Anda di halaman 1dari 16

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Kegunaan air dalam industri sangat banyak sekali, selain sebagai air baku
pada industri air minum dan pemutar turbin pada pembangkit tenaga listrik, juga
sebagai alat bantu utama dalam kerja pada proses-proses industri. Selain itu juga
air digunakan sebagai sarana pembersih (cleaning) baik itu cleaning area ataupun
alat-alat produksi yang tidak memerlukan air dengan perlakuan khusus atau
cleaning dengan menggunakan air dengan kualitas dan prasyarat tertentu yang
membutuhkan sterilisasi dan ketelitian yang tinggi. Dalam hal ini pembahasan
difokuskan pada air sebagai penghasil energi kalor dan sebagai penyerap energi
kalor (pendingin) dalam industri pada umumnya.
Seperti yang kita ketahui dalam industri kimia penyerap energi kalor
(pendingin) sangat dibutuhkan, sehingga dibutuhkan air pendingin sebagai media
untuk melakukan pertukaran panas antara fluida yang panas dengan air pendingin
(air dingin), berlangsungnya pertukaran panas tersebut terjadi di dalam suatu heat
transfer atau yang lebih spesifik disebut dengan cooler. Pertukaran panas tersebut
menyebabkan air pendingin mengalami perubahan temperatur, dimana temperatur
air pendingin naik disebabkan oleh panas yang dibawa oleh suatu fluida yang
panas, sehingga diserap oleh air pendingin.
Air yang mengalami perubahan temperatur tersebut tidak dapat langsung
digunakan kembali sebagai pendingin dan juga tidak dapat dibuang ke sungai atau
ke lingkungan, karena dapat mempengaruhi lingkungan, pengaruh terhadap
lingkungan yang disebabkan oleh temperatur tidak memenuhi syarat aman
di lingkungan.
Untuk itu perlu dilakukan suatu proses pendinginan untuk menurunkan
temperatur air tersebut sehingga dapat dibuang ke lingkungan secara aman.
Pembuangan sejumlah air hangat tersebut dapat meningkatkan temperatur sungai
atau danau tersebut sehingga dapat merusak ekosistem lokal. Proses pendinginan
air tersebut dapat dilakukan di dalam suatu tower pendingin yang disebut cooling
tower. Dimana proses pendinginan dapat terjadi dengan bantuan udara luar serta

alat untuk mempercepat pendinginan tersebut, yang biasa digunakan dalam


industri kimia adalah kipas (fan). Penggunaan teknologi cooling tower (menara
pendingin) sangat penting dalam tiap industri dalam rangka pelaksanaan efisiensi
dan konservasi energi. Oleh karena itu, pemahaman tentang prinsip kerja atau
operasi cooling tower sangat diperlukan.
Proses yang terjadi pada chiller atau unit pendingin untuk system AC
sentral dengan system kompresi uap terdiri dari proses kompresi, kondensasi,
ekspansi (perubahan tekanan) dan evaporasi. Proses ini terjadi dalam satu siklus
tertutup yang menggunakan media berupa refrigerant yang mengalir dalam system
kepemipaan yang terhubung dari satu komponen ke komponen lainnya. Untuk
mendinginkan refrigran, Kondensor menggunakan air sebagai media untuk proses
pendinginannya. Uap refrigeran panas mengalir dalam pipa yang berada di dalam
tabung sehingga terjadi proses pertukaran kalor. Uap refrigeran panas berubah fase
dari fase gas menjadi cair, yang memiliki tekanan tinggi mengalir menuju alat
ekspansi (perubah tekanan), sementara air yang keluar dari kondensor memiliki
temperatur yang lebih tinggi. Karena air akan digunakan lagi untuk proses
pendinginan kondensor maka temperaturnya harus diturunkan kembali atau
didinginkan pada cooling tower.
Cooling Tower merupakan system heat exchanger fluid to air, dimana
umumnya zat yang didinginkan adalah fluida cair. Penggunaan cooling tower telah
banyak digunakan terutama untuk keperluan pendinginan fluida yang akan
digunakan lagi (pada close circle system) ataupun di buang kelinggkungan sebagai
limbah (pada open cyrcle system). Cooling tower atau menara pendingin adalah
suatu sistem pendinginan dengan prinsip air yang disirkulasikan. Air dipakai
sebagai medium pendingin, misalnya pendingin condenser, AC, diesel generator
ataupun mesin mesin lainnya.
Menara pendingin (cooling tower) merupakan suatu peralatan yang
digunakan untuk menurunkan suhu aliran air dengan cara mengekstraksi panas
dari air dan diemisikan ke atmosfir. Menara pendingin menggunakan penguapan
dimana sebagian air diuapkan ke aliran udara dan kemudian dibuang ke atmosfir.
Sebagai akibatnya, air yang tersisa didinginkan secara signifikan.

