Anda di halaman 1dari 36

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah


Proses pembelajaran merupakan serangkaian kegiatan yang dilakukan oleh
guru dan siswa dalam upaya mencapai suatu tujuan. Tujuan dari pembelajaran
adalah perubahan perilaku, pola berpikir dan nilai sebagai hasil belajar. Proses
pembelajaran hendaknya menggunakan sepenuh kemampuan belajar para siswa,
membuat belajar menyenangkan dan memuaskan bagi mereka, memberikan
sumbangan sepenuhnya pada kebahagiaan, kecerdasan, kompetensi, dan
keberhasilan mereka sebagai manusia.
Kegiatan pembelajaran seringkali tidak sesuai dengan rencana, terutama
pada komponen evaluasi yang telah ditentukan nilai ketuntasan belajar
minimalnya. Ketidaksesuaian ini disebabkan oleh berbagai faktor yang
mempengaruhinya, antara lain faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal
adalah faktor yang terdapat dalam diri siswa, rendahnya minat, malas, dan
sebagainya. Sedangkan faktor eksternal adalah faktor yang berada di luar diri
siswa, faktor penampilan guru, metode yang digunakan, media, lingkungan
belajar, dan sebagainya.
Dalam pelajaran matematika, perolehan nilai selalu menjadi masalah dan
jauh dari harapan seperti yang telah distandarkan secara nasional. Lebih spesifik

lagi, perolehan nilai ulangan harian selalu mendapat hasil yang tidak memuaskan
terutama pada pokok bahasan bangun ruang sisi datar.
Rendahnya perolehan nilai pada pokok bahasan bangun ruang sisi datar
disebabkan oleh banyaknya rumus yang harus dihapal oleh siswa. Kebanyakan
guru berasumsi bahwa bila hapal rumus maka siswa pasti mampu mengerjakan
soal. Bila berasumsi demikian berarti metode yang digunakan hanya menghafal
dan memberikan tugas. Pembelajaran seperti ini tidak mengakar pada
permasalahan yang dihadapi siswa, sehingga pembelajaran tidak bermakna. Siswa
tidak paham bagaimana rumus itu ditemukan, dan bagaimana menerapkannya.
Berdasarkan pada permasalahan pembelajaran tersebut, penulis tertarik
untuk melakukan penelitian tentang penerapan model pembelajaran

dengan

media tiga dimensi dalam menemukan proses pembentukan rumus luas


permukaan bangun ruang sisi datar kubus dan balok

dan mempercepat

pemahaman rumusnya. Penulis berpendapat, pemahaman yang baik terhadap


rumus luas permukaan bangun ruang sisi datar kubus dan balok diperoleh melalui
pengalaman, bagaimana cara menemukan dan bagaimana pembahasannya.
Melihat kenyataan ini, penulis mencoba menerapkan penggunaan model
enquiry-discovery learning

dan pemanfaatan media tiga dimensi untuk

meningkatkan pemahaman rumus luas permukaan bangun ruang sisi datar kubus
dan balok pada siswa kelas IX B SMPN 12 Serang.
Dari uraian di atas, dapat dikemukakan secara ringkas latar belakang
masalah ini, yakni:
2

1.

Pada

umumnya

guru

matematika

belum

meggunakan

metode

pembelajaran yang relevan dengan kebutuhan dari materi pembelajaran.


2.

Perlunya ditingkatkan pemahaman guru, tentang pentingnya media tiga


dimensi dalam pembelajaran matematika pada pokok bahasan bangun
ruang sisi datar.

3.

Adanya asumsi bahwa penerapan metode dan pemanfaatan media tidak


berpengaruh terhadap peningkatan pemahaman rumus luas permukaan
bangun ruang sisi datar kubus dan balok.
Berdasarkan

pengamatan,

literatur,

permasalahan ini belum pernah diangkat

dan

sebagai

pengetahuan

peneliti,

bahan penelitian dalam

pembelajaran matematikan pada pokok bahasan bangun ruang sisi datar.

B. Rumusan Masalah
Mengacu pada uraian latar belakang masalah penelitian, maka penulis
membuat rumusan masalah sebagai berikut:
Apakah penerapan model enquiry-discovery learning dengan media grafis tiga
dimensi dapat meningkatkan pemahaman siswa terhadap rumus luas permukaan
bangun ruang sisi datar kubus dan balok pada mata pelajaran Matematika siswa
kelas IX B SMP Negeri 12 Serang?

C. Tujuan Penelitian
Adapun tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini yaitu untuk
mengetahui ada tidaknya peningkatan pemahaman siswa terhadap rumus luas
permukaan bangun ruang sisi datar kubus dan balok pada pelajaran matematika
yang pembelajarannya menggunakan model enquiry-discovery learning dengan
media grafis tiga dimensi.

