Anda di halaman 1dari 15

M AK ALAH

SEJARAH
-,-

KELOMPOK 6:
GIAN ARON ANGELO R.
NURUL AULIA H.
MARSITHA ZUBHA S.B

KATA PENGANTAR
Puji dan syukur kami haturkan kehadirat Tuhan Allah yang Maha Esa yang telah memberikan rahmat dan hidayah-Nya,
sehingga kami dapat menyelesaikan tugas pembuatan makalah ini.
Dalam pembuatan makalah ini, banyak kesulitan yang kami alami terutama disebabkan oleh kurangnya pengetahuan.
Namun berkat bantuan dari teman-teman akhirnya makalah ini dapat terselesaikan tepat pada waktunya. Oleh karena itu,
kami mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu dalam penyusunan makalah ini. Semoga
makalah ini dapat bermanfaat bagi kita semua.
Tak ada gading yang tak retak. Begitu pula dengan makalah yang kami buat ini yang masih jauh dari kesempurnaan. Oleh
karena itu kami mengharapkan kritik dan saran agar makalah ini menjadi lebih baik serta berdaya guna dimasa yang akan
datang.
Kendari, 2013

Penulis

DAFTAR ISI
KATAPENGANTAR.(i)
DAFTAR ISI..(ii)
BAB I PENDAHULUAN.3
A. Tujuan dan Manfaat..........3
BAB II PEMBAHASAN...........................................................4
ANGKATAN PERANG RATU ADIL (APRA)........................................4
PERJUANGAN RAKYAT SEMESTA (PERMESTA).............................................5
PEMBERONTAKAN ANDI AZIS.......................................8
PEMBERONTAKAN REPUBLIK MALUKU SELATAN (RMS)........................
GERAKAN 30 SEPTEMBER 1965..............................................................................
BAB III KESIMPULAN ...........................................................9
DAFTAR PUSTAKA................................................................10

BAB I
PENDAHULUAN
Begitu banyak pemberontakan yang terjadi ketika RIS didirikan. Diantaranya adalah Gerakan angkatan Perang Ratu Adil
(APRA) Pimpinan Kapten Raymond Westerling dan Sultan Hamid II, Pemberontakan Andi Azis pimpinan KNIL di
Makassar, gerakan mendirikan Negara sendiri yaitu Republik Maluku Selatan (RMS) pimpinan Dr. Soumokil di Maluku
yang tidak menerima kebijakan kebijakan RIS.

A.Rumusan Masalah
- Apa saja pemberontakan yang terjadi ketika RIS terbentuk?
-Apa saja tujuan mereka melakukan pemberontakan?
B. Tujuan dan Manfaat
Tujuan penulisan makalah ini adalah untuk mengetahui Perkembangan teknologi masyarakat awal indonesia dengan
mengetahui :
1. Mengetahui tentang Pemberontakan APRA, Permesta, Andi Azis, dkk.
2. Mengetahui tujuan merek melakukan pemberontakan.

BAB II
PEMBAHASAN
Gerakan angkatan Perang Ratu Adil (APRA)
Pada bulan Januari 1950 di Jawa Barat muncul gerakan Angkatan Perang Ratu Adil (APRA) yang
dipimpin oleh mantan Kapten Raymond Westerling dalam dinas tentara kerajaan Belanda (KNIL).
Gerakan ini memanfaatkan kepercayaan rakyat akan datangnya Ratu Adil. Westerling memahami
penderitaan rakyat Indonesia selama masa penjajahan Belanda dan Jepang yang mendambakan
adanya kemakmuran seperti yang terdapat dalam Ramalan Jayabaya. Menurut ramalan tersebut
akan datang seorang pemimpin yang disebut Ratu Adil yang akan memerintah dengan adil dan
bijaksana sehingga rakyat menjadi makmur dan sejahtera. Adapun tujuan sebenarnya dari
gerakan APRA adalah :
1.
2.

