Anda di halaman 1dari 11

RIBA PERSPEKTIF AGAMA & SEJARAH September

28, 2009
Posted by ppraudlatulmubtadiin in GORESAN.
trackback
1. A. Definisi Riba
Riba ( )secara bahasa bermakna: ziyadah( tambahan ). Dalam pengertian lain, secara
linguistic, riba juga bwerarti tumbuh dan membesar.

Adapun dalam istilah teknis, riba berarti


pengambilan tambahan dari harta pokok atau modal secara bathil.Ada beberapa pendapat
dalam menjelaskan riba ini, namun secara umum terdapat benang merah yang menegaskan
bahwa riba adalah pengambilan tambahan, baik dalam transaksi jual beli maupun pinjam
meminjam secara bathil atau bertentangan dengan prinsip muamalah dalam islam.
1. B. Macam-Macam Riba
Secara garis besar, riba dikelompokkan menjadi dua. Masing-masing adalah riba utangpiutang dan riba jualbeli.Adapun riba yang kedua yaitu riba jual beli, terbagi menjadi Riba
Fadl dan riba Nasiah.
Adapun Riba menurut Imam Ibnu Hajar Al- Haitsami Ada empat yaitu :
1. Riba Qardh ( )
Suatu manfaat atau tingkatan kelebihan tertentu yang disyaratkan terhadap yang yang
berutang ( muqtaridh).
1. Riba Jahiliyah ( )
Hutang dibayar lebih dari pokoknya karena si peminjam tidak mampu membayar hutang pada
waktu yang ditetapkan.
1. Riba Fadl ( )
Pertukaran antara barang sejenis dengan kadar atau takaran yang berbeda, sedangkan barang
yang ditukarkan termasuk barang ribawi.
1. Riba Nasiah ( )

Penerimaan jenis barang ribawi yang dipertukarkan dengan jenis barang ribawi lainnya. Riba
dalam Nasiah muncul karena adanya perbedaan, perubahan atau tambahan antara yang
diserahkan saat ini dan yang diserahkan kemudian.
1. C. Jenis Barang Ribawi.
Para Ahli fiqih Islam telah membahas masalah riba dan jenis barang ribawi dengan panjang
lebar dalam kitab-kitab mereka. Dalam kesempatan ini akan disampaikan kesimpulan umum
dari pendapat mereka yang intinya bahwa barang ribawi meliputi:
1. Emas dan perak, baik itu dalam bentuk uang maupun dalam bentuk lainnya
2. Bahan makanan pokok, seperti beras, gandum. Dan jagung, serta bahan makanan
tambahan, seperti sayur-mayur dan buah-buahan.
3. D. Larangan Riba dalam Al-Quran Dan As-Sunnah
1.Larangan Riba Dalam Al-Quran
Larangan Riba yang terdapat dalam al- quran tidak diturunkan sekaligus
melainkan diturunkan dalam empat tahap.
Tahap pertama,menolak anggapan bahwa pinjaman riba yang pada dzahirnya
seolah-olah menolong mereka yang membutuhkan sebagai suatu perbuatan
mendekati atau Taqarrub kepada Allah SWT.
Yaitu dalam surat Ar-Rum :39.
Tahap Kedua, Riba digambarkan sebagai sesuatu yang buruk. Allah SWT mengancam akan
memberi balasan yang keras kepada orang yahudi memakan riba.
Yaitu dalam surat An-Nisa Ayat:161 .
Tahap ketiga, Riba diharamkan dengan dikaitkan kepada suatu tambahan yang berlipat
ganda, para Ahli tafsir berpendapat bahwa pengambilan bunga dengan tingkat yang cukup
tinggi merupakan fenomena yang banyak dipraktikkan opada masa tersebut.
Yaitu dalam surat Ali Imran :130.
Tahap Keempat, Allah menjelaskan dengan tegas mengharamkan apapun jenis tambahan
yang diambil dari pinjaman.
Yaitu dalam surat Al-Baqarah :279.
2. Larangan Riba Dalam Al-Hadist

