Anda di halaman 1dari 22

BAB I

PENDAHULUAN

1.

LATAR BELAKANG
Laboratorium sains (IPA) adalah suatu tempat di mana guru dan siswa

melakukan percobaan dan penelitian. Dengan mempelajari materi IPA secara


langsung maka siswa akan mudah untuk memahami materi tersebut. Untuk
mengoptimalkan fungsi laboratorium IPA, kegiatan dalam kerja laboratorium IPA
harus dituntun oleh langkah-langkah ilmiah atau yang disebut metode ilmiah, selain
itu laboratorium diharapkan dapat mengembangkan kreatifitas subyek belajar.
Laboratorium memiliki peran sebagai tempat dilakukannya percobaan atau
penelitian. Di dalam pembelajaran sains, laboratorium berperan sebagai tempat
kegiatan penunjang dari kegiatan kelas. Bahkan mungkin sebaliknya bahwa yang
berperan utama dalam pembelajaran sain adalah laboratorium, sedangkan kelas
sebagai tempat kegiatan penunjang. Fungsi lain dari laboratorium adalah sebagai
tempat display atau pameran. Contohnya kita dapat menyaksikan adanya sejumlah
spesimen hewan atau tumbuhan yang sengaja dipampang untuk pembelajaran.
Kadang-kadang di dalam laboratorium juga dikoleksi sejumlah spesies langka atau
bahkan yang sudah punah, baik yang mikroskopis maupun yang makroskopis.
Dalam hal ini laboratorium ternyata juga dapat berperan sebagai musium kecil.
Selain itu masih banyak lagi peranan laboratorium, sebagai perpustakaan IPA,
sumber-sumber IPA.
Pengelolaan laboratorium merupakan suatu proses pendayagunaan sumber
daya secara efektif dan efisien untuk mencapai suatu sasaran yang diharapkan
secara optimal dengan memperhatikan keberlanjutan fungsi sumber daya.
Pengelolaan hendaknya dijalankan berkaitan dengan unsur atau fungsi-fungsi
manajer,

yakni

perencanaan,

pengorganisasian,

pengkoordinasian, dan pengendalian.

pemberian

komando,

Demi kelancaran dan kenyamanan dalam penggunaan dan pemanfaatan


laboratorium, maka perlu adanya pengelolaan dan penataan yang baik secara
berkala yang dilakukan oleh penanggung jawab laboratorium. Hal inilah yang akan
diuraikan dalam makalah ini.

2.

RUMUSAN MASALAH
1. Bagaimana pengawasan terhadap pengelolaan laboratorium ?
2. Bagaimana pengelolaan alat dan bahan praktikum ?
3. Bagaimanakah strategi yang harus dilakukan dalam penyusunan bahan dan
alat praktikum dalam laboratorium ?

3.

TUJUAN
1. Mengetahui pengawasan terhadap pengelolaan laboratorium.
2. Mengetahui pengelolaan alat dan bahan praktikum.
3. Mengetahui Strategi yang harus dilakukan dalam penyusunan bahan dan
alat praktikum dalam laboratorium.

BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengawasan Terhadap Pengelolaan Laboratorium


Laboratorium merupakan sarana penting untuk pendidikan, penelitian,
pelayanan, uji mutu atau quality control serta untuk penunjang proses pembelajaran
di sekolah. Seperti dikemukakan pada PP Nomor 19 tahun 2005 tentang Standar
Nasional Pendidikan pasal 42 ayat 2 bahwa Setiap satuan pendidikan wajib
memiliki prasarana yang memiiki lahan, ruang kelas, ruang pimpinan satuan
pendidikan, ruang pendidik, ruang tata usaha, ruang perpustakaan, ruang
laboratorium, ruang bengkel kerja, ruang unit produksi, ruang kantin, instalasi daya
dan jasa, tempat berolahraga, tempat beribadah, tempat bermain, tempat berkreasi,
dan ruang/tempat lain yang diperlukan untuk menunjang pembeajaran yang teratur
dan berkelanjutan.
Dalam konteks pendidikan di sekolah laboratorium mempunyai fungsi
sebagai tempat proses pembelajaran dengan metode praktikum yang dapat
memberikan pengalaman belajar pada siswa untuk berinteraksi dengan alat dan
bahan serta mengobservasi

berbagai

gejala

secara langsung. Kegiatan

laboratorium/praktikum akan memberikan peran yang sangat besar terutama dalam:


