Anda di halaman 1dari 15

KEMATIAN AKIBAT TRAUMA TUMPUL

PANKREAS

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Trauma yang hanya terjadi pada pankreas biasanya jarang terjadi dan biasanya
berhubungan dengan trauma pada organ di sekitarnya. Trauma pankreas terjadi
sebagai akibat trauma tajam atau trauma tumpul yang mengenai abdomen. Trauma
pada pankreas bagaikan sebuah teka-teki, bahkan pada praktek kedokteran modern
dengan teknologi dan metode diagnostik yang telah berkembang dengan pesat.
Banyak trauma pankreas terutama yang disebabkan oleh trauma tumpul tidak dapat
didiagnosis segera dan kemudian menjadi tantangan bagi para klinisi untuk dapat
memberikan terapi yang tepat akibat keterlambatan dalam penegakan diagnosis.1,2
Keseluruhan estimasi insiden trauma pankreas yang dilaporkan di Charity
Hospital New Orlean, USA adalah 1-2 % pada pasien dengan trauma tumpul atau
trauma tajam dan dapat setinggi 3-12 % pada pasien dengan trauma pada organ
intraabdominal lainnya. Trauma pankreas memiliki prevalensi 4:1.000.000 yang
membutuhkan perawatan di umah sakit, dan sepertiga diantaranya disebabkan oleh
trauma tumpul yang mengenai pankreas. 2
Sebagian besar truma tumpul pankreas dihubungkan dengan trauma tumpul
pada organ intraabdominal lain dan didiagnosa setelah dilakukan eksplorasi
laparatomi karena ketidakstabilan hemodinamik, temuan positif pada kumbah
peritoneal, atau berdasarkan gejala klinik atau radiografik indikasi untuk operasi.
Mekanisme dari trauma sangat dibutuhkan sebagai panduan untuk penegakan
diagnosis.2
Posisi pankreas relative terproteksi yaitu terletak retroperitonium, di sebelah
dalam dan posterior abdomen menyilang terhadap garis pertengahan dan corpus
vertebrae. Posisi tersebut mengandung maksud bahwa perlu energi yang cukup tinggi

1
yang dibutuhkan untuk dapat menimbulkan suatu trauma pada pankreas. Posisi
tersebut itu pula yang menyebabkan trauma tumpul pada pankreas relative lebih
jarang dibandingkan trauma tumpul yang mengenai limpa maupun hepar. 2,3,4
Kematian akibat trauma tumpul pancreas umumnya dapat dicegah. Tetapi
kadang-kadang karena terlambatnya diagnosa dan penanganan menyebabkan trauma
tumpul pada pankreas menjadi penyebab kematian. Menurut laporan Furkovich,
angka kematian akibat trauma tumpul pankreas sekitar 9-34 %. Hal ini disebabkan
oleh beberapa hal seperti keluhan yang kurang spesifik pada awal perjalanan penyakit
dan datangnya terlambat, tidak adanya penampakan luka dari luar, dan adanya truma
lain yang menutupi keluhan trauma pankreas. Hal inilah yang sering mengecoh para
klinikus untuk menegakkan diagnosis trauma tumpul pankreas. 2,3
Trauma tumpul pankreas saat ini masih menjadi tantangan yang cukup berarti
bagi para klinikus. Oleh karena relatif jarangnya trauma, kesulitan dalam penegakan
diagnosis, dan terjadinya peningkatan angka mortalitas dan morbiditasnya
menyebabkan penulis untuk memilih judul paper ini dengan tujuan dapat memberikan
informasi tambahan tentang trauma tumpul pankreas sehingga diagnosis dapat segera
dibuat dan penanganan dapat segera dilakukan.

1.2 Tujuan
Memberikan informasi tentang trauma tumpul pankreas sehingga dapat
membantu dalam menentukan sebab kematian akibat trauma tumpul pada pankreas.