Tetap berdirinya Negara Pasundan


APRA sebagai tentara Negara Pasundan

Hal tersebut bertentangan dengan hasil konferensi Antar Indonesia dimana Angkatan Perang
Nasional adalah APRIS.
Pada tanggal 23 Januari 1950, APRA yang bersenjata lengkap menyerbu kota Bandung dan
secara membabi buta membunuh anggota TNI yang dijumpai. Gerakan tersebut berhasil
menduduki Markas Divisi Siliwangi setelah membunuh hampir seluruh anggota regu jaga
termasuk Letnan Kolonel Lembong. Banyak penduduk yang menjadi korban.
Pemerintah segera mengirim pasukan bantuan ke Bandung. Sementara di Jakarta segera diadakan
perundingan antara Perdana Mentri RIS dengan Komisaris Tinggi Belanda. Di Bandung Kepala Staf
Divisi Siliwangi Letnan Kolonel Eri Sudewo menemui Panglima Divisi C tentara Belanda, Mayor
Jendral Engels (Komandan Tentara Belanda) dan hasilnya Mayor Jendral Engels mendesak agar
APRA segera meninggalkan kota Bandung. Setelah meninggalkan kota Bandung gerombolan APRA
menyebar ke berbagai tempat dan terus dikejar oleh tentara APRIS dan dengan bantuan
penduduk gerombolan tersebut berhasil dilumpuhkan.
Gerakan APRA juga diarahkan ke Jakarta. Westerling bekerja sama dengan Sultan Hamid II
yang menjadi menteri Negara dalam kabinet RIS. Mereka akan menyerang gedung tempat
berlangsungnya sidang kabinet dan merencanakan akan membunuh Menteri Pertahanan yaitu
Sultan Hamengkubuwono IX, Sekertaris Jendral Kementrian Pertahanan yaitu Mr. Ali Budiardjo, dan
Pejabat Kepala Staf Angkatan Perang Kolonel T.B. Simatupang. Berkat kesigapan dari APRIS, usaha
APRA di Jakarta berhasil digagalkan. Pada tanggal 22 Februari 1950, Westerling berhasil melarikan
diri ke luar negeri dengan pesawat Catalina, sementara Sultan HamidII berhasil ditangkap pada
tanggal 4 April 1950.

Kegagalan gerakan APRA menyebabkan perasaan anti federal semakin meningkat. Pada 30
Januari 1950, R.A.A Wiranatakusumah, mengundurkan diri sebagai Wali Negara Pasundan. Pada 8
Februari 1950, Perdana Mentri Moh. Hatta mengangkat Sewaka sebagai penggantinya dengan
jabatan Komisaris RIS di Pasundan.

PERJUANGAN RAKYAT SEMESTA (PERMESTA)


