Anda di halaman 1dari 14

LAPORAN PENDAHULUAN

LABORATORIUM UNIT PROSES II


SAPONIFIKASI

DISUSUN OLEH:

ADAMAS CARLOS

03101003010

PUTRI UTAMI

03101003024

SATRIYA DWI PERMANA

03101003026

EKA PERTIWI

03101003044

TEGUH NOVRIYANSYAH

03101003053

JURUSAN TEKNIK KIMIA FAKULTAS TEKNIK


UNIVERSITAS SRIWIJAYA
2015
BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Dalam kemajuan jaman yang sangat pesat ini, kita sebagai masyarakat yang
terlibat di dalamnya harus peka dan mengerti akan fenomena-fenomena kimia
sederhana yang terjadi di sekitar kita karena hal tersebut dapat menjadi batu
loncatan untuk menciptakan kreasi dan inovasi di masa mendatang. Banyak orang
awam kurang memiliki rasa ingin tahu terhadap hal-hal kecil atau bahkan tidak
peduli akan fenomena yang sering terjadi dalam keseharian mereka. Salah satu
contoh sederhana yang dapat kita tinjau ialah mencuci tangan. Banyak di antara
kita yang tidak mengerti bagaimana sabun dalam media air dapat membersihkan
tangan kita dari minyak yang menempel di tangan.
Sabun adalah salah satu senyawa kimia tertua yang pernah dikenal. Sabun
sendiri tidak pernah secara aktual ditemukan, namun berasal dari pengembangan
campuran antara senyawa alkali dan lemak/minyak. Trigliserida terdiri dari tiga
gugus asam lemak yang terikat pada gugus gliserol. Asam lemak terdiri dari rantai
karbon panjang yang berakhir dengan gugus asam karboksilat pada ujungnya.
Gugus asam karboksilat terdiri dari sebuah atom karbon yang berikatan dengan
dua buah atom oksigen. Satu ikatannya terdiri dari ikatan rangkap dua dan satunya
merupakan ikatan tunggal. Setiap atom karbon memiliki gugus asam karboksilat
yang melekat, maka dinamakan tri-gliserida.
Sabun merupakan merupakan suatu bentuk senyawa yang dihasilkan dari
reaksi saponifikasi. Istilah saponifikasi dalam literatur berarti soap making.
Akar kata sapo dalam bahasa Latin yang artinya soap / sabun. Pengertian
Saponifikasi (saponification) adalah reaksi yang terjadi ketika minyak / lemak
dicampur dengan larutan alkali. Ada dua produk yang dihasilkan dalam proses ini,
yaitu Sabun dan Gliserin. Sabun disebut sodium stearat dengan rumus kimia
C17H35COO Na + dan merupakan hydrocarbon rantai panjang dengan 10 sampai
20 atom Karbon. Dapat digunakan untuk membersihkan karena bersifat polar,
merupakan komponen ionik yang larut dalam air dan tidak larut dalam larutan
organik, yaitu minyak. Hidrolisa gliserida dengan larutan KOH atau NaOH akan
menyebabkan terbentuknya gliserol serta garan Na atau K dari asam lemak yang

bersangkutan. Garam ini dikenal dengan nama sabun dan reaksi hidrolisis ini
disebut dengan reaksi penyabunan (saponifikasi).
Menurut Julius Caesar, suku bangsa Jerman pada waktu itu membuat sabun
dengan menggunakan lemak babi atau sapi

dan abu kayu yang banyak

mengandung garam alkali. Sekarang ini sabun dibuat dengan cara praktis dan
dilakukan dengan teknik yang sederhana. Lelehan lemak sapi atau lemak lain
dipanaskan dengan NaOH atau KOH.
Sabun

adalah garam alkali (biasanya garam natrium) dari asam-asam

lemak. Dimana asam lemak diartikan sebagai asam karboksilat yang diperoleh
dari hidrolisis dari suatu lemak atau minyak, yang umumnya mempunyai rantai
hidrokarbon panjang dan tak bercabang. Sabun mengandung garam, terutama
garam C16 dan C18, namun dapat juga mengandung beberapa karboksilat dengan
bobot atom rendah.
Pada pembuatan sabun dipergunakan