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Fisiologi Pankreas


Pankreas adalah organ vital yang memiliki peranan sentral pada fungsi
pencernaan dan metabolisme nutrisi. Fungsi utama pankreas meliputi sekresi
bikarbonat ke dalam duodenum untuk menetralkan asam yang diekskresikan oleh
lambung, sekresi enzim- enzim pencernaan ke dalam duodenum untuk memecah

2
komplek protein, karbohidrat, lemak dan asam nukleat, dan sekresi hormon-hormon
sel Islet ke dalam sirkulasi untuk mengontrol metabolisme nutrien setelah absorpsi. 5

2.2 Anatomi Pankreas


Pada orang dewasa pankreas terletak retroperitonium, di sebelah posterior
dinding abdominal dan terletak oblik menyeberangi garis pertengahan dan corpus
vertebrae. Caput pankreas diapit oleh duodenum pada sisi kanan dan merupakan
bagian terbesar dari. Leher pankreas berukuran pendek dan terletak di atas pembuluh
darah mesenterik Corpus pankreas terletak anterior terhadap spinal lumbar kedua
sampai keempat, posterior terhadap lambung, dan terletak di sebelah kiri pembuluh
darah arteri dan vena mesenterik superior. Cauda pankreas terletak berdekatan dengan
hilum limpa, relatif mobile terletak diantara ligamen splenorenal dan pembuluh darah
splenik.2,3,4
Suplai darah untuk pankreas dapat bervariasi, akan tetapi secara keseluruhan
berasal dari cabang-cabang arteri gastroduodenal, arteri mesenterik superior, dan dari
arteri splenik. Ketiga pembuluh darah arteri tersebut beranastomosis dan selanjutnya
menyuplai caput pankreas. Corpus dan cauda pankreas secara predominan disuplai
oleh cabang-cabang dari arteri splenik. Drainase vena pankreas adalah melalui vena
splenik dan secara langsung didrainase ke dalam vena portal. 3,4
Inervasi saraf untuk pankreas berasal dari saraf simpatik dan parasimpatik.
Saraf-saraf simpatik berasal dari saraf splanknik yang keluar dari spinal thorak kelima
sampai kesembilan. Sementara inervasi parasimpatik adalah melalui saraf vagus.
Saraf simpatik dan saraf parasimpatik melintas melalui pleksus celiak, walaupun
serat-serat saraf simpatik mungkin melintas melalui ganglion superior mesenterik. 3,4

2.3 Hubungan Anatomi Pankreas dengan Trauma Tumpul Pankreas


Lokasi pankreas yang relatif terproteksi pada cavum abdomen dan terfiksasi
pada posisi retroperitonial memberikan perlindungan pankreas terhadap trauma
langsung maupun tidak langsung. Tulang-tulang rusuk menyediakan proteksi
struktural tulang dan dilindungi oleh otot-otot dorsal paraspinous yang tebal. Sebelah
anterior, otot rectus dan otot-otot abdomen yang matur, dikombinasikan pula dengan

3
karakteristik liver, colon, duodenum, gaster, usus halus yang mengabsorbsi energi
menyediakan proteksi pankreas terhadap trauma tumpul. Pada trauma tumpul yang
berat, posisi anatomi pankreas mungkin menyebabkan trauma pancreas seperti pada
fraktur corpus columna spinalis di sebelah atas dan corpus vertabrae sebelah
posterior.2 Corpus pankreas yang terletak sebelah anterior terhadap spinal lumbar
kedua sampai keempat membuatnya rentan terhadap trauma tumpul. 5
Struktur pembuluh darah yang letaknya berdekatan dengan caput dan corpus
pankreas memiliki dampak terhadap terjadinya peningkatan angka morbiditas dan
mortalitas pada penderita dengan trauma tumpul pankreas. Pembuluh darah vena cava
inferior subhepatik dan aorta terletak sebelah posterior terhadap caput pankreas pada
sisi kanan, dan vena mesenterik superior masuk ke dalam vena porta di bawah
pankreas. Perdarahan yang bersumber dari pembuluh darah tersebut seringkali
menjadi penyebab kematian pada pasien dengan trauma tumpul pada pankreas.2
Pembuluh darah arteri splenik dari cabang trunkus celiak dan vena porta
berjalan di sebelah posterior dan superior corpus dan cauda pancreas, dimana posisi
tersebut relatif mudah terpapar dan robek dibandingkan vena cava inferior dan vena
porta jika terjadi trauma yang mengenai pankreas. Perdarahan yang bersumber dari
pembuluh darah tersebut seringkali juga menyebabkan kematian pada pasien post
trauma tumpul pankreas apabila tidak tertangani dengan cepat.2

2.4 Insiden
Trauma tumpul pankreas relatif jarang terjadi dibandingkan trauma tumpul
yang mengenai organ-organ intraabdomen lainnya. Diantara trauma tumpul abdomen,
trauma tumpul pankreas berada pada urutan ketiga setelah trauma tumpul pada hati
dan limpa. Angka kejadian trauma tumpul pankreas berkisar 3-12 %. Diperkirakan
diantara 100 pasien dengan trauma tumpul abdomen, tercatat kurang dari 10 pasien
mengalami trauma tumpul pada pankreas.2,6 Kematian akibat post trauma tumpul
pankreas berkisar 9-34 % seperti yang dilaporkan oleeh Furkovich. Peningkatan
angka kematian post trauma tumpul pankreas disebabkan oleh keterlambatan
diagnosis dan keterlambatan penanganan yang definitif.3