1. Membangun pemahaman konsep;
2. Verifikasi (pembuktian) kebenaran konsep;
3. Menumbuhkan keterampilan proses (keterampilan dasar bekerja ilmiah)
serta afektif siswa;
4. Menumbuhkan rasa suka dan motivasi terhadap pelajaran yang dipelajari;
dan
5. Melatih kemampuan psikomotor.
Dengan fungsi tersebut, perlu adanya pengelolaan agar fungsi-fungsi utama
laboratorium dapat dirasakan oleh siswa. Pengelolaan merupakan suatu proses
pendayagunaan sumber daya secara efektif dan efisien untuk mencapai suatu

sasaran yang diharapkan secara optimal dengan memperhatikan keberlanjutan


fungsi sumber daya. Pengelolaan hendaknya dijalankan berkaitan dengan unsur
atau fungsi-fungsi manajer, yakni perencanaan, pengorganisasian, pemberian
komando, pengkoordinasian, dan pengendalian.
Pada dasarnya pengelolaan laboratorium merupakan tanggung jawab
bersama baik pengelola maupun pengguna. Oleh karena itu, setiap orang yang
terlibat harus memiliki kesadaran untuk mengatur, memelihara, dan mengusahakan
keselamatan kerja. Mengatur dan memelihara laboratorium merupakan upaya agar
laboratorium selalu tetap berfungsi sebagaimana mestinya. Sedangkan upaya
menjaga keselamatan kerja mencakup usaha untuk selalu mencegah kemungkinan
terjadinya kecelakaan sewaktu bekerja di laboratorium dan penanganannya bila
terjadi kecelakaan. Para pengelola laboratorium hendaknya memiliki pemahaman
dan keterampilan kerja di laboratorium, bekerja sesuai tugas dan tanggung
jawabnya, dan mengikuti peraturan. Pada umumnya pengelola laboratorium di
sekolah meliputi kepala sekolah, wakil kepala sekolah, koordinator laboratorium,
penanggung jawab laboratorium, dan laboran.
Kunci keberhasilan laboratorium ditentukan oleh strategi pengelolaan yang
meliputi beberapa aspek yaitu perencanaan, penataan, pengadministrasian atau
inventarisasi, serta pengamanan,perawatan dan pengawasan.

1. Perencanaan (Planning)
Perencanaan bukan sekedar mengatur kegiatan, melainkan juga menentukan
indikator keberhasilan dalam setiap tahapan dari kegiatan yang direncanakan.
Dalam pengelolaan laboratorium merencanakan kegiatan

meliputi pelayanan

praktikum, penelitian, pengadaan peralatan dan kebutuhan bahan, optimalisasi


sumber daya, mencari sumber-sumber dana untuk kemandirian dan maintenance.
Perencanaan pengadaan peralatan merupakan hal yang sangat penting,
terutama dalam spesifikasi alat dan bahan. Ketika mengajukan alat, spesifikasi alat
hendaknya jangan mengacu pada katalog yang ada, melainkan pada spesifikasi apa

yang dibutuhkan. Kesalahan menentukan spesifikasi alat dan bahan mengakibatkan


biaya investasi menjadi tinggi. Jangan menentukan spesifikasi peralatan
dengan akurasi tinggi bila dalam pelaksanaannya nanti tidak diperlukan. Demikian
juga dengan bahan-bahan kimia, menggunakan bahan dengan tingkat kemurnian
tinggi merupakan pemborosan bila dalam prosesnya bukan merupakan suatu
kegiatan analisis. Spesifikasi hendaknya disusun berdasar pada karakteristik
kebutuhan, sarana yang ada dan ruang untuk penyimpanan. Selain itu dalam
pengadaan alat harus bisa dijamin adanya tenaga yang mampu mengoperasionalkan
alat. Jangan merencanakan pengadaan alat yang tidak ada tenaga yang akan
mengoperasikannya. Apabila memang dibutuhkan maka harus dilakukan training
yang relevan dengan penggunaan alat.

2.

Pengaturan (Organizing)
Pengaturan merupakan upaya untuk menjalankan kegiatan laboratorium

sebagaimana fungsinya. Pengaturan mencakup setting secara fisik dan regulating.

a. Setting
Setting merupakan suatu kegiatan pengaturan tata letak dan penataan yang
mencakup

penempatan

mebeler,

peralatan

dan

bahan

kimia.

Setting laboratorium hendaknya dapat memberikan dukungan yang optimal


terhadap keberlangsungan kegiatan belajar mengajar. Setting ini perlu
memperhatikan prinsip-prinsip keselamatan, efektivitas dan efisiensi, serta
kemudahan pengawasan. Prinsip keselamatan dimaksudkan penempatan alatalat dan bahan diusahakan sekecil mungkin memberikan resiko terjadinya
kecelakaan. Petunjuk penggunaan alat harus tersedia dekat peralatan khusus
disertai dengan daftar isian penggunaan alat (kartu alat).
Prinsip efisiensi dan efektivitas penggunaan alat dimaksudkan bahwa
penempatan alat memberikan kesempatan yang tinggi kepada mahasiswa untuk
menggunakan alat sesuai peruntukkannya dalam mengembangkan ketrampilan
dasar laboratorium dengan hasil yang optimal. Selain itu juga memberikan
kesempatan kepada mahasiswa untuk lebih familiar dengan alat-alat.

