Anda di halaman 1dari 23

BAB II

PEMBUATAN ASAM SITRAT MENGGUNAKAN Aspergillus niger


I.TUJUAN
1. Membuat Asam Sitrat menggunakan Aspergilllus niger
2. Untuk mengetahui bagaimana Asam Sitrat terhadap penyediaan media
yang berbeda
II.

DASAR TEORI
Asam sitrat adalah asam organik yang secara alami terdapat pada
buah-buahan seperti jeruk, nenas, pear, pisang, dan lain-lain. Asam sitrat
pertama kali diekstraksi dan dikristalisasi dari buah jeruk, sehingga asam
sitrat hasil ektraksi dari buah-buahan ini dikenal sebagai asam sitrat alami.
Wehner (1893) pertama kali melaporkan produksi asam sitrat
sebagai hasil sampingan pada fermentasi produksi asam oksalat dengan
menggunakan Penicillium glaucum. Tahun 1917, Currie juga melaporkan
bahwa Aspergillus niger dapat menghasilkan asam sitrat pada medium pH
rendah dengan kadar gula tinggi. Sejak saat itu asam sitrat diproduksi
secara komersial dengan menggunakan kapang A. niger.
Kapang A. niger merupakan mikroorganisme yang dapat tumbuh
dan banyak digunakan secara komersial dalam produksi asam sitrat, asam
glukonat, dan beberapa enzim seperti pektinase dan amilase (Broekhuijsen
et al. 1993; Okada 1985). A. niger mampu mensintesis asam sitrat dalam
medium fermentasi ekstraseluler dengan konsentrasi yang cukup tinggi,
jika dibiakkan dalam media yang kadar garamnya rendah dan mengandung
gula sebagai sumber karbon (Hang et al. 1977; Ji et al. 1992).
Asam sitrat (C6H8O7) banyak digunakan dalam industri terutama
industri makanan, minuman, dan obat-obatan. Kurang lebih 60% dari total
produksi asam sitrat digunakan dalam industri makanan, dan 30%
digunakan dalam industri farmasi, sedangkan sisanya digunakan dalam
industri pemacu rasa, pengawet, pencegah rusaknya rasa dan aroma,
sebagai antioksidan, pengatur pH dan sebagai pemberi kesan rasa dingin.

Dalam industri makanan dan kembang gula, asam sitrat digunakan sebagai
pemacu rasa, penginversi sukrosa, penghasil warna gelap dan penghelat
ion logam. Dalam industri farmasi asam sitrat digunakan sebgai pelarut
dan pembangkit aroma, sedangkan pada industri kosmetik digunakan
sebagai antioksidan (Bizri & Wahem 1994).
Asam sitrat merupakan senyawa antara pada siklus kreb (siklus
asam trikarboksilat). Lintasan reaksi katabolik yang mendahului
pembentukan asam sitrat ini diantaranya adalah lintasan glikolisis dan
lintasan Entner-Doudoroff yang menyediakan senyawa antara asam
piruvat yang merupakan senyawa kunci dalam metabolisme sel. Sebagian
besar (80%) dari

glukosa diubah menjadi piruvat melalui lintasan

glikolisis. Piruvat akan mengalami dekarboksilasi dan berikatan dengan


koenzim-A membentuk asetil-CoA dan selanjutnya masuk kedalam siklus
krebs untuk bergabung dengan oksaloasetat membentuk asam sitrat.
Piruvat juga bisa langsung masuk ke siklus krebs dengan bantuan enzim
piruvat karboksilase yang mengubah piruvat menjadi oksaloasetat.
Pada A. niger, fosfoenol piruvat dapat diubah langsung menjadi
oksaloasetat (tanpa melalui piruvat) oleh enzim fosfoenol piruvat
karboksilase. Reaksi tersebut membutuhkan ATP sebagai sumber energi,
Mg2+, atau Mn2+, dan K+, atau NH4+. Judoamidjojo & Darwis (1992)
menyatakan bahwa apabila sumber karbon bukan glukosa, misalnya asam
asetat, atau senyawa alifatik berantai panjang (C 9 C23), maka isositrat
liase akan terinduksi sehingga isositrat diubah menjadi glioksilat,
selanjutnya glioksilat diubah menjadi malat oleh sintetase. Bila glukosa
ditambahkan siklus tersebut akan terhambat. Asam sitrat merupakan
metabolik primer, seperti halnya pertumbuhan mikroba secara umum,
pertumbuhan mikroba dalam fermentasi dibatasi oleh ketersediaan
beberapa unsur kelumit (P, Mn, Zn). Peranan ion logam dalam proses ini
belum diketahui secara menyeluruh. Nilai pH optimum sekitar 1,7 2,0.
Jika pH lebih tinggi (alkalis) menyebabkan pembentukan asam asam
oksalat dan glukonat dalam jumlah banyak. Karenanya pengendalian

