Anda di halaman 1dari 10

ILMU BUDAYA DASAR

KESENIAN TAYUBAN

KELAS : 1D
KELOMPOK : 3

UNIVERSITAS NUSANTARA PGRI KEDIRI


2014

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah
Dalam kajian etimologi, Soegio Pranoto (sesepuh tayub asal Nganjuk) mengungkapkan
tayub merupakan kependekan dari ditata ben guyub yang dalam bahasa indonesia berarti
(diatur agar tercipta kerukunan). Makna ini merupakan essensi kesenian tayub yang harus
ditampilkan. Sedangkan dalam buku Bauwana Adat Tata Cara Jawa karangan
Drs.R.Harmanto Bratasiswa disebutkan, tayuban adalah tari yang dilakukan oleh wanita dan pria
berpasang-pasangan. Keberadaan tayub berpangkal pada cerita kedewataan (para dewa-dewi),
yaitu ketika dewa-dewi mataya (menari berjajar-jajar) dengan gerak yang guyub.
Tayub atau tayuban adalah kesenian tradisional khas suku Jawa, khususnya Jawa Tengah
dan Jawa Timur.Hampir disemua daerah di kawasan Jawa mengenal kesenian tayub yang di
kenal sebagai tari pergaulan ini. Daerah itu meliputi Lamongan, Bojonegoro, Tuban, Blora,
Malang, Blitar, Jombang dan daerah daerah di sekitarnya.
Pagelaran tayub merupakan kesenian tradisional warisan nenek moyang kita sejak zaman
kerajaan Singasari dan terus berlangsung turun temurun sebagai tradisi dan budaya lokal
masyarakat Jawa.Pada awalnya tayub sebagai seni gambyong istana yang sarat dengan nuansa
religi dan magis.Namun,seiring dengan perkembangan jaman dan pasang surut kesenian ini
dimata masyarakat, Tayub lebih dikenal sebagai tari pergaulan yang berubah fungsi menjadi
hiburan rakyat, tontonan dan kadang kala digunakan untuk upacara selamatan, perkawinan,
khitanan dan sebagainya.
Adanya perkembangan kesenian tayub ini tentunya diikuti dengan aspek aspek lain yang
menjadi faktor pendorong dan akibat dari perkembangan tayub. Adanya campur tangan
khususnya masuknya budaya asing (modernisasi) di Indonesia berpengaruh juga terhadap bentuk
penyajian kesenian tayub itu sendiri dalam perkembangannya.
Diharapkan setelah dipaparkan secara lebih rinci masalah perubahan budaya yang terjadi
pada bentuk penyajian dan perkembangan kesenian tayub ini semakin menambah pengetahuan
serta bukti tentang sebuah pernyataan yang mengungkapkan bahwa budaya berlangsung dinamis
dan terarah mengikuti perkembangan pola pikir dan kepentingan manusia yang semakin modern.

1.2 Rumusan Masalah


Rumusan masalah dalam makalah ini adalah :
1. Bagaimanakah sejarah pagelaran tayub dan bentuk penyajian kesenian tayub ?
2. Bagaimana perkembangan kesenian tayub ?
3. Apa manfaat pagelaran tayub bagi masyarakat ?
1.3 Tujuan Penelitian
Adapun tujuan penelitian dalam makalah ini adalah :
1. Mendeskripsikan sejarah pagelaran tayub dan bentuk penyajian kesenian tayub.
2. Mendeskripsikan perkembangan kesenian tayub.
3. Mengungkap manfaat pagelaran tayub bagi masayarakat.

PEMBAHASAN
2.1 Sejarah Pagelaran Tayub dan Bentuk Penyajian Kesenian Tayub
A.Sejarah Pagelaran Tayub
Tayub mulai dikenal sejak jaman Kerajaan Singosari. Pertama kali digelar pada waktu
Jumenengan Prabu Tunggul Ametung. Kemudian Tayub berkembang ke Kerajaan Kediri dan
Mojopait. Pada Jaman Kerajaan Demak, kesenian Tayub jarang dipentaskan. Pada waktu Jaman
Kerajaan Demak, kesenian Tayub hanya dapat dijumpai di daerah pedesaan-pedesan yang jauh
dari pusat kota kerajaan.
Seiring berjalannya waktu, sejak berdirinya kerajaan Pajang dan Mataram, kesenian ini
mulai digali kembali. Malahan pada waktu itu Tayub dijadikan Tarian Beksan di Keraton yang

