Anda di halaman 1dari 19

ISSN : 1858-330X

JSPF Vol. 9, Mei 2009 | 69


IDENTIFIKASI MORFOLOGI DAN STRUKTUR GEOLOGI KAWASAN KARST DI
KABUPATEN MAROS DENGAN MEGGUNAKAN CITRA LANDSAT-7 ETM+
Palloan, P., Zylshal
Jurusan Fisika Universitas Negeri Makassar
ABSTRAK
Daerah karst dicirikan oleh morfologi permukaan berupa bukit-bukit kerucut (conical
hills), depresi tertutup (dolin), lembah kering (dry valley) dan banyak dijumpai sungai-sungai
bawah tanah. Daerah ini sangat dipengaruhi oleh struktur geologi berupa pengekaran (joint)
karena umumnya kars terbentuk pada daerah berbatuan karbonat (gamping, dolomit, atau
gypsum). Tujuan penelitian ini adalah melakukan identifikasi morfologi dan struktur geologi di
kawasan karst menggunakan data citra penginderaan jauh, yaitu citra Landsat-7 ETM+. Lokasi
penelitian mengambil tempat di Kabupaten Maros Propinsi Sulawesi Selatan. Metode penelitian
meliputi pengolahan citra Landsat-7 ETM+ dan analisa Sistem Informasi Geografi (SIG).
Pengolahan citra meliputi proses koreksi geometrik dan radiometrik, penghitungan nilai OIF, fusi
kanal, pembuatan citra komposit warna, dan pemilteran spasial. Analisa SIG yang dilakukan
meliputi analisis overlay dan perhitungan kerapatan morfologi yang teridentifikasi. Metode
penelitian meliputi pengolahan citra Landsat-7 ETM+ dan analisa Sistem Informasi Geografi
(SIG). Pengolahan citra meliputi proses koreksi geometrik dan radiometrik, penghitungan nilai
OIF, fusi kanal, pembuatan citra komposit warna, dan pemfilteran spasial. Analisa SIG yang
dilakukan meliputi analisis overlay dan perhitungan kerapatan morfologi yang teridentifikasi.
Hasil identifikasi menunjukkan bahwa morfologi karst yang teridentifikasi di kawasan Karst
Kabupaten Maros, meliputi karst menara (tower Karst), dan lembah kering (dry valley), serta
struktur geologi berupa struktur kekar. Hasil analisis kerapatan morfologi dan struktur
menunjukkan bahwa daerah kars di Kabupaten Maros terbagi dalam tiga daerah yangmempunyai
tingkat perkembangan berbeda-beda, yaitu 1) Kars Bantimurung, Simbang, Mallawa termasuk
daerah kars berkembang baik, 2) Kars Tompobulu dan Tanralili dan termasuk daerah kars
berkembang sedang dan 3) Kars Cenrana dan Camba, termasuk daerah kars tidak berkembang.

