Anda di halaman 1dari 29

1.

SANITASI LINGKUNGAN PERUMAHAN/PEMUKIMAN

Lingkungan perumahan/pemukiman dan hubungannya dengan


kesehatan
Di dalam program kesehatan lingkungan,suatu pemukiman/perumahan sangat berhubungan
dengan kondisi ekonomi, sosial, pendidikan, tradisi/kebiasaan, suku, geografi, dan kondisi local.
Selain itu, lingkungan perumahan/pemukiman dipengaruhi oleh beberapa factor yang dapat
menentukan kualitas lingkungan perumahan tersebut, antara lain fasilitas pelayanan,
perlengkapan, peralatan yang dapat menunjang terselenggaranya kesehatan fisik, kesehatan
mental, kesejahteraan sosial bagi individu dan keluarganya.
Pengertian perumahan merupakan kelompok rumah yang berfungsi sebagai lingkungan tempat
tinggal atau lingkungan hunian dan sarana pembinaan keluarga yang dilengkapi dengan
prasarana dan sarana lingkungan . sedangkan pemukiman merupakan bagian dari lingkungan
hidup baik kawasan perkotaan maupun pedesaan yang berfungsi sebagai lingkungan tempat
tinggal atau lingkungan hunian yang mendukung peri-kehidupan. Untuk menciptakan suatu
lingkungan pemukiman diperlukan kawasan perumahan dalam berbagai bentuk dan ukuran
dengan penataan tanah dan ruang, prasarana dan sarana lingkungan yang memenuhi kesehatan.

ASPEK KESEHATAN DARI PERUMAHAN


Perumahan harus menjamin kesehatan penghuninya dalam arti luas. Oleh sebab itu diperlukan
syarat perumahan sebagai berikut:
Memenuhi Kebutuhan Fisiologis
Secara fisik kebutuhan fisiologis meliputi kebutuhan suhu dalam rumah yang optimal,
pencahayaan yang optimal, perlindungan terhadap kebisingan, ventilasi memenuhi persyaratan.,
dan tersedianya ruang yang optimal untuk bermain anak.
Suhu ruangan dalam rumah yang ideal adalah berkisar 18-20 oC, dan suhu tersebut dipengaruhi
oleh : suhu udara luar, pergerakan udara, dan kelembaban udara ruangan.

Pencahayaan harus cukup baik waktu siang maupun malam hari. Pada malam hari pencahayaan
yang ideal adalah penerangan listrik. Pada waktu pagi hari diharapkan semua ruangan
mendapatkan sinar matahari. Intensitas cahaya pada suatu ruangan pada jarak 85 cm di atas
lantai maka intensitas penerangan minimal tidak boleh kurang dari 5 foot-candle.
Pertukaran hawa (ventilasi) yaitu proses penyediaan udara segar dan pengeluaran udara kotor
secara alamiah atau mekanis harus cukup. Berdasarkan peraturan bangunan Nasional, lubang
hawa suatu bangunan harus memenuhi aturan sebagai berikut:
a. Luas bersih dari lantai dan jendela/ lubang hawa sekurang-kurangnya 1/10 dari luas
lantai ruangan.
b. Jendela/ lubang hawa harus meluas ke arah atas sampai setinggi minimal 1,95m dari
permukaan lantai.
c. Adanya lubang hawa yang berlokasi di bawah langit-langit sekurang-kurangnya 0,35%
luas lantai ruang yang bersangkutan.
Kepadatan penghuni merupakan luas lantai rumah dibagi dengan jumlah anggota keluarga
penghuni tersebut. Berdasarkan Dir. Higiene dan Sanitasi Depkes RI, 1993, maka kepadatan
penghuni dikategorikan menjadi memenuhi standar (2 orang per 8m2) dan kepadatan tinggi
(lebih 2 orang per 8m2 dengan ketentuan anak <1 tahun tidak diperhitungkan dan umur 1-10
tahun dihitung setengah).
Pengaruh buruk berkurangnya ventilasi adalah berkurangnya kadar oksigen, bertambahnya kadar
gas CO2, adanya

bau pengap, suhu udara ruangan naik, dan kelembaban udara ruangan

bertambah.
Kecepatan aliran udara penting untuk mempercepat pembersihan udara ruangan. Kecepatan
udara dikatakan sedang jika gerak udara 5-20 cm per detik atau volume udara bersih antara 2530 cfm (cubic feet per minute) untuk setiap orang yang berada di dalam ruangan.
Memenuhi Kebutuhan Psikologis
Kebutuhan psikologis berfungsi untuk menjamin privacy bagi penghuni perumahan. Perlu
adanya kebebasan untuk kehidupan keluarga yang tinggal di rumah tersebut secara normal.
Keadaan rumah dan sekitarnya diatur agar memenuhi rasa keindahan sehingga rumah tersebut

menjadi pusat kesenangan rumah tangga dan memungkinkan hubungan yang serasi antara orang
tua dan anak. Adanya ruangan tersendiri bagi remaja dan ruangan untuk berkumpulnya anggota
keluarga serta ruang tamu. Selain itu dibutuhkan kondisi untuk terpenuhinya sopan santun dalam
pergaulan di lingkungan perumahan.
Perlindungan Terhadap Penularan Penyakit
Untuk mencegah penularan penyakit diperlukan sarana air bersih, fasilitas pembuangan air kotor,
fasilitas penyimpanan makanan, menghindari adanya intervensi dari serangga dan hama atau
hewan lain yang dapat menularkan penyakit. Agar dalam keadaan tidur tetap sehat diperlukan
luas kamar tidur sekitar 5 m2 per kapita per luas lahan.
Perlindungan/Pencegahan Terhadap Bahaya Kecelakaan Dalam Rumah
Agar terhindar dari kecelakaan maka konstruksi rumah harus kuat dan memenuhi syarat
bangunan, desain pencegahan terjadinya kebakaran dan tersedianya alat pemadam kebakaran,
pencegahan kecelakaan jatuh, dan kecelakaan mekanis lainnya.
Beberapa Faktor Dari Rumah Yang Berpengaruh Terhadap Kesehatan
Faktor yang berpengaruh terhadap kesehatan manusia adalah:
a. Kualitas bangunan rumah meliputi kualitas bahan dan konstruksinya serta denah rumah.
b. Pemanfaatan bangunan rumah yang secara teknis memenuhi syarat kesehatan, tetapi
apabila peruntukannya tidak sesuai maka akan mengganggu kesehatan.
c. Pemeliharaan bangunan akan mempengaruhi terjadinya penyakit.
Selain yang tersebut di atas, rumah sehat harus memiliki unsur tesebut di bawah ini:
a. Komponen banguna rumah seperti atap, dinding, jendela, pintu, lantai, dan pondasi.
b. Fasilitas kelengkapan bangunan rumah seperti sarana air bersih, selokan, kakus, tempat
pembuangan sampah, dan fasilitas penerangan.
c. Penataan bangunan rumah seperti perencanaan ruang, dan konstruksi bangunan rumah.
d. Aturan membangun dan kerukunan bertetangga serta perawatan rumah.
KESIMPULAN

Di dalam program kesehatan lingkungan,suatu pemukiman/perumahan sangat berhubungan


dengan kondisi ekonomi, sosial, pendidikan, tradisi/kebiasaan, suku, geografi, dan kondisi local.
Selain itu, lingkungan perumahan/pemukiman dipengaruhi oleh beberapa factor yang dapat
menentukan kualitas lingkungan perumahan tersebut, antara lain fasilitas pelayanan,
perlengkapan, peralatan yang dapat menunjang terselenggaranya kesehatan fisik, kesehatan
mental, kesejahteraan sosial bagi individu dan keluarganya.