kondisi proses secara cermat merupakan prasyarat untuk mempertahankan


keteraturan metabolik dan mendukung pembentukan asam sitrat yang lebih
banyak. Kondisi yang sesuai tersebut memungkinkan stimulasi glikolisis
untuk penyediaan aliran karbon yang tidak terbatas ke dalam metabolisme
antara. Akumulasi sitrat selanjutnya tergantung pada pemasokan
oksaloasetat.(Mangunwidjaja & Suryani 1994).
Proses fermentasi asam sitrat dapat dilakukan dengan sistem
terendam, fermentasi kultur permukaan. Fermentasi kultur terendam
dibagi dua yaitu pada fermentor berpengaduk dan pada air lift fermentor.
Sedangkan pada fermentasi kultur permukaan dapat menggunakan media
cair maupun media padat. Fermentasi sistem terendam lebih sulit
dilakukan dibandingkan prosedur permukaan, tetapi dapat dilakukan
secara curah, proses curah terumpani, atau sinambung. Fermentasi curah
digunakan untuk substrat glukosa, dan curah terumpani lebih layak
diterapkan untuk untuk tetes tebu. Biakan sinambung mempunyai
produktivitas yang lebih tinggi (Mangunwidjaja & Suryani, 1994).
Reaksi Pembuatan Asam Sitrat dan Permuniannya meliputi :
a. Reaksi Pembentukan
(C6H10O5)n(s) + nH2O(l) C12H22O11(s)
Karbohidrat

sukrosa

C12H22O11(s) + H2O(l)
Glukosa
C6H12O6(s) + O2(g)

C6H12O6(s) + C6H12O5(s)
fruktosa

C6H8O7(s)

+ 2 H2O(l)

Asam sitrat
b. Reaksi Permunian
2C6H8O7(s)+3Ca(OH)2(l) Ca3(C6H5O7)2(s) + 6 H2O(l)
Ca. Sitrat
Ca3(C6H5O7)2(s) +3H2SO4(l) 3CaSO4(s) +2C6H8O7(s)
Ca. Sulfat

As. Sitrat

C6H8O7(s) + 3 NaOH (l) Na3(C6H5O7)(s)+3 H2O(l)


Na. Sitrat
Hal-Hal yang Berpengaruh :
a. Waktu 7 hari adalah optimum, bila kurang dari 7 hari, bahan baku
belum terfermentasi semua. Bila lebih mungkin asam sitrat berubah
menjadi asam oksalat.
b. Mikroba : Pada percobaan ini digunakan jamur Aspergillus niger.
Keuntungan dari penggunaan jamur ini adalah penanganannya mudah,
dapat digunakan bahan baku yang murah, yield tinggi dan konsisten,
serta ekonomis.
c. Jangan menaruh petri dalam keadaan keadaan terbalik, karena
percobaan dalam surface culture.
d. Konsentrasi gula awal : Konsentrasi gula awal menentukan yield asam
sitrat dan asam organik lain. Untuk Aspergillus niger adalah 15-18%,
jika lebih dari 18% tidak ekonomis dan jika kurang dari 15% terbentuk
asam oksalat.
e. pH Pengaturan pH sangat penting dalam fermentasi. Ini disebabkan
pada pH tertentu, sterilisasi mudah dilakukan. Sterilisasi mula-mula
dilakukan pada pH 2,2 atau lebih rendah. Sebagai pengatur digunakan
asam klorida. Sedang pH yang baik 3,4