bahanbahan antara lain minyak

sayur, garam, pewarna dan NaOH. Minyak termasuk ke dalam lemak biasa
dimana lemak dan minyak adalah trigliserida .Perbedaan antara minyak dan
lemak adalah Lemak pada suhu kamar berbentuk padat, sedangkan minyak
berwujud cair. Lemak umunya bersumber dari hewan, sedangkan minyak terbuat
dari tumbuh-tumbuhan. Beberapa contoh lemak dan minyak adalah lemak sapi,
minyak kelapa, minyak jagung dan minyak ikan. Sedangkan pada percobaan kali
ini, dicoba untuk membuat sabun dengan menggunakan minyak kelapa.
Lemak dan minyak yang digunakan untuk membuat sabun terdiri dari 7
asam lemak yang berbeda. Apabila semua ikatan karbon dalam asam lemak terdiri
dari ikatan tunggal disebut asam lemak jenuh, sedangkan bila semua atom karbon
berikatan dengan ikatan rangkap disebut asam lemak tak jenuh. Asam lemak tak
jenuh dapat dikonversikan menjadi asam lemak jenuh dengan menambahkan atom
hydrogen pada lokasi ikatan rangkap. Jumlah asam lemak yang tak jenuh dalam
pembuatan sabun akan memberikan pengaruh kelembutan pada sabun yang
dibuat.
1.2. Tujuan
1) Mengetahui prinsip dan proses saponifikasi.

2) Mengetahui cara menghitung konversi dan yield saponifikasi.


3) Mengetahui cara menghitung neraca massa dan neraca panas saponifikasi.
1.3. Permasalahan
Permasalahan yang ingin muncul dari percobaan ini adalah apakah massa
sebelum reaksi dan massa sesudah reaksi sama dengan menghitung persen yield
dari pembuatan sabun.
1.5 Manfaat
Manfaat yang dapat diambil dari percobaan ini adalah kita dapat mengetahui
proses pembuatan sabun dari minyak kelapa dengan teknik yang mudah.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Saponifikasi
Kata saponifikasi atau saponify berarti membuat sabun (Latin sapon, =
sabun dan fy adalah akhiran yang berarti membuat). Bangsa Romawi kuno mulai
membuat sabun sejak 2300 tahun yang lalu dengan memanaskan campuran lemak
hewan dengan abu kayu. Pada abad 16 dan 17 di Eropa sabun hanya digunakan
dalam bidang pengobatan. Barulah menjelang abad 19 penggunaan sabun meluas.
Sabun merupakan merupakan suatu bentuk senyawa yang dihasilkan dari reaksi
saponifikasi.
Saponifikasi adalah reaksi hidrolisis asam lemak oleh adanya basa lemah
(misalnya NaOH). Hasil lain dari reaksi saponifikasi ialah gliserol. Selain C12 dan
C16, sabun juga disusun oleh gugus asam karboksilat. Hidrolisis ester dalam
suasana basa bisa disebut juga saponifikasi. Ada dua metode yang digunakan
dalam esterifikasi yaitu proses batch dan proses kontinyu. Proses esterifikasi
berlangsung dibawah tekanan pada suhu 200- 250C. Pada reaksi kesetimbangan,
air dipindahkan secara kontinyu untuk menghasilkan ester. Henkel telah
mengembangkan esterifikasi countercurrent kontinyu menggunakan kolom reaksi
dodel plate. Teknologi ini didasarkan pada prinsip reaksi esterifikasi dengan
absorpsi simultan superheated metanol vapor dan desorpsi metanolwater mixture.
Reaksi ini menggunakan tekanan sekitar 1000 Kpa dan suhu 240 C. Keuntungan
dari proses ini adalah kelebihan metanol dapat dijaga secara nyata pada rasio yang
rendah yaitu 1,5 : 1 molar metanol : asam lemak dibandingkan proses batch
dimana rasionya 3-4 : 1 molar. Metil ester yang melalui proses distilasi tidak
memerlukan proses pemurnian. Kelebihan metanol di rectified dan digunakan
kembali.
Esterifikasi proses kontinyu lebih baik daripada proses batch. Dengan hasil
yang sama, proses kontinyu membutuhkan waktu yang lebih singkat dengan
kelebihan metanol yang lebih rendah. Proses esterifikasi merupakan proses yang
cenderung digunakan dalam produksi ester dari asam lemak spesifik Laju reaksi
esterifikasi sangat dipengaruhi oleh struktur molekul reaktan dan radikal yang
terbentuk dalam senyawa antara. Data tentang laju reaksi serta mekanismenya
disusun berdasarkan karakter kinetiknya, sedangkan data tentang perkembangan