2. WATER SUPPLY

Pentingnya Air Bersih Bagi Kesehatan


http://filterpenyaringair.com/hello-world/
Salah satu kebutuhan penting akan kesehatan lingkungan adalah masalah air bersih, persampahan
dan sanitasi. Kebutuhan akan air bersih, pengelolaan sampah yang setiap hari diproduksi oleh
masyarakat serta pembuangan air limbah yang langsung dialirkan pada saluran/sungai. Hal
tersebut menyebabkan pandangkalan saluran/sungai, tersumbatnya saluran/sungai karena
sampah. Pada saat musim penghujan selalu terjadi banjir dan menimbulkan penyakit.
Masalah air bersih merupakan hal yang paling fatal bagi kehidupan kita. Dimana setiap hari kita
membutuhkan air bersih untuk minum, memasak, mandi, mencuci dan sebagainya. Dengan air
yang bersih tentunya membuat kita terhindar dari penyakit. Kalau kita tahu, saat ini masalah air
bersih merupakan barang yang langka di negeri tercinta kita ini, apalagi di kota-kota besar
seperti Jakarta, air bersih merupakan barang yang mahal dan sering diperjualbelikan. Tidak
seperti halnya beberapa puluh tahun yang lalu, saat itu air bersih mudah diperoleh dan selalu
berlimpah mengalir di setiap sudut tanah negeri kita ini, karena pada waktu itu belum banyak
terjadi polusi air dan udara. Dari rasa dan warnanya pun saat ini berbeda tidak sealami dulu
dikarenakan oleh polusi tersebut.
Penyebab terjadinya pencemaran lingkungan sebagian besar disebabkan oleh tangan manusia.
Pencemaran air dan tanah adalah pencemaran yang terjadi di perairan seperti sungai, kali, danau,

laut, air tanah, dan sebagainya. Sedangkan pencemaran tanah adalah pencemaran yang terjadi di
darat baik di kota maupun di desa.
Alam memiliki kemampuan untuk mengembalikan kondisi air yang telah tercemar dengan proses
pemurnian atau purifikasi alami dengan jalan pemurnian tanah, pasir, bebatuan dan mikro
organisme yang ada di alam sekitar kita.
Jumlah pencemaran yang sangat masal oleh manusia membuat alam tidak mampu
mengembalikan kondisi ke seperti semula. Alam menjadi kehilangan kemampuan untuk
memurnikan pencemaran yang terjadi. Sampah dan zat seperti plastik, DDT, deterjen dan
sebagainya yang tidak ramah lingkungan akan semakin memperparah kondisi pengrusakan alam
yang kian hari kian bertambah parah.

Ada beberapa yang menjadi penyebab terjadinya pencemaran lingkungan di Air dan di Tanah
antara lain :
1. Terjadinya erosi dan curah hujan yang tinggi.
2. Banyaknya sampah buangan manusia dari rumah-rumah atau pemukiman penduduk.
3. Menyebarnya zat kimia dari lokasi rumah penduduk, pertanian, industri, dan
sebagainya.
Sampah dan air limbah mengandung berbagai macam unsur seperti gas-gas terlarut, zat-zat padat
terlarut, minyak dan lemak serta mikroorganisme. Mikroorganisme yang terkandung dalam
sampah dan air limbah dapat berupa organisme pengurai dan penyebab penyakit. Penanganan
sampah dan air limbah yang kurang baik seperti: pengaliran air limbah ke dalam saluran terbuka,
atau dinding dan dasar saluran yang rusak karena kurang terpelihara.
Pembuangan kotoran dan sampah kedalam saluran yang menyebabkan penyumbatan dan
timbulnya genangan akan mempercepat berkembangbiaknya mikroorganisme atau kuman-kuman
penyebab penyakit, serangga dan mamalia penyebar penyakit seperti lalat dan tikus.

Terdapat beberapa penyakit yang ditimbulkan oleh sanitasi yang kurang baik serta pembuangan
sampah dan air limbah yang kurang baik diantaranya adalah :
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.

Diare
Demam berdarah
Disentri
Hepatitis A
Kolera
Tiphus
Cacingan
Malaria

Maka yang harus kita lakukan dalam menanggulangi pencemaran air dan tanah serta terhindar
dari berbagai penyakit adalah pola hidup bersih dan sehat. Hidup bersih dan sehat dapat diartikan
sebagai hidup di lingkungan yang memiliki standar kebersihan dan kesehatan serta menjalankan
pola/perilaku hidup bersih dan sehat. Lingkungan yang sehat dapat memberikan efek terhadap
kualitas kesehatan. Kesehatan seseorang akan menjadi baik jika lingkungan yang ada di
sekitarnya juga baik. Begitu juga sebaliknya, kesehatan seseorang akan menjadi buruk jika
lingkungan yang ada di sekitarnya kurang baik.

KESIMPULAN :
Dalam penyediaan air bersih, Indonesia khususnya masih sangat kurang. Minimnya penyaluran
air bersih, sehingga banyak yang belum memiliki sumber air bersih atau bahkan di beberapa
daerah harus membeli air bersih untuk kebutuhan sehari-hari. Ini juga berpengaruh terhadap
kesehatan masyarakat, dimana akan timbul penyakit penyakit apabila memiliki sanitasi air yang
buruk.

3. PENGELOLAAN LIMBAH

Pengolahan Limbah Cair


http://www.chem-is-try.org/materi_kimia/kimia-industri/limbah-industri/pengolahan-limbahcair/
Dalam perencanaan terdapat berbagai ragam istilah yang lazim digunakan dalam menentukan
ukuran/dimensi atau tingkat beban dari limbah yang akan ciproses. Pengertian dasar dari
berbagai ragam istilah tersebut adalah sebagai berikut :
a. Hydraulic Load: Artinya adalah jumlah volume limbah yang perlu diolah dalam sehari,
biasanya dalam bentuk m3/hari. Misalnya hydraulic load limbah dari suatu asrama adalah
40 m3/hari, maka artinya volume limbah yang dihasilkan dari penghuni dan kegiatan
asrama tersebut setiap harinya adalah 40 m3.
b. Flow time: Artinya berapa lama seluruh volume limbah tersebut mengalir karena pada
kenyataannya aktivitas manusia yang menghasilkan limbah tidak konstant sehari penuh.
Mis alnya flow time dari asrama tersebut diatas adalah 14 jam.Artinya limbah mengalir
hanya dalam periode 14 jam (mis dari jam 6.00 s/d jam 20.00) dan seterusnya selama 10
jam aliran berhenti.
c. Flow rate: Artinya adalah volume aliran limbah per jam.Misalnya untuk kasus diatas
maka Peak flow adalah 40 m3/14 jam = 2.86 m3/jam.
d. Peak Flow: Ada waktu waktu tertentu dimana aliran limbah lebih banyak dibanding
waktu lainnya, misalnya kegiatan pada pagi hari dimana seluruh penghuni asrama pada
mandi, cuci pakaian,dlsb. Tetapi sebaliknya juga ada waktu tertentu dimana aliran limbah
hanya sedikit, sehingga biasanya untuk basis perhitungan diambil secara rata rata (Flow
Rate).
e. Organic Load: istilah yang mencerminkan jumlah beban organik yang ada didalam
limbah yang akan diolah dan ini ditunjukkan oleh kandungan BOD dan COD. Ada
beberapa satuan yang lazim dipakai ialah mg/Itr, kg/m3, kg,hari, dlsb.Lepas dari apa
satuan yang dipakai tetapi pada intinya sama saja.Misalnya limbah asrama tersabut diatas
mempunyai BOD = 300 mg/Itr dan COD = 400 mg/Itr. Maka bisa juga disebut bahwa :
BOD load limbah asrama = 12 kg/hari COD load limbah asrama = 16 kg/hari mg/Itr.
Maka bisa juga disebut bahwa : BOD load limbah asrama = 12 kg/hari COD load limbah
asrama = 16 kg/hari.