- 4,5. Pada pH tinggi

dihasilkan asam oksalat. Untuk kondisi tertentu (misal percobaan)


kadang akan menghasilkan enzim yang hanya berfungsi mengubah
karbohidrat menjadi asam sitrat. Untuk kondisi lain akan dihasilkan
enzim yang lain pula.
f. Pemberian Oksigen : Pemberian oksigen yang terlalu banyak
menimbulkan efek merugikan bagi hasil asam sitrat. Sebaliknya, bila
pemberian oksigen terlalu sedikit akan kurang menguntungkan.
g. Suhu

: Suhu yang baik adalah 26 28 o. Jika lebih dari 30o C,

keasaman naik dan akibatnya ada asam oksalat.

h. Komposisi Media Fermentasi


Tabel 2.1 Komponen Media Fermentasi

Komponen
Kuantitas (gr/l)
Sukrosa
125-150
Ammonium Nitrat
2,0-2,5
Pottasium Dihidrogen Phospat 0,75-1,0
Magnesium Sulfat
0,20-0,25
HCl
Untuk pengaturan pH
Pada umumnya hasil samping pertanian dan perkebunan seperti
jerami padi, onggok, bagas, dan kulit kakao masih mengandung
lignoselulosa. Limbah ini masih mengandung pati, protein, lemak, dan
senyawa kimia lainnya. Dengan teknologi fermentasi, hasil samping
ini dapat dimanfaatkan lebih lanjut menjadi produk lain yang berguna
seperti pangan, pakan ternak, pelarut organik, asam-asam organik
seperti asam sitrat dan lain-lain (Judoamidjojo et al. 1989).
III. PROSEDUR KERJA
1. Alat
a.
b.
c.
d.
e.
f.
g.
h.
i.

Petridish
Beaker Glass
Enlemeyer
Gelas Ukur
Pipet Volume
Inkubator
Oven
Kain Blancu
Kertas Saring

j.
k.
l.
m.
n.
o.
p.
q.
r.

Pompa Vakum
Termometer
Kompor Listrik
Labu Takar
Spatula
Pengaduk Kaca
Corong Pemisah
Gelas Arloji
Neraca Analitik

2. Bahan
a. Sumber Karbohidrat ( pisang )
b. Bekatul
c. Sekam Padi
d. Urea
e. KH2 PO4
f. Aspergillus niger
g. Ca (OH)2
h. H2SO4
i. NaOH
j. Aquades
3.
4. Gambar Alat
5.

6.
Beaker Glass

7.
Petridish
8.
9.

Enlemeyer

10.
Gelas Ukur

Pipet Volume

Inkubator

11.
12.

13.
Kertas Saring

14.
15.

Pompa Vakum

Termometer

16.
Oven

17.
Labu Takar

Neraca Analitik

18.

19.
Kompor Listrik

20.
21.

Pengaduk Kaca

Spatula

22.
Corong Pemisah

23.

Ball Filler

Gelas Arloji

24.

25.
Kain Blancu

26.

27.
28. Skema Kerja
a. Pembuatan Biakan Kapang
29.

Siapkan media

30.
31.

Buat biakan Aspergillus niger

32.
33.
34.
35.

36.

Inkubasi

2 4 hari

Larutkan spora dengan air steril

28o C atau 30o C

Gambar 2.1 Skema pembuatan biakan kapang

37.

b. Penyimpanan Media
1) Fermentasi pada Media Semi Padat
39.

38.
Sumber karbohidrat ( pisang )
Kupas dan haluskan
Timbang

+ urea, sekam padi, bekatul, MgSO4.7H2O

Aduk hingga homogen


+ aquades

Sampai lembab

Atur pH
Tutup beaker gelas dengan alumunium foil
Sterilisasi

1200C 1210C

Biarkan pada suhu kamar


Tanami media suspensi spora + 5mL, aduk hingga merata
Tutup kembali dengan alumunium foil
Inkubasikan
40.
41.
42.
43.
44.
45.
46.
47.

selama 3 hari, pada suhu 280C 300C

Tambah aquades sedikit demi sedikit, max 50 mL


Aduk hingga merata

Saring

Menggunakan pompa vakum

Filtrat di uji asam sitratnya


Gambar 2.2 Skema Fermentasi pada Media Semi Padat

2) Fermentasi pada Media Cair


48.
Sumber karbohidrat (pisang)
49.
Di timbang 50.+ aquades 100 mL
51.

Tutup dengan alumunium foil


Sterilisasi

Selama 15 menit, pada suhu 1210C

Dinginkan
Tanami suspensi spora

Inkubasi

Saring

+ 5 cc, secara aseptik

28 300C
Menggunakan blancu

Filtrat di uji asam sitratnya

52. Gambar 2.3 Skema Fermentasi pada Media Cair


53.

