Anda di halaman 1dari 16

TEACHING HEALTH ETHICS

MELINDUNGI DOKTER YANG MENGERUK


KEUNTUNGAN DARI PASIEN

PENDAHULUAN

Etik adalah cabang ilmu filsafat yang mempelajari moralitas. Etik harus
dibedakan dengan sains yang mempelajari moralitas, yaitu etik deskriptif. Etik
deskriptif mempelajari pengetahuan empiris tentang moralitas atau menjelaskan
pandangan moral yang saat ini berlaku tentang issue-issue tertentu. Istilah etika
berasal dari bahasa Yunani kuno. Kata Yunani ethos dalam bentuk tunggal
mempunyai banyak arti: tempat tinggal yang biasa; padang rumput, kandang;
kebiasaan, adat; akhlak, watak; perasaan, sikap, cara berpikir. Dalam bentuk jamak
( ta etha ) artinya adalah: adat kebiasaan. Dan arti terakhir inilah yang menjadi latar
belakang bagi terbentuknya istilah “etika” yang oleh filsuf Yunani besar Aristoteles
( 384-322 S.M ) sudah dipakai untuk menunjukkan filsafat moral. Jadi, jika kita
membatasi diri pada asal-usul kata ini, maka etika berarti: ilmu tentang apa yang biasa
dilakukan atau ilmu tentang adat kebiasaan. Selain itu etika juga berarti nilai-nilai
atau norma-norma moral yang menjadi pegangan bagi seseorang atau suatu kelompok
dalam mengatur tingkah lakunya.
Pada dasarnya manusia memiliki 4 kebutuhan dasar, yaitu : (a) kebutuhan
fisiologis yang dipenuhi dengan makanan dan minuman, (b) kebutuhan psikologis
yang dipenuhi dengan rasa kepuasan, istirahat, santai, dll, (c) kebutuhan sosial yang
dipenuhi melalui keluarga, teman dan komunitas, serta (d) kebutuhan kreatif dan
spiritual yang dipenuhi dengan melalui pengetahuan, kebenaran, cinta dll. Kebutuhan-
kebutuhan tersebut harus dipenuhi secara berimbang. Apabila seseorang memilih
untuk memenuhi kebutuhan tersebut secara tidak berimbang, maka ia telah
menentukan secara subyektif apa yang baik bagi dirinya, yang belum tentu baik
secara obyektif. Baik disebabkan oleh ketidaktahuan atau akibat kelemahan moral,
seseorang dapat saja tidak mempertimbangkan semua kebutuhan tersebut dalam
membuat keputusan etik, sehingga berakibat terjadinya konflik di bidang keputusan
moral.

1
Bioetika adalah studi interdisipliner tentang problem-problem yang
ditimbulkan oleh perkembangan di bidang biologi dan ilmu kedokteran, baik dalam
skala mikro maupun pada skala makro, serta tentang dampaknya atas masyarakat luas
serta sistem nilainya, kini dan masa mendatang. Dorongan utama yang mengakibatkan
kelahiran bioetika sebagai suatu pendekatan intelektual yang baru adalah
perkembangan ilmu pengetahuan, khususnya biologi dan ilmu kedokteran, yang
menimbulkan problem-problem etis yang luar biasa. Kemajuan ilmu pengetahuan
menuntut diadakannya eksperimen baru. Banyak masalah dalam bioetika masih
sejalan dengan apa yang dulu dibicarakan dalam etika kedokteran. Namun sering kali
konteksnya berbeda. Misalnya, menghormati kehidupan merupakan salah satu prinsip
maha penting dalam etika kedokteran tradisional, tapi teknologi memaksa kita untuk
mempertimbangkan kualitas kehidupan. Bioetika tidak terikat dengan suatu agama
tertentu tapi merupakan suatu sumber utama yang menghasilkan pertimbangan dan
evaluasi etis.
Beauchamp dan Childress (1994) menguraikan bahwa untuk mencapai ke
suatu keputusan etik diperlukan 4 kaidah dasar moral (moral principle) dan beberapa
aturan dibawahnya. Keempat kaidah tersebut adalah :
1. Prinsip otonomi, yaitu prinsip moral yang menghormati hak-hak
pasien, terutama hak otonomi pasien (the right to self determination).
Prinsip moral inilah yang kemudian melahirkan doktrin informed
consent.
2. Prinsip beneficence, yaitu prinsip moral yang mengutamakan tindakan
yang ditujukan untuk kebaikan pasien. Dalam beneficence tidak hanya
dikenal perbuatan untuk kebaikan saja, melainkan juga perbuatan yang
sisi baiknya (manfaat) lebih besar daripada sisi buruknya.
3. Prinsip non-maleficence, yaitu prinsip moral yang melarang tindakan
yang memperburuk keadaan pasien. Prinsip ini dikenal sebagai
“primum non nocere” atau “above all do no harm”.
4. Prinsip justice, yaitu prinsip moral yang mementingkan fairness dan
keadilan dalam bersikap maupun dalam mendistribusikan sumber daya.
Sedangkan aturan dibawahnya adalah veracity (berbicara benar, jujur dan
terbuka), privacy (menghormati hak privasi pasien), confidentiality (menjaga
kerahasiaan pasien) dan fidelity (loyalitas dan promise keeping).