f. Hydraulic Retention Time atau Detention time: Sering juga disingkat dengan istilah HRT
yang artinya adalah berapa lama limbah akan menginap didalam sistem pengolahan.
Lebih lama limbah menginap maka proses pengolahan lebih baik tetapi konstruksi
menjadi besar. Sebaliknya bile terlampau cepat maka praktis hanya lewat saja hingga
tidak terjadi proses pengolahan.
g. Ratio SS/COD terendap: Sering juga disebut sebagai settleable SS/COD ratio.SS
(suspended solid) adalah jumlah banan padat yang melayang dalam air (mg/Itr). Sebagian
dapat diendapkan dan jumlah yang mudah terendapkan dibanding dengan kandungan
COD, disebut sebagai ratio SS/COD terendap. Untuk limbah domestik ratio ini biasanya
berkisar antara 0.35 s/d 0.45.
h. Desludging interval : Artinya jangka waktu yang kita inginkan untuk menguras lumpur
dalam sistem pengolahan limbah(misalnya sekali setahun, sekali tiap lima tahun,dlsb).
Perlu diketahui bahwa sistem pengolahan limbah selalu menghasilkan lumpur. Banyak
sedikitnya lumpur ini tergantung dari sistem/teknologi yang dipakai. Lumpur tersebut
secara periodik perlu dikuras dan bila kita inginkan interval yang lama (misalnya sekali
dalam waktu lima tahun)maka konstruksi yang dibutuhkan menjadi besar.Sebaliknya bila
intervalnya singkat (misalnya sekalitiap bulan) maka konstruksi bisa lebih kecil. Tetapi
bila terlampau sering menguras jelas akan sangat merepotkan.
i. Strength: Arti harafiahnya adalah kekuatan tetapi dalam urusan limbah artinya adalah
tingkat pencemarannya(yang ditunjukkan dengan COD atau BOD). Jadi limbah dengan
high strength artinya kadar BOD/COD nya tinggi. Sedangkan limbah low strength artinya
kadar BOD/COD nya rendah.Sebelum melangkah pada pemilihan teknologi, kita harus

mengetahui dan menentukan beberapa hal pokok seperti :


Asal / sumber limbah cair
Volume limbah yang akan diolah
Bahan pencemar yang terkandung dalam limbah
Kandungan apa saja yang akan dihilangkan
Effluentnya akan dibuang kemana
Regulasi yang berlaku
Aspirasi non teknis yang terkait dengan perencanaan dan pemilihan sistim.Semua data
tersebut berkaitan erat untuk perencanaan dan pemilihan sistim pengolahan yang akan
dipakai.

KESIMPULAN :
Dalam hal pembuangan limbah, terdapat beberapa parameter yang dapat digunakan untuk
mengukur kadar kadar yang terdapat pada limbah, sehingga diharapkan dapat membantu proses
pengolahan limbah. Namun, dewasa ini masih ada pabrik , industry ataupun rumah tangga yang
membuang limbah sembarangan, tanpa mengklasifikasikan jenis limbah tersebut meskipun sudah
peraturan pemerintah tentang pembuangan limbah yang berbahaya dan beracun.

4. FOOD HYGIENE
http://www.bapelkescikarang.or.id/index.php?option=com_content&view=article&id=484:sanitasi-makanan&catid=39:kesehatan&Itemid=15
Kata hygiene berasal dari bahasa Yunani yang artinya ilmu untuk membentuk dan menjaga
kesehatan (Streeth, J.A. and Southgate,H.A, 1986). Dalam sejarah Yunani, Hygiene berasal dari
nama seorang Dewi yaitu Hygea (Dewi pencegah penyakit).
Menurut Prescott, hygiene menyangkut dua aspek yaitu:

Yang menyangkut individu (personal hygiene)


Yang menyangkut lingkungan (environment)

Sanitasi adalah usaha-usaha pengawasan yang ditujukan terhadap faktor-faktor lingkungan fisik,
kimia, biologi yang dapat memungkinkan mata rantai penularan penyakit.
Makanan adalah semua substansi yang diperlukan oleh tubuh, tidak termasuk air, obat-obatan
dan substansi yang diperlukan untuk tujuan pengobatan. (WHO)
Sanitasi makanan adalah usaha-usaha yang dilakukan termasuk pengawasan terhadap makanan
agar makanan yang dikonsumsi oleh tubuh kita tidak menimbulkan suatu penyakit.
Usaha-usaha pengawasan yang dilakukan dapat dimulai dari bahan makanan hingga makanan
siap disantap. atau dengan kata lain sanitasi makanan adalah upaya untuk mengendalikan factor
makanan, orang, tempat dan perlengkapannya yang dapat atau mungkin dapat menimbulkan
penyakit atau gangguan kesehatan.

Sebelum melakukan pengawasan perlu diketahui dahulu 6 prinsip hygiene sanitasi makanan
yaitu :

Kondisi bahan makanan


Pengiriman bahan baku makanan
Penyimpanan bahan baku makanan
Proses memasak/pengolahan
Cara pengangkutan makanan masak
Cara penyajian makanan.

Usaha-usaha pengawasan dapat dilakukan dimulai dari factor fisik, kimia, maupun biologi baik
dilakukan sendiri maupun orang lain atau kelompok.
PERSYARATAN HIGIENE SANITASI MAKANAN
FISIK :
1. Bahan Makanan :
Kondisi bahan makanan terlihat bersih dan segar, bentuk utuh tidak rusak, tidak

berbau selain dari bau bahan itu sendiri (organoleptik), jelas sumbernya.
Penyimpanan bahan makanan sesuai dengan suhu
Suhu kamar, :25oC-30oC untuk bahan kering seperti : Beras, kacangkacangan, tepung, mie kering, bahan bumbu, menggunakan wadah agar tidak

o
o
o
o
2.

mudah tercecer, Rapid and fifo


Suhu dingin :-10oC 15 0C untuk bauh dan sayuran
Lemari kulkas
: 1- 4 oC untuk Telur
Frezer
: 0 5 0C untuk daging, ikan masak
Beku
: - 20 0C untuk daging
Tempat Pengelolahan Makanan (TPM) : Lokasi, Kontruksi, Halaman, Tata Ruang, Lantai
yang tidak licin dan mudah dibersihkan, Dinding terlihat cerah dan mudah dibersihkan ,
Atap dan Langit-Langit bersih, Pintu dan Jendela dapat dibuka dan tutup, Pencahayaan
terang , Ventilasi/Penghawaan 20 % dari luas ruangan, , Ruang Pengolahan Makanan
terlihat terang dan tidak ada lalat beterbangan, Fasilitas Pencucian Peralatan Dan Bahan
Makanan yang terpisah dan bersih, tidak terlihat binatang pengerat dan serangga, Tempat
Cuci Tangan, Air Bersih tersedia dan mengalir , Jamban dan Peturasan terpisah dari
tempat pengelolaan makanan, Kamar Mandi tersedia air dan sabun dan mempunyai

saluran air kotor yang tertutup, Tempat Sampah tertutup , Fasilitas Penyimpanan Pakaian
Karyawan (Locker), alat Pembersihan dan Pemeliharaan. terkontrol dan tersedia.
3. Peralatan : Kebersihan peralatan memasak, pengolahan, penyajian
Kebersihan alat : tidak berlendir, tidak berbau anyir,terlihat bersih, tersusun rapi, tidak
ada binatang pengerat dan serangga. Tidak menimbulkan karsinogenik,
Orang : Pengolah Makanan, Penyaji Makanan,
Pengolah makanan dan Penyaji makanan : terlihat bersih dan rapi, tidak sedang sakit,
memakai penutup rambut, kuku pendek dan tidak memakai cincin, serta tidak merokok.
Proses mengolah : Pencucian bahan pada air mengalir, peracikan sesuai dan tidak
menimbulkan masalah baru kematangannya sempurna sesuai suhu.
Persyaratan Kimia:
Bahan makanan tidak mengandung Racun dan bahan kimia berbahaya, seperti sianida, Pengawet
makanan, pewarna sintetis, pemanis buatan, organoklorin, atau secara organoleptik tidak berbau
amoniak, Urea, atau besi, pH normal,
Persyaratan Biologi :
Bahan makanan : Tidak mengandung mikroorganisme yang menimbulkan penyakit seperti
E.Coli, telur cacing atau lalat,
Makanan siap saji : tidak mengandung Coliform, basillus aureus, bakteri atau virus yang
mencemari makanan. tidak ada lalat hinggap di makanan , telur cacing atau lalat.

KESIMPULAN :
Makanan merupakan sumber gizi utama bagi manusia. Sanitasi makanan perlu diperhatikan,
agar kandungan gizi dalam makanan tetap terjamin sehingga berdaya guna bagi yang
mengkonsumsi. Yang perlu diperhatikan adalah kondisi bahan makanan, pengiriman bahan baku
makanan, penyimpanan bahan baku makanan, proses memasak/pengolahan, cara pengangkutan
makanan masak dan cara penyajian makanan.

