Anda di halaman 1dari 15

TUGAS MATA KULIAH GEOLOGI TEKNIK

MAKALAH
PEMETAAN DAN PENYELIDIKAN GEOLOGI TEKNIK
UNTUK PERENCANAAN PEMBANGUNAN JALAN
OLEH :
KELOMPOK I (SATU)

NAMA ANGGOTA :
1. ERI HANANTO
2. YONANDAR
3. USMAN
4. SAFRIZAL
5. ADREL
6. AHMAD MANSYUR

PROGRAM STUDI TEKNIK SIPIL FAKULTAS TEKNIK


UNIVERSITAS ABDURRAB PEKANBARU
2014
PEMETAAN DAN PENYELIDIKAN GEOLOGI TEKNIK
UNTUK PERENCANAAN PEMBANGUNAN JALAN

I.

PENDAHULUAN
Pembangunan pada dasarnya merupakan suatu rangkaian upaya yang dilakukan
terus menerus untuk mencapai suatu tingkat kehidupan masyarakat yang sejahtera.
Sejalan dengan semakin pesatnya pembangunan dan dimulainya era perbaikan di segala
bidang, baik industri, perdagangan maupun pariwisata tentunya akan disertai dengan
pembangunan infrastruktur jalan.
Untuk menunjang pembangunan infrastruktur jalan diperlukan berbagai data dan
informasi, salah satunya adalah data geologi teknik. Data geologi teknik, memberikan
informasi mengenai kekuatan serta karakteristik lapisan tanah/batuan yang berguna di
dalam perencanaan jalan.
Data dan informasi geologi teknik tersebut dapat diperoleh dengan cara
melakukan pemetaan maupun penyelidikan geologi teknik.
Dengan
dikembangkan,

tersedianya
diharapkan

data

geologi

terjadinya

teknik

pada

suatu

kesalahan-kesalahan

daerah
dalam

yang

akan

perencanaan

konstruksi jalan dapat dihindarkan atau diperkecil.


II.

MAKSUD DAN TUJUAN


Pemetaan dan penyelidikan geologi teknik ini dimaksudkan untuk mengumpulkan
berbagai data dan informasi geologi teknik permukaan dan bawah permukaan yang
mencakup: sebaran serta sifat fisik tanah/batuan, kondisi air tanah, morfologi dan
bahaya beraspek geologi. Hasil pemetaan dan penyelidikan diharapkan dapat berguna
sebagai data dasar dalam menunjang perencanaan jalan.

III.

METODOLOGI
Metoda yang digunakan dalam melakukan pemetaan dan penyelidikan geologi
teknik adalah metoda kualitatif dan kuantitatif. Metoda kualitatif yaitu melaksanakan
pengamatan

lapangan,

pengukuran

struktur, diskripsi

sifat

fisik

dan

keteknikan

tanah/batuan, kondisi keairan, dan menginventarisasi kebencanaan geologi yang ada.


Metoda kuantitatif yaitu melakukan perhitungan dan analisis seperti daya dukung,
kemantapan lereng, kompresibilitas dan perosokan tanah.
IV.

LINGKUP PEKERJAAN PEMETAAN/PENYELIDIKAN GEOLOGI TEKNIK

Lingkup pekerjaan ini dapat dibagi menjadi empat tingkatan, yaitu:


o

Perencanaan

Pekerjaan Lapangan

Pekerjaan Laboratorium

Analisis dan evaluasi data

Penyusunan laporan

4.1

Perencanaan
Kelancaran suatu kegiatan, sebagian besar ditentukan selama tahap perencanaan.

Tahap perncanaan ini perencanaan sebelum ke lapangan dan perencanan selama di


lapangan.
a.

Perencanaan sebelum ke lapangan


Perncanaan ini meliputi hal-hal yang sangat mendasar sebelum tim berangkat ke
lapangan, yang menyangkut:

masalah administrasi, konsolidasi personalian tim, kesiapan transportasi dan


peralatan lapangan, serta keperluan-keperluan lain untuk pekerjaan pujian di
lapangan

Pengumpulan data lapangan yang telah ada atau laporan dari penyelidik
terdahulu.