KATA KUNCI : citra, karst, morfologi, struktur geologi


I. PENDAHULUAN
Keberadaan kawasan karst di Indonesia, dewasa ini dianggap memiliki nilai-nilai
yangsangat strategis. Di seluruh wilayah kepulauan Indonesia, luas kawasan karst mencapai
hamper 20% dari total luas wilayah. Nilai-nilai strategis yang dimaksud, selain merupakan
kawasan sebagai pemasok dan tandon air untuk keperluan domestik (PBB memperkirakan
persediaan air sekitar 25% penduduk dunia merupakan sumber air karst, Ko 1997), juga
mempunyai sumber daya alam yang dapat dimanfaatkan menambah devisa negara seperti
pariwisata, penambangan bahan galian, penghasil sarang burung walet, bahkan sangat terkait
pula dengan bidang HANKAM/militer, serta intelijen.
Daerah karst dicirikan oleh morfologi ermukaan berupa bukit-bukit kerucut (conical
hills), depresi tertutup (dolin), lembah kering (dry valley) dan banyak dijumpai sungai-sungai
bawah tanah. Daerah ini sangat dipengaruhi oleh struktur geologi berupa pengekaran (joint)
karena umumnya karst terbentuk pada daerah berbatuan karbonat (gamping, dolomit, atau
gypsum).Keunikan lain dari kawasan karst adalah keberadaan gua dan sungai bawah tanah. Guagua tersebut pada umumnya bertingkat dengan ukuran kurang dari satu meter hingga ratusan
meter persegi dengan bentuk vertikal miring maupun horisontal. Gua-gua karst hamper
semuanya dihiasi dengan ornament (speleothem) yang sangat beragam dari mulai yang sangat
kecil (helectite) hingga yang sangat besar (column) dengan bentuk dan warna yang bervariasi.
Di Indonesia, daerah karst terdapat disetiap pulau besar, baik Sumatera, Jawa, Kalimantan, Irian,
Sulawesi, dan juga di Kepulauan Nusa Tenggara. Balasz (1963) telah menginventarisir daerahdaerah karst diKepulauan Indonesia meskipun masih dalam skala global. Untuk pulau Sulawesi,
khususnya Sulawesi Selatan, dikenal daerah karst Maros- Pangkep. Di Pulau Sulawesi kawasan
karst berkembang dengan baik khususnya (pada sebaran batu gamping) di Sulawesi Selatan.
Bentang alam karst Maros sangat terkenal, luasnya diperkirakan mencapai 400 km2. Telah
diidentifikasi sedikitnya ada 29 gua di kawasan
ini yang layak dilindungi.
Kabupaten Maros terletak di bagian
barat Sulawesi Selatan antara 400 40 - 500 07
Lintang selatan dan 1090 205 - 1290 12 Bujur
timur, merupakan daerah penyangga Ibu Kota

Provinsi Sulawesi selatan dengan jarak sekitar


30 Km arah utara Kota Makassar dengan
kawasan pantai sepanjang + 31 Km di Selat
Makassar, yang berbatasan dengan :
Sebelah Utara : Dengan Kabupaten Pangkep
Sebelah Selatan : Dengan Kota Makassar dan
Kabupaten Gowa
Sebelah Timur : Dengan Kabupaten Bone
Sebelah Barat : Dengan Selat Makassar
Luas wilayah Kabupaten Maros 1.619
Km2 atau sekitar 2,6 % wilayah Sulawesi selatan
secara administratif dibagi ke dalam 14
kecamatan dan 80 Desa serta 23 Kelurahan
Karst Maros termasuk salah satu dari
karst di Indonesia yang memiliki keindahan,
keunikan, flora dan fauna, nilai-nilai ilmiah dan
sosial budaya yang tinggi sehingga bisa
dimasukkan sebagai karst kelas dunia. Kawasan
karst Maros (Maros-Pangkep) penyebarannya
memanjang utara selatan dari Maros hingga
Pangkep meliputi wilayah seluas sekitar 30.000
ha. Karstnya digolongkan dalam jenis karst
menara (tower karst), jenis karst yang terkenal
indah panoramik seperti banyak digambarkan
dalam lukisan tradisional Cina.
Dari aspek fauna, kera dan kupu-kupu
merupakan jenis yang telah diteliti secara
mendalam di kawasan Karst Maros. Dilaporkan
bahwa ada 103 jenis kupu-kupu yang ditemukan
di hutan wisata Bantimurung. Beberapa jenis
kupu-kupu merupakan jenis endemik yang