5. PENGENDALIAN VENKTOR DAN RODENT


http://sains.kompas.com/read/2012/10/04/08250166/Nyamuk.Mandul.Memberantas.DBD
Nyamuk Mandul Memberantas DBD
Oleh Amanda Putri
KOMPAS.com - Metode pengasapan insektisida untuk memberantas nyamuk demam berdarah
dengue belumlah optimal, bahkan membuat nyamuk Aedes aegyptivektor DBDmenjadi
resistan. Kini, ada alternatif mengurangi populasi nyamuk, yakni menebarkan nyamuk-nyamuk
mandul.
Bergelut dengan nyamuk sejak tahun 2004, Ali Rahayu, peneliti pada Pusat Aplikasi Teknologi
Isotop dan Radiasi Badan Tenaga Nuklir Nasional (Batan), membuktikan, teknologi serangga
mandul (TSM) mampu mengurangi populasi nyamuk Aedes aegypti. Teknologi serupa
sebelumnya sukses diterapkan pada eradikasi lalat ternak Cochliomyia hominivorax di Pulau
Curacao, Amerika Serikat, tahun 1958-1959. Di Indonesia, penelitian fokus pada pengendalian
populasi lalat buah Bactrocera carambolae serta nyamuk vektor DBD dan malaria.
Secara teknis, nyamuk jantan dimandulkan dengan diberi paparan radiasi sinar gamma sebesar
70 gray. Nyamuk dimasukkan dalam tabung-tabung kaca berukuran sama dan diletakkan dalam
jarak tertentu dari sumber radiasi. Dua menit saja, ratusan hingga ribuan nyamuk menjadi
mandul karena kerja sperma mereka terganggu.
Paparan sinar gamma itu tergolong sangat kecil. Bandingkan dengan makanan yang diawetkan
dengan paparan sinar gamma yang mencapai 10.000 gray. Oleh karena itu, Ali berpendapat,
iradiasi tersebut tak akan menghasilkan mutan dan tak akan berpengaruh pada hewan pemangsa
nyamuk dalam rantai mangsa.
Penembakan sinar gamma langsung ke tubuh nyamuk lebih efektif dibandingkan dengan
melakukannya pada larva. Larva nyamuk berada di air sehingga menghambat iradiasi. Nyamuk,
sejak usia satu hari, sudah memungkinkan untuk dimandulkan.

Nyamuk-nyamuk itu kemudian dilepaskan di rumah-rumah penduduk dengan perbandingan


sembilan nyamuk jantan mandul per satu ekor nyamuk di tiap rumah. Artinya, jika ditemukan
lima ekor nyamuk, ada 45 nyamuk jantan dilepaskan.
Nyamuk-nyamuk mandul hanya akan mengganggu populasi nyamuk Aedes aegypti karena telurtelur yang dihasilkan nyamuk betina tidak akan terbuahi. Secara teori, otomatis jumlahnya di
alam akan berkurang.
Di lapangan, perlakuan seperti itu berlangsung satu kali sepekan dalam lima minggu berturutturut di tiga tempat, yaitu di Kota Salatiga, Kabupaten Banjarnegara, dan Bangka Barat. Meski
dengan kondisi geografis berbeda, cara tersebut menunjukkan hasil serupa. Populasi nyamuk
menurun hingga 95,23 persen. Kondisi itu bertahan 3-6 bulan hingga kasus DBD kembali
muncul.
Idealnya, lanjut Ali, perlakuan sama harus diulang dalam kurun waktu 3-6 bulan kemudian. Ini
jauh lebih efektif ketimbang teknik pengasapan insektisida, yang biasanya hanya bertahan 30
menit dan tak mampu mematikan larva.
Biaya yang dibutuhkan juga jauh lebih murah ketimbang pengasapan. Untuk lima kali pelepasan
nyamuk di 100 rumah, misalnya, hanya dibutuhkan biaya Rp 180.000. Bandingkan dengan
pengasapan yang bisa mencapai Rp 1 juta dengan frekuensi yang sama.
Masyarakat pun tidak perlu khawatir karena nyamuk jantan tak mengisap darah manusia seperti
nyamuk betina yang membutuhkannya untuk mematangkan telur-telurnya. Nyamuk jantan lebih
sering hinggap di tanaman dan mengambil sari-sari bunga.
Pada awalnya agak sulit karena banyak orang justru ketakutan ketika rumah mereka disebar
nyamuk meskipun itu adalah nyamuk jantan yang tidak pernah hinggap di tubuh manusia, ujar
Ali.
Meskipun populasi nyamuk Aedes aegypti berkurang, Kepala Balai Besar Penelitian dan
Pengembangan Vektor dan Reservoir (B2P2VRP) Bambang Heriyanto mengungkapkan, tak
dapat disimpulkan bahwa kasus DBD ikut berkurang.

Banyak faktor yang mengakibatkan kasus DBD terjadi. Walaupun lingkungan rumah sudah
steril, seseorang dapat terkena virus di lokasi lain, ujar dia.
Kepala Dinas Kesehatan Kota Salatiga Sovie Harjanti menyebutkan, di Kota Salatiga, hingga
September 2012, ada 15 kasus DBD ditemukan. Angka kasus terus turun sejak 2010 yang
mencapai 155 kasus. Tahun 2012, wilayah endemis DBD yang dijadikan lokasi penelitian, yaitu
Kelurahan Sidorejo Lor dan Kelurahan Blotongan, tidak lagi ditemukan kejadian DBD.
Namun, saya belum dapat menyimpulkan menurunnya angka kasus ini karena uji coba tersebut
atau faktor lain. Sebab, cuaca juga mendukung, saat ini musim kemarau lebih panjang, kata
Sovie.
Dikaji lama
Direktur Pengendalian Penyakit Bersumber Binatang Kementerian Kesehatan Winarno
mengungkapkan, pihaknya masih akan mengkaji metode TSM untuk dimasukkan dalam
kebijakan. Kami perlu berhitung juga, seberapa besar biayanya, dikalikan siklus berapa kali
pelepasan harus dilakukan dalam satu tahun, di wilayah mana saja, perlu nyamuk berapa
banyak, ujarnya. Tahun 2008, pengkajian ini sebenarnya sudah dimulai.
Ia mengatakan, TSM kemungkinan akan menjadi salah satu alternatif penanggulangan DBD.
Sebab, selama ini, program pemberantasan sarang nyamuk serta pengasapan masih banyak
memiliki kelemahan. Penanggulangan DBD akan lebih optimal jika disesuaikan dengan
karakteristik wilayah dan masyarakat setempat.
Secara nasional, angka kasus DBD ditargetkan maksimal apabila mencapai angka 55 kejadian
per 100.000 jiwa pada tahun 2014. Winarno optimistis target itu tercapai karena mulai tahun
2011 dan 2012, kasus DBD rata-rata menurun.
Apa pun hasilnya, TSM merupakan cara lain pemanfaatan teknologi nuklir, selain untuk
pembangkit listrik yang hingga kini diliputi pro-kontra.

KESIMPULAN :

Saya sangat setuju tentang program ini dalam hal pemberantasan nyamuk ini,tetapi kita juga
harus bijak dalam menggunakannya agar tidak terjadi penecmaran lingkungan, maka dari itu
harus dilihat untung ruginya program ini.

6. PENCEMARAN UDARA
http://www.artikellingkunganhidup.com/penyebab-polusi-udara.html

Penyebab Polusi Udara


Udara pada lingkungan tercemar oleh zat-zat polutan sehingga tidak bersih lagi dan merupakan
gangguan bagi makhluk hidup/manusia sekitarnya. Dengan kemajuan teknologi pada masa kini,
polusi udara telah menimbulkan banyak kekhawatiran terutama di daera daerah industri.
Penyebab polusi udara dapat terjadi akibat dari, yaitu;
1. Kendaraan bermotor
Semua kendaraan bermotor yang memakai bensin dan solar akan mengeluarkan gas CO,
Nitrogen Oksida, blerang dioksida dan partikel-partikel lain dan sisa pembakarannya. Unsurunsur ini bila mencapai kuantum tertentu dapat merupakan racun bagi manusia atau hewan.
Sebagai contoh gas CO merupakan racun bagi fugnsi-fungsi darah, SO2 dapat menimbulkan
penyakit sistem pernapasan.
2. Pabrik Pabrik industri
Bagi pabrik industri yang di antara bahan bakunya banyak menggunakan zat-zat kimia organik
maupun anorganik. Sebagai hasi pengelolaannya selai menghasilkan produk-produk yang
berguna bagi kepentingan hidup manusia juga dikeluarkan produk-produk yang tidak berguna
malahan dapat berupa racun. Produk-produk yang tidak berguna ini jelas akan dibuang dan bisa
merusak lingkungan, berupa gangguan pada kehidupan dan kelestarian lingkugan bila tanpa
pengendalian.
Berbagai bentuk penyakit akan timbul pada masyarakat di sekitar pabrik atau pada pekerja
sendiri akibat masuknya zat-zat buangan ini ke dalam tubuh. Misal dengan timbulnyaapa yang
disebut penyakit Pneumokoniosis, yaitu segolongan penyakit yang disebabkan oleh penimbunan
debu-debu dalam paru-paru.
Untuk menentukan apakah orang tersebut terserang penyakit paru-paru akibat penimbunan debu
dalam paru-paru, tidak mudah kalau hanya berdasarkan kelainan-kelainan yang terjadi pada
tubuh. Harus ada riwayat pekerjaan atau lingkungan tempat tinggal ang selalu mereka gunakan