Penyiapan peta dasar baik peta topografi maupun foto udara dengan skala yang
disesuaikan dengan maksud dan tujuan pemetaan/penyelidikan.

Perencanaan selama di lapangan


Merupakan perencanaan yang dilakukan di base camp sebelum melakukan
pemetaan/penyelidikan geologi teknik. Sebaiknya sebelum kegiatan dilakukan, terlebih
dahulu

dilakukan

penyelidikan

pendahuluan

(reconnaise)

dengan

maksud

untuk

mengenal medan, situasi daerah dan kebiasaan-kebiasaan penduduk yang berada di


daerah pemetaan/penyelidikan.

Dari hasil penyelidikan pendahuluan baru direncanakan kegiatan selanjutnya


secara lebih terarah, yaitu dengan membuat rencana lintasan.

4.2

Pekerjaan Lapangan

4.2.1 Pemetaan Geologi Teknik


a.

Morfologi dan kemiringan lereng


Meliputi

kondisi

bentang

alam

beserta

unsur-unsur

geomorfologi

lainnya,

penafsiran genesa morfologi dan perkembangan geomorfologi yang mungkin akan


terjadi.
Hal-hal yang perlu diperhatikan adalah keadaan bentuk lembah, pola aliran
sungai, sudut lereng, pola gawir dan bentuk-bentuk bukit. Morfologi atau bentang alam
seperti tampak pada saat sekarang ini merupakan hasil kerja dari sistem alam, yaitu
proses-prosesdalam bumi (geologi, volkanisme) dan proses-proses luar (air permukaan,
gelombang, longsoran, tanaman, binatang termasuk manusia).
Morfologi sangat penting dalam hubungannya dengan pelaksanaan pembangunan
jalan, yaitu untuk mengetahui karakteristik bentang alamnya seperti kemiringan lereng
dalam kaitannya dengan jangkauan optimum sudut lereng untuk keperluan Mobilisasi
peralatan dan operasional kendaraan pengangkut material serta tataguna jalan pada saat
ini.
b. Satuan Tanah dan batuan
Satuan tanah dan batuan memberikan informasi mengenai susunan atau urutan
stratigrafi dari tanah dan batuan secara vertikal maupun horisontal. Untuk itu perlu
dilakukan pemeriksaan sifat fisik dan keteknikan tanah/batuan yang dapat diamati
langsung di lapangan secara megaskopis.
Penyusunan satuan geologi teknik dilakukan dengancara pengelompokan tanah
dan batuan yang mempunyai sifat fisik dan keteknkan yang sama atau mendekati sama.
a

Struktur Geologi

Meliputi pemerian jurus dan kemiringan lapisan batuan, kekar, rekahan, sesar,
lipatan dan ketidak selarasan. Data ini sangat penting dalam pekerjaan pembangunan
infrastruktur guna menghindari atau memecahkan permasalahan yang dapat terjadi.
Intensitas kekar atau retakan, tingkat kehancuran batuan yang diakibatkan oleh
adanya sesar terutama bila dijumpai sesar aktif maupun perselingan lapisan batuan yang
miring adalah merupakan zona lemah yang dapat menimbulkan permasalahan, misalnya
longsoran.
a

Keairan
Pengamatan yang perlu dilakukan meliputi kedalaman muka air tanah bebas, sifat

korosifitas air tanah dan munculnya mata air atau rembesan yang dapat mempengaruhi
perencanaan konstruksi jalan. Apabila dianggap perlu diambil contoh air tanahnya untuk
diuji di laboratorium, guna mengetahui tingkat korosivitasnya.
a

