Anda di halaman 1dari 8

MATA KULIAH

AKUNTANSI MANAJERIAL

MATERI :
VARIABEL COST

FAKULTAS / JURUSAN :
EKONOMI DAN BISNIS / MANAJEMEN

PENYUSUN :

MUH. AKBAR AB (A21113021)


MUHAMMAD YUSUF ANWAR (A21113529)

UNIVERSITAS HASANUDDIN
MAKASSAR
2015

A. Pengertian Variable costing


Variable Costing merupakan suatu metode penentuan Harga Pokok Produksi yang
hanya memperhitungkan biaya produksi variable saja.Variable Costing adalah suatu
metode penentuan harga pokok ( dan pengaruhnya pada penyajian laporan rugi laba )
dimana hanya biaya produksi variabel saja dibebeakan sebagai bagian dari harga pokok
produksi. Metode ini disebut Variable Costing dengan alasan bahwa biaya yang
dibebankan kepada produk hanya biaya yang berhubungan langsung dengan produk
saja. Dengan pengertian tersebut, maka yang disebut harga pokok produksi adalah
penjumlahan dari biaya bahan variabel, biaya upah variabel dan biaya overhead variabel
tampak sebagai berikut:
Biaya bahan variable
Biaya upah variable
Biaya overhead variable
Harga pokok produksi

Rp xxx
xxx
xxx
Rp xxx

Dengan cara seperti tersebut, maka dalam metode Variable Costing biaya overhead
tetap bukan merupakan bagian dari produksi dan hal ini akan berpengaruh pada
penyajian laporan rugi laba.
B. VARIABLE COSTING FOR PRICING PURPOSES
Beberapa Manajer memahami adanya perbedaan dalam penetapan harga antara
metode absorption & variable costing. Variable costing berdasarkan perilakunya dapat
digunakan untuk penentuan harga dengan cara = ( FC : Q) + VC/unit. Contoh :Biaya
penerbangan satu pesawat terbang dengan 150 tempat duduk dari Jkt-Pdg dengan biaya
tetap Rp.20.000.000,- ditambah biaya variabel 50.000,-/orang. Untuk menutup biaya
tetap dan variabel untuk 100 penumpang maka biaya angkutnya harus : (Rp.20.000.000 :
100) + Rp.50.000,- =Rp.250.000,- Jika 100 penumpang membayar penuh sebesar
Rp.325.000,-/penumpang maka laba usaha adalah:
Pendapatan=100325.000 =
Biaya-biaya
Biaya tetap =
Biaya variabel =10050.000 =
LABA USAHA =

32.500.000
20.000.000
5.000.000
7.500.000

Saat yang kosong diisi dengan menjual sambil memberikan diskon 60% dan terjual 35
tiket maka tambahan laba usahanya adalah :
Pendapatan=(100325.000)+(35130.000)= 37.050.000
Biaya tetap
20.000.000
Biaya variabel=13550.000
6.750.000
LABA USAHA
10.300.000
Ternyata dengan adanya penambahan tiket dengan pemberian diskon 60% akan dapat
meningkatkan laba usaha menjadi Rp.10.300.000,-

Variable Costing Vs Absorption Costing

Absorption Costing : Kalkulasi biaya yang menentukan bahwa yang termasuk


biaya produksi adalah bahan langsung, tenaga kerja langsung dan biaya
overhead pabrik baik tetap maupun variabel.
Variable Costing : Kalkulasi biaya yang menentukan bahwa yang termasuk
biaya produksi adalah bahan langsung, tenaga kerja langsung dan biaya
overhead pabrik variabel.Sedangkan BOP Tetap termasuk biaya periodik.