atau sering berurusan dengan debu-debu yang membahayakan misalnya pernah bekerja atau
pernah tinggal di sekitar petambangan, di pabrik keramik dan lain-lain.
Kelainan yang terjadi pada tubuh bergantung pada banyaknya debu yang timbul dalam paruparu, makin luas bagian paru yang terkena makin hebatlah gejala-gejalanya, walaupun hal itu
tidak selalu benar. Gejala yang timbul, antara lain batuk-batuk kering, sesak napas, kelelahan
umum, berat badan yang turun, banyak berdahak dan lain-lain.
Untuk pengobatan secara khusus terhadap penyakit ini boleh dikatakan tidak ada. Pemberian
obat-obatan umumnya hanya ditujukan untuk mengurangi penderitaan dan gejala-gejala yang
timbul. Satu-satunya tindakan adalah yang bersangkutan tidak lagi mengisap debu berbahaya
tadi.
Dengan demikian pencegahan merupakan hal yang perlu diutamakan. Biaya pencegahan relatif
tidak seberapa bila dibandingkan dengna akibat penyakit ini.
KESIMPULAN :
Polusi udara dapat ditimbulkan oleh asap asap kendaraan bermotor, sisa hasil pengolahan pabrik
pabrik industri dan sebagainya. Disamping itu, polusi udara juga sangat berpengaruh terhadap
kesehatan masyarakat. Kelainan yang terjadi pada tubuh bergantung pada banyaknya polusi yang
terpapar. Gejala yang timbul, antara lain batuk-batuk kering, sesak napas, kelelahan umum, berat
badan yang turun, banyak berdahak dan lain-lain.
7. PEMBUANGAN TINJA
Pengertian :
Kotoran manusia adalah semua benda atau zat yang tidak dipakai lagi oleh tubuh yang harus
dikeluarkan dari dalam tubuh. Zat-zat yang harus dikeluarkan dari dalam tubuh ini berbentuk
tinja (faeces), air seni (urine), dan CO2 sebagai hasil dari proses pernapasan. Pembuangan
kotoran manusia didalam tulisan ini dimaksudkan hanya tempat pembuangan tinja dan urin, yang
pada umumnya disebut latrine (jamban atau kakus). proses pembuangan kotoran dapat terjadi
(bergantung pada individu dan kondisi) antara sekali setiap dua hari hingga beberapa kali dalam
sehari.Pengerasan tinja dapat menyebabkan meningkatnya waktu antara pengeluarannya dan
disebut dengan konstipasi.
Tinja adalah bahan buangan yang dikeluarkan dari tubuh manusia melalui anus sebagai sisa dari
proses pencernaan makanan di sepanjang sistem saluran pencernaan (tractus digestifus).

Pengertian tinja ini juga mencakup seluruh bahan buangan yang dikeluarkan dari tubuh manusia
termasuk karbon monoksida (CO2) yang dikeluarkan sebagai sisa dari proses pernafasan,
keringat, lendir dari ekskresi kelenjar, dan sebagainya (Soeparman, 2002:11). Ekskreta manusia
(human excreta) yang berupa feses dan air seni (urine) merupakan hasil akhir dari proses yang
berlangsung dalam tubuh manusia yang menyebabkan pemisahan dan pembuangan zat-zat yang
tidak dibutuhkan oleh tubuh (Chandra, 2007:124).
Jamban Tidak Sehat Dalam ilmu kesehatan lingkungan, dari berbagai jenis kotoran manusia,
yang lebih dipentingkan jenis kotoran manusia, yang lebih dipentingkan adalah tinja (faeces) dan
air seni (urine) karena kedua bahan buangan ini memiliki karakteristik tersendiri dan dapat
menjadi sumber penyebab timbulnya berbagai macam penyakit saluran pencernaan (Azwar,
1995).
Karakteristik pembuangan tinja :
Menurut Azwar (1995:74) seorang yang normal diperkirakan menghasilkan tinja rata-rata sehari
sekitar 83 gram dan menghasilkan air seni sekitar 970 gram. Kedua jenis kotoran manusia ini
sebagian besar berupa air, terdiri dari zat-zat organik (sekitar 20% untuk tinja dan 2,5% untuk air
seni), serta zat-zat anorganik seperti nitrogen, asam fosfat, sulfur, dan sebagainya. Perkiraan
komposisi tinja dapat dilihat pada tabel berikut (Soeparman, 2002):
Perkiraan komposisi tinja tanpa air seni

Komponen Kandungan %
Air 66-80
Bahan organik (dari berat kering) 88-97
Nitrogen (dari berat kering) 5,7-7,0
Fosfor (sebagai P2O5) (dari berat kering) 3,5-5,4
Potasium (sebagai K2O) (dari berat kering) 1,0-2,5
Karbon (dari berat kering) 40-55

Kalsium (sebagai CaO) (dari berat kering) 4-5


C/N rasio (dari berat kering) 5-10
Selain kandungan komponen-komponen di atas, pada setiap gram tinja juga mengandung
berjuta-juta mikroorganisme yang pada umumnya tidak berbahaya bagi kesehatan/ tidak
menyebabkan penyakit.
Namun tinja potensial mengandung mikroorganisme patogen, terutama apabila manusia yang
menghasilkannya menderita penyakit saluran pencernaan makanan (enteric orintestinal
disesases).Mikroorganisme tersebut dapat berupa bakteri, virus, protozoa, ataupun cacing-cacing
parasit.Coliform bacteria yang dikenal sebagai Echerichia coli dan Fecal stretococci
(enterococci) yang sering terdapat di saluran pencernaan manusia, dikeluarkan dari tubuh
manusia dan hewan-hewan berdarah panas lainnya dalam jumlah besar rata-rata sekitar 50 juta
per gram (Soeparman, 2002)).
Metode pembuangan
Metode pembuangan kotoran manusia secara umum dapat dibagi menjadi dua, unsewered area
dan sewered area.
1. Unsewered Areas
Metode unsewered area merupakan suatu cara pembuangan tinja yang tidak menggunakan
saluran air dan tempat pengolahan air kotor. Di dalam metode ini, terdapat beberapa pilihan cara,
antara lain :

2.
3.
4.

5.
6.
7.

o Jenis Layanan (sistem conservacy) (Service type (conservacy system) )


o Jenis non-layanan (kakus) (Non-service type (sanitary latrines) ).
Bore lubang jamban (Bore hole latrine)
Jenis segel air kakus (Dug well or pit latrine)
Sumur gali atau lubang jamban (Water seal type of latrines)
PRAI type
RCA type
Septic tank
Aqua privy
Chemical closet

Kakus cocok untuk kamp dan penggunaan sementara (latrines suitable for camps and temporary
use).
1.
2.
3.
4.