Setting juga diharapkan dapat memperkecil energi untuk melakukan


pengawasan, dengan cara memberikan pendelegasian pengawasan secara
bertingkat. Adanya format isian untuk peralatan khusus merupakan suatu proses
pendelegasian, sehingga mengurangi beban kerja dosen/laboran pengawasan.
Setiap pengguna melakukan pengecekan terhadap keutuhan, kebersihan dan
fungsi alat sebelum dan sesudah kegiatan.
Tujuan Tata Letak laboratorium :
-

Mengurangi hambatan dalam upaya melaksanakan suatu pekerjaan yang


menjadi tanggung jawabnya.

memberikan keamanan dan kenyamanan bagi pengguna/ pekerja/


operator.

Memaksimalkan penggunaan peralatan.

Memberikan hasil yang maksimal dengan pendanaan yang minimal

Mempermudah pengawasan.

Prinsip-prinsip yang perlu diperhatikan dalam menyusun tata letak peralatan dan
perabotan laboratorium adalah:
-

Mudah dilihat

Mudah dijangkau

Aman untuk alat

Aman untuk pemakai

b. Regulating
Regulating merupakan suatu pengaturan jadwal kegiatan dan penyusunan
perangkat lunak untuk terlaksananya ketertiban dan keselamatan bekerja di
laboratorium. Semua orang diberi kebebasan untuk bekerja di laboratorium
dengan seperangkat aturan yang mengatur kegiatan di laboratorium. Aturanaturan tersebut merupakan guide line yang dapat berupa perangkat formal atau
normative bekerja di laboratorium. Diantaranya adalah struktur organisasi, job
description, diagram alur, penjadwalan, tata tertib, prosedur penggunaan alat,
petunjuk praktikum dan prosedur keselamatan kerja. Setiap personal yang
bekerja di laboratorium harus memahami aturan yang berlaku. Oleh karena itu
6

tata tertib harus jelas terpasang di ruangan dan perhatian mahasiswa seharusnya
tertarik terhadapnya.

3.

Pengadministrasian atau Inventarisasi


Pengadministrasian

atau

inventarisasi

merupakan

suatu

proses

pendokumentasian seluruh sarana dan prasarana serta aktivitas laboratorium.


Kegiatan administrasi laboratorium meliputi segala kegiatan administrasi yang ada
di laboratorium, yaitu:
a. Inventarisasi peralatan laboratorium;
b. Daftar kebutuhan alat baru, alat tambahan, alat rusak, alat yang
dipinjamkan;
-

Keluar masuk surat-menyurat;

Daftar pemakaian laboratorium, jadwal kegiatan laboratorium;

Daftar inventarisasi alat-alat meubeair (kursi, bangku, lemari, dll); dan

Sistem evaluasi dan pelaporan.


Inventarisasi peralatan laboratorium dan bahan kimia sangat penting dan

merupakan asset pendidikan yang sangat berharga sehingga harus dilakukan secara
ketat, inventarisasi laboratorium bertujuan untuk:
-

Mencegah terjadinya kehilangan dan penyalahgunaan;

Mengurangi biaya operasional;

Meningkatkan proses pekerjaan dan hasil;

Meningkatkan kualitas kerja;

Mengurangi resiko kehilangan, rusak dan pecah;

Mencegah pemakaian yang berlebihan;

Meningkatkan kerjasama dengan laboratorium lain; dan

Mendukung terciptanya kondisi yang aman.


Daftar alat sebagai bukti inventaris laboratorium merupakan suatu

keharusan, dibuat dalam bentuk keseluruhan atau perlaboratorium. Dapat


dikategorisasi berdasarkan jenis alat, bahan alat, kerja alat dsb. Dalam daftar
hendaknya sekurang-kurangnya tercantum kode alat (berdasarkan ketentuan yang
7