Pelarangan riba tidak hanya merujuk pada Al-Quran, melainkan juga Al- Hadist. Hal ini
sebagai mana posisi umum hadist yang bwerfungsi untuk menjelaskan lebih lanjut aturan
yang telah digariskan melalui Al-Quran. Adapun pelarang riba dalam hadist lebih terinci.
Diantara hadist tersebut adalah wasiat nabi terakhir pada tanggal 9 Dzulhijjah tahun 10
Hijriah, rasulullah masih menekankan sikap islam yang melarang riba Ingatlah bahwa
kamu akan menghadap tuhanmu dan dia pasti akan menghitung Amalmu.Allah telah
melarang kamu mengambil riba. Oleh karena itu, utang akibat riba harus dihapuskan.
Modal (uang pokok )kamu adalah hal kamu. Kamu tidak akan menderita ataupun mengalami
ketidak adilan. Dan hadist-hadist yang lainnya.
E.Konsep Riba Dalam Persepektif Non Muslim
Riba bukan hanya merupakan masalah masyarakat islam, tetapi berbagai kalangan diluar
islam pun memandang serius persoalan ini. Karenanya, kajian terhadap masalah riba dapat
diruntut mundur hingga lebih dari dua ribu tahun silam. Masalah telah menjadi vbahan
bahasan kalangan yahudi, yunani, demikian juga romawi. Kalangan keristen dari masakemasa juga mempunyai pandangan tersendiri mengenai riba.
Adapun konsep riba menurut mereka akan disebutkan secara singkat berikut.
1. 1. Konsep Riba Dikalangan Yahudi
Konsep tentang larangan riba tersebut dikalangan Yahudi banyak terdapat dalam kitab suci
mereka, baik dalam Old Testment ( Perjanjian Lama ) Maupun undang-undang Talmud.
Larangan tersebut sebagi berikut :
Kitab Exodus pasal 22 Ayat 25 menyatakan
Jika Engkau meminjamkan Uang kepada salah seorang dari umatku orang yang
Miskin diantara kamu, maka janganlah engkau berlaku sebagai penagih utang
terhadap dia: janganlah engkau bebankan bunga uang terhadapnya
Kitab Deoteronomy Psal 23 ayat 36-37 Menyatakan,
Janganlah kamu membungakan kepada saudaramu, baik uang maupun bahan
makanan, atau apapun yang dapat dibungakan
Kitab Levicitus Pasal 25 Ayat 19 Mengatakan,
Jangan lah engkau mengambil uang atau riba darinya, melainkan engkau harus
takut akan Allahmu, supaya saudaramu bisa hidup diantaramu. Janganlah engkau
memberi uangmu kepadanya dengan meminta bunga, juga makananmu janganlah
kau berikan dengan meminta riba