D. Kegunaan Penelitian
Penelitian ini berguna sebagai pengalaman yang sangat berharga dalam
mengkaji dan memahami suatu permasalahan. Penelitian ini sangat berguna bagi
guru sebagai bahan kajian untuk memilih metode dan media pembelajaran yang
tepat sesuai dengan minat, dan kebutuhan belajar siswa.
Penelitian ini dapat dijadikan sebagai bahan informasi bagi guru-guru di
sekolah lain, untuk memilih metode dan memanfaatkan media yang relevan, serta
dapa memberikan dukungan dan partisipasi penuh kepada dunia pendidikan dan
pembelajaran, karena dunia pendidikan dan pengajaran merupakan pilar dari
kemajuan suatu bangsa.
Bagi instansi lembaga pendidikan khususnya persekolahan penelitian ini
mudah-mudahan dapat dijadikan sebagai bahan kajian dan referensi untuk
menetapkan kebijakan-kebijakan yang menyangkut sistem pembelajaran dalam
rangka peningkatan kualitas pendidikan. Kegunaan penelitian bagi:
4

a. Profesi Guru

Sebagai bahan informasi kepada guru untuk mengadakan evaluasi diri


apakah sudah tepat dan relevan dengan kebutuhan dalam memilih metode
dan media pembelajaran yang digunakan sehingga dapat meningkatkan
pemahaman dalam belajar disamping belajar itu harus menyenangkan,
menggairahkan, menakjubkan dan penuh kebermaknaan.

Sebagai bahan kajian bagi guru untuk meningkatkan profesionalisme


dalam meningkatkan mutu pendidikan melalui proses pembelajaran.

b. Bagi Siswa

Siswa dapat memahami rumus luas permukaan bangun ruang sisi datar
yang berbentu kubus dan balok dengan cara menemukan sendiri.

Siswa dapat mengaplikasikan berbagai rumus luas permukaan bangun


ruang sisi datar yang berbentuk kubus dan balok dalam conteks kehidupan
sehari-hari.

c. Bagi Lembaga Pendidikan (sekolah)

Sebagai bahan informasi dan kajian dalam memberikan pelayanan prima


kepada siswa sebagai warga belajar .

Sebagai bahan informasi dan kajian untuk memunculkan ide-ide baru


dalam dunia pendidikan dan pembelajaran untuk, meningkatkan mutu
lulusan sebagai pilar utama dalam meningkatkan mutu pendidikan.

BAB II
KAJIAN PUSTAKA
A. Model Pembelajaran Enquiry-Discovery Learning
1. Pengertian
Enquiry-discovery learning adalah belajar mencari dan menemukan
sendiri (Djamarah & Zain, 2006: 22). Dalam sistem belajar-mengajar ini ini guru
menyajikan bahan pembelajaran tidak sampai pada bentuk final, tetapi siswa
diberi peluang untuk mencari dan menemukan sendiri. Siswa belajar terlibat aktif
dengan konsep dan prinsip, dan guru hanya sebagai motivator siswa untuk
melakukan percobaan.
Model pembelajaran ini cocok untuk pembelajaran eksakta

dan yang

relevan. Model ini memmilki keuntungan-keuntungan diantaranya:


1. Mendorong siswa memiliki rasa ingin tahu;
2. Memotivasi untuk melakukan kerja terus-menerus sampai menemukan
jawaban;
3. Memecahkan masalah dengan berpikir kritis.
Model pembelajaran ini dapat membantu siswa untuk mencapai
keingintahuannya, mendorong untuk memecahkan masalah atas kemauanya atau
dalam kelompoknya, dan siswa lebih banyak melihat dan melakukan dari pada
mendengarkan.

Model pembelajaran enquiry-discovery pada pelajaran eksakta membantu


siswa memahami konsep yang sulit dengan menggunakan demonsrasi dan gambar
atau media tiga dimensi, sehingga belajar dapat fleksibel dan eksploratif
( Mustadji, 2006: 32). Dalam pembelajaran ini ada beberapa tujuan yang dapat
dicapai, tujuan dapat dicapai tersebut antara lain; kesatu, pemenuhan informasi
yang tidak asing bisa memperkuat struktur pengetahuan siswa. Kedua, kembali
ke konsep sulit, dan mengajak siswa berdiskusi secara mendetail. Ketiga,
memikirkan ulang masalah yang sulit, siswa biasa melihat solusi yang tampak
sebelumnya. Keempat,

menyajikan materi dari banyak perspektif dan

mengerjakan masalah yang tidak terpecahkan bisa membantu siswa meningkatkan


kemampuan intelektual.
Ada beberapa cara memotivasi yang berkaitan dengan pembelajaran
discovery:
1. Hendaknya mendorong interpretasi informasi.
2. Hendaknya mengunakan materi permainan.
3. Hendaknyan mampu menumbuhkan rasa ingin tahu siswa walaupu
kadang-kadang melenceng dari pelajaran.
4. Hendaknya menggunakan contoh-contoh yang kontras.

2. Prosedur Pembelajaran Enquiry-Discovery


Bruner

(dalam

Syaeful

Bahri:

2006)

mengembangkan

pembelajaran inquiry-discovery dengan tahapan-tahapan sebagai berikut:


7

prosedur

1. Simulation
Guru mulai bertanya dengan mengajukan persoalan, atau

menyuruh

membaca, atau mendengarkan uraian yang memuat permasalahan.


2. Problem Statement; Siswa diberi kesempatan untuk mengidentifikasi berbagai
permasalahan. Permasalahan dipilih selanjutnya merumuskan dalam bentuk
pertanyaan.
3. Data collection; Memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengumpulkan
data dari berbagai informasi yang relevan, mengamati objek bangun ruang,
dan melakukan uji coba sendiri.
4. Data processing; Semua informasi dari objek yang ditemukan diklasifikasikan,
ditabulasikan, bahkan dihitung dengan cara tertentu sebagai pembuktian dari
olahan data sebagai hasil pekerjaan siswa.
5. Verification atau pembuktian; Pembuktian kebenaran dari hasil

pekerjaan

siswa, apakah terjawab dengan benar atau tidak.