Menara pendingin mampu menurunkan suhu air lebih dari peralatan yang
hanya menggunakan udara untuk membuang panas, seperti radiator dalam mobil,
dan oleh karena itu biayanya lebih efektif dan efisien di energi.
Jika air mendinginkan suatu mesin maka hal ini akan berakibat air
pendingin tersebut akan naik temperaturnya, misalnya air dengan temperatur awal
(T1) setelah digunakan untuk mendinginkan mesin maka temperaturnya berubah
menjadi (T2). Disini fungsi cooling tower adalah untuk mendinginkan kembali T2
menjadi T1 dengan blower / fan dengan bantuan angin. Demikian proses tersebut
berulang secara terus menerus.
1.2 Rumusan Masalah
Rumusan masalah yang ditinjau pada percobaan ini adalah pengaruh flow
rate udara terhadap temperatur air keluar.
1.3 Tujuan
1.

Untuk mengetahui cara dan prinsip kerja cooling tower.

2.

Mengetahui perhitungan pada cooling tower apparatus.

3.

Mengetahui aplikasi dari cooling tower.

1.4 Manfaat
Dengan diketahui hubungan antara kecepatan udara terhadap approach to
wet bulb dan presure drop, maka dapat diaplikasikan pada peralatan cooling tower
secara lebih efisien.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Teknologi pendingin sudah lama ditemukan dengan teknologi pertama kali
dengan teknologi pendinginan udara. Kemudian teknologi pendinginan air baru
ditemukan sebab dengan pendinginan air, pendinginan menjadi lebih konstan.
Pertama, teknologi pendinginan air menggunakan sungai, sumur, danau dan kanal.
Tetapi sejak perluasan industri yang sudah sangat, luas banyak industri berdiri
jauh dari sumber air, apalagi suatu industri yang berdiri di negara yang minim
sumber air. Dengan semakin pesatnya perkembangan teknologi, maka untuk
mendinginkan air yang telah digunakan pada suatu proses sebelum dibuang ke
lingkungan sekitar, setelah ditemukan suatu teknologi menara pendingin (cooling
tower).
2.1 Definisi Cooling Tower
Secara umum cooling tower dapat dikategorikan sebagai pendingin
evaporatif yang digunakan untuk mendinginkan air atau media kerja lainnya
sampai bertemperatur mendekati temperatur bola basah udara sekitar. Kegunaan
utama dari cooling tower adalah untuk membuang panas yang diserap akibat
sirkulasi air sistem pendingin yang digunakan pada pembangkit daya, kilang
petroleum, pabrik petrokimia, pabrik pemrosesan gas alam, pabrik makanan,
pabrik semikonduktor, dan fasilitas-fasilitas industri lainnya.(www.wikipedia.org,
2002)
Cooling tower sebagai alat bantu (utilitas) banyak digunakan dalam
industri-industri kimia, dimana cooling tower dapat mengubah air panas menjadi
air dingin yang dapat digunakan kembali dan menyimpan energi yang masuk dan
pada

saat

yang

sama

menghilangkan

potensi

masalah-masalah

polusi.

Jika suatu pabrik tidak dilengkapi dengan cooling tower dan hanya
menggunakan sirkulasi air pendingin sekali pakai, air pendingin yang telah
digunakan dan mengalami kenaikan temperatur selanjutnya dibuang ke laut, danau
atau sungai yang ditentukan. Pembuangan sejumlah air hangat tersebut dapat
meningkatkan temperatur sungai atau danau tersebut sehingga dapat merusak

