tanda ITP. Termasuk
menstruasi yang berkepanjangan pada wanita. Pendarahan pada otak jarang
terjadi, dan gejala pendarahan pada otak dapat menunjukkan tingkat
keparahan penyakit.
5. Menoragia.
6. Anemia terjadi jika banyak darah yang hilang karena perdarahan.
7. Hematuria.
8. Melena.
F. Pemeriksaan Diagnostik
Pemeriksaan laboratorium yang dapat dilakukan adalah :
1. Pada pemeriksaan darah lengkap. Pada pemeriksaan ini ditemukan bahwa :
a. Hb sedikit berkurang, eritrosit normositer, bila anemi berat hypochrome
mycrosyter.
b. Lekosit meninggi pada fase perdarahan dengan dominasi PMN.
c. Pada fase perdarahan, jumlah trombosit rendah dan bentuknya
abnormal.
d. Lymphositosis dan eosinofilia terutama pada anak
2. Pemeriksaan darah tepi.
Hematokrit normal atau sedikit berkurang
3. Aspirasi sumsum tulang
Jumlah megakaryosit normal atau bertambah, kadang mudah sekali
morfologi megakaryosit abnormal (ukuran sangat besar, inti nonboluted,
sitoplasma berfakuola dan sedikit atau tanpa granula).
Hitung (perkiraan jumlah) trombosit dan evaluasi hapusan darah tepi
merupakan pemeriksaan laboratorium pertama yang terpentong. Karena
dengan cara ini dapat ditentukan dengan cepat adanya trombositopenia dan
kadang-kadang dapat ditentukan penyebabnya.

G. Penatalaksanaan
1. ITP Akut
a. Ringan: observasi tanpa pengobatan sembuh spontan.
b. Bila setelah 2 minggu tanpa pengobatan jumlah trombosit belum naik,
maka berikan kortikosteroid.
c. Bila tidak berespon terhadap

kortikosteroid,

maka

berikan

immunoglobulin per IV.


d. Bila keadaan gawat, maka berikan transfuse suspensi trombosit.
2. ITP Menahun
a. Kortikosteroid diberikan selama 5 bulan. Missal: prednisone 2 5
mg/kgBB/hari peroral. Bila tidak berespon terhadap kortikosteroid
b.
c.
d.
e.
f.

berikan immunoglobulin (IV).


Imunosupressan: 6 merkaptopurin 2,5 5 mg/kgBB/hari peroral.
Azatioprin 2 4 mg/kgBB/hari per oral.
Siklofosfamid 2 mg/kgBB/hari per oral.
Splenektomi.
Indikasi:
1) Resisten terhadap pemberian kortikosteroid dan imunosupresif selama
2 3 bulan.
2) Remisi spontan tidak terjadi dalam waktu 6 bulan pemberian
kortikosteroid saja dengan gambaran klinis sedang sampai berat.
3) Penderita yang menunjukkan respon terhadap kortikosteroid namun
perlu dosis tinggi untuk mempertahankan klinis yang baik tanpa

perdarahan.
H. Komplikasi
1. Reaksi tranfusi
2. Relaps.
3. Perdarahan susunan saraf pusat (kurang dari 1% kasus yang terkena)
4. Efek samping dari kortikosteroid

ASUHAN KEPERAWATAN
IDIOPATIK TROMBOSITOPENI PURPURA (ITP)
A. PENGKAJIAN
1. Tanda-tanda perdarahan.
a. Petekie terjadi spontan.
b. Ekimosis terjadi pada daerah trauma minor.
c. Perdarahan dari mukosa gusi, hidung, saluran pernafasan.
d. Menoragie.
e. Hematuria.
f. Perdarahan gastrointestinal.
2. Aktivitas / istirahat.
a. Gejala
: - keletihan, kelemahan, malaise umum.
- toleransi terhadap latihan rendah.
b. Tanda
:- takikardia / takipnea, dispnea pada beraktivitas / istirahat.
- kelemahan otot dan penurunan kekuatan.
3. Sirkulasi
a. Gejala

: - riwayat kehilangan darah kronis, misalnya perdarahan

GI kronis, menstruasi berat.