berlaku), jumlah, spesifikasi dan nomor seri, tahun kedatangan dan asal.
Pencatatan mengenai pemakai dan riwayat alat untuk alat-alat tertentu biasanya
dibuat dalam bentuk kartu alat. Kartu alat merupakan data spesifikasi alat, prosedur
penggunaan, catatan pemakaian, dan riwayat service atau perbaikan kerusakan serta
keberadaan suku cadang atau consumable part. Kartu alat biasanya diletakkan atau
digantungkan pada alat. Dengan adanya kartu alat ini lebih memudahkan proses
pengawasan, karena setiap pemakai akan memeriksa kondisi alat berdasarkan
spesifikasi dan kelengkapan yang tercantum dalam kartu alat tersebut.
Pencatatan mengenai bahan penting untuk mengetahui jenis dan jumlah bahan serta
masa kadaluarsa. Dengan mengetahui jenis dan jumlah bahan dapat diperkirakan
dan diprioritaskan bahan yang akan dibeli. Bahan-bahan dengan jumlah yang
sedikit dan kadaluarsa menjadi prioritas kebutuhan. Administrasi bahan yang baik
dapat menghindarkan pembelian ulang bahan yang sama.
Menurut Instruksi Mendikbud No. 4/M/1980 tentang tata pelaksanaan dan
pelaporan hasil inventarisasi barang milik/kekayaan negara di lingkungan
Depdikbud, maka ada beberapa daftar alat inventarisasi yang harus digunakan atau
diisi, diantaranya:
-

Buku Induk Barang Inventaris

Buku Catatan Barang Inventaris

Buku Golongan Barang Inventaris

Laporan Triwulan Mutasi barang

Daftar Isian Barang

Daftar Rekapitulasi barang Inventaris

Contoh format dokumen/alat inventaris yang telah banyak dikembangkan dan


digunakan:
Daftar Isian Barang Inventaris Yang Dipakai
Nama Barang

No

Inventaris

Nama Kelompok
Barang

Kode Barang

Jumlah
Barang

1
2

4. Pengamanan, Perawatan dan Pengawasan


a. Pengamanan
Ada beberapa prinsip umum pengamanan laboratorium meliputi:
-

Tanggung jawab
Kepala Laboratorium, laboran, asisten dan pemakai laboratorium
bertanggung jawab penuh terhadap segala kecelakaan yang mungkin
timbul. Karenanya Kepala Laboratorium seharusnya dijabat oleh orang
yang kompeten dibidangnya, termasuk juga teknisi dan laborannya.

Penempatan alat dan bahan


Penempatan peralatan laboratorium harus disimpan di tempat yang aman
dan disusun secara teratur pada tempat tertentu, berupa rak atau meja yang
disediakan. Penempatan bahan-bahan kimia juga harus di tempatkan pada
tempat yang aman dan disimpan terpisah berdasarkan sifat dan
golongannya masing-masing.

Kerapian
Semua koridor, jalan keluar dan alat pemadam api harus bebas dari
hambatan seperti botol- botol, dan kotak-kotak. Lantai harus bersih dan
bebas minyak, air dan material lain yang mungkin menyebabkan lantai

licin. Semua alat-alat dan reagensia bahan kimia yang telah digunakan
harus dikembalikan ketempat semula seperti sebelum digunakan.
-

Kebersihan laboratorium
Kebersihan dalam laboratorium menjadi tanggung jawab bersama
pengguna laboratorium.

Pertolongan pertama (First - Aid)


Setiap kecelakaan harus ditangani di tempat dengan memberikan
pertolongan pertama. Misalnya, bila mata terpercik dengan bahan kimia
segera aliri air dalam jumlah yang banyak, jika tidak bisa segera panggil
dokter. Jadi setiap laboratorium harus memiliki kotak P3K, dan harus
selalu dikontrol isinya.

Pakaian
Saat bekerja di laboratorium harus memakai jas laboratorium dan dilarang
memakai pakaian longgar, kancing terbuka, berlengan panjang, kalung
teruntai, dan lain-lain yang mungkin dapat terkena bahan kimia dan
tersangkut oleh mesin, ketika bekerja dengan mesin-mesin yang bergerak.
Selain pakaian, rambut harus diikat dengan rapi.

Dilarang berlari di laboratorium


Tidak dibenarkan berlari di laboratorium atau di koridor, berjalanlah di
tengah koridor untuk menghindari tabrakan dengan orang lain.

Pintu-pintu
Pintu-pintu harus dilengkapi dengan jendela pengintip untuk mencegah
terjadinya kecelakaan (misalnya: kebakaran).

b.

Perawatan
Perawatan atau pemeliharaan bukan berarti alat harus disimpan dengan

baik sehingga alatnya selalu utuh, akan tetapi alat harus tetap dipergunakan
agar tahan lama, dan harus dilakukan perawatan dengan cara menyimpan alat
pada tempat yang aman, menjaga kebersihan alat, dan penyusunan
penyimpanan alat-alat yang berbentuk set. Dalam perawatan atau pemeliharaan
alat perlu diketahui sifat-sifat dasar alat, antara lain:

10

Zat atau bahan dasar pembuatan;

Berat alat;

Kepekaan alat terhadap pengaruh lingkungan;

Pengaruh bahan kimia;

Pengaruh alat yang satu dengan yang lain;

Nilai/harga dari alat; dan

Bentuk dalam set.

c.