ekosistem lokal. Cooling tower dapat digunakan untuk membuang panas ke


atmosfir sebagai pengganti angin serta difusi udara yang menyebarkan panas ke
area yang lebih luas.
2.2 Prinsip Operasi Cooling Tower
Sistem operasi cooling tower berdasarkan pada penguapan dan perubahan
panas sensibel, dimana campuran dua fluida pada temperatur yang berbeda (air
dan udara) akan melepaskan panas latent penguapan yang menyebabkan efek
pendinginan ke fluida yang lebih panas dalam dalam kasusu ini adalah air. Efek
pendinginan ini dicapai dengan merubah sebagian cairan ke dalam uap dengan
melepaskan panas latent penguapan. Selain itu, panas sensibel juga berperan
ketika air panas yang dilewatkan kontak dengan aliran udara dingin yang masuk,
sehingga udara akan mendinginkan air dan temperaturnya akan meningkat sesuai
dengan jumlah panas sensibel air yang diperolehnya. Selama proses terjadi
penghilangan air, dimana uap air yang lewat cooling tower akan dilepaskan ke
atmosfer.
2.3 Klasifikasi Cooling Tower
Cooling tower dapat diklasifikasikan menurut beberapa hal, antara lain:
Menurut Metode Perpindahan Panas
1. Wet Cooling Tower (pendinginan basah)
Pada cooling tower jenis ini, air panas didinginkan sampai pada temperatur
yang lebih rendah dari temperatur bola basah udara sekitar, jika udara relatif
kering. Seperti udara jenuh yang melewati aliran air, kedua aliran akan relatif
sama. Udara, jika tidak jenuh, akan menyerap uap air lebih banyak, meninggalkan
sedikit panas pada aliran air.
2. Dry Cooler (pendingin kering)
Cooling tower ini beroperasi dengan pemindahan panas melewati
permukaan yang memisahkan fluida kerja dengan udara ambient. Dengan
demikian akan terjadi perpindahan panas konveksi dari fluida kerja, panas yang
dipindahkan lebih besar daripada proses penguapan.

3. Fluid Cooler (pendingin fluida)


Pada cooling tower ini saluran fluida kerja dilewatkan melalui pipa,
dimana air hangat dipercikkan dan kipas dihidupkan untuk membuang panas dari
air. Perpindahan panas yang dihasilkan lebih mendekati ke cooling tower basah,
dengan keuntungan seperti pada pendingin kering yakni melindungi fluida kerja
dari lingkungan terbuka.
Menurut Metode Pembangkitan Aliran Udara
1. Natural Draft (penggerak udara alami)
Udara dialirkan dengan memanfaatkan gaya buoyancy melewati cerobong
yang tinggi. Udara campuran secara alami meningkat sampai terjadi perbedaan
densiti dengan udara kering, pendingin udara luar. Udara campuran panas
memiliki densiti yang lebih kecil daripada udara yang lebih kering pada
temperatur dan tekanan yang sama. Buoyancy udara campuran tersebut
menghasilkan arus udara melewati menara.
2. Mechanical Draft (penggerak udara mekanik)
Menara draft mekanik memiliki fan yang besar untuk mendorong atau
mengalirkan udara melalui air yang disirkulasi. Air jatuh turun di atas permukaan
bahan pengisi, yang membantu untuk meningkatkan waktu kontak antara air dan
udara. Hal ini membantu dalam memaksimalkan perpindahan panas diantara
keduanya. Menurut letak kipasnya jenis ini terbagi menjadi dua, antara lain:
1. Induced Draft
Kipas pada cooling tower ini berada di bagian keluaran yang menghisap
udara melintasi menara. Hal ini menghasilkan kecepatan udara masukan rendah
dan kecepatan udara keluaran yang tinggi, sehingga mengurangi kemungkinan
resirkulasi udara.
2. Forced Draft
Pada cooling tower ini kipas terletak pada bagian masukan tower, sehingga
menyebabkan kecepatan udara yang tinggi pada bagian masukan dan kecepatan
yang rendah pada bagian keluaran. Kecepatan yang rendah pada bagian keluaran
menyebabkan lebih mudah terjadi resirkulasi udara. Kerugian lainnya desain
penggerak paksa membutuhkan daya motor yang lebih tinggi daripada desain

kipas

pada

tipe

induced

draft.

Keuntungan

penggerak

paksa

adalah

kemampuannya dalam bekerja pada tekanan statik yang tinggi.