Bahaya Geologi
Meliputi pengamatan dan penilaian tentang ada tidaknya bahaya yang mungkin

dapat terjadi sebagai akibat dari faktor geologi. Identifikasi bahaya geologi sangat erat
kaitannya dengan pembangunan infrastruktur jalan, karena dikhawatirkan akan menjadi
kendala atau hambatan selama pembangunan maupun pasca pembangunan, antara laian
struktur sesar aktif, gerakan tanah/batuan, banjir bandang, ambblesan tanah/batuan,
bahaya

kegunung

apian,

erosi

dan

abrasi,

kegempaan,

Tsunami,

dan

lempung

mengembang.
4.2.2 Penyelidikan Geofisika
Metoda geofisika dimaksudkan untuk mengetahui secara garis besar gambaran
keadaan geologi bawah permukaan, yaitu : satuan-satuan tanah/batuan; batas-batas
satuan tanah/batuan baik secara horizontal maupun vertical, dan gejala-gejala geologi
seperti patahan, daerah rekahan, kandungan air tanah dan lain-lain.
Penggunaan

penyelidikan

geofisika

ini

banyak

mengandung

keuntungan-

keuntungan, antara lain:

Mendapatkan gambaran keadaan bawah permukaan di daerah yang luas dalam


waktu yang pendek.

Memudahkan membuat intrepetasi penampang geologi

Memperkecil jumlah titik-titik pengeboran, karena akan mempermudah korelasi


antara titik-titik pengeboran.

Membuat lebih effisien dan memperkecil biaya penyelidikan


Metoda geofisika yang telah dikembangkan untuk maksud keteknikan, antara lain:

Metoda seismik, geolistrik dan metoda electromagnetic subsurfaca profiling/Radar (Radio


Detecting and Ranging) Sounding.
o

Metoda Seismik
Metoda ini umumnya dilakukan mulai dari studi pendahuluan hingga studi

kelayakan. Pada studi pendahuluan metoda ini dilakukan untuk mengetahui kondisi
perlapisan tanah dan batuan serta struktur geologi yang akan dibangun secara makro,
sehingga dalam studi kelakyakan akan dapat dilakukan dengan baik orientasi pekerjaan
yang akan dilakukan, seperti:

Penentuan lokasi dan jumlah bor inti yang akan dilaksanakan

Penentuan jumlah contoh yang akan diambil

Pembuatan penempang geologi teknik/geoteknik khususnya dalam pembuatan


korelasi stratigrafi antar titik bor

Penentuan

ketelitian

penyelidikan

terutama

pada

daerah-daerah

yang

diperkirakan mempunyai potensi struktur geologi yang membahayakan

Penentuan lokasi-lokasi struktur jalan dan bangunan pendukungnya

Metoda Geolistrik
Dalam metoda ini arus listrik dialirkan di tanah melalui elektroda-elektroda dan

perbedaan potensial diukur diantara dua buah elektroda. Perbedaan dalam tahanan jenis
kemudian dapat diukur baik vertikal maupun lateral dengan menukar susunan elektroda.
Metoda ini memberikan data stratigrafi, cadangan kuari, kedalaman muka
airtanah maupun kedudukan lapisan pembawa air tanah, pola retakan dan indikasi
bidang longsor.
o

Metoda Electromagnetic Subsurfaca Profiling/Radar (Radio Detecting and


Ranging) Sounding

Metoda ini merupakan cara yang paling cepat untuk membuat penempang bawah
permukaan. Metoda ini akan mendeteksi kondisi bawah permukaan dengan cara
memancarkan spectrum/gelombang electromagnetis ke formasi tanah/batuan yang
kemudian akan diterima oleh alat receiver yang diseret dibelakang alat pemancarnya
(transmitter). Dari

hasil pengujian diperoleh profil

intasan

dan

dapat langsung

diinterpretasikan di lapangan.
Kenampakan yang dapat dengan mudah dideteksi, antara lain: Jenis dan
perlapisan tanah/batuan, adanya ruang kosong (lubang) di bawah tanah, sisa-sisa
pondasi, ketebalan lapisan aspal.
4.2.3 Pengujian keteknikan tanah dan batuan
Pengujian lapangan terhadap sifat fisik dan mekanik tanah maupun batuan seperti
konsistensi, kepadatan dan plastisitas tanah, kekerasan dan kekompakan batuan dicatat
pada kolom diskripsi tanah dan batuan pada setiap penampang pengeboran inti (teknik)
dan pengeboran tangan.
4.2.4 Pengambilan contoh tanah dan batuan
Pengambilan contoh tanah dan batuan dilakukan untuk pengujian laboratorium
mekanika tanah dan batuan (Lab. Mektanbat), yaitu berupa Contoh tanah tak terganggu
(undisturbed samples) dan contoh tanah terganggu (disturbed samples).
a.