2
Selain prinsip atau kaidah dasar moral diatas yang harus dijadikan pedoman
dalam mengambil keputusan klinis, profesional kedokteran juga mengenal etika
profesi sebagai panduan dalam bersikap dan berperilaku (code of ethical conduct).
Nilai-nilai etika profesi tersebut tercermin di dalam sumpah dokter dan kode etik
kedokteran.
Dalam dunia kedokteran, terdapat beberapa kode etik yang berlaku secara
internasional dan nasional untuk negara tertentu. Kode etik internasional yang
dideklarasikan oleh Ikatan Dokter Sedunia antara lain :
1. Deklarasi Helsinki tahun 1964 tentang penelitian dengan Objek Manusia,
2. Deklarasi Sydney tahun 1968 dan Deklarasi Venice tahun 1983 tentang
Kriteria Mati dan Penyakit Terminal yang dikaitkan dengan Transplantasi
Organ,
3. Deklarasi Oslo tahun 1970 tentang Pengguguran Kandungan,
4. Deklarasi Munich tahun 1973 tentang Penerapan Teknologi Administrasi,
5. Deklarasi Tokyo tahun 1975 tentang pengguguran Obat-obatan Terlarang
6. Deklarasi Brussel tahun 1985 tentang Bayi Tabung, dan
7. Deklarasi Madrid tahun 1987 tentang Euthanasia dan Rekayasa Genetika.
Sedangkan di Indonesia Kode Etik Kedokteran Indonesia pertama kali disusun
tahun 1969 dalam musyawarah kerja Susila Kedokteran yang dilaksanakan di Jakarta.
Bahan rujukan yang digunakan adalah Kode Etik Kedokteran Internasional yang telah
disempurnakan pada tahun 1968 melalui Muktamar ke-22 Ikatan Dokter Sedunia.
Kode Etik tersebut mengalami beberapa kali perubahan, pada musyawarah kerja
nasioal IDI XIII, 1993, Kode Etik Kedokteran Indonesia itu telah diubah menjadi 20
pasal yang dibagi menjadi lima bagian, yaitu :
1. Kewajiban umum seorang dokter (sembilan pasal)
2. Kewajiban dokter terhadap penderita (lima pasal)
3. Kewajiban dokter terhadap teman sejawat (dua pasal)
4. kewajiban dokter terhadap diri sendiri (dua pasal)
5. Penutup (satu pasal)

KASUS
Melindungi dokter yang berusaha mengeruk keuntungan dari pasien

3
DOKTER
Seorang dokter A sedang bertugas di luar negeri. Pada saat yang bersamaan, saudara
iparnya mengeluh nyeri saat buang air kecil. Setelah ke rumah sakit dan ditangani
oleh seorang urologis, dokter B, dikatakan bahwa harus dilakukan terapi laser karena
kemungkinan ada gangguan di prostat. Sejauh ini hanya pemeriksaan USG yang telah
dilakukan. Dokter tersebut menakut-nakuti dengan mengatakan jika tidak dilakukan
terapi laser akan menyebabkan kematian. Sesuatu hal yang sangat menakutkan
sehingga istri pasien menangis. Dokter tersebut kemudian berencana untuk melakukan
IVP (intravenous pyelography). Kemudian pasien tersebut diintruksikan untuk
melakukan terapi laser di malam yang sama dengan membayar 750 USD. Dan kalau
menggunakan kartu kredit dikenakan biaya 1.500 USD. Pasien tersebut menjadi
bingung dan menghubungi suami dokter A yang kebetulan bekerja di bidang
kesehatan juga. Dia menyarankan kepada pasien untuk menunda satu hari hingga ia
datang, namun dokter B menjadi marah dan mengatakan jika tidak dilakukan sekarang
ia tidak akan mau menangani pasien tersebut lagi. Namun hal itu tidak berlanjut
menjadi lebih gawat setelah dokter B menyadari bahwa pasien tersebut adalah kerabat
dari dokter A. Ia lalu meminta maaf atas perbuatannya. Hingga pada akhirnya direktur
rumah sakit beserta salah stafnya meminta maaf pada suami dokter A. Pasien tersebut
akhirnya memutuskan untuk berobat ke rumah sakit swasta lain, dan melalui USG dan
pemeriksaan laboratorium ditemukan bahwa terdapat inflamasi.

I. APA MASALAH MORAL YANG TERJADI?


Bagaimana menurut anda hubungan dokter-pasien pada kasus diatas?
Bagaimana sikap anda terhadap rekan sejawat anda tersebut?