Menurut Arah Aliran Udara Terhadap Aliran Air
1. Aliran Crossflow
Pada tipe ini, aliran udara bergerak memotong secara tegak lurus terhadap
aliran air pada bahan pengisi. Kemudian udara melintasi menara melalui bagian
keluaran udara akibat gaya tarik dari fan yang berputar.
2. Aliran Counterflow
Pada tipe ini, aliran udara pada saat melewati bahan pengisi (fill material)
sejajar dengan aliran air dengan arah yang berlawanan.
2.4 Komponen Cooling Tower
Komponen dasar sebuah cooling tower meliputi rangka dan wadah, bahan
pengisi, kolam air dingin, eliminator aliran, saluran masuk udara, louver, nosel
dan fan.
1. Rangka dan Wadah
Menara memiliki rangka berstruktur yang menunjang tutup luar
(wadah/casing), motor, fan, dan komponen lainnya.
2. Bahan Pengisi
Hampir seluruh menara menggunakan bahan pengisi (terbuat dari plastik
atau kayu) untuk memfasilitasi perpindahan panas dengan memaksimalkan kontak
udara dan air. Terdapat dua jenis bahan pengisi:
1. Bahan pengisi berbentuk percikan/Splash fill
Yaitu air jatuh di atas lapisan yang berurut dari batang pemercik horisontal,
secara terus menerus pecah menjadi tetesan yang lebih kecil, sambil membasahi
permukaan bahan pengisi. Bahan pengisi percikan dari plastik memberikan
perpindahan panas yang lebih baik daripada bahan pengisi percikan dari kayu.
2. Bahan pengisi berbentuk film
Terdiri dari permukaan plastik tipis dengan jarak yang berdekatan dimana
di atasnya terdapat semprotan air, membentuk lapisan film yang tipis dan
melakukan kontak dengan udara. Permukaannya dapat berbentuk datar,
bergelombang, berlekuk, atau pola lainnya. Jenis bahan pengisi film lebih efisien

dan memberi perpindahan panas yang sama dalam volume yang lebih kecil
daripada bahan pengisi jenis splash.
3. Kolam Air Dingin
Kolam air dingin terletak pada atau dekat bagian bawah menara, dan
menerima air dingin yang mengalir turun melalui menara dan bahan pengisi.
Kolam biasanya memiliki sebuah lubang atau titik terendah untuk pengeluaran air
dingin.
4. Drift Eliminator
Alat ini berfungsi untuk menangkap tetes-tetes air yang terjebak dalam
aliran udara supaya tidak hilang ke atmosfir. Saat ini hampir kebanyakan
spesifikasi pengguna akhir mengasumsikan kehilangan karena kerugian ini sebesar
0,02%. (www.energyefficiencyasia.org, 2004)

Gambar 1. Drift eliminator


5. Saluran Udara Masuk
Merupakan titik masuk bagi udara menuju menara. Saluran masuk bisa
berada pada seluruh sisi menara (desain aliran crossflow) atau berada di bagian
bawah menara (desain aliran counterflow).
6. Louver
Pada umumnya, menara dengan aliran crossflow memiliki saluran masuk
louver. Kegunaan louver adalah untuk menyamakan aliran udara ke bahan pengisi
dan menahan air dalam menara. Material yang sering digunakan untuk louver

adalah asbes. Beberapa desain untuk menara aliran counterflow tidak memerlukan
louver.

Gambar 2. Louver
7. Nosel
Alat ini menyemprotkan air untuk membasahi bahan pengisi. Distribusi air
yang seragam pada puncak bahan pengisi adalah penting untuk mendapatkan
pembasahan yang benar dari seluruh permukaan bahan pengisi. Nosel dapat
dipasang dan menyemprot dengan pola bundar atau segi empat, atau dapat
menjadi bagian dari rakitan yang berputar seperti pada menara dengan beberapa
potongan lintang yang memutar.

Gambar 3.Nosel
8. Fan
Fan aksial (jenis baling-baling) dan sentrifugal keduanya digunakan dalam
menara. Umumnya fan dengan baling-baling/propeller digunakan pada menara
induced draft dan baik fan propeller dan sentrifugal dua-duanya ditemukan dalam
menara forced draft. Tergantung pada ukurannya, jenis fan propeller yang
digunakan sudah dipasang tetap atau dengan dapat dirubah-rubah/ diatur. Sebuah
fan dengan baling-baling yang dapat diatur tidak secara otomatis dapat digunakan

di atas range yang cukup luas sebab fan dapat disesuaikan untuk mengirim aliran
udara yang dikehendaki pada pemakaian tenaga terendah. Baling-baling yang
dapat diatur secara otomatis dapat beragam aliran udaranya dalam rangka
merespon perubahan kondisi beban. (www.spxcooling.com, 2006)

Gambar 4. Fan Aksial


2.5 Analisa Performansi Cooling Tower
Performansi cooling tower dievaluasi untuk mengetahui tingkat approach
dan range yang terjadi terhadap nilai desain, mengidentifikasi area terjadinya
pemborosan energi dan memberikan saran perbaikan. Untuk mengukur
performansi maka perlu diketahui beberapa parameter operasional cooling
tower, antara lain:
1)
2)
3)
4)
5)
6)