- palpitasi (takikardia kompensasi).

b. Tanda : - TD: peningkatan sistolik dengan diastolic stabil.


4. Integritas ego.
a. Gejala : keyakinan agama / budaya mempengaruhi pilihan pengobatan,
penolakan transfuse darah.
b. Tanda : depresi.
5. Eliminasi.
a. Gejala : Hematemesis, feses dengan darah segar, melena, diare,
konstipasi.
b. Tanda : distensi abdomen.
6. Makanan / cairan.
a. Gejala : - penurunan masukan diet.
- mual dan muntah.
b. Tanda : - turgor kulit buruk, tampak kusut, hilang elastisitas.
7. Neurosensori.
a. Gejala
: - sakit kepala, pusing.
- kelemahan, penurunan penglihatan.
b. Tanda : - epistaksis.
- mental: tak mampu berespons (lambat dan dangkal).
8. Nyeri / kenyamanan.
a. Gejala : - nyeri abdomen, sakit kepala.
b. Tanda : - takipnea, dispnea.
9. Pernafasan.
a. Gejala : - nafas pendek pada istirahat dan aktivitas.
b. Tanda : - takipnea, dispnea.
10. Keamanan
a. Gejala : penyembuhan luka buruk sering infeksi, transfuse darah
sebelumnya.
b. Tanda : petekie, ekimosis.
B. DIAGNOSA
1. Nyeri akut berhubungan dengan cedera agen (biologis, psikologi, kimia,
fisik).
2. Gangguan pemenuhan nutrisi dan cairan kurang dari kebutuhan tubuh
berhubungan dengan anoreksia yang ditandai dengan kelemahan, berat
badan menurun, intake makanan kurang, kongjungtiva.
3. Perubahan perfusi jaringan berhubungan dengan Anemia.
4. Gangguan pemenuhan kebutuhan oksigen berhubungan dengan penurunan
kapasitas pembawa oksigen darah ditandai dengan hypoxia, takikardi.
5. Resiko infeksi berhubungan dengan luka.

6. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan ditandai dengan


imobilisasi
7. Resiko tinggi kerusakan integritas kulit berhubungan dengan factor
imunologis ditandai dengan immobilisasi, kelemahan, hipertermi, perubahan
turgor kulit.
8. Ansietas berhubungan denga perubahan status kesehatan
9. Kurang pengetahuan pada keluarga tentang kondisi dan kebutuhan
pengobatan berhubungan dengan salah interpretasi informasi ditandai
dengan keterbatasan belajar, tidak familiar dengan sumber informasi
C. INTERVENSI
Dx 1 : Nyeri akut berhubungan dengan cedera agen (biologis, psikologi,
kimia, fisik).
Tujuan: Setelah dilakukan tindakan 2x24 jam diharapkan nyeri yang dirasakan
klien berkurang dengan tujuan :
1. Melaporkan nyeri yang dialaminya
2. Klien mampu mengontrol rasa nyeri melalui aktivitas
3. Mengikuti program pengobatan
4. Mendemontrasikan tehnik relaksasi dan pengalihan rasa nyeri melalui
aktivitas yang

mungkin.

Kriteria Hasil :
1. Nyeri yang dirasakan dapat berkurang

Intervensi

1) Tentukan

riwayat

Rasional

nyeri,

lokasi, 1)

durasi dan intensitas

Memberikan informasi yang


diperlukan untuk merencanakan
asuhan.

2) Evaluasi

therapi:

pembedahan, 2)

Untuk mengetahui terapi yang

radiasi, khemotherapi, biotherapi,

dilakukan sesuai atau tidak, atau

ajarkan klien dan keluarga tentang

malah menyebabkan komplikasi.

cara menghadapinya.
3) Berikan pengalihan seperti reposisi 3)

Untuk

meningkatkan

dan aktivitas menyenangkan seperti

kenyamanan dengan mengalihkan

mendengarkan musik atau nonton

perhatian klien dari rasa nyeri.