6. Generalization; Berdasarkan verifikasi tersebut siswa menarik kesimpulan
atau generalisasi tertentu.
Sistem belajar ini dikembangkan oleh Bruner yang menggunakan landasan
pemikiran belajar. Hasil belajar dengan cara ini mudah diingat, mudah ditransfer
untuk

memecahkan

masalah.

Pengetahuan

dan

kecakapan

anak

dapat

ditumbuhkan dan menimbulkan kepuasan atas penggunaannya sendiri. Dengan


kata lain pembelajaran menjadi bermakna karena siswa dapat mengetahui serta
paham dengan penemuannya sendiri.
8

3. Langkah-Langkah Pembelajaran Enquiry-discovery


Berdasarkan prosedur pembelajaran enquiry-discovery yang dikemukakan
oleh Bruner, maka penulis mengembangkan sistem pembelajaran itu dengan
langkah-langkah sebagai berikut:
a. Tahap Apersepsi
Pada tahap apersepsi, kegiatan pembelajaran yang dilakukan di kelas oleh
penulis saat ini sebagai berikut:
1. Menyampaikan penjelasan tentang tujuan pembelajaran yang harus
dicapai oleh siswa.
2. Memberikan motivasi tentang pentingnya memahami materi pembelajaran
yang akan disampaikan.
3. Menyuruh

siswa

membaca,

untuk

memahami

konsep

materi

pembelajaran.
4.

Melakukan tanya jawab tentang permasalahan materi pembelajaran


yang akan disampaikan.

b. Tahap Penyajian Materi


Pada tahap ini, langkah pembelajaran yang dilakukan sebagai berikut:

Mengidentifikasi Masalah
1. Guru menyajikan materi berupa permasalahan yang harus ditemukan oleh
siswa.
2. Siswa mengidentifikasi berbagai permasalahan yang disajikan

3. Siswa memilih permasalahan dan selanjutnya merumuskan dalam bentuk


pernyataan.
4. Siswa menyampaikan pernyataan itu sebagai jawaban sementara

atas

identifikasi yang ditemukan.

Diskusi Kelompok
Diskusi kelompok dilakukan bertujuan untuk menjawab permasalahan
yang disajikan dalam LKS secara berkelompok dengan cara menemukan solusi
permaslahan terhadap pertanyaan itu. Selama diskusi kelompok siswa diberikan
kesempatan untuk bertanya untuk pembuktian kebenaran dari penemuannya, dan
melakukan pembuktian kebenaran secara berkelompok atas penemuanya.

Presentasi Hasil Kerja


1. Hasil kerja kelompok dipresentasikan, dan dibuat tabulasi data masing-masing
kelompok.
2. Melakukan pembahasan secara bersama-sama untuk membuktikan kebenaran
penemuan dari masing-masing kelompok, terbukti atau tidak.

Kesimpulan
Merefleksikan pembelajaran yang telah dilakukan dan membuat
kesimpulan tentang pembuktian kebenaran dari hasil penemuan yang telah
dilakukan siswa secara berkelompok.

10

c. Evaluasi
Evaluasi dilakukan untuk mengukur kemampuan siswa terhadap
pemahaman materi pembelajaran yang telah dilakukan. Evaluasi berupa tes soalsoal yang dijawab secara individu.

B. Pengertian Media
Dalam kegiatan

pembelajaran kehadiran media mempunyai arti yang

sangat penting. Karena dalam kegiatan pembelajaran ketidakjelasan bahan


pelajaran yang disampaikan dapat dibantu dengan menghadirkan media sebagai
perantara. Kerumitan bahan ajar dapat disederhanakan oleh media.
Media sebagai alat bantu pembelajaran merupakan suatu kenyataan yang
tidak bisa dipungkiri. Karena gurulah yang menghendaki tugas dalam
menyampaikan pesan-pesan dari bahan pelajaran yang diberikan oleh guru kepada
anak didik. Guru sadar, bahwa tanpa media bahan pelajaran sulit untuk dicerna,
dan dipahami oleh peserta didik.
Media berasal dari bahasa latin medius yang secara harfiah berarti tengah,
perantara, atau pengantar. Tetapi secara lebih khusus, pengertian media dalam
proses pembelajaran cenderung diartikan sebagai alat atau grafis, fotografis, atau
elektroniks untuk menangkap, memroses, atau menyusun kembali informasi
visual atau verbal (Kosasih 2007:10). Sedangkan Syaiful Bahri (2006: 136)
menyatakan bahwa media dapat diartikan dengan manusia, benda, ataupun