Pada tanggal 2 Maret 1957, Letkol H.N.V. Sumual memproklamasikan perjuangan semesta di Makassar. Latar
belakang peristiwa Permesta 1957-1958 antara lain karena ketidakpuasan bahwa pemerintah pusat tidak efisien,
pembangunan macet dan keadaan ini telah menyuburkan komunisme.Dalam piagam Permesta, tujuan perjuangan
di tingkat daerah khususnya dalam bidang pertahanan disebutkan bahwa (1) wilayah Indonesia bagian Timur
sebagai lingkungan pertahanan militer tidak dapat dipisah-pisahkan dan memerlukan rencana jangka panjang dan
jangka pendek yang serius, (2) dalam perjuangan membebaskan Irian Barat, wilayah Indonesia Timur mutlak
merupakan basis militer dan politik psikologis. Sedangkan dalam bidang pemerintahan menyebutkan bahwa
untuk kepentingan pembelaan dan praktisnya pembangunan, maka kepada empat provinsi yang ada dalam
wilayah Indonesia bagian Timur harus segera diberikan otonomi yang seluas-luasnya. Otonomi yang luas berarti
buat daerah surplus, 70 persen pendapatan daerah dan 30 persen untuk pemerintah pusat. Untuk daerah minus
100 persen pendapatan daerah dan ditambah subsidi dari pemerintah pusat untuk pembangunan vital selama 25
tahun.
Menurut Harvey, selama Permesta muncul kembali gerakan sporadis dengan sebutan Twa-Pro di Minahasa.
Twa Pro adalah sebutan provinsi kedua belas dari Negeri Belanda. Twa Pro ini merupakan partai politik di
Minahasa yang selama masa Negara Indonesia Timur lebih menyukai masuk dalam uni Belanda sebagai provinsi
kedua belas.Jika Presiden Soekarno menolak permintaan, maka Permesta siap mendirikan pemerintahan
revolusioner. Munculnya gerakan Permesta ini mulai diincar Amerika Serikat. Sebab, untuk menghalau komunis
di Indonesia, Amerika Serikat melalui CIA pernah memberi bantuan jutaan dolar untuk Partai Masyumi (Majelis
Syura Muslimin Indonesia) dan PSI (Partai Sosialis Indonesia). Tapi, yang memenangkan Pemilu 1955 adalah
PNI dan PKI di Pulau Jawa. Munculnya Permesta diharapkan Amerika sebagai jalan untuk menghalau
pertumbuhan komunis. Dimulailah kontak-kontak pribadi dengan agen-agen pemerintah Amerika Serikat. Setelah
deklarasi piagam permesta di Makassar, tanggal 15 Februari 1958 Pemerintah Revolusioner Republik Indonesia
(PRRI) dideklarasikan di Padang, Sumatera Barat. Tujuannya untuk memakmurkan daerah secara ekonomi,
sembari memotong pengaruh komunis yang mendominasi atmosfir politik di Jakarta dan Jawa. Tuntutan otonomi
dan anti komunis ini menyatukan keduanya dalam sebuah front menghadapi Jakarta. Dalam pertemuan di Sungai
Dareh, sekitar 109 kilo meter arah Timur, Padang, telah dilakukan pertemuan yang dihadiri Letkol Ahmad
Hussein, Kolonel Simbolon, Letkol Ventje Sumual, Letkol Barlian, Kolonel Zulkifli Lubis, Sumitro
Djojohadikusumo, Syafruddin Prawira Negara, Mohammad Natsir dan Burhanuddin Harahap. Pertemuan itu
mengamanatkan forum perwira pembangkang ini untuk aktif mencari senjata di luar negeri.. Presiden Amerika
Eisenhower, Menteri Luar Negeri John Foster Dulles, dan Direktur Central Intelligence Agency (CIA) Allan
Dulles yang mengatur keterlibatan dalam perjuangan PRRI/ Permesta.12 Sebelumnya, menurut Harvey (1989)
John Dulles gelisah melihat PKI bertambah kuat di Indonesia dan khawatir Soekarno bersekutu dengan
komunisme di dalam negeri dan secara internasional.
Kegelisahan Dulles sudah muncul sejak tahun 1953. Bahkan ketika mengirim Duta Besar Amerika di Jakarta,
Hugh S. Cumming, Dulles memberi pengarahan:
..... tentang suatu Indonesia yang secara teritorial dipersatukan, yang cenderung dan bergerak maju ke
komunisme atau memecah-mecah negeri itu menjadi satuan-satuan berdasarkan geografi dan suku, saya lebih
menyukai yang terakhir sebagai penyediaan suatu alat pendongkel yang pada hari kemudian dapat digunakan
Amerika Serikat untuk membantu mereka melenyapkan komunisme bila diperlukan, dan pada akhirnya, jika
mereka menghendaki demikian, kembali ke suatu Indonesia yang bersatu.Awal tahun 1957, Dulles kembali
memberi instruksi kepada Duta Besar Amerika lainnya di Jakarta, John M. Allison.
Jangan biarkan Soekarno sampai terikat kepada kaum komunis. Jangan biarkan dia menggunakan kekerasan
melawan Belanda. Jangan dorong ekstremisme-nya.... Di atas segala-galanya, lakukan apa saja yang dapat Anda