Pengawasan
Pengawasan adalah aktivitas yang mengusahakan agar pekerjaan-

pekerjaan terlaksana sesuai dengan rencana yang ditetapkan atau hasil yang
dikehendaki. Untuk dapat menjalankan pengawasan, perlu diperhatikan 2
prinsip pokok, yaitu adanya rencana, dan adanya instruksi-instruksi dan
pemberian wewenang kepada bawahan. Pengawasan laboratorium bertujuan
untuk :
-

Memantau dan mengarahkan secara berkala praktek-praktek laboratorium


yang baik, benar dan aman;

Memastikan

semua

petugas

laboratorium

memahami

cara-cara

menghindari risiko bahaya dalam laboratorium;


-

Melakukan penyelidikan/pengusutan segala peristiwa berbahaya atau


kecelakaan;

Mengembangkan sistem pencatatan dan pelaporan tentang keamanan kerja


laboratorium; dan

Melakukan tindakan darurat untuk mengatasi peristiwa berbahaya dan


mencegah meluasnya bahaya tersebut.

B. Pengelolaan Alat dan Bahan Praktikum


Dalam laboratorium bukan hanya pengelolaan yang penting untuk
dilakukan, tapi pada laboratorium juga banyak alat dan bahan yang perlu untuk di
simpan dengan benar. Alat-alat yang sering digunakan dalam laboratorium
memiliki cara penyimpanan yang berbeda dengan alat-alat yang jarang digunakan.
11

Dimana alat-alat yang ada di laboratorium memiliki bahan-bahan yang berbeda,


dan cara penyimpanannnya pun juga agak sedikit berbeda. Tidak hanya pada alatalat yang harus disimpan dengan benar, tapi bahan-bahan yang ada di laboratorium
juga harus disimpann sesuai dengan spesifikasinya dan sesuai dengan kegunaannya.
Keselamatan di laboratorium akan terjamin bila penanganan bahan kimia
dilakukan dengan berpedoman pada rambu-rambu yang biasanya terdapat di
kemasan bahan kimia. Aktivitas di laboratorium yang menggunakan bahan-bahan
kimia tentu tidak lepas dari peralatan yang digunakan sehingga bahaya tidak hanya
disebabkan oleh penanganan bahan yang salah, namun juga dapat terjadi bahaya
fisik dari peralatan yang kita gunakan bila kita tidak berpedoman pada aturan
tentang penanganan alat. Adapun macam-macam alat yang ada di laboratorium,
meliputi :
Alat ukur, seperti thermometer, barometer, respirometer, gelas ukur,
stopwatch, mikrometer sekrup, dsb.
Gambar

laboratorium

Berbagai
yang

alat
dapat

digunakan untuk mengukur.

Alat dari gelas, seperti tabung reaksi, labu erlenmeyer, pembakar spiritus,
dsb.
Gambar 2 : Berbagai
alat laboratorium yang
terbuat dari gelas.

12

Pada mata pelajaran biologi ada juga alat yang digunakan adalah sebuah
model atau alat peraga, seperti model pencernaan, model pernapasan, model
kerangka, model indera dan organ lainnya.
Gambar 3 : Berbagai alat
laboratorium yang merupakan
model
biasanya

dimana

model

digunankan

ini
pada

pelajaran biologi.

Bagan, seperti bagan klasifikasi makhluk hidup, bagan metamorfosis pada


katak, bagan sistem pengeluaran manusia, dsb.
Gambar 4 :

Berbagai alat

laboratorium yang merupakan


bagan

dimana

biasanya

bagan

digunankan

ini
pada

pelajaran biologi.

Alat siap pakai (rakitan), seperti kit listrik, kit magnet, kit optik, dsb.
Gambar 5 :
laboratorium

Berbagai alat
yang

berupa

rakitan, biasanya ini digunakan


pada laboratorium fisika atau
laboratorium tekhik.
Alat bantu proses percobaan seperti pinset, gunting dan pembakar
bunsen/spiritus, mortar dan
alu.
Gambar 6 : Berbagai alat
bantu dalam laboratorium.

13

Perlengkapan pendukung (perkakas) yang diperlukan selama bekerja di


laboratorium IPA, seperti :
1. Alat pemadam kebakaran, dapat diganti dengan pasir basah dan karung goni
basah.
2. Kotak Pertolongan Pertama lengkap dengan isinya (obat, kasa, plester, obat
luka).
3. Alat kebersihan seperti sapu, pengki/serokan sampah, lap pel, sikat tabung
reaksi.
4. Alat bantu lainnya seperti obeng, palu, tang, gergaji dsb.