II. FAKTA-FAKTA
Dimensi Kedokteran
Prostatitis
Prostatitis adalah inflamasi atau peradangan dari kelenjar prostat. Prostatitis
dapat menimbulkan berbagai gejala, diantaranya :
• Susah atau nyeri saat buang air kecil
• Frekeunsi berkemih yang meningkat

4
• Demam
• Nyeri punggung
• Nyeri di selangkangan
• Tidak mampu ereksi
• Menurunnya gairah seksual
Prostatitis susah dibedakan dengan gejala infeksi saluran kencing lainnya, sehingga
untuk memastikan diperlukan pemeriksaan lebih lanjut oleh dokter.
Pengobatan prostatitis tergantung penyebabnya, umumnya bakteri, sehingga
pengobatannya yaitu dengan pemberian antibiotik, seperti misalnya :
flouroquinolones (Avelox, Levaquin) dan trimethoprim-sulfamethoxazole (Bactrim,
Cotrim). Pada kasus prostatitis bakteri yang kronik, pembedahan diperlukan untuk
mengangkat prostat tersebut. Terapi ini diberikan pada pasien yang menderita nyeri
yang kronik dan komplikasi yang serius, seperti : gagal ginjal, infeksi saluran kencing
yang berulang, ketidakmampuan untuk berkemih, dan batu pada buli-buli.

Pembesaran Prostat Jinak (BPH)


Pembesaran Prostat Jinak (BPH, Benign Prostatic Hyperplasia) adalah
pertumbuhan jinak pada kelenjar prostat, yang menyebabkan prostat membesar.
Pembesaran prostat sering terjadi pada pria di atas 50 tahun. Penyebabnya tidak
diketahui, tetapi mungkin akibat adanya perubahan kadar hormon yang terjadi karena
proses penuaan. Kelenjar prostat mengeliling uretra (saluran yang membawa air
kemih keluar dari tubuh), sehingga pertumbuhan pada kelenjar secara bertahap akan
mempersempit uretra. Pada akhirnya aliran air kemih mengalami penyumbatan.
Akibatnya, otot-otot pada kandung kemih tumbuh menjadi lebih besar dan lebih kuat
untuk mendorong air kemih keluar.Jika seorang penderita BPH berkemih, kandung
kemihnya tidak sepenuhnya kosong. Air kemih tertahan di dalam kandung kemih,
sehingga penderita mudah mengalami infeksi dan membentuk batu. Penyumbatan
jangka panjang bisa menyebabkan kerusakan pada ginjal. Pada penderita BPH,
pemakaian obat yang mengganggu aliran air kemih (misalnya antihistamin yang dijual
bebas) bisa menyebabkan penyumbatan.
Gejala awal timbul jika prostat yang membesar mulai menyumbat aliran air
kemih. Pada mulanya, penderita memiliki kesulitan untuk memulai berkemih.
Penderita juga merasakan bahwa proses berkemihnya belum tuntas. Penderita menjadi

5
lebih sering berkemih pada malam hari (nokturia) dan jika berkemih harus mengedan
lebih kuat. Volume dan kekuatan pancaran berkemih juga menjadi berkurang dan
pada akhir berkemih air kemih masih menetes. Akibatnya kandung kemih terisi penuh
sehingga terjadi inkontinensia uri (beser). Pada saat penderita mengedan untuk
berkemih, vena-vena kecil pada uretra dan kandung kemih bisa pecah sehingga pada
air kemih terdapat darah. Penyumbatan total menyebabkan penderita tidak dapat
berkemih sehingga penderita merasakan kandung kemihnya penuh dan timbul nyeri
hebat di perut bagian bawah.Jika terjadi infeksi kandung kemih, akan timbul rasa
terbakar selama berkemih, juga demam. Air kemih yang tertahan di kandung kemih
juga menyebabkan bertambahnya tekanan pada ginjal, tetapi jarang menyebabkan
kerusakan ginjal yang menetap.
Diagnosis ditegakkan berdasarkan gejala dan hasil pemeriksaan fisik.
Dilakukan pemeriksaan colok dubur untuk merasakan/meraba kelenjar prostat.
Dengan pemeriksaan ini bisa diketahui adanya pembesaran prostat, benjolan keras
(menunjukkan kanker) dan nyeri tekan (menunjukkan adanya infeksi). Biasanya
dilakukan pemeriksaan darah untuk mengetahui fungsi ginjal dan untuk penyaringan
kanker prostat (mengukur kadar antigen spesifik prostat atau PSA). Pada penderita
BPH, kadar PSA meningkat sekitar 30-50%. Jika terjadi peningkatan kadar PSA,
maka perlu dilakukan pemeriksaan lebih lanjut untuk menentukan apakah penderita
juga menderita kanker prostat. Untuk mengukur jumlah air kemih yang tersisa di
dalam kandung kemih setelah penderita berkemih, dilakukan pemasangan kateter atau
penderita diminta untuk berkemih ke dalam sebuah uroflometer (alat yang digunakan
untuk mengukur laju aliran air kemih).
Dengan menggunakan USG, bisa diketahui ukuran kelenjar dan ditentukan
penyebab terjadinya BPH. Kadang dilakukan pemeriksaan dengan endoskopi yang
dimasukkan melalui uretra untuk mengetahui penyebab lainnya dari penyumbatan
aliran air kemih. Untuk mengetahui adanya penyumbatan aliran air kemih bisa
dilakukan pemeriksaan rontgen IVP. Analisa air kemih dilakukan untuk melihat
adanya darah atau infeksi.
Terapi BPH yaitu dengan pemberian obat-obatan, seperti golongan alfa-1
bloker, finasterid, dan antibiotik. Pembedahan biasanya dilakukan terhadap penderita
yang mengalami:inkontinensiauri, hematuria (darah dalam air kemih), retensio uri (air
kemih tertahan di dalam kandung kemih), infeksi saluran kemih berulang. Pemilihan