4
2.5 Etiologi dan Mekanisme Trauma Tumpul Pankreas
Trauma tumpul yang hanya mengenai pankreas relatif jarang terjadi dan
biasanya terjadi akibat adanya trauma tumpul abdomen dan seringkali berhubungan
dengan trauma pada organ di sekitarnya.7 Posisi pankreas yang relatif terproteksi
menyebabkan trauma tumpul pankreas akan terjadi bila terdapat energi tinggi yang
langsung mengenai abdomen ataupun energi tinggi yang langsung jatuh tepat pada
epigastrium misalnya pada kecelakaan.3 Mekanisme terjadinya trauma tumpul
pankreas adalah melalui mekanisme kompresi dan trauma deselerasi. Mekanisme
kompresi terutama akibat energi tinggi yang terlokalisir mengenai epigastrium,
dengan menekan pankreas yang terletak di bawahnya melawan corpus vertebra.
Disebutkan bahwa kecelakaan lalu lintas adalah penyebab paling sering terjadinya
trauma tumpul pankreas. Pada trauma tumpul pankreas, fraktur di atas columna
vertebralis seringkali terjadi pada anak-anak dan disebabkan oleh trauma langsung
mengenai abdomen karena posisi sabuk pengaman yang tidak tepat. Untuk dapat
menegakkan diagnosis adanya trauma tumpul pankreas, harus dikenali jenis trauma
apakah trauma tumpul atau trauma tajam dan informasi mengenai benda penyebab
trauma (seperti meja, kayu, atau pisau) akan dapat membantu klinisi.2

2.6 Gejala klinik dan Pemeriksaan Fisik Trauma Tumpul Pankreas


Pada banyak kasus post trauma tumpul pankreas pada stadium dini sering
tanpa gejala dan kesan tampak tidak ada kelainan. Seringkali pasien merasa sehat
sebelumnya dan tidak menyadari adanya trauma pankreas. Selama pemeriksaan fisik
tanda sabuk pengaman, flank ecchymosis, akan membangun kewaspadaan klinisi
terhadap trauma yang potensial. Fraktur limpa dengan hematom retroperitonial atau
manifestasi kebocoran cairan, nyeri epigastrium, nyeri punggung sangat jarang
ditemukan pada keadaan post trauma.2 Terdapat laporan pada pasien dengan transeksi
duktus pankreas yang komplit tetap asimtomatik dalam berminggu-minggu, berbulan-
bulan bahkan bertahun-tahun setelah trauma awal. Seringkali pasien dengan trauma
tumpul yang mengenai pankreas menunjukkan manifestasi krisis abdominal yang
tidak spesifik post trauma. Trauma pankreas seringkali sulit dideteksi dengan temuan
fisik dan pasien awalnya mungkin menunjukkan tanda-tanda fisik yang minimal.

5
Alasan mengapa gejala-gejala dan tanda-tanda fisik tidak ditemukan segera setelah
trauma dihubungkan dengan lokasi pankreas yang terletak retroperitonial, enzim
pankreas yang tidak aktif setelah trauma yang tersembunyi dan penurunan sekresi
cairan pankreas setelah trauma.3 Akan tetapi bila dilakukan skenario atau
pemeriksaan yang lebih lengkap pada pasien dengan post trauma tumpul abdomen
menunjukkan iritasi peritonial yang berat dan temuan pemeriksaan fisik abdomen.
Trauma tumpul pankreas sering kali disebabkan oleh trauma pada organ-organ
intraabdomen lainnya. Gejala trauma pada struktur-struktur lain sering kali
mengaburkan trauma tumpul pankreas dengan demikian dibutuhkan kewaspadaan
yang tinggi dari klinisi untuk memastikan adanya trauma tumpul pada pankreas.1,2
Adanya contusio jaringan lunak pada abdomen bagian atas atau disrupsi pada tulang-
tulang rusuk bawah atau costal cartilage menandakan kemungkinan adanya trauma
pankreas.3 Dengan adanya laserasi pada pankreas, diikuti dengan adanya trauma pada
duktus pankreas yang selanjutnya menyebabkan masuknya sekresi pankreas ke dalam
cavum abdomen dan menghasilkan chemical peritonitis.8