TV
4) Menganjurkan tehnik penanganan 4)

Meningkatkan
efek

kontrol

samping

diri

stress (tehnik relaksasi, visualisasi,

atas

dengan

bimbingan), gembira, dan berikan

menurunkan stress dan ansietas.

sentuhan therapeutik.
5) Evaluasi nyeri, berikan pengobatan 5)

bila perlu.

Untuk mengetahui efektifitas


penanganan nyeri, tingkat nyeri
dan sampai sejauhmana klien
mampu menahannya serta untuk
mengetahui kebutuhan klien akan
obat-obatan anti nyeri.

6) Diskusikan

penanganan

nyeri 6)

dengan dokter dan juga dengan

Agar terapi yang diberikan


tepat sasaran.

klien
7) Berikan analgetik sesuai indikasi 7)

seperti morfin, methadone, narkotik


dll.

Untuk mengatasi nyeri.

Dx 2 : Gangguan pemenuhan nutrisi dan cairan kurang dari kebutuhan tubuh


berhubungan dengan anoreksia.
Tujuan : Setelah dilakukan tindakan 2x24 jam diharapkan pemenuhan nutrisi
klien terpenuhi dengan tujuan: Menghilangkan mual dan muntah
Kriteria hasil:
1. Menunjukkan berat badan stabil

Intervensi

Rasional

1) Berikan makanan dalam porsi kecil 1) porsi


tapi sering.
2) Pantau pemasukan makanan dan
timbang berat badan setiap hari.
3) Lakukan konsultasi dengan ahli
diet.

lebih

meningkatkan

kecil

dapat

masukan

yang

sesuai dengan kalori.


2) anoreksia dan kelemahan dapat
mengakibatkan penurunan berat
badan dan malnutrisi yang serius.
3) sangat
bermanfaat
dalam
perhitungan dan penyesuaian diet
untuk

4) Libatkan keluarga pasien dalam


perencanaan makan sesuai dengan
indikasi.

memenuhi

kebutuhan

nutrisi pasien.
4) meningkatkan

rasa

keterlibatannya,

memberikan

informasi pada keluarga untuk


memahami

kebutuhan

nutrisi

pasien.

Dx 3 : Perubahan perfusi jaringan berhubungan dengan Anemia


Tujuan : Setelah dilakukan tindakan 2x24 jam diharapkan kembali kebentuk
normal dengan Tujuan: Tekanan darah normal, Pangisian kapiler baik.

Kriteria hasil:
1. Menunjukkan perbaikan perfusi yang dibuktikan dengan TTV stabil.
Intervensi
1) Awasi TTV, kaji pengisian kapiler.

Rasional
1) memberikan
derajat/

keadekuatan

jaringan
2) Tinggikan kepala tempat tidur sesuai
toleransi.

informasi
dan

tentang
perfusi

membantu

menentukan kebutuhan intervensi.


2) meningkatkan ekspansi paru dan
memaksimalkan oksigenasi untuk

3) Kaji untuk respon verbal melambat,


mudah terangasang.
4) Awasi upaya parnafasan, auskultasi
bunyi nafas.

kebutuhan seluler.
3) dapat mengindikasikan gangguan
fungsi serebral karena hipoksia.
4) dispne karena regangan jantung
lama / peningkatan kompensasi

curah jantung.
Dx 4 : Gangguan pemenuhan kebutuhan oksigen berhubungan dengan penurunan
kapasitas pembawa oksigen darah.
Tujuan : Setelah dilakukan tindakan 2x24 jam diharapkan tujuan: Mengurangi
distress pernafasan.
Kriteria Hasil :
1. Mempertahankan pola pernafasan normal / efektif
Intervensi

Rasional

1) Kaji / awasi frekuensi pernafasan, 1) perubahan


kedalaman dan irama.

dispnea,

(seperti

takipnea,

penggunaan

otot

aksesoris) dapat menindikasikan


berlanjutnya
pengaruh
2) Tempatkan pasien pada posisi yang
nyaman.

keterlibatan
pernafasan

yang

membutuhkan upaya intervensi.