1. 2. Konsep Bunga dikalangan Yunani Dan Romawi


Konsep atau praktik pengambilan bunga dicela oleh para Ahli Filsafat, dua filosof yunani
terkemuka,Yaitu plato dan Aristoteles, mengecam praktik bunga. Dengan pebndapat mereka
sebagai berikut:
Plato ( 427-347 SM) Dia mengecam system bunga berdasarkan dua alasan yang pertama:
Bunga mengakibatkan perpecahan dan perasaan tidak puas dalam masyarakat. Kedua :Bunga
merupakan alat golongan kaya untuk mengeksploitasi golongan miskin.
Adapun Aristoteles ( 384-322 SM) Menyatakan keberatannya mengemukakan bahwa fungsi
uang adalah sebagi alat tukar atau Medium of exchange. Ditegaskannya bahwa uang bukan
alat untuk menghasilkan tambahan melalui bunga.Diapun menyebut bunga sebagai uang
yang berasal keberadaannya dari sesuatu yang belum tentu pasti terjadi.
Kalu kita telah mengamati pendapat para tokoh filosof yunani diatas, sekarang kita amati
pendapat ahli filsafat romawi yang pendatnya beralasan yang sama dengan alas an filosof
yunani tokoh tersebut adalah. Cato (234-149 SM) Ia berkata pada anaknya agar menjauhi dua
perkara yaitu memungut cikai dan mengambil bunga.
1. 3. Konsep Bunga Dikalangan Kristen
Kitab perjanjian baru tidak menyebutkan permasalahan ini secara jelas. Akan tetapi,
sebagaian kalangan kristiani menganggap bahwa ayat yang terdapat dalam Lukas 6:34-35
sebagi Ayat yang mengecam praktik pengambilan bunga. Ayat trsebut menyatakan,
Dan jikalau kamu meminjamkan sesuatu kepada orang karena kamu berharap akan
menerima sesuatu darinya, Apakah jasamu ?Orang-orang berdosapun meminjamkan kepada
orang berdosa supaya mereka menerima kembali sama banyak. Tetapi kamu, kasihilah
musuhmu dan berbuatlah baik kepada mereka dan pinjamkan dengan tidak mengharapkan
balasan, maka upahmu akan besar dan kamu akan menjadi anak-anak tuhan yang maha
tinggi sebab ia baik terhadap orang-orang yang tidak tahu berterma kasih dan terhadap
orang-orang jahat
Larangn riba juga terdapat pada kitab perjanjian lama
*
St.Basil (329-379) menganggap mereka yang memakan bunga sebagai orang yang
tidak berperikemanusiaan. Baginya mengambil bunga adalah Mengambil keuntungan dari
orang yang memerlukan, Demikian juga mengumpulkan emas dan kekayaan dari air mata
dan kesusahan orang miskin.
*
St.Gregory Dari Nyssa (335-407 )Mengutuk praktik bunga karena menurutnya
pertolongan melalui pinjaman adalah palsu. Pada awal kontrak seperti membantu, tetapi pada
saat menagih dan meminta imbalan bunga bertindak sangat kejam.
Dan masih banyak larangan-larangan riba lainnya didalam kitab injil perjanjian lama tersebut
yang tidak bisa disebutkan oleh kami pemakalah.
F. Dampak Negatif Riba

1. Dampak Ekonomi
Diantara dampak ekonomi riba adalah dampak inflatoir yang diakibatkan oleh bunga sebagai
biaya uang. Hal tersebut disebabkan karena salah satu element dari penentuan harga adalah
suku bunga. Semakin tinggi suku bunga, semakin tinggi juga harga yang akan ditetapkan
pada suatu barang.
Dampak lainnya adalah bahwa hutang dengan rendahnya penerimaan peminjam dan
tingginya biaya bunga, akan menjadikan peminjam tidak pernah keluar dari ketergantungan,
terlebih lagi bila bunga atas hutang tersebut dibungakan. Contoh paling nyata adalah hutang
Negara-negara berkembang kepada Negara negara maju. Meskipun disebut pinjaman lunak,
artinya dengan suku bunga yang rendah, pada akhirnya Negara-negara pengutang harus
berhutanglagi untuk membayar bunga dan pokoknya. Akibatnya, terjadilah utang yang terus
menerus. Ini yang menjelaskan proses terjadinya kemiskinan structural yang menimpa lebih
dari separuh masyarakat dunia.
2.Sosial Kemasyarakatan
Riba merupakan pendapatan yang didapat secara tidak adil. Para pengambil riba
menggunakan uangnya untuk memerintah orang lain agar berusaha dan mengembalikan,
misalnya, 25% lebih tinggi dari jumlah yang dipinmjamkan. Persoalannya, siapa yazng bisa
menjamin bahwa usaha yang dijalankan oleh orang itu nantinya mendapatkan keuntungan
lebih dari 25% ? semua orang,apalagi yang beragama, tahu bahwa siapapun tidak bisa
memastikan apa yang terjadi besok lusa. Siapapun tahu bahwa berusaha memiliki dua
kemungkinan : berhasil atau gagal. Dengan menetapkan riba, orang sudah memastikan,
bahwa usaha yang dikelola pasti untung.