Suhu udara wet bulb (Twb)


Suhu udara dry bulb (Tdb)
Air masuk menara pendingin (Tw,in)
Suhu air keluar menara pendingin (Tw,out)
Suhu udara keluar (Ta,out)
Laju aliran massa air (L)

7) Laju aliran massa udara (G)


2.6 Persyaratan Proses Menara Pendingin
Umumnya batasan operasi cooling tower adalah pada suhu 120 oF.
Temperatur air keluar biasanya lebih rendah dari 120 oF. Pada saat temperatur air
proses melebihi 120 oF perlu dilakukan tahapan evaporasi dengan menggunakan
cooler sehingga tidak terjadi kontak langsung antar air panas dan udara.
Temperatur air terendah yang mungkin didinginkan di dalam cooling
tower tergantung pada wet bulb temperatur udara, tetapi ini bukanlah batasan

mutlak karena tekanan uap keluar dan wet bulb temperatur dalam cooling tower
disebut Approach.
1. Packing
Pengisian packing pada cooling tower harus memenuhi karakteristik
sebagai berikut:
1) Permukaan interfacial antara fuida yang akan didinginkan dengan fluida yang
mendinginkan besar.
2) Memiliki karakteristik aliran fluida yang didinginkan pada packing harus
terjadi pertukaran volume fluida yang besar melalui cross section tower yang
kecil tanpa loading/ fleeding dan presure drop yang rendah untuk gas.
3) Zat inert fluida dapat diproses secara kimia.
4) Mempunyai kekuatan struktural sehingga mudah dalam penangan dan
instalasi.
5) Biayanya murah.
Terdapat dua cara pengisian packing, yaitu:
1. Random Packing
Sewaktu instalasi packing dijatuhkan atau ditempatkan ke dalam menara
secara acak dimana menara diisi dengan air untuk mengurangi kecepatan jatuhan.
Jenis random packing yang digunakan, yaitu:
a)
b)
c)
d)
e)
f)
g)

Rasching ring
Lessing ring
Partition ring
Belt saddle
Intalox saddle
Tellerate
Pall ring atau flexiring

2. Regular Packing
Packing jenis ini menguntungkan karena pressure drop yang rendah dan
laju alir fluida yang semakin lebih besar, namun packing jenis ini lebih mahal
biaya instalasinya dari packing yang jenis random. Jenis regular packing yang
digunakan, yaitu:
a) Rasching ring
b) Doble spiral ring

c) Section through expanded metal packing


d) Wood grids
2. Water Make-Up
Perlengkapan make up untuk cooling tower terdiri dari penjumlahan
evaporation loss, drift loss dan blown down.
Rumus:
Wm = We + Wd + Wb
Dimana:
Wm

= Water make up.

Wd

= Water drift loss.

Wb

= Water blown down.

Evaporation loss dapat ditentukan dengan persamaan, yaitu:


We = 0,00085 Wc (T1 - T2)
Dimana:
Wc

= Sirkulasi water flow (gal/ min pada tower inlet)

T1 - T2 = Temperatur air masuk - temperatur air keluar, oF.


Drift adalah air yang naik ke atas (terdorong ke atas) pada tower dischange
vapor. Drift loss adalah fungsi dari draft eliminator design yang bervariasi antara
0,1 dan 0,2 % dari air yang di supply ke tower. Perkembangan baru dalam
eliminator design memungkinkan untuk mengurangi menjadi dibawah 0,1 %.
Blown down mengurangi bagian dari sirkulasi air terkonsentrasi terhadap
proses evaporasi untuk menurunkan konsentrasi sistem solid blown dapat dihitung
berdasarkan jumlah siklus dari konsentrasi. Kuantitas blown down yang
dibutuhkan:

Cycle of concentration =

=
atau

We Wb
Wb

We
1
Wb

We
cycle 1

Wb =
3. House Power
Pada cooling tower sumber daya yang digunakan sebagai pengeluaran
udara adalah fan atau blower, kecepatan tergantung dari beberapa banyak air yang
akan diinginkan. Jumlah dari fan tergantung pada faktor cooling tower, termasuk
type fill, konfigurasi tower dan kondisi thermal. Untuk menghitung dari output
dari fan adalah sebagai berikut:

Static

Q hs d
33.000 12

Dimana:
Q

= Volume udara (ft3/ min).

hs = Static head di dalam air.


d

= Densitas air pada temperatur ambient (lb/ ft3).