lakukan agar Sumatera (pulau penghasil minyak) tidak sampai jatuh ke tangan komunis. Amerika menggunakan
segala cara yang memungkinkan guna memperkuat dan mendorong tekad dan kebulatan kekuatan anti komunis di
pulau-pulau luar Jawa, terutama Sumatera dan Sulawesi.
CIA memberikan senjata anti pesawat terbang, dua pesawat pengebom B-26, 20 teknisi untuk pengoperasian
pesawat tempur. Selain itu, telah dibeli senjata bekas di Taiwan melalui seorang broker. Namun, dalam sebuah
misi di Ambon, pesawat Pope, pilot yang dikirim CIA terkena tembakan dan jatuh. Terbongkarnya Pope
merupakan akhir keterlibatan CIA dalam PRRI/Permesta.Peter Dale-Scott (1999) menguraikan bahwa tahun
1957-1958 CIA telah menginfiltrasikan senjata dan personil untuk mendukung pemberontakan PRRI/Permesta
melawan Soekarno. Setelah gagalnya pemberontakan-pemberontakan yang disponsori CIA, Amerika Serikat
mulai melaksanakan suatu program bantuan militer kepada Indonesia hingga mencapai US$ 20 juta
setahun.Seorang veteran CIA menyatakan bahwa motif CIA dalam mendukung pemberontakan tahun 1958
bersifat untuk menekan Soekarno daripada untuk menggulingkannya, yaitu memanggang kaki Soekarno di atas
api.Sebagaimana diungkap Scott (1999) anggota CIA Frank Wisner menyatakan secara lebih khusus lagi untuk
meningkatkan ketergantungan Soekarno pada Angkatan Darat dibawah A.H. Nasution yang anti komunis.
Selain Dubes Amerika di Jakarta, Allison, telah menganjurkan kepada pemerintah Amerika Serikat agar memikat
Soekarno dengan jalan menekan Belanda supaya merundingkan soal Papua Barat. Amerika juga mulai
mendukung Indonesia di PBB. PBB mulai menangani penyelesaian krisis Papua Barat dengan damai bulan
November 1959. Tahun 1961 telah dibentuk Komando Operasi Tertinggi (Koti) untuk pembebasan Papua
Barat.18 Akhir tahun 1961 terjadi krisis ekonomi dan Indonesia terperosok ke dalam hiper inflasi. Bulan
November tahun 1962, IMF datang ke Jakarta untuk membahas usaha-usaha perbaikan ekonomi. Sesudah tahun
1962, ketika pemerintahan Kennedy, Amerika membantu TNI Angkatan Darat Indonesia dalam mengembangkan
program misi civic-nya.
Tahun 1963, beberapa kebijakan Soekarno membuat rakyat semakin menderita dan hal ini menimbulkan protes,
semisal pengurangan anggaran belanja, termasuk untuk militer.
Proklamasi PRRI ternyata mendapat dukungan dari Indonesia bagian Timur. Tanggal 17 Februari 1958 Somba
memutuskan hubungan dengan pemerintah pusat dan mendukung PRRI. Gerakannya dikenal dengan Perjuangan
Rakyat Semesta (Permesta). Gerakan ini jelas
melawan pemerintah pusat dan menentang tentara sehingga harus ditumpas. Untuk menumpas gerakan Permesta,
pemerintah melancarkan operasi militer beberapa kali. Berikut ini operasi-operasi militer tersebut.
a. Komando operasi Merdeka yang dipimpin oleh Letkol Rukminto Hendraningrat.
b. Operasi Saptamarga I dipimpin Letkol Sumarsono, menumpas Permesta di Sulawesi Utara bagian Tengah.
c. Operasi Saptamarga II dipimpin Letkol Agus Prasmono dengan sasaran Sulawesi Utara bagian Selatan.
d. Operasi Saptamarga III dipimpin Letkol Magenda dengan sasaran kepulauan sebelah Utara Manado.
e. Operasi Saptamarga IV dipimpin Letkol Rukminto Hendraningrat, menumpas Permesta di Sulawesi Utara.
f. Operasi Mena I dipimpin Letkol Pieters dengan sasaran Jailolo.
g. Operasi Mena II dipimpin Letkol Hunholz untuk merebut lapangan udara Morotai.
Ternyata Gerakan Permesta mendapat dukungan asing, terbukti dengan ditembak jatuhnya pesawat yang
dikemudikan oleh Alan Pope warga negara Amerika Serikat tanggal 18 Mei 1958 di atas Ambon. Meskipun
demikian, pemberontakan Permesta dapat dilumpuhkan sekitar bulan Agustus 1958, walaupun sisa-sisanya masih
ada sampai tahun 1961.