reaksi dinyatakan sebagai konstanta kesetimbangan. Secara umum laju reaksi


esterifikasi mempunyai sifat sebagai berikut:
1) Alkohol primer bereaksi paling cepat, disusul alkohol sekunder, dan paling
lambat alkohol tersier
2) Ikatan rangkap memperlambat reaksi
3) Asam aromatik (benzoat dan p-toluat) bereaksi lambat, tetapi mempunyai batas
konversi yang tinggi
4) Makin panjang rantai alkohol, cenderung mempercepat reaksi atau tidak terlalu
berpengaruh terhadap laju reaksi.
Pada umumnya, alkali yang digunakan dalam pembuatan sabun pada
umumnya hanya NaOH dan KOH, namun kadang juga menggunakan NH4OH.
Sabun yang dibuat dengan NaOH lebih lambat larut dalam air dibandingkan
dengan sabun yang dibuat dengan KOH. Sabun yang terbuat dari alkali kuat
(NaOH, KOH) mempunyai nilai pH antara 9,0 sampai 10,8 sedangkan sabun yang
terbuat dari alkali lemah (NH4OH) akan mempunyai nilai pH yang lebih rendah
yaitu 8,0 sampai 9,5.
2.2. Soap (Sabun) dan Detergen
Istilah agen permukaaan aktif adalah meliputi soap (sabun) dan detergen,
wetting agent (agen basa) dan penetransts. Masing masing mempunyai aktifitas
dan sifat khusus yang berbeda pada kontak dua fase. Surface active agent
merupakan gabungan antara water attracting atau hidrofilik group terhadap suatu
molekul lainya.
Detergen secara umum dapat diartikan sebagai pembersih. Untuk memulai
pengertian tentang detergen, dapat dimulai dari sabun. Dimana sabun merupakan
produk kaustik. Lemak merupakan campuran dari gliserida dimana komposisinya
berbeda-beda sesuai dengan sumbernya. Trigliserilasetat adalah ester-ester yang
terjadi bila glycerol alcohol terhidrat digabungkan dengan asam lemak yang
mempunyai

sifat

khusus

tetapi

natural

fat

(lemak

alami).

Hghgjkljhjbkjbjbkjbkjbjkbkjbjkbjkbkjbjkbkjbkjbkj gggh
Angka penyabunan adalah suatu bilangan yang menunjukan jumlah dari
potassium hidroksida yang diperlukan untuk menyabun 1 gram dari berat
lemak/minyak.

