Anda di halaman 1dari 10

CONTOH OBAT ANALGESIK-ANTIPIRETIK

1. Parasetamol

Parasetamol
INDIKASI DAN KONTRAINDIKASI
Parasetamol atau asetaminofen diindikasikan untuk mengurangi rasa nyeri ringan sampai
sedang, seperti sakit kepala, sakit gigi, nyeri otot, dan nyeri setelah pencabutan gigi serta
menurunkan demam. Selain itu, parasetamol juga mempunyai efek anti-radang yang lemah.
Parasetamol tidak boleh diberikan pada orang yang alergi terhadap obat anti-inflamasi nonsteroid (AINS), menderita hepatitis, gangguan hati atau ginjal, dan alkoholisme. Pemberian
parasetamol juga tidak boleh diberikan berulang kali kepada penderita anemia dan gangguan
jantung, paru, dan ginjal.
Parasetamol terdapat dalam berbagai bentuk dan dalam berbagai campuran obat sehingga perlu
diteliti jumlahnya untuk menghindari overdosis. Risiko kerusakan hati lebih tinggi pada
peminum alkohol, pemakai parasetamol dosis tinggi yang lama atau pemakai lebih dari satu
produk yang parasetamol.

EFEK SAMPING
Efek samping parasetamol jarang ditemukan. Efek samping dapat berupa gejala ringan seperti
pusing sampai efek samping berat seperti gangguan ginjal, gangguan hati, reaksi alergi dan
gangguan darah. Reaksi alergi dapat berupa bintik bintik merah pada kulit, biduran, sampai
reaksi alergi berat yang mengancam nyawa. Gangguan darah dapat berupa perdarahan saluran
cerna, penurunan kadar trombosit dan leukosit, serta gangguan sel darah putih. Penggunaan
parasetamol jangka pendek aman pada ibu hamil pada semua trimester dan ibu menyusui.

DOSIS
Untuk meredakan nyeri dan menurunkan demam, dosis parasetamol dewasa 325 650 mg setiap
4 jam atau 500 mg setiap 8 jam. Dosis anak adalah 10 15 mg/kgBB , dapat diberikan setiap 4
jam (maksimal 5 dosis dalam 24 jam). Dosis maksimal akumulatif parasetamol adalah 4 gram
per hari. Efek parasetamol mulai muncul 30 60 menit setelah konsumsi dan bertahan selama 4
jam.

2. Antalgin (Metampiron)

Komposisi:
Tiap tablet mengandung Antalgin 500 mg.

Cara Kerja Obat:


Antalgin adalah derivat metansulfonat dan amidopirina yang bekerja terhadap susunan saraf
pusat yaitu mengurangi sensitivitas reseptor rasa nyeri dan mempengaruhi pusat pengatur suhu
tubuh. Tiga efek utama adalah sebagai analgesik, antipiretik dananti-inflamasi.
Antalgin mudah larut dalam air dan mudah diabsorpsi ke dalam jaringan tubuh.

Indikasi:
Untuk menghilangkan rasa sakit, terutama kolik dan sakit setelah operasi.
Kontraindikasi
-

Pada penderita yang alergi terhadap derivat pirazolon. Kasus porfiria hati (amat jarang) dan
defisiensi bawaan glukosa-6-fosfat-dehidrogenase.
Penderita yang hipersensitif.

Bayi 3 bulan pertama atau dengan berat badan dibawah 5 kg.

Wanita hamil terutama 3 bulan pertama dan 6 minggu terakhir.

Penderita dengan tekanan darah < 100 mmHg.


Dosis:
Oral

Dewasa: 500 - 1000 mg 3 - 4 kali sehari (maksimum 3 gram sehari)


Anak-anak: 250 - 500 mg 3 - 4 kali sehari (maksimum 1 gram untuk < 6 tahun dan 2 gram
untuk 6 - 12 tahun).

Efek Samping :
Gejala kepekaan yang manifestasinya kelainan pada kulit. Pada penggunaan jangka panjang
dapat menyebabkan agranulositosis.
Peringatan dan Perhatian :
-

Karena dapat menimbulkan agranulositosis yang berakibat fatal, maka sebaiknya tidak
digunakan terus-menerus dalam jangka panjang.

Hati-hati pada penderita yang pernah mengalami gangguan pembentukan darah / kelainan
darah.