Contoh tanah tak terganggu (undisturbed samples)


Contoh tanah tidak terganggu adalah suatu contoh yang masih menunjukan sifat-

sifat aslinya, artinya contoh-contoh ini tidak mengalami perubahan dalam struktur, kadar
air (water content), atau susunan kimia. Namun demikian contoh yang benar-benar asli
tidaklah mungkin untuk diperoleh, akan tetapi dengan teknik pelaksanaan sebagaimana
mestinya dan cara pengamatan yang tepat, maka kerusakan-kerusakan terhadap contoh
bisa dibatasi sekecil mungkin. Contoh tanah tidak terganggu dapat diambil memakai
tabung contoh (tube sample), core barrels, atau mengambilnya secara langsung dengan
tangan, sebagai contoh dalam bentuk bomgkah-bongkah (block samples).
a

contoh tanah terganggu (disturbed samples)


Contoh tanah terganggu diambil tanpa adanya usaha yang dilakukan untuk

melindungi struktur asli dari tanah tersebut. Contoh tanah terganggu ini dapat dipakai

untuk segala penyelidikan yang tidak memerlukan contoh asli (undisturbe samples),
seperti ukuran butir, batas-batas atterberg, pemadatan, berat jenis dan sebagainya.
Untuk contoh batuan dapat berupa pengambilan batu setempat (hand spacement)
pada batuan utuh (intact rock) dan pengambilan batu yang terdapat bidang ketidak
sinambungan (discontinuity) pada massa batuan (rock mass) apabila banyak dijumpai
retakan, rekahan (heavy broken rocks).
4.2.5 Pemetaan sebaran sumber bahan (quarry)
Untuk identifikasi lokasi-lokasi yang berpotensi sebagai sumber bahan (quarry).
Secara

kasar

(megaskopis)

harus

dilakukan

diskripsi

terhadap

sifat

fisik

dan

keteknikannya guna mengetahui perkiraan kualitas serta taksiran besarnya cadangan.


Apabila memungkinkan dilakukan pengukuran dan pembuatan beberapa penampang
guna memperkirakan volume (kuantitas) cadangan.
4.2.6 Pengeboran tangan
Pekerjaan ini dimaksudkan untuk mengetahui ketebalan lapisan tanah, urutan
jenis lapisan tanah bawah permukaan dan konsistensi serta kepadatan relatif tanah.
Kedalaman maksimum 10 m atau dihentikan setelah mencapai lapisan bawah permukaan
yang keras. Pekerjaan pengeboran tangan dilakukan sesuai dengan kebutuhan dan
hasilnya disajikan pada penampang bor/log pemboran tangan.
4.2.7 Pengeboran teknik / inti
Dalam pekerjaan pemetaan untuk keperluan suatu proyek vital / strategis
diharuskan melakukan pekerjaan pengeboran teknik / inti. Pekerjaan ini dimaksudkan
untuk mengetahui ketebalan lapisan tanah dan batuan, urutan jenis lapisan batuan
bawah permukaan dan konsistensi serta kepadatan relatif tanah, kekerasan dan
kepadatan batuan. Kedalaman maksimum 60 m, pengujian N-SPT dan pengambilan
contoh tidak terganggu (undisturbed samples) setiap interval 1,5 hingga 2 meter.
Pengeboran teknik / inti akan dilakukan sesuai kebutuhan dan hasilnya disajikan
pada penampang bor atau log pengeboran teknik dan diusahakan dibuat korelasi
penampang bor untuk mengetahui kondisi bawah permukaan dapat diwujudkan dalam
diagram pagar.
4.2.8 Pengujian SPT (Standar Penetration Test)