Jamban Dangkal (Shallow trench latrine)


Jamban Dalam (Deep trench latrine)
Pit jamban (Pit latrine)
lubang jamban (Bore hole latrine)
a. Service Type (Conservancy System)

Metode pengumpulan tinja dari ember-ember khusus oleh manusia disebut service type dan
kakusnya disebut service latrines. Kotoran diangkut ke pembuangan akhir dan dimusnahkan
dengan metode composting dan ditanam dalam lubang yang dangkal. service latrines selain
selain tidak sehat juga dapat menyebabkan pencemaran yang tentunya memfasilitasi siklus
penyakit yang ditularkan melalui feses (faecalborne). Kotoran di dalam lubang dangkal itu
mudah diakses oleh lalat dan kemungkinan menyebabkan pencemaran pada tanah dan air. Ember
dan wadahnya mudah mengalami korosi dan perlu sering diganti. Operasi pengosomgan ember
tidak selalu memuaskan, disamping adanya kesulitan untuk mengumpulkan pekerja yang cocok
yang diperlukan dalam pengumplan tinja. Karena kesulitan tersebut, sebaiknya di pergunakan
sistem sanitary latrines di dalam pembuangan kotoran manusia.
b. Non-Service Type of Latrines (Sanitary Latrines)
Di dalam sistem sanitary latrines ini, ada beberapa teknik yang dapat kita gunakan, Antara lain :
1. Lubang Jamban (bore hole latrine)
Bore hole latrine terdiri dari lubang dengan diameter 30-40 cm yang digali secara vertikal ke
dalam tanah dengan kedalaman 4-8 m, paling sering 6 m. Alat khusus yang disebut auger
dibutuhkan untuk menggali lubangnya. Pada tanah yang lunak dan berpasir, lubang dilapisi
dengan bambu untuk mencegah agar tanahnya tidak runtuh. Plat dengan lubang di tengah dan
lubang untuk berpijak diletakkan di atas lubang hasil pengeboran tersebut. Sistem ini ditujukan
bagi keluarga yang beranggotakan 5-6 jiwa dan dapat dipakai selama 1 tahun. Cara ini juga
sesuai untuk keluarga tetapi tidak sesuai untuk umum karena kapasitasnya kecil. Jika isinya
sudah mencapai 50 cm dari permukaan tanah, plat dapat diangkat dan lubang ditutup dengan
tanah. Lubang baru dapat dibuat kembali dengan cara yang sama. Kotoran dalam lubang akan

dipurifikasi oleh bakteri anaerobik yang akan mengubahnya menjadi massa yang tidak
berbahaya.
Keuntungan dari kakus bore hole ini antara lain :

Tidak memerlukan pembersihan setiap hari untuk memindahkan tinja.


Lubangnya gelap dan tidak cocok bagi lalat untuk berkembang biak.
Bila lokasinya 15 m dari sumber air, tidak akan menimbulkan pencemaran pada air.
Sistem ini sekarang tidak cocok lagi karena beberapa alasan berikut :
Lubang tersebut cepat penuh karena kapasitasnya kecil.
Alat khusus (auger) yang dibutuhkan untuk membuatnya tidak selalu tersedia.
Banyak tempat yang lapisan tanahnya lunak sehingga sulit menggali lubang lebih dalam
dari 3 meter. Selain itu, banyak juga daerah yang berair dan memiliki lapisan permukaan
yang lebih tinggi sehingga pembangunan sistem semacam ini justru dapat mencemari

permukaan tanah.
2. Sumur gali jamban (Dug well latrine)
Dug well latrine merupakan pengembangan dari bore hole latrine. Metode ini dilakukan dengan
cara membuat lubang berdiameter sekitar 75 cm dengan kedalaman 3-3,5 m. Di daerah dengan
tanah berpasir, kedalamannya 1,5-2 m. Lubang dapat dilapisi dengan bambu untuk mencegah
runtuhnya tanah. Setelah plat dipasang di atas lubang, lubang ditutup dengan super structure
(rumah-rumahan), manfaat tipe ini, antara lain :

Mudah dibuat dan tidak membutuhkan alat khusus seperti auger.


Bisa digunakan lebih lama karena kapasitasnya lebih besar yaitu selama 5 tahun untuk 4-

5 orang.
Bila lubang telah penuh, lubang baru dapat dibuat. Kerja dug well latrine ini sama dengan

bore hole latrine, yaitu secara anaerob digestion.


3. Sumur gali atau lubang jamban (Water Seal Type of Latrine)
Water seal ini dibuat untuk dua fungsi penting, yaitu mencegah kontak dengan lalat dan
mencegah bau busuk. Sistem ini lebih bisa diterima oleh masyarakat desa daripada sistem bore
hole latrine. Keuntungan kakus jenis ini, antara lain :

Memenuhi syarat estetika.


Dapat ditempatkan di dalam rumah karena tidak bau sehingga pemakaiannya lebih
praktis.

Aman untuk anak-anak. Adapun persyaratan di dalam penerapan sistem water seal

latrine, antara lain :


Lokasinya sekitar 15 m dari sumber air dan sebaiknya berada pada daerah yang lebih

rendah dari sumber air untuk mencegah kontaminasi bakteri pada sumber air.
Memiliki plat untuk jongkok dibuat dari bahan yang mudah dicuci, cepat bersih, dan
kering. Plat ini terbuat dari beton/semendengan ukuran 90 x 90 x 5 cm. Ada kemiringan

0,5 inci pada wadahnya untuk memudahkan aliran ke dalam kakus.


Memiliki wadah (pan) yang ditujukan untuk menampung tinja, urine dan air. Panjangnya

42,5 cm, lebar bagian depan 12,5 cm dan bagian yang terlebar adalah 20 cm.
Memilik perangkap (trap) yang terbuat dari pipa dengan diameter 7,5 cm yang
dihubungkan dengan pas di atas dan menyimpan air yang penting untuk water seal. Water
seal adalah jarak antara titik tertinggi air didalam perangkap dan titik terbawah air ada
pada permukaan atas perangkap. Kedalaman water seal pada RCA latrine adalah 2 cm.

Water seal dapat mencegah bau dan masuknya lalat.


Jika lubang yang digali terletak jauh dari plat tempat jongkok, dapat disiapkan sebuah
pipa penghubung antara keduanya dengan diameter sekitar 7,5 cm dan panjangnya
sekurang-kurangnya1 m serta berujung bengkok. Tipe ini disebut tipe indirect (tidak
langsung). Pada tipe direct (langsung), pipa penghubung tidak digunakan. Tipe langsung
paling baik pada daerah yang tanahnya keras dan tidak mudah runtuh. Tipe langsung
lebih murah dan mudah dibuat serta memerlukan ruangan yang kecil. Kelebihan dari tipe
indirect adalah bahwa jika lubang telah penuh, lubang kedua dapat dibuat hanya dengan

mengubah arah pipa penghubung. Oleh karena itu, tipe indirect lebih disukai.
Memiliki dug well latrine yang biasanya berdiameter sekitar 75 cm dengan kedalaman 33,5 cm. Pada tanah yang lembut dan memiliki kandunga air yang tinggi, bamabu dapat

digunakan untuk mencegah runtuhnya tanah.


Memiliki super structure (rumah-rumahan) yang sengaja dibangun untuk menyediakan

kebebasan pribadi dan tempat berlindung.


Di dalam pemeliharaannya, kakus ini hanya digunakan untuk kepentingan yang
dimaksudkan dan tidak untuk pembuangan bahan-bahan lain. Platnya harus sering

dibersihkan dan dijaga agar selalu kering dan bersih.


4. Septic Tank
Septic tank merupakan cara yang memuaskan dalam pembuangan ekskreta untuk sekelompok
kecil rumah tangga dan lembaga yang memiliki persediaan air yang mencukupi, tetapi tidak

memiliki hubungan dengan sistem penyaluran limbah masyarakat. Desain utama dari septic tank
antara lain :

Kapasitas septic tank bergantung pada jumlah pemakai. Kapasitas 20-30 galon/orang
dinjurkan untuk penggunaan rumah tangga. Kapasitas untuk rumah tangga itu tidak
berlaku untuk septic tank yang ditujukan untuk kepentingan umum (kapasitas minimal 50

galon/orang).
Ukuran panjang biasanya 2 kali lebar.
Kedalaman lubang antara 1,5-2 m.
Kedalaman cairan dianjurkan hanya 1,2 m.
Ruangan udara minimal 30 cm di antara titik tertinggi cairan di dalam tank dengan

permukaan bawah penutup.


Dasar dibuat miring ke arah lubang pengeluaran.
Memliki lubang air masuk dan keluar, terdapat pipa masuk dan keluar.
Pelapis septic tank terbuat dari papan yang kuat dengan tebal yang sama.
Periode retensi septic tank dirancang selama 24 jam.