3.

Asam Mefenamat

INDIKASI DAN KONTRAINDIKASI


Asam mefenamat adalah obat pereda nyeri dan peradangan. Obat ini termasuk non-steroid antiinflammatory drug (NSAID) yang bekerja menghambat pembengkakan, nyeri, kekakuan, dan
demam. Obat ini diindikasikan untuk penderita nyeri ringan sampai sedang dan penyakit dengan
peradangan, umumnya nyeri gigi, nyeri menstruasi, nyeri otot atau sendi, dan nyeri setelah
melahirkan. Obat ini harus diberikan secara hati hati pada orang dengan riwayat alergi obat
NSAID lainnya. Asam mefenamat bersifat mengiritasi lambung sehingga lebih baik tidak
digunakan oleh penderita luka lambung atau usus. Obat ini juga dihindari pada penderita
gangguan hati atau ginjal karena obat ini dibuang melalui organ tersebut sehingga dapat
memperberat kelainan fungsi hati dan ginjal. Ibu hamil trimester ketiga dan ibu menyusui juga
merupakan kontraindikasi penberian asam mefenamat karena obat ini dapat menyebabkan

kecacatan pada bayi yang dikandung dan dibuang melalui air susu. Anak di bawah 14 tahun tidak
disarankan menerima obat ini karena efektivitas dan efek samping asam mefenamat pada anak
anak belum diketahui.

EFEK SAMPING
Efek samping yang timbul bervariasi dari ringan sampai berat, tergantung pada reaksi tubuh
masing masing orang terhadap obat ini. Efek samping asam mefenamat yang umum ditemui
berupa nyeri perut, nyeri telinga, nyeri saat buang air kecil, telinga berdenging,s pusing, diare,
mual, sulit tidur, penurunan nafsu makan, dan kelelahan. Efek samping lain yang lebih berat
berupa gangguan fungsi ginjal, gangguan napas, gangguan penglihatan, gangguan darah, kejang,
penurunan kesadaran, dan depresi. Namun, pada sebagian besar orang asam mefenamat tidak
menimbulkan efek samping yang bermakna. Asam mefenamat tidak menimbulkan efek
ketergantungan namun dapat menyebakan alergi pada beberapa orang. Reaksi alergi berupa
gatal, bintik bintik kulit, bengkak pada bibir atau mata, sampai pingsan.

DOSIS
Dosis awal diberikan 500 mg, kemudian dilanjutkan 4 x 250 mg. Asam mefenamat tidak boleh
diminum lebih dari 2500 mg per hari. Pemberian asam mefenamat disarankan tidak melebihi 7
hari. Efek anti nyeri timbul cepat beberapa jam setelah dikonsumsi, namun efek antiperadangan timbul setelah beberapa dosis. Asam mefenamat diminum setelah makan karena
dapat mengiritasi lambung. Jangan mengkonsumsi alkohol bersamaan dengan asam mefenamat
karena dapat menyebabkan perdarahan saluran cerna. Beberapa jenis obat dapat berinteraksi
dengan asam mefenamat sehingga penggunaannya harus dikonsultasikan dengan dokter, antara
lain obat pengencer darah, anti-depresi, anti-hipertensi, kemoterapi, NSAID jenis lain, dan obat
obatan jantung.

4.

Aspirin

Aspirin termasuk dalam golongan anti-inflamasi non-steroid yang memiliki fungsi penurun
panas, anti-nyeri, dan anti-radang. Komponen yang terdapat dalam aspirin adalah asam salisilat
yang pada awalnya hanya dipakai sebagai obat luar.
Obat ini diindikasikan untuk mengurangi nyeri kepala, nyeri gigi, migraine, nyeri menelan, dan
dismenorrhea (nyeri berlebihan saat menstruasi). Selain itu, aspirin juga dapat digunakan untuk
mengurangi gejala pada influenza, demam, nyeri reumatik, dan nyeri nyeri otot.
Fungsi lain yang kerap kali berguna adalah efek anti-trombotik (menghambat aktivasi trombosit)
yang merupakan efek yang sangat berguna sebagai pencegah serangan berulang pada pasien
dengan nyeri dada akibat sumbatan pada arteri koroner jantung, dan juga pada pasien yang
sedang mengalami kejadian nyeri dada akibat sumbatan pada arteri koroner jantung.