dilindungi. Jenis fauna lainnya antara lain adalah


tarsus, kuskus, musang Sulawesi, babi hutan,
rusa, biawak, kelelawar, dua jenis burung
enggang besar dan burung enggang hitam,
burung elang, burung raja udang, sri gunting,
tiga jenis burung walet, burung hantu, burung
pipit, burung tekukur, capili, kakak tua putih,
kakak tua hijau danga ayam hutan, ular sanca,
ular hitam, ikan dan udang tak bermata di dalam
gua serta jenis hewan invertebrata. Dari aspek
pariwisata sebagian telah berkembang, yakni
obyek wisata Bantimurung.
Pengelolaan daerah karst bertujuan
mengoptimalkan pemanfaatan daerah karst,
guna menunjang pembangunan berkelanjutan
dan berwawasan lingkungan. Pengelolaan
daerah karst mempunyai sasaran yaitu; 1).
meningkatkan upaya perlindungan daerah karst,
dengan cara melestarikan fungsi hidrogeologi,
flora, fauna, nilai sejarah serta budaya yang ada
di dalamnya, 2). Melestarikan keunikan dan
kelengkapan bentukan alam di daerah karst, 3).
Meningkatkan kehidupan masyarakat di dalam
dan
sekitarnya,
4).
Meningkatkan
pengembangan ilmu pengetahuan (Kepmen
Energi dan Sumber daya Mineral No. 1456
K/20/MEM/2000).

Page 3
ISSN : 1858-330X
JSPF Vol. 9, Mei 2009 | 71
Upaya-upaya pengelolaan daerah ini
yang meliputi kegiatan-kegiatan inventarisasi,
penyelidikan, pemanfaatan dan perlindungan
sumber daya alam karst. Kemajuan sains dan
teknologi penginderaan jauh diharapkan dapat
bermanfaat dalam mendukung upaya-upaya
tersebut.
Dalam penelitian ini akan diidentifikasi
morfologi dan struktur geologi kawasan karst di
kabupaten maros dengan meggunakan citra
landsat-7 etm+. Tujuan penelitian adalah:
1. Mengetahui morfologi dan struktur geologi
kawasan karst dengan menggunakan citra
Landsat 7 ETM+ di Kabupaten Maros.
2. Untuk mengetahui klasifikasi karst Maros
berdasarkan morfologi dan struktur geologi
dengan menggunakan citra Landsat 7
ETM+.
II. METODOLOGI PENELITIAN
2.1 Alat dan Bahan
Alat-alat yang digunakan dalam penelitian
ini adalah seperangkat komputer Desktop
dengan software Microsoft Office 2007
Enterprise, ER-Mapper 7.0, dan Arcview 3.3
image analyst.
Bahan-bahan yang digunakan meliputi:
1. Data satelit LANDSAT-7 ETM+ path/row
114/063 tanggal perekaman 12 September

2002 dan path/row


114/064 tanggal
perekaman 8 April 2003.
2. Peta geologi skala 1 : 100.000, Kabupaten
Maros
3. Peta Rupa Bumi Indonesia
2. 2 Metode
2. 2. 1 Pengolahan citra digital
Pengolahan citra secara dijital meliputi 1)
koreksi citra baik koreksi radiometric maupun
koreksi geometric, 2) Penghitungan nilai OIF
dan pembuatan citra komposit warna, 3)
penajaman citra, dan 4) pemfilteran spasial.
Pengolahan citra dilakukan dengan menerapkan
operasi-operasi pada software ER Mapper versi
7.0.
2. 2. 2 Interpretasi Citra
Interpretasi citra dari hasil pengolahan
diinterpretasi
secara
visual
dengan
menggunakan software ER Mapper versi 7.0
dan Arc View versi 3.3 image analyst, yaitu
meliputi; 1) interpretasi dan identifikasi morfologi
kars, meliputi; relief kars, puncak-puncak karst
menara (tower karst), lembah kering (dry valley)
dan 2) interpretasi struktur geologi daerah kars,
difokuskan pada struktur geologi yang dominan
di daerah kars yaitu struktur kekar.
2 .2. 3 Analisis Kerapatan