digelar hanya pada waktu acara-acara khusus. Namun disayangkan, penjajah Belanda
memasukkan unsur negatif yang dikenal dengan 3C, Cium, Ciu dan Colek.
Tayub yang telah terkena pengaruh negatif dari penjajah belanda terus terpelihara hingga
pemerintahan dipegang oleh Sunan Pakubuwono III. Sewaktu pemerintahan dipegang oleh
Sunan Pakubuwono ke IV, beliau tidak berkenan dengan adanya pengaruh negatif tersebut.
Akhirnya Tayub ditetapkan sebagai tari Pasrawungan di masyarakat. Selanjutnya kesenian tayub
mengalami perkembangan di daerah Sragen, Wonogiri dan Purwodadi. Di daerah Sragen sendiri,
kesenian Tayub banyak berkembang di Kecamatan Jenar, Gesi, Sukodono, Mondokan dan
Ngrampal.
Citra kesenian tayub pada waktu itu, diperburuk ulah para penari pria atau penonton.
Dulu, para penari ini biasa memberi sawer dengan cara memasukkannya ke kemben atau kain
penutup dada. Dengan demikian muncul kesan bahwa penayub itu murahan. Tetapi, di era
sekarang hal semacam itu sudah amat jarang terjadi.

B.Bentuk Penyajian Kesenian Tayub


Pelaku pementasan seni tayub ada beberapa pemeran yaitu pengarih, waranggana,
penayub dan pengrawit gamelan. Secara rinci masing-masing pelaku tayub akan dijelaskan
sebagai berikut:

a.

Pengarih adalah orang yang mengatur jalannya pertunjukkan tayub dari awal sampai akhir.
Selain itu juga bertugas mengatur urutan giliran kehormatan penari bagi para tamu, melerai
perkelahian yang mungkin terjadi, mencegah hal-hal yang tidak diinginkan misalnya;
keonaran, mabuk-mabukan dan pelanggaran asusila lainnya. Pengarih berjumlah satu orang
atau biasa disebut sebagai pramugari tayub.

b.

Waranggana atau sindir adalah penari wanita dalam tayuban yang selain bertugas
memberikan sampur kepada tamu, juga menyanyi dan menari bersama pengibing (mbesoh).
Seorang Waranggana atau sindir dalam penampilannya selain menari, juga harus bisa
menyanyikan tembang. Selain bermodalkan paras cantik, seorang waranggana harus
memiliki suara yang bagus dan menguasai berbagai macam lagu. Jumlah waranggana atau

sindir dalam pertunjukan tayub tidak pasti, ada yang 2, 4, 6 bahkan ada yang 8 orang penari,
tergantung dari penanggap dan biasanya disesuaikan dengan banyaknya tamu yang
diundang.

c.

Penayub atau mbesoh adalah sebutan bagi tamu yang diberikan kehormatan untuk menari
bersama waranggana dalam acara tayuban yang ditentukan oleh pengarih secara berurutan
atau bergilir. Adapun urutan penayub ditentukan berdasarkan status sosial, pangkat,
kekayaan, dan pengaruh dari kalangan pegawai pemerintah (camat, lurah, polisi, tentara dan
pamong desa), pemuda-pemuda desa, pengusaha dan para petani. Namun, secara umum
penayub atau mbesoh dilakukan secara jamak atau bersamaan. Para penayub menari secara
berjejer berhadapan dengan penayub lainnya. Lalu ditengah- tengah terdapat beberapa
waranggana yang menari dan menyanyi.

d.

Pengrawit gamelan adalah sebutan bagi para pemain (penabuh) gamelan jawa lengkap
yang mengiringi proses pagelaran tayub berlangsung. Macam instrumen gamelan yang di
pakai dalam proses pagelaran tayub adalah kendang, gong, bonang, saron, peking, kenong,
kempul, slentem dan sebagainya.
Tata cara dalam Tayuban pada umumnya tidak begitu mengikat.

Kalaupun dalam

beberapa hal terdapat ketentuan ketentuan yang kelihatannya sudah mentradisi, namun
ketentuan-ketentuan itu tidak begitu ketat.
Orang yang pertama kali memasuki ruangan (arena) Tayuban, menurut kebiasaan adalah
pengrawit atau penabuh gamelan, hal ini dimaksudkan agar saat tamu undangan memasuki
ruangan, mereka telah disambut dengan gending-gending tetabuhan, supaya suasana perayaan
menjadi lebih hangat.Selanjutnya,pengarih atau pramugari tayub membuka acara dengan pidato
pembukaan oleh pramugari atas nama pribadi, tuan rumah dan perwakilan suku atau biasa
disebut lurah desa. Kemudian dilanjutkan dengan tari pembuka yang di lakukan oleh
waranggana. Biasanya tari gambyong jika pada malam hari atau tari blendrong jika tanggapan
pada siang hari. Lalu diteruskan dengan adat pendayangan yaitu menghormati kepercayaan yang
bertujuan agar pagelaran berjalan lancar.