2.7 Pemeriksaan Laboratorium Trauma Tumpul Pankreas


Amilase adalah enzim pencernaan yang disekresikan oleh pankreas. Karena
hiperamilasemia ditemukan lebih dari 75% pasien dengan trauma tumpul abdomen
dan menunjukkan kecurigaan adanya trauma tumpul pankreas, hiperamilasemia harus
dipertimbangkan sebagai tanda kemungkinan adanya trauma pankreas post trauma
tumpul abdomen dan mengindikasikan pemeriksaan lebih lanjut.6 Hal ini disebabkan
oleh karena kerusakan pada pankreas menyebabkan pelepasan enzim amilase yang
menyebabkan kerusakan pada pankreas itu sendiri dan pada jaringan sekitarnya
berupa retroperitonial plegmon dengan nekosis lemak dan abses. Kerusakan yang
terjadi akibat autodigestive enzim amilase terhadap pankreas itu sendiri.7
Walaupun konsentrasi tertinggi amilase pada tubuh manusia adalah pada
pankreas, hiperamilasemia bukan merupakan indikator reliabel terhadap adanya
trauma pankreas. Sebanyak 40 % pasien dengan trauma pankreas pada awalnya
memiliki kadar amilase serum yang normal. Sebagai tambahan, terdapat bukti bahwa
trauma yang tersembunyi pada otak juga dapat menyebabkan peningkatan serum

6
amilase melalui mekanisme sentral yng masih belum jelas. Hiperamilasemia juga
ditemukan pada pasien dengan trauma duodenal, trauma hepatik, serta pasien dengan
intoksikasi.
Waktu antara terjadinya trauma tumpul pankreas dan penentuan kadar serum
amilase memegang peranan penting. Disebutkan bahwa pada 73 pasien yang dicatat
mengalami trauma tumpul pankreas, kadar serum amilase meningkat pada 61 pasien
(84%) dan normal pada 12 pasien (16%). Sensitivitas kadar serum amilase dalam
mendeteksi adanya trauma tumpul pankreas berkisar antara 48% sampai dengan 85%
dan spesifitas berkisar antara 0 sampai dengan 81%. Nilai prediktif negatif serum
amilase setelah trauma tumpul adalah sekitar 95%. Sensitivitas dan nilai prediktif
positif mungkin meningkat jika kadar serum amilase diperoleh lebih dari tiga jam
setelah trauma. Jadi dapat disimpulkan bahwa 95% pasien dengan trauma tumpul
abdomen dengan kadar serum amilase yang normal tidak mengalami trauma tumpul
pankreas.3,6 Deteksi amilase pada kumbah cairan peritoneal lebih sensitif dan spesifik
untuk diagnosis trauma tumpul pankreas dibandingkan kadar amilase pada serum atau
darah. Akan tetapi prosedur diagnostik ini bukan tes rutin pada banyak institusi.2

2.8 Pemeriksaan Pencitraan Trauma Tumpul Pankreas


Pasien dengan trauma tumpul abdomen dengan peningkatan serum amilase
yang persisten atau menunjukkan perkembangan gejala-gejala krisis abdominal
mengindikasikan untuk dilakukan evaluasi yang lebih lanjut, meliputi foto polos
abdomen, ultrasonografy, CT scan abdomen, endocopic retrograde
cholangiopancreatography (ERCP), atau bedah eksplorasi.3,6
Foto polos abdomen mungkin menunjukkan kalsifikasi pancreas dari episode
pancreatitis sebelumnya, akan tetapi jarang bermanfaat dalam mendeteksi trauma
tumpul pankreas. Foto polos abdomen lebih bermanfaat dalam mendeteksi trauma
tajam dengan memvisualisasi dan melokalisir benda asing seperti fragmen peluru dan
proyektil yang menginduksi trauma pada tulang. Walaupun tidak bermanfaat secara
spesifik dalam mendeteksi trauma tumpul pankreas, foto thorak posisi PA mungkin
menunjukkan adanya udara bebas di bawah diafragma, yang menandakan trauma

