Anda di halaman 1dari 4

Proses pemeriksaan perkara perdata (gugatan)

Perkara perdata ada 2 yaitu :


Perkara contentiosa (gugatan) yaitu perkara yang di dalamnya terdapat sengketa
2 pihak atau lebih yang sering disebut dengan istilah gugatan perdata. Artinya
ada konflik yang harus diselesaikan dan harus diputus pengadilan, apakah
berakhir dengan kalah memang atau damai tergantung pada proses hukumnya.
Misalnya sengketa hak milik, warisan, dll.
Perkara voluntaria yaitu yang didalamnya tidak terdapat sengketa atau
perselisihan tapi hanya semata-mata untuk kepentingan pemohon dan bersifat
sepihak (ex-parte). Disebut juga gugatan permohonan. Contoh meminta
penetapan bagian masing-masing warisan, mengubah nama, pengangkatan
anak, wali, pengampu, perbaikan akta catatan sipil, dll.
Cara Mengajukan Gugatan
Gugatan diajukan secara tertulis, yaitu dengan surat gugat kepada ketua
Pengadilan yang ditanda tangai oleh ;
1.Penggugat
2. Kuasa penggugat, yaitu orang yang diberi kuasa khusus oleh penggugat
3. Hakim

Cara Menyusun Surat Gugatan Perdata Di Peradilan Di Negara Indonesia


Pendahuluan
- Setiap orang yang merasa dirugikan dapat mengajukan gugatan terhadap pihak
yang dianggap merugikan lewat pengadilan.
- Gugatan dapat diajukan secara lisan (ps 118 ayat 1 HIR 142 ayat 1) atau
tertulis (ps 120 HIR 144 ayat 1 Rbg) dan bila perlu dapat minta bantuan Ketua
Pengadilan Negeri
- Gugatan itu harus diajukan oleh yang berkepentingan
- Tuntutan hak di dalam gugatan harus merupakan tuntutan hak yang ada
kepentingan hukumnya, yang dapat dikabulkan apabila kabenarannya dapat
dibuktikan dalam sidang pemeriksaan

Didalam berpekara di Pengadilan kita mengenal gugatan biasa/ pada umumnya


dan gugatan yang bersifat referte.
Sebuah gugatan dapat dicabut selama putusan pengadilan belum dijatuhkan
dengan catatan :
a. Apabila gugatan belum sampai dijawab oleh tergugat, maka penggugat dapat
langsung mengajukan pencabutan gugatan.
b. Apabila pihak tergugat sudah memberikan jawaban maka pencabutan gugatan
dapat dilaksanakan apabila ada persetujuan dari tergugat.
Mengenai persyaratan tentang isi daripada gugatan tidak ada ketentuannya,
tetapi kita dapat melihat dalam Rv Psl 8 No.3 yang mengharuskan adanya pokok
gugatan yang meliputi :
1) Identitas dari pada para pihak
2) Dalil-dalil konkret tentang adanya hubungan hukum yang merupakan dasar
serta alasan-alasan daripada tuntutan. Dalil-dalil ini lebih dikenal dengan istilah
fundamentum petendi
3) Tuntutan atau petitum ini harus jelas dan tegas. HIR dan Rbg sendiri hanya
mengatur mengenai cara mengajukan gugatan

Identitas Para Pihak


Yang dimaksud dengan identitas adalah cirri-ciri daripada penggugat dan
tergugat ialah nama, pekerjaan, tempat tinggal.
Fundamentum Petendi
Fundamentum petendi adalah dalil-dalil posita konkret tentang adanya hubungan
yang merupakan dasar serta ulasan daripada tuntutan
1. Fundamentum petendi ini terdiri dari dua bagian :

a. Bagian yang menguraikan tentang kejadian atau peristiwa (feitelijke gronden)


dan
b. Bagian yang menguraikan tentang dasar hukumnya (rechtgronden)
a.Uraian tentang kejadian merupakan penjelasan duduknya perkara tetang
adanya hak atau hubungan hukum yang menjadi dasar yurudis daripada
tuntutan
b. Mengenai uraian yuridis tersebut tidak berarti harus menyebutkan peraturanperaturan hukum yang dijadikan dasar tuntutan melainkan cukup hak atau
peristiwa yang harus dibuktikan di dalam persidangan nanti sebagai dasar dari
tuntutan, yang member gambaran tentang kejadian materiil yang merupakan
dasar tuntutan itu
Petitum atau Tuntutan
Petitum atau Tuntutan adalah apa yang dimintakan atau diharapkan penggugat
agar diputuskan oleh hakim. Jadi tuntutan itu akan terjawab didalam amar atau
diktum putusan. Oleh karenanya petitum harus dirumuskan secara jelas dan
tegas
Tuntutan yang tidak jelas atau tidak sempurna dapat barakibat tidak diterimanya
tuntutan tersebut. Demikian pula gugatan yang berisi pernyataan-pernyataan
yang bertentangan satu sama lain disebut abscuur libel ( guagatan yang tidak
jelas dan tidak dapat dijawab dengan mudah oleh pihak oleh pihak tergugat
sehungga menyebabkan ditolaknya gugatan) berakibat tidak diterimanya
gugatan tersebut.
Sebuah tuntutan dapat dibagi 3 (tiga) ialah :
a. Tuntutan primer atau tuntutan pokok yang langsung berhubungan dengan
pokok perkara.
b. Tuntutan tambahan, bukan tuntutan pokok tetapi masih ada hubungannya
dengan pokok perkara.
c. Tuntutan subsidiair atau pengganti.

Meskipun tidak selalu tapi seringkali di samping tuntutan pokok masih diajukan
tuntutan tamabahan yang merupakan pelengkap daripada tuntutan pokok.
Biasanya sebagai tututan tambahan berwujud :
a. Tuntutan agar tergugat dihukum untuk membayar biaya perkara.

b. Tuntutan uivoerbaar bij voorraad yaitu tuntutan agar putusan dapat


dilaksanakan lebih dulu meskipun ada perlawanan, banding atau kasasi. Didalam
praktik permohonan uivoerbaar bij voorraad sering dikabulkan. Namun demikian
Mahkamah Agung mengintruksikan agar hakim jangan secara mudah
memberikan putusan uivoerbaar bij voorraad.
c. Tuntutan agar tergugat dihukum untuk membayar bunga (moratoir) apabila
tuntutan yang demikian oleh penggugat berupa sejumlah uang tertentu.
d. Tuntutan agar tergugat dihukum untuk mambayar uang paksa (dwangsom),
apabila hukuman itu tidak berupa pembayaran sejumlah uang selama ia tidak
memenuhi isi putusan
e. Dalam hal gugat cerai sering disertai juga dengan tuntutan nafka bagi istri
atau pembagian harta.
Mengenai tuntutan subsidiair selalu diajukan sebagai pengganti apabila hakim
berpendapat lain. Biasanya tuntutan subsidiair itu berbunyi agar hakim
mengadili menurut keadilan yang benar atau mohon putusan yang seadiladilnya (aequo et bono)
Jadi tujuan daripada tuntutan subsidiair adalah agar apabila tuntutan primer
ditolak masih ada kemungkinan dikabulkannya gugatan yang didasarkan atas
kebebesan hakim serta keadilan.