Gambar 7 : Berbagai alat


laboratorium yang merupakan
perkakas pendukung.

Alat di laboratorium IPA berdasarkan bahan pembuatnya, meliputi


kelompok :
1. Alat optik (kaca), seperti tabung reaksi, labu erlenmeyer, pembakar spiritus.
2. Alat dari logam, seperti kasa asbes, peralatan bedah dsb.
3. Alat dari kayu, seperti rak tabung reaksi, penjepit tabung reaksi dsb
4. Alat dari plastik, seperti botol zat kimia dsb.
5. Alat dari bahan lainnya seperti sikat tabung reaksi dari ijuk, sumbat gabus
dan mortar dari porselain.

14

Gambar 8

: Berbagai alat

laboratorium
dikelompokkan

yang
berdasarkan

bahan pembuatnya

Penataan (ordering) alat / bahan adalah proses pengaturan alat / bahan di


laboratorium agar tertata dengan baik. Dalam menata alat / bahan tersebut berkaitan
erat dengan keteraturan dalam penyimpanan maupun kemudahan dalam
pemeliharaan, yang harus diketahui sebelum melakukan penataan yaitu:
1. Mengenali alat dan fungsinya
2. Mengenali sifat bahan
3. Kualitas alat termasuk kecanggihan dan ketelitian
4. Keperangkatan
5. Nilai/harga alat
6. Kualitas alat tersebut dan kelangkaannya
7. Bahan dasar penyusun alat
8. Bentuk dan ukuran alat
9. Bobot/berat alat
Alat yang digunakan dalam kegiatan di laboratorium IPA memerlukan
perlakuan khusus sesuai sifat dan karakteristik masing-masing. Perlakuan yang
salah dalam membawa, menggunakan dan menyimpan alat di laboratorium IPA
dapat menyebabkan kerusakan alat dan bahan. Cara memperlakukan alat dan bahan
di laboratorium IPA secara tepat dapat menentukan keberhasilan dan kelancaran
kegiatan. Cara menyimpan alat laboratorium IPA dengan memperhatikan bahan

15

pembuat alat tersebut, bobot alat, keterpakaiannya, serta sesuai pokok bahasannya.
Penyimpanan alat menurut aturan tertentu harus disepakati antara pengelola
laboratorium dan diketahui oleh pengguna/praktikan.
Untuk memudahkan dalam penyimpanan dan pengambilan kembali alat di
laboratorium, maka sebaiknya dibuatkan daftar inventaris alat yang lengkap dengan
kode dan jumlah masing-masing. Alat yang rusak atau pecah sebaiknya
ditempatkan pada tempat tersendiri, dan dituliskan dalam buku kasus dan buku
inventaris laboratorium IPA.
Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam penyimpanan alat yaitu :
1.

Bahan dasar pembuatan alat

2.

Bobot alat

3.

Kepekaan alat terhadap lingkungan

4.

Pengaruh alat yang lain

5.

Kelengkapan perangkat alat dalam suatu set

Penataan dan penyimpanan alat / bahan didasarkan pada :


1.

Keadaan

laboratorium

yang

ditentukan

oleh

fasilitas,

susunan

laboratorium, dan keadaan alat/bahan.


2.

Kepentingan pemakai ditentukan berdasarkan kemudahan dicari dan


dicapai, keamanan dalam penyimpanan dan pengambilannya.

Dasar dari penyimpanan alat, yaitu :


1.

Jenis Alat, misalnya gelas kimia, corong, cawan petri, lumpang dan alu

2.

Jenis bahan pembuat, misalnya kaca, porselin, logam dan kayu

3.

Percobaan, misalnya laju reaksi, kesetimbangan, dll

4.

Seberapa sering alat digunakan

Penyimpanan alat dan bahan juga harus memperhatikan kegiatan dibawah


ini:
1.

Alat-alat yang sering digunakan, alat yang boleh diambil sendiri oleh siswa
dan alat- alat yang mahal harganya penyimpanannya dipisah

16

2.

Alat-alat untuk percobaan fisika biasanya dikumpulkan menurut golongan


percobaannya

3.

Alat-alat yang digunakan untuk beberapa jenis percobaan disimpan


tersendiri ditempat khusus.

4.

Alat-alat untuk percobaan biologi umumnya disimpan menurut judul


percobaan atau dapat dilakukan berdasarkan atas bahan alat

Adapun perlakuan terhadap alat-alat di laboratorium seperti :


1. Membawa alat sesuai petunjuk penggunaan
2. Menggunakan alat sesuai petunjuk penggunaan.
3. Menjaga kebersihan alat
4. Menyimpan alat
Gambar 8 : Berbagai alat
laboratorium yang disimpan
pada lemari alat.