Aspirin dikontraindikasikan pada pasien yang diketahui memiliki hipersensitivitas / alergi


terhadap komponen dari aspirin, jenis salisilat lain, atau obat obatan anti-inflamasi non-steroid
lain, asma, ulkus peptik yang aktif / riwayat sakit maag, kelainan perdarahan, gangguan fungsi
hati yang berat, gangguan fungsi ginjal yang berat, gagal jantung yang berat, kehamilan pada
trimester ke 3, anak dibawah 16 tahun (kecuali secara spesifik diindikasikan seperti pada
penyakit Kawasaki).
Selain itu, penggunaan obat ini juga perlu mendapatkan perhatian khusus pada pasien dengan
asma di mana dapat memicu serangan pada pasien dengan hipersensitivitas, polip nasal, penyakit
saluran napas kronik, anemia, gagal jantung, dehidrasi, defisiensi enzim glukosa-6-fosfat
dehidrogenase, gout (asam urat tinggi), pasien dengan gejala perdarahan tertentu, pasien dengan
reaksi kulit yang berlebihan.

EFEK SAMPING
Efek samping yang umum terjadi adalah meningkatnya kemungkinan terjadinya perdarahan
spontan dan rasa tidak enak pada lambung. Efek samping lain yang mungkin terjadi seperti sesak
napas, serangan asma, perdarahan menstruasi yang lebih banyak, perdarahan saluran cerna, mual,
muntah, ulkus peptik, gangguan fungsi hati, biduran, sindrom Steven-Johnsons, gangguan fungsi
ginjal dan keracunan salisilat.

DOSIS
Terdapat beberapa sediaan tablet dari aspirin yaitu 81 mg, 325 mg, sampai 500 mg.
Dosis dewasa :

Nyeri dan demam

Penyakit jantung koroner :


Akut

: 325 600 mg tiap 4 6 jam per hari.

: 160 325 mg saat serangan.

Dosis Pemeliharaan : 81 mg per hari.

Stroke
stroke,

Radang tulang dan sendi (osteoarthritis) : sampai 3 gram / hari dengan dosis terbagi.

Terdapat penyesuaian dosis pada pasien dengan fungsi ginjal yang terganggu.

Pada pasien dengan fungsi hati terganggu, obat ini tidak direkomendasikan.

: 50 325 mg / hari dalam waktu 48 jam pertama sejak serangan


kemudian dilanjutkan 75 100 mg / hari.

Dosis anak :

Nyeri dan demam :


Usia < 12 tahun

: 10 15 mg/kg tiap 4 jam, sampai maksimal 60 80 mg/kg/hari.

Usia 12 tahun

: 325 650 mg tiap 4 6 jam per hari.

Radang sendi reumatik pada usia muda :


Berat badan < 25 kg : 60 100 mg/kg/hari dibagi menjadi 3 4 kali pemberian.
Berat badan 25 kg : 2,3 3,6 gram/hari.

Penyakit Kawasaki :
Fase demam

: 80 100 mg/kg/hari dibagi menjadi 4 kali pemberian.


obat diberikan sampai 14 hari.

Dosis pemeliharaan : 3 6 mg/kg/hari dosis tunggal.

Dosis yang merupakan ambang keracunan adalah 200 mg/kg.

OBAT ANTIPIRETIK
1. PARACETAAMOL
2. IBUPROFEN

5.

Ibuprofen

INDIKASI DAN KONTRAINDIKASI


Ibuprofen adalah salah satu jenis anti-inflamasi non-steroid (AINS) yang diindikasikan untuk
meredakan nyeri ringan sampai sedang, nyeri setelah operasi, nyeri pada penyakit sendi (seperti
pengapuran sendi atau rematik), nyeri otot, nyeri haid, serta menurunkan demam. Ibuprofen juga
memiliki efek anti-radang dan anti-pembekuan darah yang lemah.
Kontraindikasi absolut atau orang yang tidak dapat menggunakan ibuprofen adalah orang yang
alergi terhadap obat anti-inflamasi nonsteroid (AINS) seperti aspirin. Kontraindikasi relatif
antara lain gangguan perdarahan, luka pada lambung/usus 12 jari, sariawan, penyakit lupus,
kolitis ulseratif, dan wanita hamil trimester 3 (karena dapat menyebabkan penutupan prematur
pembuluh darah jantung). Orang yang mengalami asma, radang mukosa hidung, atau biduran
jika menggunakan aspirin atau obat AINS lain sebaiknya tidak menggunakan ibuprofen. Hindari
penggunaan pada penderita gangguan hati berat dan gangguan ginjal.