6
prosedur pembedahan biasanya tergantung kepada beratnya gejala serta ukuran dan
bentuk kelenjar prostat.

Nilai-nilai Pasien dan Sosial


Budaya, kebiasaan dan tingkat pendidikan juga mempengaruhi cara dan
keadekuatan berkomunikasi antara dokter dan pasien. Penelitian yang dilakukan oleh
Cassileth menunjukkan bahwa dari 200 pasien pengidap kanker yang ditanyai sehari
sesudah dijelaskan, hanya 60% yang memahami tujuan dan sifat tindakan medis,
hanya 55% yang dapat menyebut komplikasi yang mungkin timbul, hanya 40% yang
membaca formulir dengan cermat, dan hanya 27 % yang dapat menyebut tindakan
alternatif yang dijelaskan.
Sebagai orang yang menderita suatu penyakit, seorang pasien tentunya ingin
mengetahui segala sesuatu tentang penyakitnya dan mendapatkan pengobatan yang
terbaik. Untuk mengatur hal tersebut maka dibuatlah Deklarasi Lisabon 1981 yang
mengatur tentang hak yang dimiliki oleh pasien, yaitu :
1. Pasien berhak memilih dokternya secara bebas. Seseorang mempunyai
hak unutuk memilih dokter yang ia harapkan dapat memberikan suatu
pertolongan. Pada dasarnya hubungan dokter dengan pasien dilandasi
oleh suatu kepercayaan. Meskipun demikian, seseorang memilih
dokter mungkin didasarkan atas beberapa pertimbangan lain, seperti:
a. keadaan sosial ekonomi pasien,
b. kepopuleran dokter,
c. kelengkapan peralatan kedokteran,
d. jarak tempat antara dokter dan pasien, atau
e. prestise pasien.
2. Pasien berhak menerima atau menolak tindakan pengobatan sesudah ia
memperoleh informasi yang jelas.
a. salah satu hak pasien yang penting dalam hukum kedokteran
adalah hak atas informasi. Setiap manusia dewasa dan
berpikiran sehat berhak menentukan apa yang hendak
dilakukan terhadapnya. Setiap pembedahan atau tindakan
invasif lainnya harus memperoleh persetujuan pasien terlebih

7
dahulu. Untuk itu, dokter harus menjelaskan tindakan dengan
bahasa yang dapat dimengerti pasien.
Informasi ini meliputi:
1. tindakan yang diambil,
2. resikonya,
3. kemungkinan akibat yang timbul berikut jenis tindakan yag
dilakukan untuk dapat mengatasinya,
4. Kemungkinan yang akan terjadi bila tindakan tidak
dilakukan,
5. prognosis.
b. Informasi yang diberikan disampaikan dalam bahasa yang
sederhana, tetapi cukup lengkap. Pasien harus dibimbing agar
dapat memutuskan secara mandiri dan bertanggung jawab.
Persetujuan pasien atas tindakan setelah diinformasikan terlebih
dahulu disebut informed consent. Dokter juga harus tahu kapan
informasi itu tidak baik diberikan, misalnya bila informasi
tersebut akan menambah keadaan sakit pasien atau jika pasien
masih di bawah umur sehingga tidak dapat memahami
informasi yang diberikan, informasi itu bisa diberikan kepada
keluarga pasien.
3. Pasien berhak mengakhiri atau memutuskan hubungan dengan
dokternya dan bebas untuk memilih atau menggantinya dengan dokter
lain. Dengan perkataan lain, dokter tidak berhak
mencegah/melarang/menghalangi pasien yang ingin berobat ke dokter
lain.
Dalam situasi tertentu kadang-kadang pasien memerlukan pertolongan
dokter yang biasa dihubungi, misalnya karena pindah kerja ke tempat
lain, dan sebagainya. Jika pasien tidak sedang dalam perawatan aktif
dokternya terdahulu, dokter lain bebas menerimanya sebagai pasien.
Bila sebaliknya kemudian dia memilih untuk berkonsultasi dengan
dengan dokter lain, ia seharusnya menyadari bahwa dokter tersebut
akan menolak untuk merawatnya kecuali bila pasien tersebut
mengakhiri hubungan dengan dokter yang terdahulu. Hal yang sama
juga terjadi jika pasien ingin beralih dari dokter umum ke dokter