11

peristiwa yang memungkinkan anak didik memperoleh pengetahuan dan


keterampilan.
AECT (Assosiation of Education an communication Technology, 1977),
memberikan batasan bahwa media sebagai segala bentuk saluran yang
dipergunakan untuk menyampaikan pesan atau informasi.. Asosiasi Pendidikan
Nasional (National Education Assosiation/NEA) memberi batasan media sebagai
bentuk-bentuk komunikasi baik tercetak, audio visual, serta peralatannya.
Heinich, Molenda, Russel (1996: 8) mengartikan bahwa: A medium
(plural media) is a channel of communication, example include film, televition,
histogram, printed material, computer instructors. (media adalah saluran
komunikasi termasuk film, televisi, histogram, materi tercetak, komputer dan
instruktur).
Dari berbagai batasan di atas dapat dirumuskan bahwa media adalah
sesuatu yang dapat dipergunakan untuk menyalurkan pesan dan dapat merangsang
pikiran, dapat membangkitkan semangat, perhatian, dan kemauan siswa sehingga
dapat mendorong terjadinya proses pembelajaran pada diri siswa.
Media tiga dimensi pun dapat meningkatkan rasa ingin tahu, karena siswa
mencoba sendiri menemukan rumus-rumus melalui praktik yang konkrit. Siswa
dapat mengidentifikasi darimana rumus-rumus itu dan memahami proses
terbentuknya sehinga pada akhirnya dapat mengapklikasikan.

12

1. Ciri-ciri Media Pembelajaran


Ciri-ciri

khusus media pembelajaran berbeda menurut tujuan dan

pengelompokkannya. Ciri-ciri media dapat dilihat menurut kemampuannya


membangkitkan rangsangan

pada indera penglihatan, pendengaran, perabaan,

penciuman, dan pengecapan (R. Angkowo, 2007: 11).


Secara umum media pembelajaran adalah media itu dapat diraba, dilihat,
didengar, dan diamati melalui panca indera. Media pembelajaran dapat digunakan
sebagai alat bantu dalam proses pembelajaran, baik di dalam maupun di luar
kelas. Media pembelajaran mengandung aspek alat-alat dan teknis yang sangat
erat pertaliannya dengan metode mengajar. Dalam memilih media pembelajaran
harus mengenal karakteristik jenis media tersebut. Dalam memilih media perlu
diperhatikan tiga hal:
1. Kejelasan maksud dan tujuan pemilihan tersebut;
2. Sifat dan ciri media yang akan dipilih;
3. Adanya sejumlah media yang dapat dibandingkan karena pemilhan media
pada dasarnya adalah proses pengambilan keputusan akan adanya
alternatif -alternatif pemecahan yang dituntut oleh tujuan (Kosasih, 2007:
12)
Menurut Heinich, Molenda, Russel (1996: 8) jenis media yang lazim
dipergunakan dalam pembelajaran antara lain, media nonproyeksi, media
proyeksi, media audio, media gerak, media komputer, komputer multi media, dan
media jarak jauh.
13

Jenis-jenis media dalam pembelajaran adalah sebagai berikut:


1. Media grafis seperti gambar, foto, grafik, bagan, histogram, poster, kartun
dan komik, media grafis sering juga disebut media dua dimensi, yaitu
media yang mempunyai ukuran panjang dan lebar.
2. Media tiga dimensi, yaitu media dalam bentuk model padat, model
penampang, model susun, model kerja, dan diorama.
3. Media proyeksi seperti slide, film strips, film, dan OHP.
4. Lingkungan sebagai media pembelajaran.

2. Media sebagai Sumber Belajar


Belajar mengajar adalah suatu proses yang mengolah sejumlah nilai untuk
dikonsumsi setiap anak didik, nilai-nilai tidak dating dengan sendirinya, tetapi
terambil dari berbagai sumber (Syaiful bahri, Aswan Zain, 2006:138-139).
Sumber belajar sesunggunya banyak terdapat dimana-mana. Udin Saripudin dan
Winataputra (1999: 65) mengelompokkan sumber-sumber belajar menjadi lima
kategori, yaitu manusia, buki/perpustakaan, media massa, alam lingkungan dan
media pendidikan.
Media pembelajaran sebagai salah satu sumber belajar ikut membantu
guru memperkaya wawasan anak didik. Keaneka ragaman media yang dijadikan
sebagai sumber belajar memberikan pengalaman dan pengetahuan yang luas bagi
anak didik.

14

C. Bangun Ruang Sisi Tegak


Media tiga dimensi merupakan media dalam bentuk model

padat,

penampang, model susun, model kerja, dan diarama. Media tiga dimensi dalam
pembelajaran matematika pada pokok bahasan bangun ruang sisi datar dapat
mempermudah pemahaman

rumus. Dalam

pembelajarannya

siswa

diperkenalkan berbagai bentuk bangun ruang sisi datar. Bangun-bangun tersebut


berupa; kubus, balok, prisma, limas.
a. Kubus
Kubus adalah bangun ruang yang dibatasi oleh dua belas garis sebagai
sisinya yang membentuk bangun persegi sama sisi yang berdimensi tiga
(Prasetyono:257). Dengan kata lain bangun kubus dibangun dari enam buah
bangun datar persegi atau bujur sangkar yang disusun sedemikian rupa sehingga
membentuk sebuah bangun yang berdimensi tiga.

b. Balok
Balok adalah suatu bangun ruang yang berdimensi tiga yang dibatasi oleh
dua belas garis sebagai sisinya yang membentuk bangun persegi panjang yang
terdiri dari tiga pasang yang kongruen (Prasetyono:260). Dengan kata lain suatu
balok memiliki pasangan sisi yang berbentuk daerah persegi panjang yang setiap
pasangnya kongruen.
c. Prisma

15

Suatu bangun ruang yang dibatasi dua bidang sejajar yang kongruen
sebagai bidang alas dan bidang atas serta bidang-bidang lainnya sebagai sisi tegak
(Ponco:65).
d. Limas
Suatu bangun ruang yang alasnya berbentuk segi banyak dan bidangbidang sisi tegaknya berbentuk segi tiga yang berpotongan pada satu titik. Titik
potong dari sisi-sisi tegak limas disebut titik puncak limas (Ponco:67).