Contoh perhitungan
Nopember

Desember

200

Produksi

2.000

2.000

Penjualan

1.800

2.200

Persediaan akhir

200

Bahan langsung

100

100

Tenaga kerja langsung

50

50

Overhead pabrik variable

30

30

Persediaan awal

Biaya-biaya :
Biaya produksi variabel/unit :

Biaya produksi tetap/bulan

160.000

160.000

Adm&pemasaran variable

20

20

Adm&pemasaran tetap/bulan

120.000

120.000

Harga jual/unit

500

500

Nilai persediaan :
Absorption costing= 200 unit xRp260=

52.000,-

Variable costing=200 unitxRp180=

36.000,-

C. Manfaat Variabel Costing


Laporan yang disusun oleh variable costing lebih memfokuskan pada prilaku biaya
terhadap produk, yaitu biaya variable dan biaya tetap, Laporan bisa digunakan untuk
analisa perubahan laba yang di harapkan apabila terjadi perubahan penjualan atau
perubahan biaya.
Dengan menggunakan Metode Variable Costing,
Biaya Overhead pabrik tetap diperlakukan sebagai period costs dan bukan
sebagai unsur harga pokok produk, sehingga biaya overhead pabrik tetap
dibebankan sebagai biaya dalam periode terjadinya.
Dalam kaitannya dengan produk yang belum laku dijual, BOP tetap tidak
melekat pada persediaan tersebut tetapi langsung dianggap sebagai biaya
dalam periode terjadinyaa.
Perhitungan atau penentuan Harga Pokok Produksi, dapat juga di lakukan
dengan Full Costing. Dalam menentukan Harga Pokok Produksi memasukkan
semua biaya produksi baik yang bersifat variable maupun yang bersifat tetap
terhadap produk.
Dengan menggunakan Metode Full Costing, Biaya Overhead pabrik baik
yang variabel maupun tetap, dibebankan kepada produk atas dasar tarif yang
ditentukan di muka pada kapasitas normal atau atas dasar biaya overhead
yang sesungguhnya.
Selisih BOP akan timbul apabila BOP yang dibebankan berbeda dengan BOP
yang sesungguh nya terjadi.
D. Perbedaan Variabel Costing Dengan Full Costing
Metode Full Costing
Harga Pokok Produksi :
Biaya bahan baku
Rp. xxx.xxx
Biaya tenaga kerja langsung
Rp. xxx.xxx
Biaya overhead pabrik tetap
Rp. xxx.xxx
Biaya overhead pabrik variabel
Rp. xxx.xxx
Harga Pokok Produk
Rp. xxx.xxx
Dengan menggunakan Metode Full Costing,
Biaya Overhead pabrik baik yang variabel maupun tetap, dibebankan kepada produk
atas dasar tarif yang ditentukan di muka pada kapasitas normal atau atas dasar biaya
overhead yang sesungguhnya
Selisih BOP akan timbul apabila BOP yang dibebankan berbeda dengan BOP yang
sesungguh- nya terjadi.
Catatan :
Pembebanan BOP lebih (overapplied factory overhead), terjadi jika jml BOP yang
dibebankan lebih besar dari BOP yang sesungguhnya terjadi. Pembebanan BOP
kurang (underapplied factory overhead), terjadi jika jml BOP yang dibebankan lebih
kecil dari BOP yang sesungguhnya terjadi.
Jika semua produk yang diolah dalam periode tersebut belum laku dijual, maka
pembebanan biaya overhead pabrik lebih atau kurang tsb digunakan untuk
mengurangi atau menambah harga pokok yang masih dalam persediaan (baik produk
dalam proses maupun produk jadi)
Metode ini akan menunda pembebanan biaya overhead pabrik tetap sebagai biaya
samapi saat produk yang bersangkutan dijual.