PEMBERONTAKAN ANDI AZIS

Andi Aziz merupakan seorang mantan perwira KNIL. Pada tanggal 30 Maret 1950, ia bersama dengan
pasukan KNIL di bawah komandonya menggabungkan diri ke dalam APRIS di hadapan Letnan Kolonel Ahmad
Junus Mokoginta, Panglima Tentara dan Teritorium Indonesia Timur.
Pemberontakan dibawah pimpinan Andi Aziz ini terjadi di Makassar diawali dengan adanya kekacauan
di Sulawesi Selatan pada bulan April 1950. Kekacauan tersebut terjadi karena adanya demonstrasi dari
kelompok masyarakat yang anti-federal, mereka mendesak NIT segera menggabungkan diri dengan RI.
Sementara itu terjadi demonstrasi dari golongan yang mendukung terbentuknya Negara federal. Keadaan ini
menyebabkan muncul kekacauan dan ketegangan di masyarakat.
Untuk menjaga keamanan maka pada tanggal 5 April 1950, pemerintah mengirimkan 1 batalion TNI dari
Jawa. Kedatangan pasukan tersebut dipandang mengancam kedudukan kelompok masyarakat pro-federal.
Selanjutnya kelompok pro-federal ini bergabung dan membentuk Pasukan Bebas di bawah pimpinan Kapten
Andi Aziz. Ia menganggap masalah keamanan di Sulawesi Selatan menjadi tanggung jawabnya.

Pada 5 April 1950, pasukan Andi Aziz menyerang markas TNI di Makassar dan berhasil menguasainya
bahkan Letkol Mokoginta berhasil ditawan. Bahkan Ir.P.D. Diapari (Perdana Mentri NIT) mengundurkan diri
karena tidak setuju dengan tindakan Andi Aziz dan diganti Ir. Putuhena yang pro-RI. Tanggal 21 April 1950,
Wali Negara NIT, Sukawati mengumumkan bahwa NIT bersedia bergabung dengan Negara Kesatuan Republik
Indonesia.
Untuk mengatasi pemberontakan tersebut pemerintah pada tanggal 8 April 1950 mengeluarkan perintah
bahwa dalam waktu 4 x 24 Jam Andi Aziz harus melaporkan diri ke Jakarta untuk mempertanggungjawabkan
perbuatannya. Kepada pasukan yang terlibat pemberontakan diperintahkan untuk menyerahkan diri dan semua
tawanan dilepaskan. Pada saat yang sama dikirim pasukan untuk melakukan operasi militer di Sulawesi Selatan
yang dipimpin oleh A.E. Kawilarang.
Pada tanggal 15 April 1950 Andi Aziz berangkat ke Jakarta setelah didesak oleh Presiden NIT, Sukawati.
Tetapi Andi Aziz terlambat melapor sehingga ia ditangkap dan diadili sedangkan pasukan yang dipimpin oleh
Mayor H. V Worang terus melakukan pendaratan di Sulawesi Selatan. Pada 21 April 1950 pasukan ini berhasil
menduduki Makassar tanpa perlawanan dari pasukan pemberontak.
Tanggal 26 April 1950, pasukan ekspedisi yang dipimpin A.E. Kawilarang mendarat di Sulawesi Selatan.
Keamanan yang tercipta di Sulawesi Selatan tidak berlangsung lama karena keberadaan pasukan KL-KNIL yang

sedang menunggu peralihan pasukan APRIS keluar dari Makassar. Mereka melakukan provokasi dan
memancing bentrokan dengan pasukan APRIS.
Pertempuran antara APRIS dengan KL-KNIL terjadi pada 5 Agustus 1950. Kota Makassar pada waktu itu
berada dalam suasana peperangan. APRIS berhasil memukul mundur pasukan lawan. Pasukan APRIS
melakukan pengepungan terhadap tangsi-tangsi KNIL.
8 Agustus 1950, pihak KL-KNIL meminta untuk berunding ketika menyadari bahwa kedudukannya
sudah sangat kritis.Perundingan dilakukan oleh Kolonel A.E Kawilarang dari pihak RI dan Mayor Jendral
Scheffelaar dari KL-KNIL. Hasilnya kedua belah pihak setuju untuk dihentikannya tembak menembak dan
dalam waktu dua hari pasukan KL-KNIL harus meninggalkan Makassar.