Pengelolaan Kotoran Manusia


Masalah penyehatan lingkungan pemukiman khususnya pada pembuangan tinja merupakan salah
satu dari berbagai masalah kesehatan yang perlu mendapatkan prioritas. Penyediaan sarana
pembuangan tinja masyarakat terutama dalam pelaksanaannya tidaklah mudah, karena
menyangkut peran serta masyarakat yang biasanya sangat erat kaitannya dengan prilaku, tingkat
ekonomi, kebudayaan dan pendidikan.
Tempat jamban dapat dipilih yang baik, sehingga bau dari jamban tidak tercium.

Secara

tersendiri dan ditempatkan di luar atau di dalam rumah dan berfungsi untuk melayani 1 sampai
dengan 5 keluarga, atau untuk melayani orang-orang di tempat-tempat umum (terminal, bioskop,
dan sebagainya).
Pembuangan tinja perlu mendapat perhatian khusus karena merupakan satu bahan buangan yang
banyak mendatangkan masalah dalam bidang kesehatan dan sebagai media bibit penyakit, seperti
diare, typhus, muntaber, disentri, cacingan dan gatal-gatal. Selain itu dapat menimbulkan
pencemaran lingkungan pada sumber air dan bau busuk serta estetika.

Jamban keluarga adalah suatu bangunan yang dipergunakan untuk membuang tinja atau kotoran
manusia atau najis bagi suatu keluarga yang lazim disebut kakus atau WC. Syarat jamban yang
sehat sesuai kaidah-kaidah kesehatan adalah sebagai berikut :
1. Tidak memncemari sumber air minum
2. Tidak berbau tinja dan tidak bebas dijamah oleh serangga maupun tikus.
3. Air seni, air bersih dan air penggelontor tidak mencemari tanah sekitar olehnya itu lantai
sedikitnya berukuran 1 X 1 meter dan dibuat cukup landai, miring kearah lobang
jongkok.
4. Mudah dibersihkan dan aman penggunaannnya.
5. Dilengkapi dengan dinding dan penutup
6. Cukup penerangan dan sirkulasi udara.
7. Luas ruangan yang cukup
8. Tersedia air dan alat pembersih.
Pemanfaatan jamban keluarga sangat dipengaruhi oleh tingkat pengetahuan dan kebiasaan
masyarakat. Tujuan program JAGA (jamban keluarga) yaitu tidak membuang tinja ditempat
terbuka melaingkan membangun jamban untuk diri sendiri dan keluarga.Penggunaan jamban
yang baik adalah kotoran yang masuk hendaknya disiram dengan air yang cukup, hal ini selalu
dikerjakan sehabis buang tinja sehingga kotoran tidak tampak lagi. Secara periodic Bowl, leher
angsa dan lantai jamban digunakan dan dipelihara dengan baik, sedangkan pada jamban
cemplung lubang harus selalu ditutup jika jamban tidak digunakan lagi, agar tidak kemasukan
benda-benda lain.
Faktor-faktor yang harus diperhatikan dalam menentukan jarak jamban dan sumber air bersih
adalah sebagai berikut :

Kondisi daerah, datar atau miring


Tinggi rendahnya permukaan air
Arah aliran air tanah
Sifat, macam dan struktur tanah

Untuk mencegah, sekurang-kurangnya mengurangi kontaminasi tinja terhadap lingkungan maka


pembuangan kotoran manusia harus dikelola dengan baik, maksudnya pembuangan kotoran
harus di suatu tempat tertentu atau jamban yang sehat. Suatu jamban disebut sehat untuk daerah
pedesaan apabila memenuhi persyaratan-persyaratan sebagai berikut :

Tidak mengotori permukaan tanah di sekeliling jamban tersebut.


Tidak mengotori air permukaan di sekitarnya
Tidak mengotori air tanah di sekitarnya.
Tidak dapat terjangkau oleh serangga terutama lalat dan kecoa dan binatang
Tidak menimbulkan bau.
Mudah digunakan dan dipelihara (maintenance).
Sederhana desainnya.
Murah
Dapat diterima oleh pemakainya.

Pemanfaatan Kotoran Manusia


1.

Pemanfaatan kotoran manusia sebagai pupuk tanaman

Kotoran manusia bukanlah limbah tak berguna. Sebuah lembaga organik Inggris menyatakan
kotoran manusia dapat memainkan peran penting dalam mengamankan ketahanan pangan masa
depan, misalnya membantu mencegah menurunnya hasil panen tanaman pangan, seperti gandum,
yang sangat membutuhkan pupuk fosfor. "Diperkirakan hanya 10 persen dari 3 juta ton fosfor
yang dikeluarkan oleh populasi manusia di dunia setiap tahun yang kembali ke tanah pertanian,*
kata Asosiasi Pertanahan,badan sertifikasi organik terbesar di Inggris.
Suplai fosfor yang cukup sangat penting bagi pembentukan biji, perkembangan akar, dan
pematangan tanaman. Dulu, penduduk Eropa mengembalikan fosfor ke lahan pertanian melalui
pemupukan menggunakan kotoran ternak dan manusia. Laporan Asosiasi Pertanahan meminta
dilakukannya perubahan regulasi Uni Eropa agar mengizinkan penggunaan endapan pengolahan
limbah, atau blosolid, pada lahan pertanian organik bersertiflkasi. Regulasi ini melarang
penggunaan biosolid pada lahan pertanian organik karena dikhawatirkan ada efek racun dari
logam berat yang disebabkan oleh kombinasi limbah kotoran manusia dengan produk limbah
lain, semisal sampah pabrik.
2. Pemanfaatan kotoran manusia menjadi biogas
Biogas adalah suatu campuran gas-gas yang dihasilkan dari suatu proses fermentasi bahan
organik oleh bakteri dalam keadaan tanpa oksigen atau anaerobik (Sahidu, 1983). Biogas adalah
gas yang dapat terbakar dari hasil fermentasi bahan organik yang berasal dari daun-daunan,
kotoran hewan/manusia, dan lain-lain limbah organik yang berasal dari buangan industri oleh

bakteri anaerob (Wijayanti, 1993).Biogas adalah bahan bakar berguna yang dapat diperoleh
dengan memproses limbah (sisa) pertanian yang basah, kotoran hewan dan manusia atau
campurannya, di dalam alat yang dinamakan penghasil biogas (Harahap dkk, 1980). Menurut
Polprasert (1985), kandungan biogas tergantung dari beberapa faktor seperti komposisi limbah
yang dipakai sebagai bahan baku, beban organik dari digester, dan waktu serta temperatur dari
penguraian secara anaerobik. Walaupun terdapat variasi dalam kandungan biogas,Kandungan
bahan organik di dalam limbah pertanian cukup besar, apabila tidak dikelola dengan baik dapat
menimbulkan berbagai masalah kesehatan dan estetika. Bahan organik terdiri dari senyawasenyawa karbon, hidrogen, oksigen, dan nitrogen, kadang senyawa sulfur, fosfor dan lainlain.Kadar dan jenis bahan yang dapat menurunkan kualitas atau mencemarkan lingkungan
sangat bervariasi tergantung dari jenis hasil pertanian itu sendiri namun secara garis besar, dapat
dinyatakan bahwa limbah hasil pertanian mudah terurai secara biologis di alam (biodegradable)
(Tugaswati dan Nugroho 1985).Tinja dan urin manusia tergolong bahan organik merupakan hasil
sisa perombakkan dan penyerapan dari sistem pencernaan. Berdasarkan kapasitas manusia
dewasa rataan hasil tinja 0,20 kg/hari/jiwa (Sugiharto 1987). Sama halnya dengan limbah
organik lain, limbah manusia dapat digunakan sebagai sumberdaya yang masih jarang
diungkapkan. Nutrisi kotoran manusia tidak jauh berbeda dibanding kotoran ternak.Kalaupun
berbeda tentu akibat pola makan dan sistem pencernaan yang berbeda.Pola makan manusia lebih
banyak memilih bahan makanan kurang berserat, protein lebih tinggi dan umumnya dimasak
sebelum dikonsumsi, sedangkan ternak sebaliknya. Kotoran manusia memiliki keunggulan dari
segi nutrisi, dimana nisbah karbon (C) dan nitrogen (N) jauh lebih rendah dari kotoran ternak
(C/N rasio 6-10:18-30) (Sihombing 1988)
Tinja berasal dari sisa metabolisme tubuh manusia yang harus dikeluarkan agar tidak meracuni
tubuh. Keluaran berupa feses bersama urin biasanya dibuang ke dalam tangki septik. Lumpur
tinja/night soil yang telah memenuhi tangki septik dapat dibawa ke Instalasi Pengolahan Lumpur
Tinja.Komposisi dan volume lumpur tangki septik tergantung dari faktor diet, iklim dan
kesehatan manusia.
3. Pemanfaatan Pengolahan Jamban Pupuk (the Compost Privy)

Pada prinsipnya jamban ini seperti kakus cemplung, hanya lebih dangkal galiannya. Disamping
itu jamban ini juga untuk membuang kotoran binatang dan sampah, daun-daunan. Prosedurnya
adalah sebagai berikut :

Mula-mula membuat jamban cemplung biasa.