Variable Costing :
Merupakan suatu metode penentuan harga pokok produksi yang hanya
memperhitungkan biaya produksi variabel saja. Dikenal juga dengan istilah : direct
costing
Harga Pokok Produksi :
Biaya bahan baku
Rp. xxx.xxx
Biaya tenaga kerja langsung
Rp. xxx.xxx
Biaya overhead pabrik variabel
Rp. xxx.xxx
Harga Pokok Produk
Rp. xxx.xxx
Dengan menggunakan Metode Variable Costing,
Biaya Overhead pabrik tetap diperlakukan sebagai period costs dan bukan sebagai
unsur harga pokok produk, sehingga biaya overhead pabrik tetap dibebankan sebagai
biaya dalam periode terjadinya.
Dalam kaitannya dengan produk yang belum laku dijual, BOP tetap tidak melekat
pada persediaan tersebut tetapi langsung dianggap sebagai biaya dalam periode
terjadinya.
Penundaan pembebanan suatu biaya hanya bermanfaat jika dengan penundaan
tersebut diharapkan dapat dihindari terjadinya biaya yang sama periode yang akan
datang.
Penyajian Laporan
Laba Rugi Laporan Laba-Rugi ( Metode Full Costing )
Hasil penjualan
Rp. 500.000
Harga pokok penjualan
Rp. 250.000 Laba Bruto
Rp. 250.000
Biaya administrasi dan umum
Rp.
50.000 Biaya pemasaran
Rp.
75.000 Laba Bersih Usaha
Rp . 125.000
Ket :
Laporan Laba-rugi tsb menyajikan biaya-biaya menurut hubungan biaya dengan
fungsi pokok dalam perusahaan manufaktur, yaitu fungsi produksi, fungsi pemasaran
dan fungsi administrasi dan umum.
Laporan Laba-Rugi ( Metode Variable Costing )
Hasil penjualan
Rp. 500.000
Dikurangi Biaya-biaya Variabel :
Biaya produksi variabel
Rp. 150.000
Biaya pemasaran variabel
Rp. 50.000
Biaya adm. & umum variabel Rp. 30.000
Rp. 230.000
Laba kontribusi
Rp. 270.000
Dikurangi Biaya Tetap
Biaya produksi tetap
Rp. 100.000
Biaya pemasaran tetap
Rp.
25.000
Biaya Adm & umum tetap
Rp.
20.000
Rp. 145.000
Laba Bersih Usaha
Rp 125.000
E. Keunggulan Variable Costing
Data yang diperlukan dapat diambil langsung dari Laporan Rugi Laba yang disusun
dengan format kontribusi.

Laba akan terarah pada Penjualan karena Laba yang diperoleh tidak dipengaruhi oleh
tingkat persediaan.
Manajer selalu berasumsi bahwa yang dinamakan biaya produksi hanyalah yang
bersifat variabel saja, sehingga akan menjadi masalah kalau diterapkan Absorption
Costing karena disamping ada biaya produksi variabel juga dimasukkan unsur biaya
tetap.
F. Kelemahan Variable Costing
Kesulitan pemisahan biaya variable dan biaya tetap
Bentuk laporan variable costing tidak diterima untuk pihak ekstern
Tidak diperhitungkan biaya overhead pabrik tetap dalam persediaan dan harga
pokok persediaan akan mengakibatkan nilai persediaan lebih rendah, sehingga
akan mengurangi modal kerja yang dilaporkan untuk tujuan-tujuan analisa
keuangan.
Pengertian
Penentuan harga pokok produksinya membebankan biaya produksi baik yang
berperilaku variabel saja terhadap produk yang terdiri dari
Biaya bahan baku
Biaya tenaga kerja variable
BOP variable
Pada Variabel costing BOP tetap diperlakukan sebagai periode cost dan bukan
sebagai unsur harga pokok produk sehingga BOP tetap dibebankan sebagai biaya
dalam periode terjadinya. BOP tetap tidak melekat pada persediaan produk yang
belum laku dijual tetapi langsung diangap sebagai biaya pada peride terjadinya. Pada
Variabel costing, period cost adalah biaya untuk mempertahankan tingkat kapasitas
tertentu guna memproduksi dan menjual produk yang meliputi : BOP tetap, biaya
pemasaran tetap dan biaya adm & umum tetap.
Keunggulan Harga Pokok Variabel
1. Perencanaan laba jangka pendek
Metode variable costing menghasilkan laporan laba-rugi yang menghasilkan
informasi biaya variabel yang terpisah dari informasi biaya tetap dapat memenuhi
kebutuhan manajemen untuk perencanaan laba jangka pendek. laporan laba-rugi
variable costing menyajikan mengenai laba kontribusi dan operating leverage.
Perencanaan laba jangka pendek dilakukan pada saat penyusunan anggaran untuk
menguji dampak setiap alternatif yang akan dipilih terhadap laba perusahaan.
2. Pengendalian biaya
Terdapat pemisahan biaya tetap dalam kelompok tersendiri dalam laporan
laba-rugi, manajemen dapat memperoleh informasi discretionary fixed cost
terpisah dari committed fixed cost. Sehingga pengendalian biaya tetap dalam
jangka pendek dapat dilakukan manajemen
3. Pembuatan keputusan
Dalam pembuatan keputusan jangka pendek yang menyangkut perubahan
volume kagiatan, period costs tidak relevan karena tidak berubah dengan adanya
perubahan volume kegiatan. Variable costing sangat bermanfaat dlam penentuan
harga jual jangka pendek. Pengambilan keputusan tersebut diantaranya adalah
pemilihan alternatif antara memerima atau menolak pesanan dan pemilihan
alternatif membeli atau membuat sendiri.