Minyak atau lemak terdiri dari asam asam lemak yang

mempunyai berat molekul reandah melalui proses safonifikasi menjadi berat


molekul tinggi dari asam lemak pada gliserida. Disamping pentingnya angka
penyabunan dalam proses pembuatan sabun, masih ada beberapa bilangan lainya
yang serta sekali hubunganya dengan proses pembuatan sabun. Bilangan tersebut
adalah:
1) Acid Value
Adalah jumlah milligram KOH yang diperlukan untuk menetralkan asam
lemak bebas didalam 1 gram minyak atau lemak.
2) Hanner Value
Adalah bilangan yang menyatakan persentase asam 0- asam lemak yang tidak
larut dalam lemak atau minyak.
2.3. Bahan Pembuatan Sabun
Secara teknik, sabun adalah hasil reaksi kimia antara fatty acid dan alkali.
Fatty acid adalah lemak yang diperoleh dari lemak hewani atau nabati. Ada
beberapa jenis minyak yang dipakai dalam pembuatan sabun, antara lain : Minyak
zaitun (olive oil), minyak kelapa (coconut oil), minyak sawit (palm oil), minyak
kedelai (soy bean oil) dan lain lain. Masing masing mempunyai karakter dan
fungsi yang berlainan. Secara sederhana dapat dirumuskan sebagai berikut : Fatty
Acid ( oils) + Base ( Natrium Hydroxide / Lye) = A Salt (soap)
Bahan baku yang digunakan didasarkan pada beberapa kriteria, antara lain
faktor manusia dan keamanan lingkungan, biaya, kecocokan dengan bahan-bahan
additive yang lain, serta wujud dan spesifikasi khusus dari produk jadinya.
Sedangkan proses produksi aktual dilapangan bisa saja bervariasi dari satu pabrik
dengan pabrik yang lain, namun tahap-tahap utama pembuatan semua produk tersebut adalah tetap sama.
Sabun dibuat dari lemak [hewan], minyak [nabati] atau asam lemak (fatty
acid) yang direaksikan dengan basa anorganik yang bersifat water soluble,
biasanya digunakan caustic soda/soda api (NaOH) atau KOH (kalium hidroksida)
juga alternative yang sering juga dipakai, tergantung spesifik sabun yang
diinginkan. Sabun hasil reaksi dengan sodium hidroksida (NaOH) biasanya lebih
keras dibandingkan dengan penggunaan Potasium Hidroksida (KOH).

2.4. Jenis Jenis Minyak/Lemak


Minyak atau lemak merupakan senyawa lipid yang memiliki struktur berupa
ester dari gliserol. Pada proses pembuatan sabun, jenis minyak atau lemak yang
digunakan adalah minyak nabati atau lemak hewan. Perbedaan antara minyak dan
lemak adalah wujud keduanya dalam keadaan ruang. Minyak akan berwujud cair
pada temperatur ruang ( 28C), sedangkan lemak akan berwujud padat.
Minyak tumbuhan maupun lemak hewan merupakan senyawa trigliserida.
Trigliserida yang umum digunakan sebagai bahan baku pembuatan sabun
memiliki asam lemak dengan panjang rantai karbon antara 12 sampai 18. Asam
lemak dengan panjang rantai karbon kurang dari 12 akan menimbulkan iritasi
pada kulit, sedangkan rantai karbon lebih dari 18 akan membuat sabun menjadi
keras dan sulit terlarut dalam air.
Kandungan asam lemak tak jenuh, seperti oleat, linoleat, dan linolenat yang
terlalu banyak akan menyebabkan sabun mudah teroksidasi pada keadaan
atmosferik sehingga sabun menjadi tengik. Asam lemak tak jenuh memiliki ikatan
rangkap sehingga titik lelehnya lebih rendah daripada asam lemak jenuh yang tak
memiliki ikatan rangkap, sehingga sabun yang dihasilkan juga akan lebih lembek
dan mudah meleleh pada temperatur tinggi.
Minyak dan lemak merupakan campuran ester-ester gliseril dari asam lemak
(fatty acid) atau trigliserda. Ada bermacam macam sumber aslinya yang berbeda
dan tergantung dari sifat sifat fisis dan kimia dari campuran ester. Ester-ester
tersebut dapat berbentuk solid (padatan), liquid (cairan), volatile saturated (uap
jenuh yang mudah menguap) dan sebagian senyawa yang unsaturated (tidak
jenuh). Komposisi trigliserida terdiri dari ester 5% gliserida dan 95% fatty acid
(asam lemak) yang merupakan gabungan dari ester-ester.
Jumlah minyak atau lemak yang digunakan dalam proses pembuatan sabun
harus dibatasi karena berbagai alasan, seperti : kelayakan ekonomi, spesifikasi
produk (sabun tidak mudah teroksidasi, mudah berbusa, dan mudah larut), dan
lain-lain. Beberapa jenis minyak atau lemak yang biasa dipakai dalam proses
pembuatan sabun di antaranya :
2.4.1.