7
pada lambung, duodenal, atau trauma pada usus halus yang seringkali dihubungkan
dengan trauma pada pankreas.2
Ultrasonografy (USG) telah digunakan bertahun-tahun untuk mengevaluasi
penyakit yang mengenai pankreas, akan tetapi USG tidak digunakan secara rutin
dalam mendeteksi trauma pankreas karena sensitivitas dan spesifitasnya yang rendah.
Bahkan dengan peningkatan penggunaan USG abdomen yang terfokus untuk
mengidentifikasi cairan abdominal atau hemoperitonium pada pasien trauma, tidak
ada pengalaman yang nyata penggunaan USG secara spesifik pada trauma pankreas
akut.6
CT scans abdomen pada pasien yang secara hemodinamik stabil menyediakan
prosedur diagnostik yang paling komprehensif dalam menegakkan diagnosis trauma
tumpul pankreas. CT scans abdomen dilaporkan memiliki sensitivitas dan spesifitas
70-80% untuk mendiagnosis trauma tumpul pankreas. Karakteristik temuan CT scans
yang dihubungkan dengan trauma pancreas meliputi visualisasi langsung fraktur
parenkimal, hematom intrapankreatik, cairan pada lesser sakulus, cairan yang
memisahkan pembuluh vena splenik dengan corpus pankreas, penebalan fascia renal
sebelah anterior, dan hematom retroperitoneal atau akumulasi cairan pada
retroperitoneal. Temuan ini sering tak kentara dan jarang seluruh temuan tersebut
dijumpai pada satu pasien dengan trauma tumpul pankreas. Jika pasien diperiksa
segera setelah trauma, beberapa temuan CT scans mungkin tidak tampak, yang mana
merupakan bagian keterangan negatif palsu CT scans yang dilaporkan pada 40%
pasien dengan trauma pankreas.2,3,6
ERCP tidak berperan dalam evaluasi akut pada pasien yang secara
hemodinamik tidak stabil, tetapi sejumlah laporan pada dekade sebelumnya ERCP
bermanfaat dalam diagnosis dan manajemen trauma pankreas. Penggunaan ERCP
untuk mendiagnosis trauma pankreas pertama kali dilaporkan oleh Gougeon dan
kawan-kawan pada tahun 1976. Saat ini ERCP merupakan modalitas pencitraan yang
terbaik untuk pankreas, akan tetapi selalu melibatkan anastesi dan tidak tersedia
secara luas. ERCP sebagai standar untuk diagnosis awal trauma pankreas pada pasien

8
yang secara hemodinamik stabil dengan nyeri abdomen yang persisten, peningkatan
serum amilase, dan temuan CT scans yang masih kabur.2,6

2.9 Klasifikasi Trauma Tumpul Pankreas


Saat ini klasifikasi trauma pankreas yang digunakan secara luas adalah menurut
American Association for the Surgery of Trauma (AAST) berdasarkan status duktus
pancreas dan memfokuskan lokasi anatomi trauma. AAST mengklasifikasikan trauma
pankreas menjadi lima grading yatu:
• Grade I meliputi hematom yang kecil tanpa adanya jejas pada duktus. Laserasi
superfisial tanpa adanya jejas pada duktus pankreas
• Grade II meliputi hematom yang luas tanpa adanya jejas pada duktus tanpa
adanya jejas pada duktus pankreas. Laserasi luas tanpa adanya jejas pada
duktus pankreas tanpa adanya jejas pada duktus pankreas
• Grade III meliputi transeksi distal atau laserasi parenkimal dengan disertai
jejas pada duktus pankreas
• Grade IV meliputi transeksi proksimal atau laserasi parenkimal yang
melibatkan ampulla pankreas
• Grade V meliputi disrupsi masif caput pankreas
Klasifikasi tersebut di atas menentukan manajemen terapi dan berkorelasi dengan
morbiditas dan mortalitas trauma tumpul pankreas.2,3

2.10 Manajemen terapi Trauma Tumpul Pankreas


Pada sebagian besar kasus trauma tumpul pankreas, reseksi tidak selalu
dibutuhkan. Pada kasus laserasi kapsular yang kecil atau superfisial, kontusio atau
hematom parenkimal yang kecil tanpa jejas pada duktus pankreas dan tanpa
hilangnya jaringan parenkimal (Grade I dan II), manajemen terapi yang terbaik
adalah tanpa suture, akan tetapi terapi yang dibutuhkan adalah drainase eksternal.
Transeksi distal parenkimal páncreas (Grade III) melawan corpus vertabra mungkin
membutuhkan reseksi corpus dengan distal pancreatectomy dan drainase. Sementara
transeksi proksimal pankreas (Grade IV) pada pasien yang secara hemodinamik tidak