Pengujian

dimaksudkan

untuk

mengetahui

kekuatan

atau

perlawanan

tanah/batuan terhadap penetrasi tabung SPT atau tabung baja sehingga akan diperoleh
jumlah pukulan untuk memasukan tabung SPT tersebut sedalam 30 cm ke dalam tanah
yang masih belum terganggu atau diperoleh nilai SPT (N).
Dengan melihat pada nilai SPT akan dapat diperkirakan kondisi batas tanah dan
lapisan keras serta dapat dikorelasikan dengan sifat-sifat maupun variasi tanah yang
diuji. Hasil pengujian akan berguna dalam perencanaan letak dan jenis perkerasan jalan.
4.2.9 Pekerjaan sondir
Pekerjaan ini dilakukan untuk mengetahui kedalaman lapisan tanah keras,
menentukan lapisan-lapisan tanah berdasarkan tahanan ujung konus dan daya lekat
tanah berbutir halus, tidak boleh digunakan pada daerah aluvium yang mengandung
kmponen berangkal dan kerakal, karena hasilnya akan memberikan indikasi lapisan
tanah keras yang salah.
Alat sondir yang digunakan pada pelaksanaan pekerjaan lapangan ini adalah alat
sondir hidrolik atau mekanik (manual) dengan kapasitas maksimum 2,5 ton 5 ton
maupun 10 ton yang dilengkapi dengan ujung penetrometer / sondir bikonus (friction
sleeve).
Pembacaan dilakukan pada setiap penekanan pipa sedalam 20 cm, pekerjaan
sondir dihentikan apabila pembacaan pada manometer berturut-turut menunjukkan
harga > 150 kg/cm2. Alat sondir terangkat apabila pembacaan manometer belum
menunjukkan angka maksimum, maka alat sondir perlu diberi pemberat yang diletakan
pada baja kanal jangkar.
Hasil yang diperoleh adalah nilai sondir (qc) atau perlawanan penetrasi konus dan
jumlah hambatan pelekat (JHP). Grafikmyang dibuat adalah perlawanan penetrasi konus
(qc) pada tiap kedalaman dan jumlah hambatan pelekatsecara komulatif.
Namun demikian ada beberapa kelemahan atau kekurangan dalam uji sondir, yaitu:

Tidak didapatkannya sample tanah

Kedalaman penetrasi terbatas

Tidak dapat menembus kerikil atau lapisan pasir yang padat

4.2.10Pengujian langsung di lapangan (in situ test)

Pengujian langsung di lapangan antara lain: pocket penetrometer test, uji geser
baling, permeabilitas. Sedangkan pada batu dapat dilakukan pengujian beban titik (point
load test), kekerasan batuan dengan (Schmidt Hammer Test) atau menggunakan palu
geologi.
a.

Pocket Penetrometer Test


Pengujian ini dilakukan untuk mengetahui kekuatan tanah, yaitu dengan cara
menekan atau menusukan alat penetrometer kedalam tanah, maka akan didapat besaran
kekuatan tanah dalam satuan kg/cm2.

Uji Geser Baling


Pengujian ini dimaksudkan untuk memperoleh kekuatan geser tanah lempung,
umumnya pada tanah lempung lunak dengan hasil yang diperoleh merupakan nilai
kekuatan geser dalam kondisi tidak terdrainase.

Uji Permeabilitas tanah


Pengujian ini dimaksudkan untuk mengetahui koefisien permeabilitas tanah (k)
langsung di lapangan dengan media lubang bor. Metoda pengujian ada beberapa cara,
antara lain:

Pengujian Constan Head

Pengujian Falling Head

Pengujian Packer

Pengujian Lugeon

Point Load Test


Pengujian ini dimaksudkan untuk mengetahui/mengukur kekuatan batuan dengan

dengan bentuk tidak beraturan atau beraturan.


b

Schmidt Hammer Test


Pengujian untuk mengukur kekerasan batuan di lapangan. Hasil dari pengujian

tersebut, dimasukan dalam grafik kurva akan memberikan nilai kuat tekan batuan.
4.2.11Pendugaan Dinamis (dengan alat DCP)

Pendugaan dinamis atau dikenal dengan DCP (Dynamic Cone Penetrometer


dikembangkan oleh TRRL (Transport and Road Research Laboratory).
Alat ini digunakan untuk perencanaan jalan raya dan konstruksi berupa timbunan
(embankment) dengan maksud dan tujuan sebagai berikut:

Untuk mengetahui ketebalan lapisan dangkal dari tanah lunak atau kedalaman
sampai batuan.