Kemudian pengarih atau pramugari mempersilahkan dan memilih para tamu yang ingin
menari bersama waranggana dan mengatur urutan giliran untuk mbesoh bersama
waranggana.Selanjutnya,sebagai puncak acara para waranggana berdiri untuk siap menari
bersama penayub (tamu) yang sudah ditentukan oleh pengarih dengan terlebih dahulu di berikan
sampur (sejenis selendang) kepada penayub sebagai penanda bahwa penayub siap menari.Lalu
para waranggana yang lain menyanyi dengan menyuguhkan satu tembang jawa. Begitu satu
tembang itu selesai maka penayub diganti lagi dengan penayub yang lain dan waranggana yang
menari dan menyanyi pun berganti pula.
Tempat penyelenggaraan biasanya berupa panggung atau kadang juga disediakan
semacam latar (halaman) yang luas bagi penayub, sedangkan waktunya berlangsung semalam
suntuk di mulai dan pukul 20.00 sampai dengan pukul 05.00 (subuh). Namun pada
perkembangan selanjutnya hanya dilakukan setengah malam saja yaitu antara pukul 20.00
sampai pukul 24.00.
2.2 Perkembangan Kesenian Tayub
Semua kebudayaan yang ada di dunia ini memiliki dinamika atau gerakan sehingga suatu
kebudayaan pasti akan bersifat dinamis. Meskipun kebudayaan nampak statis atau tetap, tetapi
pada hakikatnya kebudayaan bergerak walaupun sangat lambat sekali.Dalam hal ini akan muncul
suatu teori yang menyatakan bahwa adanya suatu kebudayaan pasti akan mengalami suatu proses
yang lazim dinamakan perubahan kebudayaan.Secara rinci Selo Soemardjan mendefinisikan
bahwa perubahan kebudayaan adalah segala perubahan pada lembaga-lembaga masyarakat di
dalam suatu masyarakat yang mempengaruhi sistem sosial dan pola-pola perilaku di antara
kelompok dalam masyarakat. Begitu pula John Lewis Gillin dan John Philip Gillin juga
mendefinisikan bahwa perubahan kebudayaan adalah suatu variasi dari cara-cara hidup yang
diterima, yang disebabkan oleh perubahan-perubahan kondisi geografis kebudayaan material,
komposisi penduduk, ideologi maupun karena adanya difusi dan penemuan baru dalam
masyarakat.

Adanya perubahan kebudayaan juga nampak terlihat jelas dalam perkembangan kesenian
tayub.Perubahan kebudayaan tersebut dapat kita klasifikasikan menjadi empat pokok perubahan
yaitu :
a. Perubahan Fungsi
Pada awalnya pagelaran tayub

murni mengandung unsur magis ( sakral ) dan

religius.Pagelaran tayub biasanya hanya dipentaskan jika ada upacara-upacara adat daerah
setempat seperti nyadran (sedekah bumi) yang biasa diselenggarakan di kuburan kuburan
keramat, selamatan atau syukuran bagi para bupati,camat,lurah atau pejabat negara yang lain jika
terpilih sebagai pemimpin yang baru

atau upacaraupacara tradisi lain yang bersifat

sakral.Namun,seiring dengan perkembangan zaman pagelaran tayub berubah fungsinya menjadi


profan (sekuler) yaitu pagelaran tayub lebih dikenal sebagai seni hiburan, tari pagelaran dan
tontonan bagi masyarakat

b. Perubahan Etika dan Moral bagi Penayub (mbesoh)


Dahulu memang dalam prakteknya terdapat berbagai macam praktek negatif oleh para
penayub (mbesoh) yang mengandung unsur mesum dan sarat akan konsumsi minuman keras
(toak) ketika penayub menari dengan para sindir (waranggana).Praktek mesum itu berupa
pemberian sawer yang berupa uang kepada sindir yang menari dengannya dengan
menyelipkannaya pada belahan payudara sang waranggana,semakin banyak sawerannya maka
penayub akan semakin lama menari dengan waranggana.Bahkan tak jarang dari para waranggana
yang akhirnya terlibat prostitusi dengan penayub. Adanya konsumsi minuman keras (toak) ini
pada awalnya difungsikan sebagai penghormatan kepada tuan rumah,pemuka desa dan para
undangan.Bila minuman yang ditawarkan oleh waranggana kepada tuan rumah diminum,itu
tandanya pengunjung pagelaran tayub juga boleh meminumnya.Fungsi lain dari minuman ini
adalah diharapkan bisa membantu sugesti dan kepercayaan diri seorang penayub (mbesoh).