8
spesialis. Dokter spesialis tidak akan menerima pasien tersebut tanpa
persetujuan dokter umumnya. Seseorang dokter dapat mengambil alih
pasien yags sedang dalam perawatan aktif dokter lain, tetapi ia harus
segera memberitahukannya kepada dokter yang bersangkutan.
4. Pasien berhak dirawat oleh dokter yang secara bebas menentukan
pendapat klinis dan pedapat etisnya tanpa campur tangan dari pihak
luar. Seseorang yang sedang berada dalam keadaan sakit, apapun yang
dideritanya berhak untuk ditolong oleh seorang dokter. Dalam
menjalankan praktek kedokterannya seorang dokter tidak terbatas pada
satu bidang ilmu kedokteran saja, terutama dalam keadaan darurat.
Yang menjadi batasnya adalah rasa tanggung jawab dan kemampuan
dari dokter itu. Pertolongan yang diterima pasien hendaknya
merupakan usaha tertinggi dari dokter yang bersangkutan.
5. pasien berhak atas privacy yang harus dilindungi, ia pun berhak atas
sifat kerahasiaan data-data mediknya.
6. Pasien berhak mati secara bermartabat dan terhormat.
7. Pasien berhak menerima/menolak bimbingan moril ataupun spiritual.
8. Pasien berhak mengadukan dan berhak atas penyelidikan
pengaduannya serta berhak diberi tahu hasilnya.
Di sisi lain dokter juga mempunyai hak, yaitu :
1. Hak untuk menolak bekerja di luar standar profesi medik.
Seseorang dokter dapat saja menolak untuk melakukan tindakan medik
tertentu walaupun pihak pasien mendesaknya. Penolakan ini berdasarkan
pada pertimbangan bahwa pasien itu meminta tindakan medis yang
menurut prosedur tidak dikenal dan dilakukan dalam profesi medik. Hal
ini perlu ditegakkan agar setiap dokter memperoleh kepastian bahwa
tindakan-tindakannya perlu dipercayai sebagai suatu tidakan medik yang
profesional.
2. Hak untuk menolak tindakan yang tidak sesuai dengan kode etik profesi
dokter. Hak ini dimiliki oleh dokter agar setiap dokter diberi kesempatan
untuk menjaga martabat profesinya.
3. Hak untuk memilih pasien dan mengakhiri hubungan dengan pasien,
kecuali dalam keadaan gawat darurat.

9
Hal ini dimiliki dokter untuk memiliki hak pribadinya, berdasarkan
pertimbangan dokter itu sendiri. Misalnya dalam hubungan itu timbul hal-
hal yang kurang baik yang akan mengganggu integritas profesi kedokteran.
Akan tetapi, hak ini hanya terbatas pada keadaan yang bukan termasuk
keadaan gawat darurat. Pasien masih berkesempatan untuk mencari dokter
lain tanpa resiko pada keselamatan.
4. Hak atas privacy dokter.
Dalam hubungan dokter dengan pasien dapat saja pasien ingin mengetahui
kehidupan pribadi dokter. Dalam hal ini dokter mempunyai hak atas
privacy tentang kehidupan pribadinya sehingga pasien harus menghormati
hak dokter atas privacy.
5. Hak untuk menerima balas jasa atau honorarium yang pantas.
Hak ini telah diakui dan diterima sejak dulu. Permasalahan dapat timbul
apabila besar imbalannya itu tidak dapat ditetapkan dengan pasti. Untuk
itu, kode etik kedokteran akan memberikan patokan-patokan tertentu.
Yang jelas adalah besar atau kecilnya imbalan itu tidak boleh
mempengaruhi mutu pelayanan kesehatan yang diberikan. Mutu tersebut
tetap akan diberikan setinggi-tingginya tanpa terpengaruh hanya oleh
adanya suatu imbalan.