2) memaksimalkan ekspansi paru,
menurunkan kerja pernafasan
dan menurunkan resiko aspirasi.

3) meningkatkan
3) Beri posisi dan Bantu ubah posisi
secara periodic.
4) Bantu dengan teknik nafas dalam.
5) Pemberian O2 sesuai indikasi.

areasi

semua

segmen paru dan mobilisasikan


sekresi.
4) membantu meningkatkan difusi
gas dan ekspansi jalan nafas
kecil.
5) Pemberian O2 sesuai indikasi
dapat memenuhi kebutuhan O2
klien

Dx 5 : Resiko infeksi berhubungan dengan luka.


Tujuan : setelah dilakukan tindakan keperawatan selama proses keperawatan
diharapkan pasien tidak mengalami tanda-tanda infeksi.
Kriteria hasil :
1. Pasien bebas dari tanda dan gejala infeksi
2. Mendeskripsikan proses penularan penyakit, faktor yang mempengaruhi
penularan serta penatalaksanaannya.
3. Menunjukkan kemampuan untuk mencegah timbulnya infeksi
4. Jumlah leukosit dalam batas normal
5. Menunjukkan perilaku hidup sehat

Intervensi

Rasional

1) Awasi suhu
2) Dorong keseimbangan

1) Demam dapat terjadi karena


antara

aktivitas dan istirahat.

infeksi atau dehidrasi.


2) menurunkan
konsumsi/kebutuhan
keseimbangan

oksigen

dan

memperbaiki pertahanan pasien


terhadap infeksi.
3) Malnutrisi dapat mempengaruhi
3) Diskusikan kebutuhan masukan
nutrisi adekuat.

kesehatan

umum

menurunkan

tekanan

terhadap infeksi.
4) Dapat
diberikan
4) Berikan terapi antibiotik bila
perlu.

organisme

khusus

dan
darah
untuk
yang

teridentifikasi dengan kultur.

Dx 6 : Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan.


Tujuan : Setelah dilakukan tindakan 2x24 jam diharapkan klien dapat melakukan
aktivitas sendiri tanpa bantuan dari orang lain dengan tujuan: Meningkatkan
partisipasi dalam aktivitas.
Kriteria hasil:
1. Menunjukkan peningkatan toleransi aktivitas.

Intervensi
1) Kaji

kemampuan

Rasional
pasien

untuk

melakukan aktivitas normal, catat


laporan kelemahan, keletihan.
2) Awasi TD, nadi, pernafasan.

1) mempengaruhi

pilihan

intervensi.
2) manifestasi

kardiopulmonal

dari upaya jantung dan paru


untuk
3) Berikan lingkungan tenang.

membawa

oksigen ke jaringan.
3) meningkatkan istirahat untuk
menurunkan

4) Ubah posisi pasien dengan perlahan


dan pantau terhadap pusing.

jumlah

kebutuhan

oksigen tubuh.
4) hipotensi postural / hipoksin
serebral
pusing,

menyebabkan
berdenyut

dan

peningkatan resiko cedera.


Dx 7 : Resiko tinggi kerusakan integritas kulit berhubungan dengan factor
imunologis
Tujuan : Setelah dilakukan tindakan 2x24 jam diharapkan kerusakan bisa
berkurang dengan tujuan :
1. Klien dapat mengidentifikasi intervensi yang berhubungan dengan kondisi
spesifik
2. Berpartisipasi dalam pencegahan komplikasi dan percepatan penyembuhan.
Kriteria Hasil :
1. Kerusakan Kulit dapat berkurang

Intervensi
1) Kaji

integritas

kulit

Rasional
untuk

1) Memberikan informasi untuk

melihat adanya efek samping

perencanaan

therapi

mengembangkan identifikasi

kanker,

amati

penyembuhan luka.
2) Anjurkan

klien

awal
untuk

tidak

menggaruk bagian yang gatal.