Tallow

Tallow adalah lemak sapi atau domba yang dihasilkan oleh industri
pengolahan daging sebagai hasil samping. Kualitas dari tallow ditentukan dari
warna, titer (temperatur solidifikasi dari asam lemak), kandungan FFA,
bilangan saponifikasi, dan bilangan iodin. Tallow dengan kualitas baik
biasanya digunakan dalam pembuatan sabun mandi dan tallow dengan
kualitas rendah digunakan dalam pembuatan sabun cuci. Oleat dan stearat
adalah asam lemak yang paling banyak terdapat dalam tallow. Jumlah FFA
dari tallow berkisar antara 0,75-7,0 %. Titer pada tallow umumnya di atas
40C. Tallow dengan titer di bawah 40C dikenal dengan nama grease.
2.4.2.

Lard
Lard merupakan minyak babi yang masih banyak mengandung asam lemak

tak jenuh seperti oleat (60 ~ 65%) dan asam lemak jenuh seperti stearat (35 ~
40%). Jika digunakan sebagai pengganti tallow, lard harus dihidrogenasi
parsial terlebih dahulu untuk mengurangi ketidakjenuhannya. Sabun yang
dihasilkan dari lard berwarna putih dan mudah berbusa.
2.4.3.

Palm Oil (minyak kelapa sawit)


Minyak kelapa sawit umumnya digunakan sebagai pengganti tallow.

Minyak kelapa sawit dapat diperoleh dari pemasakan buah kelapa sawit.
Minyak kelapa sawit berwarna jingga kemerahan karena adanya kandungan
zat warna karotenoid sehingga jika akan digunakan sebagai bahan baku
pembuatan sabun harus dipucatkan terlebih dahulu. Sabun yang terbuat dari
100% minyak kelapa sawit akan bersifat keras dan sulit berbusa.
2.4.4. Coconut Oil (minyak kelapa)
Minyak kelapa merupakan minyak nabati yang sering digunakan dalam
industri pembuatan sabun. Minyak kelapa berwarna kuning pucat dan
diperoleh melalui ekstraksi daging buah yang dikeringkan (kopra). Minyak
kelapa memiliki kandungan asam lemak jenuh yang tinggi, terutama asam
laurat, sehingga minyak kelapa tahan terhadap oksidasi yang menimbulkan
bau tengik. Minyak kelapa juga memiliki kandungan asam lemak kaproat,
kaprilat, dan kaprat.
2.4.5. Palm Kernel Oil (minyak inti kelapa sawit)

Minyak inti kelapa sawit diperoleh dari biji kelapa sawit. Minyak inti sawit
memiliki kandungan asam lemak yang mirip dengan minyak kelapa sehingga
dapat digunakan sebagai pengganti minyak kelapa.
2.4.6. Palm Oil Stearine (minyak sawit stearin)
Minyak sawit stearin adalah minyak yang dihasilkan dari ekstraksi
asam-asam lemak dari minyak sawit dengan pelarut aseton dan heksana.
Kandungan asam lemak terbesar dalam minyak ini adalah stearin.
2.4.7. Marine Oil
Marine oil berasal dari mamalia laut (paus) dan ikan laut. Marine oil
memiliki kandungan asam lemak tak jenuh yang cukup tinggi, sehingga harus
dihidrogenasi parsial terlebih dahulu sebelum digunakan sebagai bahan baku.
2.4.8. Castor Oil (minyak jarak)
Minyak ini berasal dari biji pohon jarak dan digunakan untuk membuat
sabun transparan.
2.4.9. Olive oil (minyak zaitun)
Minyak zaitun berasal dari ekstraksi buah zaitun. Minyak zaitun dengan
kualitas tinggi memiliki warna kekuningan. Sabun yang berasal dari minyak
zaitun memiliki sifat yang keras tapi lembut bagi kulit.
2.4.10. Campuran minyak dan lemak
Industri pembuat sabun umumnya membuat sabun yang berasal dari
campuran minyak dan lemak yang berbeda. Minyak kelapa sering dicampur
dengan tallow karena memiliki sifat yang saling melengkapi. Minyak kelapa
memiliki kandungan asam laurat dan miristat yang tinggi dan dapat membuat
sabun mudah larut dan berbusa. Kandungan stearat dan palmitat yang tinggi
dari tallow akan memperkeras struktur sabun.
2.5. Alkali
Jenis alkali yang umum digunakan dalam proses saponifikasi adalah NaOH,
KOH, Na2CO3, NH4OH, dan ethanolamines. NaOH, atau yang biasa dikenal
dengan soda kaustik dalam industri sabun, merupakan alkali yang paling banyak
digunakan dalam pembuatan sabun keras. KOH banyak digunakan dalam
pembuatan sabun cair karena sifatnya yang mudah larut dalam air. Na 2CO3 (abu