Analisis diarahkan pada kerapatan obyekobyek kars yang telah diinterpretasi yaitu bukitbukit kars kerucut (conical hills), lembah kering
(dry valley) serta kerapatan kekar. Sebagai unit
analisis adalah satuan relief-morfologi.
III. HASIL DAN PEMBAHASAN
3.1 Pengolahan Citra
3.1.1 Perhitungan Nilai OIF
Perhitungan nilai OIF dilakukan terhadap 4
sampel, berupa cropping data. Berdasarkan
perhitungan nilai OIF tersebut, didapatkan nilai
Page 4
ISSN : 1858-330X
JSPF Vol. 9, Mei 2009 | 72
OIF tertinggi dari kombinasi kanal 457 (3
sampel) dan 357 (1 sampel).
3. 1.2 Fusi Kanal dan Pembuatan Citra
Komposit Warna
Fusi kanal dilakukan melalui penggabungan
berbagai kanal yang terdapat pada Landsat-7
ETM+. Fusi kanal yang dilakukan meliputi yaitu
kanal fusi multispektral dan fusi kanal
muktispasial. Berdasarkan nilai OIF tertinggi
diperoleh model fusi kanal multispektral terbaik
yaitu 457. Dari hasil kombinasi tiga kanal
tersebut kemudian dibuat citra komposit warna,
yaitu dengan memasukkan masing-masing
kanal ke dalam saluran warna merah, hijau, dan
biru (RGB).
Fusi kanal multispasial dilakukan dengan

menggabungkan kanal yang memiliki resolusi


spasial berbeda. Untuk Landsat-7 ETM+
penggabungan dilakukan antara resolusi spasial
30 meter (kanal 1,2,3,4,5, dan 7) dengan kanal
15 meter (kanal 8). Pada penggabungan ini
kanal 8 ditempatkan pada intensity, sehingga
terjadi kombinasi Red Green Blue Intensity
(RGBI). Hasil fusi ini akan diperoleh citra
dengan resolusi spasial 15 meter.
3.1.3 Penajaman Kontras dan Pemfilteran
Spasial
Teknik penajaman kontras diterapkan untuk
memperoleh kesan kontras citra yang lebih
tinggi. Pada penajaman kontras dilakukan teknik
perentangan kontras (contrass stretching) dan
ekualisasi histogram (histogram equalization).
Hasil dari penerapan teknik ini menghasilkan
citra baru yang memperlihatkan kenampakan
karst lebih jelas.
Perentangan histogram dilakukan dengan
merentangkan nilai-nilai histogram dari 0-255.
Selanjutnya dilakukan teknik ekualisasi
histogram untuk tiap saluran (RGBI). Pemfilteran
spasial dilakukan dengan mengaplikasikan
teknik-teknik pemfilteran pada paket software
ER Mapper 7.0. Teknik-teknik pemfilteran
tersebut meliputi pemfilteran highpass (filter
sharpen2, filter sharpen11, dan filter
sharpenedges) dan pemfilteran
lowpass
(lowpass avg3.ker dan lowpass avg5.ker). dari

hasil teknik ini diperoleh citra yang secara visual


menunjukkan kenampakan bervariasi.
(a)
(b)
Gambar 1. Citra Landsat 7 RGBI 4578 (a)
sebelum; dan (b) sesudah penajaman kontras
(a)
Page 5
ISSN : 1858-330X
JSPF Vol. 9, Mei 2009 | 73
(b)
Gambar 2. Citra Landsat hasil pemfilteran
spasial (a) filter highpass filter sharpen11; dan
(b) filter lowpass filter avg3.ker
Hasil pemfilteran Highpass
Sharpen11
menujukkan kenampakan objek-objek karst
yang akan di identifikasi (puncak menara,
lembah kering, dan struktur kekar) menjadi
sangat nampak apabila dibandingkan dengan
teknik pemfilteran yang lain.
3.2 Interpretasi Citra
Interpretasi citra meliputi interpretasi
1) interpretasi morfologi karst, meliputi; puncak
karst menara (tower karst), dan lembah kering
(dry valley), dan 2) interpretasi struktur geologi
daerah karst, difokuskan pada struktur geologi
yang dominan di daerah karst yaitu struktur
kekar. Proses interpretasi dibantu dengan peta
geologi.