D. Hipotesis Tindakan
Berdasarkan pada latar belakang masalah dan kajian pustaka yang telah
dideskripsikan di atas, maka penulis merumuskan

hipotesis tindakan dalam

penelitian ini sebagai berikut:


Penerapan Model Enquiry-discovery learning dengan media tiga dimensi dapat
meningkatkat pemahaman rumus luas permukaan bangun ruang sisi datar kubus
dan balok pada mata pelajaran Matematika siswa kelas IX B SMP Negeri 12
Serang

16

BAB III
METODOLOGI PENELITIAN

A. Desain Penelitian
Dalam melakukan penelitian diperlukan sebuah desain atau rancangan.
Desain penelitian merupakan salah satu rancangan agar peneliti memperoleh datadata secara tepat (valid) sesuai dengan sifat-sifat variabel dan tujuan penelitian.
Desain penelitian yang akan dilakukan yaitu berupa rencana tindakan yang
meliputi; 1) setting penelitian, 2) objek atau subjek yang diteliti, 3) pelaksanaan
tindakan, 4) pengumpulan data, dan 5) analisis data.

B. Waktu, Obyek, dan Lokasi Penelitian


Penelitian ini dilaksanakan bulan Juli-Agustus tahun 2008. Adapun yang
menjadi lokasi penelitian yaitu SMP Negeri 12 Serang. Sekolah ini lokasinya
berada dipinggir kota Serang dengan tipe sekolah B. Dipilihnya sekolah ini
sebagai tempat penelitian karena peneliti bertugas di sekolah tersebut. SMP
Negeri 12 Serang memiliki karakter siswa yang unik dalam perilaku belajar.
Siswa belum memahami bahwa belajar sebagai kebutuhan bagi dirinya.
Keunikan karakter ini dipengaruhi oleh berbagai faktor diantaranya
kondisi lingkungan, ekonomi, motivasi orang tua, dan minat siswa. Siswa harus
selalu dituntun dan

dimotivasi terus menerus. Siswa yang dijadikan objek

penelitian adalah siswa kelas IX B yang berjumlah 42 orang.


17

C. Langkah-Langkah Penelitian
Pelaksanaan tindakan merupakan langkah riil yang dilakukan oleh peneliti
untuk memperoleh data hasil penelitian. Agar pelaksanaan tindakan ini beralur
maka penulis menggambarkan dalam bentuk siklus Suharsimi Arikunto sebagai
berikut:

PERMASALAHA
N

PERENCANAAN
TINDAKAN

REFLEKSI

PERMASALAHAN
JIKA BELUM
SELESAI

PELAKSANAAN
TINDAKAN

PENGAMATAN/
PENGUMPULAN
DATA

DILANJUTKAN SIKLUS
BERIKUTNYA

1. Perencanaan Tindakan
Pada tahap ini peneliti melakukan action research tentang rencana
tindakan yang dilakukan. Adapun tindakan yang dilakukan peneliti pada tahap ini
sebagai berikut:
1. Mempersiapkan lembar pengamatan (observasi), monitoring dan lembar
kerja siswa sebagai insrumen-instrumen penelitian.

18

2. Memotivasi siswa untuk belajar materi bangun ruang sisi datar yang
berbentuk kubus dan balok yang telah disajikan dalam bentuk gambar dan
alat peraga.
3. Mengelompokkan siswa menjadi 7 kelompok, masing-masing kelompok
terdiri dari 6 orang.
4. Mempersiapkan alat peraga bangun ruang.
5. Membagikan lembar kerja siswa pada masing-masing kelompok.
6. Melaksanakan pengamatan, dan memberikan soal-soal.
7. Mempersiapkan rencana pembelajaran dengan tahapan-tahapan.
Tabel 3.1 Tahap Persiapan Tindakan
No.sk
/ kd

Standar Kompetensi /
Kompetensi Dasar

Alo
kasi

Model

Rencana
Pembelaja
ran

2.1

Kubus dan balok

2.1.1

Unsur-unsur kubus
dan balok

Kubus,
balok

Peningkatan
pemberian
motivasi

2.1.2

Merancang jaringjaring kubus dan balok

Inquirydiscovery
learning

II

Pemberdaya
an siswa

2.1.3

Menemukan rumus
luas permukaan kubus
dan balok.