A. Pengertian Riba
Secara bahasa riba berarti ziyadah ( )atau tambahan. Dan secara istilah berarti
tambahan pada harta yang disyaratkan dalam transaksi dari dua pelaku akad dalam
tukar menukar antara harta dengan harta.
Sebagian ulama ada yang menyandarkan definisi riba pada hadits yang diriwayatkan alHarits bin Usamah
Dari Ali bin Abi Thalib, yaitu bahwa Rasulullah SAW bersabda: Setiap hutang yang
menimbulkan manfaat adalah riba.
Pendapat ini tidak tepat, karena, hadits itu sendiri sanadnya lemah, sehingga tidak bisa
dijadikan dalil. Jumhur ulama tidak menjadikan hadits ini sebagai definisi riba, karena
tidak menyeluruh dan lengkap, disamping itu ada manfaat yang bukan riba yaitu jika
pemberian tambahan atas hutang tersebut tidak disyaratkan.
B. Sejarah Riba
Riba memiliki sejarah yang sangat panjang dan prakteknya sudah dimulai semenjak
bangsa Yahudi sampai masa Jahiliyah sebelum Islam dan awal-awal masa ke-Islaman.
Padahal semua agama Samawi mengharamkan riba karena tidak ada kemaslahatan
sedikitpun dalam kehidupan bermasyarakat. Allah SWT berfirman:


Maka disebabkan kezaliman orang-orang Yahudi, Kami haramkan atas mereka
(memakan makanan) yang baik-baik (yang dahulunya) dihalalkan bagi mereka, dan
karena mereka banyak menghalangi (manusia) dari jalan Allah, dan disebabkan mereka
memakan riba, padahal sesungguhnya mereka telah dilarang daripadanya, dan karena
mereka memakan harta orang dengan jalan yang batil. Kami telah menyediakan untuk
orang-orang yang kafir di antara mereka itu siksa yang pedih. (QS an-Nisaa 160-161)



Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti
berdirinya orang yang kemasukan syaitan lantaran (tekanan) penyakit gila. Keadaan
mereka yang demikian itu, adalah disebabkan mereka berkata (berpendapat),
sesungguhnya jual-beli itu sama dengan riba, padahal Allah telah menghalalkan jual-beli
dan mengharamkan riba. (QS. Al-Baqarah : 275)


Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan tinggalkan sisa riba (yang
belum dipungut) jika kamu orang-orang yang beriman. Maka jika kamu tidak
mengerjakan (meninggalkan sisa riba), maka ketahuilah, bahwa Allah dan Rasul-Nya
akan memerangimu. Dan jika kamu bertaubat (dari pengambilan riba), maka bagimu
pokok hartamu; kamu tidak menganiaya dan tidak (pula) dianiaya. (QS al-Baqarah 276,
278, 279)
:
- :
Dari Ibnu Mas'ud ra bahwa Rasulullah SAW melaknat pemakan riba, yang memberi
makan, kedua orang saksinya dan pencatatnya.(HR Muslim)

:
Dari Abdullah bin Masud RA dari Nabi SAW bersabda,"Riba itu terdiri dari 73 pintu. Pintu
yang paling ringan seperti seorang laki-laki menikahi ibunya sendiri. (HR. Ibnu Majah
dan Al-hakim)
-

:
Dari Abdullah bin Hanzhalah ghasilul malaikah berkata bahwa Rasulullah SAW
bersabda,"Satu dirham uang riba yang dimakan oleh seseorang dalam keadaan sadar,
jauh lebih dahsyah dari pada 36 wanita pezina. (HR. Ahmad)
C. Dalil Pengharaman Riba
Riba secara mutlak telah diharamkan oleh Allah swt dan Rasuluullah saw memalui ayatayat Al-Quran dan Sunnah Rasulullah saw. Diantara nash-nash itu adalah :
1. Al-Quran
Al-Quran mengharamkan riba dalam empat marhalah / tahap. Doktor Wahbat Az-Zuhaili
dalam Tafsir Al-Munir menjelaskan tahapan pengharam riba adalah sebagai berikut :
a. Tahap Pertama