EFEK SAMPING
Efek samping yang paling sering timbul (1 10%) adalah mual, muntah, diare, konstipasi, nyeri
perut atau rasa terbakar pada perut bagian atas, ruam kulit, penurunan kadar trombosit,
penurunan kadar limfosit darah, dan gangguan penglihatan. Efek samping yang lebih jarang
adalah luka pada kerongkongan, gagal jantung, penyempitan saluran napas, gangguan ginjal,
reaksi alergi kulit berat, dan peningkatan kadar kalium darah. Ibuprofen dapat mencetuskan
serangan asma yang pada sebagian kecil orang dapat berakibat fatal.
Penggunaan ibuprofren jangka panjang dan dalam dosis tinggi dapat menyebabkan kematian
jaringan ginjal, tekanan darah tinggi, dan serangan jantung. Penderita yang berisiko besar
mengalami hal tersebut adalah penderita lanjut usia, kekurangan cairan, mengalami gagal
jantung atau gangguan hati.
Gejala overdosis ibuprofen antara lain nyeri perut, muntah, mengantuk, sakit kepala, terlinga
berdenging, perdarahan saluran cerna, gangguan fungsi hati, gagal ginjal, dan koma.

DOSIS
Dosis dewasa: 3 4 x 200 400 mg per hari.
Dosis anak: 20 mg/kg/hari dalam dosis terbagi.

Efek ibuprofen timbul 30 60 menit setelah dikonsumsi dan bertahan selama 4 8 jam. Dosis
maksimal ibuprofen adalah 1200 mg/hari. Dosis maksimal pada anak dengan berat badan < 30
kg adalah 500 mg/hari. Ibuprofen lebih baik diminum segera setelah makan.

6. Piroxicam
Indikasi:
Terapi simptomatik rematoid artritis, osteoartritis, ankilosing spondilitis, gangguan
muskuloskeletal akut dan gout akut.
Kontra Indikasi:
Penderita yang hipersensitif terhadap piroksikam dan penderita yang mengalami
urtikaria, angioderma, bronkospasme, rinitis berat dan syok akibat Antiinflamasi
Nonsteroid Agent.
Komposisi:
Tiap kapsul mengandung 10 mg piroksikam.
Tiap kapsul mengandung 20 mg piroksikam.
Cara Kerja Obat:
Piroksikam adalah obat antiinflamasi non steroid yang mempunyai aktifitas antiinflamasi,
analgetik - antipiretik.
Aktifitas kerja piroksikam belum sepenuhnya diketahui, diperkirakan melalui interaksi
beberapa tahap respons imun dan inflamasi, antara lain: penghambat enzim siklooksigenase pada biosintesa prostaglanin, penghambat pengumpulan netrofil dalam
pembuluh darah, serta penghambat migrasi polimorfonuklear (PMN) dan monosit ke
daerah inflamasi.
Dosis:
Dewasa: Rematoid artritis, osteoartritis, ankilosing spondilitis, dosis awal 20 mg dalam
dosis tunggal.
Gout akut, 40 mg sehari dalam dosis tunggal selama 4 - 6 hari.
Gangguan muskuloskeletal akut, 40 mg sehari dalam dosis tunggal selama 2 hari,
selanjutnya 20 mg sehari dalam dosis tunggal selama 7 - 14 hari.
Dosis untuk anak belum diketahui.
Peringatan dan Perhatian:
Tidak dianjurkan pemberian pada wanita hamil dan menyusui. Hati-hati pemberian pada
gangguan pencernaan, jantung, hipertensi dan keadaan predesposisi retensi air, ginjal dan