9
stabil, terlebih dahuli tangani hemostasisnya dan drainase, sedangkan pada pasien
dengan hemodinamik yang stabil manajemennya adalah membagi páncreas secara
komplit, lakukan proksimal pankreatektomi dan lakukan anatomosis sisa distal
páncreas ke jejunum. Pada disrupsi masif caput pankreas yang masif manajemennya
adalah dengan mengerjakan pancreaticoduodenectomy (Whipple procedure). 2,3

2.11 Komplikasi Trauma Tumpul Pankreas


Komplikasi trauma tumpul pankreas cukup tinggi, dan berkorelasi dengan
grading klasifikasi trauma pankreas. Komplikasi trauma tumpul pancreas bervariasi
mulai dari pankreatitis ringan sampai dengan kematian akibat perdarahan yang
masif.2
Pembentukan fistula merupakan komplikasi tersering yang dilaporkan, akan
tetapi dengan drainase local dan nutrisi yang baik serta terapi suportif, fistula
biasanya sembuh secara spontan dalam 2 minggu setelah trauma.2,6
Insiden pembentukan abses post trauma tumpul pankreas adalah berkisar 10
sampai dengan 25% tergantung pada jumlah dan trauma intraabdomen lain yang
muncul. Pada sebagian besar kasus, tipe abses adalah subfascial atau peripankreatik.
Abses pakreatik murni insidennya jarang dan biasanya dihasilkan dari debridemen
jaringan mati yang tidak adekuat atau dihasilkan dari drainase awal yang tidak
adekuat.3
Nyeri abdominal yang hilang timbul dan peningkatan kadar serum amylase
menghasilkan pankreatitis terutama diantisipasi pada 8% sampai dengan 18% pasien
post operasi. Tipe pankreatitis ini ditangani dengan dekompresi nasogastrik,
menistrahatkan usus, dan terapi suportif, dapat diharapkan menyembuhkan secara
spontan pankreatitis. Lebih jauh lagi pankreatitis yang jarang terjadi adalah
pankreatitis hemorrhagik yang dapat menimbulkan kematian 2,3,6
Trauma tumpul terhadap pankreas dapat menghasilkan pseudokista residual
baik intrapankreatik atau peripankreatik.8 Komplikasi lain trauma tumpul pancreas
adalah insufisiensi hormon-hormon kelenjar endokrin dan eksokrin pankreas.3

2.12 Patofisiologi Kematian Post Trauma Tumpul Pankreas

10
Kematian post trauma tumpul pankreas lebih jarang dilaporkan dibandingkan
kematian akibat post trauma tumpul organ intraabdomen lain. Trauma tumpul
pankreas diakibatkan oleh energi tinggi dari vektor anterior-posterior atau sebaliknya
yang mengenai abdomen atau secara langsung mengenai pankreas menyebabkan
ruptur pankreas. Ruptur pankreas post trauma tumpul merobek sistem duktus dan
menyebabkan sekresi getah pankreas dalam hal ini enzim amilase memasuki
parenkim kelenjar sehingga terjadi kerusakan pankreas. Kerusakan kecil pada
pankreas menyebabkan kerusakan yang besar pada kelenjar pankreas. Hal ini
disebabkan oleh karena getah pankreas (enzim amilase) bersifat autodigestif terhadap
parenkim pankreas dan jaringan disekitarnya. Kerusakan pankreas yang menyeluruh
menyebabkan terjadinya perdarahan yang masif, apabila tidak ditangani
menyebabkan kematian. Sebagai tambahan, kematian post trauma tumpul pankreas
disebabkan pula oleh adanya sepsis intra abdomonal. 4,7
Kematian post trauma tumpul pankreas juga disebabkan karena robeknya dan
erosi pada pembuluh darah vena cava inferior subhepatik dan aorta terletak sebelah
posterior terhadap caput pankreas pada sisi kanan, dan vena mesenterik superior
masuk ke dalam vena porta di bawah pankreas. Pembuluh darah arteri splenik dari
cabang trunkus celiak dan vena porta berjalan di sebelah posterior dan superior
corpus dan cauda pancreas relatif mudah terpapar dan robek Perdarahan yang
bersumber dari pembuluh darah tersebut seringkali menjadi penyebab kematian pada
pasien dengan trauma tumpul pada pankreas.2
.
2.13 Pemeriksaan Forensik/Medikolegal
Kematian yang disebabkan oleh trauma tumpul abdomen pada umumnya
dapat dicegah. Menurut Furkovich, oleh karena kesulitan dalam mendiagnosis segera
trauma tumpul pankreas dan keterlambatan terapi yang adekuat angka kematian
meningkat yaitu berkisar 9-34 %.3 Kerusakan pankreas yang menyeluruh
menyebabkan terjadinya perdarahan yang masif, apabila tidak ditangani
menyebabkan kematian. Kematian mendadak akibat trauma tumpul abdomen relatif
jarang terjadi. Pengertian kematian mendadak sebenarnya berasal dari kata sudden