Interpretasi kawasan karst di Kabupaten


Maros dilakukan dengan melihat persebaran
batuan karbonat. Sebaran batuan karbonat ini
kemudian dijadikan patokan persebaran
kawasan karst. Selanjutnya puncak karst
menara, lembah kering, dan kekar di daerah
karst saling berasosiasi membentuk konfigurasi
kenampakan daerah karst yang spesifik dan
dengan mudah dapat dikenali dari citra. Bukit
karst berbentuk menara individual maupun
berkelompok, dipisahkan satu sama lain oleh
kekar, kadang-kadang pada sisi-sisi lerengnya
dijumpai lembah kering dan antara bukit karst
satu dengan yang lainnya terbentuk dolin
(berbentuk membulat cekung ke dalam).
Karst menara dan dolin merupakan satu
kesatuan karena bukit karst merupakan
bentukan positif (membulat cekung ke luar)
sedangkan dolin merupakan bentukan negatif
(membulat cekung ke dalam). Apabila terisi air,
dolin akan berubah menjadi telaga karst.
Adanya efek bayangan sangat membantu dalam
interpretasi tower karst, lembah kering dan
kekar. Dolin yang terisi air (telaga karst) sangat
mudah dikenali karena air akan memberikan
efek warna hitam (air jernih) atau warna biru (air
yang mengandung sedimen), selain dari
bentuknya yang membulat, lonjong/ellips.
Lembah kering berbentuk memanjang
menyerupai saluran sungai, berkelok kelok,
dapat merupakan saluran tunggal maupun

bercabang. Hasil interpretasi lembah kering


menunjukkan bahwa tidak semua daerah karst
dapat dijumpai lembah kering. Lembah kering
merupakan lembah sungai yang terhubungkan
dengan mulut gua/ponor, apabila terjadi hujan
air akan langsung diteruskan ke dalam mulut
gua sehingga berubah menjadi aliran sungai
bawah tanah. Sehingga lembah sungai ini akan
selalu dalam keadaan kering. Ponor/mulut gua
tidak dapat dikenali secara langsung dari citra
karena umumnya hanya memiliki diameter satu
hingga beberapa meter saja.
Hasil interpretasi kekar juga menunjukkan
bahwa pada beberapa daerah karst banyak
dijumpai kekar-kekar. Lembah kering dan kekar
saling berasosiasi (Pola-pola lembah kering
mengikuti pola-pola kekar). Adanya fenomena
tower karst, dolin, lembah kering dan kekar
mengindikasikan bahwa di bawahnya terbentuk
sistem gua dan sungai bawah tanah sehingga
Page 6
ISSN : 1858-330X
JSPF Vol. 9, Mei 2009 | 74
daerah karst tersebut dapat dinyatakan sebagai
daerah karst yang berkembang dengan baik.
Gambar 3. Morfologi Puncak tower karst Zona
Bantimurung
(a)
(b)
Gambar 4. Morfologi (a) lembah kering (dry

valley) dan; (b) struktur kekar zona Simbang.


3.3 Analisis Kerapatan
Daerah karst Kabupaten Maros, dibagi ke
dalam 7 zona berdasarkan kecamatan mana
Karst tersebut berada, antara lain zona
Bantimurung, Camba, Cenrana, Mallawa,
Simbang, Tanralili dan Tompobulu.
Dari hasil interpretasi di ketahui luas
kawasan karst untuk tiap zona, serta morfologi
dan struktur geologi yang terlihat untuk
kemudian di hitung panjang total (lembah kering
dan struktur kekar) serta jumlah puncak menara.
Tabel 1. Analisis kerapatan kekar, lembah
kering dan tower karst
Zona
Kerapatan
Kekar
(km/km2)
Lembah
Kering
(km/km2)
Tower
karst
(/km2)
Bantimurung
0.93
0.40 94.81
Camba
2.41

