Anda di halaman 1dari 7

Perkembangan Standar Akuntansi Pemerintahan

Sejarah akuntansi pemerintahan di Indonesia, dimulai dengan


diwajibkannya pemerintah Indonesia agar memiliki Standar
Akuntansi Pemerintahan dalam UU No. 17 Tahun 2003. Pertama
kalinya
pemerintah
Indonesia
memiliki
Standar
dengan
ditetapkannya PP No. 24 Tahun 2005, yang kemudian diubah dengan
PP No. 71 Tahun 2010. Penerapan basis akrual di Indonesia akan
dimulai tahun 2015. PP No. 71 Tahun 2010 walaupun sudah berbasis
akrual, namun belum sepenuhnya sesuai dengan International Public
Sector Accounting Standard (IPSAS) yang menjadi acuan dalam
bidang sektor publik. Padahal tuntutan lembaga-lembaga donor dari
luar negeri, sangat besar peranannya dalam pengambilan kebijakan
publik di Indonesia, agar pemerintah mengadopsi IPSAS.

Basis dalam Standar Akuntansi


Pemerintahan
1. SAP berbasis kas menuju akrual
Basis Akuntansi yang digunakan dengan laporan keuangan
pemerintah adalah basis kas untuk pengakuan pendapatan, belanja
dan pembiayaan dalam Laporan Realisasi Anggaran dan basis akrual
untuk pengakuan asset, kewajiban dan ekuitas dalam Neraca.
Basis kas untuk Laporan Realisasi Anggaran berarti bahwa
pendapatan diakui pada saat kas di terima di Rekening Kas Umum
Negara / Daerah atau oleh entitas pelaporan dan belanja diakui pada
saat kas dikeluarkan dari Rekening Kas Umum Negara / Daerah atau
entitas pelaporan (PP No.71 tahun 2010).

Penerapan SAP Berbasis Akrual dilaksanakan secara


bertahap dari penerapan SAP Berbasis Kas Menuju Akrual
menjadi penerapan SAP Berbasis Akrual setelah
dikeluarkan PP No. 71 Tahun 2010. Masa transisi untuk
pelaksanaan basis akrual murni paling tidak harus
diterapkan paling lambat 4 tahun sejak diterbitkan
peraturan.
Penerapan SAP berbasis akrual ini sebenarnya sudah
mulai dicanangkan sejak dikeluarkan PP No. 24 Tahun
2005. Saat tahun 2008, Pemerintah Indonesia mulai
berkomitmen untuk melaksanakan reformasi terutama
untuk penerapan akuntansi berbasis akrual untuk pada
setiap instansi pemerintahan.

2. SAP berbasis akrual


SAP Berbasis Akrual, yaitu SAP yang mengakui pendapatan,
beban, aset, utang, dan ekuitas dalam pelaporan finansial
berbasis akrual, serta mengakui pendapatan, belanja, dan
pembiayaan dalampelaporan pelaksanaan anggaran
berdasarkan basis yang ditetapkan dalam APBN/APBD.
Basis Akrual untuk neraca berarti bahwa asset, kewajiban
dan ekuitas dana diakui dan di catat pada saat terjadinya
transaksi, atau pada saat kejadian atau kondisi lingkungan
berpengaruh pada keuangan pemerintah, tanpa
memperhatikan saat kas atau setara kas di terima atau di
bayar (PP No.71 tahun 2010).

Penyusunan SAP Berbasis Akrual dilakukan oleh KSAP


melalui proses baku penyusunan (due process). Proses baku
penyusunan SAP tersebut merupakan pertanggungjawaban
profesional KSAP yang secara lengkap terdapat dalam
Lampiran III Peraturan Pemerintah Nomor 71 Tahun 2010.
Penerapan SAP Berbasis Akrual secara bertahap dilakukan
dengan memperhatikan urutan persiapan dan ruang lingkup
laporan. SAP Berbasis Kas Menuju Akrual dinyatakan dalam
bentuk PSAP dan dilengkapi dengan Kerangka Konseptual
Akuntansi Pemerintahan. PSAP dan Kerangka Konseptual
Akuntansi Pemerintahan dalam rangka SAP Berbasis Kas
Menuju Akrual tercantum dalam Lampiran II Peraturan
Pemerintah Nomor 71 Tahun 2010.

Isu dalam Standar Akuntansi


Pemerintahan
1. Sistem Akuntansi dan Information Technology (IT)
Based System
2. Komitmen dari Pimpinan
3. Tersedianya Sumber Daya Manusia (SDM) yang
Kompeten
4. Resistensi Terhadap Perubahan
5. Lingkungan/Masyarakat

Untuk mengatasi isu tersebut diperlukan


beberapa hal sebagai berikut:
1. Dukungan Sumber Daya Manusia (SDM) yang kompeten dan profesional dalam
pengelolaan keuangan.
2. Dukungan dari pemeriksa laporan keuangan, karena perubahan basis akuntansi
akan mengubah cara pemeriksaan yang dilakukan oleh pemeriksa. Perubahanperubahan yang terjadi harus melalui pertimbangan dari Badan Pemeriksa
Keuangan (BPK).
3. Tersedianya sistem teknologi informasi yang mampu mengakomodasi
persyaratan-persyaratan dalam penerapan akuntansi berbasis akrual.
4. Adanya sistem penganggaran berbasis akrual, karena jika anggaran
pendapatan, belanja, dan pembiayaannya masih berbasi kas sedangkan
realisasinya berbasis akrual, maka antara anggaran dan realisasinya tidak dapat
diperbandingkan.
5. Harus ada komitmen dan dukungan politik dari para pengambil keputusan dalam
pemerintahan, karena upaya penerapan akuntansi berbasis akrual memerlukan
dana yang besar dan waktu yang lama, bahkan lebih lama dari masa periode
jabatan presiden, gubernur, bupati, walikota, dan anggota DPR/DPRD