11
unexpected natural death yang di dalamnya terkandung kriteria penyebab yaitu
natural (alamiah, wajar). Mendadak disini diartikan sebagai kematian yang datangnya
tidak terduga dan tidak diharapkan, dengan batasan waktu yang nisbi. Camps
menyebutkan batasan kurang dari 48 jam sejak timbul gejala pertama.8
Pada pemeriksaan luar korban dengan trauma tumpul pankreas secara umum
akan menunjukkan gambaran luka seperti gambaran luka pada trauma tumpul
abdomen. Dinding abdomen terdiri atas kulit, jaringan ikat longgar, otot, lemak, dan
fascia. Gambaran luka yang sering tampak adalah luka memar dan luka lecet yang
tergantung pada mekanisme penyebab. Luka memar adalah suatu keadan dimana
terjadi penggumpalan darah dalam jaringan yang terjadi sewaktu orang hidup karena
pecahnya pembuluh-pembuluh darah di bawah kulit akibat mengalami trauma dengan
benda tumpul. Pada luka memar kulit biasanya utuh, yang mengalami kerusakan
adalah jaringan di bawah kulit dimana terjadi pecahnya pembuluh darah kapiler
sehingga darah memasuki jaringan ikat di sekitarnya sehingga tempat tersebut
menjadi bengkak dan berwarna merah keunguan. Luka lecet adalah luka yang
superfisial, kerusakannya hanya pada epidermis. Luka lecet berdasarkan jenis
kerusakannya dibedakan menjadi menjadi tiga jenis yaitu jenis tekan dimana
epidermis tertekan ke dalam sehingga bentuk luka kadang-kadang sesuai dengan
bentuk penyebabnya, kemudian jenis geser dan jenis regang. Jenis luka lecet yang
terjadi pada trauma tumpul yang mengenai abdomen adalah jenis tekan. Hal ini sesuai
dengan kerasnya trauma yang disebabkan oleh benda tumpul.6,10
Pada pemeriksaan dalam kematian akibat trauma tumpul pankreas mungkin
akan ditemukan adanya kontusio jaringan lunak pada abdomen bagian atas atau
disrupsi pada tulang-tulang rusuk bawah atau costal cartilage menunjukkan
kemungkinan adanya trauma pankreas.3 Selain itu pemeriksaan post mortem post
trauma tumpul pankreas menunjukkan adanya hemoperitonium, fissura pada limpa,
perdarahan masif peripankreatik akibat dilaserasio caput pankreas.8 Seringkali tampak
adanya perdarahan masif intraperitoneal atau perdarahan di bawah peritonium akibat
kerusakan pankreas yang luas.7 Trauma tumpul pankreas jarang terjadi, hal ini
dihubungkan dengan lokasinya di sebelah posterior dan jaraknya yang relatif jauh

12
dari dinding anterior abdomen. Apabila terdapat kekuatan atau energi yang
terlokakisir pada regio epigastrium, maka trauma pankreas dapat terjadi, terutama
pada lokasi dimana pankreas terletak di atas vertabra lumbar kedua. Contusio,
laserasi, dan transeksi dapat terjadi pada lokasi tersebut atau intrapankreas.9
Pada temuan histopatologi pada pankreas yang tereseksi tercatat adanya
perdarahan dan seringkali adanya trauma tekan pada jaringan. Kadang-kadang
pemeriksaan histopatologi pada trauma tumpul pankreas menampakkan kondisi
pankreas sebelumnya seperti pankretitis, saponifikasi, atau scar. Trauma terhadap
pankreas dapat menghasilkan pseudokista residual baik intrapankreatik atau
peripankreatik. Pada kista peripankreatik, darah dan sekresi pankreas berakumulasi di
sekitar pankreas, di bawah peritoneum yang utuh, membentuk hematom
peripankreatik. Sebagai hasilnya adalah pembentukan kista yang terisi cairan yang
jernih. Dinding kista tidak memiliki lapisan epitel, akan tetapi mengandung makrofag
dan deposit hemosiderin pada dinding jaringan ikat fibrosa. Pada kista
intrapankreatik, terdapat perdarahan intrapankreas yang menghasilkan pembentukan
hematom. Jika kista ini menyembuh, dindingnya tanpa lapisan epitel dan
mengandung hemosiderin.9 Pemeriksaan histopatologi postmortem post trauma
tumpul pankreas juga menunjukkan adanya nekrosis masif akibat hilangnya asinus,
sejumlah tempat sitosteatosis, dan suffusio hemorrhagik luas dari jaringan
peripankreatik.8
Pada pemeriksaan laboratorium postmortem post trauma tumpul pankreas
dapat terjadi peningkatan enzim amilase. Tapi peningkatan enzim amilase tidak
dijadikan patokan yang reliabel karena pada 40% pasien dengan post trauma tumpul
pankreas kadar serum amilase dalam range normal atau tidak mengalami
peningkatan.
KESIMPULAN