54.
Analisa Hasil
55.

Panaskan filtrat

Suhu 700C

56.
57.
58.
59.
60.

Larutan Ca(OH)2 + 10 mL
Timbul Endapan Cepat cepat disaring
Endapan dicuci

Dengan air panas 700C

61.
62.
63.
64.
65.

Di oven

Selama 3 jam, pada suhu 600C

Ditimbang
Larutkan dengan H2SO4 encer
Atur pH

66.
67. Gambar 2.4 Skema Analisa Hasil
68.

69. IV. HASIL PENGAMATAN


70. Tabel 2.1 Data Pengamatan Asam Sitrat

71. Langkah Kerja


73. Menyiapkan daging buah pisang
yang telah dihaluskan, diperas
hingga sedikit kering
74. Beaker Glass 1 = 40 gram pisang +
7,5 gram gula pasir + 5 gram katul
+ 6 gram urea + 0,5 gram sekam
padi + 0,0125 gram MgSO4 +
sedikit aquades, hingga sedikit
becek
75. Beaker Glass 2 = 40 gram pisang +
7,5 gram gula pasir + 5 gram katul
+ 6 gram urea + 0,5 gram sekam
padi + 0,0125 gram MgSO4 + 100
mL aquades
76. Mengatur pH
77. Menutupi beaker gelas dengan
alumunium foil
78. Sterilisasi media dengan autoklaf
pada suhu 120 0C
79.
80.
81.
82. Penanaman spora
83. Melakukan
Aspergillus
niger
dalam petridis dengan air hangat
sebanyak 5 mL
84. Spora dituangkan kedalam masing
masing medium dan diaduk merata
85.
86. Inkubasi selama 2 hari pada suhu
28 30oC
87.
88.
89.
90. Menambahkan 50 mL aquades
kedalam beaker gelas 1 (medium

72. Hasil Pengamatan


122.
123.
124.
125.
Beaker glass 1 :
media semi padat
126.
larutan berwarna
coklat becek
127.
128.
129.
Beaker glass 2 :
media cair
130.
Larutan berwarna
coklat encer
131.
132.
6

pH diatur sekitar 4-

133.
134.
135.
Beaker glass 1 :
medium
menjadi
memadat
136.
Beaker glass 2 :
medium
menjadi
memadat
137.
Warna
menjadi
coklat tua
138.
Spora
melarut,
tampak bintik bintik
hitam tersebar merata di
petridish yang berisi air

semi padat)
91.
92. Pengeringan dengan kain blancu
93.
94. Inkubasi selama 4 hari
95.
96.
97.
98. Penyaringan dengan kain blancu
kemudian buncher
99.
100.
101.
Pelarutan dengan (Ca(OH)2)
dalam keadaan filtrat panas 70oC
102.
Dilanjutkan
penyaringan
dengan buncher
103.
104.
105.
Pencucian dengan air panas
106.
Pencucian
dilakukan
dengan
menyaring
medium
menggunakan
kertas
saring
kemudian dilanjutkan dengan
penyaringan corong buncher
107.
108.
109.
110.
111.
112.
Oven pada suhu 60oC
selama 3 jam
113.
114.
115.
116.
117.
Membuat H2SO4 encer 0,01
M, 250 mL dari H2SO4 pekat 0,018
M sebanyak 0,13 mL kadar 96%
118.
Mengukur pH H2SO4 encer
119.

139.
140.
141.
142.
Beaker glass 1 :
Coklat tua
143.
Beaker glass 2 :
Coklat tua
144.
Medium memadat,
kandungan air semakin
meresap
kedalam
medium.
145.
Medium menjadi
encer dan lembab
146.
147.
148.
149.
mL
150.
mL
151.
152.