Untuk pengukuran (dengan cepat) sifat-sifat struktur jalan yang sudah ada
(existing) dengan konstruksi lapisan perkerasan jalan raya yang materialnya lepas
(tak terikat)

Untuk menentukan daya dukung tanah dangkal secara cepat, pada perencanaan
jalan, baik jalan raya maupun jalan inspeksi (pada tanggul saluran irigasi).
Alat ini dapat mengukur sedalam 80 cm secara menerus atau maksimum 120 cm,

dimana batas-batas lapisan perkerasan yang mempunyai kekuatan berbeda sudah


diidentifikasi dan ketebalan lapisan telah diketahui.
4.3

Pekerjaan Laboratorium
Pekerjaan laboratorium merupakan kelanjutan dari pekerjaan lapangan. Pekerjaan

ini dimaksudkan untuk memperoleh parameter sifat keteknikan tanah dan batuan guna
menunjang dalam melakukan analisis geologi teknik berdasarkan standard ASTM.
Jenis pengujian untuk contoh tanah meliputi:
o

Pengujian Basic Properties terdiri dari:


a. Kadar air (Wn) ASTM. D.2217-71
b. Berat Jenis (Gs) ASTM.D.854-72
c. Berat Isi /density () ASTM.D.4718

Pengujian Index Properties terdiri dari:


a. Atterberg Limit ( LL, PL, PI ) ASTM. D.4318
b. Analisa besar butir ASTM.D 422-72

10

Pengujian Engineering Properties terdiri dari :


a. Triaxial Test ( UU & CU ) ASTM.D 2850
b. Konsolidasi ASTM D

Jenis pengujian untuk contoh batuan,


o

Pengujian mekanika batuan

untuk menentukan kepadatan, kekerasan , kekuatannya dengan cara :


a. Supersoni waves
b. Triaxial Compressive Strenght ASTM. D.2664-67
c. Density, Poisons Ratio, Modulus of elasticity ASTM 19 D.2845 69
d. Unconfined compressive strenght
o

Pengujian untuk bahan agregat :


a. Relative density dan water absorption ASTM C. 128
b. Analisa petrografi
c. Particle size distribution ASTM 14
d. Flakiness index ASTM 14
e. Elongation index ASTM 14
f.

Relative density and absorption ASTM 14

g. Bulk density ASTM 14


4.4

Analisis dan Evaluasi Data


Analisis

dan

evaluasi

data

dimaksudkan

untuk

mempelajari

dan

mencari

hubungan dari pengaruh faktor morfologi, geologi, struktur geologi, keairan, tata lahan
dan aktivitas manusia terhadap pengelompokkan geologi teknik serta pembuatan
penilaian geologi teknik, mencakup:

11

a. Mengklasifikasikan kemiringan lereng berdasarkan bentuk topografi daerah


pemetaan/penyelidikan;
b. Mencari hubungan sudut lereng/morfologi terhadap masalah geologi teknik daerah
pemetaan/penyelidikan;
c. Mencari hubungan dan pengaruh sifat fisik dan mekanik tanah/batuan terhadap
masalah geologi teknik;
d. Mencari hubungan kejadian bahaya geologi dengan kondisi geologi teknik daerah
pemetaan/penyelidikan;
e. Menganalisis pengaruh struktur geologi terhadap masalah geologi teknik;
f.