soda/natrium karbonat) merupakan alkali yang murah dan dapat menyabunkan


asam lemak, tetapi tidak dapat menyabunkan trigliserida (minyak atau lemak).
Ethanolamines merupakan golongan senyawa amin alkohol. Senyawa
tersebut dapat digunakan untuk membuat sabun dari asam lemak. Sabun yang
dihasilkan sangat mudah larut dalam air, mudah berbusa, dan mampu menurunkan
kesadahan air. Sabun yang terbuat dari ethanolamines dan minyak kelapa
menunjukkan sifat mudah berbusa tetapi sabun tersebut lebih umum digunakan
sebagai sabun industri dan deterjen, bukan sebagai sabun rumah tangga.
Pencampuran alkali yang berbeda sering dilakukan oleh industri sabun dengan
tujuan untuk mendapatkan sabun dengan keunggulan tertentu.
Bahan baku pendukung digunakan untuk membantu proses penyempurnaan
sabun hasil saponifikasi (pegendapan sabun dan pengambilan gliserin) sampai
sabun menjadi produk yang siap dipasarkan. Bahan-bahan tersebut adalah NaCl
(garam) dan bahan-bahan aditif. NaCl merupakan komponen kunci dalam proses
pembuatan sabun. Kandungan NaCl pada produk akhir sangat kecil karena
kandungan NaCl yang terlalu tinggi di dalam sabun dapat memperkeras struktur
sabun. NaCl yang digunakan umumnya berbentuk air garam (brine) atau padatan
(kristal). NaCl digunakan untuk memisahkan produk sabun dan gliserin. Gliserin
tidak mengalami pengendapan dalam brine karena kelarutannya yang tinggi,
sedangkan sabun akan mengendap. NaCl harus bebas dari besi, kalsium, dan
magnesium agar diperoleh sabun yang berkualitas.
Bahan aditif merupakan bahan-bahan yang ditambahkan ke dalam sabun
yang bertujuan untuk mempertinggi kualitas produk sabun sehingga menarik
konsumen. Bahan-bahan aditif tersebut antara lain : builders, fillers inert, anti
oksidan, pewarna,dan parfum.
Sabun dapat dibuat melalui proses batch atau kontinu Pada proses batch,
lemak atau minyak dipanaskan dengan alkali (NaOH atau KOH) berlebih dalam
sebuah ketel. Jika penyabunan telah selesai, garam garam ditambahkan untuk
mengendapkan sabun. Lapisan air yang mengaundung garam, gliserol dan
kelebihan alkali dikeluarkan dan gliserol diperoleh lagi dari proses penyulingan.
Endapan sabun gubal yang bercampur dengan garam, alkali dan gliserol kemudian

dimurnikan dengan air dan diendapkan dengan garam berkali-kali. Akhirnya


endapan direbus dengan air secukupnya untuk mendapatkan campuran halus yang
lama-kelamaan membentuk lapisan yang homogen dan mengapung. Sabun ini
dapat dijual langsung tanpa pengolahan lebih lanjut, yaitu sebagai sabun industri
yang murah. Beberapa bahan pengisi ditambahkan, seperti pasir atau batu apung
dalam pembuatan sabun gosok. Beberapa perlakuan diperlukan untuk mengubah
sabun gubal menjadi sabun mandi, sabun bubuk, sabun obat, sabun wangi, sabun
cuci, sabun cair dan sabun apung (dengan melarutkan udara di dalamnya).
Pada proses kontinu, yaitu yang biasa dilakukan sekarang, lemak atau
minyak hidrolisis dengan air pada suhu dan tekanan tinggi, dibantu dengan katalis
seperti sabun seng. Lemak atau minyak dimasukkan secara kontinu dari salah satu
ujung reaktor besar. Asam lemak dan gliserol yang terbentuk dikeluarkan dari
ujung yang berlawanan dengan cara penyulingan. Asam-asam ini kemudian
dinetralkan dengan alkali untuk menjadi sabun.
2.6.