Dan sesuatu riba (tambahan) yang kamu berikan agar dia bertambah pada harta
manusia, maka riba itu tidak menambah pada sisi Allah.(QS. Ar-Ruum : 39)
Ayat ini turun di Mekkah dan menjadi tamhid, atau awal mula dari diharamkannya riba
dan urgensi untuk menjauhi riba.
b. Tahap Kedua


Maka disebabkan kezaliman orang-orang Yahudi, Kami haramkan atas mereka
(memakan makanan) yang baik-baik (yang dahulunya) dihalalkan bagi mereka, dan
karena mereka banyak menghalangi (manusia) dari jalan Allah. (QS. An-Nisa : 160-61)
Ayat ini turun di Madinah dan menceritakan tentang perilaku Yahudi yang memakan riba
dan dihukum Allah. Ayat ini merupakan peringatan bagi pelaku riba.
c. Tahap Ketiga



Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memakan riba dengan berlipat ganda
dan bertakwalah kamu kepada Allah supaya kamu mendapat keberuntungan.(Ali Imran :
130)
Pada tahap ini Al-Quran mengharamkan jenis riba yang bersifat fahisy, yaitu riba
jahiliyah yang berlipat ganda.
d. Tahap Keempat


Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan tinggalkan sisa riba (yang
belum dipungut) jika kamu orang-orang yang beriman. Maka jika kamu tidak
mengerjakan (meninggalkan sisa riba), maka ketahuilah, bahwa Allah dan Rasul-Nya
akan memerangimu. Dan jika kamu bertaubat (dari pengambilan riba), maka bagimu
pokok hartamu; kamu tidak menganiaya dan tidak (pula) dianiaya.(Al-Baqarah : 278279)
Pada tahap ini Al-Quran telah mengharamkan seluruh jenis riba dan segala macamnya.
Alif lam pada kata ( )mempunyai fungsi lil jins, maksudnya diharamkan semua jenis
dan macam riba dan bukan hanya pada riba jahiliyah saja atau riba Nasi'ah.
Hal yang sama pada alif lam pada kata ( )yang berarti semua jenis jual-beli.
2. As-Sunah
As-Sunnah juga menjelaskan beberapa praktek riba dan larangan bagi pelakunya :
- ...

Dari Abi Hurairah ra berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda,"Jauhilah oleh kalian tujuh
hal yang mencelakakan (diantaranya)makan riba. (HR. Muttafaq alaihi).

Rasulullah saw melaknat pemakan riba, yang memberi, yang mencatat dan dua
saksinya. Beliau bersabda : mereka semua sama. (HR. Muslim)
Dalam hadits lain disebutkan :
Diriwayatkan oleh Aun bin Abi Juhaifa,'Ayahku membeli budak yang kerjanya
membekam. Ayahku kemudian memusnahkan alat bekam itu. Aku bertanya kepaa ayah
mengapa beliau melakukannya. Beliau menjawab bahwa Rasulullah saw. Melarang untuk
menerima uang dari transaksi darah, anjing dan kasab budak perempuan. Beliau juga
melaknat penato dan yang minta ditato, menerima dan memberi riba serta melaknat
pembuat gambar.
Dengan dalil-dalil qoth'i di atas, maka sesungguhnya tidak ada celah bagi umat Islam
untuk mencari-cari argumen demi menghalalkan riba. Karena dali-dalil itu sangat sharih
dan jelas. Bahkan ancaman yang diberikan tidak main-main karena Allah memerangi
orang yang menjalankan riba itu.
D. Pembagian Riba
Al-Hanafi mengatakan bahwa riba itu terbagi menjadi dua, yaitu riba Al-Fadhl dan riba
An-Nasa'.
Sedangkan Imam As-Syafi'i membaginya menjadi tiga, yaitu riba Al-Fadhl, riba An-Nasa'
dan riba Al-Yadd.
Dan Al-Mutawally menambahkan jenis keempat, yaitu riba Al-Qardh. Semua jenis riba ini
diharamkan secara ijma' berdasarkan nash Al Qur'an dan hadits Nabi" (Az Zawqir Ala
Iqliraaf al Kabaair vol. 2 him. 205).
Secara garis besar bisa dikelompokkan menjadi dua besar, yaitu riba hutang-piutang dan
riba jual-beli. Kelompok pertama terbagi lagi menjadi riba qardh dan riba jahiliyah.
Sedangkan kelompok kedua, riba jual-beli, terbagi menjadi riba fadhl dan riba nasiah.
1. Riba Qardh
Suatu manfaat atau tingkat kelebihan tertentu yang disyaratkan terhadap yang
berhutang (muqtaridh).
2. Riba Jahiliyyah
Hutang dibayar lebih dari pokoknya, karena si peminjam tidak mampu membayar
hutangnya pada waktu yang ditetapkan.
3. Riba Fadhl
Riba fadhl adalah riba yang terjadi dalam masalah barter atau tukar menukar benda.
Namun bukan dua jenis benda yang berbeda, melainkan satu jenis barang namun
dengan kadar atau takaran yang berbeda. Dan jenis barang yang dipertukarkan itu
termasuk hanya tertentu saja, tidak semua jenis barang. Barang jenis tertentu itu
kemudian sering disebut dengan "barang ribawi".