Inquirydiscovery
learning

III

Pemberdaya
an siswa

19

Dominasi
Tindakan

Tabel 3.2 Implementasi Tindakan


Siklus
Tahap I
I
25 Juli 2008

Tahap II
26 Juli 2008

KBM sub. 2.1.1

KBM refleksi sub 2.1.1

Apersepsi

KBM sub 2.1.2

KBM didominasi

Kerja Kelompok

Pengenalan unsur-unsur

dengan model enquiry-

bangun ruang sisi datar

discovery

Tahap III
1- 2 Agustus 2008
KBM refleksi sub
2.1.2
KBM sub 2.1.3

Kerja
kelompok dengan
model enquiry-

kubus dan balok

discovery
Analisa Siklus I
II

8 Agustus 2008

9 Agustus 2008

KBM refleksi Siklus I

Tahap I dan II

Tahap I
Kerja Kelompok

KBM refleksi Siklus I 15-23 Agustus 2008

KBM refleksi

Kerja Kelompok

Siklus I

dengan model enquiry-

Dengan model

Tahap II dan III

discovery

Enquiry-discovery

Kerja Kelompok

Presentasi Kerja

Dengan model

Kelompok

Enquirydiscovery

Presentasi Kerja
Kelompok

Analisa Siklus II

Pembuatan
Laporan

20

2. Pelaksanaan Tindakan
Pada tahap ini adalah penerapan skenario pembelajaran yang diterapkan.
Adapun skenario pembelajaran yang diterapkan sebagai berikut:
Tabel 3.2 Langkah Pembelajaran Enquiry-Discovery
LANGKAH
1. Orientasi Masalah

2.Mengorganisasikan
siswa untuk belajar

3. Membantu
menyelidiki secara
mandiri atau
kelompok

4. Mengembangkan dan

KEGIATAN PEMBELAJARAN
Menginformasikan tujuan pembelajaran
Menciptakan lingkungan kelas yang
memungkinkan terjadinya pertukaran ide
yang terbuka
Mengarahkan pada pertanyaan atau
masalah
Membantu siswa menemukan konsep
rumus bangun ruang
Mendorong siswa untuk terbuka dengan
teman kelompoknya dalam penyampaian
ide dan penemuan secara aktif
Menguji pemahaman siswa atas konsep
yang ditemukan

Memberikan kemudahan kepada siswa


dalam pengerjaan atau penemuan terhadap
masalah yang dihadapi
Mengerjakan dan menyelesaikan tugas
Mendorong kerjasama
Mendorog dialog, diskusi dengan teman
Membantu siswa mendefinisikan dan
mengorganisasikan
tugas-tugas yang
berkautan dengan penemuan
Membantu merumuskan hipotesis
Membantu meberikan solusi

Membimbing siswa mengerjakan lembar

21

menyajikan hasil
kerja

5. Menganalisis dan
mengevaluasi hasil
penemuan

kegiatan
Membimbing siswa menyajikan hasil
kerja
Membantu siswa mengkaji ulang hasil
penemuan
Memotivasi siswa untuk terlibat dalam
pemecahan masalah
Mengevaluasi materi

3. Pengamatan atau Observasi


Pada tahap ini sebenarnya berjalan bersamaan dengan skenario
pembelajaran. Peneliti melakukan pengamatan terhadap kegiatan pembelajaran
yang sedang berlangsung. Pengamatan ini sebagai penilaian proses yang
diskorkan dalam lembar pengamatan .
4. Refleksi
Pada tahap ini peneliti mengkaji ulang secara menyeluruh terhadap
tindakan penelitian yang dilakukan. Pada tahap selanjutnya dilakukan analisis,
sintesis, dan penilaian terhadap hasil pengamatan atas tindakan yang telah
dilakukan.

D. Teknik Pengumpulan dan Analisis Data


1. Pengumpulan Data
Untuk teknik pengumpulan data menggunakan observasi, angket,
wawancara, monitoring, dan tes. Prosedur yang ditempuh sebagai berikut:
22

Mengumpulkan data nama-nama siswa

yang dijadikan subjek yang

diteliti.

Melakukan observasi atas minat siswa dalam mengikuti pembelajaran


bangun ruang sisi datar.

Menyebarkan angket

Melakukan wawancara

Melaksanakan tes.

2. Analisis Data
Data dianalisis secara deskriptif kualitatif atau mendeskripsikan data hasil
penelitian yaitu dengan cara memmaparkan

atau mendeskripsikan data hasil

penelitian. Data yang dianalisis adalah:

Observasi Penerapan Metode Enquiry-discovery


Kegiatan observasi ini dilaksanakan pada saat kegiatan pembelajaran
dalam siklus. Penskoran dinyatakan dalam bentuk angka (jumlah) yang
kemudian diprosentasekan.
Skor Maksimal = 10 x 4 x 42
= 1680
Prosentase

= Jumlah skor x 100%


Skor maksimal

23

Angket siswa
Angket ini diberikan kepada siswa pada akhir siklus II. Penskorannya
sebagai berikut:
Jawaban A, diberi skor 3
Jawaban B, diberi skor 2
Jawaban C, diberi skor 1
Skor Maksimal = 10 x 3 x 42
Prosentase

= 1260
= Jumlah skor x 100%
Skor maksimal

Angket Guru
Angket ini diberikan kepada siswa pada akhir siklus II. Penskorannya
sebagai berikut:
Jawaban A, diberi skor 3
Jawaban B, diberi skor 2
Jawaban C, diberi skor 1
Skor Maksimal = 10 x 3
= 30
Prosentase
= Jumlah skor x 100%
Skor maksimal

Wawancara Guru

24

Kolaborator/guru mitra mengadakan wawancara kepada guru objek PTK.