Dimensi Organisasi Profesi


Etika kedokteran merupakan pedoman yang ideal bagi dokter dalam
menjalankan profesinya, dan yang semula tidak tertulis, hanya tersirat dalam sumpah
dokter. Oleh World Medical Association (WMA) dalam Muktamarnya di London
pada Oktober 1949, dirumuskan secara tertulis menjadi Internasional Code of Medical
Ethics. Ikatan Dokter Indonesia yang juga menjadi anggota WMA pada tahun 1960
merumuskannya menjadi Kode Etik Kedokteran Indonesia ( KODEKI ). Pemerintah
RI dengan peraturan pemerintah (PP) No.26 tahun 1960 menetapkan lafal sumpah
dokter, dan dengan PP No.10 tahun 1966, menetapkan wajib simpan rahasia
kedokteran.
Surat Keputusan Menteri Kesehatan (SK Menkes) RI No. 80/DPK/I/K/196,
menetapkan KODEKI berlaku bagi semua dokter di Indonesia. Pada Tahun 1981,
KODEKI diubah dan disempurnakan, dan dengan SK Menkes

10
No.434/MENKES/SK/X/1983, ditetapkan berlakunya bagi para dokter di Indonesia.
Pedoman pelaksanaan KODEKI yang ditetapkan oleh IDI pada tahun 1991 memberi
petunjuk lebih terperinci dalam pelaksanaan KODEKI.
Pola hidup materialistis, konsumeristis, perkembangan teknologi canggih,
pengaruh lingkungan yang menyebabkan perubahan tata nilai umum maupun khusus,
adat istiadat, berbagai pandangan baru yang kadang bertolak belakang dengan
pandangan lama, perbedaan kebiasaan di satu tempat dengan tempat lain, dan
perbedaan kondisi dan situasi, semakin mengaburkan batas toleransi antara yang etis
dan tidak etis, atau antara yang masih etis dan yang sudah kurang etis.
Meskipun dokter sudah memperhatikan situasi, kondisi, dan toleransinya
mengenai kemampuan dan keinginan pasiennya, tetapi tidak dapat sepenuhnya
menjamin kepuasan pasien maupun keluarganya. Hampir semua ketidaksesuaian
antara dokter dan pasiennya atau keluarganya disebabkan oleh adanya jurang
komunikasi. Komunikasi yang baik menunjukkan kepedulian yang baik pula, dan
itulah yang diharapkan pasien dan keluarganya.
Sumpah dokter dan beberapa ketentuan dalam KODEKI sudah diatur dalam
peraturan perundang-undangan, sedang KODEKI sendiri sudah diberlakukan dengan
keputusan Menteri Kesehatan, sehingga sebagian dari etik kedokteran sudah masuk
dalam wilayah hukum kedokteran. Hal ini membawa konsekuensi bahwa pelanggaran
memang sulit dinilai dan sulit dibuktikan, dan juga tidak dapat dihukum karena
adanya hak dasar individu (The right of self-determination), berdasar The Universal
declaration of human rights.
Bunyi pasal-pasal KODEKI adalah sebagai berikut :
Pasal 1. Setiap dokter harus menjunjung tinggi, menghayati dan mengamalkan
sumpah dokter.
Pasal 2. Seorang dokter harus senantiasa berupaya melaksanakan profesinya
sesuai dengan standar profesi yang tertinggi.
Pasal 3 . Dalam melaksanakan pekerjaan seorang dokter tidak boleh
dipengaruhi oleh sesuatu yang mengkibatkan hilangnya kebebasan
dan kemandirian profesi.
Pasal 4. Setiap dokter harus menghindari diri dari perbuatan yag bersifat
memuji diri.

11
Pasal 5. Setiap perbuatan atau nasehat yang mungkin melemahkan daya tahan
psikis maupun fisik hanya diberikan untuk kepentingan dan kebaikan
pasien, setelah memperoleh persetujuan pasien.
Pasal 6. Setiap dokter harus senantiasa berhati-hati dalam mengumumkan dan
menerapkan setiap penemuan teknik atau pengobatan baru yag belum
diuji kebenarannya dan hal-hal yang dapat menimbulkan keresahan
masyarakat.
Pasal 7. Setiap dokter hanya memberi surat keterangan dan pendapat yang
telah diperiksa sendiri kebenarannya.
7a. Seorang dokter harus, dalam setiap praktik medisnya
memberikan pelayanan medis yang kompeten dengan kebebasan
teknis dan moral sepenuhnya, disertai rasa kasih sayang (compasion)
dan penghormatan atau martabat manusia.
7b. Seorang dokter harus bersikap jujur dalam berhubungan dengan
pasien dan sejawatnya yang dia ketahui memiliki kekurangan dalam
karakter atau kompetensi, atau yang melakukan penipuan atau
penggelapan, dalam menangani pasien.
7c. Seorang dokter harus senantiasa menghormati hak-hak pasien,
hak-hak sejawatnya, dan hak tenaga kesehatan lainnya, dan harus
menjaga kepercayaan pasien.
Pasal 8. Dalam melakukan pekerjaannya seorang dokter harus memperhatikan
kepentingan masyarakat dan memperhatikan semua aspek pelayanan
kesehatan yang menyeluruh (promotif, preventif, kuratif, dan
rehabilitatif), baik fisik maupun psikososial, serta berusaha menjadi
pendidik dan pengabdi masyarakat yang sebenar-benarnya.
Pasal 9.Setiap dokter dalam bekerja sama dengan para pejabat di bidang
kesehatan dan bidang lainnya serta masyarakat, harus saling
menghargai.
Pasal 10.Setiap dokter wajib bersikap tulus ikhlas dan mempergunakan segala
ilmu dam keterampilannya untuk kepentingan pasien. Dalam hal ia
tidak mampu melakukan suatu pemeriksaan atau pengobatan, maka
atas persetujuan pasien, ia wajib merujuk pasien kepada dokter yang
mempunyai keahlian dalam penyakit tersebut.