Dihasilkan filtrat :
Beaker glass 1 : 50
Beaker glass 2 : 30
Warna coklat pekat

153.
Beaker glass 1 :
Berwarna coklat pekat
dan mengental
154.
Beaker glass 2 :
berwarna coklat pekat
155.
156.
Dihasilkan
endapan :
157.
Beaker glass 1 dan
2 : endapan coklat muda
dan tua

120.
Melarutkan endapan dengan
H2SO4 encer sebanyak 10 mL
121.

158.

Terbentuk endapan

159.
Beaker glass 1 :
endapan coklat muda
160.
Beaker glass 2 :
endapan coklat tua
161.
162.
Air panas yang
digunakan
air
steril
dengan kondisi 700C
163.
Dihasilkan
endapan
164.
Beaker glass 1 :
endapan berwarna coklat
muda
165.
Beaker glass 2 :
endapan berwarna coklat
tua
166.
Hasil endapan
pada beaker glass 2
(medium
cair)
lebih
banyak dari pada hasil
beaker glass 1 (medium
semi padat)
167.
168.
Endapan menjadi
kering dan bebas air
169.
Hasil
endapan
kering yang didapat :
170.
Media semi padat
= 0,08 gram
171.

Media cair = 0,26

gram
172.
173.
174.

pH = 1

175.
176.
Beaker glass 1 :
endapan melarut, pH = 2
177.
Beaker glass 2 :
endapan melarut, pH = 3
178.
179.

Berdasarkan pengukuran yaitu pada medium semi padat, pH = 2

pada medium cair pH = 3 dan pH awal yaitu pH asam sulfat = 1, tampak


terjadi perubahan pH.
180.

Maka dapat disimpulkan bahwa telah dihasilkan asam sitrat dari

fermentasi Aspergillus niger dengan kuantitas lebih besar produksi asam


sitrat dengan medium cair.
181.
182.

183. V.

PEMBAHASAN
184.

Sumber karbohidrat yaitu buah pisang yang akan digunakan

sebagai medium fermentasi Aspergillus niger dihaluskan terlebih dahulu dan


dikeringkan hingga berkurang kandungan airnya. Pisang yang dihaluskan
atau diperkecil ukurannya ini bertujuan untuk memperbesar luas permukaan
kontak aspergillus niger terhadap substrat (buah pisang).
185.

Penambahan nutrisi-nutrisi pisang, gula pasir, bekatul, urea,

sekam padi, MgSO4 dan aquades dalam pembuatan medium asam sitrat
berfungsi untuk memenuhi kebutuhan asupan nutrisi dalam komponen
fermentasi. Seperti dijelaskan dalam Tabel 2.1, kuantitas sukrosa dapat
diperoleh dari gula pasir dan dari buah pisang itu sendiri. Kuantitas
ammonium nitrat dapat diperoleh dari penambahan bekatul, urea dan sekam
padi. Sedangkan Magnesium Sulfat juga ditambahkan HCl digunakan untuk
pengaturan pH. HCl ditambahkan apabila hasil pengecekan derajat
keasamannya berada di atas angka 6.
186.

Tabel 2.1 Komponen Media Fermentasi

187. Komponen
189. Sukrosa
191. Ammonium Nitrat
193. Pottasium
Dihidrogen
Phospat
195. Magnesium Sulfat
197. HCl

188.
190.
192.
194.

Kuantitas (gr/l)
125-150
2,0-2,5
0,75-1,0

196.
198.
pH

0,20-0,25
Untuk pengaturan

199.
200.

Selanjutnya adalah pengecekan derajat keasaman (pH) pada

medium pertumbuhan asam sitrat. Untuk produksi asam sitrat diperlukan pH


sekitar 4-6. pH yang rendah akan mengurangi resiko kontaminasi pada saat
fermentasi oleh mikroorganisme lain. pH yang rendah juga akan
menghambat produksi dan asam organik yang tidak diinginkan seperti asam
oksalat.

201.

Langkah selanjutnya adalah sterilisasi. Sterilisasi dilakukan

untuk membebaskan alat atau bahan medium asam sitrat dari segala macam
kehidupan atau kontaminasi oleh mikroba. Jenis sterilisasi yang digunakan
adalah sterilisasi menggunakan autoklaf. Sebelum sterilisasi beaker glass
ditutup dengan alumunium foil yang bertujuan untuk menghindarkan
pengaruh dan kontaminasi dari udara luar.
202.