Penskorannya sebagai berikut:
Jawaban Selalu diberi skor 3
Jawaban Kadang-kadang diberi skor 2
Jawaban Tidak pernah diberi skor 1
Skor Maksimal = 10 x 3
= 30
Prosentase

= Jumlah skor x 100%


Skor maksimal

Wawancara Siswa
Kolaborator/guru mitra mengadakan wawancara kepada siswa objek PTK.
Penskorannya sebagai berikut:
Jawaban Selalu diberi skor 3
Jawaban Kadang-kadang diberi skor 2
Jawaban Tidak pernah diberi skor 1
Skor Maksimal = 10 x 3 x 42
= 1260
Prosentase

= Jumlah skor x 100%


Skor maksimal

Hasil Tes
Pedoman penskoran hasil tes akhir sebagai berikut:
Skor Maksimal = 100 x 42
= 4200
Rata-rata

NA = Jumlah skor
Jumlah siswa
25

Prosentase

= Jumlah skor x 100%


Jumlah siswa
BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Penelitian ini menggunakan kuesioner sebagai instrumen utama yang


dibagikan kepada 42 responden di kelas IX B SMP Negeri 12 Serang. Pada bagian
ini akan disajikan data hasil penelitian, secara berturut-turut diuraikan dua hal
pokok; yaitu (1) Hasil penelitian, (2) Pembahasan hasil penelitian.
A. Hasil Penelitian
Pengolahan dan analisis data yang digunakan adalah analisisis deskriptif,
yaitu menggambarkan atau mendeskripsikan serta menetapkan kecenderungan
data. Adapun langkah-langkah analisis sebagai berikut:
1. Data hasil penelitian ditabulasikan secara nominal
2. Hasil tabulasi data digambarkan dalam bentuk histogram
3. Hasil histogram berupa angka prosentase
4. Angka prosentase dideskripsikan berdasarkan kecenderungan tindakan yang
dilakukan guru dan reaksi siswa sebagai upaya peningkatan pemahaman
rumus luas permukaan bangun ruang sisi datar kubus dan balok dengan
model enquiry-discover learning..

26

B. Pembahasan Hasil Penelitian


Untuk mengetahui adanya peningkatan atau tidak dalam mengikuti proses
pembelajaran menemukan rumus bangun ruang sisi datar kubus balok dengan
model pembelajaran enquiry-dicovery, maka akan dibandingkan respon siswa
berdasarkan selisih prosentase setelah diberi perlakuan tindakan.

1. Hasil Observasi Proses Pembelajaran

Keterangan : Pernyataan nomor 1 s.d. 10 lihat lampiran 1


Kesimpulan : Dari 42 responden terdapat kenaikan minat dalam mengikuti
pembelajaran menemukan pembentukan rumus luas bangun ruang sisi datar
kubus dan balok dengan model enquiry-discovery learning

. Berdasarkan

histogram hasil pengolahan data rata-rata untuk observasi proses pembelajaran


dalam siklus 1= 60,47% dan Siklus 2= 71,55%. Dengan demikian minat siswa
27

dalam pembelajaran menemukan proses pembentukan rumus luas bangun ruang


sisi datar kubus dan balok mengalami peningkatan

11,08%.

2. Hasil Angket Proses Pembelajaran


a. Siswa

Keterangan : Pernyataan nomor 1 s.d. 10 lihat lampiran 2


Kesimpulan : Dari 42 responden terdapat kenaikan aktivitas siswa dalam
mengikuti pembelajaran menemukan pembentukan rumus luas bangun ruang sisi
datar kubus dan balok dengan model enquiry-discovery learning. Berdasarkan
histogram hasil pengolahan data siswa

rata-rata angket

siswa dalam

pembelajaran pada siklus 1= 69,44% dan Siklus 2= 80,79%. Berdasarkan


prosentase masing-masing siklus tersebut, terdapat peningkatan aktivitas
pembelajaran sebesar 11,35%.
b. Bagi guru

28

Keterangan : Pernyataan nomor 1 s.d. 10 lihat lampiran 3


Kesimpulan : Berdasarkan histogram hasil pengolahan data angket guru dalam
pembelajaran menemukan pembentukan rumus luas bangun ruang sisi datar
kubus dan balok dengan model enquiry-discovery learning rata-rata hasil angket
siklus 1= 70%, dan siklus 2= 83% . Berdasarkan angket tersebut maka aktivitas
guru dalam pembelajaran mengalami peningkatan 13%.
3. Hasil Wawancara Proses Pembelajaran
a. Wawancara Siswa

Keterangan : Pernyataan nomor 1 s.d. 10 lihat lampiran 2


Kesimpulan : Berdasarkan histogram hasil pengolahan data wawancara siswa
dalam proses pembelajaran menemukan pembentukan rumus luas bangun ruang
29

sisi datar kubus dan balok dengan model enquiry-discovery learning rata-rata
hasil wawancara dengan siswa,
Berdasarkan data

siklus 1= 66,14%, dan siklus 2= 77,93%.

tersebut maka respon

terhadap pembelajaran mengalami

peningkatan 11,79%.

b. Wawancara Guru

Keterangan : Pernyataan nomor 1 s.d. 10 lihat lampiran 3


Kesimpulan : Berdasarkan histogram hasil pengolahan data wawancara guru
dalam proses pembelajaran mengalami peningkatan aktivitas. Siklus 1= 67%, dan
siklus 2= 80%. Berdasarkan wawancara dengan guru tersebut respon terhadap
pembelajaran

dengan model

Enquiry-discovery learning mengalami

peningkatan 13 %.