PEMBERONTAKAN REPUBLIK MALUKU SELATAN (RMS)


Pemberontakan Republik Maluku Selatan (RMS) yang dipimpin oleh Mr. Dr. Christian
Robert Steven Soumokil (mantan jaksa agung NIT) merupakan sebuah gerakan
sparatisme yang bertujuan bukan hanya ingin memisahkan diri dari NIT melainkan untuk
membentuk Negara sendiri terpisah dari RIS. Soumokil awalnya sudah terlibat dalam
pemberontakan Andi Aziz akan tetapi dia dapat melarikan diri ke Maluku. Soumokil juga
dapat memindahkan pasukan KNIL dan pasukan Baret Hijau dari Makasar ke Ambon.

Pemberontakan

Westerling,

Andi

Aziz,

Soumokil

memiliki

kesamaan

yaitu

ketidakpuasan mereka terhadap proses kembalinya RIS ke Negara Kesatuan Republik


Indonesia(NKRI). Pemberontakan yang ada menggunakan unsur KNIL yang merasa bahwa
status mereka tidak pasti setelah KMB.

Keberhasilan

APRIS

mengatasi

keadaan

membuat

para

pemuda

semakin

bersemangat untuk kembali ke NKRI. Akan tetapi terjadi banyak terror dan intimidasi
kepada para pemuda terlebih setelah teror dibantu oleh anggota polisi yang telah dibantu
KNIL bagian dari Korp Speciale Troepen yang dibentuk oleh Kapten Raymond Westerling di
Batujajar dekat Bandung. Teror tersebut bahkan menyebabkan terjadinya pembunuhan.
Benih sparatisme muncul dari para birokrat pemerintah daerah yang memprovokasi
seperti dengan penggabungan wilayah Ambon ke NKRI mengandung bahaya sehingga
seluruh rakyat Ambon diingatkan akan bahaya tersebut.
Pada 20 April 1950, diajukan mosi tidak percaya dalam parlemen NIT sehingga
kabinet NIT meletakkan jabatannya dan akhirnya NIT dibubarkan dan bergabung ke dalam
wilayah NKRI. Kegagalan pemberontakan Andi Aziz, menyebabkan berakhirlah pula
Negara Indonesia Timur. Tetapi Soumokil tidak pantang menyerah untuk melepaskan
Maluku Tengah dari wilayah NKRI. Bahkan dalam rapat di Ambon dengan pemuka KNIL
dan Ir. Manusama, ia mengusulkan agar daerah Maluku Selatan dijadikan sebagai daerah
merdeka. Jika perlu seluruh anggota Dewan Maluku Selatan dibunuh. Usul tersebut
ditolak, karena anggota mengusulkan agar yang melakukan proklamasi kemerdekaan
Maluku Selatan adalah Kepala Daerah Maluku Selatan, yaitu J. Manuhutu.
Sebelum diproklamasikannya RMS terlebih dahulu telah dilakukan propaganda
pemisahan diri dari NKRI yang dilakukan oleh gubernur Sembilan Serangkai yang
beranggotakan KNIL dan Partai Timur Besar. Sementara menjelang proklamasi RMS,
Soumokil telah berhasil menghimpun kekuatan di lingkungan Maluku Tengah. Sementara
itu,

orang-orang

yang

menyatakan

dukungannya

terhadap

NKRI

diancam

dan

dipenjarakan. Akhirnya pada tanggal 25 April 1950 di Ambon diproklamasikan Republik


Maluku Selatan (RMS) oleh Mr. Dr. Ch. R.S. Soumokil.
Pemerintah

berusaha

mengatasi

masalah

ini

secara

damai

yaitu

dengan

mengirimkan misi damai yang dipimpin oleh tokoh asli Maluku, yaitu dr. Leimena. Namun
misi ini ditolak oleh Soumokil. Misi damai yang dikirim selanjutnya terdiri dari para
politikus, pendeta, dokter, wartawan pun tidak dapat bertemu dengan pengikut Soumokil.
Karena upaya damai mengalami jalan buntu maka pemerintah melakukan operasi
militer untuk menumpas gerakan RMS yaitu Gerakan Operasi Militer (GOM)III yang
dipimpin oleh Kolonel A.E. Kawilarang, Panglima Tentara dan Teritorium Indonesia Timur.
Operasi berlangsung dari tanggal 14 Juli 1950, berhasil menguasai pos-pos penting di
Pulau Buru, 19 Juli 1950 pasukan APRIS berhasil menguasai Pulau Seram. Pada tanggal 28
September 1950 Ambon bagian utara berhasil dikuasai. 3 November 1950 benteng Nieuw
Victoria berhasil dikuasai. Dengan jatuhnya Ambon maka perlawanan RMS dapat