Namun,adanya praktek ini kini tidak ditemukan lagi pada umumnya pagelaran tayub
sekarang lebih sopan, tertib, dan memiliki keunikan, terutama pada cengkok tembangnya.
Meskipun dalam prakteknya pada pagelaran tayub masih ada unsur sawer, namun cara
pemberiannya di atur melalui pramugari tayub atau diselipkan dibalik sampur waranggana.
c.

Perubahan Penyajian (Jenis Tembang Yang Dinyanyikan Waranggana)


Jika dahulu tembang-tembang yang dinyanyikan oleh waranggana merajuk pada tembang-

tembang jawa asli atau campur sari.Maka dalam prakteknya menggunakan lagu dangdut dan pop
yang biasanya sedang ngetren di pasaran.Namun hal itu tentu saja disesuaikan dengan irama
gamelan jawa pada umumnya.Hal ini bisa dijadikan analisa bahwa kesenian tayub memiliki sifat
terbuka terhadap kebudayaan asing yang masuk dan cenderung melakukan inovasi inovasi
terbaru pada bentuk penyajian tembangnya.Itu berarti para seniman tayub mencoba mengemas
tayub lebih modern penyajiannaya agar para penggemar tayub tidak berkurang.
d. Perubahan Pada Peminat Tayub
Jika dahulu sebelum musik-musik pop dan dangdut mewarnai belantika musik
Indonesia.Para penduduk merujuk pada tembang tembang jawa dan campur sari sebagai
konsumsi musiknya.Hal ini juga berpengaruh pesatnya perkembangan tayub pada masa itu
karena secara nyata belum ada saingannya.Namun,setelah masuknya musik-musik dangdut dan
pop yang mewarnai musik Indonesia, konsumsi musik para penduduk pun beralih mengkiblat
pada duo musik itu.Hal inipun secara tidak langsung pada penurunan secara drastis penikmat
kesenian tayub itu sendiri.Khususnya kaum remaja pada saat ini.Mereka bahkan tidak tahu
menahu bahkan acuh terhadap tradisi tayub itu sendiri.Hal ini pun memang tidak lepas dari
anggapan sebagian masyarakat bahwa pagelaran tayub itu dosa.Karena dahulu konotasi dari
tayub memang negatif,sedang apabila kita amati lebih lanjut bahwa penyanyi dangdut pun kian
lama terlihat sangat erotis dalam berpakaian maupun goyangannya.Hal ini tentu saja sangat jauh
berbeda jika dibandingkan dengan tayub pada masa sekarang ini.Namun,secara fakta
masyarakatjamansekarang lebih sering mengundang elekton atau grup musik dangdut seperti

palapa,sera atau yang lain untuk acara acara seperti perkawinan dan khitanan yang dulunya
merupakan sektor dari tayub itu sendiri.

2.3 Manfaat Pagelaran Tayub Bagi Masyarakat

A.

Manfaat Bagi Seniman Tayub

Bagi para seniman tayub yang notabene personilnya adalah para petani dan ibu rumah

tangga dapat memperoleh penghasilan tambahan dari upah selama masa tunggu panen tiba.
Pagelaran tayub sebagai ungkapan jiwa seni dan estetika musik Jawa bagi para seniman
tayub.

B.

Manfaat Bagi Pemerintah Daerah

Pagelaran tayub dapat dijadikan sebagi suatu obyek pariwisata budaya yang sangat
berpotensi dan bermanfaat bagi perkembangan kebudayaan nasional Indonesia.

Pagelaran tayub dapat menjadi sebuah aset daerah untuk mengangkat perekonomian daerah
melalui sektor pariwisata budaya.

C. Manfaat Bagi Masyarakat

Sebagai aset kebudayaan daerah yang mempunyai nilai adiluhung dan perlu dikembangkan

terus menerus.
Masyarakat dapat menikmati suatu sajian musik yang khas dan tradisional yang memiliki

nilai kesopanan,keamanan dan fungsi sosial yang baik di masyarakat.


Sebagai sebuah kesenian khas daerah yang perlu diwariskan kepada generasi muda agar
terjaga kelestariannya.