12
Pasal 11.Setiap dokter harus memberikan kesempatan kepada pasien agar
senantiasa dapat berhubungan dengan keluarga dan penasehatnya
dalam beribadat dan atau dalam masalah lainnya.
Pasal 12.Setiap dokter wajib merahasiakan segala sesuatu yang diketahuinya
tentang seorang pasien, bahkan juga setelah pasien itu meninggal.
Pasal 13.Setiap dokter wajib melakukan pertolongan darurat sebagai suatu
tugas perikemanusiaan, kecuali bila yakin ada orang lain bersedia
dan mampu memberikannya.
Pasal 14.Setiap dokter memperlakukan teman sejawat sebagaimana ia ingin
diperlakukan.
Pasal 15. Setiap dokter tidak boleh mengambil alih pasien teman sejawat,
kecuali dengan persetujuan berdasarkan prosedur yang etis.
Pasal 16. Setiap dokter harus memelihara kesehatannya dapat bekerja dengan
baik.
Pasal 17. Setiap dokter harus senantiasa mengikuti perkembangan ilmu
pengetahuan dan teknologi kedokteran/kesehatan.

III. ASSESSMENT
Keadaan Pasien
Seorang dokter A sedang bertugas di luar negeri. Pada saat yang bersamaan, saudara
iparnya mengeluh nyeri saat buang air kecil. Setelah ke rumah sakit dan ditangani
oleh seorang urologis, dokter B, dikatakan bahwa harus dilakukan terapi laser karena
kemungkinan ada gangguan di prostat. Sejauh ini hanya pemeriksaan USG yang telah
dilakukan. Dokter tersebut menakut-nakuti dengan mengatakan jika tidak dilakukan
terapi laser akan menyebabkan kematian. Sesuatu hal yang sangat menakutkan
sehingga istri pasien menangis. Dokter tersebut kemudian berencana untuk melakukan
IVP (intravenous pyelography). Kemudian pasien tersebut diintruksikan untuk
melakukan terapi laser di malam yang sama dengan membayar 750 USD. Dan kalau
menggunakan kartu kredit dikenakan biaya 1.500 USD. Pasien tersebut menjadi
bingung dan menghubungi suami dokter A yang kebetulan bekerja di bidang
kesehatan juga. Dia menyarankan kepada pasien untuk menunda satu hari hingga ia
datang, namun dokter B menjadi marah dan mengatakan jika tidak dilakukan sekarang

13
ia tidak akan mau menangani pasien tersebut lagi. Namun hal itu tidak berlanjut
menjadi lebih gawat setelah dokter B menyadari bahwa pasien tersebut adalah kerabat
dari dokter A. Ia lalu meminta maaf atas perbuatannya. Hingga pada akhirnya direktur
rumah sakit beserta salah stafnya meminta maaf pada suami dokter A. Pasien tersebut
akhirnya memutuskan untuk berobat ke rumah sakit swasta lain, dan melalui USG dan
pemeriksaan laboratorium ditemukan bahwa terdapat inflamasi.

Otonomi dari Pasien


Otonomi adalah prinsip yang mengakui hak setiap pribadi untuk memutuskan
sendiri mengenai masalah kesehatannya, kehidupannya, serta kematiannya. Jadi
otonomi merupakan bentuk kebebasan bertindak dari seseorang dalam mengambil
keputusan sesuai dengan rencana yang ditentukannya sendiri. Dalam kasus ini, hak
otonomi pasien dilanggar oleh dokter. Pasien diharuskan melakukan pengobatan yang
belum diinformasikan sebelumnya dan tidak dimintai persetujuan terlebih dahulu.
Sehingga membuat pasien dan keluarga pasien menjadi bingung. Jadi kebebasan
pasien untuk memilih perawatan selanjutnya yang dia perlukan tetapi hendaknya tidak
bertentangan dengan etika dan hukum yang berlaku dalam negara ini, dan juga sesuai
indikasi medis yang jelas.