Aspergilus niger yang akan digunakan dari kultur yang

diperoleh dari hasil pembiakan Aspergillus niger murni pada media agar
miring. Aspergillus niger kemudian dilarutkan dalam air hangat sebanyak 5
ml untuk mensterilkan biakan Aspergillus niger yang akan digunakan dalam
fermentasi.
203.

Setelah biakan spora ditanamkan pada kedua medium,

tahapan berikutnya adalah inkubasi. Inkubasi merupakan suatu teknik


perlakuan bagi mikroorganisme Aspergillus niger yang telah diinokulasikan
pada media (padat atau cair), kemudian disimpan pada suhu 28-30 oC dalam
inkubator untuk dapat melihat pertumbuhannya dan perkembangbiakannya.
(Anonim, 2009)
204.

Aspergillus niger dalam pertumbuhannya berhubungan

langsung dengan zat makanan yang terdapat dalam substrat, molekul yang
terdapat di sekeliling hifa dapat langsung diserap ke dalam sel. Aspergillus
niger dapat tumbuh pada kisaran suhu 29oC-37oC (optimum) dan 6oC-8oC
(minimum) serta memerlukan oksigen (O2) yang cukup. Nutrisi-nutrisi
dalam medium fermentasi tadi yang akan mempengaruhi produksi enzim
selulase yang dapat mengubah komponen disakarida (C 12H22O11) menjadi
monosakarida (C6H12O6).
205.

Setelah dua hari inkubasi, medium dalam kedua beaker

glass menjadi berwarna coklat tua dan tampak medium yang memadat serta
berkurangnya kandungan air. Maka dilakukan penambahan 50 ml aquades
ke dalam beaker glass 1 ( medium semi padat) hingga medium menjadi
encer dan lembab. Kemudian disaring atau pompa vakum untuk mengambil
filtratnya yaitu asam sitrat.

206.

Untuk analisa hasil, filtrat yang diperoleh dipanaskan

hingga 70oC. Sementara itu dibuat larutan Ca(OH) 2 dengan melarutkan 10


gr Ca(OH)2 dengan aquadest sebanyak 100 ml. Larutan Ca(OH)2 kemudian
ditambahkan ke dalam filtrat yang masih dalam kondisi panas. Endapan
yang timbul cepat-cepat disaring. Endapan tersebut adalah kalsium sitrat,
dengan persamaan reaksi yang terjadi :
207.

2C6H8O7 + 3Ca(OH)2 Ca3(C6H5O7)2 + 6H2O

208.

Kalsium sitrat yang dihasilkan dicuci dengan air panas

yaitu air steril 70oC. Hasil endapan dari beaker glass 1 ( medium semi
padat ) berwarna coklat muda. Sedangkan endapan dari beaker glass 2
(medium cair) berwarna coklat tua.
209.

Kemudian kalsium sitrat tersebut dilarutkan dengan H2SO4

encer 10 ml yang dibuat dengan mengencerkan H 2SO4 pekat 0,018 M


sebanyak 0,13 ml dengan kadar 96% menjadi H 2SO4 encer 0,01 M sebanyak
250 ml. Filtratnya merupakan asam sitrat dan endapannya merupakan
kalsium sulfat.
210.

Dengan persamaan reaksi :

211.

Ca3(C6H5O7)2 (s) +

3H2SO4(l) 3CaSO4

212.

Kalsium sitrat

Asam sulfat

213.

pH awal H2SO4 yaitu 1. Sedangkan setelah pelarutan

(s)

2C6H8O7 (s)
Kalsium Sulfat Asam

sitrat
kalsium sitrat dan H2SO4 terjadi perubahan pH. Yaitu pH = 2 pada medium
semi padat dan pH = 3 pada medium cair. Dapat diketahui bahwa telah
terbentuk asam sitrat yang merupakan kelompok asam lemah sehingga
mampu menurunkan nilai derajat keasaman asam kuat, pH= 1 menjadi pH=
2 dan pH = 3.
214.

Kecilnya kuantitas dalam asam sitrat yang terbentuk

menyebabkan sulitnya perhitungan rendemen asam sitrat. Namun secara


kualitas dapat dikatakan asam sitrat telah terbentuk dengan adanya

perubahan derajat keasaman ( pH ) pada tahap pemurnian kalsium sitrat


dengan pelarut asam sulfat.
215.