Analisis daya dukung dan perosokan tanah;

g. Analisis kemantapan lereng terhadap sifat fisik dan mekanik tanah/batuan;


h. Penentuan satuan geologi teknik;

Penyusunan satuan geologi teknik dilakukan dengan cara pengelompokan


tanah/batuan yang mempunyai jenis yang sama atau mendekati sama dari
Formasi batuan

Tanah pelapukan berketebalan lebih dari 1 (satu) meter dipetakan sebagai tanah
sedangkan kurang dari 1 (satu) meter dipetakan sebagai batuan;

Hasil dari pengamatan lpangan baik berupa pengamatan tanah batuan,


penyondiran, pengeboran tangan, masalah geodinamika (bahaya beraspek
geologi) ditambah dengan data sekunder yang didapat perlu dituangkan dalam
peta geologi teknik.

i.
IV.5

Penggambaran peta dan penampang geologi teknik.


Penyusunan Laporan
Penulisan laporan yang baik dan lengkap merupakan bagian yang paling penting

dalam suatu pemetaan/penyelidikan geologi teknik. Pada dasarnya kegunaan suatu


laporan meliputi penguraian secara tepat apa-apa yang telah dipetakan/diselidiki dan
memadukan serta menerangkan hubungan geologi teknik dengan permasalahan yang
ada. Keterangan dan kesimpulan laporan harus didasarkan atas kenyataan yang ada di
lapangan.

12

Laporan pemetaan/penyelikan geologi teknik memuat berbagai informasi dan


permasalahan yang melatar belakangi dilakukan pemetaan serta uraian hasil analisis dan
evaluasi geologi teknik, dengan sistematika sebagai berikut:
KATA PENGANTAR
RINGKASAN
Bab 1. PENDAHULUAN
berisi uraian mengenai latar belakang, maksud dan tujuan, lokasi daerah
pemetaan, pelaksanaan pemetaan, metoda pemetaan dan lingkup pekerjaan.
Bab 2. GEOLOGI UMUM DAN KONDISI LINGKUNGAN
berisi uraian mengenai geomorfologi, pola aliran sungai, kemiringan lereng,
geologi umum, kegempaan, sumber daya bahan bangunan, kondisi keairan, iklim
dan curah hujan serta penggunaan lahan.
Bab 3. GEOLOGI TEKNIK
berisi uraian mengenai sebaran satuan geologi teknik, analisis data laboratorium,
masalah geologi teknik dan analisis geologi teknik.
Bab 4. EVALUASI GEOLOGI TEKNIK, berisi uraian mengenai sifat fisik dan
keteknikan

tanah

dan

batuan

(geologi

teknik)

dikaitkan

dengan

tujuan

pemetaan/penyelidikan
Bab 5. KESIMPULAN DAN REKOMENDASI
berisi uraian mengenai kesimpulan dan rekomendasi.
DAFTAR PUSTAKA
V.

KESIMPULAN
o

Data

dan informasi

geologi teknik

sangat

diperlukan

dalam

perencanaan

dengan

melakukan

pembangunan infrastruktur jalan.


o

Data

dan

informasi

geologi

dapat

diperoleh

pemetaan/penyelidikan geologi teknik. Untuk itu diperlukan tatacara pemetaan


geologi teknik.

13

DAFTAR PUSTAKA
1. ANONIM, 1980., Pedoman Penyelidikan Geologi Teknik dan Mekanikan tanah,
Departemen Pekerjaan Umum
2. KARL TERZAGHI DAN RALPH B.PECK, 1987, Mekanika Tanah Dalam Praktek
Rekayasa, Alih Bahas Ir. Bagus Wicaksono dan Ir. Benny Krisna, Penerbit Erlangga
3. NOOR ENDAH DAN INDRASURYA B. MOCHTAR, 1993, Mekanika Tanah (Prinsipprinsip Rekayasa Geoteknik), Penerbit Erlangga, Jakarta.
4. PAULUS, P.R., 1997, Uji Sondir, Interpretasi dan Aplikasinya untuk Perancangan
Pondasi, Universitas Katolik Parahyangan, Bandung
5. WESLEY, L.D., 1976, Mekanika Tanah dan Batuan, Penerbit Pekerjaan Umum,
Cetakan ke VI

14