Harta yang dapat mengandung riba sebagaimana disebutkan dalam hadits nabawi,
hanya terbatas pada emas, perak, gandung, terigu, kurma dan garam saja.
Dari Ubadah bin Shamait berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda: Emas dengan emas,
perak dengan perak, gandum dengan gandum, terigu dengan terigu, korma dengan
korma, garam dengan garam harus sama beratnya dan tunai. Jika jenisnya berbeda
maka juallah sekehendakmu tetapi harus tunai (HR Muslim).
Di luar keenam jenis barang itu tentu boleh terjadi penukaran barang sejenis dengan
kadar dan kualitas yang berbeda. Apalagi bila barang itu berlainan jenisnya. Tentu lebih
boleh lagi.
a. Emas :
Barter emas dengan emas hukumnya haram, bila kadar dan ukurannya berbeda.
Misalnya, emas 10 gram 24 karat tidak boleh ditukar langsung dengan emas 20 gram 23
karat. Kecuali setelah dikonversikan terlebih dahulu masing-masing benda itu.
b. Perak :
Barter perak dengan perak hukumnya haram, bila kadar dan ukurannya berbeda.
Misalnya, perak 100 gram dengan kadar yang tinggi tidak boleh ditukar langsung dengan
perak200 yang kadarnya lebih rendah. Kecuali setelah dikonversikan terlebih dahulu
masing-masing benda itu.
c. Gandum :
Barter gandum dengan gandum hukumnya haram, bila kadar dan ukurannya berbeda.
Misalnya, 100 Kg gandum kualitas nomor satu tidak boleh ditukar langsung dengan 150
kg gandum kuliatas nomor dua. Kecuali setelah dikonversikan terlebih dahulu masingmasing benda itu
d. Terigu :
Demikian juga barter terigu dengan teriguhukumnya haram, bila kadar dan ukurannya
berbeda. Misalnya, 100 Kg terigu kualitas nomor satu tidak boleh ditukar langsung
dengan 150 kg terigu kuliatas nomor dua. Kecuali setelah dikonversikan terlebih dahulu
masing-masing benda itu.
e. Kurma :
Barter kurma dengan kurma hukumnya haram, bila kadar dan ukurannya berbeda.
Misalnya, 1 Kg kurma ajwa (kurma nabi) tidak boleh ditukar langsung dengan 10 kg
kurma Mesir. Kecuali setelah dikonversikan terlebih dahulu masing-masing benda itu
f. Garam
Barter garam dengan dengan garam hukumnya haram, bila kadar dan ukurannya
berbeda. Misalnya, 1 Kg garam tipe A tidak boleh ditukar langsung dengan 3 kg garam
tipe B, kecuali setelah dikonversikan terlebih dahulu masing-masing benda itu
4. Riba Nasiah