Tata letak dan pengaturan perabot laboratorium IPA


1. Prinsip keamanan
Alat disimpan supaya aman dari pencuri dan kerusakan, atas dasar alat yang
mudah dibawa dan mahal harganya seperti stop watch perlu disimpan pada lemari
terkunci. Aman juga berarti tidak menimbulkan akibat rusaknya alat dan bahan
sehingga fungsinya berkurang.
2. Prinsip Kemudahan

17

Untuk memudahkan mencari letak masing masing alat dan bahan, perlu
diberi tanda yaitu dengan menggunakan label pada setiap tempat penyimpanan alat
(lemari, rak atau laci).
3. Prinsip Keleluasaan
Penyimpanan alat diperlukan ruang penyimpanan dan perlengkapan seperti
lemari, rak dan laci yang ukurannya disesuaikan dengan luas ruangan yang tersedia.
4. Prinsip Keindahan
Cara penyimpanan alat dan bahan dapat berdasarkan jenis alat, pokok
bahasan, golongan percobaan dan bahan pembuat alat :
-

Pengelompokan alat alat fisika berdasarkan pokok bahasannya seperti :


Gaya dan Usaha (Mekanika), Panas, Bunyi, Gelombang, Optik, Magnet,
Listrik, Ilmu, dan Alat reparasi.

Pengelompokan alat alat biologi menurut golongan percobaannya,


seperti : Anatomi, Fisiologi, Ekologi dan Morfologi.

Pengelompokan alat alat kimia berdasarkan bahan pembuat alat tersebut


seperti : logam, kaca, porselen, plastik dan karet.

Jika alat laboratorium dibuat dari beberapa bahan, alat itu dimasukkan ke
dalam kelompok bahan yang banyak digunakan.

Penyimpanan alat diperlukan ruang penyimpanan dan perlengkapan


seperti lemari, rak dan laci . Pengelompokan alat alat kimia berdasarkan
bahan pembuat alat tersebut seperti : logam, kaca, porselen, plastik dan
karet
Penyimpanan alat dan bahan selain berdasar hal hal di atas, ada beberapa

hal yang perlu diperhatikan yaitu :


-

Mikroskop disimpan dalam lemari terpisah dengan zat higroskopis dan


dipasang lampu yang selalu menyala untuk menjaga agar udara tetap
kering dan mencegah tumbuhnya jamur.

Alat berbentuk set, penyimpanannya harus dalam bentuk set yang tidak
terpasang.

Ada alat yang harus disimpan berdiri, misalnya higrometer, neraca lengan
dan beaker glass.

18

Alat yang memiliki bobot relatif berat, disimpan pada tempat yang
tingginya tidak melebihi tinggi bahu.

Penyimpanan zat kimia harus diberi label dengan jelas dan disusun
menurut abjad.

Zat kimia beracun harus disimpan dalam lemari terpisah dan terkunci, zat
kimia yang mudah menguap harus disimpan di ruangan terpisah dengan
ventilasi yang baik.

Penyimpanan alat perlu memperhatikan frekuensi pemakaian alat. Apabila


alat itu sering dipakai maka alat tersebut disimpan pada tempat yang mudah
diambil. Alat alat yang boleh diambil oleh siswa dengan sepengetahuan guru
pembimbing, hendaknya diletakkan pada meja demonstrasi atau di lemari di bawah
meja keramik yang menempel di dinding. Contoh alat yang dapat diletakkan di meja
demonstrasi adalah : kaki tiga, asbes dengan kasa dan tabung reaksi.
Penyimpanan dan pemeliharaan alat / bahan harus memperhitungkan
sumber kerusakan alat dan bahan. Sumber kerusakan alat dan bahan akibat
lingkungan meliputi hal hal berikut:
-

Udara
Udara mengandung oksigen dan uap air (memilki kelembaban). Kandungan
ini memungkinkan alat dari besi menjadi berkarat dan membuat kusam
logam lainnya seperti tembaga dan kuningan. Usaha untuk menghindarkan
barang tersebut terkena udara bebas seprti dengan cara mengecat, memoles,
memvernis serta melapisi dengan khrom atau nikel. Kontak dengan udara
bebas dapat menyebabkan bahan kimia bereaksi. Akibat reaksi bahan kimia
dengan udara bebas seperti timbulnya zat baru, terjadinya endapan, gas dan
panas. Dampaknya bahan kimia tersebut tidak berfungsi lagi serta dapat
menimbulkan kecelakaan dan keracunan.