Asam sitrat merupakan senyawa antara pada siklus kreb

( siklus asam trikarboksilat ). Lintasan reaksi katabolik yang mendahului


pembentukan asam sitrat ini diantaranya adalah lintasan glikolisis dan
lintasan Entner-Doudoroff yang menyediakan senyawa antara asam piruvat
yang merupakan senyawa kunci dalam metabolisme sel. Sebagian besar
( 80% ) dari glukosa diubah menjadi piruvat melalui lintasan glikolisis.
Piruvat akan mengalami dekarboksilasi dan berikatan dengan koenzim-A
membentuk asetil-CoA dan selanjutnya masuk kedalam siklus krebs untuk
bergabung dengan oksaloasetat membentuk asam sitrat.
216.

Sehingga dapat dianalisis kurang berhasilnya perolehan

yield atau rendemen dalam praktikum salah satunya adalah karena faktor
konsentrasi gula awal. Konsentrasi gula awal akan menentukan yield asam
sitrat dan asam organik lain. Untuk Aspergillus Niger adalah 15 18%. Jika
lebih dari 18% tidak ekonomis dan jika kurang dari 15% terbentuk asam
oksalat.(Judoamidjojoet, 1989). Konsentrasi gula awal yang terkandung
dalam jenis maupun kuantitas pisang yang digunakan belum mencukupi
sebagai komposisi media fermentasi atau dapat dikatakan kurangnya bahan
utama yaitu buah pisang dalam pembuatan asam sitrat akan menyebabkan
minimnya rendemen asam sitrat yang dihasilkan.

217.

VI. KESIMPULAN DAN SARAN

1. KESIMPULAN
a. Asam sitrat dapat diproduksi dari sumber karbohidrat seperti buah
pisang, dengan fermentasi Aspergillus niger.
b. Dalam buah pisang mengandung asam sitrat namun hanya sedikit,
pada medium cair larutan membentuk pH 3 yang dimana pH awal 1
sebelum ditambahkan dengan H2SO4. Sedangkan pada media semi
padat membentuk pH 2 dimana pH awalnya 1. Kemungkinan asam
sitrat yang terbentuk sangat sedikit, sehingga tidak dilanjutkan
ketahap titrasi, dan mendapatkan rendemen asam sitrat.
2. SARAN
a. Pastikan semua proses berjalan steril, agar tidak ada bakteri lain.
b. Tutuplah rapat beaker glass dengan alumunium foil agar tidak ada
udara masuk saat sterilisasi
c. Pada saat mengoven pastikan suhu konstan 28-300C
d. Gunakan sumber karbohidrat yang banyak agar memperoleh
rendemen yang banyak.
218.
219.

220.

LAMPIRAN

Hasil medium pasca sterilisasi


Hasil pencucian filtrat dengan air panas

Hasil pencucian filtrat dengan air panas


Hasil filtrat setelah inkubasi

Hasil oven endapan asam sitrat dari


Hasilmedium
endapan
cair
asam sitrat dari medium semi padat

221.

DAFTAR PUSTAKA
222.

223.

Mangunwidjaja D. dan A. Suryani. 1994.Teknologi Bioproses.

Penebar Swadaya. Jakarta


224.

Hang Y.D, D.F. Splittstoessitr, R.E.E. Woodams, dan R.M.

Sherman. 1977.Citric Acid Fermentation of Brewery Waste. J. of Food


Science.42 (2) : 383-388
225.

Judoamidjojo M, E.G. Sa'id, dan L.Hartoto. 1989. Biokonversi.

PAU-BIOTEK.IPB. Bogor
226.

Tim Dosen Praktikum Teknologi Bioproses. 2014. Buku Petunjuk

Praktikum Teknologi Bioproses. Teknik Kimia FT UNNES: Semarang.

227.

Bernasconi, G. 1995. Teknologi Kimia. Jilid 2. Edisi pertama.

Jakarta. PT. Pradaya Paramita


228.

http://renataemily.wordpress.com/2009/11/06/isolasi-inkubasi-dan-

inokulasi/ diakses pada 16 April 2014


229. http://khairulanam.files.wordpress.com/2010/08/asam-sitrat.pdf

pada 14 April 2014


230.
231.

diakses