Kelemahan Metode Variabel Costing


Disamping manfaat-manfaat yang terdapat pada metode variabel costing, juga terdapat
beberapa kelemahan sebagai berikut :
Pemisahan biaya-biaya kedalam biaya variabel dan biaya tetap sulit dilaksanakan,
karena jarang sekali suatu biaya benar-benar biaya variabel atau benar-benar
tetap.
Metode variabel costing dianggap tidak sesuai dengan prinsip akuntansi yang
lajim, sehingga laporan keuangan untuk kepentingan pajak dan masyarakat umum
harus dibuat atas dasar metode absorption costing.
Tidak diperhitungkan biaya overhead pabrik tetap dalam persediaan dan harga
pokok persediaan akan mengakibatkan nilai persediaan lebih rendah, sehingga
akan mengurangi modal kerja yang dilaporkan untuk tujuan-tujuan analisa
keuangan.
G. Dampak Terhadap Laba
Bila Produksi = Penjualan sehingga tidak terjadi perubahan terhadap persediaan,
maka Laba Absorption=Laba Variable.
Bila Produksi > Penjualan sehingga terjadi peningkatan persediaan, maka Laba
Absorption > Laba Variable Costing.
Bila Produksi < Penjualan sehingga terjadi penurunan persediaan, maka Laba
Absorption < Laba Variable Costing.
H. Keunggulan Variable Costing
Data yang diperlukan untuk keperluan CVP Analysis dapat diambil langsung dari
Laporan Rugi Laba yang disusun dengan format kontribusi. Hal ini tidak dapat
dilakukan pada Laporan Rugi Laba format tradisional.
Laba akan terarah pada Penjualan karena Laba yang diperoleh tidak dipengaruhi
oleh tingkat persediaan.
Manajer selalu berasumsi bahwa yang dinamakan biaya produksi hanyalah yang
bersifat variabel saja, sehingga akan menjadi masalah kalau diterapkan Absorption
Costing karena disamping ada biaya produksi variabel juga dimasukkan unsur biaya
tetap.
Variable Costing berkaitan dengan Standar Costing dan Flexible Budget, tidak
demikian dengan Absorption Costing.
Laba Netto berdasarkan Variable Costing lebih dekat kaitannya dengan Net Cash
Flow daripada Absorption Costing terutama pada perusahaan yang mengalami
masalah serius dengan Cash Flownya.
Data Variable Costing memudahkan estimasi tingkat profitabilitas produk, konsumen
dan segmen bisnis lainnya.
Pada Variable Costing, dampak Fixed Cost terhadap Laba sangat jelas. Tidak
demikian dengan Absorption Costing yang samar-samar.
Berdasarkan keunggulan2 Variable Costing tersebut bukan berarti Absorption
Costing jelek, tetapi lebih mengarah pada tujuan penggunaannya.
Variable Costing digunakan untuk membantu manajemen dalam melakukan analisis
biaya, sedangkan Absorption Costing memberikan informasi keuangan bagi External
Users.