Cenrana
0.02
0.89
Mallawa
0.08
0.03
4.93
Simbang
1.49
0.56 108.27
Tanralili
5.34
Tompobulu
0.03
6.25
Berdasarkan hasil analisis dan data
yang diperoleh, maka tingkat perkembangan
karst untuk tia zona dapat diketahui. Untuk zona
Mallawa, Bantimurung dan Simbang terbentuk
pada formasi Tonasa (Temt), yang tersusun
oleh batu gamping pejal dan berlapis dengan
umur berkisar dari Eosen sampai Miosen
tengah. Pada daerah ini, bentuk-bentuk
morfologi karst, seperti Karst menara (tower
karst), dolin, lembah kering (dry valley), dan
relief karst mudah dikenali dari citra, demikian
juga dengan struktur kekar yang sangat

dominan di daerah ini. Kondisi tersebut


menyebabkan nilai kerapatan obyek-obyek karst
dan struktur kekar menjadi tinggi. Sebagian
besar daerah karst ini dikelompokkan menjadi
daerah karst berkembang baik.
Untuk zona Tompobulu dan Tanralili,
pada daerah karst ini sudah mulai jarang
dijumpai puncak-puncak menara karst, dolin dan
lembah kering. Struktur kekar sudah tidak
ditemukan di daerah ini. Sehingga kerapatan
morfologinya lebih rendah bila dibandingkan
dengan daerah karst Bantimurung dan Simbang.
Page 7
Aliran sungai permukaan masih dapat dijum
yang mencerminkan fase awal perkemban
karst. Sebagian besar daerah karst
dikelompokkan
menjadi
daerah
k
berkembang sedang.
Untuk zona Cenrana dan Cam
daerah ini hampir sama dengan z
Tompobulu dan Tanralili, hanya s
penyebarannya lebih terbatas pada lokasi y
sempit. Kondisi ini menjadi penyebab ut
Gambar 5. Pembagi
Gambar 6. Tingkat perkembangan Karst Ka
JSPF Vol.
aan masih dapat dijumpai

fase awal perkembangan


esar daerah karst ini
enjadi
daerah
karst
Cenrana dan Camba,
r sama dengan zona
Tanralili, hanya saja,
terbatas pada lokasi yang
menjadi penyebab utama
terhadap tidak berkembanganya da
zona ini. Zona camba hanya mem
morfologi puncak menara tanpa a
lambah kering ataupun struk
Sedangkan zona Cenrana
dengan tingkat kerapatan morfologi
geologi yang paling rendah denga
kekar hanya 0.02 km/km
menara adalah 0.89 puncak/km
Gambar 5. Pembagian daerah karst di Kabupaten Maros
erkembangan Karst Kabupaten Maros berdasarkan morfologi dan struk
ISSN : 1858-330X
JSPF Vol. 9, Mei 2009 | 75
banganya daerah karst di
na camba hanya memperlihatkan
ncak menara tanpa adanya dolin,
ring ataupun struktur kekar.
Cenrana merupakan zona
at kerapatan morfologi dan struktur
endah dengan kerapatan
0.02 km/km2 dan kerapatan puncak

h 0.89 puncak/km2.
an morfologi dan struktur geologi.
Page 8
ISSN : 1858-330X
JSPF Vol. 9, Mei 2009 | 76
IV. KESIMPULAN
Berdasarkan
hasil
penelitian
dan
pembahasan dapat disimpulkan bahwa
morfologi karst yang terindetifikasi di kawasan
Karst Kabupaten Maros, meliputi karst menara
(tower kasrt), dan lembah kering (dry valley),
serta struktur geologi berupa struktur kekar.
Daerah kars di Kabupaten Maros terbagi
dalam beberapa zona yang mempunyai tingkat
perkembangan berbeda-beda, yaitu: 1). Zona
Mallawa, Bantimurung dan Simbang yang
termasuk daerah kars berkembang baik; 2).
Zona Topubulu, Mallawa dan Tanralili yang
termasuk daerah kars berkembang sedang; dan
3). Zona Camba dan Cenrana yang termasuk
daerah kars tidak berkembang.
DAFTAR PUSTAKA
Adji, Tjahyo Nugroho, Eko Haryono, dan
Suratman Woro. 1999. Kawasan Karst
dan
Prospek
Pengembangannya.