4. Hasil Tes

30

Berdasarkan hasil tes diperoleh nilai rata-rata pada siklus 1= 59,04, pada
siklus 2= 70,02. Dari uraian data tersebut terdapat peningkatan hasil belajar
sebesar 10,98%
Dengan demikian pembelajaran menemukan pembentukan rumus luas
bangun ruang sisi datar kubus dan balok dengan model

enquiry-discovery

learning dapat meningkatkan pemahaman siswa yang ditandai dengan


meningkatnya nilai hasil belajar pada setiap siklus penelitian yang dilakukan.
Peningkatan ini dapat di lihat dari rata-rata nilai yang diperoleh pada siklus 2
dalam prosentase peningkatannya.

31

BAB V
SIMPULAN DAN SARAN

A. Simpulan
Mengacu pada data hasil penelitian, maka dapat disimpulkan bahwa
pembelajaran matematika pada pokok bahasan menemukan proses pembentukan
rumus luas bangun ruang sisi datar kubus dan balok dengan model enquirydiscovery learning mempunyai pengaruh yang besar dalam meningkatkan hasil
belajar siswa kelas IX B SMP Negeri 12 Serang. Besarnya pengaruh tersebut
sebagai berikut:
1. Model enquiry-discovery learning mampu meningkatkan pemahaman siswa
terhadap menemukan pembentukan rumus luas bangun ruang sisi datar kubus
dan balok. Hal ini dibuktikan berdasarkan siklus 1 memperoleh rata-rata nilai
tes siklus 1=59,04 dan siklus 2= 70.02
2. Peningkatan tersebut dapat diprosentasekan sebagai berikut; Siklus 1 ke siklus
2= 10,98% Dengan demikian terbukti bahwa pembelajaran menemukan
32

pembentukan rumus luas bangun ruang sisi datar kubus dan balok dengan
model enquiry-discovery learning, dapat meningkatkan hasil belajar.

B. Saran
Berdasarkan
menunjukkan

hasil

adanya

temuan

pengaruh

penelitian,
model

pembahasan

enquiry-discovery

dan simpulan
lerning

dalam

pembelajaran menemukan pembentukan rumus luas bangun ruang sisi datar


kubus dan balok mengalami peningkatan. Karena besarnya peningkatan tersebut,
maka diperlukan saran kepada berbagai pihak yang terkait terutama kepada
pembelajar sebagai berikut:
1. Pembelajar hendaknya dapat memilih berbagai model pembelajaran dan
pendekatan yang relevan dengan kebutuhan dunia peserta didik dan
lingkugannya. Pendekatan pembelajaran yang releven mampu memberikan
kegairahan,

minat

dan pengembangan potensi yang dimiliki

siswa.

Pendekatan pembelajaran hendaknya sesuai dengan konteks dunia nyata


bukan dunia abstrak.
2. Pembelajar hendaknya mampu menumbuhkan minat belajar bisa memberikan
motivasi agar dapat mencapai hasil belajar yang baik, penuh gairah,
menyenangkan dan menakjubkan.
3. Pembelajar hendaknya mampu menumbuhkan suasana belajar yang kondusif ,
di ruang kelas atau di alam terbuka dengan konteks bahan ajar yang
disesuaikan dengan kompetensi yang dimiliki siswa.
33

4. Untuk peneliti selanjutnya


Secara teoritis variabel yang berpengaruh terhadap prestasi belajar itu banyak
bila dillihat dari berbagai faktor. Karena keterbatasan kami, maka model
enquiry-discovery learning dijadikan sebagai faktor yang dominan dalam
upaya peningkatan prestasi belajar, walaupun masih banyak faktor lain. Bagi
peneliti selanjutnya dapat mencari faktor-faktor lain yang dapat dijadikan
bahan penelitian dengan mencari berbagai metode pembelajaran yang relevan.
Demikian uraian bab V ini yang mengemukakan simpulan dan saran
yang berkaitan dengan upaya meningkatan pemahaman menemukan pembentukan
rumus luas bangun ruang sisi datar kubus dan balok pada siswa kelas IX B SMP
Negeri 12 Serang.

34

DAFTAR PUSTAKA
AECT. 1996. Definisi Teknologi Pendidikan. Jakarta: CV. Rajawali
Arikunto, Suharsimi. 2007. Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta: Bumi Aksara.
Angkowo.R, Kosasih A. 2007. Optimalisasi Media Pembelajaran. Jakarta: PT
Grasindo
Degeng, NS. 2005. Teori Belejar dan Pembelajaran. Universitas PGRI Adi Buana
Surabaya
Djamarah. SB, Zain A. 2006. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: Rineka Cipta.
Dwi Prasetyono, Sunar . 2008. Matematika Dasar. Yogyakarta: Think
Murwani, Santosa, 2005. Model Proposal Penelitian. Jakarta: UHAMKA.
Meier, Dave. 2005. The Accelerated Learning. Bandung : Kaifa
Mustaji, Sugiarso. 2005. Pembalajaran Berbasis Konstruktivistik. Surabaya:
Unessa University Press.
Muwarni S. 2005. Metodologi Penelitian Ilmiah. Jakarta: Uhamka
Natawijaya R. 1979. Psikologi Pendidikan. Jakarta : CV. Mutiara
Nurhadi. 2002. Pendekatan Kontekstual. Jakarta: Depdiknas.
35

Rochiati,R. 2006. Model pembelajaran Penelitian Tindakan Kelas. Bandung: PT.


Remaja Rosda Karya.
Sujatmiko, Ponco. 2005. Matematika Kreatif. Solo: Tiga Serangkai

36