4. Pump Horse Power


Pompa adalah salah satu bagian yang terpenting dari cooling tower untuk
mengalirkan air dari dasar cooling tower menuju bagian spray pada puncak
cooling tower. Cara menghitung reducing pompa adalah :
gal / min (ht )
3.960 ( pump efficiency )

Pump bhp =
Dimana:
ht = total head, ft.
5. Operasi Cooling Tower
Penerapan yang nyata dari operasi ini adalah dengan cooling tower.
Biasanya cooling tower ini menyerupai kotak kayu, dimana alat ini mengontakkan
air panas sisa dari proses pendingin ke udara sehingga terjadi proses pendinginan
air. Fungsi kayu yang ada pada bagian cooling tower adalah untuk memperluas
wilayah pertemuan antara air dan udara. Suatu cooling tower biasanya dapat

menekan kebutuhan akan cooling water sebanyak 98 % walau ada juga resiko
terkontaminasi yang disebabkan oleh penjenuhan air oleh uap air.
Pada cooling tower udara dingin dari atmosfer dilewatkan ke bagian bawah
cooling tower dan terjadi panas antara air panas dengan udara dingin. Bila zat cair
panas dikontakkan kepada gas tak jenuh, sebagian dari zat cair tersebut akan
menguap dan suhu zat cair menjadi turun. Pendinginan air dalam jumlah besar
dilakukan dalam kolam-kolam semprot (Spray Pond).
Kita telah tahu bahwa tujuan dari dibuatnya cooling tower atau menara
pendingin adalah untuk mensirkulasikan air pendingin dengan cara mendinginkan
air itu dan menggunakannya kembali secara berulang-ulang. Air panas yang
biasanya berasal dari kondensor atau unit perpindahan panas lainnya dimasukkan
melalui puncak menara (top tower) dan di distribusikan ke dalam plat-plat melalui
metode cascade ke bawah dilengkapi dengan Slat Grating untuk memberikan luas
permukaan yang besar untuk kontak udara dan air.
Pada prinsipnya cooling tower atau menara pendingin adalah jenis bahan
isian yang khusus yaitu kayu sipres yang mempunyai daya tahan aksi gabungan air
dan angin. Dalam menara itu sebagian air menguap ke udara dan kalor sensibel
berpindah dari air panas ke udara yang lebih dingin. Kedua proses itulah yang
mengakibatkan turunnya air dingin dan untuk menjaga keseimbangan air dingin
kita hanya perlu menambahkan air untuk menggantikan air yang hilang karena
penguapan atau angin.
6. Treatment Prosedur
Ada beberapa batasan yang harus diperhatikan air sebelum masuk ke
cooling tower, yaitu:
1) pH harus dijaga kondisi normal, yaitu 6-7, karena pH yang lebih tinggi akan
menyebabkan perubahan lignin pada pemanasan weed fiber.
2) Inhibitor korosi dipilih berdasarkan pada adanya serat-serat kimia dalam
make up water dan material dari peralatan Heat Exchanger.
3) Penambahan zat anti alga dan jamur diperlukan untuk menjaga keadaan zat
kimia tersebut.

7. Teori Difusi
Suatu peristiwa difusi melibatkan peresapan satu fluida lainnya misalnya,
gas udara yang mengandung sejumlah kecil uap aseton yang larut dalam air
sedangkan udara tidak larut dalam air. Seandainya campuran udara-aseton
dimasukkan ke menara dimana air akan mengalir secara kontinu sehingga molekul
aseton melekat ke molekul air. Maka molekul aseton dalam lapisan film udara
menyentuh lapisan film liquid dan menyerap dengan cepat oleh larutan tersebut
dalam liquid sehingga konsentrasi aseton dalam lapisan udara lebih kecil
dibandingkan yang terlarut.

BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
3.1 Alat dan Bahan
1. Satu unit Cooling Tower Armfiel yang dilengkapi dengan pemanas.
2. Aquadest
3. Udara bebas (sebagai media pendingin)
3.2 Prosedur Percobaan
1.

Siapkan peralatan cooling tower supaya dapat beroperasi

2.

Isi aquadest ke basin

3.

Hubungkan cooling tower dengan arus listrik, atur debit air yang mengalir dan
Q sesuai dengan yang dikehendaki

4.

Catat temperatur inlet dan outlet untuk dry bulb dan wet bulb T1 - T6 tekanan
dan presure drop yang ditunjukan. Lakukan pengambilan data sebanyak lima
kali dengan tekanan yang berbeda-beda.

5.

Hitung laju alir udara masing-masing data.