hati.
Kemanan penggunaan untuk anak-anak belum diketahui dengan pasti.
Efek Samping:
Keluhan gastrointestinal, misalnya anoreksia, nyeri perut, konstipasi, diare, flatulen,
mual, muntah, perforasi, tukak lambung dan duodenum.
gangguan hematologik seperti trombositopenia, depresi sumsum tulang.
Gangguan kulit: eritema, dermatitis eksfoliatif, sindroma Stevens-Johnson.
Gangguan Saraf pusat: sakit kepala, pusing, depresi, insomnia, gugup.
Efek samping lain seperti hiperkalemia, sindroma nefrotuk, nyeri, demam, penglihatan
kabur, hipertensi dan reaksi hipersensitif.
Interaksi Obat:
Pemberian piroksikam bersama antikoagulan oral, sulfonil urea atau salisilat harus hatihati dan dipantau.
Asetosal dan piroksikam tidak boleh diberikan secara bersama-sama.
Piroksikam dilaporkan dapat meningkatkan kadar litium dalam darah.

7.Natrium Diclofenac
INDIKASI DAN KONTRAINDIKASI
Natrium diclofenac merupakan bagian dari obat anti radang non-steroid yang memiliki fungsi
sebagai anti-reumatik, anti-radang, dan penurun demam. Obat ini diindikasi untuk pasien dengan
berbagai bentuk radang dan degeneratif dari reumatik seperti : artritis reumatoid, spondilitis
ankilosis, osteoartritis, serangan gout (kadar asam urat yang tinggi) akut, sindrom nyeri pada
tulang belakang, dsb.
Selain itu, obat ini juga digunakan sebagai anti-nyeri setelah operasi, mengurangi radang dan
bengkak setelah pembedahan, anti-nyeri pada kasus seperti dismenorrhea, dan obat anti-nyeri
tambahan pada infeksi berat yang sangat sakit seperti pada infeksi telinga, hidung, dan
tenggorokan.
Kontraindikasi penggunaan obat ini adalah pasien dengan ulkus pada saluran pencernaan baik
dengan atau tanpa perdarahan saluran cerna, kelainan pada sistem pembekuan darah, asma. Perlu
juga mendapat perhatian penggunaan obat ini pada pasien dengan kelainan fungsi hati.
Pasien dengan hipertensi, gagal jantung, asma, kelainan saluran cerna (riwayat maag), kelainan
fungsi hati, dan pasien yang sedang hamil dan menyusui memerlukan perhatian khusus dalam
penggunaan obat ini.

EFEK SAMPING
Efek samping yang memiliki angka kejadian 1 10% meliputi : mual, muntah, diare, kembung,
penurunan nafsu makan, peningkatan kadar enzim hati, nyeri kepala, vertigo, kemerahan pada
kulit, ulkus peptik, berdenging pada telinga.
Efek samping yang jarang (< 1%) meliputi : hepatitis akut, asma, reaksi hipersensitivitas,
bengkak, perdarahan saluran cerna, kelainan pada darah.

DOSIS
Natrium diclofenac memiliki 2 sediaan tablet yaitu 25 mg dan 50 mg. Tablet harus ditelan
seluruhnya dengan cairan, lebih baik jika diminum sebelum makan, dan tidak boleh dibagi atau
dikunyah.
Dosis dewasa :

Dosis harian yang direkomendasikan berkisar antara 100 150 mg. Pada kasus yang
lebih ringan dan juga pada kasus yang membutuhkan terapi jangka panjang, dosis 75
100 mg per hari biasanya cukup.

Pada kasus dismenorrhea (nyeri menstruasi yang berat), dosis harian harus disesuaikan
dengan kisaran dosis 50 150 mg (biasanya 100 mg) sebagai dosis awal, dilanjutkan
dengan 50 mg, 3 kali sehari.

Pada kasus migraine, dosis 50 mg biasa dipakai. Sebaiknya obat ini diminum dengan air
putih dan tidak dengan cairan lain.

Dosis anak :

Dosis pada anak dan dewasa muda biasanya 0,5 2 mg/kg/hari dibagi menjadi 2 3 kali
pemberian tergantung pada beratnya penyakit. Untuk kasus radang sendi rheumatoid
yang menyerang anak usia muda, dosis harian dapat mencapai 3 mg/kg/hari.

Dosis maksimal 150 mg tidak boleh dilampaui. Karena kekuatan dosis pada sediaan 50
mg, sediaan ini tidak direkomendasikan untuk digunakan pada anak dan dewasa muda
dibawah 14 tahun. Tablet sediaan 25 mg dapat digunakan pada kelompok umur ini.