Mekanisme Kerja Sabun


Kotoran yang melekat pada kulit atau pakaian ataupun benda-benda lainnya,

pada umunya berasal dari lemak, minyak dan keringat, butirbutir tanah dan
sebagainya. Zat- zat tersebut sangant sukar larut dalam air karena bersifat non
polar. Untuk itu diperlukan sabun untuk membersihkanya.
Suatu gugus sabun terdiri dari bagian muka berupa gugus COONa yang
polar serta bagian ekor berupa rantai alkyl yang bersifat non polar. Ketika sabun
dimasukkan ke dalam air maka sabun akan mengalami ionisasi. Gugusgugus ini
akan membentuk buih , dimana akan mengarah kepada air (karena sama- sama
polar), sedangkan bagian yang lain akan mengarah kepada kotoran (karena samasama non polar). Karena itu kotorankotoran terikat pada sabun dan terikat pada
air, maka dengan adanya gerakan tangan atau mesin cuci, kotoran tersebut akan
tertarik atau terlepas. Jika berupa minyak atau lemak, maka akan membentuk
emulsi minyak dalanm air dan sabun sebagi emulgator.
Jika sabun bertemu dengan kotoran tanah, maka akan diabsorbsi oleh sabun
dan membentuk suspensi butiran tanah, air dimana sabun sebagai zat pembentuk
suspensi. Kegunan sabun adalah kemampuannya mengemulsi kotoran berminyak

sehingga dapat dibuang dengan pembilasan. Kemampuan ini disebabkan oleh 2


sifat sabun, yaitu:
1.

Rantai hidrokarbon sebuah molekul sabun larut dalam molekul nonpolar

2.

seperti tetesan-tetesan minyak.


Ujung anion molekul sabun yang tertarik pada air ditolak oleh ujung anion
molekul-molekul sabun yang menyembul dari tetesan minyak lain. Karena
tolak menolak antara tetes-tetes sabun-minyak, maka minyak itu tidak dapat
bergabung tetapi tetap tersuspensi.

BAB III
METODOLOGI PERCOBAAN
1.1. Alat dan Bahan
Alat yang digunakan, yaitu:
1) Beaker glass 1000 ml
2 buah

2)
3)
4)
5)
6)
7)
8)

Beaker glass 100 ml


1 buah
Termometer
1 buah
Gelas ukur 100 ml
1 buah
Pengaduk Kayu
Pemanas (water bath)
Neraca Analitis
Mortar
Bahan yang digunakan, yaitu:
1) Garam
15 gram
2) Aquadest
50 gram
3) Minyak sayur
225 gram
4) NaOH
75 gram
5) Pewarna dan Parfum secukupnya
1.2. Prosedur Percobaan
1) Haluskan garam.
2) Panaskan air di waterbath, kemudian larutkan garam di dalamnya.
3)
Campur minyak dan NaOH dan dipanaskan dalam waterbath pada
4)

temperatur 800C sampai mendidih sambil diaduk terus.


Tambahkan larutan garam (dalam keadaan panas) dan pewarna ke dalam
campuran minyak dan NaOH sambil diaduk terus sampai kental dan timbul

5)

minyak.
Pisahkan minyak dari campuran bahan

dan timbang berat minyak

tersebut.
6)
Campuran yang telah dipisahkan dimasukkan ke dalam wadah plasitik
(yang ditimbang terlebih dahulu) dan timbang berat campuran dengan wadah
plastik.
7)
Tunggu sampai 2 hari. Kemudian timbang.