dipatahkan dan sisa-sisa kekuatan RMS banyak yang melarikan diri ke Pulau Seram dan
dalam beberapa tahun membuat serangkaian kekacauan.
GERAKAN 30 SEPTEMBER 1965
Meskipun PKI telah gagal dalam pemberontakannya di Madiun 1948 tetapi mereka
tidak mau menyerah. Dibawah pimpinan D.N Aidit, ia berusaha memasukkan PKI ke dalam
pemerintahan meskipun pada masa Liberal PKI tidak berhasil duduk dalam pemerintahan
akan tetapi setelah Presiden Soekarno mengeluarkan Dekrit Presiden 5 Juli 1959, PKI
mulai mendapatkan kesempatan berawal dengan memasukkan program-program PKI ke
dalam GBHN (Manipol RI), menjadikan Front Nasional bentukan Soekarno sebagai alat
politik untuk menggerakkan massa, dan semakin kuat ketika dibentuk kabinet Dwikora
dimana beberapa tokoh PKI duduk sebagai mentri koordinator dan menteri lainnya.
Keberhasilan PKI secara politik tersebut menyebabkan semakin besar keinginan untuk
mempercepat cita-cita politiknya. Sejak saat itu PKI mulai berusaha mengimbangi cara
parlemen dengan cara kekerasan.

Setelah penyusupan kader-kader PKI ke dalam tubuh aparatur negara termasuk


ABRI, organisasi politik, dan organisasi kemasyarakatan dinilai berhasil, maka PKI mulai
melaksanakan kegiatan yang disebutnya sebagai tahap ofensif revolusioner. Adapun
kegiatan tersebut meliputi,
1.

Sabotase
Merupakan sebuah tindakan kesengajaan yang bertendensi politik, seperti kasus-kasus
kecelakaan kereta api, dimana pelakunya adalah anggota serikat buruh kereta api.

2.

Aksi Massa dan aksi sepihak


Aksi-aksi yang dilakukan oleh Barisan Tani Indonesia(BTI) baik berupa hasutan,
pengeroyokan, penganiayaan petani, pembabatan padi, penyerobotan tanah perkebunan
milik Perusahaan Perkebunan Negara (PPN), dsb.

3.

Teror

4.

Perusakan

5.

Agitasi dan Propaganda


Agitasi dan propaganda dilakukan PKI melalui penguasaan unsur-unsur pers, antara lain
Kantor Berita Antara dan Persatuan Wartawan Indonesia (PWI). Selain itu melalui pidato
tokoh-tokoh PKI di segala forum kegiatan. Tujuannya untuk memotivasi solidaritas kaum

komunis dan para simpatisannya dalam rangka mewujudkan situasi ofensif revolusioner
sampai ke puncaknya
6.

Isu
PKI melancarkan isu Dewan Jendral yang terdiri dari sejumlah Jendral TNI AD seperti,
A.H Nasution, A. Yani, Soeprapto, S. Parman, Haryono M.T, Sutojo S., D. I. Pandjaitan, dan
Sukendro. Isu yang beredar adalah sebagai berikut.

1)

Dewan Jendral mempunyai tugas khusus memikirkan usaha-usaha dalam rangka


menghadapi kegiatan yang bersifat kiri. Dengan isu ini dikesankan bahwa TNI AD
merupakan kekuatan yang bersifat kanan dan anti PKI.

2)

Dewan Jendral mempunyai tugas menilai kebijaksanaan Presiden Soekarno selaku


Pemimpin Besar Revolusi. Kesan yang dibangun lewat isu tersebut adalah TNI tidak dapat
dijamin loyalitasnya kepada PBR (Pemimpin Besar Revolusi), Soekarno.