Trauma yang hanya terjadi pada pankreas biasanya jarang terjadi dan biasanya
berhubungan dengan trauma pada organ di sekitarnya. Trauma pankreas terjadi

13
sebagai akibat trauma tajam atau trauma tumpul yang mengenai abdomen. Penyebab
paling sering terjadinya trauma tumpul pankreas adalah kecelakaan lalu lintas.
Trauma pada pankreas bagaikan sebuah teka-teki, bahkan pada praktek
kedokteran modern dengan teknologi dan metode diagnostik yang telah berkembang
dengan pesat. Banyak trauma pankreas terutama yang disebabkan oleh trauma tumpul
tidak dapat didiagnosis segera yang menyebabkan keterlambatan penanganan dan
berakibat pada peningkatan angka kematiannya.
Kematian mendadak akibat trauma tumpul abdomen relatif jarang terjadi.
Penyebab kematian pada trauma tumpul pankreas adalah perdarahan masif akibat
kerusakan pankreas yang luas dan sepsis intraabdominal. Pada pemeriksaan luar
korban dengan trauma tumpul pankreas secara umum akan menunjukkan gambaran
luka seperti gambaran luka pada trauma tumpul abdomen berupa luka memar dan
luka lecet yang tergantung pada mekanisme penyebab. Pada pemeriksaan dalam
kematian akibat trauma tumpul pankreas mungkin akan ditemukan kontusio, laserasi,
hemoperitonium, fissura pada limpa, perdarahan masif peripankreatik akibat
dilaserasio caput pankreas transeksi intrapankreas dan perdarahan intrapancreas atau
di bawah peritonium. Pemeriksaan histopatologi postmortem post trauma tumpul
pankreas juga menunjukkan adanya nekrosis masif akibat hilangnya asinus, sejumlah
tempat sitosteatosis, dan suffusio hemorrhagik luas dari jaringan peripankreatik.8

DAFTAR PUSTAKA

1. Mallick, Thoufeeq. Pancreatic Trauma from a Book. Available at:


http://www.medscape.com/viewarticle/410527_3. Last update: July 4, 2004.
Accessed: Maret 25, 2008.
2. Bjerke. Pancreatic Trauma. Available
at:http://www.emedicine.com/med/Topic2801.HTM. Last update: Juny 30,
2006. Accessed: Maret 25, 2008.
3. Furkovich. Injuries to the Pancreas and Duodenum. Available
at:http://www.acssurgery.com/acsonline/pdf/acs0709. Last update: August 4 ,

14
2005. Accessed: Maret 31, 2008.
4. Moore, Agur. Essential Clinical Anatomy. Second Edition. Toronto.
Lippincott Williams & Wilkins.2002.
5. Anonim. Phisilogy Of Pancreas. Available
at:http://www.navigator.medschool.pht.edu/34_viewpage.asp?pageid.
Accessed: Maret 31, 2008.
6. Deptiades. Blunt abdominal Trauma Review Outline. Avalaible: at:
http://www. Snowtigermed.com/cgilocal/viewarticlepl. Last update:
December 26, 2003. Accessed: Maret 31, 2008.
7. Knight Bernard. Simpson’s Forensic Medicine. USA. Arnold.1997
8. Maillart et all. Fatal Blunt Pancreatic Trauma Secondary to Assault and
Battery. Available at:http://www. Ncbi.nlm-nih.gov/pubmed/11795019. Last
update: December 01 , 2000. Accessed: April 5, 2008.
9. Di Maio. Forensic Pathology. USA.CRC Press.2000.
10. Budiyanto dkk. Ilmu Kedokteran Forensik. Jakarta. Bagian Kedokteran
Forensik Universitas Indonesia. 1997

15

Anda mungkin juga menyukai