Dilapisan bawah sendiri, ditaruh sampah daun-daunan.
Diatasnya ditaruh kotoran dan kotoran biinatang (kalau ada) tiap-tiap hari.
Setelah kira-kira 20 inchi, ditutup lagii dengan daun-daun sampah, selanjutnya ditaruh

kotoran lagi.
Demikian seterusnya sampai penuh.
Setelah penuh ditimbun tanah dan membuatt jamban baru.
Lebih kurang 6 bulan kemudian dipergunakkan pupuk tanaman

KESIMPULAN :
Menjaga kesehatan lingkungan sangat penting salah satunya tinja yang ada di sekeliling kita.
Untuk mencegahnya, sekurang-kurangnya mengurangi kontaminasi tinja terhadap lingkungan
maka pembuangan kotoran manusia harus dikelola dengan baik, dengan memenuhi syarat-syarat
jamban yang sehat.
Manfaat pengelolaan tinja manusia yaitu dapat memotong jalur transmisi pada sumbernya serta
dari segi estetika pemandangan, dan penciuman yang kurang sedap.

8. PENGELOLAAN SAMPAH

Sanitasi Sarana Pembuangan Sampah


http://makanankesehatanku1.blogspot.com/2012/07/sanitasi-sampah.html
Sampah merupakan sisa hasil kegiatan manusia, yang keberadaannya banyak menimbulkan
masalah apabila tidak dikelola dengan baik. Apabila dibuang dengan cara ditumpuk saja maka
akan menimbulkan bau dan gas yang berbahaya bagi Kesehatan manusia. Apabila dibakar akan
menimbulkan pengotoran udara. Kebiasaan membuang sampah disungai dapat mengakibatkan
pendangkalan sehingga menimbulkan banjir. Dengan demikian sampah yang tidak dikelola
dengan baik dapat menjadi sumber pencemar pada tanah, badan air dan udara.

Pengertian lain menyebutkan, sampah adalah semua benda atau produk sisa dalam bentuk padat
sebagai akibat aktivitas manusia, yang dianggap tidak bermanfaat dan tidak dikehendaki oleh
pemiliknya dan dibuang sebagai barang yang tidak berguna. Sampah yang dihasilkan dari jasa
boga pada umumnya berupa sampah organik yang sangat baik untuk makanan maupun tempat
berkembang biaknya serangga terutama lalat dan tikus. Oleh karena itu sampah yang dihasilkan
hendaknya langsung dimasukkan ke dalam tempat yang mudah ditutup sehingga tidak sempat
menjadi makanan lalat dan tikus.
Berdasarkan asalnya, sampah digolongkan dalam dua bagian yakni sampah organik (sampah
basah) dan sampah anorganik (sampah kering). Pada tingkat rumah tangga dapat dihasilkan
sampah domestik yang pada umumnya terdiri dari sisa makanan, bahan dan peralatan yang sudah
tidak dipakai lagi, bahan pembungkus, kertas, plastik, dan sebagainya.
Dampak sampah terhadap Kesehatan lingkungan, antara lain :
1. Terhadap Kesehatan : Pembuangan sampah yang tidak terkontrol dengan baik merupakan
tempat yang cocok bagi beberapa organisme dan menarik bagi berbagai binatang seperti
lalat dan anjing yang dapat menimbulkan penyakit. Potensi bahaya yang ditimbulkan,
antara lain penyakit diare, kolera, tifus yang dapat menyebar dengan cepat karena virus
yang berasal dari sampah dapat bercampur dengan air minum. Penyakit DBD dapat juga
meningkat dengan cepat di daerah yang pengelolaan sampahnya kurang memadai,
demikian pula penyakit jamur (misalnya jamur kulit).
2. Dampak Terhadap Lingkungan : Cairan terhadap rembesan sampah yang masuk kedalam
drainase atau sungai akan mencemari air, berbagai organisme termasuk ikan dapat mati
sehingga beberapa spesies akan lenyap dan hal ini mengakibatkan berubahnya ekosistem
perairan biologis.
3. Dampak Terhadap Sosial Ekonomi : Pengelolaan sampah yang kurang baik dapat
membentuk lingkungan yang kurang menyenangkan bagi masyarakat, bau yang tidak
sedap dan pemandangan yang buruk. Hal ini dapat berpengaruh antara lain terhadap
dunia pariwisata dan investasi
Beberapa faktor penting yang harus diperhatikan dalam pengelolaan sampah antara lain :
1. Dalam pengelolaan sampah harus memperhatikan sifat sampahnya kemudian dipilih
tindakan atau langkah apa yang paling tepat untuk menangani sampah.

2. Tersediannya sarana pembuangan/penampungan sampah yang memenuhi syarat


Kesehatan sehingga tidak menjadi sumber pengotoran/penularan penyakit. Prinsip-prinsip
pengelolaan pembuangan sampah sebagai berikut: 1). Adanya tempat sampah yang kedap
air dan dilengkapi dengan tutup; 2). Memisahkan sampah berdasarkan sifatnya (misalnya
sampah kering dan sampah basah) agar mudah memusnahkannya ;3). Menghindari
mengisi tempat sampah yang melampaui kapasitasnya;4)

Kondisi kebersihan

lingkungan tempat sampah harus baik sehingga tidak ada kepadatan serangga/lalat
penular penyakit lainnya yang merugikan Kesehatan; 5).Sampah tidak boleh ditampung
di tempat sampah melebihi 2 hari.
Peletakan tempat sampah :
1. Di dalam ruangan disediakan tempat sampah dalam bentuk kontainer yang kedap air dan
tertutup.
2. Tempat sampah tidak boleh diletakkan di atas/pingggiran saluran air.
3. Sampah dalam tempat pengumpulan sementara diperbolehkan tertimbun paling lama 24
jam untuk selanjutnya dibuang ke tempat pembuangan akhir. Tempat pengumpulan
sampah sementara hendaknya diberikan tutup. Pemberian tutup ini antra lain
dimaksudkan untuk :
Tidak mudah dijangkau dan dipakai untuk bersarangnya tikus dan serangga di
antaranya lalat, kecoak atau tidak dapat dijamah oleh binatang-binatang besar

seperti anjing dan kucing yang menyebabkan sampah berserakan.


Sampah-sampah yang telah terkumpul tidak mudah diterbangkan oleh angin, juga
mengurangi dampak bau.

Dampak yang dapat ditimbulkan sampah, jika tidak dikelola secara benar antara lain :

Menjadi tempat berkembang biak dan sarang dari serangga terutama lalat dan tikus.
Menjadi sumber pengotoran tanah, sumber air permukaan, air tanah, maupun pencemaran

udara.
Menjadi tempat hidup serta sumber kuman-kuman penyakit yang membahayakan Kesehatan

masyarakat.
Menimbulkan bau yang tidak sedap dan tidak estetis.

KESIMPULAN :

Sampah merupakan sisa sisa aktifitas manusia baik organic amupun non organic. Sampah
mengandung berbagai mikroorganisme penyebab penyakit dalam jumlah yang banyak.
Penempatan sampah yang baik adalah dalam ruangan dan tidak boleh diletakan di atas atau
dipinggir saluran air, Karena dapat mempengaruhi kebersihan air. Apabila sampah tidak
mendapat pengolahan yang baik, maka akan berdampak besar pada kesehatan, lingkungan
maupun social ekonomi manusia.