Seminar PIT IGI di Universitas


Indonesia, 26-27 Oktober 1999.
A.J. Pattendean. 2007. Fisika Lingkungan. UNM
Press : Makassar
Budiyanto, Eko. 2002. Sistem Informasi
Geografis Menggunakan ArcView GIS.
Yogyakarta: Penerbit ANDI.
C, Ford D, and W, Williams P, 1996. Karst
Geomorphology and Hydrology. London:
Chapman and Hall.
Eko Haryono. 2006. Geomorfologi Karst (Proses
Pembentukan dan Macamnya). UGM :
Yogyakarta.
ESDM (2000). Keputusan Menteri Energi dan
Sumber Daya Mineral Nomor : 1456
K/20/Mem/2000 Tentang Pedoman
Pengelolaan
Kawasan
Kars.
www.dim.esdm.go.id/kepmen_pp_uu/Ke
pmen_1456_2000.pdf
Faizal Ahmad. 2004. Penuntun Praktikum
Pengolahan Citra Digital. UNHAS :
Makassar
Hallaf, Abdul. 2006. Modul Gemorfologi
Indonesia. UNM: Geografi.
Hidayat, Sarip. 2006. Modul Utilitas Pengolahan
Data Satelit Penginderaan Jauh.
Parepare : LAPAN.
LAPAN. (n.d.). Peta Informasi Cakupan Landsat.
Maret 9. 2009.

http://www.lapanrs.com/YANSA/BCLS7/f
ull_landsatcoverage.htm
Nicholas
M.
Short.
(n.d.).
Karst/Lacustrine/Aeolian/Glacial
Landforms. Maret 9. 2009.
http://www.fas.org/irp/imint/docs/rst/Sect
17/Sect17_5.html
Nurlini Kasri, dkk. 1999. Kawasan Karst di
Indonesia Potensi dan Pengelolaan
Lingkungannya, Jakarta
Prahasta, Eddy. 2008. Remote Sensing
Praktis Penginderaan Jauh dan
Pengolahan Citra Digital degan
perangkat Lunak ERMapper. Bandung:
Penerbit Informatika.
Sonny Wedehanto. 2004. Penggunaan Citra
Landsat 7 ETM Untuk Menduga
Keberadaan Air tanah, Studi Kasus
Pemboran Sumur P2AT di Wilayah
Kabupaten Madiun. Pertemuan Ilmiah
Tahunan di Geodesy Institut Teknologi
Surabaya). 13 Oktober 2004.
Suwijanto. 2007. Prinsip Dasar Penginderaan
Jauh dan Penggunaannya Dalam
Bidang
Kebumian.
Puslitbang
Geoteknologi: LIPI.

Wahyu Supriatna dan Sukartono. 2002. Teknik


Perbaikan Data Digital (Koreksi dan
Penajaman) Citra Satelit. Buletin Teknik
Pertanian Vol. 7 No. 1, 2002. Bogor.
Wahyunto, Sri Retno Murdiyati dan Sofyan
Ritung. 2004.
Aplikasi Teknologi
Penginderaan Jauh dan Uji Validasinya
Untuk Deteksi Penyebaran Lahan
Sawah dan Penggunaan/Penutupan
Lahan. Informatika Pertanian Volume
13.
Page 9
ISSN : 1858-330X
JSPF Vol. 9, Mei 2009 | 77