3)

Dewan Jendral bekerjasama dengan imperialis. Citra yang hendak dibangun adalah TNI
AD telah menghianati perjuangan rakyat.

4)

Dewan Jendral akan merebut kekuasaan dari Presiden Soekarno dengan memanfaatkan
pengerahan pasukan daerah yang didatangkan ke Jakarta dalam rangka peringatan HUT
ABRI tanggal 5 Oktober 1965.
PKI juga melancarkan isu Dokumen Gilchrist. Gilchrist adalah nama duta besar Inggris
di Jakarta yang bertugas tahun 1963-1966. Dengan isu ini seolah-olah ada kerja sama
antara unsur-unsur TNI-AD dengan pihak Amerika dan Inggris, yang pada waktu itu
dikategorokan sebagai salah satu kekuatan Nekolim.

Isu mengenai Dewan Jendral akan mengadakan perebutan kekuasaan dari


Presiden Soekarno tersebut semakin menguat. PKI merasa perlu untuk mengadakan
gerakan militer guna mendahului rencana Dewan Jendral. Terlebih karena kondisi
presiden Soekarno yang sakit, membuat D.N Aidit memperkuat keadaan dengan
menyampaikan bahwa jika Presiden Soekarno tidak ada lagi kemungkinan terbesar TNI-AD
lah yang akan menghancurkan PKI, maka sebelum semua itu terjadi PKI harus mendahului
untuk melumpuhkan TNI-AD.

Untuk melaksanakan maksud tersebut segala hal telah dipersiapkan termasuk


latihan militer PKI beserta organisasi massanya. Rencananya gerakan akan dilaksanakan

pada tanggal 30 September 1965, akan tetapi karena belum berkumpulnya seluruh
komandan satuan yang akan melaksanakan penculikan maka pelaksanaan gerakan
diubah menjadi tanggal 1 Oktober 1965, meskipun nama gerakannya tetap Gerakan 30
September. Sesuai rencana pada tanggal 1 Oktober 1965, PKI melakukan aksi penculikan,
penyiksaan, dan pembunuhan terhadap Dewan Jenderal. Para korban tersebut dikubur
dalam satu sumur yang terletak di daerah Lubang Buaya, Pondok Gede, Jakarta.
Untuk menumpas aksi PKI tersebut maka Pangkostrad Mayjen TNI Soeharto
mengerahkan personil Markas Kostrad dan satuan-satuan lainnya. Serta melakukan usaha
menarik dan menyadarkan kesatuan-kesatuan yang telah dipengaruhui dan digunakan
oleh Gerakan 30 September. Langkah konsolidasi dan koordinasi tersebut berhasil. Selain
itu usaha untuk merebut Stodio RRI Jakarta dan Kantor Besar Telkompun berhasil dikuasai.
Basis Gerakan 30 September yaitu daerah Pangkalan Udara Halimpun berhasil dikuasai.
Para pendukung gerakan menghentikan perlawanan dan melarikan diri meninggalkan
daerah Pondok Gede.
Upaya selanjutnya untuk menemukan para korban penculikan pun berhasil
dilakukan. Para pemimpin TNI-AD yang meninggal akibat peristiwa Gerakan 30 September
tersebut dibersihkan dan disemayamkan di Aula Markas Besar TNI-AD Jalan Merdeka
Utara, Jakarta Pusat untuk selanjutnya pada tanggal 5 Oktober 1965 bertepatan dengan
HUT ABRI ke-20 jenazah para pemimpin TNI-AD tersebut dimakamkan dengan upacara
kebesaran militer di Taman Makam Pahlawan Nasional Kalibata.

KESIMPULAN:

SARAN:

Daftar Pustaka
http://sukmalelana.blogspot.com/2011/01/gerakan-permesta.html
http://mkssej6.blogspot.com/2012/10/angkatan-perang-ratu-adil-apra.html
http://mkssej6.blogspot.com/2012/10/pemberontakan-republik-maluku-selatan.html
http://mkssej6.blogspot.com/2012/10/pemberontakan-andi-azis.html
http://mkssej6.blogspot.com/2012/10/gerakan-30-september-1965.html