Tanggung jawab seorang dokter


Dokter itu sendiri jika dilihat dari empat prinsip yang mendasar dari bioetika
akan selalu menggunakan 2 prinsip yaitu prinsip beneficence dan non-maleficence
dalam menangani pasien. Seorang dokter akan memberikan hal yang terbaik dan
bermanfaat lebih besar daripada sisi buruk bagi pasiennya sesuai dengan pengetahuan
yang dimiliknya yang dilandasi oleh etika. Dalam kasus ini, seorang dokter harus
mampu memberikan informasi-informasi yang jelas yang perlu dipikirkan oleh pasien
mengenai terapi laser yang dilakukan dan menerangkan apa keuntungan dan kerugian
sehingga pasien bisa memutuskan apa yang terbaik bagi pasien. Dan hendaknya
seorang dokter menjaga hubungan yang baik dengan keluarga pasien dan
menghindari hubungan yang paternalistik.

IV. PENGAMBILAN KEPUTUSAN

14
Argumen
Setiap hubungan dokter-pasien harus dibina dengan baik. Namun pada kasus
diatas, dokter B telah menyalahgunakan profesinya untuk mengeruk keuntungan yang
lebih pada pasiennya. Tanpa mengindahkan indikasi medis dan tidak memberikan
informasi yang jelas kepada pasien dan keluarga pasien. Hak-hak pasien adalah hak-
hak yang dimiliki pribadi manusia sebagai pasien, termasuk di dalamnya adalah hak
untuk memilih dokternya dan berhak untuk dirawat oleh dokter. Seorang pasien juga
memiliki hak atas privacy yang dilindungi dan dihormati oleh seorang dokter. Selain
itu seorang pasien juga berhak untuk memperoleh informasi mengenai penyakitnya
dan juga apa terapi yang akan diberikan kepadanya. Untuk itulah seorang dokter harus
meminta persetujuan terlebih dahulu kepada pasien mengenai tindakan yang akan
diberikan kepadanya.
Seorang dokter juga tidak boleh membeda-bedakan pasien, dalam kasus ini
adalah pasien yang dianggapnya mampu diberikan pengobatan yang semestinya tidak
perlu karena semata-mata alasan materi. Oleh karena itu dokter semestinya bertindak
sesuai standar profesi yang berlaku. Dalam hal hubungan antar rekan sejawat, seorang
dokter wajib untuk mengingatkan rekannya apabila melakukan kesalahan, tentunya
dengan cara-cara yang dapat dipertanggungjawabkan.

Keputusan yang Diambil


Menurut saya, hubungan dokter-pasien itu tidaklah berupa hubungan yang
paternal, dimana pasien menuruti semua kata dokter. Seorang dokter harus
memberikan informasi yang tepat dan benar kepada pasien dan juga meminta
persetujuan untuk apa yang akan dilakukan, karena pada era modern seperti sekarang,
dimana pasien dapat mengakses informasi seluas-luasnya, pasien berhak menolak
tindakan yang akan diberikan apabila ia merasa itu tidak perlu. Untuk itulah informed
consent diperlukan. Dari beberapa literatur, dikatakan bahwa tidak semua keluhan
nyeri saat berkemih, yang dicurigai gangguan pada prostat diobati dengan pengobatan
invasif. Karena harus dipastikan apakah itu adalah memang benar pembesaran prostat,
atau merupakan infeksi prostat (prostatitis), atau bahkan infeksi saluran kencing
lainnya. Dan terapi invasif tersebut juga biasanya diberikan pada kasus-kasus yang
kronik. Jadi tindakan dokter pada kasus diatas bisa dikatakan overdiagnoses, karena
melakukan sesuatu tanpa memperhatikan standar yang berlaku. Itupun ditambah

15
dengan tindakannya yang memaksa pasien dan mengancam tidak mau menangani
lagi, padahal hal tersebut bertentangan dengan etika seorang dokter, dimana ia tidak
boleh menolak untuk merawat pasien.
Tindakan yang saya lakukan apabila rekan sejawat saya melakukan hal
tersebut adalah mengingatkannya, terlepas dari kenyataan bahwa pasien yang
ditanganinya adalah keluarga saya, karena menurut saya tindakannya keliru. Karena
berdasarkan kaidah moral seorang dokter, dokter harus senantiasa bertindak otonomi,
yaitu menghormati hak-hak pasien, beneficence, yaitu semua untuk kebaikan pasien,
nonmaleficence, yaitu tidak merugikan atau memperparah keadaan pasien. Serta
justice, bersikap adil dan tidak membeda-bedakan pasien.

Evaluasi
Keputusan yang diambil harus berdasarkan etika yang berlaku dilandasi niat
yang murni untuk berbuat kebaikan. Pasien sebagai orang yang mempunyai penyakit
harus mendapatkan pelayanan kesehatan yang terbaik dan informasi mengenai
penyakit dan konsekuensi yang ditimbulkan yang harus dijelaskan dengan lengkap
oleh dokter. Serta sebagai rekan sejawat sudah seharusnya saling ingat-mengingatkan,
karena dokter juga manusia, yang tidak terlepas dari kesalahan-kesalahan.

16