Riba Nasiah disebut juga riba Jahiliyah. Nasi'ah bersal dari kata nasa' yang artinya
penangguhan. Sebab riba ini terjadi karena adanya penangguhan pembayaran. Inilah
riba yang umumnya kita kenal di masa sekarang ini.
Dimana seseorang memberi hutang berupa uang kepada pihak lain, dengan ketentuan
bahwa hutang uang itu harus diganti bukan hanya pokoknya, tetapi juga dengan
tambahan prosentase bunganya. Riba dalam nasi'ah muncul karena adanya perbedaan,
perubahan, atau tambahan antara yang diserahkan saat ini dengan yang diserahkan
kemudian.
Contoh : Ahmad ingin membangun rumah. Untuk itu dia pinjam uang kepada bank
sebesar 144 juta dengan bunga 13 % pertahun. Sistem peminjaman seperti ini, yaitu
harus dengan syarat harus dikembalikan plus bunganya, maka transaksi ini adalah
transaksi ribawi yang diharamkan dalam syariat Islam.
D. Ancama Pemakan Riba
1. Termasuk Tujuh Dosa Besar
Riba adalah bagian dari 7 dosa besar yang telah ditetapkan oleh Rasulullah SAW.
Sebagaimana hadits berikut ini :
: : :
.

Dari Abi Hurairah ra berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda,"Jauhilah oleh kalian tujuh
hal yang mencelakakan". Para shahabat bertanya,"Apa saja ya Rasulallah?". "Syirik
kepada Allah, sihir, membunuh nyawa yang diharamkan Allah kecuali dengan hak,
makan riba, makan harta anak yatim, lari dari peperangan dan menuduh zina. (HR.
Muttafaq alaihi).
2. Diperangi Allah
Tidak ada dosa yang lebih sadis diperingatkan Allah SWT di dalam Al-Quran, kecuali dosa
memakan harta riba. Bahkan sampai Allah SWT mengumumkan perang kepada
pelakunya. Hal ini menunjukkan bahwa dosa riba itu sangat besar dan berat.


Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan tinggalkan sisa riba jika
kamu orang-orang yang beriman.Maka jika kamu tidak mengerjakan , maka ketahuilah,
bahwa Allah dan Rasul-Nya akan memerangimu. Dan jika kamu bertaubat , maka
bagimu pokok hartamu; kamu tidak menganiaya dan tidak dianiaya. (QS. Al-Baqarah :
278-279)
3. Lima Dosa Sekaligus
As-Sarakhsy berkata bahwa seorang yang makan riba akan mendapatkan lima dosa atau
hukuman sekaligus, yaitu at-takhabbut, al-mahqu, al-harbu, al-kufru dan al-khuludu finnaar.
a. At-Takhabbut :

Orang yang makan harta riba mendapat at-takhabbut, yang bermakna kesurupan seperti
kesurupannya syetan.
b. Al-Mahqu :
Orang yang makan harta riba mendapat al-mahqu, yaitu dimusnahkan oleh Allah. Yang
dimusnahkan bisa saja hartanya, tetapi bisa juga keberkahannya.
c. Al-Harbu :
Orang yang makan harta riba mendapat al-harbu, yaitu diperangi oleh Allah SWT,
sehingga menjadi musuh Allah dan musuh agama.
d. Al-Kufru :
Orang yang makan harta riba mendapat dianggap kufur dari perintah Allah SWT, dan
dianggap keluar dari agama Islam apabila menghalalkannya. Tapi bila hanya
memakannya tanpa mengatakan bahwa riba itu halal, dia berdosa besar.
e. Al-Khuludu fin-Naar
Orang yang makan harta riba di akhirat nanti tempatnya kekal di dalam neraka, sekali
masuk tidak akan pernah keluar lagi dari dalamnya. Nauzu bilah