Air dan Asam Basa


Alat laboratorium sebaiknya disimpan dalam keadaan kering dan bersih,
jauh dari air, asam dan basa. Senyawa air, asam dan basa dapat
menyebabkan kerusakan alat seperti berkarat, korosif dan berubah
fungsinya. Bahan kimia yang bereaksi dengan zat kimia lainnya

19

menyebabkan bahan tersebut tidak berfungsi lagi dan menimbulkan zat


baru, gas, endapan, panas serta kemungkinan terjadinya ledakan.
-

Suhu
Suhu yang tinggi atau rendah dapat mengakibatkan alat memuai atau
mengkerut, memacu terjadinya oksidasi, merusak cat serta mengganggu
fungsi alat elektronika.

Mekanis
Sebaiknya hindarkan alat dan bahan dari benturan, tarikan dan tekanan yang
besar. gangguan mekanis dapat menyebabkan terjadinya kerusakan alat /
bahan.

Cahaya
Secara umum alat dan bahan kimia sebaiknya dihindarkan dari sengatan
matahari secara langsung. Penyimpanan bagi alat dan bahan yang dapat
rusak jika terkena cahaya matahari langsung, sebaiknya disimpan dalam
lemari tertutup. Bahan kimianya sebaiknya disimpan dalam botol yang
berwarna gelap.

Api
Komponen yang menjadi penyebab kebakaran ada tiga, disebut sebagai
segitiga api. Komponen tersebut yaitu adanya bahan bakar, adanya panas
yang cukup tinggi, dan adanya oksigen. Oleh karenanya penyimpanan alat
dan bahan laboratorium harus memperhatikan komponen yang dapat
menimbulkan kebakaran tersebut.

20

BAB III
PENUTUP

A. KESIMPULAN
Laboratorium IPA harus merupakan tempat yang aman bagi para
penggunanya. Kunci

keberhasilan laboratorium ditentukan oleh strategi

pengelolaan laboratorium yaitu perencanaan, penataan, pengadministrasian ATAU


inventarisasi, serta pengamanan, perawatan dan pengawasan. Dalam hal ini seorang
laboran memegang peranan penting dalam menciptakan suatu laboratorium yang
aman. Dengan pengetahuan yang cukup tentang sifat-sifat bahan kimia yang ada di
laboratorium, seorang laboran dapat mengetahui bagaimana cara menangani bahan
kimia tersebut, termasuk bagaimana cara menyimpan dengan baik dan aman.
Pengetahuan tentang kegunaan alat, perawatan dan pemeliharaan alat juga
penting untuk menjaga keawetan alat. Diperlukan kerjasama dari berbagai pihak,
baik dari para siswa, guru dan dosen sebagai pengawas. Dalam melakukan
praktikum siswa dituntut untuk berhati-hati, tidak menganggap remeh setiap
kemungkinan bahaya yang ditimbulkan. Dengan kerjasama yang sinergis dari
berbagai pihak maka akan tercipta laboratorium kimia yang aman dan nyaman bagi
semua orang yang menggunakannya.

B. SARAN
Dalam melakukan kegiatan ataupun dalam melakukann praktikum di
laboratorium, pengguna laboratorium sebaiknya mengikuti peraturan dan asas-asas
yang telat ditetapkan. Karena untuk mencegah terjadinya kecelakaan pada proses
pembelajaran. Selain itu, dalam proses pengelolaan laboratorium hendaknya
seluruh aspek sekolah seperti kepala sekolah, guru dan siswa dapat membantu
untuk merawat laboratoium sehingga akan tercipta laboratorium yang baik dan
nyaman.

21

DAFTAR PUSTAKA

Amien, Moh. 1988. Buku Pedoman Laboratorium dan Petunjuk Praktikum


Pendidikan IPA Umum Untuk Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan.
Jakarta: P2LPTK Depdikbud.

Arikunto, Suharsimi. (1993). Organisasidan Administrasi Pendidikan Teknologi


dan Kejuruan. Jakarta: Raja Grafindo Persada.
Jevuska.

(2009).

Pengelolaan

Laboratorium

Sekolah,

(http://www.jevuska.com/topic/pengelolaan+laboratorium+sekolah.html),
diakses tanggal 31 Januari 2015.

Mardhiah, Aiunun. 2012. (online), (http://ainundhiah.blogspot.com/), diakses


tanggal 31 Januari 2015.

Soemarsono, J., (1997), Pengamanan Kerja dalam Laboratorium Klinik,


Musyawarah Nasional I, Ikatan Laboratorium Kesehatan Indonesia, Jakarta.

Sugiarto, Bowo. (2008). Optimalisasi Pengelolaan Laboratorium IPA SMP,


(http://bowobiologi.blogspot.com/2008/10/optimalisasi-pengelolaanlaboratorium.html), diakses tanggal 31 Januari 2015.

22