3) Ubah posisi klien secara teratur.

asuhan

terhadap

dan

perubahan

integritas kulit.
2) Menghindari perlukaan yang
dapat menimbulkan infeksi.
3) Menghindari penekanan yang
terus menerus pada suatu
daerah tertentu.
4) Mencegah trauma berlanjut

4) Berikan advise pada klien untuk


menghindari pemakaian cream
kulit,

minyak,

bedak

pada kulit dan produk yang


kontra indikatif

tanpa

rekomendasi dokter.

Dx 8 : Ansietas berhubungan dengan perubahan status kesehatan

Tujuan : pasien akan mengalami penurunan rasa ketakutan dan ansietas.


Intervensi

Rasional

1) Kaji

tingkat

kecemasan

(ringan,

sedang, berat).
2) Berikan

dorongan

1)

Dengan

mengetahui

kecemasan

klien,

tingkat
sehingga

memudahkan tindakan selanjutnya.


2) Dukungan yang baik memberikan
semangat tinggi untuk menerima

emosional.

keadaan penyakit yang dialami.


3) Mengungkapkan
masalah
yang
3) Beri

dorongan

mengungkapkan
ketakutan/masalah

dirasakan akan mengurangi beban


pikiran yang dirasakan
4) Penjelasan yang tepat dan memahami

4) Jelaskan

jenis

penyakitnya

sehingga

prosedur

dari

bekerjasama

dalam

pengobatan
5) Beri

mau
tindakan

perawatan dan pengobatan.


5) Diharapkan kesabaran yang tinggi
dorongan

spiritual

untuk

menjalani

menyerahkan

pada

perawatan

dan

TYME

atas

kesembuhannya.

Dx 9 : Kurang pengetahuan pada keluarga tentang kondisi dan kebutuhan


pengobatan berhubungan dengan salah interpretasi informasi.
Tujuan : Setelah dilakukan tindakan 1x24 jam diharapkan keluarga mengerti akan
penyakit klien dengan tujuan: Pemahaman dan penerimaan terhadap program
pengobatan yang diresepkan. Kriteria hasil:
1. Menyatakan pemahaman proses penyakit.
2. Faham akan prosedur dagnostik dan rencana pengobatan.

Intervensi

Rasional

1) Berikan informasi tntang


ITP.

Diskusikan

kenyataan bahwa terapi

1) memberikan
sehingga

dasar

keluarga

pengetahuan
pasien

dapat

membuat pilihan yang tepat.

tergantung pada tipe dan


beratnya ITP.
2) Tinjau
tujuan
persiapan

dan
untuk

pemeriksaan diagnostic.
3) Jelaskan bahwa darah
yang

diambil

2) ketidak tahuan meningkatkan stress.

untuk

3) merupakan

kekwatiran

yang

tidak

diungkapkan yang dapat memperkuat


ansietas pasien / keluarga.

pemeriksaan laboratorium
tidak akan memperburuk
ITP.
D. IMPLEMENTASI KEPERAWATAN
Pelaksanaan sesuai dengan ITP dengan intervensi yang sudah
ditetapkan (sesuai dengan literature).
E. EVALUASI
Hal-hal yang perlu dievaluasi dalam pemberian asuhan keperawatan
berfokus pada criteria hasil dari tiap-tiap masalah keperawatan dengan
pedoman.

DAFTAR PUSTAKA
Staf Pengajar FKUI. 1985. Ilmu Kesehatan Anak. FKUI: Jakarta
. 2000. Kapita Selekta Kedokteran Edisi 3 Jilid 2. FKUI: Media
Aesculapius.
D o r l a n d , W.A N e w m a . 2 0 0 6 . Kamus Kedokteran Dorland,
Edisi

2 9 . Jakarta: EGC.

Guyton. 2003. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran, Edisi 9. EGC: Jakarta


Behrman. 2006. Ilmu Kesehatan Anak Nelson Edisi 15. EGC: Jakarta